Anda di halaman 1dari 14

KASUS KECELAKAAN KERJA

LEDAKAN TANGKI BAHAN KIMIA


PT SULFINDO ADIUSAHA,
BANTEN

RAISSA ANJANI
25316026
LEDAKAN TANGKI BAHAN KIMIA
PT SULFINDO ADIUSAHA, BANTEN

Pada tanggal 9 Juli 2010 sekitar pukul


10.30 pagi terjadi 3 kali ledakan keras
yang berasal dari tangki bahan kimia
HCL. Korban tewas 1 orang bernama
Jamani (53 Tahun). 4 Korban lainnya
mengalami luka bakar dan dilarikan ke
rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM).
KRONOLOGIS (1)

Pada tanggal 9 Juli 2010, sedang


dilakukan proses sirkulasi atau loading
bahan kimia HCL oleh Ramlan (45),
Sukani (54) dan Husaeri (39) ke dalam
2 unit mobil truk tangki.
KRONOLOGIS (2)

Bersamaan dengan proses loading


bahan kimia HCL, dilakukan pula
proses maintenance berupa kegiatan
laminating pipa yang bocor yang
letaknya berdekatan dengan proses
loading.
KRONOLOGIS (3)

Sumber api diduga berasal dari proses


laminating ketika terjadi percikan api
akibat gesekan logam besi. Api
merembet ke tangki HCL dan meledak.
DIAGRAM ALIR INVESTIGASI
KECELAKAAN
Mengapa terdapat 1 orang pekerja tewas dan 4 pekerja lainnya perlu
perawatan?
1. Karena terjadi ledakan pada tangki HCL ketika proses loading.

Mengapa terjadi ledakan pada tangki HCL?


1. Proses overflow saat pengisian tangki (W3)
2. Ada percikan api dari proses laminating untuk perbaikan pipa bocor
yang dilakukan tidak jauh dari lokasi loading bahan kimia HCL (W3)

Mengapa bisa terjadi overflow saat pengisian tangki?


1. Karena kurangnya pengetahuan pekerja terhadap proses pengerjaan
loading HCL (W3)
2. Karena tidak ada standar atau SOP bagi pekerja yang wajib dipenuhi
selama bekerja (M1)
3. Karena tidak ada pengawasan dari supervisor (S2)
DIAGRAM ALIR INVESTIGASI
KECELAKAAN
Mengapa pekerja memiliki pengetahuan yang kurang mengenai proses
loading bahan kimia HCL?
1. Karena tidak ada SOP yang mengatur pemberian training pada pekerja
(M1)

Mengapa HSE officer memperbolehkan proses maintenance pipa bocor


bersamaan dengan proses loading bahan kimia HCL?
1. Karena HSE officer tidak mengetahui risiko bahaya yang dapat timbul
akibat pekerjaan maintenance pipa bocor (W3)
2. Tidak ada komunikasi yang baik antara pekerja, supervisor dan
manajemen mengenai risiko bahaya dari kegiatan loading dan
maintenance yang dilakukan bersamaan. (S1)
3. Tidak ada SOP yang jelas mengenai proses kerja baik untuk proses
loading maupun proses maintenance (M1)

Mengapa tidak ada monitoring dari supervisor maupun manajemen saat


proses berlangsung?
1. Karena tidak ada SOP yang jelas (M1)
MATRIKS 4X4 INVESTIGASI
KECELAKAAN
UNIT M M-S M-S- M-W S S-W W
W
LEDAKAN 3
TANGKI HCL
LOADING 1 1-2-3
HCL
MAINTENAN 1-1-3
CE PIPA
BOCOR
TIDAK JAUH
DARI LOKASI
LOADING
HCL
MONITORIN 1
G
MATRIKS 4X4 INVESTIGASI
KECELAKAAN
UNIT M M-S M-S-W M-W S S-W W

1 1-2-3
TANGKI HCL 3
1 1-1-3

JUMLAH 2 0 2 0 0 0 1
MATRIKS 4X4 INVESTIGASI
KECELAKAAN
UNIT M S W
LEDAKAN TANGKI HCL 3
LOADING HCL 1
2 3
1
MAINTENANCE PIPA
BOCOR TIDAK JAUH DARI 1 1 3
LOKASI LOADING HCL

MONITORING 1

JUMLAH 4 2 3
MATRIKS 4X4 INVESTIGASI
KECELAKAAN
UNIT M S W
TANGKI HCL
1
3
1 2
3
1 1
3
1

JUMLAH 4 2 3
STRATEGI PENCEGAHAN
1. Harus dilakukan analisis risiko bahaya dari setiap
pekerjaan konstruksi oleh manajemen
2. Penerapan SMK3 secara konsisten dan menyeluruh
agar menghasilkan safety culture di lingkungan kerja
3. Membuat SOP yang jelas bagi pekerja dan bagi
kontraktor atau pihak ketiga yang bekerjasama
dalam proses pengerjaan proyek
4. SOP perizinan kerja yang dikomunikasikan dengan
semua pihak untuk jenis pekerjaan yang berisiko
kecelakaan jika dilakukan bersamaan.
5. Training pekerja agar mengetahui potensi bahaya
saat bekerja dan cara-cara pengendaliannya.