Anda di halaman 1dari 59

KELOMPOK I

Yulia (1600046)
Iga Susanti (1600102)
Mardhatilla (1600103)
Bunga Meranti (1600026)
Royana Br Sitanggang (1600104)
Zulhendra (1600049)
FARMAKOLOGI
Mekanisme Kerja Obat di Dalam
Tubuh (Adsorbsi & Distribusi )
ABSORBSI & DISTRIBUSI

Absorbsi : proses penyerapan obat dari tempat


pemberian, menyangkut kelengkapan.

Distribusi : setelah diabsorbsi obat akan didistribusikan


keseluruh tubuh melalui sirkulasi darah.
ex : transportasi obat dari tempat absorsi ke tempat aksi
(target organ)
FARMAKOKINETIK
Farmakokinetik lebih fokus kepada perjalanan obat-
obatan di dalam tubuh maka farmakodinamik lebih
fokus membahas dan mempelajari seputar efek obat-
obatan itu sendiri didalam tubuh baik dari segi fisiologi
maupun biokimia berbagai organ tubuh serta
mekanisme kerja obat-obatan itu sendiri di dalam
tubuh manusia.
FARMAKOKINETIK
Proses farmakokinetik ini dalam ilmu farmakologi
meliputi beberapa tahapan mulai dari proses absorpsi
atau penyerapan obat, distribusi atau penyaluran obat ke
seluruh tubuh, metabolisme obat hingga sampai kepada
tahap ekskresi obat itu sendiri atau proses pengeluaran
zat obat tersebut dari dalam tubuh.
PROSES ADME DALAM TUBUH
ABSORBSI
ABSORBSI : proses masuknya obat dari tempat obat
kedalam sirkulasi sistemik (pembuluh darah)

ABSORBSI : kecepatan adsorpsi suatu obat tergantung dari kecepatan


obat melarut pada tempat adsorpsi, derajad ionisasi, pH tempat adsorpsi,
dan sirkulasi darah di tempat obat melarut.
JIKA KITA LAGI SAKIT "MAAG" ATAU LAGI DIARE, YANG
AKAN MEMPENGARUHI PROSES ABSORBSI OBAT.
VIDEO ABSORBSI SAKIT
MAAG
VIDEO ABSORBSI
FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI ABSORPSI
Kelarutan obat
Agar dapat diabsorbsi, obat harus
dalam larutan. Obat yang diberikan
dalam larutan akan lebih cepat
diabsorbsi daripada yang harus larut
dulu dalam cairan tubuh sebelum
diabsorbsi. Obat yang sukar sekali larut
akan sukar diabsorbsi pada saluran
gastrointestinal.
FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI ABSORPSI

Kemampuan difusi
melalui sel
membrane
Semakin mudah terjadi difusi
dan makin cepat melintasi sel
membrane, makin cepat obat
diaborbsi.
FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI ABSORPSI

Kosentrasi
obat
Semakin tinggi kosentrasi
obat dalam larutan, makin
cepat diabsorbsi.
FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI ABSORPSI
Sirkulasi pada letak
absorbsi
Jika tempat absorbsi mempunyai
banyak pembuluh darah, maka
absorbs obat akan lebih cepat dan
lebih banyak. Misalnya pada injekasi
anestesi local ditambah adrenalin
yang dapat menyebabkan
vasokonstriksi, dimaksudkan agar
absorbs obat diperlambat dan
efeknya lama.
FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI ABSORPSI
Luas permukaan
kontak obat
Obat lebih cepat diabsorbsi olehi bagian
tubuh yang mempunyai luas permukaan
yang besar, misalnya endetarium paru-
paru, mokusa usus, dan usus halus.
FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI ABSORPSI
Bentuk sediaan cair
Kecepatan absorbs obat tergantung pada
kecepatan pelepasan obat dari bahan
pembawanya. Urutan kecepatan obat dari
bentik peroral sebagai berikut : larutan dalam
air serbuk - kapsul - tablet bersalut gula -
tablet bersalut enteric.
FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI ABSORPSI
Rute cara pemberian obat:
Melalui mulut (oral)

Pemberian obat per oral merupakan cara yang


paling banyak dipakai karena ini merupakan cara
yang paling mudah, murah, aman, dan nyaman
bagi pasien. Berbagai bentuk obat dapat di berikan
secara oral baik dalam bentuk tablet, sirup, kapsul
atau puyer. Untuk membantu absorbsi , maka
pemberian obat per oral dapat di sertai dengan
pemberian setengah gelas air atau cairan yang lain.
FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI ABSORPSI
Melalui sublingual (dibawah lidah)
FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI ABSORPSI
Melalui rectal
Pemberian obat via anus/rektum/rectal,
merupakan cara memberikan obat
dengan memasukan obat melalui anus
atau rektum, dengan tujuan memberikan
efek lokal dan sistematik.
Tindakan pengobatan ini disebut
pemberian obat suppositoria yang
bertujuan untuk mendapatkan efek terapi
obat, menjadikan lunak pada daerah
feses dan merangsang buang air besar
FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI ABSORPSI
Intra vagina
Pemberian obat per vagina, merupakan
cara memberikan obat dengan
memasukan obat melalui vagina, yang
bertujuan mendapatkan efek terapi obat
dan mengobati saluran vagina atau
serviks.
Obat ini tersedia dalam bentuk krim dan
suppositoria yang digunakan untuk
mengobati infeksi lokal.
FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI ABSORPSI
Obat luar (topikal melalui paru-
paru atau inhalasi)
Adalah obat yang cara pemberiannya bersifat
lokal, misalnya tetes mata, salep,tetes
telinga.
Pemberian obat pada kulit, seperti
krim,lotion,aerosol dan sprei.
Pemberian obat pada telinga, seperti tetes
telinga atau salep.
Pemberian obat tetes hidung, cara
memberikan obat pada hidung dengan
tetes hidung.
Pemberian obat pada mata, seperti tetes
mata dan salep.
FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI ABSORPSI
Inhalasi
Penyerapan obat yang diberikan dengan
inhalasi ini dapat terjadi pada selaput mulut,
tenggorokan dan pernafasan. Bentuk sediaan
obat inhalasi adalah dalam bentuk gas dan
zat padat, tetapi bisa juga mempunyai efek
sistematik. Bentuk inhalasi ini bisa dalam
bentuk wadah yang diberi tekanan dan
mengandung zat pemancur (aerosol,
contohnya : Alupent Metered Aerosol).
ABSORBSI OBAT BERDASARKAN
TEMPAT PEMBERIAN
ABSORPSI MELALUI SUBLINGUAL
Mukosa yang tervaskularisasi, baik
rongga mulut maupun rongga
tenggorokan, memiliki sifat absorpsi
yang baik untuk senyawa yang
terionisasi dan lipofil. Keuntungannya;
kerja cepat, tdk ada kerja cairan cerna,
bhn obat tidak harus melalui hati.
Karena permukaan absorpsi yg relatif
kecil, rute bukal atau sublingual hanya
mungkin untuk senyawa yang dapat
diabsorpsi dg mudah, selain itu rasa hrs
enak.

Indikasi penting yaitu pengobatan


serang angina pektoris dg nitrogliserol
dalam kapsul kunyah atau aerosol.
ABSORPSI MELALUI RUTE ORAL
Mrp rute pemberian yang
termudah dan plg sering
digunakan.

Absorpsi melalui saluran cerna


mempunyai arti besar.
A. ABSORPSI DI LAMBUNG
Karena harga pH sangat asam, dalam lambung diabsorpsi
terutama asam lemah dan zat netral yg lipofil, contoh
asetosal dan barbital

Obat yang bersifat asam lemah, hanya sedikt sekali teruarai


menjadi ion dalam lingkungan asam kuat di lambung,
sehingga absorpsinya baik sekali di dalam organ ini.

Sebaliknya, basa lemah terionisasi baik pada pH lambung


dan hanya sedikit diabsorpsi, seperti; alkaloida dan
amfetamin.
Lama perlewatan dalam lambung, tergatung pd
kondisi pengisian dan bhn kandungan lain yg tdp
dalam lambung, pengosongan yang cepat pd
pemberian obat pd saat lambung kosong.

Bahan yang peka terhadap asam, hrs dilindungi


dr asam lambung dg zat penyalut yang tahan
terhadap asam.
B. ABSORPSI DI USUS HALUS
Usus halus merupakan organ absorpsi
terpenting, baik untuk makanan maupun
untuk obat.
Peningkatan luas permukaan diperlukan
untuk absorpsi yg cepat, dpt dicapat melalui
lipatan mukosa, jonjot mukosa dan mikrovili.
Harga pH dr asam lemah dalam duodenum
sampai basa lemah dalam bgn usus halus
bgn dalam.
Dalam usus halus berlaku kebalikannya,
yaitu basa lemah yang diserap paling
mudah, misalnya alkaloida. Beberapa
obat yang bersifat asam atau basa kuat
dgn derajat ionisasi tinggi dgn
sendirinya diabsorpsi dgn sangat
lambat. Zat lipofil yang mudah larut
dalam cairan usus lebih cepat diabsorpsi
Absorpsi dari usus ke dalam sirkulasi
berlangsung cepat bila obat diberikan
dalam bentuk terlarut (obat cairan, sirup
atau obat tetes). Obat padat (tablet,
kapsul atau serbuk), lebih lambat karena
harus dipecah dulu dan zat aktifnya perlu
dilarutkan dalam cairan lambung-usus.
Disini, kecepatan larut partikel
(dissolution rate) berperan penting.
Sehingga, senyawa yang bersifat basa lemah,
sangat baik diabsorpsi di usus halus, karena hanya
sedikit yang terionisasi.

Karena usus halus panjang, maka waktu pelewatan


untuk pengambilan bahan2x yg mampu
berpenetrasi, umumnya cukup

Walaupun demikian, pemendekan waktu pelewatan


bisa terjadi pada saat diare
ABSORPSI PEMAKAIAN MELALUI REKTUM
Kecepatan absorpsi lebih rendah dibanding
pemakaian oral

Alur melalui hati memang dihindari, karena


bagian yang diabsorpsi yaitu 2/3 bgn bawah
rektum lanfsung mencapai vena cava
inferior dan tidak melalui vena porta.
ABSORPSI PEMAKAIAN MELALUI HIDUNG
Mukosa hidung memiliki sifat absorpsi yang
baik spt mukosa mulut, cocok untuk
pemakain obat untuk menurunkan
pembengkakan mukosa pd rinitis
Walaupun demikian, perlu dipertimbangkan,
bahwa akibat absorpsi dapat terjadi efek
sistemik, misal; kenaikan tekanan darah dan
takkhikardia pada bayi setelah pemakaian
tetes hidung yg mengandung alfa
simptominetik.
ABSORPSI PEMAKAIAN PADA MATA
Obat hrs menembus bgn dalam mata, baik struktur
hidrofil maupun lipofil.
Epitel kornea dan endotel kornea berfungsi sbg
pembatas lipofil, sdgkan zat hidrofil dpt berdifusi melalui
stroma.
Dengan demikian, kondisi penembusan akan sangat
menguntungkan untuk obat yg dapat menunjukkan sifat
lipofil dan hidrofil bersama-sama.
Ini terjadi pada asam lemah dan basa lemah yg sebagian
dalam btk tak terionisasi, shg bersifat larut lemak dan
bgn yang terionisasi shg bersifat larut dalam air.
ABSORPSI MELALUI PARU-PARU

Obat yang cocok untuk diabsorpsi melalui


paru2x adalah obat dalam bentuk gas
(aerosol).

Untuk terapi lokal dalam saluran pernafasan,


contoh obat asma.
ABSORPSI OBAT MELALUI KULIT
Kulit scr fisiologis tidak memiliki fungsi absorpsi,
tjd terutama transepidermal.
Stratum korneum yg tdk mengandung kapiler dgn
kandungan air yg sedikit mrp sawar absorpsinya
Nisbah absorpsi tertinggi pd pemakaian pd kulit
dimiliki oleh zat yg larut dalm lemak, yang masih
menunjukkan sedikit larut dalam air.
Zat hidrofil sedikit diabsorpsi oleh kulit.
SEJUMLAH FAKTOR DPT MEMPENGARUHI
ABSORPSI KULIT;
Kenaikan suhu kulit dpt menambah kemampuan
penetrasi zat yg dipakai mll kerja panas dr luar.
Pada daerah kulit yang meradang, jumlah absorpsi
dipertinggi.
Pada bayi, stratum corneum msh sangat sedikit,
karen itu nisbah absorpsi meningkat.
Pada orang tua, ketebalan stratum corneum juga
rendah (kulit kertas), krn itu berlaku aturan yg
sama.
VIDEO RUTE PEMBERIAN OBAT
RUTE PEMBERIAN, KETERSEDIAAN HAYATI DAN SIFAT-SIFAT UMUM
TINGKAT ABSORPSI

Setelah pemberian secara oral, suatu obat bisa diabsorpsi


secara tidak lengkap, ex: hanya 70% dosis digoksin yg
mencapai sirkulasi sistemik, disebabkan karena:
kurangnya absorpsi mll usus, dan sebagian digoksin mengalami metabolisme
oleh bakteri di usus.
Obat yang terlalu hidrofilik (ex. Atenolol) atau terlalu lipofilik (ex. Asiklovir) juga
mempunyai ketersediaan hayati yg rendah krn absorpsinya tidak lengkap
obat sukar menembus membran yg bersifat lipid, jika terlalu lipofilik obat
tersebut kurang melarut menembus lapisan air di sekitar sel.
B. ELIMINASI FIRST PASS
Absorpsi
melalui
dinding usus

Hati
(metabolisme
)

Sistem
sistemik

note: hati adalah alat yg bertanggung jawab atas metabolisme


obat sebelum
sampai ke sistem sistemik, selain itu hati juga dapat
mengeluarkan obat
ke dalam empedu. Hal ini akan dp tmengurangi
ketersediaan hayati obat
DISTRIBUSI OBAT

Apabila obat mencapai pembuluh darah, obat akan


ditranspor lebih lanjut bersama aliran darah ke dalam
sistem sirkulasi
FAKTOR YG MEMPENGARUHI DISTRIBUSI OBAT

Permeabilitas membran

Ikatan protein plasma

Depot penyimpanan
PERMEABILITAS MEMBRAN

Untuk masuk ke
suatu organ, obat
harus menembus
semua membran
yang memisahkan
organ itu dari tempat
pemberian obat.
MEMBRAN SEL
suatu lapisan lipoprotein (lemak dan protein)
yang mengandung lapisan lipoprotein, yg
mengandung banyak pori kecil dan berisi air.
mebran dapat dilintasi dengan mudah oleh zat-zat tertentu
tetap sukar dilalui oleh zat2x lainnya, sehingga disebut
semipermiabel (semi= setengah, permiable = dapat
ditembus).
MEMBRAN SEL

zat lipofil (suka lemak); mudah larut dalam lemak


dan tidak bermuatan listrik, lebih mudah melintasi
membran sel dibandingkan dengan zat-zat hidrofil
yang bermuatan listrik
IKATAN PROTEIN PLASMA

Factor yang penting dalam


distribusi obat adalah ikatannya
dengan protein plasma yang
merupakan makromolekul. Banyak
obat terikat dengan protein di
dalam plasma darah dan jaringan
lain. Umumnya ikatannya
merupakan proses reversible dan
akan berpengaruh terhadap
ketersediaan obat.
Protein yang terdapat dalam
plasma dan mengadakan ikatan
dengan obat adalah albumin
sebagian obat didalam darah, diikat secara
reversibel pada protein plasma. Zat yang
bersifat asam lemah, terikat terutama pada
albumin. Ikatan obat dgn protein plasma, spt
albumin, mengurangi jumlah obat yang bebas
dalm darah. Molekul obat bebas, mencapai
keseimbangan diantara darah dan jaringan,
jadi, penurunan obat dalam serum,
menunjukkan penurunan obat yang dapat
JADI .........
makin lipofil obat, makin tinggi ikatan pada
protein plasma.
ikatan pada protein plasma bersifar reversible
zat yang terikat pada protein plasma dari ruang
intravasal tidak dapat masuk ke dalam sel.
zat yang terikat pada protein plasma tidak
dapat dimetabolisme.
zat yang terikat pada protein plasma tidak
dapat mencapai tempat kerja dan menjadi
efektif
zat yang terikat pada protein plasma tidak
dapat dieliminasi melalui ginjal .
pada uremia, ikatan protein plasma obat-obatan
dapat berkurang.
DEPOT PENYIMPANAN

Obat-obatan lipofilik seperti tiopental yang


bersifat sedatif berakumulasi dalam lemak. Obat-
obat ini dibebaskan secara perlahan dari
penyimpanan lemak. Jadi orang yang gemuk
dapat disedasi lebih lama daripada orang yang
kurus yang diberikan dosis tiopental yg sama.
Obat pengikat kalsium, seperti antibiotik
tetrasiklin, berakumulasi dalam tulang dan gigi.
VOLUME DISTRIBUSI

volume yang dibutuhkan untuk memuat


dosis yang diberikan jika dosis itu
didistribusikan dengan merata pada
konsentrasi yang diukur dengan plasma.
CONTOH:
Suatu obat dengan Vd=3 liter, didistribusikan hanya dalam
plasma, Karena volume plasma = 3 liter.

Sedangkan obat dengan Vd= 16 liter, akan didistribusikan


dalam cairan extraseluler krn cairan extra seluler = 3 liter
plasma, ditambah 10-13 liter cairan interstitial.

Obat dg Vd > 46 liter mungkin dibuang ke dalam depot


karena tubuh hanya mengandung 40-46 liter cairan.
RUANG DISTRIBUSI
Berdasarkan fungsinya, organisme dpt dibagi
dlm ruang distribusi yang berbeda;
ruang intra sel

ruang ekstra sel.


Ruang intra sel (75% dari bobot badan)

termasuk ke dalam nya cairan intra sel dan


komponen sel yg padat

Ruang ekstra sel (22%)

termasuk ke dalamnya; air plasma (4%), ruang usus


(16-20%) dan cairan transsel (1.5 %)
RUANG DISTIBUSI