Anda di halaman 1dari 49

TUBERKOLOSIS

Ulfa Rahmadanti
12100116243

Preseptor:
Hj. Hertika, dr., Sp.PD
DEFINISI

Penyakit akibat infeksi


mikobakterium Tuberkolosis
yang bersifat sistemik sehingga
bisa mengenai hampir seluruh
organ, dengan lokasi terbanyak
di paru-paru yang biasanya
merupakan lokasi infeksi primer
EPIDEMIOLOGI
8,5 juta kasus baru/ tahun
2 juta meninggal dunia/ tahun
1/3 populasi dunia
Indonesia : peringkat ke 4
ETIOLOGI
Mikobakterium TB
FAKTOR RESIKO
Usia : kurang dari 5 tahun atau lebih
dari 65 tahun
Ras dan etnik
Daerah tempat tinggal
Penyakit kronis
Imunosupresan
Homeless
TRANSMISI

Inhala
si

kulit

Disebarkan melalui aerosol droplets berukuran 1-5m microorganism


Sumbernya dari individu dengan penderita TB berbicara, batuk, menyanyi
atau tertawa
Transmisi paling sering terhadap close contact, ataupun living in the same
household
6
PATOFISIOLOGI

Inhalasi droplet nuclei

Sebagian Besar : Dikeluarkan


Mencapai alveolus
oleh DM URT

Ingesti oleh makrofag, tapi tidak


mati (LAM)
Macrophages release TNF
, IL2, IL6 : Demam
Menetap di apex, membentuk Ghon
Cachectin factor primer

Affecting feeding centre

Activasi th1 > Stimulasi
IFN Y > produksi TNF alfa
Poor appetite

Loss of appetite Manggil makrofag yang
kompeten
Weight loss
PATOFISIOLOGI
Mengelilingi M.TB > Epiteloid granuloma dengan
nekrosis perkejuan

Bakteri berhenti tumbuh


dan Dorman

Reaktivasi

Nekrosis perkejuan > Liquefaction

Bronchus

Coughed Obstruks
Injuri
-up i

Hemopti
Sesak
sis
PATOFISIOLOGI

Nekrosis perkejuan > Liquefaction

Drainase ke saluran limfatik

Limfadeni
Tracheobronchial LN
tis

Nekrosis Perkejuan
Bakteri Lebih Aktif di malam hari
baru

Gas Exchange
terganggu > O2 turun BMR meningkat
> ATP turun

Malaise, Keringat
Fatigue malam
KLASIFIKASI

Tipe
Lokasi
Pasien
Baru
Pulmonary Relaps
Default/DO
Gagal
Ekstrapulmonary Kronis
Bekas TB
KLASIFIKASI
MANIFESTASI KLINIS

Gejala Lokal

Batuk >3 Hemophti


minggu sis

Sesak Nyeri
Nafas Dada
MANIFESTASI KLINIS

Gejala Sistemik

Demam Malaise Anoreksia

Keringat
malam Penurunan
Fatigue
tanpa BB
aktivitas
DIAGNOSIS

Bakteriologis
Klinis
Radiologis

14
DIAGNOSIS

PEMERIKSAA LABORATURI
ANAMNESIS
N FISIK UM
Manifestasi Tidak Limfositosis
Klinis ditemukan /Monositosis
kelainan LED
yang khas meningkat
DIAGNOSIS

BAKTERIOLOGI RADIOLOGI
Sputum BTA S-P-S Bercak dengan
, pewarnaan Ziehl- batas tidak jelas
Nielsen, pembacaan (milier)
hasil dgn skala Kavitas (bayangan
IUATLD berupa cincin
Kultur/Resistens berdinding tipis)
Pleuritis (penebalan
pleura)
Efusi pleura ( sudut
kostoprenikus
tumpul)
DIAGNOSIS
Pemeriksaan sputum
IUATLD ( International Union against Tuberculous
Lung Disease)
Jumlah BTA Report
Tidak ditemukan dalam 100 HPF -
1-9 / 100 HPF Jumlah bakteri
10-99 / 100 HPF + atau +1

1-10 / 1 HPF ++ atau +2

>10 / 1 HPF +++ atau +3

17
18
PENGOBATAN
Tujuan

Menyembuhk Mencegah Mencegah


an penderita kematian kekambuhan

Mencegah
Menurunkan
terjadinya
tingkat
resistensi
penularan
obat

19
PENGOBATAN
Prinsip Pengobatan
1. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) harus diberikan dalam bentuk kombinasi dari
beberapa jenis obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan
kategori pengobatan. Hindari penggunaan monoterapi.
2. Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tepat (KDT) / Fixed Dose Combination (FDC)
akan lebih menguntungkan dan dianjurkan.
3. Obat ditelan sekaligus (single dose) dalam keadaan perut kosong.
4. Setiap praktisi yang mengobati pasien tuberkulosis mengemban tanggung
jawab kesehatan masyarakat.
5. Semua pasien (termasuk mereka yang terinfeksi HIV) yang belum pernah
diobati harus diberi paduan obat lini pertama.
6. Untuk menjamin kepatuhan pasien berobat hingga selesai, diperlukan suatu
pendekatan yang berpihak kepada pasien (patient centered approach) dan
dilakukan dengan pengawasan langsung (DOT= directly observed treatment)
oleh seorang pengawas menelan obat.
7. Semua pasien harus dimonitor respons pengobatannya. Indikator penilaian
terbaik adalah pemeriksaan dahak berkala yaitu pada akhir tahap awal, bulan
ke-5 dan akhir pengobatan.
8. Rekaman tertulis tentang pengobatan, respons bakteriologis dan efek samping
harus tercatat dan tersimpan. 20
PENGOBATAN
OAT

Isoniazid Rifampisin

Pyrazinami Ethambuto
d l

Streptomy
cin
PENGOBATAN
OAT
PENGOBATAN
Tahapan Pengobatan
Tahap awal menggunakan paduan obat rifampisin, isoniazid, pirazinamid
dan etambutol.
Pada tahap awal pasien mendapat pasien yang terdiri dari 4 jenis obat
(rifampisin, isoniazid, pirazinamid dan etambutol), diminum setiap hari dan diawasi
secara langsung untuk menjamin kepatuhan minum obat dan mencegah terjadinya
kekebalan obat.
Bila pengobatan tahap awal diberikan secara adekuat, daya penularan menurun
dalam kurun waktu 2 minggu.
Pasien TB paru BTA positif sebagian besar menjadi BTA negatif (konversi) setelah
menyelesaikan pengobatan tahap awal. Setelah terjadi konversi pengobatan
dilanujtkan dengan tahap lanjut.
Tahap lanjutan menggunakan paduan obat rifampisin dan isoniazid
Pada tahap lanjutan pasien mendapat 2 jenis obat (rifampisin dan isoniazid),
namun dalam jangka waktu yg lebih lama (minimal 4 bulan).
Obat dapat diminum secara intermitten yaitu 3x/minggu (obat program)
atau tiap hari (obat non program).
Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten sehingga
mencegah terjadinya kekambuhan.
PENGOBATAN
Program nasional
Penanggulangan TBC
Kategori 1 Kategori 2 Kategori 3
WHO
2 RHZE / 4 H3R3 2 HRZES / HRZE / 5 H3R3E5 2 HRZ / 4H3R3
2 RHZE / 4 HR 2 HRZES / HRZE / 5 HRE 2 HRZ / 4 HR
2 HRZE / 6 HE 2 HRZ / 6 HE

Indonesia
2 HRZE / 4H3R3 2 HRZES / HRZE / 5H3R3E3 2 HRZ / 4 H3R3

24
Kategori 1
2 HRZE / 4H3R3
Tahap intensif:
2 bulan, setiap hari
Isoniazid (H), Rifampisin (R), Pirasinamid (Z), Etambutol (E)
Tahap lanjutan:
4 bulan,3 kali dalam seminggu, Isoniasid dan Rifampisin
Diberikan untuk:
- Penderita baru TBC Paru BTA (+)
- Penderita TBC Paru BTA (-) Rontgen (+) yang sakit berat
- Penderita TBC Ekstra paru berat
Tahap Lamanya Dosis per hari / kali
Pengobatan Pengobatan
Isoniasid Rifampisin Pirasinamid Etambutol Jumlah hari/
300 mg 450 mg 500 mg 250 mg kali menelan
obat
Tahap 2 bulan 1 1 3 3 60
Intensif
(Dosis
harian)
Tahap 4 bulan 2 1 - - 54
lanjutan
(Dosis 3 x
25
seminggu)
Kategori 2
2 RHZES/ HRZE / 5 H3R3E3
Tahap Intensif: 3 bulan
2 bulan: HRZE setiap hari
1 bulan HRZE setiap hari
Tahap lanjutan : 5 bulan dengan HRE yg diberikan 3 kali dalam seminggu
Suntikan streptomisin diberikan setelah penderita selesai menelan obat
Diberikan untuk:
Penderita kambuh (relaps)
Penderita gagal (failure)
Penderita dengan pengobatan setelah lalai ( after default )
Tahap Lamanya Dosis per hari / kali
Pengoba Pengoba
tan tan Isoniasid Rifampisin Pirasinamid Etambuto Streptomisin Jumlah
300 mg 450 mg 500 mg l 500 mg Injeksi hari/ kali
250 mg menelan
obat
Tahap 2 bulan 1 1 3 3 - 0,75 gr 60
Intensif
(Dosis 1 bulan 1 1 3 3 -
harian)
Tahap 5 bulan 2 1 - 1 2 - 66
lanjutan
(Dosis 3 x
seminggu 26
)
OAT Sisipan (HRZE)
Bila pada akhir tahap intensif pengobatan penderita baru
BTA+ atau penderita BTA + pengobatan ulang dengan
kategori 2 hasil pemeriksaan dahak masih BTA + diberikan
obat sisipan (HRZE) setiap hari selama 1 bulan.

Tahap Lamanya Dosis per hari / kali


Pengobatan Pengobatan
Isoniasid Rifampisin Pirasinamid Etambutol Jumlah hari/
300 mg 450 mg 500 mg 250 mg kali menelan
obat
Tahap Intensif 1 bulan 1 1 3 3 60
(Dosis harian)

27
Kategori 3
2 HRZ / 4 H3R3
Tahap Intensif : HRZ diberikan setiap hari selama 2 bulan
Tahap lanjutan : HR diberikan 3 kali seminggu selama 4 bulan

Diberikan untuk:
Penderita baru BTA negatif dan rontgen (+) sakit ringan
Penderita ekstra paru ringan yaitu TBC kelenjar limfe (limfadenitis)
pleuritis eksudativa unilateral TBC kulit, TBC tulang (kecuali tulang
belakang) sendi dan kelenjar adrenal.
Tahap Lamanya Dosis per hari / kali
Pengobatan Pengobatan
Isoniasid Rifampisin Pirasinamid Jumlah hari/
300 mg 450 mg 500 mg kali menelan
obat
Tahap 2 bulan 1 1 3 60
Intensif
(Dosis
harian)
Tahap 4 bulan 2 1 - 48
lanjutan
(Dosis 3 x
seminggu) 28
PENGOBATAN
Pemantauan kemajuan hasil pengobatan TB
pada
1. dewasa makroskopis dahak ulang
Pemeriksaan
2 spesimen (sewaktu-pagi)
(+) : bila salah satu +
(-) : jika keduanya negatif
2. X-ray : tidak begitu menentukan
3. LED : tidak begitu menentukan

Waktu pemeriksaan dahak ulang u/ memantau pengobatan:


4. Tahap intensif
5. 1 bulan akhir pengobatan
6. Akhir pengobatan

29
PENGOBATAN

Efek Samping Ringan OAT


Efek samping Penyebab Penanganan
Tidak ada nafsu makan, Rifampisin Obat diminum malam
mual, sakit perut sebelum tidur

Nyeri sendi Pirasinamid Beri aspirin

Kesemutan sampai INH Beri vitamin B6


dengan rasa terbakar (piridoxin per hari)
di kaki

Warna kemerahan pada Rifampisin Tidak perlu diberi apa-


air seni (urine) apa tapi perlu
penjelasan kepada
30
penderita
PENGOBATAN
Efek Samping Berat OAT
Efek samping Penyebab Penanganan
Gatal dan kemerahan kulit Semua jenis OAt Antihistamin, jika !!
bertambah berat
kortikosteroid
(EKSUDATIVA)
Tuli Streptomisin Streptomisin dihentikan
ganti etambutol
Gangguan Streptomisin Streptomisin dihentikan
keseimbangan ganti etambutol

Ikterus tanpa penyebab Hampir semua OAT Hentikan semua OAT


lain sampai ikterus
menghilang
Bingung dan muntah- Hampir semua OAT Hentikan semua OAT
muntah (permulaan segera lakukan tes
ikterus karena obat) fungsi
31 hati
KOMPLIKASI

Efusi
pleura

Penyeba
ran
Komplik kavitasi
milier asi

Atelekta
sis
bronkus

32
DOTS
DEFINISI
Pengawasan langsung pengobatan jangka pendek
Keharusan setiap pengelola program tuberkolosis untuk direct
attention dalam usaha menemukan penderita dengan kata lain
mendeteksi kasus dengan pemeriksaan mikroskop.
setiap penderita harus di observed dalam memakan obatnya,
setiap obat yang ditelan penderita harus di depan seorang
pengawas.
Selain itu tentunya penderita harus menerima treatment yang
tertata dalam sistem pengelolaan, distribusi dengan penyediaan
obat yang cukup.
setiap penderita harus mendapat obat yang baik, artinya
pengobatan short course standard yang telah terbukti ampuh
secara klinis. Akhirnya, harus ada dukungan dari pemerintah yang
membuat program penanggulangan tuberkulosis mendapat
prioritas yang tinggi dalam pelayanan kesehatan
TUJUAN

Tujuan dari pelaksanaan DOTS adalah


menjamin kesembuhan bagi penderita,
mencegah penularan, mencegah
resistensi obat, mencegah putus
berobat dan segera mengatasi efek
samping obat jika timbul, yang pada
akhirnya dapat menurunkan angka
kesakitan dan kematian akibat
tuberkulosis di dunia
STRATEGI
DOTS mengandung lima komponen, yaitu:
1. Komitmen pemerintah untuk mendukung pengawasan
tuberkulosis.
2. Penemuan kasus dengan pemeriksaan mikroskopik sputum,
utamanya dilakukan pada mereka yang datang ke pasilitas
kesehatan karena keluhan paru dan pernapasan.
3. Cara pengobatan standard selama 6 8 bulan untuk semua
kasus dengan pemeriksaan sputum positif, dengan
pengawasan pengobatan secara langsung, untuk sekurang-
kurangnya dua bulan pertama.
4. Penyediaan semua obat anti tuberkulosis secara teratur,
menyeluruh dan tepat waktu.
5. Pencatatan dan pelaporan yang baik sehingga memungkinkan
penilaian terhadap hasil pengobatan untuk tiap pasien dan
penilaian terhadap program pelaksanaan pengawasan
tuberkulosis secara keseluruhan
Komitmen Pemerintah
KEPALA
keputusan pemerintah untuk
menjadikan tuberkulosis sebagai
perioritas penting/utama dalam
program kesehatan.
Penemuan Kasus dan
Diagnosa KEPALA
Pemeriksaan mikroskopis sputum adalah
metode yang paling efektif untuk
penyaringan terhadap tersangka
tuberkulosis paru. WHO
merekomendasikan strategi pengawasan
tuberkulosis, dilengkapi dengan
laboratorium yang berfungsi baik untuk
mendeteksi dari mulai awal, tindak
lanjutan dan menetapkan pengobatannya
Pengawasan Pengobatan
Standar KEPALA
Pemberian obat yang diawasi secara langsung,
atau dikenal dengan istilah DOT (Directly
Observed Therapy), pasien diawasi secara
langsung ketika menelan obatnya, dimana obat
yang diberikan harus sesuai standard.
Pengawasan pengobatan secara langsung
adalah penting setidaknya selama tahap
pengobatan intensif (2 bulan pertama) untuk
meyakinkan bahwa obat dimakan dengan
kombinasi yang benar dan jangka waktu yang
tepat.
PenyediaanKEPALA
Obat
Jaminan tersedianya obat secara teratur,
menyeluruh dan tepat waktu, sangat diperlukan
guna keteraturan pengobatan. Masalah utama
dalam hal ini adalah perencanaan dan
pemeliharaan stok obat pada berbagai tingkat
daerah. Untuk ini diperlukan pencatatan dan
pelaporan penggunaan obat yang baik, seperti
misalnya jumlah kasus pada setiap kategori
pengobatan, kasus yang ditangani pada waktu lalu
(untuk memperkirakan kebutuhan), data akurat
stok masing-masing gudang yang ada, dan lain-lain
PencatatanKEPALA
dan Pelaporan
Sistem pencatatan dan pelaporan digunakan untuk
sistematika evaluasi kemajuan pasien dan hasil
pengobatan. Sistem ini terdiri dari daftar laboratorium
yang berisi catatan dari semua pasien yang diperiksa
sputumnya, kartu pengobatan pasien yang merinci
penggunaan obat dan pemeriksaan sputum lanjutan.
Setiap pasien tuberkulosis yang diobati harus
mempunyai kartu identitas penderita yang telah
tercatat di catatan tuberkulosis yang ada di
kabupaten. Kemanapun pasien ini pergi, dia harus
menggunakan kartu yang sama sehingga dapat
melanjutkan pemgobatannya dan tidak sampai tercatat
dua kali.
PMO
Seperti kita ketahui pengobatan
tuberkulosa memakan waktu 6 bulan.
Setelah memakan obat selama 2 atau 3
bulan, tidak jarang keluhan pasien telah
menghilang, ia merasakan dirinya telah
sehat dan meghentikan pengobatannya.
Karena itu harus ada suatu sistem yang
menjamin pasien mau menyelesaikan
seluruh masa pengobatannya sampai
selesai
PMO

Siapa yang harus melihat pasien


menelan obatnya ? Tentunya harus
ditunjuk seorang Pengawas Menelan
Obat (PMO)
PMO
Penderita dirawat jalan
Pengawasan dilakukan:
Langsung di depan dokter
Petugas kesehatan
Pemuka masyarakat atau orang yang disegani
Suami/istri/keluarga/orang serumah

Penderita dirawat
Jika dirawat di RS, yang bertindak sebagai PMO
adalah petugas RS. Sebagai perawatan pengobatan
lanjutan, lihat cara berobat jalan diatas.
PMO

Sebelum pelaksanaan DOTS dimulai


harus dilakukan langkah sebagai
berikut. Penderita diberitahukan
tentang cara pengobatan serta
menetapkan terlebih dahulu seorang
PMO. Kemudian PMO itu harus
dihadirkan di poliklinik/tempat
pelayanan kesehatan untuk diberi
pelatihan mengenai DOTS.
PMO
Syarat dan tugas menjadi PMO adalah:
Seorang yang dikenal, dipercaya, dan disetujui oleh petugas kesehatan
maupun pederita.
Bersedia dengan sukarela membantu penderit tuberkulosis sampai sembuh
selama 6 bulan.
Bersedia dilatih.
Mau merujuk kalau ada gejala efek samping obat.
Bersedia antar jemput OAT sekeli seminggu atau dua kali seminggu jika
penderita tidak bisa datang ke RS.
Bersedia antar jemput pemeriksaan ulang sputum bulan ke-2, 5 dan 6
pengobatan.
Mengawasi penderit tuberkulosis agar menelan obat secara teratur sampai
selesai pengobataan.
Memberi dorongan kepada penderita agar mau minum obat secara teratur.
Memberi penyuluhan kepada anggota keluarga penderita tuberkulosis yang
mempunyai gajala-gejala tersangka tuberkulosis untuk segara memeriksakan
diri ke pusat kesehatan (
DOTS PLUS
DOTS Plus merupakan sistem
strategi penanggulangan
tuberculosis yang resisten terhadap
berbagai macam obat/MDR (Multi
Drug Resistant).
Strategi : menggunakan anti
tuberkulosis second-line
PERHATIKAN
Yang perlu diperhatikan sebelum melaksanakan
kelima strategi DOTS pada pengobatan seorang
penderita tuberkulosis adalah memberikan
pemahaman terhadap penderita tentang
penyakitnya dan kemudian menetapkan
seorang pengawas menelan obatnya.
Pengawasan menelan obat apabila penderita
dirawat jalan dapat dilakukan oleh: dokter,
petugas kesehatan, pemuka masyarakat atau
orang yang disegani, suami/istri/keluarga/orang
serumah. Apabila penderita dirawat di RS, yang
bertindak sebagai PMO adalah petugas RS.