Anda di halaman 1dari 235

MAKSUD DAN TUJUAN IRIGASI

Irigasi : kegiatan-kegiatan yang bertalian dengan usaha


mendapatkan, mengatur dan memanfaatkan air untuk sawah,
ladang, perkebunan dan lain-lain usaha pertanian.

Usaha tersebut berupa :


-Membuat sarana dan prasarana untuk membagi-bagikan air
secara teratur.
-Membuang air kelebihan yang tidak diperlukan lagi.

Tujuan Irigasi adalah :


-Membasahi tanah agar mencapai suatu kondisi tanah yang
baik untuk pertumbuhan tanaman.
-Untuk memupuk tanah melalui unsur yang diangkut oleh air,
meninggikan tanah, mengatur suhu tanah, membersihkan
tanah dari unsur-unsur yang merugikan tanaman, menambah
air tanah dan perikanan.
METODA PEMBERIAN AIR IRIGASI DAN DRAINASE
METODA PEMBERIAN AIR IRIGASI :
1. Melalui permukaan tanah.
a. Peluapan penggenangan bebas.
b. Peluapan penggenangan terkendali.
c. Sistim kalenan.
d. Petak penggenangan atau cekungan-cekungan.

2. Melalui bawah permukaan tanah (cara resapan).

3. Melalui Penyiraman (Sprinkler Irrigation)


Dengan cara memancarkan air ke udara, kemudian jatuh kepermukaan menyerupai
hujan.

4. Melalui Tetesan (Trickle Irrigation atau drip Irrigation).


Memakai pipa-pipa dan pada tempat tertentu dibuat tempat untuk keluarnya tetesan air.
METODA DRAINASE
Air yang berlebihan harus segera dibuang keluar dari
daerah irigasi sebab pada waktu tertentu dapat
mengakibatkan naiknya muka air tanah yang dapat
merendam akar dan nantinya mengganggu
pertumbuhan tanaman.

Metode drainase dapat dibedakan atas dua cara:


1. Drainase bawah tanah.
Melalui pipa-pipa yang diletakkan dibawah permukaan tanah.

2. Drainase permukaan.
Umum digunakan dalam irigasi khususnya persawahan.
Menggunakan parit-parit dari saluran terbuka.
TINGKATAN JARINGAN IRIGASI
Berdasarkan cara pengaturan, pengukuran aliran air dan lengkapnya fasilitas, jaringan
irigasi dapat dibedakan ke dalam tiga tingkatan yaitu sederhana, semi-teknis dan teknis
dengan klasifikasi jaringan sebagai berikut :

Uraian Klasifikasi jaringan irigasi


No
Teknis Semi-teknis Sederhana
1. Bangunan utama Bangunan permanen Bangunan sementara
Bangunan permanen
atau semi-permanen
2. Kemampuan pengukur Sedang Jelek
Baik
& pengatur debit
3. Jaringan saluran Saluran irigasi dan Saluran irigasi dan Saluran irigasi dan
pembuang terpisah pembuang tidak pembuang jadi satu
sepenuhnya terpisah
4. Petak tersier Dikembangkan Belum Belum ada jaringan
sepenuhnya dikembangkan terpisah yang
sepenuhnya dikembangkan
5. Efisiensi keseluruhan 50-60 % 40 - 50 % < 40 %
6. Ukuran/Luasan Tak ada batasan Sampai 2000 ha Tak lebih 500 ha
SISTIM JARINGAN IRIGASI
SISTIM JARINGAN IRIGASI DAPAT DIGOLONGKAN:
1. SISTIM IRIGASI TUNGGAL (Independent Irrigation System)
Sistim irigasi dengan sumber air yang berasal dari satu bangunan sadap
utama berupa waduk, bendung atau rumah pompa yang letaknya masih
dalam areal irigasi itu sendiri.

2. SISTIM IRIGASI MAJEMUK (Dependent Irrigation System)


Sistim irigasi dengan sumber air yang berasal lebih dari satu bangunan-
sadap utama dan semuanya terletak di dalam areal irigasi atau juga
bangunan-sadap utamanya terletak disuatu jaringan irigasi ditempat lain.
SISTIM PENGAMBILAN AIR
1. Pengambilan bebas (Free Intake)
Bangunan yang dibangun ditepi sungai yang berfungsi untuk mengalirkan air
kedalam suatu jaringan irigasi. Dalam hal ini muka air sungai harus lebih tinggi dari
daerah yang diairi dan debit air yang dibelokkan harus dijamin cukup.

2. Bendung
Bangunan yang dibangun melintang sungai yang berfungsi untuk meninggikan muka
air. Air yang telah dibendung kemudian dialirkan kedalam suatu jaringan irigasi.
keperluan irigasi.

3. Waduk
Bangunan yang berfungsi untuk menampung air pada waktu surplus air dan dipakai
sewaktu-waktu bila terjadi kekurangan air.

4. Stasiun pompa
Irigasi pompa bisa dipertimbangkan apabila pengambilan secara gravitasi ternyata
tidak layak dilihat dari segi teknis maupun ekonomis.
SISTIM SALURAN
1. Saluran induk atau saluran primer (Primairy Canal)
Saluran yang mengambil air langsung dari bangunan-sadap utama (intake).
Batas ujung saluran primer adalah pada bangunan bagi yang terakhir.
2. Saluran sekunder (Secondairy Canal)
Saluran yang mengambil air dari saluran-primer dan merupakan saluran perantara
antara saluran primer dan saluran tersier.
Batas ujung saluran sekunder adalah pada bangunan sadap yang terakhir.
3. Saluran tersier (Tertiairy Canal)
Saluran yang mengambil air dari saluran primer atau saluran sekunder dan melayani
satu petak tersier.
Batas ujung saluran tersier adalah pada boks kuarter.
4. Saluran kuarter (Quarternairy Canal)
Saluran yang mengambil air dari saluran tersier untuk mengairi sawah (petak-
kuarter) secara langsung.
5. Saluran cacing atau saluran petani
Saluran yang digunakan petani untuk mengambil air dari saluran kuarter.
6. Saluran pembuang atau drainase
Saluran yang membuang kelebihan air dari sawah (petak kuarter) menuju ke sungai,
laut dan lain-lain.
7. Saluran suplesi (Link Canal)
Saluran yang membawa air dari suatu sumber air yang lain baik dari sungai lain atau
saluran lain.
ISTILAH-ISTILAH DALAM PEMBAGIAN AREAL IRIGASI

Tanah Tinggi Jaringan Irigasi


Perkampungan (Saluran Irigasi,
Drainase, Bangunan Bagi,
Jalan Raya Sadap,Boks, Jalan Inspeksi,
Jalan Petani)
Sawah
Pematang

Daerah Irigasi Netto


Daerah Irigasi Bruto
Daerah Proyek

1. Wilayah (Region) : areal yang airnya diambil dari beberapa bangunan sadap utama
yang selanjutnya dibawa kejaringan irigasi tunggal atau irigasi majemuk.
2. Daerah (Zone) : areal yang airnya diambil dari satu bangunan sadap utama.
3. Daerah Proyek : daerah dimana pelaksanaan pekerjaan dipertimbangkan dan/atau
diusulkan dan daerah ini akan mengambil manfaat langsung dari proyek.
4. Daerah Studi : Daerah Proyek ditambah dengan seluruh Daerah Aliran Sungai (DAS)
dan tempat-tempat pengambilan air ditambah dengan daerah-daerah lain yang ada
hubungannya dengan daerah studi.
5. Daerah Mati : daerah yang tidak dapat diairi dari suatu sistim irigasi seperti
perkampungan, jalan raya, rawa-rawa dan daerah tinggi.
6. Daerah Irigasi Total/Bruto (Gross Irrigable Areal) : Daerah Proyek dikurangi
Daerah Mati.
ISTILAH-ISTILAH DALAM PEMBAGIAN AREAL IRIGASI
Tanah Tinggi Jaringan Irigasi
Perkampungan (Saluran Irigasi,
Jalan Raya Drainase, Bangunan Bagi,
Sadap,Boks, Jalan Inspeksi,
Sawah
Jalan Petani) Pematang

Daerah Irigasi Netto


Daerah Irigasi Bruto
Daerah Proyek

7. Daerah Irigasi Netto : areal bersih yang mendapat air dan ditanami. Daerah
ini adalah Daerah Total dikurangi dengan saluran irigasi dan pembuang, jalan
inspeksi, jalan petani dan tanggul sawah. Daerah ini dijadikan dasar
perhitungan kebutuhan air dan sebagai angka standar diambil 0,9 x luas
Daerah Total.
8. Petak primer : areal yang airnya diambil dari sebuah saluran primer dan
terdiri dari beberapa petak-petak sekunder.
9. Petak sekunder : areal yang airnya diambil dari sebuah saluran sekunder
dan terdiri dari beberapa petak-petak tersier.
10. Petak tersier : areal yang airnya diambil dari sebuah bangunan sadap dan
terdiri dari beberapa petak-petak kuarter.
11. Petak kuarter : areal yang airnya diambil dari sebuah boks bagi dan terdiri
dari beberapa petak sawah.
TATA NAMA (NOMENKLATUR)
KETENTUAN DALAM MEMBUAT NOMENKLATUR :
1. Notasi harus singkat dan tidak mempunyai tafsiran ganda
2. Nama menunjukkan luas areal, saluran, bangunan irigasi, drainase dan lain-
lain.
3. Harus dimungkinkan untuk menambah bangunan irigasi baru tanpa
mengubah semua nama yang sudah ada.
4. Sedapat mungkin sebutan hanya menggunakan satu huruf, kecuali terpaksa.
5. Jika perlu huruf ditambah angka untuk menunjukkan letak objek bagi
saluran, juga arah saluran air.
6. Dapat menyatakan jenis saluran dan dapat menyatakan jenis bangunan,
terutama perbedaan antara bangunan sadap atau bangunan bagi dan jenis
bangunan lain.
7. Dapat menyatakan jenis dan letak petak misalnya petak primer, petak
sekunder, petak tersier serta letaknya disebelah kiri atau sebelah kanan
saluran.
TATA NAMA DAERAH IRIGASI

DAERAH IRIGASI DAPAT DIBERI NAMA SESUAI DENGAN :


1. Nama daerah setempat atau desa penting di daerah itu seperti D.I. KILO karena
desa utama di daerah yang dilayani adalah Desa KILO, atau

2. Nama sungai yang airnya diambil untuk keperluan irigasi seperti D.I. GUMBASA
karena airnya diambil dari Sungai GUMBASA

Apabila pada satu sungai :


a. Terdapat dua pengambilan atau lebih maka daerah irigasi diberi nama sesuai
ketentuan pertama (nama desa) penting di daerah-daerah layanan setempat
b. Apabila hanya satu pengambilan maka dapat diberi nama sesuai ketentuan kedua
yaitu sesuai nama sungai.
TATA NAMA DAERAH IRIGASI
Untuk suatu sistim irigasi tunggal dapat diambil nama sungainya.

Sungai
Gumbasa
Daerah Irigasi
GUMBASA

Untuk sistim irigasi majemuk diambil nama desa terkenal yang ada didalam daerah
layanannya. Misalnya D.I. KILO mengambil nama Desa KILO yang ada dalam daerah
layanannya. Demikian juga untuk D.I. TAMBARANA

Sungai
POSO
Daerah Irigasi
KILO

Desa KILO

Daerah Irigasi
TAMBARANA)

Desa
TAMBARANA
TATA NAMA INTAKE (BANGUNAN UTAMA)
Bangunan sadap yang berupa bendungan atau bendung diberi nama sesuai NAMA
DESA atau KAMPUNG penting dimana letak bangunan tersebut.

Kampung
BENTENG
Desa Jatiluhur

bendung BENTENG

Bendungan Jatiluhur

Sungai SADANG

Sungai CITARUM
TATA NAMA SALURAN
SALURAN INDUK
Saluran induk sebaiknya diberi nama menurut NAMA DAERAH IRIGASI yang
dilayani seperti saluran induk GUMBASA karena melayani D.I. GUMBASA, tetapi dapat
juga diberi nama dengan menurut NAMA SUNGAI tempat pengambilan air. berikut :

Sungai Gumbasa

saluran induk saluran induk


GUMBASA GUMBASA
BARAT TIMUR
A = Ha A = Ha
Q = l/det Q = l/det
TATA NAMA SALURAN SEKUNDER
Saluran sekunder diberi nama menurut NAMA DESA yang terletak di petak sekunder
misalnya saluran sekunder BIROMARU berarti saluran sekunder tersebut terletak di
Desa BIROMARU. Apabila dijumpai nama huruf depannya sama, misalnya saluran
sekunder Biromaru dan saluran sekunder Birobuli, maka ditetapkan saja misalnya
saluran Sek. Biromaru dengan Br dan saluran Sek. Biromuli dengan Bl. Saluran yang
terletak diantara bangunan bagi/sadap dinamakan Ruas misalnya R.B 1 berarti ruas
pertama Saluran Sek. Biromaru.

Saluran sekunder BIROMARU


R.B 1 R.B 2

A = Ha A = Ha
Q = l/det Q = l/det
TATA NAMA SALURAN TERSIER
Misalkan pada bangunan bagi sadap Gumbasa 2 (B.G 2). Dibagian kiri ada 3 buah
saluran tersier maka pemberian notasi seperti pada gambar dibawah ini, dimana arah
kiri dan kanan harus mengikuti arah aliran air. Untuk petak tersier yang diairi diberi nama
sesuai dengan nama saluran tersier yang melayaninya kemudian ditandai pula dengan
luas areal dan debit maksimum yang perlu diberikan.
G 2 ki 1

S.G 2 ki 1 76 Ha 106 l/det

G 2 ka S.G 2 ka S.G 2 ki 2 G 2 ki 2

110 Ha 154 l/det 96 Ha 134 l/det


B.G 2

G 3 ka S.G 3 ka S.G 2 ki 3
G 2 ki 3

B.G 3
148 Ha 207 l/det 116 Ha 162 l/det
TATA NAMA BANG. BAGI/SADAP
TATA NAMA BANGUNAN PELENGKAP
Bangunan pelengkap seperti jembatan, gorong-gorong, talang dll, diberi nama notasi.
Misalkan diantara banguan-sadap B.B 2 dan B.B 3 terdapat sebuah jembatan orang,
sebuah bangunan terjun dan sebuah sipon pembunag maka bangunan-bangunan ini
diberi notasi menurut nomor dari bangunan sadap di hilir, ditambah huruf petunjuk a, b
dan c dihitung dari hulu kehilir menurut arah aliran air. Jadi notasi bangunan-bangunan
ini adalah B.B 3a, B.B 3b dan B.B 3c.
TATA NAMA DI DALAM PETAK TERSIER

1. Petak tersier diberi nama sesuai nama saluran muka tersier yang mendapat air dari
bangunan-sadap. Misalnya petak B 4 ka mendapat air dari saluran S.B 4 ka
2. Boks tersier diberi kode T, diikuti dengan nomor urut menurut arah jarum jam, mulai
dari boks pertama di hilir bangunan sadap tersier misalnya T 1, T 2, T 3 dan
seterusnya.
3. Petak kuarter diberi nama sesuai dengan petak rotasi pola tanam, diikuti dengan
nomor urut menurut arah jarum jam. Petak rotasi diberi kode A, B, C dan seterusnya
menurut arah jarum jam.
TATA NAMA DI DALAM PETAK TERSIER

4. Boks kuarter diberi kode K, diikuti dengan nomor urut menurut arah jarum jam, mulai
dari boks pertama di hilir boks tersier misalnya K 1, K 2, K 3 dan seterusnya. Perlu
diingatkan bahwa boks kuarter melayani sekurang-kurangnya dua petak kuarter.
5. Ruas-ruas saluran tersier diberi nama sesuai dengan nama boks yang terletak di
antara kedua boks, misalnya (T 1-T 2), (T 2-T 3), (T 3-K 2).
6. Saluran irigasi kuarter diberi nama sesuai dengan petak kuarter yang dilayani tetapi
dengan huruf kecil, misalnya a1, a2, a3 dan seterusnya.
7. Saluran pembuang kuarter diberi nama sesuai dengan petak kuarter yang dibuang
airnya, dengan menggunakan huruf kecil dan dimulai dengan dk, misalnya d.k.a 1,
d.k.a 2, d.k.a 3 dan seterusnya.
8. Saluran pembuang tersier diberi kode d.t 1, d.t 2 juga menurut arah jarum jam.
NOTASI GAMBAR

a. Bangunan Waduk

1. Bendungan

2. Tanggul

3. Pelimpah banjir

4. Menara pengambil
NOTASI GAMBAR
b. Bangunan Pengambil

1. Sumur dengan pompa

2. Pengambilan bebas

3. Pengambilan bebas dengan pompa

4. Bendung

5. Bendung dengan pompa


NOTASI GAMBAR
NOTASI GAMBAR
NOTASI BANGUNAN
NOTASI BANGUNAN
KEBUTUHAN AIR IRIGASI DAN MODULUS PEMBUANG
Perkiraan kebutuhan air irigasi ditentukan oleh faktor-faktor berikut :
1.Cara penyiapan lahan.
2.Kebutuhan air untuk tanaman
3.Perkolasi dan rembesan
4.Pergantian lapisan air di sawah
5.Curah hujan efektif

Kebutuhan air irigasi selama penyiapan lahan


Kebutuhan air selama membuat Lahan Persiapan (LP) untuk penanaman padi adalah :
M. e k
IR
ek 1

dimana :
IR = Kebutuhan air irigasi ditingkat persawahan pada masa LP, mm/hari
M = Eo + P = Kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air akibat evaporasi dan
perkolasi di sawah yang sudah dijenuhkan, mm/hari
Eo = 1,1 ETo = Evaporasi air terbuka selama penyiapan lahan, mm/hari
ETo = Evaporasi potensial dengan metode Penman modifikasi, (berkisar 4-6 mm/hari)
P = Perkolasi, mm/hari
k = MT/S
T = Jangka waktu penyiapan lahan, hari.
(Biasanya dilakukan selama 1 atau 1 bulan diseluruh petak tersier)
S = Kebutuhan air untuk penjenuhan dan pengolahan tanah ditambah lapisan air
(genangan awal) 50 mm setelah tranplantasi (pemindahan bibit ke sawah).
Kebutuhan air untuk penjenuhan biasanya diambil 200 mm atau 250 mm
sehingga nilai S = 200 + 50 = 250 mm atau S = 250 + 50 = 300 mm
KEBUTUHAN AIR SELAMA PENYIAPAN LAHAN (LP)

Eo + P T = 30 hari T = 45 hari
mm/hari S = 250 S = 300 S = 250 S = 300
mm mm mm m
m CONTOH:
5,0 11,1 12,7 8,4 9,5 M = E0 + P = 5
M. e k
IR
5,5 11,4 13,0 8,8 9,8 T = 30 Hari ek 1

6,0 11,7 13,3 9,1 10,1


S = 250 mm
6,5 12,0 13,6 9,4 10,4
7,0 12,3 13,9 9,8 10,8 k = M. T / S = (5 x 30) / 250 = 0,6
7,5 12,6 14,2 10,1 11,1 IR= M . ek / (ek 1)
8,0 13,0 14,5 10,5 11,4
= 5 x 2,7180,6 / (2,7180,6 1)
8,5 13,3 14,8 10,8 11,8
= 11,08 11,1
9,0 13,6 15,2 11,2 12,1
9,5 14,0 15,5 11,6 12,5
10,0 14,3 15,8 12,0 12,9
10,5 14,7 16,2 12,4 13,2
11,0 15,0 16,5 12,8 13,6
PENGGUNAAN KONSUMTIF TANAMAN
Kebutuhan tanaman akan air diperkirakan berdasarkan metode prakira empiris :
ETc = Kc.ETo
dimana Kc : Koefisien tanaman pada suatu tahap pertumbuhan.
Tabel Koefisien tanaman untuk padi dan kedelai

PADI
NECEDO / PROSIDA FAO KEDELAI
Periode
tengah bulanan Varietas Varietas Varietas Varietas
biasa unggul biasa unggul

1 1,2 1,2 1,1 1,1 0,5


2 1,2 1,27 1,1 1,1 0,75
3 1,32 1,33 1,1 1,05 1,0
4 1,4 1,3 1,1 1,05 1,0
5 1,35 1,3 1,1 0,95 0,82
6 1,24 0 1,05 0 0,45
7 1,12 0,95
8 0 0
PERKOLASI DAN PENGGANTIAN LAPISAN AIR

KEHILANGAN AKIBAT PERKOLASI


Laju perkolasi bergantung kepada sifat-sifat tanah.
Pada tanah lempung berat dengan karakteristik pengolahan yang baik, laju perkolasi
dapat mencapai 1-3 mm/hari.
Sedangkan untuk tanah yang porous bisa mencapai hingga 5 mm/hari.

PENGGANTIAN LAPISAN AIR DI SAWAH


Penggantian lapisan air di sawah (WLR) biasanya dilakukan sebanyak 2 kali selama
satu musim tanam yaitu 1 bulan dan 2 bulan setelah pemindahan bibit ke sawah
(transplantasi) masing-masing 50 mm selama 15 hari atau 3,3 mm/hari.
CURAH HUJAN EFEKTIF
KEBUTUHAN AIR UNTUK PADI & PALAWIJA

KEBUTUHAAN AIR UNTUK TANAMAN PADI


Masa penyiapan lahan (LP)
NFR = IR - Re

Masa pertumbuhan (NFR)


NFR = ETc + P + WLR - Re

KEBUTUHAAN AIR UNTUK PALAWIJA


NFR = ETc - Re
CONTOH PERHITUNGAN:
CONTOH EVAPOTRANSPIRASI & HUJAN TENGAH BULANAN
PERHITUNGAN HUJAN EFEKTIF

Penentuan Hujan efektif


Padi
M = 20% N = 20% x 10
= 2 (ranking ke-2)
Re = 0,7 R80 / 15
Penentuan hujan efektif
palawija
M = 50% N = 50% x 10
= 50 % x 10 = 5
(ranking ke-5)
CONTOH PERHITUNGAN

KEBUTUHAN AIR UNTUK PERSIAPAN LAHAN (LP)


Bulan pertama Nopember (NOP.1)
Besar perkolasi yang terjadi P = 2 mm/hari.
Jangka waktu penyiapan lahan dilakukan selama T = 45 hari
Kebutuhan air untuk penjenuhan dan lapisan air S = 300 mm . :
- Evaporasi air terbuka selama penyiapan lahan untuk Nopember:
Eo = 1,1 x ETo = 1,1 x 5,2 = 5,72 mm/hari
- Kebutuhan air untuk mengganti air yang hilang akibat evaporasi dan perkolasi a:
M = Eo + P = 5,72 + 2 = 7,72 mm/hari
- Dengan cara interpolasi (dari tabel), untuk Eo + P = 7,72 mm/hari dari didapat :
IR = 11,3 mm/hari

PENGGUNAAN KONSUMTIF TANAMAN (Etc)


Bulan Des.2
Etc = C x ET0 = 4,2 x 1,08 = 4,6 mm/hari

KEBUTUHAN AIR DI SAWAH SAAT PENYIAPAN LAHAN (NFR) = IR - Re


Bulan NOP.1, NFR = 11,3 1,7 = 9,6 mm/hr

KEBUTUHAN AIR DI SAWAH SAAT PERTUMBUHAN PADI (NFR) = ETc+P+WLR-Re


Bulan DES.2, NFR = 4,6 + 2 + 1,1 2,3 = 5,4 mm/hr

KEBUTUHAN AIR DI SAWAH UNTUK PALAWIJA (NFR) = IR - Re


PERHITUNGAN AIR DI SAWAH ALTTERNATIF A
PERHITUNGAN AIR DI SAWAH ALTERNATIF B
PERHITUNGAN AIR DI SAWAH ALTERNATIF C
KEBUTUHAN AIR DI SAWAH BEBERAPA ALTERNATIF

ALT. 1 = A SAJA
ALT. 2 = B SAJA
ALTL 3 = C SAJA
ALT.4 = A + B
ALT. 5 = A+B+C
ALT.6 = B +C
PEMILIHAN POLA TANAM
MODULUS PEMBUANG

Modulus pembuang : Jumlah kelebihan air yang harus dibuang per petak disebut.

Pada masa pertumbuhan untuk varietas unggul tanaman padi, tinggi muka air yang diijinkan 5
sampai 15 cm. Kedalaman air yang lebih dari 15 cm harus dihindari karena untuk jangka waktu
yang lama akan mengurangi hasil panen. Jika tanaman padi tergenang air sedalam lebih dari 20
cm selama jangka waktu lebih dari 3 hari maka hampir dapat dipastikan bahwa tidak akan ada
panen.

Modulus pembuang rencana, dipilih curah hujan 3 hariandengan periode ulang 5 tahun :
MODULUS PEMBUANG

Perhitungan modulus pembuang, komponennya dapat diambil sebagai berikut :


a. Dataran rendah
Pemberian air irigasi I sama dengan nol jika irigasi dihentikan, atau
Pemberian air irigasi I sama dengan ETc jika irigasi diteruskan.
Tampungan di sawah dengan lapisan air maksimum 150 mm; tampungan
tambahan s di akhir n hari berturut maksimum 50 mm
Perkolasi P sama dengan nol.
b. Daerah terjal
Seperti untuk kondisi dataran rendah, tetapi dengan perkolasi P = 3 mm/hari.

Contoh Perhitungan:
R(3)5 = 150 mm (hujan rancangan) kala ulang 5 tahun
ETo = 4 mm/hari (evapotranspirasi)

Maka untuk daerah rendah:


D(n) = R(n)T + n (I ET0 P) s
= 150 + 3(0 4 0) 50 = 150 12 50 = 88 mm/3 hari

DM = D(n) / (n x 8,64) = 88 / (3 x 8,64) = 3,39 lt/dt/ha


MODULUS PEMBUANG
PERENCANAAN PETAK DAN JARINGAN IRIGASI

TATA LETAK
Untuk pembuatan tata letak, digunakan peta topografi dengan skala 1: 5000 dengan garis-garis
kontur interval 0,50 m untuk daerah datar dan 1,00 m untuk daerah-daerah dengan kemiringan
medan lebih dari 2 %.

Hal-hal yang perlu diidentifikasi dari peta topografi ini :


Sungai-sungai dan jaringan pembuang alamiah dengan batas-batas Daerah Aliran Sungai (DAS).
Punggung medan, cekungan (lembah) dan kemiringan medan.
Batas-batas administrasi desa, kecamatan dan kabupaten. Batas-batas desa sangat penting artinya
untuk penentuan batas petak tersier. Batas-batas kecamatan dan kabupaten penting untuk
menentukan letak administratif proyek dan pengaturan kelembagaan nantinya.
Tata guna tanah yang sudah ada serta tanah yang tidak bisa diolah.
Jaringan irigasi yang sudah ada sebelumnya.
Jaringan jalan dan rel kereta api.
Lokasi kuburan
Daerah atau yang dipersiapkan untuk pemukiman, industri dan lain-lain.
Daerah Hutan
Daerah sawah, rawa dan tambak
Daerah tinggi.
Pada peta topografi dibuat peta tata letak yang menunjukkan lokasi bangunan-bangunan utama,
trase jaringan irigasi dan pembuang, batas-batas dan perkiraan luas petak-petak, daerah yang tidak
dapat diairi serta jaringan jalan.
PERENCANAAN PETAK DAN JARINGAN IRIGASI
PERENCANAAN PETAK DAN JARINGAN IRIGASI

Secara planimetris perencanaan penempatan trase saluran harus mengacu


kepada :
Garis-garis lurus sepanjang mungkin yang dihubungkan dengan kurva (lengkung bulat)

Diusahakan agar muka air mendekati elevasi medan atau sedikit di atas elevasi sawah
di sebelahnya yang akan diairi.

Muka air tanah mendekati muka air rencana atau sedikit dibawahnya.

Perencanaan harus menghasilkan bagian yang seimbang sehingga jumlah galian sama
dengan atau lebih dari jumlah timbunan.
PERENCANAAN PETAK TERSIER & KUARTER
Petak tersier adalah petak dasar di suatu jaringan irigasi dimana E&P (Eksploitasi & Pemeliharaan)
sepenuhnya menjadi tanggung jawab penuh Para Petani Pemakai Air melalui P3A (Perkumpulan
Petani Pemakai Air).

Dalam pengembangan petak tersier ini, P3A mengajukan permohonan bantuan teknis melalui
Panitia Irigasi dan panitia ini yang akan memutuskan apakah pengembangan petak tersier tersebut
perlu mendapat bantuan teknis atau tidak.

Apabila disetujui, dalam perencanaannya keikut sertaan para petani sangat diperlukan dan
diusahakan memanfaatkan jaringan irigasi dan pembuang yang sudah ada dengan memperhatikan
keterangan dan keinginan para petani.

Bentuk optimal petak tersier adalah bujur sangkar, karena pembagian air akan menjadi sulit pada
petak tersier berbentuk memanjang. Jumlah petani pemilik sawah di petak kuarter sebaiknya tidak
boleh lebih dari 30 orang agar koordinasi antar petani baik.

Lebar petak tergantung pada cara pemberian air, yakni apakah air dibagi dari satu sisi atau kedua
sisi saluran kuarter. Apabila aliran dibagi dari satu sisi saluran kuarter maka aliran antar petak
hendaknya dibatasi sampai kurang lebih 8 sawah atau 300 m panjang maksimum.

Dan apabila saluran kuarter membagi air ke kedua sisi seperti pada daerah-daerah datar atau
bergelombang maka lebar maksimum petak akan dibatasi sampai 400 m (2x200 m)
KRITERIA UMUM PETAK TERSIER
TOPOGRAFI PETAK TERSIER
LAYOUT PETAK TERSIER
SKEMA JARINGAN IRIGASI (TERSIER)
SKEMA BANGUNAN (TERSIER)
PERENCANAAN SALURAN TERSIER & KUARTER
PERENCANAAN SALURAN TERSIER & KUARTER

*) Saluran pasangan
Ketentuan dimensi dan kecepatan minimum yang disyaratkan pada saluran tanpa
pasangan juga berlaku untuk saluran pasangan.

Harga koefisien k diambil sebagai berikut :


- Pasangan batu k = 50 m1/3/dt
- Pasangan beton (untuk talud saja) k = 60 m1/3/dt
- Pasangan beton (untuk talud dan dasar) k = 70 m1/3/dt

Tebal pasangan batu sekurang-kurangnya diambil 20 cm bila diameter batu yang digunakan sekitar
15 cm.

Pasangan beton atau yang dibuat dari ubin beton jauh lebih tipis yakni 7 - 10 cm.

Pada ujung dan dasar saluran diberi koperan.


PERENCANAAN SALURAN TERSIER & KUARTER
DEBIT RENCANA
DEBIT RENCANA SALURAN KUARTER
qKw = (NFR X AKw) / 8,64lt/dt/ha
DEBIT RENCANA SALURAN TERSIER
qTr = (NFR X ATr) / (eT x 8,64)lt/dt/ha
DEBIT RENCANA SALURAN SEKUNDER
qSk = (NFR X ASk) / (eT x eS x 8,64)lt/dt/ha
DEBIT RENCANA SALURAN PRIMER
qPr = (NFR X APr) / (eT x eS x eP x 8,64)lt/dt/ha

Dimana:
NFR = Kebutuhan air di sawah, mm/hari
eT = efisiensi di saluran tersier = 0,8
eS = efisiensi di saluran tersier = 0,9
eP = efisiensi di saluran tersier = 0,9
Akw, ATr, Apr = luas areal, ha
EL. HILIR SAL. (EHS) & EL. UDIK SAL. (EUS)
Elevasi Hilir (EHS) dan Udik (EUS) setiap ruas saluran ditentukan langsung dari GARIS-GARIS
KONTUR peta topografi berdasarkan elevasi medan.
Apabila ujung hilir atau udik saluran terletak diantara dua garis kontur maka penentuan elevasinya
diperoleh dengan cara interpolasi linier.
MUKA AIR HILIR RENCANA (MAHr) & MUKA AIR UDIK MEDAN (MAUm)
CONTOH BOX K1
CONTOH BOX T3
KEMIRINGAN YANG ADA (Im)
KEMIRINGAN RENCANA

Dalam perencanaan, selalu diusahakan menggunakan kemiringan yang ada


sebagai kemiringan rencana

Kecepatan aliran di ruas yang ditinjau minimum 0,20 m/dt sehingga tidak
menyebabkan terjadinya pengendapan sedimen

Untuk saluran tanpa pasangan perlu dijaga agar kecepatan aliran tidak terlalu
besar yang dapat menyebabkan terjadinya erosi maka kemiringan yang ada
(Im) perlu diperiksa apakah tidak menyebabkan sedimentasi atau erosi.
CARA MENENTUKAN KEMIRINGAN RENCANA
Plot titik pertemuan antara kemiringan yang ada Im dengan debit rencana
Q (Im versus Q).
Apabila titik hasil plot berada di bawah garis kecepatan minimum 0,20
m/dt maka di atas Q tarik garis vertikal ke atas kemudian pilih satu titik
sembarang yang terletak diantara garis kecepatan minimum 0,20 m/dt
dengan garis putus-putus saluran pasangan atau bangunan terjun.
Namun disarankan memilih titik tepat atau berada disekitar garis
kecepatan minimum agar pekerjaan timbunan menjadi kecil. Dari titik
yang telah dipilih, tarik garis horsontal ke kiri guna menentukan
kemiringan rencana (Ir).
Apabila titik hasil plot berada diantara garis kecepatan minimum 0,20
m/dt dengan garis putus-putus untuk saluran pasangan atau bangunan
terjun maka kemiringan yang ada dapat digunakan sebagai kemiringan
rencana atau Ir = Im.
Apabila titik hasil plot berada di atas garis putus-putus maka kemiringan
yang ada dapat digunakan sebagai kemiringan rencana tetapi dengan
syarat saluran harus terbuat dari pasangan dan menggunakan grafik
perencanaan untuk saluran pasangan (Lampiran). Apabila tetap
diinginkan saluran tanpa pasangan (saluran tanah) maka di atas Q tarik
garis vertikal ke bawah kemudian pilih satu titik sembarang yang terletak
diantara garis kecepatan minimum 0,20 m/dt dengan garis putus-putus
untuk saluran pasangan atau bangunan terjun dan pada saluran harus
diberi bangunan terjun. Namun disarankan untuk memilih titik tepat atau
berada disekitar garis putus-putus agar pekerjaan galian menjadi kecil.
Dari titik yang telah dipilih, tarik garis horisontal ke kiri untuk menentukan
kemiringan rencana (Ir).
GRAFIK KEMIRINGAN RENCANA
LEBAR DASAR SALURAN

Lebar dasar saluran (b)


Dari grafik yang digunakan untuk menentukan
kemiringan rencana diatas, lebar dasar saluran
dapat ditentukan. Cara penentuannya adalah
pilih lebar dasar saluran yang terletak di
sebelah kanan dari titik yang telah dipilih dengan
tetap memperhatikan persyaratan teknis lebar
minimum saluran yaitu 0,30 m untuk saluran
tersier dan kuarter.
KEMIRINGAN AIR DI SALURAN
KEDALAMAN AIR DI SALURAN
TINGGI JAGAAN & KECEPATAN RENCANA

TINGGI JAGAAN (W)


Tinggi jagaan di saluran tersier minimum 0,30 m dan di saluran kuarter
minimum 0,20 m. Untuk praktisnya, biasanya diambil :
Saluran tersier : WT = 0,30 + 0,25 h
Saluran kuarter : WK = 0,20 + 0,25 h

KECEPATAN RENCANA (Vr)


Berdasarkan Gambar Perencanaan/grafik, dapat ditentukan kecepatan
rencana didalam saluran. Sebagai perhitungan kontrol maka
dilakukan perhitungan kecepatan dengan menggunakan rumus
Strickler :
Vr = k x R2/3 x Ir1/2
dimana :
k = Koefisien Strikler yang digunakan, m1/3/dt
R = = Jari-jari hidrolis, m
A = = Luas penampang basah saluran, m2
P = = Keliling basah saluran, m
Ir = Kemiringan rencana
PERHITUNGAN MUKA AIR & KAPASITAS RENCANA (KUARTER)

Qsk = NFR x A / 8,64 h (dari tabel V = k x R2/3 x I1/2


MAHr = EHS + 0,1 + 0,05 w = 0,20 + 0,25h MAUr = MAHr + Ir x L + H1

MAUm = EUS + 0,1 + 0,05 n = b/h H2 = MAUr Ir. L H1 -


MAHr
Im = (MAUm MAHr H1)/ L A = bh + mh2
Ir & b dari grafik P = b + 2h(1 + m 2)1/2
PERHITUNGAN MUKA AIR & KAPASITAS RENCANA (TERSIER)

Qst = NFR x A /(Ef x 8,64) h (dari tabel) V = k x R2/3 x I1/2


MAHr = EHS + 0,1 + 0,05 w = 0,30 + 0,25h MAUr = MAHr + Ir x L + H1
MAUm = EUS + 0,1 + 0,05 n = b/h H2 = MAUr Ir. L H1 - MAHr
Im = (MAUm MAHr H1)/ L A = bh + mh2
Ir & b dari grafik P = b + 2h(1 + m2)1/2
F = Q / Ir1/2 R = A/ P
PERENCANAAN SALURAN PEMBUANG
Perencanaan saluran pembuang hampir sama dengan perencanaan saluran irigasi. Perbedaannya
terdapat pada perhitungan debit rencana, penentuan kemiringan yang ada dan tidak terdapatnya
boks-boks pada saluran pembuang.
DEBIT RENCANA PEMBUANG
KEMIRINGAN YANG ADA (Im)

Kemiringan setiap ruas saluran ditentukan oleh elevasi


SAWAH TERENDAH atau oleh KEMIRINGAN MEDAN
Kemiringan yang ada diperoleh dengan cara memplot
elevasi sawah disepanjang saluran pembuang.
Muka air di saluran pembuang sama atau lebih rendah dari
pada elevasi sawah di sepanjang saluran irigasi
Pada profil memanjang tercantum harga-harga elevasi
tanah, maka dapat ditarik sebuah garis lurus antara muka
air di saluran pembuang yang tingkatnya lebih tinggi
(misalnya muka air saluran pembuang sekunder atau
sungai) dan elevasi sawah terendah.
Garis ini menentukan kemiringan saluran pembuang pada
ruas tersebut (Im).
POTONGAN MEMANJANG SAL. PEMBUANG
PERHITUNGAN SALURAN PEMBUANG TERSIER

Qst = DM x A / 8,64 h (dari tabel) V = k x R2/3 x I1/2


MAUr = MAHr + Ir x L + H1 n = b/h H2 = MAUr Ir. L H1 - MAHr
Im = (MAUm MAHr H1)/ L A = bh + mh2
Ir & b dari grafik P = b + 2h(1 + m2)1/2
F = Q / Ir1/2 R =A/ P
PERENCANAAN SALURAN INDUK DAN SEKNDER
PENYADAPAN AIR UNTUK IRIGASI:
BENDUNG / WEIR
BANGUNAN PELIMPAH YANG DIBANGUN
MELINTANG PALUNG SUNGAI YANG MEMBERIKAN
TINGGI MUKA AIR MINIMUM KEPADA BANGUNAN
PENGAMBIL (INTAKE), UNTUK MENYADAP AIR
SUNGAI MASUK KE SALURAN IRIGASI.
PENGAMBILAN BEBAS / FREE INTAKE
BANGUNAN YANG DIGUNAKAN UNTUK MENYADAP
AIR UNTUK KEPERLUAN IRIGASI, TETAPI TANPA
MENGGUNAKAN BANGUNAN PENINGGI, KARENA
ELEVASI MUKA AIR DI SUNGAI SUDAH CUKUP
TINGGI UNTUK DAPAT MENGAIRI SAWAH YANG
TERJAUH DAN TERTINGGI.
PENYADAPAN AIR UNTUK IRIGASI
WADUK / BENDUNGAN / DAM
BENDUNG YANG TINGGINYA DIUKUR DARI DASAR SUNGAI
LEBIH TINGGI DARI PADA 8 METER DAN FUNGSINYA UNTUK
MENAMPUNG AIR. SESUAI DENGAN KESEPAKATAN DARI
INTERNATIONAL CONGRESS ON LARGE DAM (ICOLD),
BENDUNGAN YANG TINGGI PEMBENDUNGAN ANTARA 8 M
HINGGA 15 M DIKATEGORIKAN SEBAGAI BENDUNGAN
RENDAH (SMALL DAM), DI ATAS 15 M DISEBUT BENDUNGAN
BESAR (LARGE DAM), DI BAWAH 8 M DISEBUT BENDUNG
(WEIR)
EMBUNG ATAU SITU
WADUK KECIL YANG DIGUNAKAN UNTUK MENAMPUNG AIR
HUJAN ATAU DARI MATA AIR, YANG DIPERLUKAN UNTUK
MENGAIR AREAL PERSAWAHAN MAUPUN UNTUK AIR MINUM.
SUMUR BOR (AIR TANAH)
SUMUR BOR DIMANFAATKAN UNTUK IRIGASI AIR TANAH PADA
DAERAH-DAERAH YANG PERSEDIAAN AIR PERMUKAANNYA
TERBATAS DAN TIDAK MUNGKIN DIKEMBANGKAN LAGI.
SEMUA BANGUNAN YANG DIRENCANAKAN DI
DAN SEPANJANG SUNGAI ATAU ALIRAN AIR
UNTUK MEMBELOKKAN AIR KE DALAM
JARINGAN IRIGASI AGAR DAPAT DIPAKAI
UNTUK KEPERLUAN IRIGASI, BIASANYA
DILENGKAPI DENGAN KANTONG LUMPUR
AGAR BISA MENGURANGI KANDUNGAN
SEDIMEN YANG BERLEBIHAN SERTA
MEMUNGKINKAN UNTUK MENGUKUR AIR
YANG MASUK.
BANGUNAN PENGELAK
BANGUNAN INI BERUPA BENDUNG YANG
BERFUNGSI MENINGGIKAN MUKA AIR
SUNGAI AGAR MASUK KE PINTU
PENGAMBILAN.
BANGUNAN PENGAMBILAN
BANGUNAN INI BERUPA PINTU SADAP DAN
PERLENGKAPANNYA YANG BERFUNGSI
UNTUK MENANGKAP AIR YANG
TERBENDUNG DAN MENYALURKANNYA KE
SALURAN IRIGASI.
BANGUNAN PEMBILAS (PENGURAS)
BAGIAN INI BERUPA PINTU PEMBILAS (PENGURAS)
ENDAPAN DAN TERLETAK DI BAGIAN DEPAN PINTU
PENGAMBILAN, YANG DIOPERASIKAN SECARA
PERIODIK UNTUK MEMBUANG ENDAPAN YANG ADA
DI DEPAN PINTU PENGAMBILAN DAN DI DEPAN
BENDUNG.
KANTONG LUMPUR
SALURAN PENGENDAP LUMPUR DAN TERLETAK DI
HILIR PINTU PENGAMBILAN, YANG BERFUNGSI
UNTUK MENCEGAH AGAR LUMPUR TIDAK
LANGSUNG TERBAWA AIR MASUK KE SALURAN
PEMBAWA.
PEKERJAAN SUNGAI (BANGUNAN
PENGENDALI SUNGAI)
PEKERJAAN SUNGAI MELIPUTI PEMBUATAN
TANGGUL BANJIR, NORMALISASI SUNGAI DAN
PEMASANGAN BRONJONG PENGARAH ARUS
DAN TALUD SUNGAI.

BANGUNAN-BANGUNAN PELENGKAP
BANGUNAN PELENGKAP MELIPUTI PINTU UKUR,
RUMAH PINTU, JEMBATAN PENYEBERANGAN,
PELAT PELAYANAN DAN PAGAR PENGAMAN.
BAGIAN-2 BANG.
UTAMA
FUNGSI BENDUNG

MENAIKKAN ELEVASI MUKA AIR SEHINGGA


DAERAH YANG BISA DIAIRI LEBIH LUAS
MEMASUKKAN AIR DARI SUNGAI KE
SALURAN MELALUI INTAKE
MENGONTROL SEDIMEN YANG MASUK KE
SALURAN
MENGURANGI FLUKTUASI MUKA AIR
MENYIMPAN AIR DALAM WAKTU SINGKAT
BENDUNG SEMENTARA
KARENA BERBAGAI ALASAN SEPERTI KURANGNYA
PEMBIAYAAN, TIDAK ADANYA TENAGA AHLI, DSB,
MAKA BENDUNG DIBUAT DENGAN KONSTRUKSI
SEDERHANA YANG SIFATNYA SEMENTARA.
BENDUNG INI TIDAK DIPERHITUNGKAN
TERHADAP AIR BANJIR DAN STABILITAS
BENDUNG, OLEH KARENA ITU SETIAP BANJIR
BESAR, BENDUNG AKAN RUSAK.
BENDUNG TIDAK DILENGKAPI PINTU PEMBILAS.
BAHAN MATERIAL UNTUK BENDUNG SEMENTARA
DAPAT DARI BATU, KAYU ATAU BRONJONG (BATU
& KAWAT).
BENDUNG SEMENTARA
BENDUNG SEMENTARA
BENDUNG SEMENTARA
BENDUNG
GERAK
KARENA MENGGUNAKAN BAGIAN-BAGIAN
YANG BERGERAK, SEPERTI PINTU DENGAN
PERALATAN ANGKATNYA, MAKA BENDUNG
TYPE INI MENJADI KONSTRUKSI YANG
MAHAL DAN MEMBUTUHKAN EKSPLOITASI
YANG MAHAL.
PENGGUNAAN BENDUNG INI PADA MEDAN
YANG KEMIRINGAN DASAR SUNGAINYA
KECIL/RELATIF DATAR DIMANA KONSTRUKSI
BENDUNG TETAP TIDAK DAPAT DITERIMA
KARENA INI AKAN MEMPERSULIT
PEMBILASAN ENDAPAN LUMPUR/PASIR
YANG ADA DI DEPAN BENDUNG
BENDUNG GERAK
DENAH BENDUNG GERAK DGN PINTU RADIAL
POTONGAN BENDUNG GERAK & TYROL
BENDUNG TETAP/PERMANEN

BENDUNG YANG TERBUAT DARI PASANGAN BATU KALI


ATAU BETON.
BENDUNG TETAP YANG BANYAK DIGUNAKAN DI
INDONESIA ADALAH BENDUNG PELIMPAH DAN BENDUNG
SARINGAN BAWAH.
CONTOH BENDUNG PELIMPAH ADALAH BENDUNG
DENGAN KOLAM OLAK MENURUT VLUGTER ATAU LEBIH
DIKENAL DENGAN NAMA BENDUNG TIPE VLUGTER.
BENDUNG TETAP/PERMANEN

Saringan

BENDUNG SARINGAN BAWAH (TIROLL) MENYADAP


AIR SUNGAI TANPA TERPENGARUH OLEH TINGGI
MUKA AIR.
BENDUNG INI COCOK DI DAERAH PEGUNUNGAN,
DIMANA DASAR SUNGAINYA CURAM (ALIRAN
DERAS) DENGAN BAHAN SEDIMEN YANG BESAR
SYARAT-SYARAT KONSTRUKSI BENDUNG
BENDUNG HARUS STABIL DAN MAMPU MENAHAN TEKANAN AIR PADA
WAKTU BANJIR
BENDUNG HARUS DIPERHITUNGKAN TERHADAP DAYA DUKUNG TANAH
DIBAWAHNYA
BENDUNG HARUS DAPAT MENAHAN BOCORAN (SEEPAGE) YANG
DISEBABKAN OLEH ALIRAN SUNGAI SENDIRI DAN ALIRAN YANG
MERESAP KEDALAM TANAH
TINGGI AMBANG BENDUNG HARUS DAPAT MEMENUHI TINGGI MUKA AIR
MINIMUM YANG DIPERLUKAN UNTUK SELURUH DAERAH IRIGASI
PELUAP HARUS BERBENTUK SEDEMIKIAN RUPA AGAR AIR DAPAT
MEMBAWA PASIR, KERIKIL DAN BATU-BATU DARI SEBELAH HULUNYA
MAUPUN BENDA-BENDA KERAS LAINNYA DAN TIDAK MENIMBULKAN
KERUSAKAN PADA TUBUH BENDUNGNYA SENDIRI
AMBANG BENDUNG HARUS DIPERHITUNGKAN TERHADAP BANJIR-
BANJIR BESAR DENGAN MELENGKAPI KONSTRUKSI PINTU-PINTU
PEMBILAS
BIAYA PEMBANGUNAN BENDUNG HARUS SEHEMAT-HEMATNYA DAN
BIAYA PEMELIHARAANNYA HARUS SEKECIL MUNGKIN
KERUSAKAN TUBUH BENDUNG AKIBAT BANJIR BESAR HARUS SEKECIL-
KECILNYA.
DATA
PENUNJANG
DATA TOPOGRAFI
PETA RUPA BUMI SKALA 1:50.000 (KARAKTERISTIK SUNGAI)
PETA SITUASI SUNGAI SKALA 1:2000
JARAK 1 KM KE HULU DAN HILIR DARI SITE BENDUNG
PROFIL MEMANJANG DAN MELINTANG SUNGAI SKALA 1:200
SITUASI DETAIL BENDUNG SKALA 1:200 ATAU 1:500
DATA HIDROLOGI
DEBIT BANJIR
DEBIT BANJIR RANCANGAN (DATA HUJAN ATAU DATA DEBIT)
DISAIN BENDUNG DAN TANGGUL BANJIR (Q100)
TANGGUL DI HILIR BENDUNG (Q5 S/D Q25)
SALURAN PENGELAK (Q25)
DEBIT ANDALAN
DEBIT YANG BENAR-BENAR ADA DI SUNGAI (DIANDALKAN)
DEBIT ANDALAN (DATA HUJAN ATAU DATA DEBIT)
METODE FJ. MOCK, SMEC, Q80
UNTUK MENGETAHUI LUAS DAERAH POTENSIAL YANG DIAIRI
DATA PENUNJANG

NERACA AIR (WATER BALANCE)


PERUBAHAN ALOKASI AIR AKIBAT DIBUATNYA BENDUNG
KESEIMBANGAN ANTARA KEBUTUHAN DAN KETERSEDIAAN AIR
DATA MORFOLOGI
KANDUNGAN DAN UKURAN SEDIMEN
TIPE DAN UKURAN SEDIMEN DASAR
PEMBAGIAN DAN DISTRIBUSI UKURAN BUTIRAN
BANYAKNYA SEDIMEN DALAM WAKTU TERTENTU
DISTRIBUSI SEDIMEN SECARA VERTIKAL DI SUNGAI
DATA GEOLOGI TEKNIK
PETA GEOLOGI PERMUKAAN
PETA DAERAH SKALA 1:100.000 ATAU 1:50.000
PETA SEMI DETAIL, SKALA 1:25.000 ATAU 1:5000
PETA DETAIL, SKALA 1:2000 ATAU 1:100
MENGGAMBARKAN:PENGAMBILAN BAHAN BANGUNAN,
DAERAH SESAR, GESER, PECAHAN, KEMIRINGAN LAPISAN
PERLU DILAKUKAN PENGEBORAN (LAPISAN DAN TIPE BATUAN)
DATA PENUNJANG

DATA MEKANIKA TANAH


SUMUR DAN PARIT UJI (DATA
TANAH)
PENGEBORAN (PARAMETER
TANAH), UJI LABORATORIUM
DICARI PROFIL SUNGAI YANG TERATUR SERTA
KELANDAIAN YANG KECIL, SEHINGGA
PENGGERUSAN WAKTU BANJIR TERHADAP
DASAR ATAU TEPI SUNGAI SEKECIL-KECILNYA
DICARI BAGIAN SUNGAI YANG TANAH DASARNYA
KUAT DAN CUKUP KEDAP AIR, TANGGUL BANJIR
YANG SEPENDEK MUNGKIN, MUDAH
DIHUBUNGKAN DENGAN SALURAN PEMBAWA.
DENGAN DEMIKIAN KONSTRUKSI DAPAT LEBIH
MURAH.
DICARI SUNGAI YANG LURUS ATAU BELOKAN
DENGAN JARI-JARI (R) YANG BESAR DENGAN
PENGALIRAN YANG TETAP ARAHNYA. APABILA
SUNGAINYA BERBELOK-BELOK, BENDUNG
DIBUAT DI LOKASI COUPURE.
LOKASI BENDUNG DI
COUPURE
ELEVASI MERCU BENDUNG
ELEVASI MERCU BENDUNG DITENTUKAN OLEH:

Elevasi sawah tertinggi dan terjauh yang akan diairi = EL.7


kedalaman air di sawah (10 cm) = EL.6
variasi muka air di sawah dan saluran kuarter ( 5 cm) = EL.A
kehilangan tinggi energi di saluran kuarter ( IrxL) = EL.5
kehilangan tinggi energi di boks kuarter ( 5 cm) = EL.B
total kehilangan tinggi energi di saluran tersier (Ir x L) = EL.4
total kehilangan tinggi energi di bangunan pembawa
sepanjang jaringan tersier (gorong-gorong, bangunan terjun, dll) = EL.C
total kehilangan tinggi energi di boks tersier ( 5 cm/boks) = EL.D
kehilangan tinggi energi di bangunan sadap tersier (1/3 H, Romijn) = EL.E
variasi muka air untuk eksploitasi di jaringan utama = 0,18 h100
(sekitar 0,05-0,30 cm) = EL.F
Muka air rencana di hulu bangunan sadap tersier =
total kehilangan tinggi energi di saluran sekunder (Ir x L) = EL.3
total kehilangan tinggi energi di bangunan pembawa
di saluran sekunder (gorong-gorong, bangunan terjun, dll) = EL.G
total kehilangan energi di bangunan sadap ( 10 cm/bangunan) = EL.H
Muka air rencana di hulu bangunan sadap sekunder =
ELEVASI MERCU BENDUNG DITENTUKAN:

Muka air rencana di hulu bangunan sadap sekunder =


total kehilangan tinggi energi di saluran induk (Ir x L) = EL.2
total kehilangan tinggi energi di bangunan pembawa
di saluran primer (gorong-gorong, bangunan terjun, dll) = EL.I
total kehilangan energi di bangunan sadap ( 10 cm/bangunan) = EL.J

Muka air rencana di hulu bangunan sadap primer =


kehilangan energi di saluran kantong lumpur (diabaikan = 0 cm) = EL.1
kehilangan energi di bangunan intake ( 20 cm) = EL.K
faktor keamanan ( 10 cm) = EL.L

Elevasi mercu bendung = EL.0

EL.0 = EL.7 + EL.6 + EL.A + EL.5 + EL.B + EL.4 + EL.C + EL.D + EL.E +
EL.F + EL.3 + EL.G + EL.H + EL.2 + EL.I + EL.J + EL.1 + EL.K + EL.L
TINGGI
BENDUNG
TINGGI BENDUNG: JARAK ANTARA LANTAI MUKA BENDUNG
SAMPAI PUNCAK BENDUNG
DEMI KEAMANAN, P 4,0 M DAN MINIMUM P = 0,5 H
LANTAI MUKA
Dengan memperhitungkan adanya agradasi di hulu bendung maka
elevasi lantai muka dapat dinaikkan maksimum hingga 0,5 M dari beda
tinggi antara elevasi mercu dan elevasi dasar sungai. Sedangkan di
bagian hilir, bila degradasi sangat mungkin terjadi dimana bahan tanah
rawan terhadap erosi maka elevasi kolam olak dapat diturunkan
hingga 2 m.
PENENTUAN LEBAR BENDUNG

LEBAR RATA-RATA SUNGAI


Lebar sungai dibutuhkan untuk menentukan lebar bendung.
Lebar bendung antartumpunya (abutment) sebaiknya sama
dengan lebar rata-rata selama debit setinggi tebing tanggul
(bank full discharge), dalam hal ini debit banjir tahunan dapat
diambil untuk menentukan lebar rata-rata sungai.

PENENTUAN LEBAR RATA-RATA SUNGAI


Dari pengukuran topografi pada lokasi bendung, dibuat peta
situasi sungai pada lokasi bendung.
Plot potongan melintang sungai di bagian hulu dan hilir lokasi
bendung P1, P2, P3, P4, P5 dan P6.
Plot penampang trapesium ekivalen yang dapat mewakili
penampang sungai asli pada masing-masing potongan
melintang dengan kemiringan talud m = 1 dan tentukan lebar
dasar sungai b1, b2, b3, b4, b5 dan b6.
LEBAR RATA-RATA SUNGAI
Lokasi Bendung
kemiringan rata-rata

dasar sungai

P1
P2
P3 Q1
P4
P1
P5
Potongan Memanjang Sungai
P2
B1 B2
+ 40,00
+ 40,00
P3 P1 P2
Lokasi Bendung
+ 39,00

P4 + 39,00 b1 b2
B3 B4
P5
+ 38,00
+ 38,00
P3 P4
P6

b3 b4
+ 37,00
+ 37,00
B5 B6
+ 36,00
+ 36,00 P6
P5
+ 35,00 + 35,00
+ 34,00
+ 34,00 b5 b6

Peta Situasi Sungai Potongan Melintang Sungai


PENENTUAN LEBAR RATA-RATA SUNGAI
Tarik garis kemiringan rata-rata dasar sungai dan hitung
kemiringannya Is
Hitung debit tahunan Q1 (hasil analisa debit banjir dengan periode
ulang 1 tahun)
Tentukan tinggi air disetiap potongan melintang h1, h2, h3, h4, h5
dan h6 dengan menggunakan rumus :

Tentukan lebar permukaan air di setiap potongan B1, B2, B3, B4,
B5 dan B6 dengan rumus B = b + 2 mh
Hitung lebar rata-rata sungai yang merupakan lebar rata-rata
permukaan air di setiap potongan B1, B2, B3, B4, B5 dan B6.

B1 B 2 B 3 B 4 B 5 B 6
Bn
6
LEBAR BENDUNG

Lebar bendung yaitu jarak antara pangkal-


pangkalnya (abutment) diambil :

dimana Bb = lebar bendung dan Bn = lebar rata-


rata sungai

Agar pembuatan bangunan peredam energi tidak


terlalu mahal, maka aliran persatuan lebar, dibatasi
12 14 m3/dt/m
LEBAR EFEKTIF BENDUNG
LEBAR EFEKTIF BENDUNG: LEBAR BENDUNG YANG BERMANFAAT
UNTUK MELEWATKAN DEBIT AIR
PADA SAAT AIR BANJIR DATANG, PINTU BILAS DAN PINTU-PINTU LAIN
HARUS DITUTUP UNTUK MENCEGAH MASUKNYA BENDA-BENDA YANG
HANYUT DAN MASUKNYA AIR KE SALURAN IRIGASI
SAAT PINTU BILAS DITUTUP, UJUNG ATAS PINTU TIDAK BOLEH LEBIH
TINGGI DARI MERCU BENDUNG (AIR BISA LEWAT DI ATAS MERCU
BENDUNG)
PENENTUAN LEBAR EFEKTIF BENDUNG
KOEFISIEN
KONTRAKSI
TEBAL PILAR

PILAR PADA BENDUNG : PILAR JEMBATAN DAN


PILAR PINTU BILAS
TEBAL PILAR JEMBATAN DITENTUKAN OLEH BEBAN
YANG DIPIKULNYA. BIASANYA DIAMBIL 1 M S/D 1.5 M
UNTUK PASANGAN BATU KALI DAN ANTARA 0.8 M
S/D 1 M UNTUK PASANGAN BETON
TEBAL PILAR PINTU BILAS, TERGANTUNG ADA ATAU
TIDAKNYA PENGAMBILAN LEWAT TUBUH BENDUNG
DAN TERGANTUNG DARI LEBAR PINTU BILAS
SERTA TINGGINYA PILAR ITU SENDIRI.
JIKA ADA PENGAMBILAN LEWAT TUBUH BENDUNG
MAKA TENTU HARUS ADA PINTU DAN SKOTBALOK
PADA PILAR TERSEBUT, SEHINGGA PILAR AKAN
TEBAL.
DEMIKIAN PULA, JIKA PINTU BILAS LEBAR, AKAN
MEMBUTUHKAN SPONING PERLETAKKAN YANG
DALAM PADA PILAR.
PINTU
PEMBILAS/PENGURAS
Pintu pembilas (flushing gate) berfungsi untuk
membilas (menguras) endapan yang terjadi di
depan pintu pembilas dan pintu pengambilan
serta sebagian endapan di depan bendung.
Lebar pintu pembilas (Bp) ditentukan
berdasarkan :
Lebar pembilas ditambah tebal pilar pembagi
sebaiknya sama dengan 1/6 s/d 1/10 dari lebar bersih
bendung (jarak antara pangkal-pangkalnya) untuk
sungai-sungai yang lebarnya kurang dari 100 m.
Lebar pembilas sebaiknya diambil 60 % dari lebar
total pengambilan termasuk pilar-pilarnya.
LEBAR PINTU PENGURAS
Lebar pintu penguras dapat dihitung dengan persamaan :
Vc = 1,5 C d0,5
q = Vc3 / g
Bp = Q/q
Dimana :
Vc = kecepatan kritis pengurasan, m/dt
C = Koefisien yang tergantung dari bentuk endapan
(nilainya 3,2 sampai 5,5)
d = diameter terbesar endapan, m
q = debit pengurasan persatuan lebar, m 3/dt/m
Q = debit pengurasan, m3/dt
g = percepatan gravitasi, 9,81 m/dt2
Bp = lebar pintu penguras, m
PENGOPERASIAN PINTU BILAS

PADA WAKTU MULAI BANJIR, PINTU


PENGAMBILAN AKAN DITUTUP (TINGGI MUKA
AIR SEKITAR 0,50 M SAMPAI 1,0 M DI ATAS
MERCU BENDUNG DAN TERUS BERTAMBAH),
PINTU PEMBILAS AKAN DIBIARKAN TETAP
TERTUTUP.
PADA SAAT AIR MULAI SURUT KEMBALI
MENJADI 0,5 M SAMPAI 1,0 M DI ATAS MERCU
DAN TERUS MENURUN, PINTU PENGAMBILAN
TETAP TERTUTUP DAN PINTU PEMBILAS
DIBUKA UNTUK MENGGELONTOR SEDIMEN.
PEMBILAS BAWAH (UNDER SLUICE)

BERFUNGSI MENCEGAH MASUKNYA BENDA-BENDA PADAT


DAN KASAR KE DALAM SALURAN
TERBUAT DARI PLAT BETON YANG DILETAKKAN MENDATAR
SETINGGI AMBANG INTAKE, DI DEPAN AMBANG, DI ANTARA
PINTU INTAKE, PINTU PENGURAS DAN PILAR PINTU
PENGURAS
DIMENSI DASAR PEMBILAS BAWAH:
TINGGI SALURAN PEMBILAS BAWAH LEBIH BESAR DARI 1,5 KALI
DIAMETER TERBESAR SEDIMEN DASAR SUNGAI
TINGGI SALURAN PEMBILAS BAWAH SEKURANG-KURANGNYA 1,0
METER
TINGGI SALURAN SEBAIKNYA DIAMBIL 1/3 S/D KEDALAMAN AIR
DI DEPAN PENGAMBILAN SELAMA DEBIT NORMAL
DIMENSI RATA-RATA:
PANJANG 5 M S/D 20 M
TINGGI: 1 M S/D 2 M
TEBAL PLAT BETON : 0.2 M S/D 0.35 M
SISTIM PENGURASAN PADA UNDER SLUICE

PINTU DIBUKA PENUH

Z = 1/3 H
h = 2/3 H
PERSAMAAN DEBIT:
A= bxh
Q = x A (2 g Z)1/2
V=Q/A
= 0,75
SISTIM PENGURASAN PADA UNDER SLUICE

PINTU DIBUKA SETINGGI UNDER SLUICE

PERSAMAAN DEBIT:
A= b xy
Q = x A (2 g h)1/2
V=Q/A
DIMANA:
b = LEBAR PINTU PENGURAS, M
y = TINGGI BUKAAN, SETINGGI UNDER SLUICE, M
P = TINGGI BENDUNG, M
= KOEFISIEN PENGALIRAN, 0,62
TINGGI AIR DI BAGIAN HILIR BENDUNG
TINGGI AIR DI ATAS MERCU BENDUNG
BENDUNG MERCU BULAT
BENDUNG MERCU BULAT
KOEFISIEN Co
KOEFISIEN C1
KOEFISIEN C2
TEKANAN PADA MERCU
MERCU OGEE
MERCU OGEE
MERCU OGEE
MERCU OGEE

Koefisien debit Cd adalah hasil dari :


C0 adalah kontanta (=1,30)
C1 yang merupakan fungsi p/hd dan H1/hd
(gambar)
C2 yang merupakan fungsi p/H1 dan
kemiringan muka hulu bendung (gambar)
KOEFISIEN C1 MERCU
OGEE
PEREDAM ENERGI

BERFUNGSI MERUBAH ALIRAN SUPER


KRITIS KE SUB KRITIS
TIPE-TIPE PEREDAM ENERGI:
TIPE LONCATAN (Water Jump Type)
TIPE KOLAM OLAK (Stilling Basin)
TIPE BAK PUSARAN (Rolled Bucket Type)
TIPE LONCATAN

KONDISI YANG COCOK:


UNTUK SUNGAI-SUNGAI DANGKAL
ALUR SUNGAI KOKOH
PONDASI DASAR DARI BATUAN MASIF YANG KOKOH
JANGKAUAN PENYEBARAN GELOMBANG TIDAK
MEMBAHAYAKAN BANGUNAN DI HILIRNYA DAN TIDAK
MEMBAHAYAKAN PEMAKAI AIR DI HILIR
TIPE KOLAM OLAKAN

KOLAM OLAKAN DATAR TIPE I (USBR I)


PEREDAMAN ENERGI AKIBAT BENTURAN SECARA
LANGSUNG ALIRAN DI DASAR KOLAM
COCOK UNTUK DEBIT KECIL
KOLAM OLAKAN TIPE II (USBR II)

PEREDAMAN ENERGI AKIBAT GESEKAN DIANTARA MOLEKUL-


MOLEKUL AIR DAN DIBANTU OLEH GIGI-GIGI PEMENCAR ALIRAN
GIGI PEMENCAR ALIRAN BERFUNGSI MENINGKATKAN EFEKTIFITAS
PEREDAMAN
AMBANG BERGERIGI BERFUNGSI PENSTABIL LONCATAN HIDROLIS
ALIRAN DENGAN HIDROLIS TINGGI (> 60 M) DAN DEBIT BESAR (q >
45 M3/DT/M) BILANGAN FROUDE (Fr > 4,5)
KOLAM OLAKAN TIPE III (USBR III)

SISTIM KERJA, SAMA DENGAN USBR II


UNTUK DEBIT KECIL (q < 18,5 M3/DT/M), TEKANAN HIDROLIS RENDAH,
KECEPATAN (V < 18 M/DT), BILANGAN FROUDE (Fr > 4,5)
TERDAPAT GIGI PEMENCAR ALIRAN DI TEPI UDIK DASAR KOLAM
OLAK, GIGI PENGHADANG ALIRAN (GIGI BENTURAN) PADA DASAR
KOLAM OLAK
KOLAM OLAKAN TIPE IV (USBR IV)

SISTIM KERJA OLAKAN, SAMA DENGAN USBR III


UNTUK MENGALIRKAN DEBIT PERSATUAN LEBAR YANG BESAR
TEKANAN HIDROSTATIS RENDAH
BILANGAN FROUDE (2,5 < Fr < 4,5)
TIPE BAK PUSARAN

TIPE BAK TENGGELAM (Submerged Bucket Type)


PEREDAMAN TERJADI AKIBAT PROSES PERGESEKAN DIANTARA MOLEKUL-
MOLEKUL AIR AKIBAT TIMBULNYA PUSARAN-PUSARAN VERTIKAL DI DALAM
KOLAM
BAK PUSARAN MEMBUTUHKAN PONDASI BATUAN YANG KOKOH DAN TINGGI
AIR DI HILIR CUKUP DALAM
PERENCANAAN HIDROLIS (BUCKET)

HITUNG DEBIT PERSATUAN LEBAR q = Q/ Be


KEDALAMAN KRITIS (hc) = (q2/g)1/3
PERBEDAAN TINGGI ENERGI HULU DENGAN HILIR
(H)
JARI-JARI BAK MINIMUM YANG DIIJINKAN (GRAFIK)
BATAS MINIMUM TINGGI AIR DI HILIR (GRAFIK)
JARI-JARI BAK MINIMUM BUCKET
BATAS MINIMUM MUKA AIR HILIR (BUCKET)
TIPE VLUGTER

TIDAK DIANJURKAN UNTUK DEBIT YANG BERFLUKTUASI


(BENDUNG)
DIPAKAI PADA BANGUNAN TERJUN DI SALURAN IRIGASI,
BEDA TINGGI Z < 4,5 M
PERHITUNGAN KOLAM
VLUGTER
LANTAI MUKA DAN DINDING HALANG

UNTUK MELINDUNGI TUBUH BENDUNG TERHADAP BAHAYA EROSI


BAWAH TANAH MAKA TUBUH BENDUNG SERING DILENGKAPI DENGAN
LANTAI MUKA DAN ATAU DINDING HALANG.
PADA SAAT AIR TERBENDUNG MAKA TERJADI PERBEDAAN TINGGI AIR
DI DEPAN DAN DI BELAKANG BENDUNG, YANG MENIMBULKAN
PERBEDAAN TEKANAN.
PERBEDAAN TEKANAN INI MENGAKIBATKAN ADANYA ALIRAN DI BAWAH
BENDUNG, APALAGI KALAU TANAH DASAR BERSIFAT POROUS.
ALIRAN INI AKAN MENIMBULKAN TEKANAN PADA BUTIR-BUTIR TANAH
DI BAWAH BENDUNG.
BILA TEKANAN INI CUKUP BESAR UNTUK MENDESAK BUTIR-BUTIR
TANAH, MAKA LAMA KELAMAAN AKAN TIMBUL PENGGERUSAN,
TERUTAMA DI UJUNG BELAKANG BENDUNG.
FUNGSI LANTAI MUKA

AIR AKAN MENDAPAT HAMBATAN-HAMBATAN, MAKA


SUDAH BARANG TENTU AKAN MENCARI JALAN
DENGAN HAMBATAN YANG PALING KECIL, YAITU
PADA BIDANG KONTAK ANTARA BANGUNAN
DENGAN TANAH, YANG DISEBUT SEBAGAI Creep
Line.
MAKIN PENDEK Creep Line INI, MAKIN KECL
HAMBATANNYA DAN MAKIN BESAR TEKANAN YANG
DITIMBULKANNYA DI UJUNG BELAKANG BENDUNG,
DEMIKIAN PULA SEBALIKNYA.
UNTUK MEMPERBESAR HAMBATAN, Creep Line
TERSEBUT HARUS DIPERPANJANG, ANTARA LAIN
DENGAN MEMBERI LANTAI MUKA DAN ATAU SUATU
DINDING VERTIKAL (CUT OFF WALL).
TEKANAN AIR DI BAWAH BENDUNG
TEORI LANE
PROFESOR LANE MENGOREKSI TEORI BLIGH DENGAN
MENYATAKAN BAHWA ENERGI YANG DIBUTUHKAN
OLEH AIR UNTUK MELEWATI JALAN VERTIKAL LEBIH
BESAR DARI JALAN HORIZONTAL, DENGAN
PERBANDINGAN 3:1 (Lv = 3Lh)
PERSAMAAN LANE:
Lv 1 Lh
H 3
C

JADI SYARAT LANE : L = Lv + 1/3 Lh C . H


CATATAN :
BIDANG YANG BERSUDUT DENGAN HORIZONTAL > 45
DIANGGAL SEBAGAI BIDANG VERTIKAL
YANG KURANG DARI 45 DIANGGAL HORIZONTAL
TABEL WEIGHTED CREEP RATIO (C)

MATERIAL HARGA C MENURUT LANE HARGA C MENURUT BLIGH


PASIR AMAT HALUS 8.5 18
PASIR HALUS 7.0 15
PASIR SEDANG 6.0 -
PASIR KASAR 5.0 12
KERIKIL HALUS 4.0 -
KERIKIL SEDANG 3.5 -
KERIKIL CAMPUR PASIR - 9
KERIKIL KASAR TERMASUK 3.0 -
BATU-BATU KECIL
KERIKIL KASAR 2.5 -
BOULDER, BATU-2 KECIL DAN - 4 S/D 6
KERIKIL
LEMPUNG LUNAK 2.0 -
LEMPUNG SEDANG 1.8 -
LEMPUNG KERAS 1.8 -
LEMPUNG SANGAT KERAS 1.6 -
DAN PADAS
TEBAL LANTAI

SETIAP TITIK PADA DASAR BANGUNAN AKAN MENERIMA


TEKANAN AIR (UPLIFT PRESSURE).
PADA LANTAI MUKA KARENA DI ATAS LANTAI SELALU ADA AIR
YANG AKAN MENEKAN KE BAWAH, SEHINGGA TEKANAN KE
ATAS TIDAK AKAN BERBAHAYA.
INI BERARTI LANTAI MUKA TIDAK PERLU TERLALU TEBAL.
YANG PENTING ADALAH LANTAI MUKA TERSEBUT HARUS
RAPAT AIR, KARENA FUNGSINYA UNTUK MEMPERPANJANG
CREEP LINE MASIH DIPENUHI.
UNTUK LANTAI BELAKANG BENDUNG, AKAN MENERIMA
TEKANAN KE ATAS YANG BESAR, KARENA LAPISAN AIR DI
ATASNYA SANGAT TIPIS, APALAGI PADA WAKTU MUKA AIR
SETINGGI MERCU (AIR NORMAL) MAKA DI ATAS LANTAI INI
DIANGGAP KOSONG.
UNTUK MENENTUKAN TEBALNYA LANTAI INI, DAPAT
DIGUNAKAN GARIS HYDRAULIC GRADIENT.
GARIS HYDRAULIC GRADIENT
BANGUNAN PENGAMBILAN /INTAKE

BANGUNAN PENGAMBILAN BERFUNGSI


UNTUK MENGELAKKAN AIR DARI SUNGAI
DALAM JUMLAH YANG DIINGINKAN.
PENGAMBILAN SEBAIKNYA DIBUAT SEDEKAT
MUNGKIN DENGAN PEMBILAS DAN AS
BENDUNG.
BILA DENGAN BENDUNG PELIMPAH, AIR
HARUS DIAMBIL UNTUK IRIGASI DI KEDUA
SISI SUNGAI, MAKA PENGAMBILAN UNTUK
SATU SISI (KALAU TIDAK TERLALU BESAR)
BISA DIBUAT PADA PILAR PEMBILAS, DAN
AIRNYA DAPAT DIALIRKAN MELALUI SIPHON
DALAM TUBUH BENDUNG KE SISI LAINNYA.
TINGGI AMBANG

TINGGI AMBANG TERGANTUNG DARI MATERIAL


YANG TERBAWA OLEH SUNGAI.
SEMAKIN TINGGI AMBANG MAKIN BAIK UNTUK
MENCEGAH MASUKNYA BENDA-BENDA PADAT DAN
KASAR KE SALURAN. TETAPI TINGGI INI TENTU
SAJA DIBATASI OLEH UKURAN PINTU
PENGAMBILAN.
SEBAGAI PATOKAN DAPAT DIAMBIL SEBAGAI
BERIKUT :
JIKA SUNGAI MENGANDUG LUMPUR, DIAMBIL 0,50 M
UNTUK PASIR DAN KERIKIL, DIAMBIL 0,75 M SAMPAI 1,0 M
JIKA MENGANDUNG BATU-BATU, DIAMBIL 1,0 M SAMPAI
1,50 M.
DIMENSI PINTU
PENGAMBILAN
KANTONG LUMPUR

UNTUK MENCEGAH AGAR SEDIMEN TIDAK MENGENDAP DI


SELURUH SALURAN IRIGASI, BAGIAN AWAL DARI SALURAN
PRIMER PERSIS DI BELAKANG PENGAMBILAN DIBUAT
KANTONG LUMPUR.
KANTONG LUMPUR TERSEBUT MERUPAKAN PEMBESARAN
POTONGAN MELINTANG SALURAN SAMPAI PANJANG
TERTENTU UNTUK MENGURANGI KECEPATAN ALIRAN DAN
MEMBERI KESEMPATAN KEPADA SEDIMEN UNTUK
MENGENDAP.
UNTUK MENAMPUNG ENDAPAN SEDIMEN INI, DASAR BAGIAN
SALURAN TERSEBUT DIPERDALAM DAN DIPERLEBAR.
TAMPUNGAN INI DIBERSIHKAN TIAP JANGKA WAKTU
TERTENTU (KURANG LEBIH SEKALI SEMINGGU ATAU
SETENGAH BULAN) DENGAN CARA MEMBILAS SEDIMENNYA
KEMBALI KE SUNGAI DENGAN ALIRAN TERKONSENTRASI
YANG BERKECEPATAN TINGGI
KANTONG
LUMPUR
BIASANYA PANJANG KANTONG LUMPUR ADALAH
200 M SAMPAI 500 M, TERGANTUNG KEPADA :
DIAMETER SEDIMEN YANG AKAN MENGENDAP
TOPOGRAFI
KANTONG LUMPUR TIDAK AKAN DIPERLUKAN JIKA
VOLUME SEDIMEN YANG MASUK KE JARINGAN
IRIGASI TIDAK SAMPAI KE SAWAH (PARTIKEL YANG
LEBIH BESAR DARI 0,06 0,07 MM) KURANG DARI
5% DARI KEDALAMAN AIR DI SELURUH JARINGAN
IRIGASI, JADI KURANG DARI 5% DARI KEDALAMAN
SALURAN KALI LEBAR DASAR KALI PANJANG.
SEDIMEN

UNTUK MERENCANAKAN KANTONG LUMPUR DIPERLUKAN


KETERSEDIAAN DATA SEDIMEN DI SUNGAI BERUPA :
PEMBAGIAN BUTIR
PENYEBARAN KE ARAH VERTIKAL
SEDIMEN LAYANG
SEDIMEN DASAR
VOLUME
JIKA TIDAK ADA DATA YANG MEMADAI, DAPAT DIAMBIL
BEBERAPA HARGA PRAKTIS YAITU :
VOLUME BAHAN LAYANG YANG HARUS DIENDAPKAN,
DIANDAIKAN 0,6 % (PERMIL) DARI VOLUME AIR YANG
MENGALIR MELALUI KANTONG
PARTIKEL YANG UKURANNYA KURANG DARI 0,06 0,07 MM
TERANGKUT SEBAGAI SEDIMEN LAYANG MELALUI
JARINGAN IRIGASI.
DIMENSI KANTONG LUMPUR
DIMENSI KANTONG LUMPUR

Jadi H/W = L/V dengan V = Q/HB


Dimana :
H = kedalaman aliran saluran, m
W = kecepatan endap partikel sedimen, m/dt
L = panjang kantong lumpur, m
V = kecepatan aliran air, m/dt
Q = debit saluran, m3/dt
B = lebar kantong lumpur, m
Ini menghasilkan : L B = Q/W
Dimensi kantong lumpur sebaiknya juga sesuai dengan
kaidah bahwa L/B > 8, untuk mencegah agar aliran tidak
meander di dalam kantong lumpur.
Apabila topografi tidak memungkinkan diturutinya kaidah
ini, maka kantong lumpur harus dibagi-bagi ke arah
memanjang dengan dinding-dinding pemisah untuk
mencapai perbandingan antara L dan B ini.
VOLUME
TAMPUNGAN
Dengan asumsi bahwa air yang dielakkan
mengandung 0,5% sedimen yang harus
diendapkan dalam kantong lumpur, maka
volume kantong lumpur dapat dihitung
dengan persamaan :
V = 0,0005 x Qn x T
Dimana :
V = volume kantong lumpur, m3
Qn = debit normal, m3/dt
T = waktu pembilasan, detik
PEMBERSIHAN KANTONG LUMPUR
PEMBERSIHAN KANTONG LUMPUR, PEMBUANGAN ENDAPAN
SEDIMEN DARI TAMPUNGAN DAPAT DILAKUKAN DENGAN
PEMBILASAN SECARA HIDROLIS, PEMBILASAN SECARA MANUAL
ATAU SECARA MEKANIS.

PEMBERSIHAN SECARA HIDROLIS


PEMBERSIHAN SECARA HIDROLIS MEMBUTUHKAN BEDA TINGGI
MUKA AIR DAN DEBIT YANG MEMADAI PADA KANTONG LUMPUR
GUNA MENGGERUS DAN MENGGELONTOR BAHAN YANG TELAH
TERENDAP KEMBALI KE SUNGAI.
UNTUK KEPERLUAN PERENCANAAN, DEBIT PEMBILASAN DIAMBIL
20% LEBIH BESAR DARI DEBIT NORMAL PENGAMBILAN DAN
KECEPATAN RATA-RATA YANG DIPERLUKAN SELAMA PEMBILASAN
DAPAT DIANDAIKAN SEBAGAI BERIKUT :
UNTUK PASIR HALUS, 1,0 M/DT
UNTUK PASIR KASAR, 1,5 M/DT
UNTUK KERIKIL DAN PASIR KASAR, 2,0 M/DT
PEMBERSIHAN KANTONG LUMPUR

PEMBERSIHAN SECARA MANUAL/MEKANIS


PEMBERSIHAN SECARA MANUAL DILAKUKAN
UNTUK MEMBUANG BAHAN-BAHAN KOHESIF ATAU
BAHAN-BAHAN YANG SANGAT KASAR. DENGAN
MENGGUNAKAN TONGKAT, BAHAN ENDAPAN
DAPAT DIADUK DAN DIBUAT LEPAS SEHINGGA
MUDAH TERKURAS DAN HANYUT.
PENGECEKAN KANTONG LUMPUR

Perencanaan kantong lumpur hendaknya


mencakup cek terhadap efisiensi pengendapan
dan efisiensi pembilasan.
Efisiensi Pengendapan
Untuk mengecek efisiensi kantong lumpur dapat
dipakai grafik pada gambar, yang memberikan
efisiensi sebagai fungsi dari dua parameter.
Kedua parameter tersebut adala W/Wo dan W/Vo
Dimana :
W = kecepatan endap partikel diluar ukuran partikel
rencana, m/dt
Wo = kecepatan endap encana, m/dt
Vo = kecepatan rata-rata aliran dalam kantong lumpur,
m/dt
GRAFIK KECEPATAN ENDAP
GRAFIK EFISIENSI
PENGECEKAN KANTONG LUMPUR

EFISIENSI PEMBILASAN
Efisiensi pembilasan bergantung kepada terbentuknya
gaya geser yang memadai pada permukaan sedimen
yang telah mengendap dan pada kecepatan yang cukup
untuk menjaga agar bahan tetap dalam keadaan
suspensi sesudah itu.
Gaya geser dihitung dengan persamaan :
= w . g . hs . is
dimana :
= gaya geser, N/m2
w = berat jenis air, 1000 kg/m3
g = percepatan gravitasi, 9,81 m/dt2
hs = kedalaman pembilasan, m
is = kemiringan pembilasan
1 N = kg m /dt2
GRAFIK TEGANGAN GESER KRITIS
GRAFIK TEGANGAN GESER KRITIS
TATA LETAK

TATA LETAK KANTONG LUMPUR,


SALURAN PEMBILAS, DAN SALURAN
PRIMER ADALAH: SALURAN PEMBILAS
MERUPAKAN KELANJUTAN DARI
KANTONG LUMPUR DAN SALURAN
PRIMER TERLETAK DISAMPINGNYA
TATA LETAK YANG DIANJURKAN
TATA LETAK ALTERNATIF
SALURAN PEMBILAS
ALIRAN PADA SALURAN PEMBILAS DIRENCANA
SEBAGAI ALIRAN BEBAS SELAMA PEMBILASAN
BERLANGSUNG (TIDAK TERPENGARUH OLEH
TINGGI MUKA AIR DI HILIR PEMBILAS)
LEBAR TOTAL PEMBILAS TERMASUK PILAR
DIRENCANA SAMA DENGAN LEBAR RATA-RATA
KANTONG LUMPUR
SELAMA PEMBILASAN, AIR YANG PENUH DENGAN
SEDIMEN DIALIRKAN KEMBALI KE SUNGAI
ASAL/SUNGAI YANG SAMA, SUNGAI
LAIN/CEKUNGAN
KECEPATAN DALAM SALURAN PEMBILAS
DIRENCANAKAN ANTARA 1,0 M/DT SAMPAI 1,5 M/DT
INTAKE PRIMER
PENGAMBILAN DARI KANTONG LUMPUR KE
SALURAN PRIMER DIGABUNG MENJADI SATU
BANGUNAN DENGAN PEMBILAS AGAR SELURUH
PANJANG KANTONG LUMPUR DAPAT
DIMANFAATKAN
AGAR AIR TIDAK MENGALIR KEMBALI KE SALURAN
PRIMER SELAMA PEMBILASAN, PENGAMBILAN
HARUS DITUTUP (PINTU) ATAU AMBANG DIBUAT
CUKUP TINGGI
SELAIN MENGATUR DEBIT, BANGUNAN INI JUGA
BISA MENGUKURNYA (DIGABUNG ATAU DIPISAH)
PINTU ROMIJN & CRUMP DE GRUYTER (UKUR &
ATUR)
UNTUK DEBIT BESAR KEDUA FUNGSI TERSEBUT
LEBIH BAIK DIPISAH. FUNGSI MENGATUR OLEH
PINTU SORONG DAN MENGUKUR DENGAN
AMBANG LEBAR
STABILITAS BENDUNG

GAYA-GAYA YANG BEKERJA:


BERAT BANGUNAN/GAYA BERAT
GAYA GEMPA
TEKANAN LUMPUR
TEKANAN AIR HIDROSTATIS
REAKSI PONDASI
STABILITAS BENDUNG

GAYA BERAT
BERAT KONSTRUKSI DENGAN ARAH VERTIKAL KE BAWAH
YANG GARIS KERJANYA MELEWATI TITIK BERAT
KONSTRUKSI

0.5 L 0.5 L 1/3 L 2/3 L

TINJAUAN GAYA PER METER LEBAR


GAYA = LUAS BIDANG X BERAT JENIS KONSTRUKSI
G =AX
STABILITAS BENDUNG

GAYA GEMPA:
ARAHNYA HORIZONTAL DENGAN GARIS KERJA
MELEWATI TITIK BERAT KONSTRUKSI

RUMUS: K = f X G
DIMANA:
f = KOEFISIEN GEMPA
G = BERAT KONSTRUKSI
K = GAYA HORIZONTAL AKIBAT GEMPA
STABILITAS BENDUNG
TEKANAN LUMPUR
BEKERJA PADA HULU BENDUNG ATAU PINTU

Ps

RUMUS: Ps = 1/6 x s x h2
Dimana :
Ps = TEKANAN LUMPUR, T/M2
s = BERAT JENIS LUMPUR, 1,6 T/M3
H = DALAMNYA LUMPUR, M
STABILITAS BENDUNG
GAYA ANGKAT PADA TUBUH BENDUNG
GAYA ANGKAT PADA PONDASI BENDUNG
GAYA ANGKAT PADA TITIK X DI SEPANJANG DASAR BENDUNG
ADALAH:

Px = Hx (Lx / L) H

DIMANA:
Px = GAYA ANGKAT PADA TITIK X KG/M2
L = PANJANG TOTAL BIDANG KONTAK BENDUNG DAN TANAH
BAWAH PONDASI, M
Lx = JARAK SEPANJANG BIDANG KONTAK DARI HULU SAMPAI X,
M
H = BEDA TINGGI ENERGI, M
Hx = TINGGI ENERGI DI HULU BENDUNG, M

UNTUK L DAN Lx ADALAH JARAK RELATIF DIHITUNG MENURUT CARA


LANE, BERGANTUNG KEPADA ARAH BIDANG TERSEBUT
BIDANG YANG MEMBENTUK SUDUT 45 ATAU LEBIH TERHADAP
BIDANG HORIZONTAL, DIANGGAP VERTIKAL
STABILITAS BENDUNG
REAKSI PONDASI
REAKSI PONDASI

RUMUS:
V 6.e
(1 )
A B

B M
e
2 V

SYARAT : ...e 1 6 B
DIMANA:
V = TOTAL TEKANAN VERTIKAL (SELISIH ANTARA TEKANAN KE ATAS DENGAN
KE BAWAH
A = LUAS BIDANG, M2
B = LEBAR DASAR PONDASI, M
e = EKSENTRISITAS
PENGATURAN SUNGAI & BANGUNAN PELENGKAP

LINDUNGAN TERHADAP GERUSAN


LINDUNGAN DASAR SUNGAI
PENGGERUSAN LOKAL DI HILIR KOLAM OLAK DAPAT DIATASI
DENGAN LINDUNGAN DARI PASANGAN BATU KOSONG/RIP-RAP
PANJANG LINDUNGAN DIAMBIL 4 KALI KEDALAMAN LUBANG
GERUSAN LOKAL DIHITUNG DENGAN PERSAMAAN:

R = 0,47 (Q / f)1/3

DIMANA:
R = KEDALAMAN GERUSAN DI BAWAH PERMUKAAN AIR BANJIR,
M
Q = DEBIT, M3/DT
F = FAKTOR LUMPUR LACEY = 1,76 X Dm0,5
Dm = DIAMETER NILAI TENGAH (MEAN), MM
LINDUNGAN DASAR SUNGAI DARI BRONJONG

BRONJONG MERUPAKAN ALTERNATIF YANG


BAGUS, JIKA HANYA TERSEDIA BATU-BATU
BERUKURAN KECIL
BRONJONG DIBUAT DI LAPANGAN, BERBENTUK
BAK DARI JALA-JALA KAWAT YANG DIISI BATU
UKURANNYA : 2M X 1M X 0,5M
BAK-BAK INI DIIKAT BERSAMA-SAMA UNTUK
MEMBENTUK SATU KONSTRUKSI YANG HOMOGEN
KEUNTUNGANNYA:
KEMUNGKINAN MEMBUAT LINDUNGAN BERAT DENGAN
BATU-BATU YANG BERUKURAN LEBIH KECIL DAN LEBIH
MURAN
FLEKSIBILITAS KONSTRUKSI TERSEBUT UNTUK DAPAT
MENGIKUTI TINGGI PERMUKAAN YANG TERKENA EROSI
GAMBAR BRONJONG
LINDUNGAN TANGGUL SUNGAI
LINDUNGAN TANGGUL SUNGAI BERUPA: BRONJONG, PASANGAN BATU
KOSONG, PASANGAN BATU, ATAU PLAT BETON
PERENCANAAN KRIB

JARAK ANTAR KRIB: L < ((C2 x h) / (2g))


DIMANA:
L = JARAK ANTAR KRIB, M
= PARAMETER EMPIRIS ( 0,6)
C = KOEFISIEN CHEZY ( 45 UNTUK SUNGAI)
h = MEAN (NILAI TENGAH) KEDALAMAN AIR, M
G = PERCEPATAN GRAVITASI, M/DT2
PERENCANAAN KRIB
TINGGI MERCU KRIB, PALING TIDAK SAMA DENGAN ELEVASI BANTARAN
KEMIRINGAN LAPIS LINDUNG TANGGUL DAN KRIB 1: 2,5 S/D 1: 3,5
KEMIRINGAN UJUNG KRIB 1 : 5 S/D 1 : 10
TANGGUL
PANJANG AIR BALIK DIHITUNG DENGAN METODE LANGKAH STANDAR (STANDARD
STEP METHOD)

X Dimana:
Z h(1 ) 2
L a = kedalaman air sungai tanpa di bendung, m
h = tinggi air berhubung adanya bendung
(di muka bendung), m
h 2h
Untuk .. 1...............L L = panjang pengepangan, m
a I Z = kedalaman air pada jarak X dari bendung
X = jarak dari bendung, m
h ah I = kemiringan sungai
Untuk ... 1.............L
a I
SUDETAN SUNGAI
TANGGUL PENUTUP

PERTIMBANGAN DALAM PENUTUPAN SUNGAI LAMA:


ALIRAN HARUS DIBELOKKAN MELALUI SUDETAN
DENGAN SEDIKIT MENAIKKAN MUKA AIR HULU
PENUTUPAN SUNGAI HARUS DILAKUKAN PADA WAKTU
TERJADI ALIRAN KECIL YANG MELIPUTI JANGKA WAKTU
LAMA
PENUTUPAN HARUS DILAKUKAN DENGAN AMAT CEPAT
BAHAN YANG DIPAKAI UNTUK MENUTUP SEBAIKNYA
BAHAN BERAT DAN TERSEDIA DALAM JUMLAH YANG
CUKUP
BILA PENUTUPAN AWAL TELAH BERHASIL, MAKA TANGGUL
DIPERKUAT SUPAYA PERMANEN
TANGGUL DIBERI PERLINDUNGAN TERHADAP EROSI
TIPE TANGGUL PENUTUP
METODE PELAKSANAAN

PELAKSANAAN DI SUNGAI
SUNGAI HARUS DIBELOKKAN SELAMA PELAKSANAAN
BERLANGSUNG
SEBAGIAN ATAU SELURUH ALIRAN SUNGAI DIBELOKKAN
MELALUI SALURAN ATAU TEROWONGAN PENGELAK
PERENCANAAN TANGGUL PENGELAK (COFFER DAM) YANG
MENUTUP SUNGAI DAN MELINDUNGI RUANG KERJA
DIPERHITUNGKAN TERHADAP BANJIR RENCANA
UMUR SEBUAH SALURAN ATAU BENDUNG PENGELAK BIASANYA
DUA SAMPAI TIGA TAHUN
HARUS DIPERTIMBANGKAN DALAM PERENCANAAN:
TANGGUL PENGELAK
SALURAN ATAU TEROWONGAN PENGELAK
PEMBUANGAN AIR (DRAINASE)
JADWAL PELAKSANAAN
TERSEDIANYA BAHAN BANGUNAN
DEBIT MAKSIMUM SUNGAI SELAMA PELAKSANAAN
METODE PELAKSANAAN

PELAKSANAAN DI TEMPAT KERING


BANGUNAN DIBUAT DI LUAR DASAR SUNGAI,
KEMUDIAN SUNGAI DIELAKAN SESUDAH
PELAKSANAAN SELESAI (KOPUR)
PEMBELOKKAN ALIRAN SUNGAI SETELAH
PEMBUATAN BENDUNG DILAKUKAN DENGAN
TANGGUL PENUTUP
TANGGUL PENUTUP MERUPAKAN TANGGUL
SEMENTARA, JIKA TANGGUL PERMANEN DIBUAT
DI TEMPAT LAIN