Anda di halaman 1dari 19

Penanganan Pasien

Emergensi ARDS
ARYA
DARMADI/102012174/B4
Kasus Skenario 8
Seorang laki-laki berusia 30 tahun dibawa oleh
keluarganya ke IGD RS karena sesak napas. Ia
baru saja dievakuasi dari lokasi kebakaran.
Diketahui pemeriksaan fisik tampak sakit berat,
tekanan darah 120/80 mmHg, pernapasan 32
x/menit, suhu 38,3oC, retraksi dada (+), ronki
basah kasar di seluruh lapang paru. Foto rontgen
tampak infiltrat bilateral. Hasil pemeriksaan
laboratorium AGD pH: 7,35, HCO3: 18 mmol/L,
PO2: 30, PCO2: 30, dengan menggunakan oksigen
10 L/menit via rebreathing mask.
Rumusan Masalah
Seorang laki-laki berusia 30 tahun
dengan keluhan sesak nafas.
Mind Map

Pemeriksaan
Fisik Pemeriksaan
Pencegahan
Penunjang

Prinsip WD dan DD
Penanganan
RM
Penanganan Etiologi dan
Emergensi epidemiologi

Penatalaksaan patofisiologi
Manifestasi dan
Diagnosis Klinis
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum: Pasien tampak sakit
berat
Tekanan darah: 120/80 mmHg
Respiration rate: 32x/menit
Suhu: 38,3C
Retraksi dada: positif(+)
Ronkhi basah kasar diseluruh lapang
paru.
Pemeriksaan Penunjang
Foto rontgen: infitrat bilateral
LED : meningkat
BGA: hipoksemia
Biopsi darah: PaO / FiO < 200 = ARDS
AGD:
pH: 7,35
HCO: 18 mmol/L
pO: 30
pCO: 30
Diagnosis Kerja
ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrom) :
Peradangan akut pada sebagian besar atau
kedua belah paru
Ditandai dengan kegagalan pernafasan dan
pasien sering membutuhkan bantuan
ventilator
Tidak spesifik, tapi parah dan umumnya
berkaitan dengan kondisi patologis lain
seperti pneumonia, shock,sepsis, trauma, dll.
Diagnosis Banding
Peneumonia berat
peradangan yang terjadi pada
kantung udara (alveolus).
Kantung udara akan terisi cairan
atau nanah sehingga menyebabkan
sesak nafas,batuk berdahak, demam,
menggigil, dan kesulitan bernafas.
Patogenesis (1)
Ada 3 fase dalam patogenesis
ARDS FASE EKSUDATIF : fase permulaan, dengan
cedera pada endothelium dan epitelium, inflamasi,
dan eksudasi cairan. Terjadi 2-4 hari sejak serangan
akut
FASE PROLIFERATIF : Terjadi setelah fase eksudatif,
ditandai dengan influks dan proliferasi fibroblast, sel
tipe II, dan miofibroblast, Menyebabkan penebalan
dinding alveolus Perdarahan menjadi jaringan
granulasi seluler/ membran hialin Merupakan fase
menentukan : cedera bisa mulai sembuh atau menjadi
menetap, Ada 3 fase dalam patogenesisARDS FASE
Patogenesis (2)
FIBROTIK/RECOVERY : Jika pasien
bertahan sampai 3 minggu, paru
akan mengalami remodeling dan
fibrosis. Fungsi paru
berangsurangsur membaik dalam
waktu 1 bulan, dan sangat bervariasi
antar individu, tergantung keparahan
cederanya.
Gejala Klinis
Gejala klinis utama pada kasus ARDS adalah:
Distres pernafasan akut: takipnea, dispnea ,
pernafasan menggunakan otot aksesoris pernafasan
dan sianosis sentral.
Batuk kering dan demam yang terjadi lebih dari
beberapa jam sampai seharian.
Auskultasi paru: ronkhi basah, krekels halus di
seluruh bidang paru, stridor, wheezing.
Perubahan sensorium yang berkisar dari kelam pikir
dan agitasi sampai koma.
Auskultasi jantung: bunyi jantung normal tanpa
murmur atau gallop.
Etiologi
Depresi Sistem saraf pusat
Kelainan neurologis primer
Efusi pleura, hemotorak dan
pneumothorak
Trauma
Penyakit akut paru
Epidemiologi
mempengaruhi kurang lebih 150.000
sampai 200.000 pasien tiap tahun
laju mortalitas 65% untuk semua pasien
yang mengalami ARDS.
Kondisi pencetus lain termasuk trauma
mayor, KID, tranfusi darah, aspirasi
tenggelam, inhalasi asap atau kimia,
gangguan metabolik toksik, pankreatitis,
eklamsia, dan kelebihan dosis obat.
Patofisologis
Indikator gagal nafas setelah frekuensi pernafasan
dan kapasitas vital, frekuensi penapasan normal
ialah 16-20 x/mnt. Bila lebih dari 20x/mnt tindakan
yang dilakukan memberi bantuan ventilator karena
kerja pernafasan menjadi tinggi sehingga timbul
kelelahan. Kapasitasvital adalah ukuran ventilasi
(normal 10-20 ml/kg).
Gagal nafas penyebab terpenting adalah ventilasi
yang tidak adekuat dimana terjadi obstruksi jalan
nafas atas. Pusat pernafasan yang mengendalikan
pernapasan terletak di bawah batang otak (pons
dan medulla).
Penatalaksaan (1)
Tujuan terapi
Tidak ada terapi yang dapat menyembuhkan, umumnya bersifat
suportif
Terapi berfokus untuk memelihara oksigenasi dan perfusi
jaringan yang adekuat
Mencegah komplikasi nosokomial (kaitannya dengan infeksi)
Farmakologi
Inhalasi NO2 dan vasodilator lain
Kortikosteroid (masih kontroversial: no benefit, kecuali bagi yang
inflamasi eosinofilik)
Ketoconazole: inhibitor poten untuk sintesis tromboksan dan
menghambat biosintesis leukotrienesmungkin bisa digunakan
untuk mencegah ARDS

Penatalaksaan (2)
Non-farmakologi
Ventilasi mekanisdgn berbagai teknik
pemberian, menggunakan ventilator,
mengatur PEEP (positive-end expiratory
pressure)
Pembatasan cairan
Pemberian surfaktan tidak dianjurkan
secara rutin
Prinsip Penangan Pasien
Pengidentifikasian dan terapi penyebab dasar
ARDS.
Menghindari cedera paru sekunder misalnya
aspirasi, barotrauma, infeksi nosokomial atau
toksisitas oksigen.
Mempertahankan penghantaran oksigen yang
adekuat ke end-organ dengan cara
meminimalkan angka metabolik.
Mengoptimalkan fungsi kardiovaskuler serta
keseimbangan cairan tubuh.
Dukungan nutrisi.
Pencegahan
Meskipun faktor risiko untuk ARDS diketahui, tidak ada tindakan
pencegahan yang sukses telah diidentifikasi. Cairan manajemen hati
dalam pasien berisiko tinggi dapat membantu. Karena pneumonitis
aspirasi merupakan faktor risiko untuk ARDS, mengambil tindakan yang
tepat untuk mencegah aspirasi (misalnya, mengangkat kepala tempat
tidur dan mengevaluasi mekanik menelan sebelum memberi makan
pasien berisiko tinggi) juga dapat mencegah beberapa kasus ARDS.
Pada pasien tanpa ARDS pada ventilasi mekanik, penggunaan volume
pasang surut yang tinggi tampaknya menjadi faktor risiko untuk
pengembangan ARDS, dan, karenanya, penggunaan volume tidak rendah
pada semua pasien pada ventilasi mekanik dapat mencegah beberapa
kasus pada ARDS.
Konsultasi. Pengobatan pasien dengan ARDS memerlukan keahlian khusus
dengan ventilasi mekanis dan pengelolaan penyakit kritis. Dengan
demikian, adalah tepat untuk berkonsultasi dengan dokter yang
mengkhususkan diri dalam pengobatan paru atau perawatan kritis atau
ICU.
Kesimpulan
ARDS adalah penyakit paru-paru
yang disebabkan oleh masalah baik
langsung maupun tidak langsung.
Hal ini ditandai adanya peradangan
pada parenkim paru yang
menyebabkan gangguan pertukaran
gas, keluarnya mediator inflamasi,
hipoksemia dan sering menyebabkan
multiple organ failure.