Anda di halaman 1dari 37

Disampaikan oleh :

DESSY PRAMUDIANI,S.Psi,M.Psi
DEFINISI KEKERASAN
SEKSUAL TERHADAP
ANAK
SETIAP BENTUK PERILAKU YANG MEMILIKI
MUATAN SEKSUAL YANG DILAKUKAN
SESEORANG ATAU SEJUMLAH ORANG
NAMUN TIDAK DISUKAI DAN TIDAK
DIHARAPKAN OLEH ORANG YANG
MENJADI SASARAN SEHINGGA
MENIMBULKAN AKIBAT NEGATIF, SEPERTI :
RASA MALU, TERSINGGUNG, TERHINA,
MARAH, KEHILANGAN HARGA DIRI,
KEHILANGAN KESUCIAN, DAN
SEBAGAINYA PADA DIRI ORANG YANG
MENJADI KORBAN
KEKERASAN SEKSUAL
TERHADAP ANAK
SEMUA BENTUK PERLAKUAN YANG MERENDAHKAN
MARTABAT ANAK DAN MENIMBULKAN TRAUMA YANG
BERKEPANJANGAN
BENTUK PERLAKUAN TERSEBUT ADALAH DENGAN
PAKSAAN (DIGERAYANGI, DIPERKOSA, DICABULI DAN
DIGAULI)
DAPAT TERJADI DILINGKUNGAN KELUARGA DAN
MASYARAKAT
ANAK TIDAK MEMILIKI KEKUATAN UNTUK MELAWAN
DAN MERUPAKAN SOSOK YANG LEMAH SERTA
MEMILIKI KETERGANTUNGAN YANG TINGGI DENGAN
ORANG-ORANG DEWASA DISEKITARNYA SEHINGGA
MEMBUAT ANAK TIDAK BERDAYA SAAT DIANCAM
UNTUK TIDAK MEMBERITAHUKAN APA YANG
DIALAMINYA
UNSUR PELECEHAN
SEKSUAL
SUATU PERBUATAN YANG
BERHUBUNGAN DENGAN SEKSUAL
PADA UMUMNYA PELAKUNYA LAKI-
LAKI DAN KORBAN NYA PEREMPUAN
WUJUD PERBUATAN BERUPA FISIK
DAN NONFISIK
TIDAK ADA KESUKARELAAN
DAMPAK KEKERASAN
SEKSUAL PADA ANAK
GANGGUAN STRESS YANG DIALAMI
KORBAN PELECEHAN SEKSUAL DAN
PERKOSAAN DISEBUT GANGGUAN
STRESS PASCA TRAUMA (POST
TRAUMATIC STRESS DISORDER/PTSD)
GEJALA PTSD
SELALU TERINGAT PERISTIWA YANG
MENYEDIHKAN
NIGHTMARE (MIMPI BURUK)
KEHILANGAN MINAT
PERASAAN TERASING OLEH ORANG LAIN
SUSAH TIDUR
SULIT KONSENTRASI
MUDAH MARAH
RESPON BERLEBIHAN TERHADAP
SESUATU
?
BAGAIMANA
MENCEGAH TERJADINYA
TINDAK KEKERASAN
TERHADAP ANAK
Anak seseorang yang belum berusia 18 tahun,
termasuk anak yang masih dalam kandungan

(Pasal 1 (1) UU No. 35/2014 tentang Perubahan Atas UU No. 23/2002


tentang Perlindungan Anak)

8
FAKTA DAN DATA
KEKERASAN TERHADAP
ANAK
Kasus Kejahatan Seksual terhadap Anak
2011-2016
Anak Berhadapan dengan Hukum Pemerkosaan, Pecabulan, Sodomi, dll

Jumlah kasus kejahatan seksual terhadap anak sebagai pelaku dan korban
yang tertinggi pada tahun 2014. Sedangkan jumlah korban selalu lebih besar
dari jumlah pelaku. Hal tersebut menunjukan, satu pelaku anak melakukan
kejahatan seksual kepada lebih dari satu anak
Sumber: KPAI, 2016
MEDIA PORNOGRAFI
YANG DILIHAT ANAK DAN REMAJA
Periode : Januari Desember Periode : Januari Desember
2008 2015

1.Komik 1.Film
bioskop
24% /DVD
2. 2.
9. Novel 9. 10. Buku 20%
Games Medi cerita Video
0%
18% a Klip
Cetak 2% 14%
2%
8. Koran 8. HP 3. Situs
3. Situs
4% 16% 5% 13%
7. 7.
Majala Iklan
4. Film 4.
h 5. VCD TV 7% 5. Games
6% DVD 14% 6. TV Komik 13%
6. HP 8% 10% Channel 12%
10%
Alasan Anak Melihat Pornograf
Januari Desember 2015
Lokasi Anak Melihat
Pornograf
Januari Desember 2015
LOKUS TERJADINYA
KEKERASAN
RUMAH

Kekerasan pada balita


Kekerasan fisik/penghukuman disiplin di dalam rumah
tangga
Kekerasan emosional (penghinaan, isolasi, penolakan,
pengancaman, pemanggilan nama yang buruk dll)
Penelantaran, Kekerasan seksual
Perkawinan dini/usia muda
Kekerasan budaya
1/3 WAKTU
SEKOLAH
ANAK ADA DI
SEKOLAH
Pasal 28 ayat 2 KHA mengatakan bahwa setiap anak
berhak atas pendidikan dan penerapan disiplin harus lah
menghargai martabat anak
UU 35/2014 : PASAL9 AYAT (1a)
Setiap Anak berhak mendapatkan perlindungan di satuan pendidikan
dari kejahatan seksual dan Kekerasan yang dilakukan oleh pendidik,
tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain.

Bentuk kekerasan yang


SEKOLAH
terjadi:
1. Kekerasan fisik dari guru RAMAH
2. Tindakan kekejaman dan ANAK
penghinaan dari guru (SRA)
3. Bully, Kekerasan &
Kekerasan di Masyarakat atau
Publik
Kekerasan antar anak
Kekerasan seksual di masyarakat
Kekerasan dari pacar
Kekerasan terhadap anak jalanan
Wisata seksual
Kekerasan di penampungan pengungsi
Trafficking dan penculikan
Kekerasan melalui media dan internet
Fakta Kekerasan di Lingkungan
Pendidikan

84 %
siswa mengaku
45 %
siswa laki-laki
40 %
siswa usia 13-15 th
pernah mengalami menyebutkan bahwa melaporkan pernah
kekerasan di sekolah guru atau petugas mengalami
sekolah merupakan kekerasan fisik oleh
pelaku kekerasan teman sebaya

ICRW, 2015 ICRW, 2015 UNICEF, 2014

75 %
siswa mengakui
22 %
siswa perempuan
50
anak melaporkan
%
pernah melakukan menyebutkan bahwa mengalami
kekerasan di sekolah guru atau petugas perundungan
sekolah merupakan (bullying) di sekolah
pelaku kekerasan

ICRW, 2015 ICRW, 2015 UNICEF, 2015


Anak korban kekerasan, SEBAGIAN TERKECIL,
BERDAMPAK PADA : TERJEBAK:
RENTAN : Pembunuh, Pemerkosa
1.Mudah Curiga atau
2.Mudah
Penderitan bathin, Tekanan

Tindak Kejahatan Kejam


Tersinggung
3.Mudah berfikir lainnya
negatif SEBAGIAN KECIL
4.Mudah Putus
Asa TERJEBAK :
5.Daya juang Narkoba, Kehidupan
melemah Malam, Menggelandang
6.Mudah
Menyalahkan
orang lain
SEBAGIAN
BESAR:
Tetap berada
didalam
rumahnya
Jiwa
Penyebab atau Latar Belakang Terjadinya
Kekerasan Terhadap Anak:
1. Disfungsi Keluarga (Ketidak harmonisan keluarga);
2. Lemahnya Pengawasan Keluarga
3. Kesalahan dalam Pengasuhan; Pengulangan sejarah
kekerasan, pendidikan orang tua rendah
4. Kehilangan pekerjaan Kemiskinan;
5. Pernikahan Usia Anak KDRT, perceraian;
6. Atas Nama disiplin/pendisiplinan baik dilingkungan
keluarga, sosial, maupun sekolah;
7. Tayangan Televisi dan media sejenisnya;
8. Meniru orang lain;
9. Dan lain-lain
UU NO 35/2014 Ps 59 ttg AMPK

1. Anak dalam situasi darurat;


2. Anak korban pornografi; Hak Sipil
3. Anak korban NAPZA;
4. Anak dengan HIV/AIDS
dan
5. Anak berhadapan hukum; Kebebasan
6. Anak korban stigmatisasi
7. Anak korban jaringan terorisme;
8. Anak penyandang disabilitas; Lingkungan
9. Anak dari kelompok minoritas dan PENGUATAN
terisolasi;
keluarga dan
KELEMBAGA
10.Anak korban perlakuan salah & AN
pengasuhan
penelantaran; alternatif
11.Anak dengan perilaku sosial
menyimpang
12.Anak yang dieksploitasi Kesehatan &
secara ekonomi dan/atau Kesejahteraan
seksual;;
13.Anak korban penculikan, Pendidikan, Dasar
penjualan, dan/atau perdagangan; Waktu Luang
14.Anak korban kekerasan fisik & Kegiatan
dan/atau psikis;
15.Anak korban kejahatan seksual. Budaya
PerilakuMempengaruhi
Berbagai Faktor yang Dapat
Ayah +
Perilaku Anak, DIANTARANYA : Teknologi
Ibu Informasi

Tayangan
Televisi

?
Kisah-kisah Handpone
tertentu yang Internet:
tidak mendidik - facebook
Apa Lagi - Twitter
- CamFrog
- situs lainnya
Strategi Nasional Penghapusan
Kekerasan terhadap Anak

6 AREA INTERVENSI PENGHAPUSAN KEKERASAN PADA


ANAK:

Keterlibatan : Pemerintah, Pemda,


masyarakat, Dunia Usaha dan Media
INPRES Nomor 05 Tahun 2014 tentang
Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual Terhadap Anak (GN-
AKSA)
Garis Besar Arahan Presiden RI
tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual terhadap Anak
Dalam rangka Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual terhadap Anak dipandang perlu
adanya Gerakan Nasional yang bersifat massal, masif dan berkelanjutan.
Gerakan tersebut memuat unsur :
1. Edukasi dan sosialisasi bersifat agresif, massif, dan berkelanjutan
2. Pengawasan sejak dari keluarga
3. Penegakan hukum cepat (responsif) dan transparan
4. Rehabilitasi
5. Mampu menggerakkan komunitas lokal mulai dari RT/RW, lurah/Kepala Desa
6.Revisi UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pemberatan hukuman, pola asuh,
partisipasi anak

Gerakan Nasional tersebut harus melibatkan/menggerakkan unsur-unsur:


1. Penegak hukum
2. Komisi terkait
3. Organisasi perempuan & anak
4. Komunitas kepakaran
5. Organisasi keguruan (PGRI)
6. Dunia usaha
7. Komunitasi pers
8. Organisasi keagamaan
9. Organisasi profesi
10.Menggerakkan komunitas lokal mulai dari RT/RW, lurah/Kepala Desa
BENTUK-BENTUK KEKERASAN
THD ANAK:
Kekerasan Fisik, tindakan yang menyebabkan
rasa sakit atau potensi menyebabkan sakit
yang dilakukan oleh orang lain, dapat terjadi
sekali atau berulang kali, berupa :
Di pukul / tempeleng
Di tendang
Dijewer, dicubit
Di lempar dengan benda-benda keras
Dijemur di bawah terik sinar matahari
Kekerasan Seksual, adalah keterlibatan anak dalam
kegiatan seksual yang tidak dipahaminya. Kekerasan
Seksual dapat juga berupa :
Perlakuan tidak senonoh dari orang lain
Kegiatan yang menjurus pada pornografi
Perkataan-perkataan porno dan tindakan pelecehan
organ seksual anak
Perbuatan cabul dan persetubuhan pada anak-anak
yang dilakukan oleh orang lain dengan tanpa tanggung
jawab
Tindakan mendorong atau memaksa anak terlibat dalam
kegiatan seksual yang melanggar hukum seperti
dilibatkannya pada kegiatan prostitusi
Kekerasan Emosional, adalah segala sesuatu
yang dapat menyebabkan terhambatnya
perkembangan emosional anak.
Kata-kata yang mengancam
Menakut-nakuti
Berkata-kata kasar
Mengolok-olok anak
Perlakuan diskriminatif dari orang tua, keluarga,
pendidik dan masyarakat
Membatasi kegiatan sosial dan kreasi anak dan
lingkungannya
Kekerasan Ekonomi (Ekploitasi Komersial),
penggunaan tenaga anak untuk bekerja dan
kegiatan lain demi keuntungan orangtua atau
orang lain, spt:
menyuruh anak bekerja secara berlebihan
menjerumuskan anak pada dunia prostitusi
untuk kepentingan ekonomi
Tindak Pengabaian dan Penelantaran, adalah
ketidakpedulian orangtua, atau orang yang
bertanggung jawab atas anak pada kebutuhan
mereka, seperti:
Pengabaian pada kesehatan anak
Pengabaian dan penelantaran pada pendidikan
anak
Pengabaian pada pengembangan emosi (terlalu
dikekang)
Penelantaran pada pemenuhan gizi
Penelantaran dan pengabaian pada penyediaan
perumahan
Pengabaian pada kondisi keamanan dan
kenyamanan
MEMBANTU ANAK
MENCEGAH KEKERASAN

SEKSUAL
Sadari bahwa pada saat ini, data dokumentasi kasus
menunjukkan bahwa kekerasaan seksual bisa terjadi di
berbagai tempat dan kondisi.
Anak perlu dibekali dengan kemampuan menghadapi risiko
kekerasan seksual, tanpa menyampaikan pesan yang
menakut- nakuti.
Komunikasi yang terbuka antara anak dengan orangtua,
pendidikan seksualitas, dan hubungan interpersonal yang
dilakukan sejak dini sangat diperlukan.
Bantu anak memahami bahwa mereka boleh menolak kontak
fisik, seperti sentuhan, berpelukan, ciuman, dengan siapa
pun, bahkan oleh orang yang mereka kenal dekat.
Tidak pernah terlalu dini mengajarkan ke anak
bahwa mereka harus menjaga tubuh mereka meski
kita merasa anak belum mengerti
Ajarkan anak tentang apa yang harus dilakukan
bila berada dalam kondisi yang tidak nyaman dan
tidak aman. Misalnya, berteriak atau lari dan
melapor kepada orang dewasa di rumah dan
sekolah.
Amati kegiatan harian anak, dan jeli saat melihat
ada perubahan, misalnya: pola tidur, frekuensi
buang air, motivasi sekolah, dll.
Bangun rutinitas kegiatan bersama anak yang
membantu kita mengidentifikasi masalah dengan
cepat. Misalnya, olahraga pagi bersama anak,
berbagi tentang kegiatan saat makan malam
bersama atau membaca cerita sebelum tidur.
Pastikananak punya hubungan yang baik dan
terbuka dengan beberapa orang dewasa lain
yang dapat kita percaya, misalnya kakek-nenek
atau om dan tante.
Bahas ekspektasi dan pola pengasuhan kita
dengan sekolah, tempat les, juga pengasuh di
rumah. Pastikan kita memahami bahwa filosofi
dan prosedur masing-masing pihak sejalan
dengan kita.
Pedoman Pelayanan
Psikologis pada Korban dan
Pelaku Kekerasan
Proses penyidikan, Pengadilan (status masih tahanan),
Pemidanaan, Reintegrasi
Intervensi psikologis, antara lain :
Pendampingan
Membantu proses asesmen dan pendampingan dalam
pengambilan BAP
Pendampingan kepada orang tua atau pendamping selama
proses peradilan.
Asesmen
Anamnesis & Pemeriksaan klinis psikiatri ( status mental &
kesadaran)
Konseling
Psikoterapi
Farmakoterapi
Diperlukan

INTERVENSI TERINTEGRASI
Perlindungan Anak

KELUARGA ANAK
(ANAK HARUS TAHU CARA MEMBELA
(HARUS MERUBAH MINDSET,
DIRI KETIKA TERANCAM)
SEMAKIN PEKA DAN RAMAH PADA
ANAK)

MASYARAKAT
(HARUS RAMAH DAN LAYAK BAGI
TUMBUH KEMBANG ANAK)
Melibatkan seluruh elemen masyarakat
dan pemerintahan
Anak

Ortu/Pengasuh
KeluargaLuas
KomunitasdanMasySipil

PemerintahDesa

Pem.Kecamatan

Pemkab
Pemprov
PemPusat
KomunitasInternasional
Anak adalah bagian dari masa kini dan
pemilik masa depan
Lindungi mereka dan penuhi hak-
haknya

Email:
dessy_psychology@ymail.com
Hp: 0813.66122122

37