Anda di halaman 1dari 31

BIOFARMASETIKA

SEDIAAN TOPIKAL
FAKTOR
PATOFISIOLOGI
Dosen :
Dewi Oktavia Gunawan, M.Farm.,Apt
Erni Rustiani, M.Farm, Apt
FUNGSI UTAMA ORGAN KULIT

Proteksi, Absorbsi, Ekskresi, Persepsi,


Termoregulator, membentuk Pigmen,
membentuk Vitamin D, dan Keratinisasi.
TUJUAN PEMAKAIAN RUTE
PERKUTAN
Efek Lokal/setempat : lapisan luar kulit,
diharapkan absorbsi sesedikit mungkin
(menghindari efek sistemik).
Efek Sistemik (transdermal delivery
system) : formulasi dipakai secara topikal,
diharapkan zat aktif dapat dihantar masuk ke
sirkulasi sistemik.
KEUNTUNGAN PEMBERIAN
TOPIKAL
1) Untuk tujuan lokal meminimalkan efek
samping.
2) Untuk tujuan sistemik obat terbebaskan
ke sirkulasi sistemik secara teratur.
3) Meningkatkan kepatuhan penggunaan obat.
4) Frekuensi pemakaian menurun.
5) Bila terjadi toksisitas, pengatasan cepat.
KERUGIAN PEMBERIAN TOPIKAL
1) Tidak untuk dosis besar.
2) Sifat kulit yg merupakan perintang/penghalang
hanya molekul obat yg kecil dan lipofilik yg
dapat tembus.
3) Adhesive tidak menempel baik.
4) Kemungkinan iritasi.
5) Perubahan flora kulit.
6) Tidak ekonomis.
7) Pengaturan dosis regimen sulit perlu
diperhatikan pengaturan dosis regimen yg
akurat.
SRUKTUR ANATOMI KULIT
TINJAUAN ANATOMI
FISIOLOGI KULIT
ANATOMI FISIOLOGI KULIT
EPIDERMIS
Merupakan lapisan epitel, tebal rata-rata
200m, dgn sel-sel yg berdiferensiasi
bertahap dari bagian yg lebih dalam menuju
ke permukaan dengan proses keratinisasi.
Dua bagian:

1. Lapisan malfigi bagian yg hidup,


menempel pd dermis.
2. Lapisan tanduk (stratum Corneum)
sekumpulan sel-sel mati yg mengalami
keratinisasi.
ANATOMI FISIOLOGI KULIT
DERMIS DAN HIPODERMIS
Dermis, merupakan jaringan penyangga
berserat dgn ketebalan 3-5 mm, berperan
utama sebagai pemberi nutrisi pd epidermis.
Anyaman pembuluh darah dan pembuluh
getah bening terletak pada daerah papiler
dgn kedalaman 100-200 m.
Hipodermis dan jaringan penyangga kendor,
mengandung sejumlah kelenjar lemak dan
juga mengandung glomerulus kelenjar
keringat.
ANATOMI FISIOLOGI KULIT
ANEKSA KULIT
Terdiri atas sistem polisebasea dan kelenjar
sudoripori.
Pada umumnya kelenjar sebasea menempel
pada folikel rambut kecuali pada beberapa
daerah yg berbulu jarang dan terletak pada
jarak sekitar 500 m dari permukaan kulit
(kelenjar eksokrin, holokrin dan getah
sebum).
Absorbsi obat mll kulit (perkutan/transdermal)
terjadi bila obat berpenetrasi masuk ke dalam
kulit dan melalui kulit masuk ke dalam tubuh.

Jalurnya ialah:
1. Celah antara sel dari stratum corneum : terjadi
difusi melalui matriks stratum corneum.
2. Melalui dinding folikel rambut (aneksa kulit).
3. Melalui kelenjar keringat (kelenjar sudoripori).
4. Melalui kelenjar sebum (polisebasea).
5. Menembus sel stratum corneum.
SEDIAAN DI TEMPAT ABSORBSI
I. PENYERAPAN/ABSORBSI

Faktor-faktor yg dapat mengubah ketersediaan hayati


zat aktif dalam sediaan yg dioleskan pada kulit:

1. Lokalisasi sawar
Kulit mengandung sejumlah bentukan bertumpuk
dan spesifik yg dpt mencegah masuknya bahan-
bahan kimia, disebabkan adanya:
1) Lapisan tipis Lipida pd permukaan kulit.
2) Lapisan tanduk
3) Lapisan epidermis malfigi
Peniadaan lapisan lipida pd permukaan kulit oleh
eter, alkohol atau sabun-sabun tertentu tdk
mengubah permeabilitas kulit. Lapisan lipida dapat
ditembus senyawa-senyawa lipofilik dgn cara difusi.
Peniadaan lapisan tanduk (stratum corneum) dgn
bantuan plester akan membersihkan lapisan malfigi
peningkatan permeabilitas kulit thd air, etanol dan
kortikosteroid.
Lapisan malfigi menghalangi penembusan senyawa
tertentu tetapi tidak spesifik. Misalnya senyawa murni
lipofil : perhidroskualen, atau hidrofil : Natrium
dodesil sulfat yang tidak atau sangat sedikit diserap.
2. Jalur Penembusan

Kulit, penembusan molekul obat dari luar ke bagian


dalam kulit terjadi secara difusi melalui lapisan tanduk
(stratum corneum) dan melalui kelenjar sudoripori
atau organ polisebasea.
Aneksa kulit dlm hal ini folikel rambut, kurang efektif
dibanding lapisan tanduk. Folikel rambut tidak
mempunyai epitel tanduk luar kecuali pd bagian atas,
mulai dari kelenjar sebasea hingga bagian dasar folikel.
Kelenjar sudoripori, tidak terlibat secara
nyata dlm proses penembusan. Kulit telapak
tangan dan kaki dlm jumlah yg sangat byk
500-800 setiap cm2, tidak lebih permeabel
dibandingkan dgn bagian tubuh yg lain 200-
250 setiap cm2.
Polisebasea, Senyawa yg dapat berdifusi mpy
bobot molekul kecil dan bersifat lipofil
dengan cepat dapat tersebar dalam lapisan
tanduk dan dalam lipida yg terdapat dalam
kelenjar sebasea.
3. Penahanan dalam struktur permukaan kulit dan
penyerapan perkutan.

penumpukan senyawa yg digunakan setempat pd


struktur kulit, terutama pd lapisan tanduk (stratum
corneum).
Disebabkan karena dlm struktur kulit terdapat suatu
daerah depo (lapisan tanduk epidermis, dermis dan
hipodermis), dan dari tempat itulah zat aktif dilepaskan
perlahan.
Contoh 1: aksi penyempitan pembuluh darah
oleh efek depoplester mengandung senyawa
fluosinolon asetonide (kortikosteroid), terjadi
pd lapisan tanduk (stratum corneum).
Efek obat dpt diperpanjang setelah hanya satu
kali pengolesan efek penahanan yg lama
menyebabkan hambatan aktivitas mitosis sel
epidermis basal (peremajaan sel epidermis).
bahan obat lain yg mudah tertahan lama dlm
sel-sel tanduk, terutama hidrokortison,
heksaklorofen, griseofulvin, asam fusidat,
dan natrium fusidat, serta betametason.
Contoh 2: Surfaktan anionik dan kationik
sediaan kosmetika juga tertahan di lapisan
tanduk (Stratum Corneum).
Adanya muatan ion merupakan pendorong
terjadinya pembentukan ikatan ionik dengan
protein keratin, akibatnya :
1. Surfaktan dgn konsentrasi tinggi merusak
struktur lapisan tanduk peningkatan
kehilangan air dan suatu aksi iritasi bermakna.
2. Surfaktan dgn konsentrasi rendah ikatan dgn
lipida memudahkan penyerapannya pd lapisan
tanduk meningkatkan aksi pelembutan kulit.
Contoh 3: sejumlah bahan toksik, pestisida
fosfat-organik ditahan di lapisan tanduk
(stratum corneum) dlm waktu cukup lama
(karakter larut lemak).
- Dactal 112 hari hambatan mitosis sel.
- Paration 60 hari, Malation 9 hari,
tertimbun di bagian lipida yg terdapat dlm
saluran folikel rambut & dlm kelenjar
sebasea menyebar perlahan ke dlm
lapisan malfigi dan dermik memasuki
peredaran darah (efek sistemik).
Contoh 4: Efek depo dari daerah Dermis & Hipodermis:
- Pcymen tertimbun pada lemak Hipodermis.
- Testosteron dan bensil alkohol tertahan dalam Dermis.
- Oestradiol, tiroksin, dan triiodotironin dan aesin
tertahan dalam jaringan kulit yg lebih dalam.
Menyebabkan :

1. Terjadinya aksi terapetik setempat tanpa diikuti difusi


sistemik yg berarti.
2. penahanan senyawa dalam jaringan dibawah kulit hanya
terjadi pd bahan2 yg diserap secara berkesinambungan
efek sistemik.
3. senyawa terikat secara metabolit sesudah penyerapan
sistemik (griseofulvib dan asam amino yg mengandung
belerang, dan tergabung dlm struktur kulit yg hidup dan
terkeratinisasi)
II. PENERAPAN TEORI DIFUSI PADA ABSORBSI PERKUTAN

Sebagian besar molekul kimia obat diserap melalui kulit


secara DIFUSI PASIF.

Parameternya:
Waktu laten, mencerminkan penundaan penembusan
senyawa ke dalam struktur lapisan tanduk dan
pencapaian gradien difusi.
Bila keseimbangan dicapai, jumlah senyawa obat yg
meninggalkan membran permukaan dermis adalah
sama dgn jumlah senyawa yg menembus epidermis.
Waktu laten beragam antara satu senyawa dan
lainnya.
Contoh: beberapa menit untuk Etanol, dan
beberapa hari untuk kortikosteroid.
Tetapan permeabilitas, mencerminkan
kemampuan menembus suatu senyawa
melintasi suatu membran tertentu.
Semakin tinggi nilai tetapan tersebut maka
kemampuan menembus membran makin tinggi.
Tetapan permeabilitas suatu senyawa yg
berdifusi ke dlm semua lapisan kulit, secara
berurutan : lapisan tanduk (stratum corneum),
epidermis malfigi dan dermis.
Tetapan/Tahanan Difusi senyawa obat melintasi
lapisan tanduk (stratum corneum) adalah sangat
tinggi dan merupakan faktor penentu pd penyerapan
perkutan (penyerapan lambat). Sebaliknya, tahanan
difusi lapisan epidermis malfigi dan dermis dapat
diabaikan.
Contoh:
Tahanan difusi air 1000 kali lebih cepat melintasi
lapisan tanduk daripada lapisan epidermis dan
dermis.
Tahanan difusi molekul yg sangat lipofil (oktanol,
dekanol atau perhidroskualen) sangat tinggi pada
lapisan epidermis malfigi (lapisan yg hidup) dan
berlawanan dgn penyerapan.
Penerapan studi permeabilitas kulit (hukum
Fick) hanya dpt dilaksanakan pd beberapa
keadaan sbb:
1. Debit aliran darah tetap
2. Integritas kulit memenuhi syarat
3. Konsentrasi senyawa yg di oleskan pd kulit
adalah kecil dan tetap selama percobaan
4. Sel reseptor pd dermis telah diremajakan
shg tidak jenuh
III. FAKTOR FISIOLOGIK YANG MEMPENGARUHI
PENYERAPAN PERKUTAN

1 Keadaan dan Umur Kulit


2 Aliran Darah
3 Tempat pengolesan
4 Kelembaban dan Suhu
1. KEADAAN DAN UMUR KULIT
Kulit utuh merupakan suatu sawar difusi yg
efektif dan efektivitasnya berkurang bila terjadi
perubahan dan kerusakan sel-sel tanduk.
Pada keadaan dermatosis dgn eksim, psoriasis,
dermatosis seborheik, maka permeabilitas kulit
akan meningkat.
Kadar hidrokortison yg melintasi kulit akan
berkurang bila lapisan tanduk berjamur dan lain
meningkat pd kulit dengan eritematosis.
Difusi kulit juga tergantung pd umur subyek,
kulit anak-anak lebih permeabel dibandingkan
kulit orang dewasa.
2. ALIRAN DARAH
Perubahan debit darah ke kulit secara nyata
mengubah kecepatan penembusan molekul.
Bila kulit luka atau bila zat aktif digunakan secara
Ionoforesis, jumlah yg menembus jauh lebih byk
dan peranan debit darah mjd faktor yg
menentukan.
Pemakaian setempat kortikosteroid
penyempitan pembuluh darah kulit mengurangi
kapasitas alir darah mendorong efek depo.
Penyerapan perkutan testosteron berkurang
dengan nyata bila digunakan setelah pengolesan
6-metil prednisolon.
3. TEMPAT PENGOLESAN
Jumlah yg diserap untuk suatu molekul yg sama, akan
berbeda tergantung pada anatomi tempat pengolesan : kulit
dada, punggung, tangan, atau lengan.
Perbedaan ketebalan terutama disebabkan ketebalan lapisan
tanduk (stratum corneum), berbeda pd setiap bagian tubuh,
tebalnya beragam antara 9 m untuk kulit kantung zakar
sampai 600 m untuk kulit telapak tangan dan kaki.
beragamnya ketebalan membran pada satu sisi
menyebabkan peningkatan waktu laten yg diperlukan untuk
mencapai keseimbangan konsentrasi pd lapisan tanduk, di
sisi lain menyebabkan pengurangan aliran darah.
Permeabilitas kulit terhadap suatu senyawa akan meningkat
secara berurutan setelah pengolesan pada kulit telapak
tangan dan kaki, di atas kulit lengan, kulit perut dan
akhirnya kulit rambut atau kulit kantung zakar.
4. KELEMBABAN DAN SUHU
Kandungan air dlm lapisan tanduk rendah 5-
15%, dapat ditingkatkan sampai 50% dgn
pengolesan suatu bhn pembawa yg dpt
menyumbat : vaselin, minyak atau plester
impermeabel.
Stratum corneum yg lembab mempunyai
afinitas yg sama thd senyawa-senyawa yg larut
dlm air atau dlm lipida. Hal ini disebabkan
oleh struktur histologi sel tanduk dan
terutama oleh helai-helai keratin yg dpt
mengembang dlm air dan pd media lipida
amorf yg meresap di sekitarnya.
Penggunaan plester impermeabel
menyebabkan peningkatan luas permukaan
kulit sebesar 17%, juga peningkatan suhu
setempat dan kelembaban relatif
meningkatkan retensi kulit dan penyerapan
perkutan beberapa obat.
Secara in vivo, suhu kulit yg diukur pd
keadaan normal relatif tetap dan tidak
berpengaruh pd penyerapan.
Secara in vitro, pengaruh suhu dpt diatur
untuk meningkatkan penyerapan.
Terima Kasih