Anda di halaman 1dari 16

Hipermetropia Dan Kekuatan

Lensa pada orang Dewasa dalam


Shahrood Studi Eye
Rafael Iribarren, MD; Hassan Hashemi, MD;
Mehdi Khabazkhoob, PhD; Ian G. Morgan, PhD
Mohammad Hassan Emamian, MD, PhD;
Mohammad Shariati, MD; Akbar Fotouhi, MD, PhD

Disusun Oleh:
Kania Arfiani
20110310200

Dokter Pembimbing:
dr. Evita Wulandari, Sp.M
Abstrak
Mengetahui hubungan antara kekuatan
Tujuan lensa dengan masalah refraksi pada orang
dewasa
Penelitian menggunakan Cross- Sectional
dengan subjek berusia 55-65 tahun
Metode sebanyak 1006 dan di bagi menjadi 3
kelompok bias (Miopi, hipermetropi,
emmetropia)
Semua kelompok refraksi memiliki
Kekuatan kornea yang sama.
Hipermetropia -0.50 mm memiliki sumbu
yang lebih pendek dari emmetropic.
Miopia memiliki panjang sumbu 0.67 mm
Hasil lebih panjang dari emmetropia.
Sampel kelompok hipermetropia pada
orang dewasa memiliki kekuatan lensa
yang lebih rendah.
Miopi memiliki kekuatan lensa yang sama
seperti emmetropes.
Kesimpula Panjang aksial adalah penentu
n utama dari kesalahan refraksi
Pendahuluan
Berdasarkan studi klasik Torn dan Stenstorm, kesalahan
bias pada mata orang dewasa berkorelasi kuat pada
komponen mata dan panjang aksial serta berkorelasi
lemah pada kemampuan kornea dan kekuatan lensa.
Penelitian ini telah di konfirmasi oleh Francois dan Goes
tentang kemungkinan keterlibatan lensa dalam kesalahan
bias.

Penelitian refraksi pada anak-anak yang di teliti oleh Sorsby


et al mengatakan bahwa lensa kehilangan
kemampuannya seiring dengan usia dan meningkatnya
panjang sumbu pada mata. Sehingga perubahan
kemampuan lensa kemudian menentukan akhir status
refraksi. Dan penelitian tersebut telah di konfirmasi oleh
Larsen dan Mutti et al tentang pentingnya elongasi aksial
dan pengurangan kekuatan lensa.
Pada penelitian Gordon dan Donzis menyatakan bahwa pada
dewasa muda mata hipermetropi memiliki kemampuan
lensa sedikit lebih tinggi dari emmetropia sedangkan
mata yang lebih pendek memiliki kemampuan lensa lebih
tinggi dari mata yang lebih panjang.

Studi Eye Reykjavik menemukan korelasi negatif antara


kemampuan lensa dan kesalahan bias, dan korelasi negatif
antara kekuatan lensa dan panjang aksial sehingga mata
yang lebih pendek akan memiliki kekuatan lensa yang lebih
tinggi.

Sehingga dalam penelitian The Shahroud Eye Cohort Study


(ShECS) memiliki tujuan untuk membuktikan hubungan
antara kekuatan lensa dengan masalah refraksi pada orang
dewasa tanpa katarak nuklear.
Metode
Sampel sebanyak 1006 subjek, yang merupakan
warga Shahrood Iran yang berusia 55-64 tahun
tanpa karatak yang signifikan secara klinis. Di bagi
menjadi tiga grup bias yaitu miopia, emmetropia,
hipemetropia.
Variabel yang di ukur adalah kekuatan kornea,
kedalaman ruang anterior, ketebalan lensa, dan
panjang sumbu.
Data kemudian dihitung distribusinya dan di
dapatkan distribusi normal dan dilanjutkan dengan
uji ANOVA dengan test Post-hoc Scheffe
Nilai P <0,05 di anggap signifikan
Hasil
Total 1006 subjek berusia 55-64 tahun yang telah
di teliti.
Dalam penelitian ini memiliki data yang cukup
simetris untuk sferis ekuivalen dan komponen
okuler yang utama pada refraksi. (gambar 1-4)

Gambar 1. Distribusi refraksi dalam penelitian Gambar 2. distribusi


normal panjang aksial
Hasil

Gambar 3. distribusi normal kemampuan Gambar 4. distribusi


normal kemampuan
kornea lensa
Pada tebal 1 menjelaskan bahwa :
Pada Hipermetropia dan
Emmetropia
tidak ada perbedaan kekuatan
kornea
Panjang sumbu miopia lebih
panjang dan
hipermetropia paling pendek
Menunjukan ketebalan lensa pada
miopia yang paling rendah
Kekuatan lensa yang rendah
memiliki
perbedaan yang tidak signifikan
(tabel 1 dan gambar 7)
Pada tabel 2, hanya kelainan refraksi
dan AL/CR yang memiliki kurtosis
tinggi.
Pada tabel 3 menjelaskan bahwa :
-Korelasi antara panjang aksial dan refraksi adalah negatif kuat
-Korelasi Refraksi dan panjang sumbu dengan ketebalan lensa
adalah korelasi lemah
-Kekuatan lensa dan ketebalan lensa berkorelasi secara sedang
-Tidak ada korelasi antara refraksi dengan kekuatan lensa
Gambar 5. (a) Korelasi negatif antara kemampuan lensa dan panjang aksial (P <0.001) (b)
korelasi negatif antara kemampuan lensa dan refraksi (P = 0,08).

Gambar 5a. Mata yang panjang memiliki


kekuatan lensa yang rendah dan mata
pendek memiliki kekuatan lensa yang
tinggi.
Gambar 5b. Mata yang lebih miopia
memiliki kekuatan lensa yang rendah
tetapi korelasi dan koefisiens rendah dan
tak signifikan
Gambar secata statistik.
6. Menunjukan kekuatan lensa
dan ketebalan lensa secara positif
berkorelasi dengan lensa yang lebih tebal
memiliki kekuatan lensa yang tinggi. Gambar 6. Korelasi positif yang
signifikan antara kekuatan lensa dan
ketebalan lensa (P <0,001).
Korelasi panjang aksial dan refraksi adalah
negatif kuat, sehingga mata yang panjang
akan menjadi miopia dan memiliki
kekuatan lensa yang lebih rendah
Korelasi panjang aksial dan refraksi dengan
ketebalan lensa adalah lemah
Korelasi kekuatan lensa dan ketebalan
lensa adalah sedang, sehingga dapat di
simpulkan lensa yang lebih tebal memiliki
kekuatan lensa yang lebih besar
Diskusi
Penemuan pokok dari penelitian ini adalah mengkonfirmsi
laporan sebelumnya yang meneliti korelasi antar komponen
refraktif mata pada populasi dewasa
Panjang aksial adalah variabel utama yang menentukan
kelainan pada refraksi
Data dari ShECS mengkonfirmasi hubungan negatif antara
kekuatan lensa dan panjang aksial namun berbeda dengan hasil
dari studi Reykjavik Eye dan studi Central Indian Eye and
Medical . Perbedaan mungkin dikarenakan fakta bahwa analisis
dari studi tidak mengeksklusi katarak.
Pada anak-anak pemanjangan aksial biasanya di ikuti dengan
penurunan kekuatan lensa, sehingga secara parsial dapat
mengkompensasi terjadinya pergeseran miopia
Sedangkan pada dewasa pengurangan pada kekuatan lensa
akan berlanjut terjadinya pergeseran hipermetropia
Kesimpulan
Hal yang menjadi penentu utama dalam
terjadinya masalah refraksi pada orang
dewasa adalah panjang aksial, sedangkan
kekuatan lensa memiliki peran yang
lemah dalam terjadinya masalah refraksi.