Anda di halaman 1dari 37

Chapter 4

The Research Process:


Ellen Deviana Arisadi
Theoretical Framework
Ratna Ayu Kusumaningtyas
and Hypothesis
Development

Kerangka Teori
Kerangka teori menggambarkan
keyakinan peneliti tentang
bagaimana suatu fenomena
tertentu (atau variabel atau
konsep) yang berhubungan satu
sama lain (model) dan penjelasan
tentang mengapa peneliti
percaya bahwa variabel ini
terkait satu sama lain (teori).
Variabel
Sesuatu yang dapat membedakan atau
membawa variasi pada nilai.
Empat jenis utama dari variabel :

1. Variabel dependen (juga dikenal sebagai


variabel kriteria)
2. Variabel bebas (juga dikenal sebagai
variabel prediktor)
3. Variabel moderasi
4. Variabel mediasi
Variabel Dependen
Variabel dependen adalah variabel
yang menjadi perhatian utama
peneliti. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk memahami,
memprediksi atau menjelaskan
variabilitas variabel ini.
Variabel Independen
Mempengaruhi variabel
dependen baik secara positif atau
negatif
Varians dalam variabel dependen
dijelaskan oleh variabel
independen
Variabel Moderasi
Variabel yang mempunyai
pengaruh ketergantungan
(contingent effect) yang kuat
dengan hubungan variabel terikat
dan variabel bebas
Variabel Mediasi
mempengaruhi hubungan antara
variabel independen dengan
variabel dependen menjadi
hubungan yang tidak langsung
Kerangka Teori
Kerangka teoritis adalah fondasi
dimana suatu proyek penelitian
didasarkan
secara logis dikembangkan,
dijelaskan, dan diuraikan
hubungan antara variabel-
variabel yang diteliti
Komponen Kerangka Teori
1.Variabel yang dianggap relevan
dengan penelitian harus
didefinisikan dengan jelas
2. Sebuah model konseptual yang
menggambarkan hubungan
antara variabel dalam model
harus diberikan
3. Penjelasan yang jelas mengenai
hubungan antravariabel
Theoretical framework for the
example of air safety violations
Contd..
Contd..
Selain itu, kita dapat menyisipkan variabel mediasi dalam model.
Contd..
Kita juga dapat secara substansial mengubah model dengan
menggunakan pelatihan sebagai variabel moderasi
Hypothesis
Pengembangan Hipotesis
Hipotesis dapat diartikan sebagai hubungan yang diduga
secara logis antara dua variabel atau lebih yang dinyatakan
dalam bentuk pernyataan yang dapat diuji.

Jika pilot diberikan pelatihan yang memadai untuk menangani


situasi ramai di udara, pelanggaran keselamatan
penerbangan akan berkurang.
Ifthen statements
Untuk menguji apakah dugaan hubungan atau perbedaan benar
atau tidak, hipotesis dapat diatur sebagai proposisi atau dalam
bentuk pernyataan jika-maka.

Karyawan yang lebih sehat akan mengambil cuti sakit lebih jarang.
Jika karyawan lebih sehat, maka mereka akan mengambil cuti sakit
lebih jarang.
Directional and nondirectional
hypotheses
Hipotesis terarah adalah hipotesis yang menyatakan
hubungan atau membandingkan dua variabel, peneliti secara
tegas mengindikasikan arah hubungan tersebut (positif,
negatif, lebih dari, kurang dari).

Semakin besar stres yang dialami dalam pekerjaan, semakin


rendah kepuasan kerja karyawan.
Perempuan lebih termotivasi daripada laki-laki.

Hipotesis tak terarah adalah hipotesis yang mendalilkan


hubungan atau perbedaan, tetapi tidak memberikan indikasi
dari arah hubungan atau perbedaan ini.

Terdapat hubungan antara usia dan kepuasan kerja.


Terdapat perbedaan antara nilai-nilai etika kerja pada karyawan
Amerika dan Asia.
Null and alternate hypotheses
Hipotesis nol adalah proposisi yang menyatakan hubungan
atau perbedaan antara dua variabel sama dengan nol (atau
beberapa bilangan pasti lainnya).
Hipotesis alternatif adalah pernyataan yang
mengungkapkan hubungan antara dua variabel atau
mengindikasikan adanya perbedaan antara kelompok.
Contd..
Hipotesis nol mengenai perbedaan kelompok yang
dinyatakan dalam contoh Perempuan lebih termotivasi
daripada laki-laki secara statistik dinyatakan dengan:

atau

Dimana H0 merupakan hipotesis nol, M adalah mean


tingkat motivasi laki-laki, dan W adalah mean tingkat
motivasi perempuan. Sedangkan hipotesis alternatifnya
dinyatakan sebagai

atau
Contd..
Untuk hipotesis nondirectional dalam contoh Terdapat perbedaan
antara nilai-nilai etika kerja pada karyawan Amerika dan Asia, maka
hipotesis nol nya adalah:
atau

Dimana AM adalah mean nilai etika kerja Amerika, dan AS adalah mean
nilai etika kerja Asia. Hipotesis alternatif untuk contoh di atas dapat
dituliskan sebagai:

Untuk hipotesis directional dalam contoh Semakin besar stres yang


dialami dalam pekerjaan, semakin rendah kepuasan kerja karyawan
maka H0: tidak ada hubungan antara stress yang dialami dalam
pekerjaan dan kepuasan kerja karyawan.

Dimana merupakan korelasi antara stres dan kepuasan kerja, yang


dalam hal ini adalah sama dengan 0 (yaitu, tidak ada korelasi). Alternatif
untuk hipotesis nol di atas adalah:
Steps in Hypothesis testing
Menetapkan hipotesis nol atau hipotesis alternatif
Memilih uji statistik yang sesuai, apakah statistik
parametrik atau nonparametrik
Menentukan tingkat signifikasni yang diinginkan
Melihat output, mencari critical values sebagai batas
daerah penolakan dari penerimaan hipotesis nol.
Ketika nilai output lebih besar dari nilai kritis, hipotesis
nol ditolak, dan hipotesis alternative diterima.

Dalam menghasilkan dan menguji hipotesis dapat dilakukan


melalui deduksi dan induksi.
Dalam deduksi, model teoritis pertama kali dikembangkan,
hipotesis kemudian dirumuskan, data dikumpulkan, dan
kemudian hipotesis diuji.
Sedangkan dalam proses induksi, hipotesis baru
dirumuskan berdasarkan apa yang diketahui dari data yang
telah dikumpulkan, yang kemudian diuji
Hypothesis testing with
qualitative research: negative
case analysis
Analisis Kasus Negatifadalah upaya untuk mencari kasus yang
tidak sama atau tidak sejalan dan bahkan bertentangan dengan
arus utama informasi sebagai pembanding.
Misalnya, peneliti mengembangkan kerangka teoritis bahwa
praktik tidak etis dari karyawan adalah fungsi dari (1)
ketidakmampuan mereka untuk membedakan antara benar dan
salah, atau (2) karena sangat membutuhkan lebih banyak uang,
atau (3) ketidakpedulian organisasi terhadap praktik-praktik
tersebut.
Asumsikan bahwa peneliti menemukan satu kasus di mana
seorang individu sengaja terlibat dalam praktek tidak etis untuk
menerima suap (meskipun fakta bahwa ia cukup
berpengetahuan luas untuk membedakan benar dan salah,
tidak membutuhkan uang, dan tahu bahwa organisasi tidak
peduli terhadap perilakunya), hanya karena ia ingin
membalas sistem yang tidak mendengarkan pendapatnya.
Temuan baru ini memungkinkan peneliti untuk merevisi teori
dan hipotesis hingga teori menjadi kuat.
Managerial Implications
Pada saat yang genting ini, menjadi mudah untuk mengikuti
perkembangan penelitian mulai dari tahap pertama, yaitu ketika para manajer
merasakan bidang masalah yang luas, persiapan pengumpulan data (termasuk
tinjauan literatur), mengembangkan kerangka teoritis berdasarkan tinjauan
literatur dan dipandu oleh pengalaman dan intuisi, dan merumuskan hipotesis
untuk pengujian.
Hal ini juga jelas bahwa setelah masalah didefinisikan, pemahaman yang
baik dari empat jenis variabel memperluas pemahaman manajer bagaimana
beberapa faktor menimpa pengaturan organisasi. Pengetahuan tentang
bagaimana dan untuk tujuan apa kerangka teoritis dikembangkan dan hipotesis
yang dihasilkan memungkinkan manajer untuk menjadi hakim yang cerdas dari
laporan penelitian yang disampaikan oleh konsultan. Jika pengetahuan tersebut
tidak ada, banyak temuan melalui penelitian tidak akan membuat banyak
pemahaman untuk manajer dan pengambilan keputusan akan penuh kesulitan
dan kebingungan.
Corporate Governance Practices and Firm
Performance: Evidence from Top 100 Public
Listed Companies in Malaysia

Penulis:
Shafie Mohamed Zabri, Kamilah Ahmad, Khaw Khai
Wah
Tahun: 2016
Abstrak
Praktek corporate governance telah menjadi isu banyak negara
Asia setelah krisis keuangan Asia pada tahun 1997, termasuk
Malaysia. Karena krisis, Malaysian Code of Corporate Governance
(MCCG) telah diperkenalkan sebagai bagian aturan listing Bursa
Malaysia (BMB). Penelitian ini berfokus pada praktik corporate
governance Top 100 perusahaan publik yang terdaftar di Bursa
Malaysia dan hubungan antara praktek corporate governance
dengan kinerja perusahaan. Dua indikator Corporate Governance
(Board size dan Board independence) dipilih dalam pengujian
hubungan hipotesis antara corporate governance dengan kinerja
perusahaan, yang diukur dengan return on asset (ROA) dan
return on equity (ROE). Analisis deskriptif dan korelasi digunakan
untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa board size memiliki hubungan negatif yang
lemah secara signifikan dengan ROA tetapi tidak signifikan
terhadap ROE.Temuan lainnya menunjukkan bahwa tidak ada
hubungan antara Board independence dan kinerja perusahaan
Pendahuluan
Isu corporate governance di negara Asia termasuk
Malaysia telah menjadi perhatian di akhir 1990-an
menyusul krisis keuangan Asia pada tahun 1997.
Malaysian Code of Corporate Governance (MCCG) atau
disebut sebagai 2001 Code adalah masalah pertama
pada tahun 2000 sebagai tonggak dalam reformasi tata
kelola perusahaan di Malaysia. Banyak peneliti
berpendapat bahwa corporate governance memainkan
peran penting dalam mengendalikan operasi
perusahaan (Fama, 1980; Fama & Jensen 1983).
Literatur Review
1. Corporate Governance
Board size
Board Independence
2. Kinerja Perusahaan
ROA
ROE
Relationship between Corporate Governance
Practices and Firm Performance

a. Relationship between Board Size


and Firm Performance
hubungan positif : (Shukeri et al,
2012;. Adam dan Mehran, 2003;
Mak dan Kusnadi, 2005; Kiel dan
Nicholson, 2003).
Hubungan negatif: (Mishra et al,
2001;. Singh dan Davidson,
2003).
b. Relationship between Board
Independence and Firm
Performance
Hubungan positif : Dehaene et
al. (2001) , dan Byrd et al. (2010)
Tidak berpengaruh: Hermalin dan
Weisbach (2001), Klein et al.
(2005).
Kerangka Konseptual dan
Pengembangan Hipotesis
Corporate governance Firm performance

Board Size (BSIZE) H1 Firms ROA

H2

H3

Board Independence Firms ROE


(BIND) H4

Hipotesis 1 : Terdapat hubungan antara board size dan ROA perusahaan


Hipotesis 2 : Terdapat hubungan antara board size dan ROE perusahaan
Hipotesis 3 : Terdapat hubungan antara board independence dan ROA
perusahaan.
Hipotesis 4 : Terdapat hubungan antara board independence dan ROE
perusahaan.
Metodologi
Sampel pada penelitian ini terbatas pada Top 100
perusahaan publik yang terdaftar di BMB selama
periode 2008 hingga 2012. Dari seluruh sampel,
hanya 86 perusahaan yang dapat digunakan sebagai
sampel karena sampel lainnya tidak memberikan
informasi yang dibutuhkan dengan lengkap.
Terdapat dua metode analisis yang digunakan dalam
penelitian ini, yaitu analisis deskriptif dan analisis
korelasi.
Untuk menganalisis data, digunakan SPSS untuk
menguji hubungan antara praktek corporate
governance dan kinerja perusahaan.
Hasil Penelitian

Analisis Deskriptif
Contd..
Analisis korelasi dan Uji Hipotesis

Hipotesis 1 : koefisien korelasi sebesar -0,214 dan nilai signifikansi


p = 0,048 yang berarti signifikan sehingga H1 diterima
Hipotesis 2: koefisien korelasi sebesar -0,139 dan nilai signifikansi
p = 0,201 yang berarti tidak signifikan sehingga H0 diterima.
Hipotesis 3 : koefisien korelasinya sebesar 0,03 dan nilai signifikasi
p = 0,786 yang berarti tidak signifikan sehingga H0 diterima.
Hipotesis 4 : koefisien korelasinya sebesar 0,06 dan nilai signifikasi
p = 0,582 yang berarti tidak signifikan sehingga H0 diterima.
Kesimpulan

Dalam penelitian ini ditetapkan dua tujuan. Tujuan pertama


adalah untuk menyelidiki praktik corporate governance pada
top 100 perusahaan terdaftar. Tujuan ini dicapai melalui
analisis deskriptif dan diketahui bahwa rata-rata jumlah
direksi dalam dewan adalah 9 orang dan rasio rata-rata
board independence dari tahun 2008 hingga 2012 adalah
46%.
Tujuan kedua adalah untuk meneliti hubungan antara
corporate governance dan kinerja perusahan. Tujuan ini
terdiri dari empat hipotesis dan dicapai dengan
menggunakan analisis korelasi. Hasil analisis menunjukkan
bahwa terdapat hubungan campuran antara corporate
governance dan kinerja perusahaan.
Keterbatasan dan Rekomendasi untuk
Penelitian Selanjutnya
Penelitian ini terbatas pada Top 100 perusahaan publik
Malaysia yang terdaftar dari tahun 2008 sampai 2012, dan
tidak seluruh perusahaan menjadi sampel. Hal ini akan
menyebabkan sampel menjadi tidak valid untuk mewakili
seluruh populasi.
Penelitian ini dapat ditingkatkan dengan melakukan analisis
untuk periode waktu yang lebih lama. Disarankan bahwa
data keuangan yang digunakan mulai lebih dari 20 tahun
sehingga hasil analisis dapat diandalkan dan dipercaya.