Anda di halaman 1dari 14

DIURETIK

TURUNAN
SULFAMOIL
BENZOAT

OLEH
Ayunovia Kristiani
PENDAHULUAN

Diuretika adalah zat-zat yang dapat memperbanyak


pengeluaran kemih (diuresis) melalui kerja langsung
terhadap ginjal
Obat-obat lainnya yang menstimulasi diuresis dengan
mempengaruhi ginjal secara tidak langsung termasuk
dalam definisi ini, misalnya zat-zat yang memperkuat
kontraksi jantung (digoksin, teofilin), memperbesar
volume darah (dekstran) atau merintangi sekresi
hormon antidiuretik ADH (air, alkohol)
Fungsi utama diuretik adalah untuk memobilisasi
cairan udema, yang berarti mengubah keseimbangan
cairan sedemikian rupa sehingga cairan ekstrasel
kembali menjadi normal
MEKANISME KERJA DIURETIK
Kebanyakan diuretika bekerja dengan mengurangi reabsorpsi
natrium, sehingga pengeluarannya lewat kemih diperbanyak.
Obat-obat ini bekerja khusus terhadap tubuli tetapi juga di
tempat lain, yakni di:
Tubuli proksimal : Ultrafiltrat mengandung sejumlah besar

garam yang di sini direabsorpsi secara aktif untuk kurang lebih


70% antara lain ion Na++ dan air, begitu pula dengan glukosa
dan ureum. Diuretika osmotis (manitol, sorbitol) bekerja di
sini dengan merintangi reabsorpsi air dan juga natrium.
Lengkungan henle. Di bagian menaik dari Henles loop ini

kurang lebih 25% dari semua ion Cl -- yang telah difiltrasi


direabsorsi secara aktif, disusul dengan reabsorpsi pasif dari
Na++ dan K++ tetapi tanpa air, hingga filtrat menjadi hipotonis.
Diuretika loop seperti furosemida, bumetanida dan
etakrinat bekerja terutama di sini dengan merintangi
transpor Cl-- dan demikian reabsorpsi Na++. Pengeluaran K++ dan
air juga diperbanyak.
Tubuli distal. Di bagian pertama segmen ini, Na +
direabsorpsi secara aktif pula tanpa air hingga filtrat
menjadi lebih cair dan lebih hipotonis. Senyawa Thiazida
Dan Klortalidon bekerja di tempat ini dengan
memperbanyak ekskresi Na+ dan Cl- sebesar 5-10%. Di
bagian kedua segmen ini, ion Na + ditukarkan dengan ion
K+ atau NH4+. Proses ini dikendalikan oleh hormon anak
ginjal aldosteron. Antagonis aldosteron (Spirolakton)
dan zat penghemat kalium (Amilorida, Triamteren)
bertitik kerja di sini dengan mengakibatkan ekskresi Na +
kurang dari 5% dan retensi K +.
Saluran pengumpul. Hormon antidiuretik ADH
(Vasopresin) dari hipofisis bertitik kerja di sini dengan
jalan mempengaruhi permeabilitas bagi air dari sel-sel
saluran ini.
PENGGOLONGAN DIURETIK
Berdasarkan cara bekerja, ada beberapa jenis diuretik
yang diketahui pada saat ini. Antara lain :
Diuretik osmotik dan Aquaretics. Obat-obat ini

hanya direabsorpsi sedikit oleh tubuli, hingga


rabsorpsi air juga terbatas. Efeknya adalah diuresis
osmotik dengan ekskresi air kuat dan relatif sedikit
ekskresi Na+. Contoh : manitol, glukosa, sorbitol,
sukrosa, dan urea.
Penghambat karbonik anhidrase ginjal. Diuretik

jenis ini merintangi enzim karbonanhidrase di tubuli


proksimal, sehingga disamping karbonat, juga Na +
dan K+ diekskresikan lebih banyak, bersamaan
dengan air. Khasiat diuretiknya hanya lemah,
setelah beberapa hari terjadi tachyfylaxie, maka
perlu digunakan secara selang seling (intermittens).
Contoh : asetazolamida.
Diuretik loop. Obat-obat ini berkhasiat kuat dan
pesat tetapi agak singkat (4-6 jam). Banyak digunakan
pada keadaan akut, misalnya pada udema otak dan
paru-paru. Memperlihatkan kurva dosis-efek curam,
artinya bila dosis dinaikkan efeknya senantiasa
bertambah. Contoh : furosemida, bumetanida dan
etakrinat.
Diuretik hemat kalium (Potassium Sparing
Diuretic). Efek obat ini hanya lemah dan khusus
digunakan terkombinasi dengan diuretika lainnya
guna menghemat ekskresi kalium. Aldosteron
menstimulasi reabsorpsi Na+ dan ekskresi K+ ; proses
ini dihambat secara kompetitif oleh obat-obat ini.
Amilorida dan triamteren dalam keadaan normal
hanya lemah efek ekskresinya mengenai Na+ dan K+.
Tetapi pada penggunaan diuretika loop tiazid terjadi
ekskresi kalium dengan kuat, maka dengan pemberian
bersama penghemat ekskresi kalium ini menghambat
HUBUNGAN
KUANTITATIF STRUKTUR
DAN AKTIVITAS
Diuretik Loop
Diuretika loop merupakan senyawa saluretik yang
sangat kuat, aktivitasnya jauh lebih besar dibanding
turunan tiazid dan senyawa saluretik lain. Turunan ini
dapat memblok pengangkutan aktif NaCl pada loop
of henle sehingga menurunkan absorpsi kembali NaCl
dan meningkatkan ekskresi NaCl lebih dari 25%
Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja diuretik loop adalah
1. Penghambatan enzim Na +-K+ ATPase

2. Penghambatan atau pemindahan siklik-AMP

3. Penghambatan glikolisis.
Struktur kimia obat ini bervariasi dan secara
umum dapat dibagi menjadi dua kelompok,
yaitu turunan asam fenoksiasetat dan
turunan sulfonamida.
1. Turunan sulfonamida
Turunan ini dibagi menjadi dua golongan
yaitu turunan asam 5-sulfamoil-2-
aminobenzoat dan 5- sulfamoil-3-
aminobenzoat.
Contoh turunan asam 5-sulfamoil-2-
aminobenzoat : furosemid dan azosemid
Contoh turunan asam 5- sulfamoil-3-
aminobenzoat : bumetanid dan piretanid.
Hubungan Struktur dan
Aktivitas
Substituen pada posisi 1 harus bersifat
asam, gugus karboksilat mempunyai
aktivitas diuretik optimum.
Gugus sulfamoil pada posisi 5 merupakan
gugus fungsi untuk aktivitas diuretik yang
optimum.
Gugus aktivasi pada posisi 4 bersifat
penarik elektron, seperti gugus Cl dan
CF3., dapat pula diganti dengan gugus
fenoksi (C6H5-O-), alkoksi, anilino (C6H5-
NH-), benzil, benzoil, atau C6H5-S-,
disertai penurunan aktivitas.

Contoh :
Furosemid (lasix, farsix, salurix, impugan),
merupakan diuretika saluretik yang kuat,
aktivitasnya 8-10 kali diuretika tiazid. Awal
kerja obat terjadi dalam 0,5-1 jam setelah
pemberian oral, dengan masa kerja yang relatif
pendek 6-8 jam. Absorpsi furosemid dalam
saluran cerna cepat, ketersediaanhayatinya 60-
69% pada subyek normal, dan 91-99% obat
terikat oleh plasma protein. Kadar darah
maksimal dicapai dalam 0,5-2 jam setelah
pemberian oral, dengan waktu paro biologis
2 jam. Furosemid digunakan untuk pengobatan
hipertensi ringan dan moderat, karena dapat
menurunkan tekanan darah. Dosis : 20-80
mg/hari.
Bumetanid (burinex), merupakan diuretika
yang kuat dengan masa kerja pendek ( 4
jam). Bumetanid terutama untuk pengobatan
sembab yang berhubungan dengan penyakit
jantung, hati dan ginjal. Pemindahan gugus
amin dari posisi 2 ke posisi 3, dapat
meningkatkan aktivitas diuretik sampai 50
kali, tetapi senyaa mempunyai masa kerja
yang pendek. Bumetanid diabsorpsi dalam
saluran cerna cepat dan sempurna, 98%
terikat oleh plasma protein. Efek maksimum
dicapai 2 jam setelah pemberian oral,
waktu paro biologis 1 jam. Selain sebagai
diuretik, bumetanid juga mempunyai efek
antihipertensi. Dosis : 1-2 mg/hari.
SEKIAN
&
TERIMA KASIH