Anda di halaman 1dari 30

Trauma maksillofacial

Kasus

Seorang laki-laki 22 tahun datang ke IGD RS.Siti Rahma dengan


cedera kepala GCS15,dengan trauma maksilafasial,pasian sebelumnya
mengalami kecelakaan lalu lintas sejak 3 jam masuk rumah
sakit.Pasien sadar setelah kejadian,trauma tempat lain tidak
ada.Tempat kondisi pasien seperti pada gambar,sampai di IGD
dilakukan penanganan Pertama Primery survey.Terdapat pendarahan
aktif dari intra oral,setelah primery survey clear dan pendarahan di
beri tampon,dilanjutkan inspeksi,palpasi secara sistemik mulai dari
tulang bagian frontal,periorbital,zhigomaticum,maksilaris,dan
mandibula,dan pemeriksaan diplopia curiga blowout fracture
pemeriksaan intra nasal dilakukan untuk melihat adanya hematoma
atau obstruksi serta adanya rhinore,pemerIksaan intra oral untuk
palpasi region maksila dan mandibular dan pemeriksaan oklusi.CT
scan dilakukan dan di dapatkan le fort fracture type II.
Trauma maksillofasial
Termiologi
GlasgowComaScale
(GCS) skala
neurologis yang
digunakan untuk
Le fort II
mendapatkan cara yang
primerysurvey terdapat
dapat diandalkan dalam
deteksi cepat dan ketidakstabilan
mengukur keadaan
koreksi segera setinggi os. Nasal.
kesadaran seseorang
terhadap kondisi Manifestasi dari
untuk perawatan
yang mengancam fraktur ini ialah edema
berkelanjutan.
di kedua periorbital,
GCS : 14 15 = CKR
disertai juga dengan
(cidera kepala ringan)
ekimosis, yang terlihat
GCS : 9 13 = CKS
seperti racoon sign.
(cidera kepala sedang)
GCS : 3 8 = CKB
(cidera kepala berat)
BlowotOrbital
terputusnya kontinui Oklusi hubungan permukaan
gigi geligi pada Maksila dan
tas antara jaringan- mandibula, yang terjadi selama
jaringan pada dinding pergerakan Mandibula dan
orbital dengan atau tanpa berakhir dengan kontak penuh
dari gigi geligi pada kedua
penglibatan tulang-tulang
rahang.
di daerah sekitarnya
Anatomi wajah Sepertiga atas wajah
:os.fontalis,regio
supra orbita dan
sinus frontalis.

Sepertiga tengah:
Maksilla,zigomatiku
s,lakrimalis,nasal,pa
latinus,nasal konka
inferior daan tulang
fomer

Sepetiga bawah
adalah mandibulla
Trauma maksilofacial ?
Trauma Jaringan lunak
1. Abrasi kulit, tusukan, laserasi, tato.
2. Cedera saraf, cabang saraf fasial.
3. Cedera kelenjar parotid atau
duktus Stensen.
4. Cedera kelopak mata.
5. Cedera telinga.
6. Cedera hidung.

Trauma maksilofasial
adalah suatu ruda
mencakup Traumajaringnkeras
paksa yang mengenai
wajah dan jaringan 1Fraktursepertigaatas
sekitarnya. muka.
2.Fraktursepertiga
tengahmuka.
3.Fraktursepertiga
bawahmuka.
Etiologi
Gambaran Klinis
Klasifikasi trauma maksillofasial

Traumajaringanlunak Traumajaringankeras

1. jenis luka dan penyebab


ex:Ekskoriasi,Luka sayat, luka
robek , luka bacok,Luka Tipe fraktur
bakar,Luka tembak Fraktur simpel
2.ada atau tidaknya kehilangan Fraktur kompoun
jaringan Fraktur komunisi
3. Dikaitkan dengan unit estetik Fraktur patologis
Menguntungkan atau tidak
menguntungkan, dikaitkan
dengan garis Langer
Khusus pada maksila fraktur dapat
dibedakan :

Fraktur blow-out (fraktur tulang dasar


orbita)
Fraktur Le Fort I, Le Fort II, dan Le
Fort III
Fraktur segmental mandibula
Frakture le fort I II III
Le fort tipe I

menyebabkan terpisahnya
prosesus alveolaris dengan
palatum durum

menyebabkan rahang atas


mengalami pergerakan yang
disebut floating jaw
Kerusakan yang mungkin terjadi:
Prosesus alveolaris
Bagian dari sinus maksilaris
Palatum durum
Bagian bawah lamina pterigoid
Le fort tipe II
ketidak stabilan setinggi os. Nasal.

Manifestasi :Edema di kedua


periorbital, disertai ekimosis, yang
terlihat seperti racoon
signKeluarnya cairan cerebrospinal
dan epistaksis

Fraktur ini dapat merusak system


lakrimalis, karena sangat mudah
digerakkan maka disebut juga
floating maxilla (maksila yang
melayang)
Le fort tipe III
menggambarkan adanya
disfungsi kraniofasial.
Tanda yang terjadi pada
kasus fraktur ini ialah
remuknya wajah .

Serta terjadinya mobilitas


tulang zygomatikomaksila
kompleks, disertai dengan
keluarnya cairan
serebrospinal, edema, dan
ekimosis periorbital.
Perawatan Awal Primery Survey

A B C D E
?
A:Airway
Meliputipemeriksaanjalannafasyangdapatdisebabkanbenda
asing, fraktur tulang wajah, fraktur manibula atau maksila,
frakturlaringatautrakea.

1.Head tilt 2. Chin lift 3.Jaw thrust

4. Oropharingeal 5.Nasopharingeal 6.Airway definitif


Airway (OPA) Airway
Breathing(pernapasan ventilasi)

Oksigenasi yang memadai menunjukkan pengiriman oksigen yang sesuai ke


jaringan untuk memenuhi kebutuhan metabolik, efektivitas ventilasi dapat
dinilai secara klinis

Pernafasan bag-valve-
tidak adekuat, face-mask
Circulation dengan kontrol pendarahan

melakukan penilaian dengan cepat status hemodinamik dari pasien,


Tingkat
yakni dengan menilai tingkat kesadaran, warna kulit dan nadi

Tidak ada alat:


memperkirakan
tekanan darah
dengan meraba
pulsasi
Radial:80 mmHg sistol
Brachial:70 mmHg sistol.
Femoral:70 mmHg sistol
Carotid:60 mmHg sistol
disability=status neurolgia
Hal yang dinilai adalah tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil.
Tanda-tanda lateralisasi dan tingkat (level) cedera spinal

GSC
AVPU
metode yang
Cara cepat
lebih rinci

A : Alert Menilai eye


V : Respon to verbal opening penderita
P : Respon to pain Menilai best verbal
U :Unrespon response penderita
Menilai best motor
respon penderita
Exposure

PemeriksaandanDiagnosis

Anamnesa : Inspeksi : Palpasi :


Dari anamnesis Pemeriksaan dilakukan Harus dikerjakan
dapat ditanyakan menyeluruh dengan secara bersamaan,
kronologis kejadian memperhatikan
sistematis, seksama
kerusakan di tempat
trauma, arah dan dan bandingkan
lain, baik yang dekat
kekuatan dari maupun yang jauh, kanan kiri mulai
trauma terhadap terutama cedera otak. dari margo
pasien maupun Pemeriksaan lokal supraorbitalis-arkus
saksi mata. dilakukan dengan zigoma-margo
inspeksi dan palpasi infraorbitalis-
ekstraoral maupun nasal-korpus
intraoral.
zigoma-mandibula
Pemeriksaan radiologis :
Pemeriksaan X-foto rutin yang dibuat ialah
posisi AP / lateral / waters.

Masih belum jelas

Posisi eisler : untuk Ortopantomografi :


Proyeksi submental
melihat adanya fraktur untuk melihat
vertikal : untuk melihat
mandibula (korpus, fraktur kondilus dan
adanya fraktur arcus
angulus, ramus, kondilus, fraktur mandibula
zygoma.
proc. koronoid) yang non displaced

Tomografi/ CT scan :
untuk melihat fraktur
dinding orbita
Penatalaksanaan Pasien Fraktur
Maksilofasial

KontakAwalPasien
ABCDE
Glasgow Coma Scale
Riwayatpenyakit,Keluhan
UtamadanPemeriksaanKlinis

Pertanyaan
yang di ajukan Pemeriksaan klinis pada struktur wajah
pada pasien terpenuhi setelah seluruh pemeriksaan
fisik termasuk pemeriksaan jantung dan
paru, fungsi neurologis, dan area lain
yang berpotensi terkena trauma,
termasuk dada, abdomen, dan area
pelvis.
Evaluasi pada wajah dan kranium secara hati-
hati untuk melihat adanya trauma seperti
laserasi, abrasi, kontusio, edema atau
hematoma.
Pemeriksaan neurologis pada wajah dievaluasi secara hati-hati dengan
memeriksa penglihatan, pergerakan ekstraokular, dan reaksi pupil terhadap
cahaya.

Pemeriksaan mandibula dengan cara palpasi ekstraoral semua area inferior


dan lateral mandibula serta sendi temporomandibular.

Pemeriksaan regio atas dan


tengah wajah dipalpasi untuk
melihat adany
kerusakan di daerah sekitar
kening, rima orbita, area nasal
atau zigoma.
Kelompok perlukaan
Kelompok perlukaan maksilofasial berat sekunder
maksilofasial sekunder kedalam trauma tumpul
pada relative trauma kecil, berat, misalnya penurunan
misalnya dipukul atau kondisi secara cepat dari
ditendang, dapat di terapi kecelakaan lalulintas atau
pada intermediate atau jatuh dari ketinggian, harus
area terapi biasa pada diterapi di tempat
ruang gawat darurat. perawatan kritis pada
instalasi gawat darurat
Bahaya trauma maaksillofasial
Trauma pada daerah wajah seringkali
menyebabkan cedera pada jaringan lunak, gigi
dan tulang maksila, zygoma, nasoorbital-
ethmoid (NOE) komplek, dan struktur-struktur
supra orbital. Cedera ini juga kadang-kadang
terjadi bersamaan dengan cedera pada bagian
tubuh yang lain