Anda di halaman 1dari 83

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Perkembangan Teknologi Jalan Raya


Sejarah perkembangan jalan dimulai dengan sejarah manusia
itu sendiri yang selalu berhasrat untuk mencari kebutuhan
hidup dan berkomunikasi dengan sesama. Dengan demikian
perkembangan jalan saling berkaitan dengan teknik jalan,
seiring dengan perkembangan teknologi yang ditemukan
manusia.
Sejarah perkembangan jalan di Indonesia yang tercatat dalam
sejarah bangsa Indonesia adalah Pembangunan jalan Daendles
pada zaman Belanda, yang dibangun dari Anyer di Banten
sampai Panarukan di Banyuwangi Jawa Timur. Tujuan
pembangunan pada saat itu terutama untuk kepentingan strategi
dan dimasa tanam paksa untuk memudahkan pengangkutan hasil
bumi.
Pada abad 18 para ahli dari Perancis, Scotlandia menemukan
bentuk perkerasan yang sebagian sampai saat ini umum
digunakan di Indonesia dan merupakan awal dari perkembangan
konstruksi perkerasan di Indonesia yang antara lain : konstruksi
perkerasan batu belah (Telford), konstruksi perkerasan
Macadam.
1.2 Definisi-Definisi Jalan

Dalam Undang-undang Jalan Raya No. 38/2004 bahwa:


Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan,
termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi
lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di
bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan
kereta api, jalan lori, dan jalan kabel;
Jalan umum adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum;
Jalan khusus adalah jalan yang dibangun oleh instansi, badan usaha,
perseorangan, atau kelompok masyarakat untuk kepentingan sendiri;
Jalan tol adalah jalan umum yang merupakan bagian sistem jaringan jalan dan
sebagai jalan nasional yang penggunanya diwajibkan membayar tol;
Tol adalah sejumlah uang tertentu yang dibayarkan untuk penggunaan jalan tol;
Penyelenggaraan jalan adalah kegiatan yang meliputi pengaturan, pembinaan,
pembangunan, dan pengawasan jalan;
Sistem jaringan jalan adalah satu kesatuan ruas jalan yang saling
menghubungkan dan mengikat pusat-pusat pertumbuhan dengan wilayah yang
berada dalam pengaruh pelayanannya dalam satu hubungan hierarki
(1) Sistem jaringan jalan merupakan satu kesatuan jaringan jalan yang terdiri dari
sistem jaringan jalan primer dan sistem jaringan jalan sekunder yang terjalin
dalam hubungan hierarki.
(2) Sistem jaringan jalan disusun dengan mengacu pada rencana tata ruang wilayah
dan dengan memperhatikan keterhubungan antarkawasan dan/atau dalam
kawasan perkotaan, dan kawasan perdesaan
Sistem jaringan jalan primer disusun berdasarkan rencana tata ruang dan pelayanan
distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di
tingkat nasional, dengan menghubungkan semua simpul jasa distribusi
yang berwujud pusat-pusat kegiatan sebagai berikut:
a. menghubungkan secara menerus pusat kegiatan nasional, pusat kegiatan
wilayah, pusat kegiatan lokal sampai ke pusat kegiatan lingkungan; dan
b. menghubungkan antarpusat kegiatan nasional.
Sistem jaringan jalan sekunder disusun berdasarkan rencana tata ruang wilayah
kabupaten/kota dan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk masyarakat di
dalam kawasan perkotaan yang menghubungkan secara menerus kawasan yang
mempunyai fungsi primer, fungsi sekunder kesatu, fungsi sekunder kedua,
fungsi sekunder ketiga, dan seterusnya sampai ke persil
1.3 Klasifikasi dan Fungsi Jalan PP 34 TAHUN 2006

(1) Berdasarkan sifat dan pergerakan pada lalu lintas dan angkutan jalan,
fungsi jalan dibedakan atas arteri, kolektor, lokal, dan lingkungan.
(2) Fungsi jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdapat pada sistem
jaringan jalan primer dan sistem jaringan jalan sekunder.
(3) Fungsi jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada sistem jaringan
primer dibedakan atas arteri primer, kolektor primer, lokal primer, dan
lingkungan primer.
(4) Jalan dengan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dinyatakan
sebagai jalan arteri primer, jalan kolektor primer, jalan lokal primer, dan
jalan lingkungan primer.
(5) Fungsi jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada sistem jaringan
sekunder dibedakan atas arteri sekunder, kolektor sekunder, lokal
sekunder, dan lingkungan sekunder.
(6) Jalan dengan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dinyatakan
sebagai jalan arteri sekunder, jalan kolektor sekunder, jalan lokal sekunder,
dan jalan lingkungan sekunder.
1.3 Klasifikasi dan Fungsi Jalan PP 34 TAHUN 2006

(1)Jalan arteri primer adalah menghubungkan secara berdaya guna


antarpusat kegiatan nasional atau antara pusat kegiatan nasional
dengan pusat kegiatan wilayah.
(2) Jalan kolektor primer adalah menghubungkan secara berdaya guna
antara pusat kegiatan nasional dengan pusat kegiatan lokal, antarpusat
kegiatan wilayah, atau antara pusat kegiatan wilayah dengan pusat
kegiatan lokal.
(3) Jalan lokal primer adalah menghubungkan secara berdaya guna
pusat kegiatan nasional dengan pusat kegiatan lingkungan, pusat
kegiatan wilayah dengan pusat kegiatan lingkungan, antarpusat
kegiatan lokal, atau pusat kegiatan lokal dengan pusat kegiatan
lingkungan, serta antarpusat kegiatan lingkungan.
(4) Jalan lingkungan primer adalah menghubungkan antarpusat
kegiatan di dalam kawasan perdesaan dan jalan di dalam lingkungan
kawasan perdesaan
1.3 Klasifikasi dan Fungsi Jalan PP 34 TAHUN 2006

(1) Jalan arteri sekunder adalah menghubungkan kawasan primer


dengan kawasan sekunder kesatu, kawasan sekunder kesatu dengan
kawasan sekunder kesatu, atau kawasan sekunder kesatu dengan
kawasan sekunder kedua.
(2) Jalan kolektor sekunder adalah menghubungkan kawasan
sekunder kedua dengan kawasan sekunder kedua atau kawasan
sekunder kedua dengan kawasan sekunder ketiga.
(3) Jalan lokal sekunder adalah menghubungkan kawasan sekunder
kesatu dengan perumahan, kawasan sekunder kedua dengan
perumahan, kawasan sekunder ketiga dan seterusnya sampai ke
perumahan.
(4) Jalan lingkungan sekunder adalah menghubungkan antarpersil
dalam kawasan perkotaan
1.3 Klasifikasi dan Fungsi Jalan PP 34 TAHUN 2006

(1) Jalan arteri primer didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 60
km/jam dengan lebar badan jalan paling sedikit 11 (sebelas) meter.
(2) Jalan kolektor primer didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 40
km/jam dengan lebar badan jalan paling sedikit 9 (sembilan) meter.
(3) Jalan lokal primer didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 20
km/jam dengan lebar badan jalan paling sedikit 7,5 (tujuh koma lima) meter.
(4) Jalan lingkungan primer didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 15
km/jam dengan lebar badan jalan paling sedikit 6,5 (enam koma lima) meter.
(5) Jalan arteri sekunder didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 30
km/jam dengan lebar badan jalan paling sedikit 11 (sebelas) meter.
(6) Jalan kolektor sekunder didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 20
km/jam dengan lebar badan jalan paling sedikit 9 (sembilan) meter.
(7) Jalan lokal sekunder didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 10
km/jam dengan lebar badan jalan paling sedikit 7,5 (tujuh koma lima) meter.
(8) Jalan lingkungan sekunder didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah
10 km/jam dengan lebar badan jalan paling sedikit 6,5 (enam koma lima) meter.
1.4 Status Jalan PP 34 TAHUN 2006

Jalan umum menurut statusnya dikelompokkan atas:


a. jalan nasional;
b. jalan provinsi;
c. jalan kabupaten;
d. jalan kota; dan
e. jalan desa.
1.4 Status Jalan PP 34 TAHUN 2006

Jalan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf a terdiri atas:


a. jalan arteri primer;
b. jalan kolektor primer yang menghubungkan antaribukota provinsi;
c. jalan tol; dan
d. jalan strategis nasional.

Jalan provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf b terdiri atas:


a. jalan kolektor primer yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota
kabupaten atau kota;
b. jalan kolektor primer yang menghubungkan antaribukota kabupaten atau kota;
c. jalan strategis provinsi; dan
d. jalan di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, kecuali jalan Nasional
1.4 Status Jalan PP 34 TAHUN 2006

Jalan kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf c terdiri atas:


a. jalan kolektor primer yang tidak termasuk jalan nasional sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 26 huruf b dan jalan provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27;
b. jalan lokal primer yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota
kecamatan, ibukota kabupaten dengan pusat desa, antaribukota kecamatan,
ibukota kecamatan dengan desa, dan antardesa;
c. jalan sekunder yang tidak termasuk jalan provinsi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 27 huruf d dan jalan sekunder dalam kota; dan
d. jalan strategis kabupaten.

Jalan kota adalah jalan umum pada jaringan jalan sekunder di dalam kota.

Jalan desa adalah jalan lingkungan primer dan jalan lokal primer yang tidak termasuk
jalan kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 huruf b di dalam kawasan
perdesaan, dan merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau
antarpermukiman di dalam desa.
1.5. Kelas jalan menurut tekanan gandar

b. Kelas jalan menurut besarnya tekanan gandar

Kelas Jalan Tekanan Gandar

I >10,00 Ton

II 10,00 Ton

III A 8.00 Ton

III B 8,00 Ton

IV 8,00 Ton
b. Kelas jalan menurut besarnya volume dan sifat-sifat lalu lintas

Jalan Kelas I
Jalan ini mencakup semua jalan utama, yang melayani lalu
lintas cepat dan berat.
Jalan Kelas II
Jalan ini mencakup semua jalan sekunder.
Jalan Kelas III
Jalan ini mencakup semua jalan-jalan penghubung dan
merupakan konstruksi jalan berjalur tunggal atau dua.
Klasifikasi & Spesifikasi Jalan
berdasarkan Penyediaan Prasaran
Jalan
Sumber: PP 34/2006 tentang Jalan
Klasifikasi penggunaan
jalan
Klasifikasi Penggunaan
Jalan
Persyaratan teknis jalan (PP34/2006)
Matrik Klasifikasi Jalan (Proposed)
BAB II
KARAKTERISTIK JALAN

2.1 Pendahuluan

Dalam perencanaan geometrik jalan terdapat beberapa parameter


perencanaan yang akan dibicarakan dalam bab ini, seperti
a. kendaraan rencana,
b. kecepatan rencana,
c. volume lalu lintas,
d. kapasitas jalan,
e. tingkat pelayanan,
f. tampang melintang jalan dan
g. jarak pandangan yang diberikan oleh jalan tersebut.
Parameter-parameter ini merupakan penentu tingkat
kenyamanan dan keamanan yang dihasilkan oleh suatu
bentuk geometrik jalan.
Kendaraan Rencana
Dimensi & Radius putar sbg dasar penyediaan
ruang jalan

Ada 3 Kategori:
Kendaraan Kecil : mobil penumpang
Kendaraan Sedang: Truk 3As tandem atau Bus
Besar 2 As
Kendaraan Besar : Truk Tempelan (Trailer)

Ruang manuver kendaraan saat membelok di


tikungan atau persimpangan sbg dasar
penyediaan ruang
Kriteria Perencanaan
Lapak
Kendaraan
(Proyeksi dimensi
kendaraan rencana
pada saat
membelok ke atas
perkerasan jalan,
untuk menentukan
ruang jalan yang
perlu disediakan)

KENDARAAN KECIL
Kend. Besar
Kend.
(Truk Semi
Sedang
Trailler-
(Bus)
Tempelan)
Kecepatan Rencana (VR)
(agar mengacu ke PP No.34/2006)
Volume Kendaraam
Emp (Ekivalen Mobil
Penumpang)
(mengacu ke MKJI, 1997)
Volume Lalu-lintas Rencana
(mengacu ke MKJI, 1977) atau Perencanaan Lalu-
lintas
Faktor K dan Faktor F
(LHR = ADT dan LHRT=AADT)
Jalan raya selain dibagi dalam kelas menurut fungsinya,
juga dipertimbangkan besarnya volume serta sifat-sifat
lalu lintas yang diharapkan akan melalui jalan yang
bersangkutan. Volume dari lalu lintas dinyatakan dalam
satuan mobil penumpang (SMP), yang menunjukkan
besarnya jumlah lalu lintas harian rata-rata (LHR) untuk
kedua jurusan. Untuk klasifikasi jalan raya yang
didasarkan pada fungsinya.
Fungsi Kelas LHR dalam SMP
Arteri I > 20.000
Kolektor IIA 6.000 s/d 20.000
IIB 1.500 s/d 8.000
IIC < 2.000
Lokal III -
Kapasitas Jalan
KAPASITAS JALAN
UNTUK INDONESIA, PERHITUNGAN KAPASITAS MENGIKUTI
MANUAL KAPASITAS JALAN INDONESIA 1997 (MKJI 1997)
KAPASITAS JALAN ANTAR KOTA:
C=CO X FCW x FCSP x FCSF
dimana: C = Kapasitas (smp/jam)
CO = Kapasitas dasar (smp/jam)
FCW = Faktor penyesuaian lebar jalan
FCSP = Faktor penyesuaian pembagian arah
FCSF = Faktor penyesuaian gangguan samping

KAPASITAS JALAN PERKOTAAN


C=CO X FCW x FCSP x FCSF X FSCS
dimana: C = Kapasitas (smp/jam)
CO = Kapasitas dasar (smp/jam)
FCW = Faktor penyesuaian lebar jalan
FCSP = Faktor penyesuaian pembagian arah
FCSF = Faktor penyesuaian gangguan samping

FCCS = Faktor penyesuaian ukuran kota


Kapasitas Dasar (Co)
Kapasitas Dasar Jalan Perkotaan
Penyesuaian Lebar Jalur Lalu lintas Efektif (FCW)
Tipe Jalan Lebar Jalur LaLin Efektif (Wc) (m) FCw (km/jam)

Per lajur
3,00 -4
Empat lajur 3,25 -2
terbagi/jalan satu arah 3,50 0
3,75 2
4,00 4
Empat lajur tak terbagi Per lajur
3,00 -4
3,25 -2
3,50 0
3,75 2
4,00 4
Dua lajur tak terbagi Per lajur
5 -9,5
6 -3
7 0
8 3
9 4
10 6
Faktor Penyesuaian Pemisah Arah (FCsp)
Faktor Penyesuaian Kecepatan untuk
Hambatan Samping (dengan kereb) (FCSF)
Jalan kereb penghalang Wg (m)

Kelas Hambatan
Tipe Jalan
Samping (SFC) < 0,5 m 1,0 m 1,5 m > 2,0 m

Sangat rendah 1,02 1,03 1,03 1,04


Rendah 0,98 1,00 1,02 1,03
Empat lajur Sedang 0,94 0,97 1,00 1,02
terbagi 4/2 D Tinggi 0,89 0,93 0,96 0,99
Sangat Tinggi 0,84 0,88 0,92 0,96
Sangat rendah 1,02 1,03 1,03 1,04
Empat lajur Rendah 0,98 1,00 1,02 1,03
tak terbagi 4/2 Sedang 0,93 0,96 0,99 1,02
D Tinggi 0,87 0,91 0,94 0,98
Sangat Tinggi 0,80 0,86 0,90 0,95
Sangat rendah 1,00 1,01 1,01 1,01
Dua lajur tak Rendah 0,96 0,98 0,99 1,00
terbagi 2/2 UD Sedang 0,90 0,93 0,96 0,99
atau jalan satu Tinggi 0,82 0,86 0,90 0,95
arah Sangat Tinggi 0,73 0,79 0,85 0,91
Faktor Bobot Untuk Hambatan Samping
Faktor Penyesuaian Ukuran Kota (FCcs)
Metode Peramalan
i = P1 + P2 +.+ Pn N
Pn = Po (1+i)n
Dimana:
i = Pertumbuhan variabel rata-rata
Pn = Jumlah variabel pada tahun ke n
Po = Jumlah variabel pada tahun dasar rata rata
N = Jumlah tahun yang dihitung
n = Tahun ke n
tingkat pelayanan,
Definisi Tingkat
Pelayanan
PerMen Hub No 14/2006
Tingkat Pelayanan Jalan
suatu ukuran yang digunakan untuk mengetahui kualitas
suatu ruas jalan tertentu dalam melayani arus lalu-lintas
yang melewatinya.
tampang melintang
2.2 Tampang Melintang

Tampang melintang jalan adalah potongan suatu jalan tegak lurus


pada as atau sumbu jalan, yang menunjukkan bentuk serta
susunan bagian-bagian jalan yang bersangkutan dalam arah
melintang.
Tampang melintang jalan yang akan digunakan harus sesuai
dengan klasifikasi jalan serta kebutuhan lalu lintas yang
bersangkutan, demikian pula lebar badan jalan, drainase dan
kebebasan pada jalan raya semua harus disesuaikan dengan
peraturan yang berlaku.
Tipikal Ruang Jalan
Sumber: Penjelasan PP 34/2006
Ruang Jalan
Sumber: UU 38/2004 & PP 34/2006, tentang Jalan
Damaja, Damija,
Dawasja
(ketentuan lama)
Rumaja, Rumija,
Ruwasja
Penampang Melintang
Jalan
Sedang
dan
Jalan
Kecil ??
JALUR dan LAJUR Lalu-lintas
Tipika
l Jalur
Jalan
Lajur
2.2.1 Lebar Perkerasan
Pada umumnya lebar perkerasan ditentukan berdasarkan
lebar jalur lalu lintas normal yang besarnya adalah 3,5 meter
sebagaimana tercantum dalam daftar I kecuali :
- Jalan penghuung dan jalan II c = 3,00 meter
- Jalan utama = 3,75 meter

2.2.2 Bahu Jalan


Bahu jalan adalah daerah yang disediakan ditepi luar jalan
antara lapis perkerasan dengan kemiringan badan jalan (talud)
yang bermanfaat bagi lalu lintas. Bahu jalan mempunyai
kemiringan untuk keperluan pengaliran air dari permukaan jalan
dan juga untuk memperkokoh konstruksi perkerasan.
Bahu Jalan
2.2.2.1 Fungsi bahu jalan
Bahu jalan dibuat untuk memberikan sokongan samping
terhadap konstruksi perkerasan. Bahu jalan juga terdapat ditepi
jalan atau di badan jalan khususnya pada jalan yang
menggunakan median.

2.2.2.2 Macam bahu jalan


Dalam fungsinya bahu jalan dapat dibedakan atas
permukaannya :
- Bahu Lunak (soft shoulder) yaitu bahu jalan yang tidak
diperkeras dan biasanya ditanami rumput dan digunakan pada
jalan klas rendah.
- Bahu diperkeras (hard shoulder) yaitu bahu jalan yang
diperkeras dan digunakan pada jalan klas menengah dan tinggi
2.2.2.3 Lebar Bahu Minimum
Untuk jalan kelas IIc daerah pegunungan = 1,00 meter
Untuk jalan kelas I daerah pegunungan = 3,00 meter
Untuk jalan penghubung daerah pegunungan tergantung lebar
pada keadaan setempat = 1,00 meter

2.2.3 Drainase
Perlengkapan drainase merupakan bagian yang sangat penting
dari suatu jalan seperti saluran tepi, saluran melintang jalan
yang harus pula disesuaikan dengan data-data hidrologi seperti
intensitas curah hujan maupun frekuensinya serta sifat daerah
aliran. Drainase harus dapat membebaskan pengaruh yang
buruk akibat air terhadap konstruksinya.
2.2.4 Median
Median adalah suatu jalur yang memisahkan dua jalur lalu
lintas yang berlawanan arah. Untuk jalan 4 jalur atau lebih pada lalu
lintas dua arah diperlukan median.

2.2.4.1 Fungsi Median

2.2.4.2 Lebar Median


Media
n
Tipikal jalan ber MEDIAN
(Jalan Raya dan Jalan Bebas
Hambatan)
2.2.6 Trotoar (Side Walk)
Trotoar adalah jalur yang terletak berdampingan dengan
jalur lalu lintas yang khusus dipergunakan untuk pejalan kaki
(pedestrian). Lebar trotoar yang digunakan pada umumnya
berkisar 1,5 3,0 meter.
Jalan ber TROTOAR
Fasilitas pejalan kaki
Mengacu ke Tata cara
perencanaan geometrik jalan
perkotaan
jarak pandangan
JARAK PANDANG

+ Jarak pandang Henti (Stopping sight distance, ssd)


+ Jarak Pandang Mendahului (Overtaking Sight Distance,
osd)
+ Jarak kebebasan pandang di tikungan
Kebebasan pandang di
tikungan
Jarak Pandang Henti, JH

10
VR, Km/Jam 120 80 60 50 40 30 20
0

17 12
JH minimum (m) 250 75 55 40 27 16
5 0

Jarak pandang Mendahului, JD


12 10
VR, Km/Jam 80 60 50 40 30 20
0 0
JD minimum 80 67 55 35 25 20 10
150
(m) 0 0 0 0 0 0 0
Ketentuan desain
geometrik jalan antar kota
setelah mempertimbangkan UU38/2004 &
PP34/2006
Ketentuan desain
geometrik jalan kota bina Marga
JLRAYA UTAMA JALAN RAYA SEKUNDER J PENGHUBUNG
KLASIFIKASI
JALAN
I (A1) II A (A2) II B (B1) II C (B2) III
KLASSIF MEDAN D B G D B G D B G D B G D B G
Lalu lintas harian rata-
rata (smp) > 20. 000 6.000 - 20.000 1500 - 8000 < 20.000 -
Kecepatan Rencana
(km/jam) 120 100 80 100 80 60 80 60 40 60 4 30 60 40 30
Lebar Daerah
Penguasaan min.(m) 60 60 60 40 40 40 30 30 30 30 30 30 20 20 20
Minimum 2 2x3.50 atau
Lebar Perkerasan (m) (2x3,75) 2(2x3.50) 2x 3.50 2 x 3.00 3.50 - 6.00
Lebar Median min (m) 2 1.5 - - -
Lebar Bahu (m) 3.50 3.00 3.00 3.00 2.50 2.50 3.00 2.50 2.50 2.50 1.50 1.00 3.50 - 6.00
Lereng Melintang
Perkerasan 2% 2% 2% 3% 4%
Lereng Melintang Bahu 4% 4% 6% 6% 6%
Aspal beton
Jenis Lapisan Penetrasi Paling tinggi Paling tinggi
Aspal Beton
Permukaan Jalan Berganda/ setaraf penetrasi tunggal pelebaran jalan
( hot mix )
Miring tikungan
maksimum 10% 10% 10% 10% 10%
Jari- jari lengkung
minimum (m) 560 350 210 350 210 115 210 115 50 210 115 50 115 50 30
Landai Maksimum 3% 5% 6% 4% 6% 7% 5% 7% 8 % 6 % 8 % 10 % 6 % 8 % 10 %
2.1 Gambar Tampang Melintang Jalan tanpa median
DMJ (Daerah Milik Jalan)

DMJ (Daerah Milik Jalan)


Daerah Milik Jalan (Damija)

Daerah Manfaat Jalan (Damaja)

Laston Lapis Pengikat AC-BC


Lapis Pondasi Atas (Base)
Lapis Pondasi Bawah (SubBase)

CL

Tanah Dasar

LAJUR LAJUR
Lalu Lintas Lalu Lintas
Drainase Drainase

Jalur Lalu Lintas


Bahu Jalan (Badan Jalan) Bahu Jalan
SEKIAN
DAN
TERIMA KASIH