Anda di halaman 1dari 28

Layout Management Of Aquaculture

Chapter 3

EKOLOGI AKUAKULTUR

Oleh:
Rizal Akbar Hutagalung, S.Pi,
M.P
DEFINISI
EKOLOGI
Ernst Haeckel (1869; German),
oikos = rumah; & logos = ilmu.

Ia mendifinisikan ekologi sebagai :


EKOLOGI ?? Suatu keseluruhan pengetahuan yang mempelajari
? hubungan total antara organisme dengan
lingkungannya yang bersifat organik maupun
anorganik.

Ekologi merupakan cabang ilmu biologi yang mempelajari hubungan


timbal balik antara makluk hidup dan lingkungannya.

Pokok dalam ekologi di perikanan adalah mempelajari bagaimana


fungsi organisme di alam.
Tingkat Organisasi Materi
ATOM
MOLEKUL
PROTOPLASMA
SEL
JARINGAN
ORGAN
SISTEM ORGAN
ORGANISME
POPULASI
KOMUNITAS ECOLOGY
EKOSISTEM
EKOSFER
BUMI
PLANET
TATA SURYA
GALAKSI
Prinsip Ekologi Akuakultur
Ekologi akuakultur telah didefinisikan sebagai"model alternatif akuakultur
dalam pengembangan yang membawa aspek teknis dari prinsip-prinsip ekologi dan
ekosistem berpikir untuk budidaya dan kekhawatiran untuk konteks yang lebih
luas sosial, ekonomi dan lingkungan budidaya".
Ada prinsip-prinsip akuakultur:
Untuk melestarikan bentuk dan fungsi sumber daya alam
Untuk memastikan efisiensi trofik tingkat
Untuk menggunakan spesies asli agar tidak menyebabkan polusi biologi
Untuk berbagi praktek dan informasi dalam skala global
Untuk memastikan sistem yang terintegrasi ke dalam ekonomi lokal dan
masyarakat dalam hal produksi makanan dan pekerjaan
Sifat Dasar Pakan Ikan

Pemakan plankton (plankton


feeder) : ikan nilem, mola,
sepat
Pemakan tanaman (herbivore) :
gurame, tawes
Pemakan hewan (carnivore) :
lele, gabus
Pemakan detritus (detritus
feeder) : Bandeng, belanak,
mujaer
Pemakan campuran (omnivore) :
Ikan baung, nila merah, lobster
air tawar
Rantai makanan
didefenisikan
sebagai suatu
peristiwa makan
dan dimakannya
suatu organisme
oleh organisme
lain dalam suatu
ekosistem. Pada
peristiwa ini
akan terjadi
perpindahan
energi dan
materi dari satu
organisme pada
tingkat tropik
satu ke lainnya
PENGELOLAAN KUALITAS AIR

Mutu air dan sedimen seharusnya


dijaga pada level yang mencukupi
untuk kesehatan lingkungan budidaya
dengan melakukan angka penebaran
benih dan pakan yang sesuai.

Air pasok dan keluar di wadah


budidaya seharusnya difiltrasi/
saring untuk mencegah masuknya
species yang tidak diinginkan
termasuk parasit dalam air tawar.
1. Dilakukan filtrasi air atau pengendapan serta menjamin kualitas air sesuai untuk
ikan dibudidayakan :
Air difiltrasi selama pengisian wadah budidaya sebelum untuk untuk mencegah
masuknya hama/predator.
Tandon digunakan bila perlu untuk meningkatkan mutu air.
Mutu air dijaga dgn aerator pada tambak udang intensif.
Kotoran dibuang secara teratur

2. kualitas air sumber secara rutin untuk menjamin kesehatan dan kebersihan
ikan yang dibudidayakan :

Mutu air dimonitor untuk menjamin kesehatan dan sanitasi.


Monitor mutu air (parameter dan frek. contoh) tergantung kondisi. Utk logam berat &
pestisida min. 1X/th.
Uji mutu air pada unit budidaya memenuhi persyaratan yang dipersyaratkan.
Rekaman mutu air seharusnya termasuk residu logam berat (Pb, Hg, Cd) dan kontaminan
microba.
Kegiatan akuakultur dapat dilakukan di darat (kolam), perairan
umum/sungai/danau/rawa/waduk (jaring apung, karamba), daerah pesisir
(tambak, jaring apung, dll.), laut (jaring apung).

Akhir-akhir ini lingkungan cenderung menurun kualitasnya :

Tekanan internal., (padat tebar tinggi, penumpukan sisa pakan dan kotoran,dll
Tekanan eksternal yang bersumber dari kegiatan
di luar kawasan budidaya, seperti pertambangan,
industri, pemukiman, dsb-nya.

Isu kerusakan lingkungan dan implikasinya pada keamanan (safety) produk


perikanan, karena penggunaan disinfektan untuk membasmi hama/penyakit
(meninggalkan residu di air dan tanah), antibiotik yang terakumulasi
dalam tubuh.
Perubahan dalam ekosistem

Keseimbangan alam bukan berarti bahwa ekosistem tidak berubah, ekosistem


sangat dinamis, dan tidak statis.
Komunitas tumbuhan dan hewan yang terdapat dalam beberapa ekosistem selalu
berubah karena adanya perubahan lingkungan fisiknya.
Pergantian suatu komunitas dengan komunitas lain dalam ekosistem dikenal
dengan suksesi ekologi.
Suksesi ekologi dibedakan atas :
1. Suksesi primer : terjadi di ekosistem yang sebelumnya tidak berkehidupan,
perubahan diawali oleh spesies pioneer menuju ekosistem klimaks
2. Suksesi sekunder : terjadi di ekosistem yang sebelumnya telah berpenghuni.
Penyebab : kebakaran, banjir, dll.

Ekosistem klimaks ??
Ekosistem yang telah mencapai puncak kestabilan. Ekosistem klimaks cenderung
bertahan lama dan stabil selama kondisi lingkungan tidak berubah secara
drastis.
Beberapa studi yang dilakukan di beberapa negara produsen udang (Studi Cost
Benefit Analysis) telah menunjukkan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk
pemulihan lingkungan dan biaya sosial jauh lebih besar daripada yang
diperoleh dari pertambakan udang.

Pertambakan udang telah menghilangkan ekosistem mangrove dan fungsinya,


kehilangan keanekaragaman hayati, sumber ekonomi, pencemaran air tanah dan
perairan sekitarnya dan menimbulkan ketegangan sosial.

Selama ini kebijakan pertambakan udang difokuskan pada bagaimana


meningkatkan produksi semata, dan melupakan aspek sosial dan lingkungan
sebagai implikasinya.
Tujuan utama pengelolaan lingkungan akuakultur : untuk mengurangi dampak
negatif dari kegiatan industri sekecil mungkin, namun tetap tidak
mengurangi produktivitasnya sendiri
Buangan limbah dari aktifitas akuakultur berupa bentuk padatan bahan
organik, senyawa nitrogen, fosfat, sisa metabolisme dapat menyebabkan
eutrofikasi dan perubahan ekologis perairan
Eutrofikasi : Melimpahnya kandungan nutrien dalam perairan dan dapat
merangsang pertumbuhan fitoplankton yang melimpah (blooming).
Melimpahnya fitoplankton (blooming) dapat menyebabkan kematian pada
ikan, sifat toksin, (merusak insang) dan menurunkan DO di air.
Penyebaran dan pelarutan bahan buangan aktifitas akuakultur hanya akan
bersifat menunda dampak negatif yang akan muncul (menurunkan mutu
lingkungan) di kemudian hari dalam wilayah yang lebih luas.
Strategi Pengendalian Lingkungan :

Manajemen buangan air limbah, bertujuan meminimalkan pengaruh yang dapat


menurunkan mutu lingkungan sementara tetap mempertahankan tingkat
produktifitasnya.Bermanfaat bagi praktek manajemen kesehatan lingkungan
akuakultur yang berkelanjutan.

1. Penggunaan kolam tandon sebagai tempat penampungan air buangan limbah


akuakultur menjadikan pengaturan manajemen air lebih fleksibel dan
mudah dalam menjaga kesehatan lingkungan dan bilamana air tersebut
diperlukan dapat digunakan kembali.
2. Penggunaan sistem terpadu
mungkin dapat menjadi
alternatif pemecahan
berbagai masalah dalam
manajemen lingkungan
akuakultur. Sebagai contoh,
ikan karper atau jenis ikan
herbivor lainnya dapat
dipelihara dan dipanen dari
lingkungan kolam yang
ditumbuhi oleh banyak alga
dan flora, sekaligus dapat
dipakai sebagai pengendali
pertumbuhan alga dan flora
di perairan kolam tersebut.
3. Fauna kerang-kerangan (bivalves) yang memakan makanan tersuspensi
(fitoplankton) dapat berfungsi sebagai biofilter terhadap lingkungan
perairan.

Selain itu kerang-kerangan mempunyai kemampuan untuk memanfaatkan


kelebihan bahan organik, jamur dan flagellata sebagai makanannya (Imai,
1971). Kerang-kerangan mampu memfilter air sebanyak 10 liter/jam
(Walne, 1972).

Budidaya kerang dalam kolam budidaya


ikan selain menguntungkan juga sbg
pengendali kualitas air
Sistem Sylvofishery

Tambak parit (Sylvofishery) adalah suatu kegiatan terpadu antara


budiaya perikanan (ikan, udang dan kepiting) dengan kegiatan
pemeliharaan dan upaya pelestarian hutan mangrove.

Tujuan dari pembuatan tambak parit adalah untuk mencegah semakin


meluasnya kerusakan hutan bakau/mangrove, mengembalikan serta
melestarikan ekosistem air payau dan jalur hijau pantai, melalui
pemanfaatan lahan sehingga dapat memberikan manfaat maksimal bagi
lingkungan ekosistem mangrove.
Permasalahan tambak udang di lahan hutan mangrove antara lain terkait
dengan:
1. Pembentukan lumpur organik dari sisa pakan dan partikel tanah
(Primavera,1994).
2. Pengolahan dasar tambak yang memerlukan waktu lama dan
tergantung pada musim (Boyd, 1995).
3. Sulit melakukan desinfektasi tambak.
Tambak Udang di Lahan Pasir

Alternatif teknologi tambak udang yang dapat meng- hindarkan dari


perusakan hutan mangrove, kelestarian budidaya dapat lebih terjamin
dan memberikan hasil udang yang lebih higienis.
Filosofi yang mendasari pemilihan lahan berpasir:
1. Pasir merupakan material yang non-reaktif dan sulit
membentuk lumpur organik di dasar tambak.
2. Porositas lahan pasir memungkinkan oksidasi air sampai pada
air di dasar tambak sehingga mengurangi pembentukan gas-
gas beracun misal, H2S dan amoniak.
3. Secara alami udang juga menyukai habitat pasir.
BIOCRETE adalah Teknologi tambak udang yang memungkinkan
memelihara udang di lahan pasir sehingga tidak perlu
merusak hutan mangrove.

Teknologi ini dikembangkan oleh Fakultas Perikanan IPB


sejak 1988 menggunakan membrane (Poly Ethylen) yang
dihamparkan di seluruh permukaan (bagian dalam) tambak.
Konstruksi dinding tambak dibentuk dengan menggunakan 3-
4 cm lapisan biocrete. Konstruksi tersebut telah diuji
coba pada kurun waktu 1989-1992 dan terbukti memiliki
kekuatan tinggi, stabil dan tahan gempa.
Keuntungan dalam pengoperasian tambak sistem BIOCRETE :

1. Konstruksi biocrete memungkinkan untuk mem- bersihkan dasar


tambak selama proses budidaya dengan jalan menyipon karena sisa
kotoran dan pakan yang tidak termakan udang tidak bercampur
partikel tanah, sehingga dasar tambak selalu bersih dari akumulasi
lumpur organik.
2. Pakan yang disebarkan ke tambak tidak akan ter-bungkus partikel
tanah (lumpur) seperti pada tambak tanah bekas hutan mangrove.
Kondisi ini mening-katkan peluang pakan untuk dimakan udang,
sehingga akan meningkatkan FCR yang lebih baik.
3. Dasar tambak yang terdiri dari lapisan pasir sangat
memungkinkan melakukan desinfeksi hanya meng-gunakan sinar
matahari. Penjemuran dasar tambak pada kondisi panas
matahari dapat menghasilkan suhu substrat tambak lebih dari
80oC.
4. Tidak memerlukan bahan desinfektan untuk mem-bunuh kuman yang
umumnya tumbuh dengan baik dan subur pada substrat lumpur di
tambak konvensional.
5. Udang sehat dan bersih lebih mudah dihasilkan pada tambak
sistem biocrete.
KRITERIA MEMILIH LINGKUNGAN
AKUAKULTUR
Lokasi budidaya harus tidak menimbulkan bahaya keamanan
pangan, akibat kondisi sekitar, baik air pasok maupun
LOKASI pencemaran udara

LAUT Jalur Hijau


Jalur Hijau

Zona Pe-
nyangga
Zona
Penyangga

Hamparan
Hamparan Pertambakan 2
Pertambakan 1

Sungai Sungai
Lokasi dekat dengan laut, sungai atau kanal dan mempunyai
akses yang mudah untuk kecukupan air yang berkualitas
sepanjang tahun;
Tidak ada endapan lumpur budidaya yang dibuang ke perairan
alam, termasuk dari unit usaha;
Saluran air pasok, baik di tambak maupun di luar tambak,
tidak melalui area di mana terdapat resiko kontaminasi;
Endapan lumpur dibuang dengan kanal terpisah dan aman untuk
menghindari polusi dari dalam ( self-pollution );
Air limbah tidak digunakan untuk budidaya;
Mempunyai tindakan pengelolaan (contoh: tandon penampungan )
untuk meningkatkan/ perlakuan air masuk.
SAMPAI KETEMU MINGGU DEPAN