Anda di halaman 1dari 22

Pemeriksaan Widal

YULI YULIANTI
3315013
Patogenesis

Masa inkubasi penyakit ini rata-rata 7 sampai 14 hari. Manifestasi klinik


pada anak umumnya bervariasi. Demam adalah gejala yang paling utama di
antara semua gejala klinisnya. Pada minggu pertama, tidak ada gejala khas
dari penyakit ini. Bahkan, gejalanya menyerupai penyakit infeksi akut
lainnya. Gejala yang muncul antara lain demam, sering bengong atau tidur
melulu, sakit kepala, mual, muntah, nafsu makan menurun, sakit perut, diare
atau justru sembelit (sulit buang air besar) selama beberapa hari.
Peningkatan suhu bertambah setiap hari. Setelah minggu kedua, gejala
bertambah jelas. Demam yang dialami semakin tinggi, lidah kotor, bibir
kering, kembung, penderita terlihat acuh tidak acuh, dan lain-lain.
S. typhi masuk ketubuh manusia melalui makanan dan air yang tercemar. Sebagian
kuman dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus.
Setelah mencapai usus, Salmonella typhosa menembus ileum ditangkap oleh sel
mononuklear, disusul bakteriemi I. Setelah berkembang biak di RES, terjadilah
bakteriemi II. Interaksi Salmonella dengan makrofag memunculkan mediator-
mediator. Lokal (patch of payer) terjadi hiperplasi, nekrosis dan ulkus. Sistemik
timbul gejala panas, instabilitas vaskuler, inisiasi sistem beku darah, depresi sumsum
tulang dll. Imunulogi. Humoral lokal, di usus diproduksi IgA sekretorik yang
berfungsi mencegah melekatnya salmonella pada mukosa usus. Humoral sistemik,
diproduksi IgM dan IgG untuk memudahkan fagositosis Salmonella oleh makrofag.
Seluler berfungsi untuk membunuh Salmonalla intraseluler
Banyak orang yang tidak terlihat sakit tapi berpotensi menyebarkan penyakit
tifus. Inilah yang disebut dengan pembawa penyakit tifus. Meski sudah
dinyatakan sembuh, bukan tidak mungkin mantan penderita masih
menyimpan bakteri tifus dalam tubuhnya. Bakteri bisa bertahan berbulan-
bulan bahkan bertahun-tahun. Sebagian bakteri penyebab tifus ada yang
bersembunyi di kantong empedu. Bisa saja bakteri ini keluar dan bercampur
dengan tinja. Bakteri ini dapat menyebar lewat air seni atau tinja penderita.
Manifestasi Klinis

Keluhan dan gejala Demam Tifoid tidak khas, dan bervariasi dari gejala
seperti flu ringan sampai tampilan sakit berat dan fatal yang mengenai
banyak sistem organ. Secara klinis gambaran penyakit Demam Tifoid berupa
demam berkepanjangan, gangguan fungsi usus, dan keluhan susunan saraf
pusat.
Panas lebih dari 7 hari, biasanya mulai dengan sumer yang makin hari
makin meninggi, sehingga pada minggu ke 2 panas tinggi terus menerus
terutama pada malam hari.
Gejala gstrointestinal dapat berupa obstipasi, diare, mual, muntah, dan
kembung, hepatomegali, splenomegali dan lidah kotor tepi hiperemi.
Gejalah saraf sentral berupa delirium, apatis, somnolen, sopor, bahkan
sampai koma.
Berbagai tanda dan gejala yang bisa timbul :
demam tinggi dari 39 sampai 40 C (103 sampai 104 F) yang meningkat
secara perlahan
tubuh menggigil
denyut jantung lemah (bradycardia)
badan lemah (weakness)
sakit kepala
nyeri otot myalgia
kehilangan nafsu makan
Konstipasi
sakit perut
Pemerilsaan widal
Metode : slide
Prinsip : adanya antibody salmonella typhi dan salmonella
paratyphi dalam serum sampel akan bereaksi dengan antigen
yang terdapat dalam reagen widal. Reaksi dengan adanya
aglutinasi.
Prosedur kerja

Persiapan/alat dan bahan:


Serum
Reagen Widal
Rotator atau batang pengaduk
Pipet tetes
Slide
kualitatif
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Pipet satu tets serum (20) keadaan lingkaran yang terdapat dalam slide dengan kode
O,H,HA dan CP dan CN
3. Tambakan masing-masing satu tetes reagen widal sesuia dengan kode slide, begitu pula
pada CN dan Cp
4. Campur antigen dan serum dengan batang pengaduk berbeda dan lebarkan kemudian
goyang-goyangkan selama satu menit
5. Amati reaksi yang terjadi.
Interpretasi Hasil :
Positif : Bila terjadi aglutinasi
Negative : Bila tidak terjadi aglutinasi
Pemeriksaan Widal
Metode : Tabung
Prinsip : adanya antibody salmonella typhi dan
salmonella paratyphi dalam serum sampel akan bereaksi
dengan antigen yang terdapat dalam reagen widal. Reaksi
dilihat dengan adanya aglutinasi
Prosedur kerja
Alat Dan Bahan
Sampel serum
Reagen widal
NaCl 0,9%
Tabung Reaksi
Klinipet 100 ul + tips
Pipet 1 ml
Rak tabung
Kualitatif
Siapkan alat dan bahan yang akan di gunakan
Susun 8 tabung reaksi di atas tabung untuk satu baris
Tabung pertama diisi NaCl 0,9% ml
Tabung kedua sampai pada tabung kedelapan diisi masing-masing 1 ml NaCl 0,9%
Pipet 100 ul serum masukan kedalam tabung pertama tabung pertama dan homogenkan
Pindahkan 1 ml isi tabung pertama kedalam tabung kedua ke tabung dan seterusnya sampai
tabung ke tujuh
Buang 1 ml isi tabung ketujuh
Tambahkan 1 tetes reagen widal yang positif pada masing-masing tabung, sedangakan tabung
kedelapan ditambakan 1 tetes control positif
Inkubasi selama 24 jam pada suhu kamar
Amati hasil reaksi.
Interpretasi Hasil
Positif : terjadi aglutinasi
Negative : tidak terjadi aglutinasi
Pemeriksaan Widal
Metode : invitro semikuantitatif
Prinsip : Tes diagnosis in-vitro semikuantitatif untuk mendeteksi
demam typhoid terhadap antigen S. typoid og lopopolisakarida
denan cara mengukur kemampuan serum antibody IgM tersebut
dalam menghambat reaksi antara antigen berlabel partikel latex
magnetic, tingkat inhibisi yang dihasilkan setara dengan
konsentrasi antibody IgM dalam label skala warna
Prosedur kerja

Alat
1. Klinipet / pipet tetes
2. Lempeng sumur
3. Timer
4. Pembanding warna
Bahan
1. Serum
2. Specimen control
3. Reagen coklat
4. Reagen biru
Masukan 50 ul reagen coklat pada sumur 1 untuk control (-) sumur 2 untuk
control (+) sumur 3 untuk sampel
Tekan control (-) pada sumur 1, control (+) pada sumur 2 dan sampel serum
pada sumur 3
Kocok selama 2 menit
Tambakan reagen biru pada masing-masing sumur sebanyak 100 ul
Homogenkan dengan cara sedot sumur 10 X
Kocok dengan rotentor selama 2 menit
Tungu selama 2 jam untuk mengendap (bias di bantu dengan menggunakan
magnet)
Amati warna yang terjadi

Interpretasi Hasil
Warna akan terbentuk biru, sampel coklat, hasil di bandingkan dengan skala
warna yang tersedia.
Pemeriksaan widal

Metode : 1. Uji widal lempeng (slide agglutination


test/SAT)
2. uji tabung (tube agglutination test/SAT)
Prinsip Reaksi : Kemampuan antibodi dalam serum
pasien dalam mengaglutinasi antigen
Salmonella O ( antigensomatik ) dan
Salmonella H ( antigen flagela ). Titer
antibodi ditunjukkan dengan
pengenceran tertinggi yang masih dapat
menunjukkan aglutinasi.
Prosedur kerja

Bahan Tambahan :
NaCl 0,9 %
Alkohol 70 % dankapas
Alat Tambahan :
Tabung reaksi
Micropipette
Rak tabung
Incubator
Sampel :
Serum
Isi Reagen :
Antigen O
Antigen AH
Antigen H
Antigen BH
Cara kerja slide aglutinasi (kuantitatif )

1. Dengan menggunakan pipet khusus untuk tiap pengenceran, sejumlah serum


berikut ditambahkan di atas lingkaran slide berdiameter 27 mm : 0,08ml; 0,04ml;
0,02ml; 0,01ml; 0,005ml
2. Antigen yang telah tersuspensi sepenuhnya ditambahkan sebanyak 1 tetes tepat
pada lingkaran slide
3. Campur dan ratakan hingga keseluruh permukaan dalam lingkaran
4. Dengan perlahan dan sering, guncang dan putar test slide selama 1 menit hingga
terlihat adanya aglutinasi
5. Hasil yang diperoleh dicocokkan dengan titer tabung aglutinasi berturut-turut 1:20;
1:40; 1:80; 1:160; 1:320
6. Dianjurkan untuk mencocokkan hasil titrasi slide dengan teknik tabung.
Cara kerja Tube Agglutination Test / TAT (kuantitatif )

1.Alat dan bahan disiapkan secara lengkap


2.8 tabung reaksi disiapkan dan disusun dalam satu rak (Beri nomor 1 8)
3. NaCl 0,9 % dimasukkan sebanyak1,9 ml pada tabung 1 dengan menggunakan pipet.
4.Ditambahkan NaCl 0,9 % sebanyak 1 ml ke dalam masing-masing tabung yang tersisa
(2-8)
5.Serum ditambahkan kedalam tabung 1 sebanyak 0,1 ml, dan campur hingga homogen.
6.Campuran tabung 1 diambil sebanyak 1 ml dan dimasukkan ke dalam tabung 2. Tabung
2 dicampur hingga homogen, dan diambil 1 ml untuk dimasukkan ketabung 3, dan
seterusnya hingga tabung 7.
7. Larutan pada tabung 7 diambil 1 ml kemudian dibuang.
8.Setiap tabung ditambahkan 1 tetes antigen. Dengan demikian di dapatkan pengenceran
pada tabung 1-7 berturut-turut : 1/20, 1/40, 1/80, 1/60, 1/320, 1/640, 1/1280.
9. Tabung 8 hanya berisi NaCl dan antigen, serta berfungsi sebagai kontrol.
Campur larutan hingga homogeny dan inkubasikan 18 jam.
10.
Pada kontrol antigen harus tidak terdapat aglutinasi
11.
Hasil adanya aglutinasi menunjukkan adanya antibodi
12.
Interprestasi hasil slide dan tube test (kuantitatif)

Titer O yang tinggi : (160) atau kenaikan titer yang tinggi menunjukan infeksi akut
Titer H yang tinggi : (160) Menunjukan pernah di vaksinasi/ pernah terjadi infeksi
Untuk perolehan titer 1/80 :
Pernah mengalami Typoid : Normal
Belum pernah Typoid : Pemeriksaan dilakukan lagi dalam jangka waktu 5-7 hari
Untuk perolehan titer 1/160 :
Pernah mengalami Typoid : Pemeriksaan dilakukan lagi dalam jangka waktu 5-7 hari
Belum pernah Typoid : (+) Typoid
Untuk perolehan titer 1/160 :
Pernah mengalami Typoid : (+) Typoid
Belum pernah Typoid : (+) Typoid