Anda di halaman 1dari 47

PENCEGAHAN DAN

PENEGAKAN HUKUM TIPIKOR


.
A. PENGERTIAN :

Korupsi berasal dari bahasa latin,


Corruptio-Corrumpere yang artinya
busuk, rusak, menggoyahkan,
memutarbalik atau menyogok.
Korupsi menurut Blacks Law Dictionary
korupsi adalah perbuatan yang dilakukan
dengan maksud untuk memberikan suatu
keuntungan yang tidak resmi dengan hak-
hak dari pihak lain secara salah
menggunakan jabatannya atau karakternya
untuk mendapatkan suatu keuntungan
untuk dirinya sendiri atau orang lain,
berlawanan dengan kewajibannya dan hak-
hak dari pihak lain.
Korupsi menurut Huntington (1968) adalah
perilaku pejabat publik yang menyimpang dari
norma-norma yang diterima oleh masyarakat,
dan perilaku menyimpang ini ditujukan dalam
rangka memenuhi kepentingan pribadi.
Menurut Dr. Kartini Kartono, korupsi adalah
tingkah laku individu yang menggunakan
wewenang dan jabatan guna mengeduk
keuntungan pribadi, merugikan kepentingan
umum.
B. PENYEBAB

Ketiadaan atau kelemahan kepemimpinan


dalam posisi-posisi kunci yang mampu
memberi ilham dan mempengaruhi tingkah
laku yang menjinakkan korupsi.
Kelemahan pengajaran-pengajaran agama
dan etika.
Kolonialisme, suatu pemerintahan asing
tidaklah menggugah kesetiaan dan
kepatuhan yang diperlukan untuk
membendung korupsi.
Kurangnya pendidikan.
Adanya banyak kemiskinan.
Tidak adanya tindakan hukum yang
tegas.
Kelangkaan lingkungan yang subur
untuk perilaku anti korupsi.
Struktur pemerintahan.
Perubahan radikal, suatu sistem nilai
yang mengalami perubahan radikal,
korupsi muncul sebagai penyakit
transisional.
Keadaan masyarakat yang semakin
majemuk.
Rendahnya Sumber Daya Manusia :
- moral,
- Skill,
- Komitmen.
C. PENGATURAN
UU No 31 Tahun 1999 jo UU No 20
Tahun 2001 dalam pasal-pasalnya.
Berdasarkan pasal-pasal tersebut,
terdapat 33 jenis tindak pidana yang
dapat dikategorikan sebagai korupsi
dan dikategorikan ke dalam 7 kelompok
yakni :
1. Korupsi yang terkait dengan
merugikan keuangan Negara
2. Korupsi yang terkait dengan suap-
menyuap
3. Korupsi yang terkait dengan
penggelapan dalam jabatan
4. Korupsi yang terkait dengan
pemerasan
5. Korupsi yang terkait dengan
perbuatan curang
6. Korupsi yang terkait dengan
benturan kepentingan dalam
pengadaan
7. Korupsi yang terkait dengan
gratifikasi
D. DAMPAK KORUPSI
1. Lesunya Perekonomian
2. Meningkatnya Kemiskinan
3. Tingginya angka kriminalitas
4. Penurunan moral
5. Kehancuran birokrasi
6. Terganggunya Sistem Politik dan
Fungsi Pemerintahan
UPAYA THDP TIPIKOR
Upaya pencegahan (preventif).
a. Menanamkan semangat nasional yang positif
dengan mengutamakan pengabdian pada bangsa
dan negara melalui pendidikan formal, informal dan
agama.
b. Melakukan penerimaan pegawai berdasarkan
prinsip keterampilan teknis.
c. Para pejabat dihimbau untuk mematuhi pola hidup
sederhana dan memiliki tang-gung jawab yang tinggi.
d. Para pegawai selalu diusahakan kesejahteraan
yang memadai dan ada jaminan masa tua.
e. Menciptakan aparatur pemerintahan yang jujur dan
disiplin kerja yang tinggi.
f. Sistem keuangan dikelola oleh para pejabat yang
memiliki tanggung jawab etis tinggi dan dibarengi sistem
kontrol yang efisien, pengawasan yang memadai.
g. Melakukan pencatatan ulang terhadap kekayaan
pejabat yang mencolok-(LHKPN).
h.Berusaha melakukan reorganisasi dan rasionalisasi
organisasi pemerintahan.(sesuai tugasnya, Jgn sampai
ada pegawai nganggur).

Upaya Represif : Penyelidikan,


Penyidikan, Penuntutan, pelaksanaan
putusan hakim.
TUPOKSI KEJAKSAAN :

Tugas dan Kewenangan Kejaksaan


berdasarkan UU No. 16 Tahun 2004 tentang
Kejaksaan RI.
Pasal 30 :
(1) Di bidang pidana, Kejaksaan mempunyai
tugas dan wewenang :
a. Melakukan penuntutan;
b. Melaksanakan penetapan hakim dan
putusan pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap;
c. Melakukan pengawasan terhadap
pelaksanaan putusan pidana bersyarat,
putusan pidana pengawasan dan
keputusan bersyarat;
d. Melaksanakan penyidikan terhadap
tindak pidana tertentu berdasarkan
Undang-undang;
e. Melengkapi berkas perkara tertentu
dan untuk itu dapat melakukan
pemeriksaan tambahan sebelum
dilimpahkan ke pengadilan yang dalam
pelaksanaanya dikoordinasikan dengan
penyidik.
(2) Di bidang perdata dan tata usaha
Negara, Kejaksaan dengan kuasa
khusus dapat bertindak di dalam
maupun di luar pengadilan untuk dan
atas nama negara atau pemerintah.
(3) Dalam bidang ketertiban dan
ketentraman umum, Kejaksaan turut
menyelengarakan kegiatan :
a. Peningkatan kesadaran hukum
masyarakat;
b. Pengamanan kebijakan penegakan
hukum;
c. Pengamanan peredaran barang
cetakan;
d. Pengawasan aliran kepercayaan
yang dapat membahayakan
masyarakat dan Negara;
e. Pencegahan penyalahgunaan
dan/atau penodaan agama;
f. Penelitian dan pengembangan hukum
statistik kriminal.
Pasal 31 UU No. 16 Tahun 2004
menegaskan bahwa Kejaksaan dapat
meminta kepada hakim untuk
menetapkan seorang terdakwa di
rumah sakit atau tempat perawatan
jiwa, atau tempat lain yang layak
larena bersangkutan tidak mampu
berdiri sendiri atau disebabkan oleh
hal-hal yang dapat membahayakan
orang lain, lingkungan atau dirinya
Pasal 32 Undang-undang No. 16 Tahun
2004 tersebut menetapkan bahwa di
samping tugas dan wewenang tersebut
dalam Undang-undang ini, Kejaksaan
dapat diserhi tugas dan wewenang lain
berdasarkan Undang-undang.
Selanjutnya Pasal 33 mengatur bahwa
dalam melaksanakan tugas dan
wewenangnya, Kejaksaan membina
hubungan kerjasama dengan badan
penegak hokum dan keadilan serta badan
negara atau instansi lainnya.
Kemudian Pasal 34 menetapkan bahwa
Kejaksaan dapat memeberikan
pertimbagan dalam bidang hukum kepada
instansi pemerintah lainnya
Pengertian Penyidikan berdasarkan
pasal 1 Ayat (2) KUHAP : Penyidikan
adalah serangkaian tindakan penyidik
dalam hal dan menurut cara yang
diatur dalam undang-undang ini untuk
mencari serta mengumpulkan bukti
yang dengan bukti itu membuat terang
tentang tindak pidana yang terjadi dan
guna menemukan tersangkanya.
PRA PENUNTUTAN
1. Penerimaan SPDP;
2. Penunjukan Penuntut Umum untuk mengikuti
perkembangan penyidikan;
3. Koordinasi penyidikan;
4. Penyerahan berkas perkara tahap I.
5. Penelitian berkas perkara; (rendak).
6. Berkas Lengkap diikuti dengan penyerahan
tersangka dan barang bukti;
7. Berkas tidak lengkap diikuti dengan
pengembalian berkas perkara.
PENUNTUTAN
Penunjukan penuntut umum untuk
melakukan penuntutan;
Penerimaan tersangka dan barang
bukti;
Penahanan/penangguhan/pengalihan
jenis penahanan tersangka;
Penitipan/pinjam pakai barang bukti;
Penyusunan surat dakwaan;
PELIMPAHAN PERKARA

1. Pembacaan dakwaan;
2. Tanggapan eksepsi;
3. Pembuktian;
4. Surat tuntutan;
5. Replik;
6. Pengajuan upaya hukum
7. Tindakan lain yg diperlukan dalam
penyelesain perkara.
BAGAIMANA PROSEDUR PENANGANANNYA?
Upaya Kejaksaan dalam pencegahan dan
penegakan hukum tipikor
Penyuluhan hukum

Penerangan hukum

Poskumdu

Keterbukaan informasi publik


Penyelidikan
Penyidikan
Penuntutan
Pelaksanaan putusan/penetapan hakim
STUDY KASUS :
Ada sebuah SKPD dalam membuat SPJ untuk
mempertanggungjawabkan kegiatan ada sebagian
yang fiktif. Hal ini dilakukan untuk mencocokkan
anggaran yang sudah dipergunakan dengan
anggaran yang dicairkan. Pada pokoknya SPJ sesuai
dengan anggaran yang ada dalam DIP/DIPA,
sehingga sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataan
yang dilaksanakan dan terdapat sisa anggaran.
Kemudian sisa anggaran tersebut dipergunakan
untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang tidak ada
mata anggarannya pada SKPD tersebut, seperti
menyambut tamu dan lain-lain.
Apakah perbuatan Kepala SKPD dan
Bendahara tersebut dibenarkan secara
administasi keuangan dan apakah
Kepala SKPD dan Bendahara tersebut
harus mengembalikan uang yang telah
dipergunakan untuk membiayai
kegiatan yang tidak dianggarkan
tersebut.
Sebuah SKPD sampai dengan bulan
April pada tahun yang bersangkutan
belum mendapatkan dana untuk
melakukan suatu kegiatan, padahal
kegiatan tersebut sudah direncanakan
dan sudah harus dilaksanakan pada
bulan April, karena kegiatan ini
berkaitan dengan instansi yang lain.
Apakah kegiatan ini ditunda terlebih
dahulu dan apakah Kepala SKPD atau
Bendahara ini dapat menalangi dengan
uang pribadi ataupun dengan uang
pinjaman ?
Istilah ketekoran/kekurangan kas ?
a. Pandangan auditor ?
B. Pandangan hukum ?
UU 28/1999, PENYELENGGARA NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI
KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME

Asas-asas umum penyelenggaraan negara


meliputi:
1. Asas Kepastian Hukum;
2. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara;
3. Asas Kepentingan Umum;
4. Asas Keterbukaan;
5. Asas Proporsionalitas;
6. Asas Profesionalitas; dan
7. Asas Akuntabilitas.
PENJELASAN PASAL 3:
1. "Asas Kepastian Hukum" adalah asas dalam negara hukum yang
mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan,
kepatutan, dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara
Negara.
2. "Asas Tertib Penyelenggara Negara" adalah asas yang menjadi
landasan keteraturan, keserasian, dan keseimbangan dalam
pengendalian penyelenggaraan negara.
3. "Asas Kepentingan Umum" adalah asas yang mendahulukan
kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif, dan
selektif.
4. "Asas Keterbukaan" adalah asas yang membuka diri terhadap hak
masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan
tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap
memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan
rahasia negara.
5. "Asas Proporsionalitas" adalah asas yang mengutamakan
keseimbangan antara hak dan kewajiban Penyelenggara
Negara.
6. "Asas Profesionalitas" adalah asas yang mengutamakan
keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
7. "Asas Akuntabilitas" adalah asas yang menentukan
bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan
Penyelenggara Negara harus dapat dipertanggungjawabkan
kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang
kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
HAMBATAN

Faktor intern
Personal

1. Integritas (moral, pengamalan


agama, tanggungjawab).
2. Kemampuan/keahlian-
3. Komitmen
anggaran
Faktor ekstern
1. Adanya kepentingan tertentu

2. Data yang diperoleh tidak lengkap

3. System peraturan perundang-


undangan.
4. Budaya hukum.
KESIMPULAN

Upaya pencegahan dan Penegakan


Hukum dapat dilaksanakan dengan
berbagai cara antara lain : untuk
pencegahan antara lain : Penyuluhan
Hukum, Penerangan Hukum,
Poskumdu, keterbukaan informasi
publik, sedangkan untuk Penegakan
hukum dengan cara Penyelidikan,
penyidikan dan penuntutan serta
pelaksanaan putusan hakim.
2. Upaya pencegahan dan penegakan
hukum dipengaruhi oleh personal
penegak hukum, system peraturan
peundang-undangan, dan budaya
hukum.
SUMBER :

UU No. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang Undang


Hukum Acara Pidana;
UU No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik
Indonesia;
Hasil audit Inspektorat Kota Yogyakarta pada Dinas
Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta 2012
http://pakarbisnisonline.blogspot.com/2009/12/pengerti
an-korupsi-dan-dampak- negatif.html
http://soloraya.net/2010/01/korupsi-dan-pengertiannya/
htttp://www.pdfqueen.com/pdf/.../'pengertian-korupsi-
menurut-para-ahli/
SEKIAN
TERIMA KASIH

SARWOTO, SH. MH.Li


JAKSA PADA KEJAKSAAN NEGERI
YOGYAKARTA