Anda di halaman 1dari 43

SEORANG WANITA, G3P2A0,

29 TAHUN DENGAN ABORTUS RESPONSI

INKOMPLIT
Disusun oleh :

Purnomo Andimas E. G99161077


Henda Ageng Rasena G99161047
Yunindra Ken Shaufika G99161107
Berlian Maya Dewi G99161027
Lusiani Puspita G99161057
Ellena Rachma Kusuma G99161037

Pembimbing :
Dr. Uki Retno, dr., Sp.OG (K)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEBIDANAN DAN KANDUNGAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR MOEWARDI
SURAKARTA
2017
PENDAHULUAN
Angka Kematian Ibu (AKI) adalah 248 per 100.000
kelahiran hidup. Angka Kematian Bayi (AKB) 34 per
1.000 kelahiran hidup
(SDKI, 2007).

Target DepKes RI pada tahun 2009


AKI menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup.
AKB menjadi 26 per 1.000 kelahiran hidup
(SDKI, 2007 dan DepKes 2009).
Penyebab klasik kematian ibu yaitu:
Perdarahan
Keracunan kehamilan
Infeksi
Abortus 15-50% kematian ibu
Faktor predisposisi :
Faktor paritas
Usia ibu
Riwayat abortus:
Setelah 1 kali abortus risiko 15% untuk mengalami
keguguran lagi, 2 kali risikonya akan meningkat
25%, setelah 3 kali abortus berurutan risikonya 30
45%
TINJAUAN
PUSTAKA
DEFINISI
Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum janin
dapat hidup di dunia luar, tanpa mempersoalkan
penyebabnya
berat badannya kurang daripada 500 gram atau umur
kehamilan kurang daripada 20 minggu
KLASIFIKASI
Abortus spontan adalah keluarnya hasil
konsepsi tanpa intervensi medis maupun
mekanis.

Abortus imminens adalah abortus tingkat


permulaan dan merupakan ancaman terjadinya
abortus, ditandai perdarahan pervagina, ostium
uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih
dalam kandungan.
Abortus Insipien merupakan abortus yang
mengancam yang ditandai dengan serviks telah
mendatar dan ostium uteri telah membuka, akan
Abortus Kompletus adalah keluarnya seluruh hasil konsepsi
dari kavum uteri. Besar perut ibu akan lebih kecil dibanding
usia kehamilan
Missed abortion adalah abortus yang ditandai dengan
meninggalnya fetus dalam kandungan dan ostium uteri
tertutup. Rata-rata terjadi pada umur kehamilan 6 minggu.
Abortus habitualis adalah abortus yang terjadi 3 kali atau lebih
secara berturut-turut. Pasien umumnya tidak mengalami
keluhan dalam fertilitas namun kehamilannya berakhir dengan
keguguran secara berturut-turut.
Abortus Septik adalah abortus yang disertai infeksi pada alat
genetalia. Penyebaran infeksi dapat melalui darah atau
peritoneum.
ETIOLOGI
Genetik
Kelainan kongenital uterus
Infeksi
Hematologi
Lingkungan
Hormonal
GEJALA
Amenorea
Perdarahan yang bias sedikit dan bias banyak,
perdarahan biasanya berupa darah beku
Sakit perut dan mulas mulas dan sudah ada keluar
fetus atau jaringan
Pada pemeriksaan dalam jika abortus baru terjadi
didapati serviks terbuka, kadang kadang dapat
diraba sisa sisa jaringan dalam kantung servikalis
atau kavum uteri dan uterus lebih kecil dari
seharusnya kehamilan
DIAGNOSIS
Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang
Anamnesis:
Adanya amenore pada masa reproduksi
Perdarahan pervaginam disertai jaringan hasil konsepsi
Rasa sakit atau keram perut di daerah atas simpisis
Pemeriksaan Fisik:
Abdomen biasanya lembek dan tidak nyeri tekan
Pada pemeriksaan pelvis, sisa hasil konsepsi ditemukan di
dalam uterus, dapat juga menonjol keluar, atau didapatkan di
liang vagina.
Serviks terlihat dilatasi dan tidak menonjol.
Pada pemeriksaan bimanual didapatkan uterus membesar dan
lunak.
Pemeriksaan Penunjang:
Pemeriksaan laboratorium berupa tes kehamilan, hemoglobin,
leukosit, waktu bekuan, waktu perdarahan, dan trombosit.
Pemeriksaan USG ditemukan kantung gestasi tidak utuh, ada
sisa hasil konsepsi
TERAPI
PengeIuaran Secara digital
Hal ini sering kita laksanakan pada keguguran bersisa.
Pembersihan secara digital hanya dapat dilakukan bila telah
ada pembentukan serviks uteri yang dapat dilalui oleh satu
janin longgar dan dalam kavum uteri cukup luas, karena
manipulasi ini akan menimbulkan rasa nyeri.
Kuretase
Kuretase adalah cara menimbulkan hasil konsepsi memakai
alat kuretase (sendok kerokan). Sebelum melakukan kuretase,
penolong harus melakukan pemeriksaan dalam untuk
menentukan letak uterus, keadaan serviks dan besarnya
uterus.
Vacum kuretase adalah cara mengeluarkan hasil konsepsi
dengan alat vakum
PENANGANAN
Tahap Pertama :
Tujuan dari penanganan tahap pertama adalah, agar penderita tidak jatuh
ke tingkat syok yang lebih berat, dan keadaan umumnya ditingkatkan
menuju keadaan yang lebih balk. Dengan keadaan umum yang lebih baik
(stabil), tindakan tahap ke dua umumnya akan berjalan dengan baik pula.

Dilakukan berbagai kegiatan:


Memantau tanda-tanda vital
Pengawasan pernafasan
Selama beberapa menit pertama, penderita dibaringkan dengan posisi
Trendelenburg.
Pemberian infus cairan (darah) intravena (campuran Dekstrose 5% dengan
NaCl 0,9%, Ringer laktat).
Pengawasan jantung
Pemeriksaan laboratorium.
Tahap kedua:
Setelah keadaan umum penderita stabil, penanganan tahap
kedua dilakukan. Penanganan tahap kedua meliputi
menegakkan diagnosis dan tindakan menghentikan
perdarahan yang mengancam jiwa ibu.
STATUS PASIEN
IDENTITAS
Nama : Ny. N
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 29 tahun
Alamat: Tambelangan, Ssampang
Pekerjaan : Pedagang sate keliling
Status Perkawinan : Kawin
Agama : Islam
HPMT : 2 Desember 2016
HPL : 9 September 2017
UK : 9+3 Minggu
Tanggal Masuk : 6 Februari 2017
ANAMNESIS
Keluhan Utama
Keluar darah dari jalan lahir

Riwayat Penyakit Sekarang


Seorang G3P2A0, 29 tahun, umur kehamilan 9+3 minggu datang
sendiri dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir sejak 1 hari
SMRS. Pasien mengeluhkan keluar darah disertai mrongkol-mrongkol
seperti gajih sejak 4 jam yang lalu, sekitar + 1 gelas belimbing.
Nyeri perut bagian bawah disangkal. Pasien mengaku selama hamil
tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan maupun jamu, dan tidak
pernah terjatuh atau terbentur di bagan perut. Gerakan janin belum
dirasakan, kenceng-kenceng belum dirasakan, air ketuban tidak
dirasakan merembes. Saat ini pasien merasa hamil 2 bulan.
RPD & RPK
RPD
Riwayat Hipertensi :
Disangkal RPK

Riwayat DM : Disangkal Riwayat Hipertensi :


Disangkal
Riwayat Penyakit Jantung:
Disangkal Riwayat DM : Disangkal

Riwayat Asma : Disangkal Riwayat Asma : Disangkal

Riwayat Alergi Obat : Riwayat Alergi Obat :


Disangkal Disangkal

Riwayat Operasi : Disangkal


Riwayat Trauma : Disangkal
RIWAYAT FERTILITAS &
OBSTETRI
Riwayat Fertilitas
Baik Riwayat Obstetri
Kehamilan pertama:
Laki- laki, 1 tahun, lahir
spontan, meninggal
Kehamilam kedua :
Perempuan, 7 tahun,
lahir spontan di bidan
RIWAYAT ANC &
RIWAYAT HAID
Riwayat Ante Natal
Care (ANC)
Pertama kali periksa ke Riwayat Haid
bidan pada usia
Menarche: 12 tahun
kehamilan 4 minggu.
Kemudian satu minggu Lama Haid : 5-7 hari
yang lalu pasien Siklus Haid : 28 hari
memeriksakan
kehamilannya di bidan.
RIWAYAT PERKAWINAN
& RIWAYAT KB
Riwayat Perkawinan
Menikah 1 kali dengan
suami sekarang selama
10 tahun
Riwayat KB
Suntik tiap 3 bulan
STATUS GENERALIS
Keadaan Umum : Baik, compos mentis, gizi kesan cukup.
Tanda Vital : Tensi : 100/70 mmHg
Nadi : 84 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 36,5 C
Kepala : Mesocephal
Mata : Konjungtiva pucat (-/-), Sklera ikterik (-/-)
Hidung : Sekret (-/-)
Telinga : Sekret (-/-)
Mulut : Tonsil tidak membesar, faring hiperemis (-/-)
Leher : KGB tidak membesar
Thorak : Glandula mammae dalam batas normal, areola mammae
hiperpigmentasi (-/-)
Cor: Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis tidak kuat angkat
Perkusi : Batas jantung kesan tidak melebar
Auskultasi: BJ I-II intensitas normal, reguler, bising (-)
Pulmo : Inspeksi : Pengembangan dada kanan = kiri
Palpasi : Fremitus raba kanan = kiri
Perkusi : Sonor / sonor
Auskultasi: SD vesikuler (+/+), suara tambahan (-/-)
Abdomen: Inspeksi: Dinding perut>dinding dada,stria
gravidarum (+)
Auskultasi: Peristaltik (+) normal
Perkusi : Timpani
Palpasi: Supel, nyeri tekan (-), hepar tidak membesar,
lien tidak membesar.
Genital : lendir (-), darah (+)
Ekstremitas : Oedem (-/-), akral dingin (-/-)
STATUS OBSTETRI
Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi : Dinding perut > dinding dada, striae
gravidarum (+)
Palpasi :
Pemeriksaan Leopold
Leopold I : Tinggi fundus uteri tidak dapat teraba.
Abdomen : Supel, nyeri tekan (-).
Perkusi: redup pada daerah uterus
Auskultasi: DJJ (-)
Pemeriksaan Dalam:
VT: V/U tenang, dinding vagina dalam batas normal,
portio lunak kesan OUE terbuka satu jari, adneksa dan
parametrium kesan dalam batas normal, sarung
tangan terdapat darah (+).
In Spekulo: V/U tenang, dinding vagina dalam batas
normal, portio livide, OUE terbuka, darah (+),
discharge (-).

PEMERIKSAAN
PENUNJANG
LABORATORIUM DARAH
Pemeriksaan (07/02/17)
Hasil Satuan Rujukan
HEMATOLOGI RUTIN
Hemoglobin 13,7 g/dL 12.0 - 15.6
Hct 41 % 33 45
Leukosit 11.8 Ribu/uL 4.5 - 11.0
Trombosit 207 Ribu/uL 150 450
Eritrosit 4.78 Juta/uL 4.10 5.10
Golongan Darah O
KIMIA KLINIK
GDS 96 mg/dL 60 140
ELEKTROLIT
Natrium Darah 136 mmol/L 136 145
Kalium Darah 3.8 mmol/L 3.3 5.1
Klorida Darah 101 mmol/L 98 106

SEROLOGI Hepatitis
HBs Ag Rapid Nonreakti Nonreaktif
f
USG (07/02/17)

VU tampak terisi minimal, uterus membesar,


gambaran massa amorf intrauterin.
Kesan menyokong gambaran sisa hasil konsepsi.
KESIMPULAN
Seorang G3P2A0 31 tahun, UK 9+3 minggu dengan
riwayat fertilitas baik dan riwayat obstetri hamil ketiga
kali, datang sendiri. Dari anamnesis pasien mengeluh
mengeluarkan darah disertai prongkolan seperti gajih.
Pemeriksaan abdomen didapatkan fundus uteri tidak
dapat teraba, nyeri tekan (-). Dari pemeriksaan dalam
VT teraba porsio lunak dan OUE membuka 1 jari.
Inspekulo tampak portio livide, OUE terbuka, tampak
darah pada OUE. Pemeriksaan USG menyokong
gambaran abortus inkomplet.
DIAGNOSIS
Abortus inkomplet
PROGNOSIS
Dubia ad bonam
PENATALAKSANAAN
Infus RL 12 tpm
Cefadroxil 500 mg/12 jam
Asam mefenamat 500 mg/12 jam
Pro kuretase terapeutik
Cek darah rutin (Hb, AE, AL, AT, Hct) post kuretase
FOLLOW UP
1. Dilakukan Kuretase pada tanggal 7 Februari 2017
2. DPH 0/ 7 Februari 2017
.S = nyeri (-), mual (+)
.O = KU kesan baik, kesadaran CM
. = VS: TD 110/80 mmHg, HR 82x/m, RR 20x/m, T 36,6oC
. = Abdomen : supel, NT (-), TFU tidak teraba
. = Genital : darah (+), discharge (-)
.A = Post kuretase DPH 0 a/i abortus inkomplete
.P = - Diet TKTP
. = - Cefadroxil 500 mg/12 jam
. = - Asam mefenamat 500 mg/8 jam
. = - Vitamin C 50 mg/12 jam
. = - Awasi tanda-tanda perdarahan
ANALISA KASUS
ANALISIS KASUS
DIAGNOSIS
Kasus: Abotus Inkomplet
Diagnosis: Abortus Inkomplet dapat ditegakkan dari
kondisi pasien:
Anamnesis : pasien mengalami perdarahan dari jalan
lahir pada 1 hari sebelum masuk rumah sakit , tanpa
sebab jelas, trauma (-), perdarahan disertai dengan
mrongkol seperti gajih. Kenceng-kenceng teratur tidak
dirasakan, air kawah tidak dirasakan keluar.
Pemeriksaan fisik :
Palpasi: TFU tidak dapat teraba. Pada abortus
inkompletus, setelah pengeluaran konsepsi secara
spontan tinggi fundus uteri lebih rendah dari usia
kehamilan seharusnya. Perlu pemeriksaan ulang
untuk memastikan usia kehamilan pasien sesuai
dengan TFU atau kehamilan mola hidatidosa.
Genital eksterna: darah (+) disebabkan oleh sisa
pengeluaran konsepsi.
Genital interna: OUE membuka, STLD (+)
Pemeriksaan penunjang :
USG : tampak massa amorf intrauterine, kesan
menyokong gambaran sisa hasil konsepsi.
Pada pasien ini dari anamnesis dan pemeriksaan fisik
ditemukan tanda-tanda yang mengarah abortus
inkomplet, sehingga pasien ini didiagnosis dengan
abortus inkomplet,
Diagnosis abortus inkomplet dapat ditegakkan dari :
Amenorea
Perdarahan yang bisa sedikit / banyak dan biasanya
berupa stolsel (darah beku)
Nyeri abdomen bawah
Sudah ada keluar fetus / jaringan seperti gajih
Sering kali disertai tanda-tanda infeksi
Pada pemeriksaan dijumpai gambaran :
Tampak kanalis servikalis terbuka
Dapat diraba jaringan dalam rahim atau dikanalis
servikalis.
Etiologi terjadinya abortus pada pasien ini sementara
diduga berasal dari faktor genetik. Riwayat trauma,
kebiasaan, dan konsumsi zat berbahaya disangkal oleh
pasien, sedangkan untuk penyakit penyerta pasien
juga menyangkalnya.
ANALISIS
PENATALAKSANAAN
1. Pasien ini dimondokkan di VK untuk direncanakan
kuretase terapeutik.
2. Secara teori indikasi dilakukan kuretase :
Membersihkan sisa-sisa hasil konsepsi dalam uterus
yang tertinggal.
Kuretase harus dilakukan segera untuk mencegah
terjadinya perdarahan yang lebih masif.
Kuretase dikatakan sudah bersih dari sisa konsepsi
apabila pada pengerokan terasa keras dan berbusa.
Pada kuretase juga perlu diberikan uterotonika
untuk mencegah adanya perdarahan masif.
Pada pasien ini didapatkan sisa konsepsi sebanyak
25 cc, pada anamnesis pasien mengatakan cukup
banyak darah mrongkol seperti gajih yang keluar
Pemberian terapi post kuretase diberikan:
1. Antibiotik dengan cefadroxil untuk mencegah
infeksi post-kuretase
2. Analgetik berupa asam mefenamat untuk
mengurangi nyeri
3. Vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi
dan re-epitelisasi sel yang rusak akibat kuretase.
4. Selanjutnya pasien harus dipantau adanya tanda
perdarahan selama 2 hari
5. Jika perdarahan yang keluar dari jalan lahir tidak
banyak pasien dapat dipulangkan dan
diharuskan kontrol ulang di poli.