Anda di halaman 1dari 9

RESEARCH:

RESULT &
DISCUSSION
Prof. Yuwono
E-mail: yuwonodr@gmail.com
Website:www.yuwono.gnc.or.i
d
PERBEDAAN FREKUENSI
SOUTHEAST ASIAN
OVALOCYTOSIS (SAO) DAN
KEJADIAN MALARIA PADA
PENDUDUK DENGAN LATAR
BELAKANG ETNIS AUSTRONESIA
1 DAN A.AUSTRALOID
Yuwono , Herawati Sudoyo , Irawan Yusuf dan Sangkot
2 2

Marzuki2

1 Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas


Sriwijaya/Rumah Sakit Moh. Hoesin, Palembang; 2Lembaga Biologi
Molekul Eijkman Jakarta
Latar Belakang:
Tema/Problem
Abnormalitas eritrosit pada Southeast Asian
Ovalocytosis (SAO) diturunkan secara autosomal
resesif banyak dijumpai di Asia Tenggara dan
Melanesia.
Pada SAO terjadi delesi 27 bp gen AE1/hilangnya 9
asam amino protein band 3.
Delesi ini diduga berhubungan dengan resistensi
terhadap penyakit malaria.
Distribusi SAO di Indonesia memperlihatkan 2 pola
yaitu dengan frekuensi rendah pada penduduk dengan
latar belakang etnis Austronesia dan tinggi pada
penduduk dengan latar belakang etnis Australoid.
Tujuan

Penelitian ini ditujukan untuk


mengetahui ada tidaknya perbedaan
frekuensi SAO dan kejadian malaria
pada penduduk dengan 2 latar
belakang etnis tersebut.
Metode

Penelitian epidemiologi molekul, dilakukan


di Kepulauan Bangka (Austronesia) yang
melibatkan 164 pasien malaria dan 146
individu normal dan di Kepulauan Alor
(Australoid) yang melibatkan 62 pasien
malaria dan 83 individu normal.
SAO diperiksa secara mikroskopik dari
preparat pulasan Giemsa dan dikonfirmasi
dengan Polymerase Chain Reaction (PCR).
Hasil & Pembahasan
Hasil menunjukan, frekuensi SAO di Bangka pada pasien
malaria dibanding pada individu normal adalah 0 %
berbanding 8.1 % (p<0.01, confident interval 95%).
Frekuensi SAO di Alor pada pasien malaria dibanding
pada individu normal adalah 3.1% berbanding 13.5%
(p<0.05, confident interval 95%).
Hasil ini mengindikasikan bahwa SAO di Bangka maupun
Alor terbukti resisten terhadap malaria.
Secara molekuler dapat dijelaskan bahwa delesi 9 asam
amino protein band 3 mengakibatkan membran sel
menjadi kaku, ATP intrasel menurun dan terjadi
perubahan morfologi sel yang akhirnya menyebabkan sel
resisten terhadap invasi malaria.
Hasil & Pembahasan
Data: Kuantitatif & Kualitatif
Tampilan Data: Narasi, tabulasi, Gambar, Skema
Deskripsi Data tersebut
Pembahasan Fokus pada Hasil Riset Kita
kemudian dikomparasi dengan Hasil Riset
Peneliti Sebelumnya
Memasukan Ide atau Kemungkinan untuk Riset
atau Tindak Lanjut berdasarkan Hasil Riset Kita
Memaparkan Kekurangan/Kelemahan Riset Kita
sehingga bisa disempurnakan nantinya
Simpulan

Hasil penelitian ini menunjukkan


adanya perbedaan frekuensi SAO
pada etnik Austronesia dan
Australoid yang berhubungan dengan
tingkat resistensi terhadap malaria
TERIMOKASIH