Anda di halaman 1dari 18

Atropine Topikal

dalam Mengontrol
Miopia
Donald Tan, FRCS;
Su Ann Tay, MMed Ophth;
Kai - Lyn Loh, MMed Ophth;
Audrey Chia, FRANZCO.

Disusun Oleh :
Nurul Istiqomah Zulma
20110310040

Dokter Pembimbing :
dr. Evita Wulandari, Sp.M
ABSTRAK
Upaya untuk mengurangi perkembangan miopia pada anak didorong
dengan meningkatnya kejadian miopia tinggi dan resiko kesehatan yang
menyertainya. Pendekatan intervensi untuk mengurangi berkembangnya
miopia pada anak diantaranya termasuk penggunaan kacamata, kontak
lensa, dan pendekatan farmakologi, dimana pendekatan farmakologis
lebih menjanjikan. Kami meninjau penggunaan tetes mata atropin topikal
dalam memperlambat perkembangan miopia pada anak-anak dan
membahas gambaran efektifitas dan keamanannya bila digunakan
dalam konsentrasi yang berbeda (1,0%, 0,5%, 0,1%, dan 0,01%). Atropin
topikal mengurangi progresifitas miopia dan pemanjangan aksial pada
anak berhubungan dengan konsentrasi pemberian dosis yang diberikan,
tetapi pemulihan terjadi pada dosis yang lebih tinggi. Penggunaannya
terbukti aman, tetapi dosis yang tinggi menyebabkan pelebaran pupil,
hilangnya akomodasi dan penglihatan dekat. Atropin 0,01% memiliki
indeks terapi terbaik, dengan nilai klinis yang tidak bermakna dalam
menyebabkan pelebaran pupil, pada penglihatan dekat, dan hilangnya
akomodasi, tetapi masih sama efektifnya dengan dosis yang lebih tinggi.

Kata Kunci : atropin, miopia, kontrol, pencegahan


PENDAHULUAN
Miopia adalah gangguan refraksi mata yang menimbulkan
masalah yang bermakna pada kesehatan global. Di Asia,
prevalensi miopia diperkirakan 47,3% bagi orang-orang
pada dekade ketiga kehidupan. Miopia terjadi pada anak-
anak usia dini dan terbukti berhubungan dengan tingkat
miopia yang lebih tinggi pada usia dewasa.

Pada tahun 2011, Walline et al mempublikasikan


metaanalisis dari 23 RCT (penelitian acak) dengan
intervensi pada anak-anak untuk memperlambat
perkembangan miopia. Ditemukan perlambatan
perkembangan miopia dengan pemberian antimuskarinik
topikal, dengan pemberian pirenzepine topikal melambat
sebesar 0,31 dioptri (D) dan atropin sebesar 0,80 D pada
waktu satu tahun, dibandingkan dengan plasebo.
Huang et al. melibatkan 30 RCT yang bertujuan untuk
menentukan efektivitas dari intervensi yang berbeda dalam
memperlambat perkembangan miopia pada anak-anak.
Intervensi yang paling efektif untuk mengurangi
perkembangan miopia adalah atropin, kemudian diikuti oleh
pirenzepine, ortokeratologi dan lensa kontak yang
menunjukkan efek sedang dan penambahan lensa
kacamata progresif menunjukkan efek yang minimal.
TUJUAN
Untuk membahas penelitian yang melibatkan
agen antimuskarinik (yaitu, pirenzepine dan
atropin) untuk mengontrol berkembangnya rabun
pada anak-anak.
Pirenzepine
Pirenzepine topikal gel adalah antimuskarinik selektif
(M1) yang digunakan pada percobaan progresifitas miopia
dalam bentuk gel mata 2%.

Dalam penelitian pertama yang dilakukan di Asia


(Singapura, Hongkong dan Thailand), peningkatan panjang
aksial adalah 0,33 dan 0,20 mm untuk pasien yang
mendapatkan plasebo pada kedua mata dibandingkan
terhadap pirenzepine gel pada kedua mata. Kenaikan rata-
rata miopia juga lebih rendah pada kelompok yang
mendapatkan pirenzepine (0.47 D/y) dibandingkan dengan
kelompok plasebo (0,84 D/y, P <0,01). Penelitian kedua
yang dilakukan di negara Inggris selama 2 tahun, juga
menunjukkan peningkatan rata-rata lebih rendah miopia
pada kelompok pirenzepine dibandingkan dengan plasebo
(0,58 dan 0.99 D, masing-masing; P = 0,008).
Atropine
Atropine adalah antimuskarinik, antagonis reseptor
asetilkolin nonspesifik yang telah lama digunakan untuk
terapi pelebaran pupil dan ambliopia sebagai solusio topikal
1%. Juga digunakan untuk mengurangi perkembangan
miopia.

Di penelitian case controlled lainnya oleh Syniuta dan


Isenberg yang terdiri dari 15 anak-anak di Amerika Serikat,
temuan serupa dicatat dengan pemberian atropin dan
penggunaan kacamata dalam memperlambat
perkembangan miopia, dimana rata-rata perkembangan
rabun tahunan pada kelompok yang mendapat atropin dan
kelompok bifokal adalah 0,05 0,67 D vs 0,84 0,26 D di
kelompok kontrol (P=0,00021) selama 29,3 bulan.
Penggunaan konsentrasi yang lebih rendah dari atropin juga telah
dipelajari dengan tujuan untuk mengurangi efek samping berupa
fotofobia dan mengurangi perkembangan nearsighted dan
meningkatkan kepatuhan anak-anak yang mengalami miopia.
Secara keseluruhan, hasil dari penelitian telah menunjukkan bahwa
pada dosis atropin yang lebih rendah tetap dapat
memperlambat perkembangan miopia secara bermakna
dengan laporan efek samping yang lebih rendah.

Penelitian RCT lebih lanjut lainnya yang dilakukan di Taiwan


menunjukkan bahwa dosis atropin yang lebih rendah efektif dalam
mengurangi perkembangan miopia, sekelompok anak dengan
jumlah 186 usia 6-13 tahun secara acak, 1 kelompok dibagi 3
kelompok yang mendapatkan atropin (atropin 0,5%, 0,25%, atau
0,1% setiap hari) dan dengan kelompok kontrol, dengan penelitian
selama 2 tahun. Rata-rata perkembangan rabun di masing-masing
kelompok lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol (0,04
0.63 D / y pada kelompok atropin 0,5%, 0,45 0,55 D / y pada
kelompok atropin 0,25% dan 0,47 0,91 D / y pada kelompok
atropin 0,1%).
Penelitian retrospektif kasus kontrol lainnya mengevaluasi
penggunaan atropin 0,05% dan 0,1% menemukan bahwa
konsentrasi yang lebih rendah lebih efektif dalam
memperlambat laju perkembangan miopia. Anak-anak
awalnya dimulai dengan pemberian atropin 0,05% setiap
malam dan kemudian beralih ke atropin 0,1% jika miopianya
berkembang lebih dari 0.5 D dalam 6 bulan pertama (45% dari
pasien). Dibandingkan dengan mereka yang tidak
mendapatkan pengobatan, perkembangan miopia lebih lambat
pada kelompok yang mendapatkan atropin (-0,23 vs -0,86 D /
y, P <0,01), meskipun 20% dari mereka yang dirawat masih
berkembang lebih tinggi 0.5 D / y ( dibandingkan dengan
100% dari pasien yang diobati dengan plasebo).

Konsentrasi atropin yang lebih rendah tidak se-efektif


dibandingkan dengan dosis yang lebih tinggi dalam
perkembangan miopia, tetapi efek perlambatan
perkembangan miopia masih bermakna secara klinis
dibandingkan dengan tanpa pengobatan.
Di Singapura pada tahun 1999-2004, yang melibatkan 400
anak usia 6-12 tahun dengan miopia ringan sampai sedang
( -1 ke -6). Dalam kelompok yang mendapat perlakuan,
pasien mendapatkan atropi 1% permalam pada satu mata
dan tidak ada perawatan pada mata yang lainnya.
Kacamata progresif fotokromik di resepkan pada seluruh
subjek penelitian. Penelitian ini berlangsung selama 2
tahun pengobatan dan 1 tahun setelah pengobatan
berhenti.

Percobaan ATOM1 menunjukkan 77% berkurangnya


perkembangan miopia pada mata yang mendapat terapi
atropin dan mata yang mendapat perlakuan plasebo
(perkembangan -1,20 0,69 D di kelompok plasebo dan
-0,28 0,92 D pada kelompok atropin). Terdapat
hubungan yang kuat antara menurunnya elongasi
aksial pada mata.

Pada periode pembersihan (24-36 bulan) terdapat


ATOM2 yang segera megikuti ATOM1, dirancang untuk
membandingkan keamanan dan efektivitas dosis
atropin yang lebih rendah ( 0,5%, 0,1% dan 0,01%).
Penelitian ini dilakukan selama 5 tahun pada tahun 2006-
2012 termasuk 2 tahun pengobatan dan 1 tahun follow up,
dan melibatkan 400 anak-anak Singapura usia 6-12 tahun
dengan miopia -2 D atau lebih tinggi. Mereka secara acak
membagi menjadi 3 kelompok yang mendapat perlakuan
dengan atropin 0,5% (n=161), atropin 0,1% (n=155) dan
atropin 0,01%(n=84).
ATOM2 jelas menunjukkan manfaat dari konsentrasi atropin
yang lebih rendah dalam menurunkan efek samping visual.
Pada kelompok 0,01%, ukuran pupil rata-rata hanya 0,8
mm lebih besar daripada dalam kondisi awal fotopik dan
1,2 mm pada kondisi mesopik. Jika dibandingkan,
perbedaannya adalah 2.3 dan 3.1 mm(fotopik) dan 2.7 dan
3.6 mm(mesofik), masing-masingnya pada kelompok
Rata-rata akomodasi akhir adalah 11.8 D pada kelompok
yang mendapat atropin 0,01% VS 6.8 dan 4.0 D pada
kelompok yang mendapat atropin 0,1%. Hal ini
menunjukkan secara klinis nilai yang bermakna pada
gangguan akomodasi pada konsentrasi terendah. Rata-rata
akomodasi awal adalah 16.2 D. Oleh karena itu hanya 6%
anak-anak dalam kelompok 0,01% yang meminta
kacamataprogresf fotokromik dibandingkan dengan 61%
pada kelompok 0,1% dan 70% pada kelompok 0,5%.
Sebagai akomodasi yang sedikit terpengaruh, ketajaman
penglihatan untuk penglihatan dekat juga sangat baik pada
kelompok perlakuan atropin 0,01%. Temuan ini
menegaskan bahwa atropin 0,01% secara bermakna
tidak mempengaruhi fungsi penglihatan dekat dan
efek pelebaran pupil nya minimal.
Penggunaan Atropin Dosis Rendah 0.01%

Penelitian retrospektif kasus kontrol terbaru di Amerika


Serikat mengevaluasi atropin 0,01% dalam mengontrol
miopia pada anak-anak
Mereka yang mendapatkan atropin secara bermakna memiliki
tingkat perkembangan miopi yang lebih rendah dibandingkan
pada kelompok kontrol, dan 75% anak-anak dalam kelompok
ini menunjukkan perkembangan yang lambat dibandingkan
dengan hanya 18 pada kelompok kontrol.
Tiga pasien yang mendapatkan atropin masih memiliki
perkembangan miopia yang cepat dari -1,00 D/y atau lebih
tinggi. 82% anak anak dengan miopia awal yang rendah yang
mendapatkan atropin memiliki perubahan setelah 1 tahun,
sedangkan 100% dari kontrol lebih rabun. Hanya 3 anak-anak
dalam kelompok yang mendapat atropin mengeluh blur atau
lebih sensitif trhdapa cahaya, tetapi mereka tidak merasakan
gejala tersebut cukup untuk menghentikan pengobatan.
Atropin untuk pencegahan
miopia
Penelitian kohort retrospektif dilakukan di Taiwan oleh Fang
et al. membandingkan 50 anak-anak usia 6-12 tahun yang
premiopia yang mendapat atropin 0,025% pada waktu tidur
dengan mereka yang tidak, selama periode 12 bulan. Rata-
rata refraksi sferis miopi pada kelompok pemberian atropin
adalah 0.14 0.24 D/y secara bermakna lebih rendah
dibandingkan pada kelompok kontrol, dan hanya 21% anak
yang mendapatkan atropin menjadi miopia dibandingkan
dengan 54% dari mereka yang tidak mendapat atropin.
KESIMPULAN
Tetes mata atropin terbukti aman dan efektif dalam
mengurangi perkembangan miopia.
Atropin 0,01% memiliki indeks terapi terbaik.
Penelitian lebih lanjut dengan periode follow up yang
lebih lama harus dipertimbangkan untuk mengevaluasi
penggunaan atropin dosis rendah dalam mencegah
timbulnya miopia, terutama pada populasi beresiko
tinggi. Ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab.
Masih ada ketidakpastian mengenai farmakologi yang
tepat mengenai pengaruh penggunaan atropin jangka
panjang pada mata.
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi
durasi pengobatan yang tepat dan waktu terbaik untuk
memulai, menghentikan dan mengulangi pengobatan.
TERIMA KASIH