Anda di halaman 1dari 12

PERMENKES NO.

889 TAHUN 2011UU


NO.36 TAHUN 2009 & PP 51 TAHUN
2009
DISUSUN OLEH:
CICI AMBARA BR PURBA
PUTRI INDAH RINI
DEA TAMI PANGESA
NADYA PATRICIA
LISA DINI WATI
RAHMAT HIDAYAT
Pasal 1 angka 1 Peraturan
Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor
376/MENKES/PER/V/2009 Tahun
2009 tentang Petunjuk Teknis
Jabatan Fungsional Asisten
Apoteker Dan Angka Kreditnya
(Permenkes 376/2009)
dijelaskan bahwa asisten apoteker
adalah jabatan yang mempunyai ruang
lingkup, tugas, tanggung jawab, dan
wewenang untuk melaksanakan
penyiapan pekerjaan kefarmasian pada
unit pelayanan kesehatan yang diduduki
oleh Pegawai Negeri Sipil dengan hak dan
kewajiban yang diberikan secara penuh
Yang dimaksud penyiapan
pekerjaan kefarmasian adalah
penyiapan rencana kerja
kefarmasian, penyiapan pengelolaan
perbekalan farmasi, dan penyiapan
pelayanan farmasi klinik (Pasal 1
angka 2 Permenkes 376/2009).
Pengaturan mengenai asisten apoteker
dapat kita jumpai juga dalam
Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor
889/MENKES/PER/V/2011 Tahun 2011
tentang Registrasi, Izin Praktik, Dan
Izin Kerja Tenaga Kefarmasian
(Permenkes 889/2011).

Dalam Pasal 1 angka 2 Permenkes


889/2011, dikatakan bahwa tenaga
kefarmasian adalah tenaga yang
melakukan pekerjaan kefarmasian, yang
terdiri atas Apoteker dan Tenaga Teknis
Asisten apoteker termasuk sebagai tenaga
teknis kefarmasian, sebagaimana diatur dalam
Pasal 1 angka 6 Peraturan Pemerintah
Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan
Kefarmasian (PP 51/2009) dan Pasal 1
angka 4 Permenkes 889/2011:

Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga yang


membantu Apoteker dalam menjalankan
pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana
Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis Farmasi dan
Tenaga Menengah Farmasi/Asisten Apoteker.
Setiap tenaga kefarmasian yang menjalankan
pekerjaan kefarmasian wajib memiliki surat
tanda registrasi (Pasal 2 ayat (1) Permenkes
889/2011). Bagi asisten apoteker, maka harus
memiliki Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis
Kefarmasian (STRTTK), yaitu bukti tertulis yang
diberikan oleh Menteri Kesehatan kepada Tenaga
Teknis Kefarmasian yang telah diregistrasi (Pasal
2 ayat (2) huruf b jo. Pasal 1 angka 10
Permenkes 889/2011).
Untuk memperoleh STRTTK, Tenaga Teknis
Kefarmasian harus memenuhi persyaratan
(Pasal 47 ayat (1) PP 51/2009 dan Pasal 8
Permenkes 889/2011):
a. memiliki ijazah sesuai dengan
pendidikannya;
b. memiliki surat keterangan sehat fisik dan
mental dari dokter yang memiliki surat izin
praktik;
c. memiliki rekomendasi tentang kemampuan
dari Apoteker yang telah memiliki STRA, atau
pimpinan institusi pendidikan lulusan, atau
organisasi yang menghimpun Tenaga Teknis
Kefarmasian; dan
d. membuat pernyataan akan mematuhi dan
melaksanakan ketentuan etika kefarmasian.
Untuk memperoleh STRTTK tersebut, tenaga
teknis kefarmasian harus mengajukan
permohonan kepada kepala dinas kesehatan
provinsi dengan melampirkan:
a. fotokopi ijazah Sarjana Farmasi atau Ahli
Madya Farmasi atau Analis Farmasi atau Tenaga
Menengah Farmasi/Asisten Apoteker;
b. surat keterangan sehat fisik dan mental dari
dokter yang memiliki surat izin praktik;
c. surat pernyataan akan mematuhi dan
melaksanakan ketentuan etika kefarmasian;
d. surat rekomendasi kemampuan dari
Apoteker yang telah memiliki STRA, atau
pimpinan institusi pendidikan lulusan, atau
organisasi yang menghimpun Tenaga Teknis
Kefarmasian; dan
e. pas foto terbaru berwarna ukuran 4 x 6 cm
sebanyak 2 (dua) lembar dan ukuran 2 x 3 cm
Jika ada orang yang melakukan praktik
kefarmasian, padahal tidak mempunyai keahlian
dan kewenangan untuk itu, dapat dipidana
berdasarkan Pasal 198 jo. Pasal 108
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan (UU Kesehatan).

Pasal 198 UU Kesehatan:


Setiap orang yang tidak memiliki keahlian dan
kewenangan untuk melakukan praktik
kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal
108 dipidana dengan pidana denda paling
banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
Pasal 108 UU Kesehatan:
(1)Praktik kefarmasiaan yang meliputi
pembuatan termasuk pengendalian mutu
sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan,
penyimpanan dan pendistribusian obat,
pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan
informasi obat serta pengembangan obat, bahan
obat dan obat tradisional harus dilakukan oleh
tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan
kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(2)Ketentuan mengenai pelaksanaan praktik
kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
Thank you for attention ,semoga bermanfaat :)