Anda di halaman 1dari 53

EVALUASI GRANUL

Kelompok 5
1. Aidil Fitri 7. Dewi Anisaah
2. Andri Alfardi 8. Dinda Pramitha
3. Arini Hafifah 9. Eka Saputri
4. Atika Wahyuni 10. Era Fazira
5. Ayu Apriana A 11. Geby Orlance
6. Desy Rahmanisya 12. Melda Rahmatul K
13. Nasrullah

PROGRAM STUDI S-1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU
2016
MATERI YANG AKAN
EVALUASI GRANUL DIBAHAS
EVALUASI
GRANUL
EVALUASI GRANUL
1. Evaluasi Destruktif
Bahan uji
mengalami kerusakan,
baik fisika maupun
kimia
. Penetapan kandungan
zat aktif dalam granul 2. Evaluasi Non destruktif
. Uji kandungan lembab Bahan uji tidak
mengalami kerusakan,
baik fisika maupun kimia
sehingga masih dapat
digunakan untuk uji lain
atau proses selanjutnya.
Uji aliran
Uji bobot jenis dan
persen kompresibilitas
1. GRANULOMETRI

Granulometri adalah analisis ukuran dan


repartisi granul (penyebaran ukuran-ukuran
granul) atau biasa disebut juga sebagai
distribusi ukuran partikel.
Dalam melakukan analisis granulometri
digunakan susunan pengayak dengan berbagai
ukuran. Mesh terbesar diletakkan paling atas
dan dibawahnya disusun pengayak dengan
mesh yang makin kecil.
1. GRANULOMETRI

Tujuan granulometri adalah Untuk melihat


keseragaman dari ukuran granul.
Diharapkan ukuran granul tidak terlalu
berbeda.
Granulometri berhubungan dengan sifat aliran
granul. Jika ukuran granul berdekatan, aliran
akan lebih baik.
Diharapkan ukuran granul mengikuti kurva
distribusi normal
1. GRANULOMETRI

Cara Kerja :
1. Timbang 100 gr granul
2. Letakkan granul pada pengayak paling atas
3. Getarkan mesin 5-30 menit, tergantung dari
ketahanan granul pada getaran
4. Timbang granul yang tertahan pada tiap-tiap
pengayak
5. Hitung persentase granul pada tiap-tiap
pengayak
1. GRANULOMETRI
PERHITUNGAN :
GAMBAR ALAT UJI GRANULOMETRI
1. GRANULOMETRI
PEMBUATAN HISTOGRAM DISTRIBUSI PARTIKEL GRANUL :
Histogram adalah diagram batang yang berfungsi
menggambarkan bentuk distribusi sekumpulan data
ukuran partikel yang biasanya berupa karekteristik
mutu.
Hal ini dikarenakan ketika kurva histogram cendrung
kekiri maka ukuran partikel dominan kecil sedangkan
ketika cenderung kekanan dominan besar.
Besar kecilnya partikel dalam sediaan obat
menyebabkan ukuran partikel dalam sediaan obat
tersebut tidak terdistribusi secara merata sedangkan
ketika kurva histogram cenderung ditengah maka
ukuran partikel merata.
1. GRANULOMETRI
PEMBUATAN HISTOGRAM DISTRIBUSI PARTIKEL GRANUL :

Cara pembuatan histogram adalah dengan


cara menggunakan data yang diperoleh dari
jumlah gram yang diperoleh pada tiap-tiap
ukran mess ayakan dan dibuat data yang
sesuai yang digambarkan kedalam sebuah
diagram batang.
Kurva distribusi normal ditandai dari kuva
yang berbentuk lonceng dan simetris
terhadap harga tengah.
1. GRANULOMETRI
CONTO
H
1. GRANULOMETRI
1. GRANULOMETRI
CONTOH KURVA
DISTRIBUSI NORMAL
2. UKURAN
PARTIKEL
Tujuan :
Ukuran partikel adalah ukuran diameter rata-
rata partikel
Untuk mengetahui besar ukuran partikel
granul.
Alat : Mikroskop
2. UKURAN
PARTIKEL
Cara Kerja
A. Kalibrasi alat
Tempatkan mikrometer mikroskop
Himpitkan garis awal skala okuler dengan garis
awal skala objektif
Lihat skala yang berhimpit
Tentukan harga skala okuler
B. Buat suspensi partikel yang akan diuji diatas
objek gelas
C. Tentukan ukuran partikel sebanyak 300-500
2. UKURAN
PARTIKEL
2. UKURAN
PARTIKEL
2. UKURAN
PARTIKEL
Nilai yang akan dicari ialah:
1. Range ukuran patikel
2. Nilai tengah (d)
3. Jumlah partikel (n) yang sesuai pada range
ukuran partikel
4. Jumlah partikel x Nilai tengah
5. (Jumlah partikel x nilai tengah)
6. (Jumlah partikel x nilai tengah)
7. (Jumlah partikel x nilai tengah)4
2. UKURAN
PARTIKEL
CONTOH
3. BOBOT JENIS

Ada 3 jenis Bobot Jenis yakni sebagai


berikut :
1. Bobot jenis sejati/Benar (Density Murni)
2. Bobot jenis nyata (Density Untapped)
3. Bobat jenis nyata setelah
pemampatan /Mampat (Density
Tapped)
a. BOBOT JENIS
SEJATI
BJ sejati dapat dilakukan dengan menggunakan alat
piknometer.
Cara Kerja :
1. Timbang bobot piknometer kosong (A)
2. Masukkan 1 gram granul pada piknometer yang telah
ditimbang tadi, lalu timbang piknometer bersama
granul (B)
3. Timbang piknometer bersama cairan pendispersi (D)
4. Tambahkan sebagian cairan secara hati-hati sampai
penuh, jangan sampai ada partikel keluar.
5. Timbang piknometer bersama granul dan cairan
pendispersi (C)
a. BOBOT JENIS
SEJATI
Rumus sebagai berikut :

Keterangan :
A = Bobot piknometer kosong
B = Bobot piknometer + 1 gram granul
C = Bobot piknometer + 1 gram granul + cairan
pendispersi
d = Bobot piknometer + cairan pendispersi.
b. BOBOT JENIS
NYATA
BJ nyata dilakukan dengan menggunakan
Tap Volumeter.
Tujuan :
1. Kecepatan aliran
2. Kesesuaian ukuran tablet ( diameter /
ketebalan )

b. BOBOT JENIS
NYATA
Cara Kerja :
1. Timbang 100 gram granul
2. Masukkan granul tersebut kedalam gelas ukur pada tap
volumeter. Dan ratakan granul seacra perlahan.
3. Amati volume granul dengan mengamati garis batas pada
gelas ukur.
4. Hitung Bj dengan rumus sebagai berikut :
= W
V
Keterangan :
W = Bobot granul setelah ditimbang
V = Volume granul tanpa pemampatan yg terbaca

C. BOBOT JENIS NYATA


SETELAH PEMAMPATAN

BJ mampat dilakukan menggunakan Tap Volumeter.


Tujuan : Perbandingan bobot dengan volume setelah
proses pemampatan
Cara Kerja :
1. Timbang 100 gram ganul yang akan dilakukan evaluasi
dan masukkan pada gelas takar, lalu ratakan perlahan.
2. Mampatkan granul dengan menjalankan alat sebanyak
1250 kali hentakkan dan lihat volume setelah
dimampatkan (A).
3. Lakukan pemampatan kedua kalinya dgn menjalankan
alat sebanyak 1250 kali hentakkan. Lihat volumenya (B).
4. Bila selisih antara A dan B tidak lebih dari 2 cm3, maka A
adalah volume mampat. Sehingga bobot jenis mampat
dapat dihitung.
C. BOBOT JENIS NYATA
SETELAH PEMAMPATAN

Perhitnugan dapat dilakukan dengan rumus


sebagai berikut :
n = W
Vn
Keterangan :
W = Bobot granul setelah ditimbang
Vn = Volume granul setelah dilakukan
pemampatan

GAMBAR ALAT BOBOT JENIS


4. Kadar
Pemampatan
Kadar pemampatan ini bersama dengan
berat jenis dapat dijadikan untuk menilai aliran.
Rumusnya :

Keterangan :
% T = Kadar pemampatan
Vo = Volume sebelum pemampatan
V1250 = Volume Setelah pemampatan 1250 kali

Jika % T < 20, maka granul memiliki aliran yang


baik.
5. Faktor hausner

Faktor Hausner (FH) Merupakan perbandingan


antara densiti tapped (bj mampat) dengan
densiti untapped (bj nyata).
Alat yang digunakan : Tap volumeter
Merupakan parameter pertama untuk
mengukur sifat alir granul ataupun serbuk. Hal
ini berpengaruh terhadap pengisian serbuk
kedalam ruang pengempa/massa cetak.
5. Faktor hausner

Rumus :
Keterangan :
Dt = Densiti mampat
Do = densiti nyata

Persyaratan :
Granul yang baik memiliki faktor hausner
sebesar 1 atau 1,25 (umumnya 1)
Tabel Hubungan Faktor
Hausner dan Kemampuan
Aliran Serbuk

Semakin tinggi faktor Hausner, maka semakin buru


sifat aliran serbuk (Siregar, Charles J.P. dan Wikarsa,S.,
2010).
6.
KOMPRESIBILITAS
Tujuan : Menjamin aliran granul yang baik.
Prinsip : Pengukuran BJ nyata dan BJ mampat
berdasarkan perbandingan bobot granul terhadap volume
sebelum dan setelah dimampatkan (dihentakkan 500
kali).
Alat : Jolting Volumeter
Cara Kerja :
Pada uji ini menggunakan gelas ukur bervolume besar,
kemudian seluruh granul dimasukkan ke dalam gelas
ukur. Tinggi awal granul dicatat, kemudian gelas ukur
diketuk-ketukkan sebanyak 500 kali ketukan dengan
kecepatan konstan.
6.
KOMPRESIBILITAS
Pengukuran % kompresibilitas berdasarkan Carrs
Index.
% K = Dt Do x 100%
Dt
Keterangan :
Do = Berat jenis nyata sebelum pemampatan
Dt = Berat jenis nyata setelah pemampatan 500
kali
Tabel 2. Kriteria kompresibilitas ( FI IV, 1995)

%
Kategori
Kompersibilitas
Sangat baik
5-12
(Istimewa)
12-16 Baik
18-21 Sedang
23-35 Kurang baik
33-38 Sangat buruk
Sangat sangat
>40
buruk
Alat Uji Kompresibilitas
7. POROSITAS
Porositas atau keadaan yang berongga-rongga
ini dapat digunakan untuk menjelaskan tingkat
konsolidasi suatu serbuk
Merupakan perbandingan antara volume total
pori dengan volume total serbuk.
Porositas berbanding terbalik dengan waktuh
hancur, jadi jika porositas kecil maka waktu
hancurnya lambat, dan berbanding lurus
dengan kekerasan tablet, jadi jika porositas
kecil tabletnya kurang keras.
7. POROSITAS
Syarat :
Ukuran partikel yang isodiametris dengan
berbentuk shperis atau bulat memiliki nilai
porositas yang tetap yaitu diantara 37-40%,
sedangkan yang berbentuk kubus memiliki
nilai porositas yang lebih tinggi yaitu 46%.
Nilai porositas (e)= V-Vr/V x 100% atau
(e)= 1-Vr/V x 100%
Dimana: (e) : Nilai porositas.
V : Volume total.
Vr: Volume partikel.
7. POROSITAS

1. Porositas Intrapartikel
Granul

Keterangan :
Vb = Volume Benar
Vn = Volume Nyata
n = Density Nyata
(Untapped)
b = Density Benar
7. POROSITAS

2. Porositas Antar Ruang

Keterangan :
Vm = Volume Mampat
Vn = Volume Nyata
m = Density Mampat
n = Density Nyata
7. POROSITAS

3. Porositas Total

Keterangan :
Vm = Volume Mampat
Vb = Volume Benar
m = Density Mampat
b = Density Benar
8. SIFAT ALIR
Metoda untuk mengukur kecepatan aliran
serbuk dapat dilakukan dengan 2 cara:

1.
8. SIFAT ALIR
A. Metoda Corong
. Mengukur kecepatan aliran 30 g granul untuk
melewati corong dengan menggunakan corong
kaca dengan dimensi sesuai.
. Metode corong dapat dilakukan dengan 2
cara :
a. cara bebas
b. cara tidak bebas (paksa) digetarkan
Persyaratan :
100 gram granul waktu alirnya tidak lebih
dari 10 detik (> 10 g/detik).
8. SIFAT ALIR
Cara kerja :
1. Letakkan corong dengan keadaan lobang
corong tertutup pada suatu ketinggian yg
dikehendaki di atas kertas grafik yg terletak
pada bidang horizontal.
2. Timbang seksama 30 g granul dan tempatkan
pada corong alat secara perlahan
3. Buka penutupnya biarkan granul mengalir
4. Catat waktu (gunakan stopwatch)
5. Dan hitung :
kecepatan alir = berat granul (g) / waktu
(detik)
8. SIFAT ALIR
b. Metoda Sudut Istirahat
Masukkan 30 g granul (tutup bagian bawah
corong) kemudian tampung granul di atas
kertas grafik. Hitung . Jika sama dengan :
Sifat alir
sangat mudah
>20
mengalir
20 30 mudah mengalir
30 34 mengalir
kurang
>40 mengalir/aliran
buruk
8. SIFAT ALIR
Cara Kerja :
1. Menggunakan corong yang dipasang pada
statif yang diletakkan dengan ketinggian
tertentu.
2. Kemudian granul dialirkan melalui corong dan
ditampung pada bagian bawahnya (Kertas
Grafik).
3. Gundukan yang tertampung lalu diukur tinggi
(dicatat sebagai h) dan diameternya (dicatat
sebagai d), serta jari-jarinya (r).
8. SIFAT ALIR
Rumus Sudut Istirahat :

Keterangan :
: Sudut Istirahat
h : Tinggi tumpukan granul
r : Jari-jari
8. SIFAT ALIR
C. Sudut Gerak (Angkat)
Prinsipnya adalah material diam menjadi sistem pulva
yang bergerak
Ada 3 metode yang digunakan pada sudut gerak ini,
diantarnya:
1. Material yang terdapat dalam suatu wadah yang
berbentuk silinder, dengan mengangkat dinding silinder
akan berbentuk sudut gerak.
2. Dalam wadah datar dan terisi penuh kemudian dengan
hati-hati wa dah diangkat sampai material tumpah
3. Dalam wadah silinder yang tertutup, mula-mula dengan
permukaan datar kemudian silinder secara hati-hati
diputar sampai material tumpah.
8. SIFAT ALIR
Persyaratan :
Angled of respose than 20 ( Excellent
Flow)
Angled of respose between 20 30
(Good Flow)
Angled of respose between 30 34
(Pass Flow)
Angled of respose greater than 40 (Poor
Flow)
GAMBAR UJI SIFAT ALIR
9. KANDUNGAN AIR
Alat : Heating Drying Oven, Moisture Balance
Caranya :
1. Timbang granul sebanyak 5 g di atas nampan logam
(aluminium).
2. Nyalakan alat, cek suhu pada 700c.
3. Penetapan kandungan lembab dapat di atur skalanya
pada alat (% hilang atau Tidak hilang).
4. Penetapan dihentikan setelah dicapai angka konstant.
. Perhitungan : % kandungan airKet :
% KB = W1/W x %KB = Kandungan bobot
100% %KL = Kandungan lembab
% KL = Wa/W1 x W = Bobot mula-mula
100% W1 = bobot setelah
pengeringan
Wa = W-W1
. Persyaratan : 2-4 %
GAMBAR UJI KADAR AIR