Anda di halaman 1dari 28

KONSEP TIRODIDEKTOMI PADA

PASIEN PENYAKIT GRAVE/GOITUR


Oleh kelompok 1
Apa itu penyakit graves ?
Graves disease merupakan gangguan autoimun
berupa peningkatan kadar hormon tiroid yang
dihasilkan kelenjar tiroid Kondisi ini disebabkan
karena adanya thyroid stimulating antibodies
(TSAb) yang dapat berikatan dan mengaktivasi
reseptor TSH (TSHr). Aktivasi reseptor TSH oleh
TSAb memicu perkembangan dan peningkakan
aktivitas sel-sel tiroid menyebabkan peningkatan
kadar hormon tiroid melebihi normal.
Etiologi
Thyroid stimulating antibodies (TSAb) berikatan dan
mengaktivasi reseptor TSH (TSHr). Aktivasi reseptor TSH oleh
TSAb memicu perkembangan dan peningkakan aktivitas sel-sel
tiroid sehingga kadar hormon tiroid melebihi normal. TSAb
dihasilkan melalui proses respon imun karena adanya paparan
antigen. Namun pada Graves Disease sel-sel APC (antigen
presenting cell) menganggap sel kelenjar tiroid sebagai antigen
yang dipresentasikan pada sel T helper melalui bantuan HLA
(human leucocyte antigen). Selanjutnya T helper akan
merangsang sel B untuk memproduksi antibodi berupa TSAb.
Patogenesis penyakit graves

Pada penyakit Graves, limfosit T mengalami perangsangan


terhadap antigen yang berada didalam kelenjar tiroid yang
selanjutnya akan merangsang limfosit B untuk mensintesis
antibodi terhadap antigen tersebut. Antibodi yang disintesis akan
bereaksi dengan reseptor TSH didalam membran sel tiroid
sehingga akan merangsang pertumbuhan dan fungsi sel tiroid,
dikenal dengan TSH-R antibody. Adanya antibodi didalam sirkulasi
darah mempunyai korelasi yang erat dengan aktivitas dan
kekambuhan penyakit. Mekanisme otoimunitas merupakan faktor
penting dalam patogenesis terjadinya hipertiroidisme,
oftalmopati, dan dermopati pada penyakit Graves.
Manifestasi klinis

A. Ciri-ciri tiroidal ;
1. Goiter akibat hiperplasia kelenjar tiroid dan hipertiroidisme akibat sekresi
hormon tiroid yang berlebihan.
2. Gejala-gejala hipertiroidisme berupa manifestasi hipermetabolisme dan
aktifitas simpatis yang berlebihan.
3. Pasien mengeluh lelah, gemetar, tidak tahan panas, keringat semakin banyak
bila panas, kulit lembab, berat badan menurun walaupun nafsu makan
meningkat, palpitasi, takikardi, diare dan kelemahan srta atrofi otot.
B. Ciri-ciri ekstratiroidal;
1. Oftalmopati dan infiltrasi kulit local, biasanya terbatas pada tungkai bawah.
Ditemukan pada 50% sampai 80% pasien ditandai dengan mata melotot, fissura
palpebra melebar, kedipan berkurang, lid lag (keterlambatan kelopak mata
dalam mengikuti gerakan mata) dan kegagalan konvergensi.
Pemeriksaan penunjang

1. Pemeriksaan fisik
2. Pemeriksaan laboratorium (Baskin et al (2002);
- TSH serum (menurun)
- Kadar hormon tiroid (T3 dan T4) total dan bebas (meningkat)
- Iodine radioaktif (uptake tiroid melebihi normal)
3. USG Tiroid
4. Scanning (terlihat iodine menyebar di semua bagian kelenjar tiroid/pola penyebaran
berbeda dengan hipertiroidisme lain
5. Thyrotropin
6. Receptor antibodies (TRAb), hanya ditemukan pada penderita Graves disease / sebagai
dasar diagnosis Graves Disease / sebagai parameter keberhasilan terapi dan tercapainya
7. kondisi remisi pasien (Okamoto et al, 2006)
Komplikasi

1. Krisis tiroid (Thyroid Storm)


2. Merupakan eksaserbasi akut dari semua gejala tirotoksikosis yang berat
sehingga dapat mengancam kehidupan penderita.
3. Kelahiran prematur / kematian intrauterin
4. Preeklampsi pada kehamilan
5. Gagal tumbuh janin
6. Kegagalan jantung kongestif
7. Tirotoksikosis pada neonatus dan bayi dengan berat badan lahir rendah
8. Peningkatan angka kematian perinatal
Penatalaksanaan

Penatalaksanaannya ditujukan untuk mengontrol


keadaan hipertiroidisme. Jenis pengobatan terhadap
hipertiroidisme akibat penyakit Graves, yaitu : Obat
anti tiroid, Pembedahan (Tiroidektomi) dan Terapi
Yodium Radioaktif. Pilihan pengobatan tergantung
pada beberapa hal antara lain berat ringannya
tirotoksikosis, usia pasien, besarnya struma,
ketersediaan obat antitiroid dan respon atau reaksi
terhadapnya serta penyakit lain yang menyertainya.
Tiroidektomi

Tiroidektomi / reseksi kelenjar tiroid adalah salah


satu pilihan tindakan pembedahan untuk pasien yang
kambuh setelah menjalani pengobatan farmakologi
(obat anti tiroid). Tiroidektomi memiliki tingkat
keberhasilan yang sangat tinggi dengan tingkat
kematian yang sangat rendah. Prosedur bedah ini
bertujuan untuk mengangkat kelenjar tiroid agar
gangguam tiroid (pembesaran tiroid, hipertiroidisme,
kanker tiroid) dapat sembuh atau tidak memburuk.
Jenis Tiroidektomi

Tiroidektomi dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:


Lobektomi, yaitu pengangkatan salah satu lobus dari kelenjar tiroid
Tiroidektomi subtotal, yaitu pengangkatan tiroid sebagian
Tiroidektomi total, yaitu pengangkatan seluruh bagian tiroid
Indikasi Tiroidektomi

Tiroidektomi disarankan bagi pasien dengan diagnosa:


Hipertiroidisme, dilakukan tiroidektomi bila pasien memiliki alergi obat dan
menolak terapi iodine radioaktif dan bila hipertiroidisme disebabkan oleh
nodul beracun
Penyakit Graves (selain penyakit Graves rekuren), dilakukan tiroidektomi jika
mata terlihat sangat menonjol dan terjadi pembengkakan leher
Kanker tiroid, untuk mencegah penyebaran sel kanker ke bagian tubuh lain
Pembesaran kelenjar tiroid atau terdapat nodul di kelenjar tiroid
Persiapan Pra-Bedah

1. Dilakukan setelah tirotoksikosis bersamaan dengan pemberian terapi


farmakologi.
2. Tiroidektomi dilakukan segera setelah kontrol tirotoksikosis disertai dengan
resiko krisis tiroid (lebih baik setelah 2 bulan setelah pasien dalam eutiroid).
3. Biasanya pasien dengan tirotoksik diberikan terapi farmakologi iodide dan
iodine 10 hari sebelum operasi untuk mengurangi vaskularitas kelenjar.
4. Beta-adrenergic blookade sering digunakan untuk persiapan prabedah namun,
hanya sebagai tambahan pada th ionamide.
5. Propranolol digunakan secara tersendiri atau bersama larutan Lugol bila pasien
tidak tahan obat anti tiroid.
Perawatan Pasca Bedah

Setelah tindakan pembedahan ini, kadar kalsium pasien akan di pantau dan
pasien mungkin perlu menjalani terapi penggantian hormon, tergantung jenis
tiroidektomi (total atau sebagian).
Follow-up

- Tahun ke 1 : tiap 3 bulan


- Tahun ke 2 : tiap 4 bulan
- Tahun ke 3, 4 : tiap 6 bulan
- Tahun ke 5 : setiap tahun
Evaluasi :
1. Leher tonjolan tiroid
2. Klinis dan faal tiroid ( T3,T4,TSH) setiap kontrol
TINJAUAN KASUS

Identitas Pasien
Nama pasien : Ny. I
Umur : 40 Tahun
Agama : Islam
Alamat : Makassar
Pekerjaan : IRT
No. RM. : 030441
Diagnosa medis : Nodul Tyroid Dextra
Ringkasan riwayat penyakit

Klien masuk RS tanggal 09 desember 2014 dengan Diagnosa Medis Nodul Tyroid Dextra, klien
masuk dengan keluhan terdapat benjolan di leher sebelah kanan, keluhan mulai dirasakan
sejak bulan januari 2014. Awalnya benjolan kecil dan hampir tidak terlihat namunlama
kelamaan membesar. Nyeri (-), gangguan menelan (-), tremor (-), jantung berdebar (-).
Klien awalnya berobat jalan pada bulan januari di RS Ibnu Sina dengan keluhan yang sama,
dilakukan pemeriksaan lengkap dan didiagnosa SNNT (Struma Noduler Non Toxic),
dianjurkan untuk operasi, namun klien belum bersedia karena keterbatasan biaya. Klien
kemudian rawat jalan di RS Daya, kembali dianjurkan operasi tapi klien masih belum
bersedia karena alasan yang sama, kemudian klien berobat alternatif. Klien kemudian
berobat di RS wahidin selama 3 bulan (sambil menunggu antrian pemesanan kamar) dan
menjalani biopsi dengan hasil Benign Nodukulare Tyroid. Klien kemudian pindah berobat
jalan di RSUH sejak 4 bulan yang lalu, menjalani pemeriksan lengkap kembali, dan saat
dokter menganjurkan untuk operasi klien telah bersedia. Riwayat penyakit yang sama dalam
keluarga (+), sepupu klien. Tujuan pembedahan untuk dilakukan operasi Ismo Lobektomy
Dextra untuk mengeluarkan nodul tyroid agar tidak bertambah besar.
Persiapan pre-operatif

A. Fisik
1. Identitas klien sesuai dengan gelang identitas dan rekam medik.
2. Informed concent telah ditandatangani keluarga klien di ruang perawatan.
3. Pemeriksaan penunjang berupa, Ct scan, USG, FNA dan hasil laboratorium darah lengkap.
4. Klien puasa makan dan minum mulai pukul 00.00 WITA dini hari (09/12/2014).
5. Tidak ada riwayat alergi.
6. Tidak ada riwayat penyakit lain
7. Tidak menggunakan alat bantu lainya.
8. Pakaian klien telah diganti dengan pakaian bedah khusus pasien.
9. TTV: BP140/90 mmHg, HR 82x/mnt, Pernafasan 20x/mnt, S 37C.
10. Pre medikasi yang diberikan yaitu antibiotik Ceftriaxone 1000mg via IV.
B. Psikologis
1. Memberi penjelasan tujuan operasi
2. Memberitahukan pasien mengenai prosedur pembedahan
3. Memberi informasi manajemen anastesi

2 Analisa data
DS: - Klien mengatakan tidak pernah menjalani operasi sebelumnya
DO: - Ekspresi klien tampak tegang
TTV: BP140/90 mmHg, HR 82x/mnt, Pernafasan 20x/mnt, S 37C
ASKEP PRE-Operatif
- Diagnosa keperawatan : Ansietas b/d kurang pengetahuan dengan pembedahan
- Tujuan & Kriteria hasil : Setelah dilakukan intervensi ,klien dapat menunjukkan pengendalian diri
terhadap ansietas:
a. Menunjukkan kemampuan berfokus pada pengetahuan yang baru
b. Mampu menggunakan tehnik relaksasi untuk meredakan ansietas
c. Vital sign dalam batas normal
- Intervensi Keperawatan
1. Kaji tingkat kecemasan klien
2. Berikanpenjelasansesuaiumur
3. Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan
4. Komunikasikanperhatianpasienpadatimoperasi
5. Jelaskan semua prosedur ,termasuk sensasi yang mungkin dirasakan selama prosedur
6. Dampingi klien untuk meningkatkan rasa aman dan mengurangi ketakutan
7. Gunakan teknik distraksi, misalnya menonton televisi, mendengarkan musik
8. Evaluasi respon atas penjelasan yang diberikan
- Implementasi Keperawatan
1. Mengkaji tingkat kecemasan klien
2. Menggunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan
3. Menjelaskan kembali tentang prosedur yang akan dilakukan
4. Mendampingi klien untuk meningkatkan rasa aman dan mengurangi ketakutan
5. Mendengarkan keluhan klien dengan penuh perhatian
- Evaluasi
S :-
O : - Klien tampak tenang
- Klien tampak rileks setelah diberikan penjelasan mengenai prosedur operasi
- Kliennampakmendengarkanpenjelasanmengenaikeluhan yang dialamiklien
- TTV: BP120/76 mmHg, HR 79x/i, Pernafasan 18x/i, S 37.0C.
A : Ansietas klien berkurang
P : Yakinkan pasien melalui sentuhan dan sikap empatik secara verbal dan
nonverbal secara bergantian
RingkasanPembedahan&Askep Intra operatif
Ringkasan Pembedahan:
09.00: klien masuk kamar operasi
09.24: mulai pemberian general anastesi dan pemasangan ETT
09.40: pemasangan kateter No.18
09.45: desinfeksi area operasi (leher)dan prosedur drapping
09.50: mulai dilakukan insisi
10.30: TTV: BP125/89 mmHg, HR 72x/i, Pernafasan 14x/i, SaO2 100%
10.40: nodul tiroid berhasil di angkat.
10.45: pasang drain dengan NGT No.16
10.44: irigasi NaCl (pencucian area insisi jaringan dalam)
10.45: memasukkan Surgicel (menghentikan perdarahan, bersifat absorbable)
10.46: penutupan jaringan, mulai dilakukan penjahitan otot, subkutis, dankulit.
11.14: selesai pembedahan, pemasangan NGT
11.45: produksi urin 200cc
11.47: pindah PACU
Askep Intra Operatif
Pengkajian
- Suhu ruangan 17oC
- Klien mengeluh kedinginan saat masuk ruang Operasi
- Klien Nampak menggigil
- TTV: BP 120/76 mmHg, HR 79x/mnt, RR 18x/mnt, dan SPO2 97 %.
Diagnosa :
- Risiko hipotermi
- Faktor risiko: terpapar lingkungan dingin
- Risiko cedera
- Faktor risiko: posisi pasien, pengaruh obat anastesi
Intervensi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan klien tidak menunjukkan tanda-tanda hipotermi
dan cedera
Intervensi :
- Atur suhu ruangan untuk mempertahankan kehangatan pasien
- Selimuti bagian tubuh pasien yang terbuka
- Gunakan selimut hangat
- Lepaskan gigi palsu/kawat gigi dan perhiasan yang melekat ditubuh pasien sesuai
standar praoperasi
- Stabilkan dengan baik tempat tidur pasien maupun meja operasi pada waktu
memindahkan pasien ke dan dari meja operasi.
- Siapkkan bantalan atau peralatan untuk posisi yang dibutuhkan sesuai prosedur operasi
dan kebutuhan spesifik pasien
- Pastikan keamanan elektrikal dari alat-alat yang digunakan selama prosedur operasi
- Letakkan elektroda penetral (bantalan elektrokauter) yang meliputi seluruh massa otot-
otot yang yang paling besar dan yakinkan bahwa bantalan berada pada posisi yang baik.
Implementasi :
- Menutup bagian tubuh klien yang terbuka diluar area operasi
- Memasangkan warmer didalam selimut untuk menghangatkan klien
- Menstabilkan tempat tidur klien (selalu mengunci roda tempat tidur) saat klien
dipindahkan ke atau dari meja operasi.
- Memasangkan elektroda penetral di area betis klien
- Mengecek kembali bahwa tidak ada perhiasan yang melekat ditubuh klien
Evaluasi :
S :-
O : TD 109/69mmHg, HR76 x/mnt, R 16 x/mnt, SPO2 100%
A : Masalah masih menjadi risiko
P : - Pertahankan intervensi
- Selimuti pasien dengan selimut hangat untuk pemindahan setelah pembedahan
- Stabilkan tempat tidur pasien saat memindahkan pasien
PROSEDUR PELAKSANAAN PEMBEDAHAN

1. Posisi pasien supine dengan general anastesi


2. Prosedur steril dan drapping
3. Insisicollar sekitar 10 cm, perdalam secara tajam dan tumpul menembus
platisma dan fascia pretrachealis, lalu sisihkan musculus stereocleidomastoideus
hingga tampak dosul thyroid. Teraba massa tyroid dextra, padat dan kenyal.
4. Bebaskan massa tyroid dari jaringan sekitar dengan mengikat pembuluh darah
arteri dan vena thyroid superior dan inferior kanan dan menghindari trauma pada
nervus laringeus recurrent
5. Lakukan isthmolobektomi dextra, lalu control perdarahan
6. Jahit lapis demi lapis, operasi selesai
Fase operatif
1. Pengkajian

Kesadaran : Composmentis (GCS 15)

Integritas kulit : Luka insisi pada daerah leher

2. Diagnosa keperawatan

Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan interupsi mekanis pada kulit.

3. Intervensi

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan, terjadi penyembuhan luka tepat waktu.

Intervensi :

1) Tutup luka dengan balutan kasa dan plester kertas. Gunakan teknik aseptik yang ketat.

2) Ingatkan klien untuk tidak menyentuh daerah luka.

4. Implementasi

1) Menutup luka dengan balutan kasa dan plester kertas. Menggunakan teknik aseptik yang ketat.

2) Mengingatkan klien untuk tidak menyentuh daerah luka.

5. Evaluasi

S :-

O : Luka ditutup dengan kasa kering yang steril dan plester kertas (Hipafix).

A : Masalah belum teratasi.

P : Pertahankan intervensi