Anda di halaman 1dari 19

Ethics and

Whistleblower Programs
Ch. 24

Andi Rakhman Yusuf, SE., M.Ec.Dev., Ak.


Pengertian Kode Etik
nilai-nilai,
norma-norma, atau
kaidah-kaidah untuk mengatur perilaku moral dari suatu
profesi melalui ketentuan-ketentuan tertulis yg harus
dipenuhi dan ditaati setiap anggota profesi.
mengenai apa yang boleh dan
apa yang tidak boleh dilakukan oleh anggota profesi,
apa yang harus didahulukan dan
apa yang boleh dikorbankan oleh profesi ketika
menghadapi situasi konflik atau dilematis,
tujuan dan cita-cita luhur profesi, dan
bahkan sanksi yang akan dikenakan kepada anggota
profesi yang melanggar kode etik.
Kode Etik Akuntan Indonesia

Kode Etik Akuntan Indonesia mempunyai struktur seperti kode


etik AICPA yang meliputi prinsip etika, aturan etika dan
interpretasi aturan etika yang diikuti dengan tanya jawab
dalam kaitannya dengan interpretasi aturan etika
1.Tanggung Jawab
2.Kepentingan Umum (Publik)
3.Integritas
4.Obyektivitas
5.Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
6.Kerahasiaan
7.Perilaku Profesional
8.Standar Teknis
Integritas

Integritas berkaitan dengan profesi auditor yang dapat dipercaya


karena menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran.
Integritas tidak hanya berupa kejujuran tetapi juga sifat dapat
dipercaya, bertindak adil dan berdasarkan keadaan yang
sebenarnya.
Misalnya, auditor seringkali menghadapi situasi di mana terdapat
berbagai alternatif penyajian informasi yang dapat menciptakan
gambaran keuangan atau kinerja yang berbeda-beda.
Dengan berbagai tekanan yang ada untuk memanipulasi fakta-
fakta, auditor yang berintegritas mampu bertahan dari berbagai
tekanan tersebut sehingga fakta-fakta tersaji seobyektif mungkin.
Auditor perlu mendokumentasikan setiap pertimbangan-
pertimbangan yang diambil dalam situasi penuh tekanan tersebut.
Obyektivitas

Auditor yang obyektif adalah auditor yang tidak memihak


sehingga independensi profesinya dapat dipertahankan. Dalam
mengambil keputusan atau tindakan, ia tidak boleh bertindak
atas dasar prasangka atau bias, pertentangan kepentingan,
atau pengaruh dari pihak lain.
Obyektivitas dipraktikkan ketika auditor mengambil
keputusan2 dalam kegiatan auditnya.
Auditor yang obyektif adalah auditor yang mengambil
keputusan berdasarkan seluruh bukti yang tersedia, dan
bukannya karena pengaruh atau berdasarkan pendapat atau
prasangka pribadi maupun tekanan dan pengaruh orang lain.
Ketidakmampuan auditor dalam menegakkan satu atau lebih
prinsip-prinsip dasar dalam aturan etika karena keadaan atau
hubungan dengan pihak-pihak tertentu menunjukkan indikasi
adanya kekurangan obyektivitas.
Kompetensi dan Kehati-hatian
Agar dapat memberikan layanan audit yang berkualitas,
auditor harus memiliki dan mempertahankan kompetensi dan
ketekunan. Untuk itu auditor harus selalu meningkatkan
pengetahuan dan keahlian profesinya pada tingkat yang
diperlukan untuk memastikan bahwa instansi tempat ia
bekerja atau auditan dapat menerima manfaat dari layanan
profesinya berdasarkan pengembangan praktik, ketentuan,
dan teknik-teknik yang terbaru.
Berdasarkan prinsip dasar ini, auditor hanya dapat melakukan
suatu audit apabila ia memiliki kompetensi yang diperlukan
atau menggunakan bantuan tenaga ahli yang kompeten
untuk melaksanakan tugas-tugasnya secara memuaskan.
Berkenaan dengan kompetensi, untuk dapat melakukan suatu
penugasan audit, auditor harus dapat memperoleh
kompetensi melalui pendidikan dan pelatihan yang relevan.
Kerahasiaan

Auditor harus mampu menjaga kerahasiaan atas informasi


yang diperolehnya dalam melakukan audit, walaupun
keseluruhan proses audit mungkin harus dilakukan secara
terbuka dan transparan
Dalam prinsip kerahasiaan ini juga, auditor dilarang untuk
menggunakan informasi yang dimilikinya untuk kepentingan
pribadinya, misalnya untuk memperoleh keuntungan
finansial.
Prinsip kerahasiaan tidak berlaku dalam situasi-situasi
berikut:
Pengungkapan yang diijinkan oleh pihak yang
berwenang, seperti auditan dan instansi tempat ia
bekerja. Dalam melakukan pengungkapan ini, auditor
harus mempertimbangkan kepentingan seluruh pihak,
tidak hanya dirinya, auditan, instansinya saja, tetapi
juga termasuk pihak-pihak lain yang mungkin terkena
dampak dari pengungkapan informasi ini.
Pengungkapan yang diwajibkan berdasarkan peraturan
perundangundangan, seperti tindak pidana pencucian
uang, tindakan KKN, dan tindakan melanggar hukum
lainnya.
Pengungkapan untuk kepentingan masyarakat yang
dilindungi dengan undang-undang.
Lanjutan

Bila auditor memutuskan untuk mengungkapkan informasi


karena situasisituasi di atas, ada tiga hal yang harus
dipertimbangkan, yaitu:
Fakta-fakta yang diungkapkan telah mendapat dukungan
bukti yang kuat atau adanya pertimbangan profesional
penentuan jenis pengungkapan ketika fakta-fakta
tersebut tidak didukung dengan bukti yang kuat.
Pihak-pihak yang menerima informasi adalah pihak yang
tepat dan memiliki tanggung jawab untuk bertindak atas
dasar informasi tersebut.
Perlunya nasihat hukum yang profesional atau konsultasi
dengan organisasi yang tepat sebelum melakukan
pengungkapan informasi.
Ketepatan Bertindak

Auditor harus dapat bertindak konsisten dalam mempertahankan


reputasi profesi serta lembaga profesi akuntan sektor publik dan
menahan diri dari setiap tindakan yang dapat mendiskreditkan
lembaga profesi atau dirinya sebagai auditor profesional.
Apabila auditor mengetahui ada auditor lain melakukan tindakan
yang tidak benar, maka auditor tersebut harus mengambil langkah-
langkah yang diperlukan untuk melindungi masyarakat, profesi,
lembaga profesi, instansi tempat ia bekerja dan anggota profesi
lainnya dari tindakan-tindakan auditor lain yang tidak benar
tersebut.
Auditor kemudian melaporkan kepada pihak yang berwenang atas
tindakan yang tidak benar ini, misalnya kepada atasan dari auditor
yang melakukan tindakan yang tidak benar tersebut atau kepada
pihak yang berwajib apabila pelanggarannya menyangkut tindak
pidana.
Standar teknis dan profesional

Auditor harus melakukan audit sesuai dengan standar audit


yang berlaku, yang meliputi standar teknis dan profesional
yang relevan. Standar ini ditetapkan oleh Ikatan Akuntan
Indonesia dan Pemerintah Republik Indonesia.
Pada instansi-instansi audit publik, terdapat juga standar
audit yang mereka tetapkan dan berlaku bagi para
auditornya, termasuk aturan perilaku yang ditetapkan oleh
instansi tempat ia bekerja.
Dalam hal terdapat perbedaan dan/atau pertentangan
antara standar audit dan aturan profesi dengan standar
audit dan aturan instansi, maka permasalahannya
dikembalikan kepada masing-masing lembaga penyusun
standar dan aturan tersebut.
Whistleblower

Istilah whistleblower memiliki makna yang bermacam-


macam. Kadang ia diartikan sebagai saksi pelapor, pemukul
kentongan, atau pengungkap fakta. Sampai sekarang belum
ada padanan kata yang pas dalam kosakata Bahasa
Indonesia bagi istilah yang secara harfiah disebut peniup
peluit itu
Whistleblowerbiasanya ditujukan kepada seseorang yang
pertama kali mengungkap atau melaporkan suatu tindak
pidana atau tindakan yang dianggap ilegaldi tempatnya
bekerja atau orang lain berada.
Pengungkapan tersebut tidak selalu didasari itikad baik sang
pelapor, tetapi tujuannya untuk mengungkap penyelewengan
yang diketahuinya
Dasar Hukum

UU No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan


Korban
Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2011
tentang Perlakuan terhadap Pelapor Tindak Pidana
(whistleblower) dan Saksi Pelaku yang Bekerja Sama
(justice collaborator)

whistleblower diartikan sebagai pihak yang mengetahui dan


melaporkan tindak pidana tertentu dan bukan merupakan
bagian dari pelaku kejahatan yang dilaporkannya. Namun
dalam praktiknya kadang whistleblower juga terlibat walau
memiliki peran yang kecil dalam kejahatan tersebut.
Seorang pekerja dapat menjadi whistleblower di institusi
swasta atau perusahaan ketika dia melaporkan dugaan
pelanggaran atau kejahatan di tempatnya bekerja.
Melalui cara yang normal, biasanya laporan dapat
disampaikan pada lembaga internal yang dibentuk khusus
untuk menangani masalah yang terjadi di dalam
perusahaan. Laporan juga dapat disampaikan kepada
lembaga eksternal yang dibentuk untuk menerima laporan
whistleblower.
Auditor internal memiliki kewenangan formal untuk
melaporkan adanya ketidakberesan dalam sebuah
perusahaan.
Kewenangan formal ini yang membedakan auditor internal
dengan para individu di atas dalam kapasitasnya sebagai
whistleblower
Ada 3 (tiga) alasan mengapa auditor internal juga dapat
dianggap sebagai whistleblower:
1. Auditor Internal memiliki mandat formal untuk melaporkan
bila terjadi kesalahan. auditor internal yang lebih paham
mengenai kesalahan yang terjadi dalam perusahaan.
2. Laporan auditor internal mungkin bertentangan dengan
pernyataan top managers. Jika para manager cenderung
menutupi kesalahan, maka laporan auditor internal
mengenai kesalahan justru lebih jujur dan independen.
3. Perbuatan mengungkap kesalahan merupakan tindakan
yang jarang ditegaskan dalam aturan perusahaan.
Dengan demikian pada prinsipnya seorang whistlebloweratau
juga disebut peniup peluitmerupakan prosocial behaviour
yang menekankan untuk membantu pihak lain dalam
menyehatkan sebuah organisasi atau perusahaan.
Kriteria Dasar Whistleblower

Pertama, whistleblower menyampaikan atau mengungkap


laporan kepada otoritas yang berwenang atau kepada media
massa atau publik. Pada umumnya, whistleblowerakan
melaporkan kejahatan di lingkungannya kepada otoritas
internal terlebih dahulu.
Kedua, seorang whistleblower merupakan orang dalam, yaitu
orang yang mengungkap dugaan pelanggaran dan kejahatan
yang terjadi di tempatnya bekerja atau ia berada.
Whistleblowing System

Ada dua kata kunci yang berkaitan dengan whistleblowing


system, yaitu pelapor dan pelanggaran. Dalam prakteknya
kedua kata ini dipadankan menjadi pelapor pelanggaran dan
kemudian disebut sebagai whistleblower.

Syarat dari seorang whistleblower dalam konsep ini adalah


memiliki informasi, bukti, atau indikasi yang akurat
mengenai terjadinya pelanggaran yang dilaporkan oleh itikad
baik serta bukan merupakan suatu keluhan pribadi atas
suatu kebakan perusahaan tertentu ataupun didasari oleh
kehendak buruk atau fitnah sehingga informasi yang
diungkap dapat ditelusuri atau ditindaklanjuti.
Tujuan dari sistem pelaporan pelanggaran ini adalah untuk
mengungkap tindakan pelanggaran atau pengungkapan
perbuatan yang melanggar hukum, perbuatan tidak etis atau
tidak bermoral atau perbuatan lain yang dapat merugikan
organisasi maupun pemangku kepentingan, yang dilakukan
oleh karyawan atau pimpinan organisasi kepada pimpinan
organisasi atau lembaga lain yang dapat mengambil tindakan
atas pelanggaran tersebut.
Yang termasuk di dalam aktivitas pelanggaran adalah sebagai
berikut:
1. Melanggar peraturan perundang-undangan.
2. Melanggar kode etik perusahaan.
3. Melanggar prinsip akuntasi yang berlaku umum.
4. Melanggar kebakan dan prosedur operasional
perusahaan, ataupun kebakan, prosedur, peraturan lain
yang dianggap perlu oleh perusahaan.
5. Tindakan kecurangan lain yang dianggap perlu oleh
perusahaan.
6. Tindakan kecurangan lainnya yang dapat menimbulkan
kerugian finansial ataupun non finansial.
7. Tindakan yang membahayakan keselamatan kerja.