Anda di halaman 1dari 29

TEKNOLOGI

LINGKUNGAN 3
KELOMPOK II KA01
AMELIA LARASATI (1513005)
DIKA KUSTIANI (1513022)
PUTRI HANAFIYANTI (1513028)
NASHIHA SAKINA (1513032)
ESTER SOFIAH (1513070)
PENGENDALIAN PENCEMARAN
PARTIKULAT
PENDAHULUAN

Terlalu banyaknya sumber pencemaran udara di lingkungan merupakan masalah yang harus secepatnya
diatasi. Pencemaran udara di lingkungan semakin membahayakan kelangsungan makhluk hidup di bumi.
Termasuk manusia yang banyak beraktivitas dan membutuhkan udara yang bersih. Namun, pencemaran
udara sudah melanda negeri Indonesia ini. Hal ini terjadi karena tingkah laku manusia sendiri yang kurang
menjaga lingkungan. Pencemaran udara bisa terjadi dari faktor transportasi, industri, perumahan, dan
perkotaan. Faktor tersebut merupakan sumber konstribusi terbesar pencemar. Faktor alam juga menjadi
penyebab pencemaran udara, seperti kebakaran hutan, gunung meletus, gas alam yang beracun.
Penurunan kualitas udara atau pencemaran udara yang kurang teratasi akan berdampak buruk untuk
kesehatan manusia.
Salah satu parameter pencemaran udara yakni Partikulat. Partikulat berbahaya bagi kesehatan manusia,
karena dapat mengganggu sistem pernafasan manusia hingga dapat menyebabkan kanker, selain itu masih
banyak lagi dampak buruk yang ditimbulkan oleh partikulat tersebut pada berbagai aspek.
Memperhatikan kondisi di atas maka perlu dilakukan program pengelolaan dan pengendalian pencemaran
udara. Sebagai langkah awal dapat dilakukan kegiatan monitoring ( sampling) untuk mengetahui sejauh mana
tingkat pencemaran udara diperkotaan sehingga dapat menentukan prioritas pengelolaan dan pengendalian
yang harus dilakukan.
RUMUSAN MASALAH

Apa yang dimaksud dengan polusi udara dan apa saja


sumber pencemar udara?
Apa saja parameter (kriteria) pencemar udara?
Apa yang dimaksud dengan partikulat dan bagaimana sifat
dan dampak pencemar partikulat terhadap makhluk hidup
dan lingkungan?
Bagaimana metode pengujian atau pengukuran partikulat di
udara?
Bagaimana cara pengendalian pencemar udara partikulat?
TUJUAN

Untuk mengetahui definisi polusi udara dan sumber pencemar


udara.
Untuk mengetahui kriteria pencemar udara.
Untuk mengetahui definisi partikulat dan sifatnya, serta
memahami dampak pencemar partikulat terhadap makhluk
hidup dan lingkungan.
Untuk memahami metode pengujian atau pengukuran
partikulat di udara.
Untuk mengetahui cara pengendalian pencemar udara
partikulat.
PEMBAHASAN

I. Pengertian Polusi udara (Air Pollution)


Polusi udara adalah suatu kondisi dimana udara tercemari oleh bahan kimia,
zat/partikel dan bahan biologis lain yang bisa membahayakan kesehatan dan
makhluk hidup serta organisme lainnya. Polusi udara bisa mengakibatkan rusaknya
lapisan atmosfer dan tercemarinya oksigen yang dibutuhkan oleh manusia.

Udara Ambien
Menurut PP nomor 41 tahun 1999, Udara ambien adalah udara bebas di
permukaan bumi pada lapisan troposfir yang berada didalam wilayah yurisdiksi
Republik Indonesia yang dibutuhkan dan mempengaruhi kesehatan manusia,
makhluk hidup dan unsur lingkungan hidup lainnya.
Udara di sekeliling kita, atau udara ambien, memiliki kualitas yang mudah
berubah. Intensitas perubahannya dipengaruhi oleh interaksi antar berbagai
polutan yang dilepas ke udara ambien dengan faktor-faktor meteo-rologis
(angin, suhu, hujan, dan cahaya matahari.)
Bergerak
(contoh : mobil,
kendaraan bermotor/
Sumber yang ada di lalu
Antropogenik lintas)
Sumber
alamiah Tidak bergerak
(contoh : pabrik,
Sumber (vegetasi, debbu
pembangkit listrik,
tanah kering yang
Pencemar terbawa oleh angin,
tempat pembakaran
Udara dan rumah tangga)
letusan gunung
berapi, aktivitas
geothermal, badai
dan kebakaran
hutan)
Polutan digolongkan sebagai polutan primer dan polutan sekunder. Polutan
primer adalah polutan-polutan yang diemisikan langsung dari sumbernya, baik itu
berasal dari a) sumber alamiah seperti badai, letusan gunung berapi, semburan gas
alam dari tanah, dan b) kegiatan-kegiatan manusia. Contoh dari polutan primer
adalah CO, SO2, Cl2, pratikulat dan debu. Di dalam udara ambien, sebagian polutan
primer akan mempertahankan bentuk senyawa aslinya. Sementara itu sebagian lagi
akan berubah bentuk sebagai akibat adanya interaksi dengan sesama polutan atau
dengan unsur atmosfer. Polutan-polutan yang terjadi akibat interaksi dan reaksi itu
dinamakan polutan sekunder. Contohnya adalah O3 (ozon) dan PAN (peroxyacetyl
KRITERIA
POLUTAN
UDARA
(The national ambient air
quality standard, US
environmental protection
agency (EPA))

Partikulat Karbon Sulfur Nitrogen


matter Ozon (O3) monoksida dioksida dioksida Timbal (Pb)
(PM) (CO) (SO2) (NO2)
II. Parameter Pencemar Udara

TOTAL SUSPENDED PARTICULATE


Partikulat adalah padatan atau cairan di udara dalam bentuk asap, debu dan uap. Komposisi
dan ukuran partikulat sangat berperan dalam menentukan tingkat penurunan kualitas udara.
Ukuran partikulat debu yang membahayakan kesehatan umumnya berkisar 0,1 mikron - 10
mikron. Partikulat juga merupakan sumber utama haze (kabut asap) yang menurunkan
visibilitas.
PM10 berukuran 10 mikron. Mengganggu saluran pernafasan bagian atas dan
menyebabkan iritasi.
PM2,5 berukuran 2,5 mikron. Langsung masuk ke dalam paru-paru dan mengendap di
alveoli.
OZON
Pada lapisan troposfer terbentuknya O3 akibat adanya reaksi fotokimia pada senyawa oksida
nitrogen (NOx) dengan bantuan sinar matahari. Konsentrasi ozon yang tinggi dapat
menyebabkan gangguan pada sistem pernafasan, serangan jantung dan kematian. Sebaliknya,
di lapisan stratosfer keberadaan ozon sangat dibutuhkan untuk menyelimuti permukaan bumi
dari radiasi sinar ultraviolet.
SULFUR DIOKSIDA

Gas tidak berwarna, berbau dalam konsentrasi pekat. Banyak dihasilkan dari pembakaran bahan
bakar yang mengandung sulfur, misalnya solar dan batu-bara. Dapat menyebabkan sesak nafas
bahkan kematian pada manusia dan juga pada hewan. Pada tumbuhan, menghambat
fotosintesis, proses asimilasi dan respirasi.

NITROGEN DIOKSIDA

Gas ini berwarna coklat kemerahan dan berbau tajam. Terutama dari proses pembakaran bahan
bakar fosil, seperti bensin, batubara dan gas alam. NO 2 bisa berasal dari oksidasi dengan

kandungan N dalam bahan bakar dan juga oksidasi dengan N udara karena panas. NO 2 bersifat

racun terutama terhadap paru-paru. Paru-paru yang terkontaminasi dengan gas NO x akan
mengalami pembengkakan.

TIMBAL
III. Pengertian Partikulat

Partikulat adalah subdivisi kecil dari material padat tersuspensi dalam gas atau cair. Materi
partikulat (particulate matter) didefinisikan sebagai material dalam bentuk solid maupun liquid di
udara dengan ukuran diameter partikel sekitar 0,005m hingga 100 m meskipun yang dalam
bentuk suspensi secara umum kurang dari 40 m (1m = 1 mikron meter=10-4 cm).
Partikulat di udara tidak hanya dihasilkan dari emisi langsung berupa partikulat, tetapi juga dari
emisi gas-gas tertentu yang mengalami kondensasi dan membentuk partikulat, sehingga ada
partikulat primer dan sekunder. Partikulat primer adalah partikel yang langsung diemisikan
berbentuk partikulat atau partikulat yang diemisikan langsung dari sumber, seperti : lokasi
konstruksi, jalan beraspal, ladang, cerobong asap, dan kebakaran. Partikel sekunder terbentuk
melalui reaksi substansi kimia di atmosfer seperti sulfur dioksida dan nitrogen oksida yang
dipancarkan dari pembangkit listrik, industri, dan kendaraan bermotor. , sedangkan partikel
sekunder adalah partikel yang terbentuk di atmosfer.

PM10 berukuran 10 mikron.


PM2,5 berukuran 2,5 mikron.
Partikulat di udara dapat diklasifikasikan menjadi partikulat padat (aerosol
padat) atau droplet cair (aerosol cair)
Dust (debu): Debu berukuran antara 1-104 m. Merupakan partikel padat,
berukuran kecil, berasal dari pecahan massa yang lebih besar, terjadi melalui
proses penghancuran, pengasahan, peledakan pada proses atau penanganan
material seperti semen dan batubara.
Fume (Uap): Diameter partikel uap antara 0,03 hingga 0,3 m. Merupakan
partikel padatan dan halus sering berupa oksida logam, berbentuk melalui
kondensasi uap materi padatan dari proses sublimasi, ataupun pelelehan logam.

Mist (kabut): Mist memiliki diameter kurang dari 10 m. Merupakan partikel cair
berasal dari proses kondensasi uap air, umumnya tersuspensi dalam atmosfer
atau berada dekat dengan permukaan tanah.
Fog (kabut): Fog adalah mist bila konsentrasi mist cukup tinggi sehingga
menghalangi pandangan.
Sifat-Sifat Partikulat
1. . Mengendap
Partikel yang berukuran lebih besar dari 2-40 mikron (tergantung dari densitasnya) tidak
bertahan terus di udara, melainkan akan mengendap. Partikel yang tersuspensi secara
permanen di udara juga mempunyai kecepatan pengendapan, tetapi partikel-partikel ini tetap
terdapat di udara karena gerakan udara.

2. Sifat Adsorbsi

Kemampuannya sebagai tempat adsorbsi (sorbsi secara fisik) atau kimirisorbsi (sorbsi disertai
dengan interaksi kimia).

3. Sifat Absorbsi

Jika molekul yang tersorbsi tersebut larut di dalam partikel, jenis sorbsi ini sangat mementukan
tingkat bahaya dari partikel.

4. Sifat Optik
Partikel yang mempunyai diameter kurang dari 0,1 mikron berukuran sedemikian kecilnya
dibandingkan dengan panjang gelombang sinar, sehingga partikel-partikel tersebut
Dampak Partikulat
1.) Pengaruh Terhadap Tanaman
Pengaruh partikulat terhadap tanaman terutama adalah dalam bentuk debunya, dimana
debu tersebut bergabung dengan uap air atau air hujan gerimis akan membentuk kerak
yang tebal pada permukaan daun, dan tidak dapat tercuci dengan air hujan kecuali
dengan menggosoknya. Lapisan debu partikulat pada permukaan daun dapat menutupi
stomata daun. Gas dan uap air keluar-masuk struktur daun melalui stomata. Akibatnya
transport gas , uap air ke dalam struktur daun terganggu. Partikulat yang melapisi
permukaan daun juga menyebabkan kemampuan fotosintesis daun menurun. Sehingga
akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan vegetasi. Tanda-tanda kerusakan daun akibat
pencemaran udara seperti necrosis , chlorosis dan bercak pada permukaan daun.

2.) Pengaruh Terhadap Manusia


Senyawa-senyawa pencemar yang terdapat di udara dapat masuk kedalam tubuh melalui
sistem pernafasan. Jauhnya penetrasi zat pencemar kedalam tubuh bergantung kepada
jenis pencemarnya sendiri. Dampak kesehatan yang paling umum dijumpai adalah
5-10 mikron akan tertahan oleh saluran pernapasan bagian atas.
2-5 mikron akan tertahan oleh saluran pernapasan bagian tengah.
1-3 mikron hinggap dipermukaan/ selaput lendir sehingga menyebabkan vibrosis
paru.
0,1-0,5 mikron melayang di permukaan alveoli.

3.) Pengaruh Terhadap Bahan Lain


Jenis dan tingkat kerusakan yang dihasilkan oleh partikulat dipengaruhi oleh
komposisi dan sifat fisik partikulat tersebut. Kerusakan pasif terjadi jika partikulat
menempel atau mengendap pada bahan-bahan yang terbuat dari tanah sehingga harus
sering dibersihkan. Kerusakan kimia terjadi jika partikulat yang menempel bersifat
IV. Metode Pengujian dan Pengukuran Partikulat di Udara

Metode analisis yang sederhana dengan waktu pengukuran yang lama seperti titrasi
atau gravimetri yang digunakan untuk mengukur kadar debu di lingkungan. Untuk
pengumpulan partikulat/debu dari udara, yang perlu diperhatikan adalah ukuran
Teknik pengumpulan yang umum digunakan adalah :
diameter dari partikulat tersebut.
a. Teknik pengumpulan secara impaksi

b. Teknik Filtrasi
Metode Analisa
Banyak metode analisa yang dapat digunakan untuk pengukuran partikulat di udara dengan kisaran diameter partikulat tertentu.

1. HVS (High Volume Sampler)

Metode High Volume Sampling. Metode ini digunakan untuk pengukuran total suspended
partikulat matter (TSP, SPM), yaitu partikulat dengan diameter 100 m, dengan prinsip
dasar udara dihisap dengan flow rate 40-60 l/menit, maka suspended particulate matter
(debu) dengan ukuran < 100 m akan terhisap dan tertahan pada permukaan filter
microfiber dengan porositas< 0,3 m. Partikulat yang tertahan di permukaan filter ditimbang
secara gravimetrik, sedangkan volume udara dihitung berdasarkan waktu sampling dan flow
rate.
2. MVS (Middle Volume Sampler)

Cara ini menggunakan filter berbentuk lingkaran (Bulat) dengan porositas 0,3 - 0,45 m, kecepatan pompa yang dipakai
untuk pengangkapan suspensi Particulate Matter ini adalah 50 500 lpm. Operasional alat ini sama dengan High
Volume Sampler, hanya yang membedakan dari ukuran filter membrannya. HVS ukuran A4 persegi panjang, sedang
MVS ukuran bulat diameter 12 cm.

3. LVS (Low Volume Sampler)

Cara ini menggunakan filter berbentuk lingkaran (Bulat) dengan porositas 0,3 - 0,45 m, kecepatan pompa

yang dipakai untuk pengangkapan Suspensi Partikulate Matter ini adalah 10 30 lpm.
Baku Mutu Udara Ambien Particulate Matter
(PM)
Baku mutu udara ambien adalah ukuran batas atau kadar zat,
energi, dan /atau komponen yang ada atau yang seharusnya
ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaanya
dalam udara ambien. Baku mutu udara ambien dan emisi
ditetapkan dengan maksud untuk melindungi kualitas udara di
suatu daerah. Baku mutu udara ambien dan emisi limbah gas
yang dibuang ke udara harus mencantumkan secara jelas
dalam izin pembuangan gas.
Pada tahun 1971, United States EPA (Environmental
Protection Agency) mendirikan NAAQS (National Ambient Air
Quality Standard). Standar partikulat yang terdahulu adalah
TSP (Total Suspended Particulate). Standar ini diganti pada
tahun 1987 dengan partikel yang berukuran kurang dari 10
m diameter aerodinamis (PM10) dan Berdasarkan Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999
Tangal 26 Mei 1999 Baku Mutu Udara Ambien Nasional
ditentukan konsentrasi rata-rata tahunan 50g/Nm 3 dan
V. Pengendalian Pencemaran Partikulat
Pengendalian pencemaran partikulat dapat dilakukan dengan cara teknis dan non teknis. Cara teknis misalnya
menggunakan teknologi, sedangkan cara non teknis misalnya menggunakan peraturan hukum.

1. Pengendalian Non-Teknis

Peraturan perundangan dalam kaitannya dengan upaya penanggulangan pencemaran yang bersifat nasional
adalah undang undang no. 4 tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Pengelolaan lingkungan Hidup. Selain itu,
ada peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 41 tahun 1999 tentang pengendalian pencemaran udara.
Peraturan ini mencakup ketentuan umum, perlindungan mutu udara, status mutu udara ambien, baku mutu
emisi dan ambang batas emisi gas buang, baku tingkat gangguan dan ambang batas kebisingan, indeks standar
pencemaran udara (ISPU), pengendalian pencemaran udara, pengawasan, dan sanksi.Beberapa peraturan
tentang upaya pengendalian pencemaran diterapkan untuk sektor industri, sektor pertambangan, sektor
transportasi, dan teknologi pengendalian pencemaran.

2. Pengendalian Teknis

Pengendalian dengan cara teknis adalah menggunakan teknologi. Contoh teknologi yang digunakan yaitu
Gravity Settler, Cyclon, Electrostatic precipitator, Fabric filter, danWet Scrubber.
ALAT PPU DAN JENIS GAYA PADA
PENYISIHAN PARTIKULAT
GRAVITY SETTLER

Digunakan sebagai penangkap debu awal untuk


menghilangkan partikel dengan ukuran besar.
Tergantung pada kecepatan mengendap secara
gravitasi
Untuk menyisihkan partikel ukuran besar (sangat
kasar, supercoarse) sekitar >=75 mikrometer
Faktor penentu : Vs , kecepatan mengendap
(terminal settling velocity)
Cyclone (Mechanical Collector)

Prinsip : Menggunakan gaya sentrifugal dan gaya


gravitasi

Udara mengandung partikulat dipaksa untuk


berputar seperti siklon (spiral), partikel besar
tidak dapat bergerak bersama karena adanya
gaya momentum/inersia. Akibatnya terlepas dari
aliran gas dan mengenai dinding Cyclone akibat
gaya sentrifugal, dan jatuh/terkumpul dalam
hopper akibat gaya gravitasi. Saat gas mencapai
dasar Cyclone, gerakan akan berputar ke arah
yang berlawanan menuju ke atas tabung dan
keluar lewat lubang keluar.
Baghouse Filter (Fabric Filter)

Fabric fiter merupakan alat kontrol udara yang paling


umum digunakan untuk menyisihkan partikulat. Fabric
Filter menggunakan filter yang terbuat dari nilon atau wol.
Sering disebut juga baghouses, bag filters, fabric dust
collector, filter collectors, dust collectors, cloth collectors
dan filter houses

Penyisihan partikel dilakukan dengan mengalirkan udara


melalui sejumlah filter yang menyebabkan partikulat
tertahan pada filter tersebut. Kemampuan penyisihan
meningkat akibat terbentuknya cake.
Electrostatic Precipitator (EP)

Penerapan gaya elektrostatik dalam


pengendalian partikulat melalui
presipitasi. EP sangat efektif sebagai
pengendali partikulat berukuran <
10-20 m, dapat mencapai 99%. EP
biasanya digunakan pada industri
semen, industri baja, industri pulp
dan paper, boiler .

Penyisihan partikel dilakukan dengan


mengalirkan udara melalui sejumlah
kawat pemberi muatan listrik,
Wet Scrubber

Merupakan pengendali basah, dapat menyisihkan partikulat


dan gas.
Menggunakan droplet air sebagai komponen utama
pembersih.
Efisiensinya lebih tinggi dibanding settling chamber dan
cyclone, namun setara dengan EP dan fabric filter.
Transformasi masalah pencemaran udara ke pencemaran air.
Prinsip mekanisme proses yaitu tumbukan dan difusi.
Disiapkan untuk 2 sistem pengoperasian yaitu untuk
penyisihan partikulat dan gas dengan mengontakkkannya
dengan cairan dan untuk memisahkan liquid.

Penyisihan partikel dilakukan dengan mengalirkan udara melalui sebuah ruang


yang disemprot oleh cairan penyerap (biasanya dipakai air), sehingga terjadi
penyerapan terhadap partikel oleh cairan penyerap.
PENUTUP
KESIMPULAN

Sumber pencemaran udara berasal dari proses alami dan antropogenik. Proses
antropogenik memiliki peran terbesar terhadap peningkatan pencemaran udara di suatu
wilayah, salah satu parameter pencemar udaranya yaitu partikulat. Dampak pencemar
partikulat dapat membahayakan manusia, hewan, tumbuhan dan bahan lain. Hal ini
dapat terjadi jika kadar pencemarnya tinggi melebihi kemampuan toleransi makhluk
hidup. Cara pengendalian pencemar udara partikulat dibagi dua yaitu pengendalian non-
teknis dan teknis. Pengendalian non-teknis yaitu menegakkan peraturan perundang-
undangan pada level kebijakan pusat, provinsi dan kabupaten/kota dalam menekan
sumber pencemaran udara, sedangkan pengendalian teknis yaitu dengan menggunakan
teknologi, contohnya Gravity Settler, Cyclon, Electrostatic precipitator, Fabric filter,
danWet Scrubber.
DAFTAR PUSTAKA