Anda di halaman 1dari 13

KHULAFAUR

RASYIDIN

Usman Bin Affan


Ali Bin Abi Thalib
1. Usman Bin Affan (24-36 H)
A. Riwayat Usman Bin Affan
Usman merupakan seorang sahabat nabi yang sangat populis.
Nama lengkapnya Usman ibn Affan ibn Abdillah bin Umayyah Ibn
Abdi Syams ibn Abdi Mannaf Ibn Qushayi. Ibunya adalah urwah, putri
ibnu hakim al-Baidha, putri Abdul Muthallib, Dzu Al-Nurain (julukan
ini di berikan kepadanya karena Usman menikah dengan dua putri
Rasulullah yaitu Ruqayyah dan Ummu Kulsum).
Nasab Usman melalui garis ibunya bertemu dengan nasab Nabi
Muhammad SAW pada Abdi Mannaf ibn Qushayi. Kalau Usman
bersambung melalui Umayah ibn Abdi Syams ibn Abdi Mannaf,
sedang Rasulullah melalui Abdul Muthallib ibn Hasyim ibn Abdi
Mannaf. Baik suku Umayyah maupun suku Hasyim.
B. Pengangkatan Usman sebagai Khalifah

Menjelang wafatnya Umar, ia menugaskan kepada lima


sahabat, yaitu Abdur Rahman bin Auf, Talhah, Zubair, Usman
Bin Affan, Ali bin Abi Thallib, dan Saad ibnu Waqas.
Kelompok tersebut di ketuai oleh Abdullah bin umar.
Mekanisme pemilihan khalifah di tentukan sebagai berikut :
1.yang berhak menjadi khalifah adalah anggota yang di pilih
oleh formatur dengan suara terbanyak.
2.apabila suara berbagi secara berimbang Abdullah bin Umar
berhak menentukannya.
3.apabila campur tangan Abdullah bin Umar tidak diterima,
calon yang dipilih Abdur-Rahman bin Auf harus diangkat
menjadi khalifah
Setelah Sayyidina Umar wafat Abdur Rahman meminta
pendapat kepada anggota formatur dan sesuai dengan
permusyawaratan bersama dan hasil pemilihan, Usman
lah yang kemudian terpilih menjadi Khalifah yang ke-3
dari Khulafaur-Rasyidin. Masa pemerintahannya adalah
yang terpanjang dari semua khalifah di zaman Khalifah
Rasyidin, yaitu 12 tahun
C. Perluasan Islam dimasa Utsman bin Affan
1. Armenia, Afrika, dan Cyprus telah dikuasai
2. Kaum muslimin terus memperkokoh kekuatan di Persia yang
telah takluk ditangan mereka sebelumnya
3. Perluasan itu meliputi bagian pesisir pantai atau kelautan,
karena pada saat itu kaum muslimin telah memiliki armada laut
4. Tabaristan berhasil ditaklukan oleh Sa`id bin Ash
5. menumpas pendurhakaan dan pemberontakan yang terjadi
dibeberapa negri yang telah masuk kebawah kekuasaan Islam
dizaman Umar
D. Usaha penyeragaman dalam bacaan al-Quran
Setelah Islam tersebar luas, ternyata banyak orang yang membaca
Quran dengan lafaz yang beragam, dan di sana sini sering terjadi
perdebatan sekitar qirat mana yang lebih tepat. Sampai pernah
terjadi pula perselisihan bacaan antara para guru Al-Quran dan
anak-anak murid mereka, yang ketika setelah belajar di sekolah
mereka , mereka lalu membacakannya semula di rumah, dan
ternyata apa yang di dengar orang tua mereka lain lain dai apa
yang di dengarkannya dari pada guru-gurunya.
Saat itulah, setelah bermusyawarah dengan para ahli Utsman
kemudian mengambil langkah menyeragamkan bacaan Quran
E. MUSHAF USMANI
Utsman memerintahkan kepada Zaid bin Sabit al-
Anshari untuk menuliskan mushaf itu dan di imlakan
oleh Said bin As al-Umawi, dengan di saksikan oleh
abdullah bin Umar dan Abdurrahman bin Haris bin
Hisyam al-Makhzumi.
Sesudah penulisan itu didasarkan pada satu macam
bacaan, Usman memerintahkan untuk menuliskan satu
mushaf untuk Syam, satu untuk Mesir, satu untuk Bashrah,
satu untuk Kuffah, satu untuk Makkah dan satu lagi untuk
Yaman. Satu mushaf di tinggalkan di Madinah. Umat sudah
merasa puas dengan semua mushaf ini, dan orang
menamakannya mushaf Utsman, sebab di tulis atas dasar
perintah Utsman, kendati tidak di tulis dengan tangannya
sendiri
F. PENYEBAB TIMBULNYA FITNAH
1.Utsman suka memperhatikan dan mengontrol mereka, baik
sahabat atau bukan sahabat
2.orang-orang yang tidak senang kepda Utsman dari orang-
orang juhud dan wara` yang melihat harta dan kekayaan sudah
memperdaya kaum muslimin, akibat penaklukan-penaklukan
perang
3.pegawai-pegawai yang di berhentikan dari jabatannya
seperti `Amru bin Ash, sehingga tersingung pada Utsman
F. Terbunuhnya kahlifah Usman
Utsman di hadapkan kepada dua tuntutan dari para demonstran :
segera mengundurkan diri atau menyerahkan Marwan bin al
Hakam, sekretaris Khalifah yang juga keponakan kepada mereka
untuk diminta pertanggung jawabannya tentang surat itu. Namun
Ustman bersikukuh pasa pendiriannya tidak akan mengundurkan
diri dan tidak menyerahkan Marwan kepada mereka
Setelah tiga hari tiga malam ultimatum para perusuh tidak di
gubris oleh Utsman, beberapa penjaga berhasil menerobos
barisan penjaga gedung Utsman dari atap rumah bagian
samping lalu membunuh Utsman yang ketika itu sedang
membaca Al-Quran
2. ALI BIN ABI THALIB (36-41 H)
A. Riwayat Hidup Ali Bin Abi thalib
Ali adalah putera dari Abi Talib ibn Abdul Muthallib. Ia adalah
sepupu nabi SAW yang telah ikut nersamanya sejak bahaya
kelaparan mengancam kota mekah, demi untuk membantu
keluarga pamannya yang mempunyai banyak putera. Ia telah
masuk islam pada umur 13 tahun. Ia menemani nabi dalam
perjuangan menegakkan islam, baik di Makkah maupun di
madinah, dan ia di ambil menantu oleh nabi SAW, dengan
mengawinkannya dengan Fatimah.
B. Pengangkatan Ali sebagai Khalifah
Bebrapa hari setelah pembunuhan Usman, stabilitas keamanan
kota Madinah menjadi rawan. Gafiky Ibnu Harb memegang
keamanan ibu kota Islam itu selama kira-kira 5 hari sampai
terpilihnya Khalifah yang baru. Kemudian Ali bin Abi Thalib
tampil menggantian Usman, menerima sumpah setia (Baiat) dari
sejumlah kaum muslimin
C. Pemberontakan di Masa Ali
, Ali menghadapi pemberontakan Talhah, Zubair dan Aisyah.
Alasan mereka Ali tidak mau menghukum para pembunuh Usman
dan mereka menuntut bela terhadap darah Usman yang telah
ditumpahkan secara dzalim. Ali sebenarnya ingin sekali
menghindari perang. Dia mengirim surat kepada Talhah dan
Zubair agar keduanya mau berunding untuk menyelesaikan
perkara itu secara damai. Namun, ajakan tersebut ditolak.
Akhirnya pertempuran yang dahsyatpun berkobar. Perang ini
dikenal dengan nama Perang Jamal (Unta) karena Aisyah
dalam pertempuran itu menunggan unta
D. TERBUNUHNYA ALI BIN ABI THALIB
Munculnya kelompok Al-Khawarij menyebabkan tentaranya
semakin lemah, sementara posisi Muawiyah semakin kuat. Pada
tanggal 20 Ramadhan 40H (660M) Ali terbunuh oleh salah
seorang anggota Khawarij. Kedudukan Ali sebagai Khalifah
kemudian dijabat oleh anaknya, Hasan selama beberapa bulan.
Namun, karena Hasan ternyata lemah, smentara Muawiyah
semakin kuat, maka Hasan membuat perjanjian damai. Perjanjan
ini dapat mempersatukan umat Islam kembali dalam satu
kepemimpinan politik. Di bawah Muawiyah bin Abi Sofyan. Di
sisi lain perjanjian itu juga menyebabkan Muawiyah menjadi
penguasa absolut dalam Islam