Anda di halaman 1dari 23

DIPHILOBATRIU

M LATUM
MORFOLOGI

1. Panjangnya mencapai 900 cm, lebar 2,5


cm.
2. Terdiri atas 4000 proglotid.
3. Mempunyai sepasang celah penghisap
(bothria)di bagian ventral dan dorsal
pada
skoleks.
4. Hermafrodit.
Daur Hidup
Taksonomi atau Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Phylum : Platyhelminthes
Class : Cestoda
Ordo : Pseudophyllidea
Family : Diphyllobothriidae
Genus : Diphyllobothrium
Species : Diphyllobotrium latum
Patologi dan Gejala Klinis
Infeksi biasanya tidak menimbulkan gejala, meskipun
beberapa penderita mengalami gangguan usus yang ringan.
Tetapi kadang-kadang berupa sakit perut, berat badan
menurun dan kadang cacing pita menyebabkan anemia
karena pada penderita awalnya kekurangan vitamin B12.
Gejala yang ditimbulkan tidak begitu berat, misalnya :
Gejala saluran cerna seperti : Diare.
Tidak nafsu makan.
Tidak enak perut.
Bila cacing sudah hidup dipermukaan usus, gejala yang
ditimbulkan :
Anemia Hiperkrommakrositer.
Defisiensi B12.
Sumbatan usus.
Obstruksiusus (cacing membentuk benang kusut).
Epidemiologi

Penyakit ini jarang ditemukan di


Indonesia akan tetapi di tempat
yang banyak mengkonsumsi ikan
mentah atau kurang matang.
Banyak binatang seperti anjing,
kucing dan babi berperan sebagai
hospes reservoar dan perlu
diperhatikan
Hospes
Hospes Definitif : Manusia
Hospes Reservoar : Anjing,
Kucing dan 22 jenis mamalia
lainnya seperti: walrus, singa
laut, babi dan serigala.
Hospes Perantara I : Cyclops
Hospes Perantara II : Ikan
Cestoda :
Hymenolepis
Nana
1. Morfologi
Hymenolepis nana berbentuk seperti benang dan
mempunyai ukuran terkecil jika dibandingkan dari
golongan cestoda yang ditemukan pada manusia,.
Panjangnya kira-kira 25-40 mm dan lebarnya 1 mm.
Terbagi atas kepala (skoleks), leher dan sederet
segmen-segmen yang membentuk rantai (strobila).
Penyerapan makanan melalui tegumen (bagian luar
tubuh cestoda yang berfungsi absortif dan metabolit)
dan alat ekskresinya berupa sel api (flame cell).
2. Daur Hidup
Cacing dewasa hidup di usus halus beberapa
minggu untuk mengalami perkembangbiakan
dari proglotid immature menjadi mature
selanjutnya menjadi proglotid gravid yang
mengandung banyak telur cacing pada
uterusnya. Proglotid gravid akan melepaskan
diri dan bila pecah maka keluarlah telur cacing
yang bisa dikeluarkan bersama feses manusia.
Masahidup cacing dewasa adalah4-6
minggu, tetapi autoinfeksi internal
memungkinkan infeksi bertahan selama
bertahun-tahun.Cacing di dalam usus
dapat mencapai jumlah 1.000 sampai
8.000 ekor pada seorang penderita.
3. Taksonomi atau
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Platyhelminthes
Class : Cestoda
Ordo : Cyclophyllidea
Family : Hymenolepididae
Genus : Hymenolepis
Species : Hymenolepis nana
Nama penyakit : Hymenolepiasis
4. Patologi dan Gejala
Klinis
Parasit ini biasanya tidak menyebabkan
gejala. Jumlah yang besar dari cacing
yang menempel pada dinding usus halus
menimbulkan iritasi mukosa usus.
Kelainan yang sering timbul adalah
toksemia umum karena penyerapan sisa
metabolit dari parasit masuk kedalam
5. Epidemiologi

Penyebaran cacing ini kosmopolit


juga ditemukan di Indonesia. Hospes
definitif mendapat infeksi bila hospes
perantara yang mengandung parasit
tertelan secara kebetulan.
6. Hospes

Hospes definitifnya meliputi manusia,


primata, tikus, dan mencit. Hymenolepis
nana menyebabkan penyakit
Hymenolepiasis. Hymenolepis nana juga
pernah dilaporkan pada tupai, monyet,
dan simpanse.
Cestoda :
Hymenolepis
Dimuta
1. Morfologi
Cacing dewasa berukuran 20-60 cm
mempunyai 800-1000 buah proglotid.
Skoleks kecil bulat, mempunyai 4 batil isap,
dan rosteum tanpa kait-kait. Proglotid
matang berukuran 0,8 x 2,5 mm. Proglotid
gravid mengandung uterus yang berbentu
kantong dan berisi kelompok-kelompok telur.
2. Daur Hidup
Telur ditemukan pada tinja hospes definitif.
Cacing ini memerlukan hospes perantara I yaitu
larva pinjal tikus dan kumbang tepung dewasa.
Didalam serangga ini embrio yang keluar dari
telurnya berkembang menjadi sistiserkoid. Bila
dimakan oleh hospes definitif, sistiserkoid akan
berkembang menjadi cacing dewasa di dalam
usus halus dalam waktu kira-kira 18-20 hari.
3. Taksonomi atau
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Platyhelminthes
Class : Cestoda
Ordo : Cyclophyllidea
Family : Hymenolepididae
Genus : Hymenolepis
Species : Hymenolepis diminuta
4. Patologi dan Gejala
Klinis
Parasit ini tidak menimbulkan gejala ,
infeksi biasanya terjadi secara
kebetulan saja. Manusia secara
kebetulan mendapat infeksi karena
makanan atau tangan yang
terkontaminasi dengan serangga
yang mengandung parasit.
5. Epidemiologi
Penyebaran cacing ini kosmopolit juga
ditemukan di Indonesia. Hospes definitif
mendapat infeksi bila hospes perantara
yang mengandung parasit tertelan secara
kebetulan. Cacing ini tersebar secara
kosmopolit, tetapi lebih suka daerah
beriklim panas daripada dingin termasuk
6. Hospes
Manusia dan tikus sebagai hospes definitif
karena termakan iksekta bersama makanan,
minuman, atau dari lingkungan (terutama
pada anak-anak). Setelah sampai di lambung
dan usus halus larva sistiserkoid terlepas dari
jaringan insekta dan menjadi calon skoleks.
Sedangkan hospes perantara yaitu pinjal dan
kumbang tepung.
TERIMA
KASIH