Anda di halaman 1dari 64

TRANSPORTASI

MULTIMODA DAN
INTERMODA

SEKOLAH TINGGI TRANSPORTASI DARAT


Indikator Hasil Belajar
Mampu menjelaskan transportasi
multimoda dan intermoda antara lain;
Pengertian transportasi multimoda,
tujuan penyelenggaraan, segment
kegiatan industry jasa angkutan,
perkembangan, peran, dan
permasalahan yang terjadi.
Mampu menjelaskan jaringan
transportasi multimoda dan intermodal
antara lain; Berbagai jaringan yang
terjadi di transportasi darat, laut, dan
udara, simpul-simpul yang ada, ruang
Indikator Hasil Belajar
Mampu menjelaskan pendekatan
perencanaan transportasi multimoda
dan intermodal antara lain; Bangkitan
pergerakan, distribusi pergerakan,
pemilihan moda dan pemilihan rute.
Mampu memberikan contoh
perencanaan transportasi multimoda
yang ada di wilayah Eropa yang
diimpimentasikan di Indonesia
MATERI

PENDAHULUAN

TRANSPORTASI MULTIMODA

JARINGAN TRANSPORTASI
MULTIMODA

PENDEKATAN PERENCANAAN
TRANSPORTASI MULTIMODA

PENGALAMAN PERENCANAAN
MULTIMODA/ INTERMODA
LATAR BELAKANG

Manajemen transportasi multimoda sebagai bahan ajar


disusun dengan format belajar sistem modul dan secara self
1 instructional

Materi bahan ajar bersumber dari literatur, buku teks


transportasi multimoda, makalah seminar dan publikasi jurnal
serta sumber lainnya yang terkait dengan transportasi
2 multimoda

Peserta diklat diharapkan dapat memiliki kemampuan berfikir/


kognitif dengan tingkat kemampuan intelektual dasar
3
TRANSPORTASI MULTIMODA/ INTERMODA

TRANSPORTASI
Perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan alat
pengangkutan, baik yang digerakkan oleh tenaga manusia, hewan
(kuda, sapi, kerbau), atau mesin. Konsep transportasi didasarkan pada
adanya perjalanan (trip) antara asal (origin) dan tujuan (destination).

MULTIMODA
Angkutan barang dengan menggunakan paling sedikit 2 (dua)
moda angkutan yang berbeda atas dasar 1 (satu) kontrak
sebagai dokumen angkutan

INTERMODA
Pengangkutan barang dengan ciri, antara lain:
menggunakan 2 (dua) jenis moda/ alat transpor atau lebih; menggunakan hanya
satu dokumen pengangkutan yang dikeluarkan oleh satu operator yang
bertanggung-jawab penuh; terjadi peralihan barang dari suatu negara ke negara
lain; tersedia pelayanan door to door.
CETAK BIRU TRANSPORTASI ANTAR/MULTIMODA
Latar belakang Pengambilan
Kebijakan
Sabuk Nusantara
Sistranas
Sislognas
MP3EI + Tol Laut
MENGAPA BUKAN SISTEM UNIMODA?

Kontrak tersendiri untuk


setiap tahap kegiatan

Dokumen tersendiri untuk


setiap tahap kegiatan

Billing tersendiri untuk


setiap kontrak

Beda persyaratan dan


tingkat pertanggung-
jawaban untuk setiap
tahap kegiatan
APA PENGARUHNYA?

Transaksi dagang perlu diikuti secara teliti untuk


semua tahapan

Sulit menentukan seluruh biaya secara tuntas

Sulit untuk mengurus klaim

Sulit menentukan waktu yang pasti untuk suatu


transaksi dagang
APA AKIBATNYA?

Mempersulit eksporter/consignor
disetiap lini tahapan kegiatan;
Mempermahal biaya angkutan,
karena:
o Pelaksanaan angkutan harus
tampil disetiap jenjang
birokrasi;
o Struktur biaya angkutan tidak
pasti;
o Klaim angkutan sulit diurus;
o Biaya premi asuransi tinggi.
Eksporter/consignor
menghadapi banyak
penanggung jawab angkutan.
MENGAPA HARUS ANGKUTAN MULTIMODA?

Mengurangi waktu yang hilang pada trans-


shipment point;
Mengangkut lebih cepat, menekan
kerugian terhadap jarak, dan menghemat
permodalan;
Mengurangi beban dokumentasi,
formalitas dan birokrasi;
Menghemat biaya karena tarif rata-rata
dan biaya asuransi turun;
Memerlukan satu agen saja sebagai
penanggung jawab;
Menurunkan harga barang ekspor;
Meningkatkan daya saing barang ekspor di
pasar global.
APA KUNCI SUKSES KINERJA ANGKUTAN MULTIMODA?

Tepat waktu

Utuh bentuk/wujud

Utuh jumlah

Pelayanan yang baik

Biaya kompetitif

Kepercayaan

Image
TUJUAN PENYELENGGARAAN MULTIMODA

Mewujudkan pelayanan one stop service pada angkutan


barang, sehingga akan tercipta penyelenggaraan yang single
seamless service (S3) yaitu: single operator, single tariff
dan single document untuk angkutan barang.
PERKEMBANGAN
ANGKUTAN MULTIMODA

Angkutan multimoda menjadi perhatian dunia dalam


rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat diseluruh
pelosok dunia sehingga dipandang perlu untuk diatur oleh
Persatuan Bangsa-Bangsa

United Nations Convention on International


Multimodal Transport of Goods

Peran angkutan multimoda semakin penting dengan


adanya agenda integrasi sistem logistik ASEAN menuju
kepada perwujudan pasar tunggal ASEAN

ASEAN Framework Agreement on


Multimodal Transport (AFAMT) 8
ASEAN Framework Agreement
on
Multimodal Transport (AFAMT)

Telah ditandatangani Pada Sidang


ke-11 ASEAN Transport Ministers yang
diselenggarakan di Vientianne, Laos
tanggal 17 Nopember 2005.

Untuk memfasilitasi
kelancaran transportasi
antar Negara ASEAN.

Pembukaan AFAMT butir (e) menyebutkan bahwa


perjanjian tersebut tidak akan mempengaruhi
berlakunya ketentuan/peraturan nasional yang
mengatur penyelenggaraan angkutan unimoda. 9
ASEAN Framework
Agreement on
Multimodal Transport
(AFAMT)

Menyiratkan adanya liberalisasi di bidang jasa angkutan


multimoda di kawasan ASEAN yang pada akhirnya menuju
kepada liberalisasi jasa pada tataran global General
Agreements on Tariffs and Trade (GATT's)

Perlu diciptakan iklim yang kondusif bagi berkembangnya


Badan Usaha Angkutan Multimoda (BUAM) Nasional
sebagai bagian dari Sistim Logistik Nasional yang tumbuh
berkelanjutan dan berdaya saing

Regulasi Tentang
Angkutan Multimoda
1
0
REGULASI YANG TERKAIT
ANGKUTAN MULTIMODA

UU NO 23 TAHUN 2007 TENTANG PERKERETAAPIAN


UU NO 17 TAHUN 2008 TENTANG PELAYARAN
UU NO 1 TAHUN 2009 TENTANG PENERBANGAN
UU NO 22 TAHUN 2009 TENTANG LLAJ

PP NO 8 TAHUN 2011 TENTANG ANGKUTAN MULTIMODA

PERMENHUB. NO : KM 49 TAHUN 2005


TENTANG SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL (SISTRANAS)

PERMENHUB. NO : KM 15 TAHUN 2010


TENTANG CETAK BIRU TRANSPORTASI ANTARMODA/ MULTIMODA
TAHUN 2010 - 2030
PERMENHUB NO : PM. 8 TAHUN 2012 TENTANG
PENYELENGGARAAN DAN PEGUSAHAAN ANGKUTAN MULTIMODA

eko yuni.s 1
1
KEBIJAKAN UMUM
KETERPADUAN
ANTAR MODA DALAM
SISTRANAS
KEBIJAKAN MENINGKATNYA SALAH SATU
SISTRANAS
Permenhub
PELAYANAN TRANSPORTASI
No : KM. 49/2005
SASARAN KINERJA
NASIONAL,
SISTRANAS

STRATEGI KETERPADUAN
ANTAR MODA KETERPADUAN

U PAYA
MENINGKATNYA
MENCIPTAKAN IKLIM YANG KONDUSIF BAGI KETERPADUAN
PEMERINTAH PUSAT, PEMERINTAH PROVINSI DAN JARINGAN PELAYANAN
PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA DALAM DAN JARINGAN
MEMADUKAN SISTEM TRANSPORTASI YANG PRASARANA ANGKUTAN
BERSIFAT NASIONAL, WILAYAH DAN LOKAL, SERTA UMUM ANTARA MODA
PRIORITAS PENDANAANNYA; YANG SATU DENGAN
MEMPERKUAT KEMITRAAN ANTARA SWASTA, MODA LAINNYA
PEMERINTAH, BUMN, BUMD DAN KOPERASI SEHINGGA DAPAT
DALAM RANGKA MENEMUKENALI, DIWUJUDKAN
MERENCANAKAN, MENDESAIN DAN MEMBANGUN PELAYANAN
FASILITAS ALIH MUAT ANTAR MODA TRANSPORTASI YANG
TRANSPORTASI. TERPADU
eko yuni.s 1
2
CETAK BIRU TRANSPORTASI ANTARMODA/
MULTIMODA TAHUN 2010 - 2030
Permenhub No : KM. 15 Tahun 2010

Merupakan arah pengembangan dan pembangunan transportasi


antarmoda/ multimoda dalam rangka kelancaran arus barang dan arus
penumpang serta mendukung Sislognas yang efektif dan efisien

Visi Transportasi Antarmoda/multimoda 2030 :


Arus Barang dan Mobilitas Orang Efektif dan Efisien

MISI :
Mewujudkan kelancaran arus barang, melalui kebijakan :
a. Meningkatkan kualitas badan usaha angkutan multimoda.
b. Meningkatkan keterpaduan jaringan prasarana pada simpul trans laut
c. Meningkatkan keterpaduan jaringan prasarana pada simpul trans udara
d. Meningkatkan aksesibilitas transportasi pada daerah tertinggal.
Mewujudkan kelancaran mobilitas orang, melalui kebijakan :
a. Meningkatkan kelancaran mobilitas orang di perkotaan.
b. Meningkatkan aksesibilitas transportasi pada daerah tertinggal. 1
eko yuni.s
3
DASAR HUKUM
UU NO: 22/ 2009, TTG UU NO.17/2008 TTG PELAYARAN
UU NO.23/2007, TTG LLAJ KETERPADUAN ANTAR MODA PASAL 50 AYAT
PERKERETAPIAN
KETERPADUAN ANTAR MODA 1,2. PASAL 51 AYAT 1,2, PASAL 52, PASAL 53
KETERPADUAN ANTAR MOD)A (PASAL 165 ) AYAT 1 DAN 2, PASAL 54 DAN PASAL 55
(PASAL 147 AYAT 1,2, DAN 3
UU NO.1/2009 TTG
PENERBANGAN
United Nations Convention KETERPADUAN ANTAR MODA PASAL 182 ,
ANGKUTAN MULTIMODA PASAL 187, 188,
On International Multimodal PP NO 8 TAHUN 2011 189, 190 DAN 191
Transport Of Goods TENTANG
ANGKUTAN SISTRANAS
AFAMT MULTIMODA Permenhub No : KM.
17 Nov 2005 di
49/2005
Vientianne, Laos CETAK BIRU TRANS
ANTARMODA/MULTIMODA
Permenhub No : KM. 15/2010

Permenhub No 8 Tahun 2012


ttg Penyelenggaraan dan
Pengusahaan Angkutan
Multimoda
1
1
4
1. Pasal 5; Tata Cara Pemberian Rekomendasi
Standard Trading Conditions (STC)
2. Pasal 7; Persyaratan dan Tata Cara Memperoleh
Izin Usaha Angkutan Multimoda
U N 2011
H
8 TA G 3. Pasal 9; Tata Cara Pendaftaran Badan Usaha
P N O
P AN Angkutan Multimoda Asing
TENT ULTIMODA 4. Pasal 12; Tata Cara Pengenaan Sanksi
G K U TAN M Administatif
AN
5. Pasal 30; Pembinaan Angkutan Multimoda

PERMENHUB No. PM. 8 TAHUN 2012


TENTANG
PENYELENGGARAAN DAN PENGUSAHAAN
ANGKUTAN MULTIMODA

1
5
TOL LAUT
Aceh Jakarta-Surabaya Nusa
Tenggara-Maluku - Papua

BAGAIMANA MENURUT KELOMPOK


SAUDARA, APAKAH PENGARUH TOL
LAUT TERHADAP TRANSPORTASI
MULTIMODA ? JELASKAN.
MASTER PLAN PERCEPATAN PEMBANGUNAN
EKONOMI INDONESIA(MP3EI)

Mengembangkan 6 koridor
Ekonomi;Sumatra,jawa,bali,nusa
tenggara,kalimantan,sulawaesi dan
papua.
Meningkatkan koneksitas yang
teritegrasi.
Mempercepat peningkatan kapasitas
SDM.
SEGMENT KEGIATAN ANGKUTAN MULTIMODA

eko yuni.s
BEBERAPA KEGIATAN USAHA

1 2
a. Pergudangan/ warehousing; a. Pengangkutan dengan
b. Penyimpanan/ inventory; menggunakan angkutan
c. Sortasi; jalan, perkretaapian, SDP
d. Pengepakan; atau kombinasinya;
e. Penandaan; b. Asuransi;
f. Pengukuran; c. Klaim asuransi.
g. Penimbangan;
h. Stuffing;
i. Stripping.

Pabrik/ Pergudangan Pengangkutan ke/


dari transshipment point

eko yuni.s
BEBERAPA KEGIATAN USAHA

3 4
a. Pergudangan/ warehousing;
b. Bongkar/ muat;
c. Tally;
d. Kepabeanan; a. Asuransi;
e. Karantina; b. Klaim asuransi.
f. Stuffing;
g. Stripping;
h. Pengurusan Dokumen.

Transshipment point Pengangkutan


PERKEMBANGAN MULTIMODA

Transportasi menjadi salah satu permasalahan yang ditemukan di


beberapa kota besar.

Semakin hidup suatu kota, pergerakan masyarakatnya semakin tinggi.

Ekspor Indonesia mengalami pemulihan dengan tingkat pertumbuhan


yang cukup tinggi
PERKEMBANGAN MULTIMODA

Ringkasan Perkembangan Ekspor Indonesia

Sumber : BPS 2011

Struktur Pemenuhan Permintaan Konsumsi Rumah Tangga


Lokal, Antar Propinsi dan Impor
PERAN MULTIMODA
PERAN MULTIMODA

Kunci sukses dari pelaksanaan penyelenggaraan transportasi multimoda:

a. Tepat waktu
b. Utuh bentuk/wujud
c. Utuh jumlah
d. Pelayanan yang baik
e. Biaya kompetitif
f. Kepercayaan meningkat
g. image.
PERMASALAHAN MULTIMODA

Keterpaduan pelayanan penumpang belum didukung pelayanan


manajemen terpadu;
Keterbatasan penerapan dokumen tunggal dan jumlah operator
multimoda;
Jaringan pelayanan belum terwujud pada antarmoda perkotaan
angkutan penumpang;
Pelayanan antarmoda/multimoda dalam negeri terbatas pada
angkutan barang kemasan kecil dan skala pengiriman terbatas;
Keterpaduan jaringan prasarana transportasi masih terbatas
pada transportasi jalan dengan transportasi sungai dan danau,
penyeberangan, laut dan udara;
Keterpaduan moda KA dan pelabuhan laut terbatas di Pulau
Jawa;
Keterbatasan kualitas SDM, pembinaan yang belum
terintegrasi, dan kebutuhan norma, standar, pedoman, dan
eko yuni.s
kriteria (NSPK) yang belum cukup mengatur keterpaduan
JARINGAN MULTIMODA/ INTERMODA
JARINGAN MULTIMODA/ INTERMODA
Tatanan kepelabuhanan

1. Pelabuhan Umum
2. Pelabuhan Nasional
3. Pelabuhan Regional
4. Pelabuhan Lokal
5. Pelabuhan Khusus
JARINGAN MULTIMODA/ INTERMODA
Jaringan Lintas Penyebrangan
Jaringan Transportasi Barang
dalam Kawasan 1 Benua/ Pulau
Sistem Transportasi angkutan barang untuk
dukungan kawasan industri & pertambangan-
perkebunan
SIMPUL TRANSPORTASI MULTIMODA

Simpul transpotasi mengarah pada suatu tempat yang berfungsi untuk kegiatan
menaikkan dan menurunkan penumpang, membongkar dan memuat barang,
mengatur perjalanan serta tempat pemindahan intramoda dan antarmoda.

Wujud dari simpul berupa terminal transportasi


jalan, stasiun kereta api, terminal perairan
pedalaman, pelabuhan penyeberangan,
pelabuhan laut, dan bandara.

Prinsip dari pelaksanaan pada manajemen simpul/titik


adalah
Mengurangi Terjadinya penambahan waktu dan pembiayaan
.
PENDEKATAN PERENCANAAN
TRANSPORTASI MULTIMODA

Misi Ekonomi Indonesia 2025


PENDEKATAN PERENCANAAN
TRANSPORTASI MULTIMODA

Pengembangan Koridor Komoditas Ekonomi


PENDEKATAN PERENCANAAN
TRANSPORTASI MULTIMODA

a. Kondisi Saat Ini b. Kondisi Mendatang


Pola Perjalanan Angkutan Barang
PENDEKATAN PERENCANAAN
TRANSPORTASI MULTIMODA

Indikasi permasalahan kelancaran pengiriman barang


multimoda /antarmoda
PENDEKATAN PERENCANAAN
TRANSPORTASI MULTIMODA

Tahap proses dan pengambilan keputusan dalam


transportasi barang
PENDEKATAN PERENCANAAN
TRANSPORTASI MULTIMODA

Metode Pendekatan
Teknis
Beberapa Permasalahan Penyelenggaraan
Angkutan Multimoda
1. KETERPADUAN JARINGAN PRASARANA

Pembangunan jaringan prasarana transportasi di


tingkat wilayah ditangani oleh beberapa kementerian
dan pemerintah daerah sehingga diperlukan unit
organisasi untuk mengkoordinasikan perencanaan dan
pembangunan jaringan prasarana agar tidak terjadi
kapasitas berlebih pada masing-masing moda;
Belum berkembangnya fasilitas logistics center
sehingga pengguna jasa dan operator sulit
mendapatkan informasi muatan dan angkutan;
Keterpaduan antarsimpul saat ini belum terhubung
secara optimal;
Pembangunan simpul terminal masih sering kurang
memperhatikan penyediaan prasarana trans-shipment.
Beberapa Permasalahan Penyelenggaraan
Angkutan Multimoda (Lanjutan)
2. KETERPADUAN JARINGAN PELAYANAN ANGKUTAN BARANG
Beberapa Permasalahan Penyelenggaraan
Angkutan Multimoda
3. PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN PENGUSAHAAN
STRATEGI PENGEMBANGAN ANGKUTAN MULTIMODA
strategi 1: PENINGKATAN KETERPADUAN JARINGAN PRASARANA

Mengurangi beban jalan dengan


mengembangkan jaringan transportasi
multimoda dan logistic center sebagai upaya
meningkatkan kelancaran arus barang dari
pusat produksi menuju outlet-inlet, ekspor-impor
dan antar pulau.
Mengembangkan jaringan kereta api untuk
angkutan barang jarak jauh.
Optimasi kapasitas pelabuhan dan
pengembangan interkoneksi dengan hinterland
dan hub internasional.
strategi 1: PENINGKATAN KETERPADUAN JARINGAN PRASARANA (Lanjutan..)

Menyiapkan pelabuhan sebagai hub


internasional untuk melepaskan diri dari
ketergantungan pada hub internasional
di negara lain.
Mengoptimalkan peran bandar udara
yang ada untuk dapat berfungsi
sebagai bandar udara kargo.
Meningkatnya keterpaduan jaringan
prasarana pada simpul transportasi
udara.
Strategi 2: PENINGKATAN KETERPADUAN JARINGAN
PELAYANAN

Meningkatkan pelayanan angkutan barang melalui


angkutan kereta api.
Memberlakukan asas cabotage untuk angkutan
laut dalam negeri secara penuh sesuai jadwal
roadmap.
Meningkatkan aksesibilitas barang di daerah
tertinggal dan daerah padat/macet.
Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan
angkutan laut yang dilakukan secara terpadu
serta melalui penataan jaringan trayek.
Peningkatan efisiensi operasional pelayanan.
Strategi 2: PENINGKATAN KETERPADUAN JARINGAN
PELAYANAN (lanjutan..)

Meningkatkan kinerja pelayanan pada pelabuhan


strategis yang menangani sebagian besar arus
barang (Banten, Tanjung Priok, Tanjung Emas,
Tanjung Perak).
Meningkatkan kinerja pelayanan kargo pada
bandar udara yang menangani arus kargo (Soekarno
Hatta, Adi Sicipto, Juanda).
Stategi 3: peningkatan Kualitas Badan Usaha Angkutan
Multimoda

Peningkatan pembinaan badan usaha


angkutan multimoda agar mampu
bersaing secara internasional;
Meningkatkan kualitas SDM angkutan
multimoda;
Pembentukan lembaga sertifikasi
profesi (LSP) di bidang angkutan
multimoda.
BANGKITAN PERGERAKAN

Bangkitan pergerakan adalah tahapan pemodelan yang memperkirakan jumlah


pergerakan yang berasal dari suatu zona atau tata guna lahan dan jumlah
pergerakan yang tertarik ke suatu tata guna lahan atau zona.
BANGKITAN PERGERAKAN

JARINGAN LINTAS
ANGKUTAN BARANG

DATA:
Jaringan Jalan KINERJA
(dimensi, perkerasan, geometrik jalan, JARINGAN JALAN
peran, dan fungsi, serta kelas jalan)
DAYA DUKUNG
LINGKUNGAN

POLA PERGERAKAN ARUS


LALU LINTAS BARANG

DATA:
Perjalanan Eksisting

PEMODELAN DATA:
LALU LINTAS Tata guna lahan, jaringan
transportasi Jalan
DATA:
Kawasan CBD, pasar
induk dan tradisional

DATA: POTENSI
Industri, pertanian, PERJALANAN
pertambangan

Pelabuhan,
terminal barang

Alur Analisis Jaringan Lintas dan Terminal Angkutan Barang


DISTRIBUSI PERGERAKAN

Pola sebaran arus lalulintas antara zona asal i ke zona tujuan d adalah hasil dari
dua hal yang terjadi secara bersamaan.
PEMILIHAN MODA DAN RUTE

Pemilihan
Moda

Pemilihan moda dan rute dilakukan bersama-sama


Pemilihan moda dan rute
1.Alasan pemakai jalan memilih
suatu rute.
2.Pemgembangan model dengan
penggabungan sistem transportasi
3.kemungkinan pemakai jalan bereda
persepsi.(Jarak tempuh terpendek
dan waktu tempuh tersingkat)
4.Kemacetan dan ciri fisik ruas jalan.
(jalan,laut,udara dan rel)
PENGALAMAN PERENCANAAN MULTIMODA

Penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Transportasi


Belgia-Wallonia antara tahun 1997 dan 1999 dengan tujuan
menyediakan alat untuk mengukur dampak dari berbagai
jenis kebijakan dan / atau infrastruktur baru pada arus
angkutan barang dalam dan melalui Wallonia.
Model yang dikembangkan harus menetapkan arus barang
dengan benar ke jaringan Walloon berdasarkan permintaan
yang ditentukan dalam sebuah matriks asal-tujuan (O-D).

Bagian penting dari penelitian ditujukan untuk


mengumpulkan data yang relevan untuk membangun
matriks O-D, untuk menentukan jaringan itu sendiri, dan
untuk mengembangkan fungsi biaya transportasi yang
berarti.

Skenario referensi digunakan dalam langkah pertama untuk


membuat proyeksi untuk tahun 2010: untuk membuat
proyeksi ini serealistis mungkin, diputuskan infrastruktur
ekobaru
yuni.s di Belgia dan di negara-negara perbatasan yang akan
efektif pada tahun 2010 diperkenalkan pada model
DISKO (DISKUSI KELOMPOK)
Pertambangan batubara di propinsi
Sumatera Selatan dan Lampung
Selama ini metode yang digunakan
adalah :
Dari pertambangan menggunakan moda
transportasi darat menuju ke Stasiun kereta
Tanjungenim Baru
Dari stasiun Kereta tersebut menggunakan
moda transportasi Kereta Api Babaranjang
dikirimkan ke Stasiun Tarahan di propinsi
Lampung
Dari Stasiun Tarahan diangkut menggunakan
moda transportasi darat ke Pelabuhan Tarahan
untuk kemudian diangkut menuju Pelabuhan
Jika dalam kondisi ketiadaan kapal
pengangkut maka barang tersebut akan
disimpan sementara waktu di area
pergudangan pelabuhan Panjang.
Dari pelabuhan Tanjung Priok, dikirimkan
dengan menggunakan moda
transportasi darat ke PLTU yang
membutuhkan seperti PLTU Muara
Karang Jakarta
BAGAIMANAKAH PERENCANAAN TRANSPORTASI MULTIMODA YANG AKAN
DITERAPKAN DALAM HAL TERSEBUT.

eko yuni.s
THANK YOU FOR YOUR ATTENTION

TERIMAKASIH