Anda di halaman 1dari 41

MANAGEMENT CONTROL,

CULTURE, AND ETHNICITY IN A


CHINESE INDONESIAN COMPANY

Sujoko Efferin
Trevor Hopper
Abstrak

Penelitian ini memeriksa aspek socio-cultural dari pengendalian


manajemen di perusahaan manufaktur China Indonesia
Metode pengumpulan data adalah etnografi yg mengkombinasikan
dengan grounded theory data analysis untuk memeriksa bagaimana
budaya, perbedaan etnic, sejarah, politik, dan pertimbangan komersial
yg membentuk pengendalian manajemen.
Kombinasi dari metode emic dan ethnic digunakan untuk
membandingkan generate grounded dengan penelitian nomethetic
dalam budaya dan pengendalian dalam cultural contingency tradition
Kasus ini berhubungan dengan nilai bisnis China untuk
mensosialisasikan selama masa anak- anak dan kemudian menguji
bagaimana interaksi mereka dengan budaya Jawa dari pekerja pribumi,
ketegangan etnik antara majikan dan pekerja, dan organisasional,
faktor ekonomi yg berpengaruh terhadap pengendalian manajemen.
Abstrak

Konsisten dengan penelitian kontijensi


budaya sebelumnya pimpinan china
lebih suka biasanya dengan
pengendalian perilaku melalui personal
dan pengendalian perilaku, low budget
participation, sentralisasi, subjektif
lebih besar dari pada pengendalian
objektif, dan tentatively, beberapa
penghargaan berhubungan untuk hasil
dan menggunakan untuk group reward.
Pendahuluan

Kepentingan utama penelitian adalah memeriksa


apakah keyakinan budaya dari pimpinan Cina pada
perusahaan manufaktur Indonesia yang konsisten
dengan Konfusianisme - budaya dasar Cina
bagaimana, jika hal ini semua dilanggar dalam
sistem pengendalian manajemen perusahaan
(MCS).
Namun, pimpinan Tionghoa manajer mengoperasikan
dalam lingkungan multi-budaya untuk Karyawan
mereka yang didominasi pribumi (terutama Jawa )
Dengan demikian, jika budaya Cina penting bagi
MCSS maka budaya Jawa dan interaksi antar-budaya
Pendahuluan

Multi-kulturalisme sering dihubungkan


dengan perbedaan etnis. Etnis
merupakan sumber dari identitas
kelompok: tidak hanya karakteristik
atribut untuk anggota focal group
'tetapi juga untuk kelompok etnis lain.
Etnis mendefinisikan diri dalam
hubungannya dengan orang lain dan
dapat menjadi sumber tindakan dan
makna.
Pendahuluan
Dalam arena politik perbedaan etnis utama adalah
diantara pribumi dan Cina.
Politisi tuduhan bahwa kontaminasi Indonesian Chinese
atau melawan budaya bangsa Indonesia menyebabkan
penindasan politik dari budaya dan pengaruh Cina.
Praktik bisnis Chinese Indonesian mungkin dari
kepentingan konfusianisme tetapi mereka harus juga
bekerjasama dalam mendukung kesulitan lingkungan
lokal yg ditandai dengan kebencian dari pengusaha
China, saling kecurigaan etnis,dan pendapat
diskriminasi sejarah dari negara, perhatian
multikulturalisme diperlukan memperhatikan sejarah,
politik, dan konflik etnis.
Pendahuluan

Para peneliti cenderung ke penelitian emic


memiliki keinginan untuk terlibat dengan
penelitian etik sebelumnya, membangun
pengetahuan kumulatif, dan menggunakan
teori-teori dalam hubungan komplementer,
cara pluralistik (Bhimani, 1999).
Maka Grounded data dianalisis
menggunakan kategori etik dari penelitian
sebelumnya sementara menggunakan
analisis emic untuk membuat kategori baru
dan ketika konsep kategori etik tidak cukup.
Fitur-fi
tur M CS
Merchant membedakan tiga jenis pengendalian: hasil, tindakan, dan
personil. Mereka tidak saling eksklusif, melainkan perbedaan MCSs
sesuai untuk penekanan pada masing-masing.
Hasil pengendalian didefinisikan keluaran yang diharapkan dari
karyawan. Prestasi mereka sering diperkuat oleh reward. Hal ini
paling berguna jika apa yang merupakan kinerja yang efektif
diketahui, karyawan dapat
Mempengaruhi hasil, output yang terukur, dan karyawan
menganggap otoritas manajer 'sebagai sah (Merchant, 1998).
Tindakan kontrol pengawasan pengendalian diartikan (perilaku)
daripada akhir (hasil) dengan melarang tindakan yang tidak
diinginkan (kendala perilaku), berasal perilaku karyawan yang
diinginkan dari rencana (review pra tindakan), dan pengawasan
perilaku dengan observasi langsung atau pengendalian formal
(perhitungan tindakan).
Personil / kontrol budaya (selanjutnya disebut pengendalian budaya)
fokus pada perekrutan, pelatihan, desain pekerjaan, dan
mempromosikan berbagi norma-norma dan nilai-nilai untuk
mendorong pengendalian diri karyawan (Merchant, 1998, hal. 121).

D IM EN S I K U LTU R C H IN ES E
Definisi kultur dari peneliti adalah, cara hidup yang termasuk
nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan, dan norma-norma yang
ditransmisikan di dalam suatu masyarakat dari generasi ke
generasi (Scupin, 1998, p.36)
Konfusianisme, fondasi dari nilai budaya Cina ((Suyadinata, 1978),
mendukung nilai moral, tao, yang menenkankan pada perintah
social, harmoni, (Redding, 1993), dan hubungan social
berdasarkan pada jen yang menerima chung dan shu
(Suryadinata, 1978).
Dalam konfusianise humanisme bergantung pada status
komunitas yang diambil dari sikap saling membantu. Chung
termasuk ketulusan dan kejujuran dimana shu menekanan pada
sikap rela berkorban.
Nilai-nilai vertical dan horizontal dari konfusianis berpengaruh
pada kultur bisnis cina (Suryadinata, 1978).
Setiap posisi social mempunyai tanggung jawab dan tugas yang
dipercayakan yang dikenal sebagai li, yang paling penting untuk
menjadi anak-anak yang berkeyakinan kuat (Hsiao)
D im ensiKultur Chinese
Masyarakat Chinese dikenal dengan kolektivisme keluarga (Redding, 1993):
diasumsikan bahwa orang yang tidak mempedulikan keluarganya tidak akan
menghormati kewajibannya terhadap orang luar.
Masyarakat Chinese terdiri atas berbagai lingkaran. Intinya adalah keluarga,
dikelilingi oleh grup lain atau keluarga tambahan. Teman dan kerabat dipercaya
berdasarkan dependensi mutual yang dibangun dalam guanxi-jejaring yang
berdasarkan pada etnis, inter alia, dan menjaga keluarga.
Qin jian (hati-hati dalam menyimpan uang) menekankan pada
menabung, memelihara sumber daya, dan menampilkan
kesederhanaan.
Ke ji (kesederhanaan) menekankan pada mengontrol keinginan
untuk kekayaan, kekuasaan dan kesenangan dan memenuhi
tanggung jawab sosial.
Qin fen mendukung kerajinan dan mencaari pengetahuan dan
kebijaksanaan. Jing shen mendukung penghindaran risiko dan
kemampuan untuk menilai sesuatu dengan benar.
D im ensiKultur Chinese
Nilai-nilai Confusian menghasilkan gaya bisnis Chinese yang
patrimonial (Redding, 1993, p.155). Kekuatan berasal dari
kepemilikan: pemilik dan karyawan melihat perusahaan sebagai
property keluarga dan manajemen sebagai hal yang sama
dengann mengatur keluarga.
Pemberi kerja bertanggung jawab untuk kesejahteraan
karyawan, mengalokasikan pekerjaan, pertanggunjawaban
terhadap sumber daya, membantu bila ada inefisiensi,
memberikan keamanan dan menunjukkan pengertian.
Sebaliknya, karyawan seharusnya menunjukkan sikap rajin dan
patuh.
Kegagalan untuk menambahkan bukti secara konsisten antara
kultur Chinese dan pengendalian memiliki beberapa alasan,
termasuk mengasumsikan bahwa kultur nasional itu bersifat
unitary sementara masyarakat cenderung multi-kultur dan
menghadapi masalah tekanan etnis,
Kultur Jaw a
Pillar dari budaya jawa adalah alus-kasar dan lair
batin (Geertz, 1960).
Alus diartikan murni, memurnikan, sopan, sangat
halus, lembut, halus, keistimewaan dan lembut.
Kasar diartikan sebaliknya: tidak sopan, kasar, dan
tidak istimewa
Lair kepentingan luar dari perilaku seseorang
adalah untuk tindakan eksternal individual,
perpindahan, posisi tubuh, dan pidato,
batin kepentingan dalam adalah kehidupan
emosional mereka : tidak jelas, perpindahan
perasaan sendiri di dalam penting fenomenologi
mereka. (Geertz, 1960,p. 232).
Kultur Jaw a
Terdapat 3 pembagian dari nilai budaya : keadaan sosial termasuk andap-asor dan
bapakism, harmonis sosial (rukun), and mistis termasuk ritual seperti slametan dan
kenduri.
Andap asor, yg diartikan me merendahkan diri sendiri sopan dan menunjukkan
perilaku yang benar.
Bapakism adalah bentuk Jawa paternalisme dan patronage (Geertz, 1961;
Rademakers, 1998).
Bapak harfiah berarti ayah, tetapi juga dapat berarti figur karismatik yang peduli
bagi anggota masyarakat. Bapaks menuntut penghormatan, ketaatan dan loyalitas
dari bawahan
Rukun adalah pemeliharaan harmoni sosial (Geertz, 1961, hal. 149). Ini terwujud
melalui kolektif (musyawarah) dan keputusan bulat (mufakat), dan kerjasama
(gotong royong). Mencapai kompromi keharmonisan tanpa perasaan intens atau
ekspresi kebencian
Kultur Jaw a
Jawa memiliki kepercayaan mistis yang kuat.
Banyak percaya leluhur, tempat, dan roh bisa
berkomunikasi. Menjaga hubungan yang harmonis
dengan roh adalah penting untuk kehidupan yang
tenang. Hal ini memerlukan ritual berikut seperti
slametan / kenduri komunal berpesta acara-
acara penting melambangkan kesatuan mistis dan
peserta sosial
Jawa dan budaya Cina serupa bahwa keduanya
menekankan paternalisme, hirarki, reputasi,
keharmonisan sosial, dan sosial agar meskipun
budaya Jawa memiliki khas mistis dan set
ekspektasi perilaku.
Perm asalahan KontinjensiKultural

Pertama, analisis mungkin terlalu umum - mereka


menganggap apa yang Cina adalah secara relatif
homogen di dalam dan di negara-negara
Kedua, studi tersebut cenderung statis - mereka
mengabaikan bagaimana dan mengapa budaya
berubah (Bhimani, 1999).
Ketiga, mereka mengabaikan dampak dari historis
dan faktor eksternal organisasi yang melibatkan,
antara lain, lembaga-lembaga politik dan ekonomi dan
usaha atas budaya dan pengendalian (Bhimani, 1999).
Keempat, mereka menganggap yang Cina secara
obyektif dipastikan ketika dapat didefinisikan
subyektif.
Perm asalahan KontinjensiKultural

Kelima, mereka gagal untuk menetapkan bagaimana nilai-nilai


budaya yang dijiwai oleh sosialisasi di dalam keluarga, sistem
pendidikan, dan pengalaman sosial di dalam dan di luar
tempat kerja (Bhimani, 1999) atau menunjukkan hubungan
antara keyakinan dan tindakan - bagaimana dan apakah
budaya diberlakukan dalam MCSs adalah diabaikan (Harrison
& McKinnon, 1999): tindakan mungkin melibatkan agensi atau
tanggapan lain terhadap komersial atau tekanan sosial.
Keenam, ada alasan percaya pada konsep problematis dan
instrumen survei penelitian berasal dari Hofstede, sering
bersama-sama dengan orang-orang bermasalah dari teori
kontingensi dan penelitian tentang pengukuran kinerja
akuntansi (Baskerville, 2003; Chenhall, 2003; Harrison &
McKinnon, 1999; McSweeney, 2002 ) membangun konsep
dan faktor bottom up melalui studi lapangan telah diabaikan.
M etodologi
Kebanyakan penelitian tentang MCSS dan budaya Cina
etik: termasuk kategori menggambarkan dari konsep
birokrasi dan otoritas legal-rasional dalam masyarakat
Barat.
Dengan demikian peneliti etnografis cenderung
menghadapi dilema. Mereka bisa menghargai secara
relatif budaya dan menggunakan metode eksklusif emic
untuk menghasilkan analisis kategori dari field data dan
tidak menggeneralisasi temuan di luar tempat
Namun, banyak ahli etnografi ingin menggeneralisasi
yang membutuhkan sistematis, kerja kumulatif, lebih
cocok dengan pendekatan etik. Akibatnya, penelitian
antropologi biasanya menggunakan campuran
pendekatan emic dan etik
M etodologi
Anggapan bahwa orang-orang berperilaku sama sesuai
dengan anggota mereka dalam masyarakat luas
menganggap keyakinan budaya mempengaruhi
tindakan manusia dan persepsi, sehingga
memperkenalkan isu subjektif lebih sering dipelajari
oleh metode penelitian kualitatif.
Namun, sebagian besar bekerja dalam budaya nasional
dan MCSs, termasuk di luar negeri Cina, cenderung
mengikuti metode penelitian nomothetic yang menguji
hubungan hipotesis dari atribut yang telah untuk
budaya, sering menggunakan instrumen penelitian dari
Hofstede, dengan dimensi MCSs diukur dengan
instrumen dari pekerjaan kontingensi sebelumnya.
Pengum pulan D ata dan
Analisis
Mendapatkan akses itu tidak mudah: pengusaha Cina perantauan biasanya
dijaga tentang perusahaan mereka dan pertanyaan penelitian adalah sensitif
di Indonesia. Untuk mengatasi hal ini, kepercayaan dan keyakinan antara
peneliti dan responden diperlukan dibentuk dan jaringan pribadi diikuti.
Ini memberikan pemahaman yang mendalam mengenai kegiatan perusahaan,
personil, dan infrastruktur fisik, dan mengungkapkan faktor-faktor yang
berlalu tanpa diketahui oleh metode penelitian lainnya.
Pertimbangan etis yang penting. Untuk memastikan kesediaan peserta untuk
berpartisipasi dan untuk melindungi mereka, kerahasiaan dan anonimitas
dijamin, tape recorder digunakan hanya dengan izin, dan peneliti
mengungkapkan kepada responden jati dirinya, tujuan penelitian dan
bagaimana temuan akan disebarluaskan
Oleh karena itu, data tentang mereka terutama berasal dari kasual,
percakapan ramah dan wawancara dengan tokoh-tokoh diluar Jawa dan, untuk
mengimbangi kemungkinan terjadinya bias peneliti, peneliti Jawa dilatih untuk
mengikuti protokol penelitian yang ketat yang melibatkan peneliti non-Cina
kedua untuk mengumpulkan data dari karyawan pribumi.
Data berasal dari interview, dokumen- dokumen, dan participant observations
Pengum pulan D ata dan
Analisis
Pertanyaan selama wawancara dan observasi membantu
membuka jalur penyelidikan dan sampling teoritis langsung.
Semua wawancara, observasi, dan analisis dokumen berada
di Indonesia dan wawancara yang direkam dan ditranskrip.
Dokumen mempelajari grafik termasuk sistem dan prosedur
akuntansi, laporan terkait, manual dan dokumen, bentuk
anggaran, buku kas, dan laporan keuangan.
Analisis data terdiri dari transkripsi dan Mikroanalisis
Konsep dan hubungan mereka kemudian dikodekan
sistematis. Konsep serupa dikelompokkan dalam kategori
dengan satu ide sentral. Setelah diidentifikasi kategori
menjadi lebih mudah untuk mengingat dan berkembang
dengan memecahnya ke dalam subkategori (kapan, di mana,
mengapa, bagaimana, dan sebagainya), dan akhirnya
mengintegrasikan kategori utama ke dalam model
Friends Com pany

Teman Perusahaan ini terletak di sebuah


kawasan industri di Jawa Timur. Dalam Hal ini
dimiliki oleh empat pemegang saham: Mr O,
Mr W, Mr H, dan Mr A
Ini menghasilkan lembaran plastik dalam
gulungan atau dibentuk seperti kantong
plastik / sachet, dari lapisan dalam tas kertas
dan peralatan untuk industri dan rumah
tangga.
Persyaratan pelanggan bervariasi sesuai
dengan bahan yang digunakan, dimensi
lembar, warna, bundle, Model (dengan atau
tanpa gagang) dan berat. Harga jual
Friends Com pany

Mr Ed adalah totok Tionghoa Indonesia 56 tahun


yang tidak memiliki pendidikan formal di luar
SMP. Dia menggunakan praktek bisnis keluarga
Cina tradisional, menolak menerima teknik
manajemen modern.
Pada 1998-2000 perusahaan mengalami
masalah arus kas: manajemen tidak bisa
mengatasi dengan ekspansi dan pelanggan
gagal pada tagihan besar.
Fig.2, Struktur organisasi teman. Ia memiliki tiga
pusat utama tanggung jawab: Pemasaran,
Manufaktur, dan Keuangan dan Akuntansi
Friends Com pany
Proses produksi yang sederhana dan dipahami dengan baik.
Dalam teori kontingensi istilah ada ketidakpastian tugas
rendah. Semua produksi job order: kebutuhan pelanggan
menentukan karakteristik produk - variasi membutuhkan
input yang berbeda dan waktu penyelesaian
Keempat pemilik (messrs. O, W, H and A) dan dua pekerja
senior (Mr. U and Cik K) merupakan peran kunci..
Keempat pemilik telah menjadi teman dekat dari sekolah
tinggi atau dari mana banyak hubungan bisnis antara
universitas Cina Indonesia batang.
Dua pemain kunci lainnya, Cik K dan Mr U, bergabung
Teman di era Mr Ed. Cik K (supervisor pemasaran senior)
adalah sekitar 40 tahun, belum menikah, dan dari kelas
menengah tapi tidak kaya totok keluarga Cina
Friends Com pany
Ini mengungkapkan empat poin penting.
Pertama, pentingnya Cina, eksternal dan internal untuk teman,
menampilkan integritas, kepercayaan, loyalitas dan keahlian:
tanpa jaminan ini Cik K tidak akan pernah dinilai, dan tidak akan
pemilik baru yang berusaha untuk mempertahankan dirinya.
Kedua, pentingnya Cik K bermain di guanxi bisnis ini, yang tidak
akan terlupakan.
Ketiga, nilai tinggi ditempatkan pada kepercayaan oleh
pengusaha Cina: ketika Cik K memberi jaminan dia tidak
memberikan uang, jaminan tertulis, atau barang berharga
sebagai jaminan. Kata-katanya sudah cukup.
Keempat, bagaimana dalam sebuah perusahaan Cina hubungan
pribadi dan bisnis tidak dapat dipisahkan, terutama jika majikan
mempertahankan kekerabatan seperti hubungan. Cik K
dianggap Mr Ed tidak hanya sebagai formal yang unggul dan
majikannya, tetapi juga sebagai anggota keluarga senior yang
siapa dia harus menghormati dan mematuhi, konsisten dengan
nilai-nilai Konfusian dari hsiao. Untuk Cik K, yang bekerja di
Friends Com pany
Mr Ed direkrut Mr U untuk menangani urusan produksi dan pekerja. Perusahaan ini
dilanda pemogokan sebagai pekerja tidak dibayar pergi karena kesulitan
keuangan. Mr U menenangkan situasi dan mendapat Mr Ed untuk hak-hak pekerja
kehormatan '. Selanjutnya tidak ada perselisihan yang signifikan atau pemogokan
telah terjadi.
Pekerja pribumi dianggap sebagai Mr U bapak mereka. Meskipun Mr U adalah
bukan orang Jawa, karyawan merasa hubungan yang lebih kuat emosional dan
sosial dengan dia daripada pemilik karena mereka percaya ia adalah pribumi dan
dengan demikian akan menjamin perlakuan yang adil dari pemilik Cina.
Jadi pemilik melihat Mr U sebagai karyawan penting namun berpotensi berbahaya.
Mengingat volatile politik Indonesia dan provokator sejarah di perusahaan Cina ia
bisa memanfaatkan pengaruhnya atas pekerja untuk memobilisasi bentrokan
etnis.
Perbedaan identitas etnis, jenis kelamin, pendidikan, dan agama menembus
keanggotaan divisi. Hanya tiga karyawan Manufaktur adalah Cina - semua
manajer senior dengan gelar. Ada 46 laki-laki dan 155 karyawan perempuan, tapi
semua 11 manajer senior adalah laki-laki. Hanya empat karyawan pribumi - semua manajer
senior - dididik di luar sekolah.
Friends Com pany
Singkatnya, ada beberapa karyawan Cina dan Kristen
(5% dan 7,5%, masing-masing), tetapi manajemen
puncak melestarikan mereka: tidak ada yang
dipekerjakan dalam pekerjaan tingkat bawah. Pria dan
personil tersier berpendidikan adalah minoritas (25,7%
dan 8,9%, masing-masing) tetapi mereka mendominasi
posisi manajemen puncak dan menengah dan yang
paling pengawasan. Sebaliknya, karyawan blue collar
adalah pribumi, terutama perempuan, hampir semua
Muslim, dengan pendidikan sederhana. Ada
korespondensi tinggi antara identitas etnis, agama,
pendidikan, tingkat hirarki, dan kewenangan formal.
Dalam Friends, berarti Cina menjadi Kristen,
berpendidikan, manajemen senior, dan baik dihargai.
Friends Com pany

Sebagian besar pekerja pribumi


memiliki stereotip negatif dari
sebagai pengusaha Cina kaya tetapi
tidak bermoral dan licik oportunis
siap untuk melakukan apa pun untuk
mendapatkan keuntungan. Mereka
mengklaim eksploitasi etnis adalah
umum di Indonesia dan bekerja keras
hanya menguntungkan Cino tersebut.
M anagem ent ControlSystem Perusahaan

Pengendalian hasil
Pengendalian hasil terdapat dalam 3 area:
Pengaturan Anggaran
Target Penjualan
Kerusakan Produksi dan Tingkat
Kerusakan
M anagem ent ControlSystem Perusahaan

Pengaturan Anggaran
Pentingnya anggaran untuk mengedalikan operasi
beervariasi.
Anggaran penjualan krusial untuk menentukan kinerja secara
keseluruhan.
Anggaran lainnya digunakan untuk memprediksi kebutuhan
modal kerja: penekanannya kepada pembiayaan dan
perencanaan daripada pengendalian manajemen.
Pemilik akan menggunakan praktik MCS yang konvensional,
modern yang dipengaruhi oleh kultur, masalah etnis, dan
pragmatis bisnis.
Semua direktur mendiskusikan setiap anggaran dan
keputusan secara bersama-sama. Tidak ada divisi, tidak ada
kecenderungan budgetary slack, atau manipulasi hail kinerja
divisional karena anggaran adalah tentang uang keluarga.
M anagem ent ControlSystem Perusahaan

Target Penjualan dan Komisi


Target penjualan, diturunkan dari anggaran
penjualan adalah penting.
Lebih dari 50% pendapatan salesman berasal
dari komisi yang berdasarkan penjualan per
individu untuk memotivasi pemaksimalan
pesanan.
Hanya saja bila tidak mencapai target maka
akan ada punishment.
Ethnic antagonism antara karyawan dan pemilik
tergolong rendah dalam markeeting dan hanya
terdapat konflik yang kecil tentang komisi.
M anagem ent ControlSystem Perusahaan

Kerusakan Produksi dan Tingkat Kerusakan


Biaya manufaktur penting karena merupakan
bagian yang besar dari keseluruhan biaya.
Pemilik akan dengan hati-hati mempelajari
tentang volume produksi, pembelian bahan baku
langsung, harga material dan varians, serta
kerusakan produksi dan tingkat kerusakan tetapi
hanya kerusakan produksi dan tingkat kerusakan
yang dijadikan target operasional
Kualitas produk, penting untuk kepuasan
konsumen dan tingkat pembelian/pemesanan
kembali, diukur dengan kerusakan produksi.
M anagem ent ControlSystem Perusahaan

Pengendalian Perilaku
Di dalam perusahaan Friends
pengendalian perilaku dilakukan melalui:
Sistem akuntansi
Otoritas yang terbatas untuk
menentukan harga jual
Akuntabilitas perilaku
M anagem ent ControlSystem Perusahaan

Sistem Akuntansi
Sistem akuntansi membatasi perilaku
tertentu dari karyawan.
Prosedur formal untuk produksi pesanan,
pengendalian produksi, pembayaran,
pembelian dan penerimaan, serta bank dan
kas kecil didesain untuk menghindari fraud.
Sistem akuntansi memrogram perilaku
melalui peraturan dan prosedur tetapi
pengendalian finansial tidak didelegasikan.
M anagem ent ControlSystem Perusahaan

Otoritas yang Terbatas untuk


Menentukan Harga Jual
Setiap salesman mempunyai wewenang
terbatas untuk menegosiasikan harga jual.
Bila pelanggan menginginkan harga yang
lebih rendah harus mendapatkan
persetujuan dari supervisor marketing.
Jadi, aturan birokratis menyediakan
delegasi yang terbatas di antara kultur
chinese untuk hirarki manajerial dan
pembuatan keputusan kolektif oleh pemilik.
M anagem ent ControlSystem Perusahaan

Akuntabilitas Perilaku
Karyawan diharapkan untuk menjadi
loyal, dapat membantu, dan percaya
akan kebijakan pemilik.
Menurut nilai-nilai manajemmen
tradisional chinese otoritas berasal dari
kepemilikan personal-bukan perjanjian
tertulis.
Pemilik melakukan monitoring langsung
terhadap perilaku karyawan
M anagem ent ControlSystem Perusahaan

Pengendalian Kultur
Pengedalian kultur terdiri atas:
Rekrutmen yang Selektif
Membuat Divisi di antara blue-collar
employees
Membangun hubungan personal
Menghormati agama
M anagem ent ControlSystem Perusahaan

Rekrutmen yang selektif


Secara formal karyawan direkrut melali prosedur
administratif yang standar. Tetapi blue dan white-
collar employees direkrut secara berbeda.
Kriteria seleksi bagi blue-collar employee
termasuk pengalaman yang relevan serta
kemampuan juga karakter dan agama.
Untuk white-collar employees ditentukan oleh
pemilik. Kriterianya termasuk kompentensi,
kemampuan, kepribadian, dan latar belakang
sosial-budaya. Pemilik lebih cenderung memilih
orang chinese untuk posisi-posisi vital.
M anagem ent ControlSystem Perusahaan

Membagi Pekerja dan Membangun


Hubungan Personal
Praktek rekrutmen di perusahaan Friends
memikirkan tentang perekrutan karyawan
yang tidak akan mengeksploitasi tekanan
etnis.
Hubungan yang baik dengan komunitas jawa
memberikan proteksi terhadap kekacauan.
Pengendalian kultur mengisi kekosongan/gap
dari pengendalian hasil dan perilaku.
N ilai-nilai,Sosialisasi,dan Etnis

Analisis empiris menguji apakah data emic


dari nilai-nilai pemilik beretnis Chinese
bergabung dnegan nilai kultur confusianis
yang menghormati hubungan vertikal dan
horizontal, serta kualitas personal;
bagaimana nilai-nilai tersebut diperbaiki
dengan sosialisasi; dan bagaimana nilai-
nilai ini dimengerti dalam pengendalian.
Nilai-nilai confusianis dari pemilik didapat
dari sejak kecil dari orang tua sekolah, dan
kehidupan sehari-hari di Indonesia.
Faktor-faktor yang M em penaruhiPengendalian
M anajem en

Pemilik secara selektif menggabungkan pengendalian


perilaku secara objektif dan subjektif.
Pemilik juga sangat mementingkan pengendalian
kultural. Secara umum rekrutmen dilakukan secara
formal dan objektif tetapi pada kenyataannya
didominasi oleh praktek-praktek informal.
Walaupun pemilik lebih cenderung mengendalikan
perilaku dan kultural, tetapi pegendalian hasil juga
diperlukan sebagai variabel ekonomi.
Kesimpulannya, pemilik lebih cenderung
mengendalikan karyawan dengan pengendalian
perilaku dan kultural sesuai dengan nilai-nilai Chinese
tetapi peferensi ini terus disesuaikan dengan tekanan
etnis yang kecil dan efektivitas komersial.
Kesim pulan

Penelitian ini mengkonfirmasi riset sebelumnya


yang menyatakan bahwa bisnis yang dimiliki leh
etnis china mempunyai partisipasi anggaran
yang rendah, kecenderungan untuk
mengendalikan secara subjektif daripada
objektif, dan secara tentatif reward yang sedikit
dikaitkan dengan hasil dan lebih cenderung
menggunakan group reward.
Tetapi apakah manajer beretnis chinese akan
menunjukkan orientasi jangka panjang terkait
dengan perencanaan dan reward tidak bisa
dibuktikan.