Anda di halaman 1dari 18

PEMERINTAH KOTA BANDUNG

JABATAN FUNGSIONAL
TERTENTU/KHUSUS
AUDITOR & P2UPD
Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP)

DILINGKUNGAN INSPEKTORAT KOTA BANDUNG


Jalan Tera No.20 BANDUNG 1
Jabatan Fungsional PNS
Pasal 4
(1) Presiden menetapkan rumpun
Peraturan Pemerintah. jabatan fungsional atas usul Menteri
yang menangani urusan pemerintahan
16/1994 Ttg
di bidang pendayagunaan aparatur
Jabatan Fungsional negara.
PNS dirubah (2) Penetapan rumpun jabatan
dengan PP 40/2010 fungsional sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur dengan Peraturan
Presiden.

JENIS DAN KRITERIA JABATAN FUNGSIONAL


Pasal 2 :
(1) Jabatan - Jabatan Fungsional dihimpun dalam
rumpun jabatan fungsional.
(2) Jabatan fungsional sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) terdiri dari:
a. Jabatan Fungsional Keahlian;
b. Jabatan Fungsional Ketrampilan.

2
1. Auditor Ahli :
- Auditor Utama /PM( IV.d)
JAFUNG AUDITOR - Auditor Madya /PT(IV.a - IV.c)
- Auditor Muda / KT ( III.c III.d)
Permen.PAN 220/2008 - Auditor Pertama/ AT (III.a III.
Perubahan Kepmen.PAN
19/1996 Ttg Jabatann 2. Auditor Terampil :
Fungsional Auditor dan - Auditor Penyelia / KT ( III.c)
- Auditor Pelaksana Lanjutan / A
Angka Kreditnya
(III.a III.b)
- Auditor Pelaksana / AT ( II.c II.d
JAFUNG P2UPD
Pengawas Pemerintahan Pertama / AT Perman.PAN :
( III.a III.b)
15/2009 Ttg Jabatan
Pengawas Pemerintahan Muda / KT
(III.c III.d) Fungsional
Pengawas Pemerintahan Madya/ PT Pengawas
( IV.a IV.c ) Penyelenggaraan
Urusan
Pemerintahan di
eterangan dalam Audit / Pemeriksaan : Daerah dan Angka
PM = Pengendali Mutu Kreditnya
PT = Pengendali Teknis
KT = Ketua Tim Beban
Tim Mandiri Kerja & Risiko ting
AT = Anggota Tim
3
RUMPUN JABATAN FUNGSIONAL PNS
1. Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 1999 Tentang Rumpun
Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil :
Pasal 8 :
(1) Kepada Pegawai Negeri Sipil yang diangkat dalam jabatan
fungsional keahlian atau jabatan fungsional Keterampilan
diberikan tunjangan jabatan fungsional.
(2) Besarnya tunjangan jabatan fungsional masing masing
jenjang jabatan fungsional keahlian adalah :
a. Jenjang Utama, setinggi - tingginya sama dengan
tunjangan jabatan struktural eselon Ia;
b. Jenjang Madya, setinggi - tingginya sama dengan
tunjangan jabatan struktural eselon IIa;
c. Jenjang Muda, setinggi - tingginya sama dengan
tunjangan jabatan struktural eselon IIIa;
d. Jenjang Pertama, setinggi - tingginya sama dengan
tunjangan jabatan struktural eselon IVa.
(3) Besarnya tunjangan jabatan fungsional untuk masing - masing
jenjang jabatan fungsional keterampilan adalah :
a. Jenjang Penyelia, setinggi - tingginya sama dengan
tunjangan jabatan struktural eselon IIIa;
b. Jenjang Pelaksana Lanjutan, setinggi - tingginya sama
dengan tunjangan jabatan struktural eselon IVa;
c. Jenjang Pelaksana, setinggi - tingginya sama dengan 4
2. Peraturan Presiden Republik Indonesia Tentang Perubahan
Kepres.No. 87 Tahun 1999 Tentang Rumpun Jabatan
Fungsional Pegawai Negeri Sipil :
Pasal 8A
(1) Ketentuan besaran tunjangan jabatan fungsional
sebagaimana dimaksud daiam pasal g ayat (2) tidak
berlaku bagi jabatan fungsional peneliti.
(2) Ketentuan besaran tunjangan jabatan fungsional Peneliti
diatur dengan peraturan presiden tersendiri.
3. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 116 tahun
2014 Tentang Perubahan Kedua atas keputusan presiden
nomor 87 tahun 1999 tentang rumpun jabatan fungsional
pegawai negeri sipil :
Pasal 8A
(1) Ketentuan besaran tunjangan jabatan fungsional sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) tidak berlaku bagi jabatan
fungsional Peneliti dan jabatan fungsional Jaksa.
(2) Ketentuan besaran tunjangan jabatan fungsional Peneliti
dan jabatan fungsional Jaksa diatur dengan Peraturan
Presiden.

KESIMPULAN : TUNJANGAN JABATAN FUNGSIONAL


AUDITOR DAN P2UPD MASIH BERLAKU
5
PERTIMBANGAN DAN KRITERIA TUNJANGAN KINERJA PNS
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah sebagai pengganti dari Peraturan Pemerintah Nomor 105 tahun 2000 Tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah dan Kepmendagri Nomor 29 tahun 2002.

Peraturan Pemerintah No.58 Tahun 2005 ttg Pengelolaan

1.
Keuangan Daerah , Pasal 63 Ayat (2) yang berbunyi
Pemerintah daerah dapat memberikan tambahan penghasilan
kepada pegawai negeri sipil daerah berdasarkan pertimbangan
yang obyektif dengan memperhatikan kemampuan keuangan
daerah dan memperoleh persetujuan DPRD sesuai dengan

2.
Permendagri. Nomor
ketentuan peraturan 13 tahun 2006 tentang Pedoman
perundang-undangan
Pengelolaan Keuangan Daerah sebagai pengganti dari
PP.Nomor 105 tahun 2000 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
dan Kepmendagri Nomor 29 tahun 2002, Pasal 39 Ayat (1) dan (2):
(1)Pemerintah daerah dapat memberikan tambahan
penghasilan kepada pegawai negeri sipil berdasarkan
pertimbangan yang obyektif dengan memperhatikan
kemampuan keuangan daerah dan memperoleh persetujuan
DPRD sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
(2)Tambahan penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
Diberikan Dalam Rangka Peningkatan Kesejahteraan
pegawai berdasarkan Beban Kerja atau tempat bertugas
atau Kondisi Kerja Atau Kelangkaan Profesi Atau Prestasi
Kerja 6
(3) Tambahan penghasilan berdasarkan BEBAN KERJA
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan kepada
pegawai negeri sipil yang dibebani pekerjaan untuk
menyelesaikan tugas-tugas yang dinilai melampaui
beban kerja normal
(4) Tambahan penghasilan berdasarkan tempat bertugas
sebagaimana dimaksudkan pada ayat (2) diberikan kepada
pegawai negeri sipil yang dalam melaksanakan tugasnya berada
di daerah memiliki tingkat kesulitan tinggi dan daerah terpencil.
(5) Tambahan penghasilan berdasarkan KONDISI KERJA
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan kepada pegawai
negeri sipil yang dalam melaksanakan tugasnya berada pada
lingkungan kerja yang MEMILIKI RESIKO TINGGI.
(6) Tambahan penghasilan berdasarkan KELANGKAAN
PROFESI sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan
kepada pegawai negeri sipil yang dalam mengemban tugas
MEMILIKI KETRAMPILAN KHUSUS DAN LANGKA.
(7) Tambahan penghasilan berdasarkan PRESTASI KERJA
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan kepada pegawai
negeri sipil yang dalam Melaksanakan tugasnya dinilai
mempunyai prestasi kerja.
7
(8) Kriteria pemberian tambahan penghasilan ditetapkan
UR PENILAIAN JABATAN STRUKTURAL DAN JABATAN FUNGSIONAL
asarkan Permen.PAN. No : 63 Tahun 2011

Untuk Penilaian Jabatan Untuk Penilaian


Struktural , terdiri 6 Jabatan Fungsional,
Penilaian : terdiri 9 Penilaian :
1) RuangLingkup Program
dan Dampak ;
1) Pengetahuan yang
2) Pengaturan Organisasi ; dibutuhkan Jabatan ;
3) Wewenang Kepenyeliaan 2) Pengendalian dan
dan Manajerial ; Pengawasan Penyelia ;
4) Hubungan Personal, 3) Pedoman Kerja ;
yang terbagidalam 2
4) KompleksitasTugas ;
(dua) sub factor yaitu
sifat hubungan dan 5) Ruang Lingkup dan
tujuan hubungan ; Dampak ;
5) Kesulitan dalam 6) Hubungan Personal ;
pengarahan pekerjaan 7) Tujuan Hubungan ;
dan ; 8) Persyaratan Fisik ; 8
PERTIMBANGAN TUNJANGAN KINERJA PNS
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah sebagai pengganti dari PP.No: 105 tahun 2000 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan
Kepmendagri Nomor 29 tahun 2002.
RITERIA TAMBAHAN PENGASILAN PNS
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tersebut mengatur tentang penganggaran
tambahan penghasilan bagi pegawai negeri sipil daerah dengan kriteria tambahan penghasilan sesuai

Pasal 39 :
(1) Pemerintah daerah dapat memberikan tambahan penghasilan kepada pegawai negeri sipil
berdasarkan pertimbangan yang obyektif dengan memperhatikan kemampuan keuangan daerah
dan memperoleh persetujuan DPRD sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Tambahan penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam rangka
peningkatan kesejahteraan pegawai berdasarkan beban kerja atau tempat bertugas atau
kondisi kerja atau kelangkaan profesi atau prestasi kerja.
(3) Tambahan penghasilan berdasarkan beban kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan
kepada pegawai negeri sipil yang dibebani pekerjaan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang dinilai
melampaui beban kerja normal.
(4) Tambahan penghasilan berdasarkan tempat bertugas sebagaimana dimaksudkan pada ayat (2)
diberikan kepada pegawai negeri sipil yang dalam melaksanakan tugasnya berada di daerah
memiliki tingkat kesulitan tinggi dan daerah terpencil.
(5) Tambahan penghasilan berdasarkan kondisi kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan
kepada pegawai negeri sipil yang dalam melaksanakan tugasnya berada pada lingkungan kerja
yang memiliki resiko tinggi.
(6) Tambahan penghasilan berdasarkan kelangkaan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
diberikan kepada pegawai negeri sipil yang dalam mengemban tugas memiliki ketrampilan
khusus dan langka.
(7) Tambahan penghasilan berdasarkan prestasi kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan
kepada pegawai negeri sipil yang dalam melaksanakan tugasnya dinilai mempunyai prestasi
kerja.
(8) Kriteria pemberian tambahan penghasilan ditetapkan dengan peraturan kepala daerah.
9
aturan Terkait Tunjangan Kinerja :
1) Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara nomor
20 tahun 2011 Tentang Pedoman Penghitungan
Tunjangan Kinerja Pegawai Negeri Slpll (Tgl. 18 Juli
2011):
Perka.BKN No. 20 /2011 secara Yuridis
mengisi kekosongan hukum dengan
mempertimbangkan aturan yang telah ada
yaitu perintah
Pada Bagian Mengingat : Kepres 87 tahun 1999.
11. Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 1999 tentang Rumpun
Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil;
Mengingat memuat dasar hukum yakni dasar kewenangan
pembentukan peraturan perundang-undangan itu dan
peraturan perundang-undangan yang memerintahkan
Ill. PENGATURANpembentukan
TUNJANGANitu. KINERJA
A. Pemberian tunjangan kinerja bagi Pegawai Negeri Sipil di lingkungan
KementerianlLembaga harus ditetapkan dengan Peraturan Presiden
dan pemberian tunjangan kinerja bagi Pegawai Negeri Sipil di
lingkungan Pemerintah Daerah harus ditetapkan dengan
Peraturan Daerah.

2) Permen.PAN dan RB Nomor 63 Tahun 2011 tentang


Pedoman Penataan Sistem Tunjangan Kinerja
Pegawai Negeri (Tgl. 28 Desember 2011) ;
10
Pertanyaan :
Peraturan mana yang dijadikan dasar
pemberian tunjangan kinerja untuk jabatan
fungsional PNS
Sesuai Undang Undang Nomor 12 Tahun 2011
tentang
Pembentukan Peraturan Perundang - Undangan

BAB III
JENIS, HIERARKI, DAN MATERI MUATAN PERATURAN PERUNDANG-
UNDANGAN
Pasal 7
(1)Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan terdiri atas :
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;
c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
Undang;
d. Peraturan Pemerintah;
e. Peraturan Presiden;
f. Peraturan Daerah Provinsi; dan
g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.
(2) Kekuatan hukum Peraturan Perundang-undangan sesuai dengan
hierarki sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

11
Pasal 8
(1) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 7 ayat (1) mencakup peraturan yang ditetapkan oleh Majelis
Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan
Daerah, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Badan Pemeriksa
Keuangan, Komisi Yudisial, Bank Indonesia, Menteri, badan, lembaga, atau
komisi yang setingkat yang dibentuk dengan Undang-Undang atau
Pemerintah atas perintah Undang-Undang, Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah Provinsi, Gubernur, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Kabupaten/Kota, Bupati/Walikota, Kepala Desa atau yang setingkat.
(2) Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat
sepanjang diperintahkanKESIMPULAN
oleh Peraturan Perundang-undangan
yang lebih tinggi atau dibentuk berdasarkan kewenangan.
1. Pemberian Tunjangan Kinerja untuk Jabatan Fungsional Khusus
Auditor dan P2UPD, sesuai Undang-Undang 12 tahun 2011 ttg
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, Pasal 7 tentang
Hierarki Peraturan Perundang-undangan Ayat (1) huruf e. Peraturan
Presiden diatas Peraturan Daerah dan Pasal 8 Ayat (2) diakui
keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat
sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang
lebih tinggi atau dibentuk berdasarkan Kewenangannya yaitu
Perpres.116/2014 perubahan kedua Kepres 87/1999 tentang Rumpun
Jabatan Fungsional PNS(Peraturan Yang lebih tinggi) atas Pelaksanaan
PP 40/2010 perubahan PP 16/1994, Pasal 4 Ayat (1) dan (2).
2. Sebagai Pertimbangan 12
Kriteria pemberian tambahan penghasilan
13
14
15
16
17
18

Anda mungkin juga menyukai