Anda di halaman 1dari 14

Laporan Kasus

Tinea Kapitis
Pembimbing:
Dr. Filiandini Prasanti, Sp.KK
Dr. Riska Afrianty

Penyusun:
Zakirah Fakhrana
61108008
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN KULIT DAN
KELAMIN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH EMBUNG FATIMAH
KOTA BATAM
PERIODE 14 FEBRUARI 23 MARET 2013
I TINEA KAPITIS
I.1 Definisi
Kelainana pada kulit dan rambut
kepala yang disebabkan oleh spesies
dermatofita.1
I.2 Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh
golongan dermatofita, terutama
Trichophyton rubrum, Trichophyton
mentagrophytes, dan
I.3 Epidemiologi
Tinea kapitis umumnya mengenai anak-
anak sekolah dasar. Anak pria lebih
banyak daripada anak wanita. Tinea
kapitis lebih banyak terjadi di daerah
beriklim panas. Kebersihan yang buruk,
lingkungan yang kotor dan panas, udara
yang lembab, dan kontak dengan
binatang peliharaan seperti anjing atau
kucing berperan dalam penularan. 2
I.4 Pemeriksaan Kulit
Lokasi: daerah kulit kepala dan rambut. 2
Efloresensi: bergantung dari jenisnya, yaitu:
Gray patch ringworm: papula-papula miliar sekitar muara rambut,
rambut mudah putus, meninggalkan alopesia yang berwarna
coklat.2
Black dot ringworm: infeksi jamur dalam rambut (endotriks) atau
di luar rambut (eksotriks), rambut putus tepat pada permukaan
kulit, meninggalkan macula coklat berbintik hitam, dan warna
rambut di sekitarnya menjadi suram. 2
Kerion: pada kulit kepala tampak bisul-bisul kecil dengan
skuamasi akibat radang lokal, rambut putus dan mudah dicabut. 2
Tinea favosa: bintik-bintik berwarna merah kekuningan ditutupi
oleh krusta yang berbentuk cawan (skutula). Berbau busuk
(mousy odor), rambut di atasnya putus-putus dan mudah
dicabut.2

Gray Patch Ringworm Black Dot
Ringworm

Kerion Tine Favosa

Gambar 1. Gambaran jenis-jenis tinea


kapitis.3
I.5 Pemeriksaan Penunjang
Sinar Wood: fluoresensi kehijauan.2
Pembiakan skuama dalam media
agar Sabouraud.2
Preparat langsung dari kerokan kulit
dengan larutan KOH 10%.2
I.6 Diagnosis Banding
Alopesia areata, biasanya kulit tampak
licin dan berwarna coklat. Tidak terdapat
skuama pada alopesia areata.2
Dermatitis Seboroika, rambut tampak
berminyak, kulit kepala ditutupi skuama
berminyak.2
Psoriasis: sisik (skuama) tebal, berwarna
putih mengkilat bersifat kronik residif. 2

I.7 Terapi
Sistemik: Griseofulvin 10-25 mg/kg BB;
dewasa 500 mg/hari. Ketokonazol 5-10 mg/kg
BB; dewasa 200 mg/hari selama 7-14 hari. 2
Topikal: Mencuci kepala dengan shampoo
desinfektan antimikotik seperti larutan asam
salisilat, asam benzoate, dan sulfur
presipitatum. Obat-obat derivate imidazol 1-
2% dalam krim atau larutan dapat
menyembuhkan, demikian pula dengan
ketokonazol krim atau larutan 2%. 2
BAB II
LAPORAN KASUS
II.1 Identitas Pasien
Nama : An. G
Umur : 10 Tahun
Berat Badan : 26 kg
Alamat : Batu Aji
Status : Pelajar kelas 4 SD
Tanggal masuk RS : 4 April 2013
II.2 Anamnesis
Anamnesis dilakukan secara alloamnesis dengan ibu pasien pada tanggal 4 April 2012.
Keluhan Utama
Ada botak di kepala sudah 8 bulan.
Telaah
Pasien datang ke poli kulit dan kelamin RSUD Embung Fatimah dengan keluhan botak di kepala sejak kurang lebih 8 bulan
yang lalu. Awalnya ibu menyadari adanya kebotakan berdiameter kira-kira 3 cm di kepala anaknya. Beberapa hari kemudian
di daerah yang botak tersebut terdapat sisik seperti ketombe yang agak basah, tapi tidak berbau. Tidak ditemukan
kemerahan, ataupun bintik-bintik hitam. Pasien tidak terlalu merasa gatal di kepalanya dan tidak merasa nyeri. Botak
dirasakan semakin luas. Setelah beberapa kali berobat sekarang kepala pasien sudah ada perubahan. Daerah yang tadinya
botak sudah tumbuh rambut sedikit-sedikit. Hanya masih ada bekas coklat di daerah botak tersebut.
Riwayat keluarga dan lingkungan sekitar
Keluarga di rumah dan teman-teman di sekolah pasien tidak ada yang mengalami keluhan seperti yang dirasakan pasien.
Riwayat kebiasaan
Pasien dikeluhkan ibu jarang mandi dan jarang memakai shampoo. Pasien juga memelihara ayam jago di rumahnya dan
sering kontak dengan ayamnya.
Riwayat penyakit kulit terdahulu
Tidak ada.
Riwayat alergi
Riwayat alergi pada pasien dan pada keluarga disangkal.
Riwayat Pengobatan
7 bulan yang lalu, pasien dibawa berobat ke puskesmas dan diberikan obat namun tidak ada perubahan. 6 bulan yang lalu
karena kebetulan pasien berada di Palembang, pasien pergi ke dokter Sp.KK dan di Palembang, dan merasa ada perubahan.
Namun karena obat sudah habis dan pasien sudah kembali ke Batam, pasien tidak melanjutkan obatnya. Pasien kemudian
datang ke poli kulit dan kelamin RSUD Embung Fatimah sekitar 5 bulan yang lalu. Pasien diberikan obat tablet dan salep,
namun pasien tidak tahu namanya. Dan kunjungan kali ini merupakan kunjungan yang ke empat kalinya.
II.3Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Tanda vital :
Nadi 89 kali / menit
RR 28 kali / menit
Suhu 37,3 C
Tensi: 110/70 mmHg
Status Dermatologis
Ruam : alopesia sirkular dan makula
hiperpigmentasi soliter
Lokasi : regio kapitis
Gambar 2. Gambaran ruam pada pasien
II.4 Diagnosis Banding
Tinea Kapitis
Dermatitis Seboroika
II.5 Diagnosis Kerja
Tinea Kapitis
II.6 Terapi
Ketokonazole salep dioles 2 kali sehari
Ketomed shampoo 2 kali seminggu
II.7Saran
Jaga kebersihan kepala dengan memakai
shampoo saat mandi. Hindari kontak dengan
binatang peliharaan.
BAB III
DISKUSI
Dari anamnesis keluhan yang didapati adalah kebotakan pada kepala yang juga disertai adanya sisik
seperti ketombe yang agak basah, tapi tidak berbau. Tidak ditemukan kemerahan, ataupun bintik-bintik
hitam. Pasien tidak terlalu merasa gatal di kepalanya dan tidak merasa nyeri. Pada pemeriksaan fisik
didapati efloresensi berupa alopesia sirkular dan makula hiperpigmentasi soliter. Tidak ditemukan tanda-
tanda peradangan pada lesi.
Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, diagnosis An. G mengarah kepada tinea kapitis jenis gray
patch ringworm. Jika ditinjau dari segi umur, anak-anak lebih sering terkena tinea kapitis. Dan kebersihan
juga sangat berpengaruh terhadap infeksi jamur, dimana pada pasien ditemukan faktor predisposisi dari
segi higienitas yang kurang.
Pasien didiagnosis banding dengan dermatitis seboroika, dimana pada dermatitis seboroika didapati
skuama yang berminyak, namun biasanya lesi dermatitis seboroika di kulit kepala lebih merata dan tidak
menimbulkan alopesia. 1 Pada tinea kapitis jenis black dot ringworm, didapati bintik-bintik hitam, dimana
dalam anamnesis bintik-bintik hitam tidak dijumpai pada pasien. Pada tinea kapitis jenis kerion, didapati
tanda-tanda peradangan yang juga tidak dijumpai pada pasien. Pada tinea favosa gambaran yang khas
adalah terdapat skutula dan biasanya berbau busuk. 2
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik dapat kita singkirkan diagnosis banding dari tinea kapitis dan kasus
ini lebih mengarah pada tinea kapitis jenis gray patch ringworm. Namun untuk diagnosis pasti sebaiknya
dilakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan menggunakan sinar Wood, pemeriksaan preparat
dengan larutan KOH 10%, atau mungkin biakan skuama dalam media agar Sabouraud.
Terapi yang diberikan sudah sesuai dengan kepustakaan yaitu mencuci kepala dan rambut dengan
shampoo antimikotik yang dalam hal kasus ini diberikan ketomed shampoo yang mengandung
ketokonazole 2%. Dapat juga diberikan obat topikal lain seperti ketokonazole 2% dalam bentuk krim atau
larutan. Karena lesi tidak luas dan menunjukkan adanya perbaikan, pasien tidak diberikan terapi sistemik. 2
DAFTAR PUSTAKA
Djuanda, Adhi, dkk. (2008). Ilmu Penyakit
Kulit dan Kelamin (5th ed). Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Siregar, R.S. (2004). Atlas Berwarna Saripati
Penyakit Kulit (2nd ed). Jakarta: EGC
Wolff, Klause, & Johnson Richhard Allen.
(2009). Color Atlas and Synopsis of Clinical
Dermatology (6th ed.). New York: McGraw-
Hill.