Anda di halaman 1dari 18

Issue Etik dalam Praktik

Keperawatan
Nama Kelompok 4 :
1. Milasari Lestia D 16-117
2. Maraytus S.P 16-119
3. Liyah Elsa N.C 16-141
4. Dwi Linda A.A 16-150
5. Fara Adibah 16-160
6. Akhmad Naufal S 16-172
7. Vio Nadya P 16-173
8. Marda Aditya S 16-184
Perawat dan Klien
Perawat dalam memberikan pelayanan
keperawatan menghargai harkat dan martabat
manusia.
Perawat dalam memberikan pelayanan
keperawatan harus menghormati nilai budaya,
agama, adat kebiasaan klien.
Perawat dalam memberikan pelayanan
keperawatan klien yang membutuhkan asuhan
keperawatan.
Perawat harus menjaga privasi klien.
Perawat dalam Praktik
Perawat memelihara dan meningkatkan kompetisi
dibidang keperawatan.
Perawat memelihara mutu pelayanan
keperawatan yang profesional dengan
menerapkan iptek.
Perawat dalam membuat keputusan harus
mendapat informasi yang akurat dan
berkolaborasi dengan tenaga medis lainnya.
Perawat menjunjung tinggi nama baik profesi
denagan menunjukkan sikap professional.
Perawat dan Masyarakat

Perawat mengemban tanggung jawab


bersama masyarakat untuk memprakarsai
dan mendukung berbagai kegiatan dalam
memenuhi kebutuhan dan kesehatan
masyarakat.
Perawat dan Teman
Sejawat
Perawat senantiasa memelihara hubungan
baik dengan tenaga kesehatan lainnya.
Perawat bertindak melindungi klien dari
tenaga kesehatan yang memberikan
pelayanan kesehatan yang tidak
kompeten.
Contoh Issue Etik dalam Praktik Keperawatan
Oknum Perawat Ini Operasi Pasien Hingga Sarafnya Putus
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur,
menyelidiki kasus malapraktik yang diduga dilakukan oleh Bustami terhadap pasiennya
Sudeh (42) hingga menyebabkan yang bersangkutan lumpuh.

Ketua PPNI Pamekasan Cahyono, Kamis, mengatakan, pihaknya perlu melakukan


penyelidikan dengan minta klarifikasi secara langsung kepada yang bersangkutan, karena
hal itu berkaitan dengan kode etik profesi perawat.

"Delik etik profesi perawat ini adalah urusan PPNI sebagai organisasi yang menaungi
profesi keperawatan," kata Cahyono seperti dikutip dari Antara, Jumat (13/9/2013).

Penyelidikan yang akan dilakukan PPNI, katanya, hanya berkaitan dengan kode etik
perawat untuk memastikan apakah yang bersangkutan benar-benar melanggar kode etik
atau tidak.

Sedangkan dugaan kasus malapraktik yang dilakukan pelaku hingga menyebabkan


korban lumpuh, menurut Cahyono, merupakan urusan kepolisian.

Ia menjelaskan, sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 17 Tahun 2013


tentang Penyelenggaraan Praktik Keperawatan, sebenarnya seorang perawat
diperbolehkan menjalankan praktik keperawatan, maupun praktik mandiri keperawatan
Sesuai dengan ketentuan itu, perawat yang diperbolehkan menjalankan praktik mandiri
ialah yang berpendidikan minimal D3 keperawatan, juga mempunyai surat izin kerja, dan
izin praktik perawat, apabila yang bersangkutan membuka praktik keperawatan di luar
tempat kerjanya.

"Apabila persyaratan-persyaratan itu dipenuhi, maka sebenarnya tidak ada persoalan bagi
perawat tersebut untuk membuka praktik," kata Cahyono menjelaskan.

Terkait dengan kasus malapraktik yang dilakukan Bustami, Ketua PPNI Cahyono
menyatakan belum bisa memberikan kesimpulan apapun. Hanya saja ia memastikan, jika
secara etika Bustami memang melanggar ketentuan kode etik, maka PPNI hanya bisa
merekomendasikan kepada instansi berwenang agar izin praktik perawatnya di luar
institusi kerja dicabut.

Kasus dugaan malapraktik di Pamekasan menimpa Suadeh alias Sudeh (42), warga Desa
Tebul Timur, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, oleh oknum perawat Bustami yang
selama ini mengaku sebagai dokter spesialis bedah.

Dugaan malapraktik itu terungkap, setelah keluarga korban melaporkan kepada polisi atas
kasus yang menimpa pasien yang ditangani oknum perawat namun mengaku dokter
spesialis bedah itu. Sebelumnya, pasien berobat ke klinik milik oknum perawat bernama
Bustami itu.
Kasus itu, terjadi pada 2012. Saat itu korban bernama Sudeh (42) datang ke "Klinik
Harapan" yang menjadi tempat praktik oknum itu di rumahnya di Desa/Kecamatan
Pakong, Pamekasan.

Ketika itu, korban menderita pusing-pusing. Oleh oknum perawat itu disarankan agar
dibedah karena di bagian punggung korban ada benjolan yang diduga sebagai penyebab
dari penyakit yang dideritanya.

"Saat itu kami bilang pada si dokter tersebut, akan dirujuk ke rumah sakit di
Pamekasan," kata saudara korban, Jumrah.

Akan tetapi, kata dia, Bustami justru minta agar tidak dioperasi di rumah sakit, sebab
dirinya juga bisa melakukan tindakan medis dan dia sendiri merupakan dokter spesialis
bedah.

Atas saran Bustami itu, pasien kemudian dioperasi oleh oknum perawat itu di klinik
setempat. Akan tetapi, setelah operasi ternyata kondisi pasien tidak sembuh, bahkan
pandangan mata kian buram, pendengaran terganggu, dan kemudian lumpuh.

"Kami lalu memeriksakan diri ke rumah sakit Dr Soetomo di Surabaya, ternyata sarafnya
putus akibat operasi yang dilakukan oleh Bustami itu," kata Jumrah.
Bustami merupakan pegawai Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pamekasan sebagai
perawat di unit gawat darurat.
Kisah bayi prematur Evan,
meninggal setelah disuntik perawat
Merdeka.com - Kisah pilu diceritakan oleh Hendri (25), ayah dari
bayi bernama Evan. Bayinya yang baru lahir satu malam di Rumah
Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan, mengalami bercak kemerahan,
kemudian panas tinggi, akhirnya meninggal dunia setelah disuntik
perawat.

Cerita bermula pada hari Selasa (19/3) lalu, perut Fitri (23), istri
Evan, mengalami kontraksi. Dia ingin melahirkan. Padahal saat itu
usia kandungannya baru menjalani delapan bulan lebih beberapa
hari.

Untuk pertolongan pertama, Hendri kemudian memanggil bidan di


dekat tempat tinggal mereka di Jl Prof Dr Hamka Gg Sadeli,
Kampung Gaga Masjid, RT 05/01 Larangan Selatan, Tangerang.
Bidan itu memprediksi bayi laki-laki di perut Fitri akan lahir
prematur. Merasa tidak punya alat merawat bayi yang lahir
prematur, bidan itu meminta Hendri membawa Fitri ke rumah sakit
terdekat.

Sekitar pukul 15.00 WIB, atas saran bidan Hendri membawa


istrinya ke rumah sakit Kartini di kawasan Cipulir. Di rumah sakit
"Mereka bilang nggak sanggup, takut kenapa-kenapa. Mereka juga nggak
punya alat untuk nanganin bayi prematur. Lalu disarankan ke rumah sakit
yang punya alat, mereka sarankan ke RS Fatmawati," cerita Hendri saat
berbincang dengan merdeka.com, Kamis (21/3).

Sebenarnya Hendri tak tega mengangkut istrinya yang tengah kesakitan.


Tapi demi si buah hati dia terus berjuang.

Sampai di rumah sakit, rupanya bekal surat rujukan dari rumah sakit
sebelumnya tak membuat proses penanganan menjadi lebih baik. Banyak
hal yang harus diisi, banyak pertanyaan yang ditanyakan. Total waktu
yang dia habiskan hampir 30 menit, sementara istri menunggu di parkiran.

"Saya sampai marah-marah ke dokter. Saat ini mereka bilang harus tanda
tangan surat yang isinya kalau ada apa-apa pihak rumah sakit tak
tanggung jawab. Saya tanda tangani, namanya saya bingung, yang ada di
pikiran saya anak lahir, dan keduanya selamat dan sehat," tambahnya.

Pada hari yang sama, sekitar pukul 21.45 WIB, akhirnya putra pertama
Hendri dan Fitri lahir dengan berat 2,2 kg. Bayi itu menangis dengan suara
kencang dan nyaring. Bayi itu diberi nama Evan. Meski beratnya kurang,
tim dokter dan perawat yang membantu proses kelahiran menyatakan
Evan sehat.
"Saya lihat anak saya sehat, walaupun beratnya kurang dan
prematur. Dia juga nggak ditaruh di incubator," ungkap Hendri.

Karena Evan sehat, Fitri dan bayinya diperbolehkan pulang Rabu


keesokan harinya. Singkat cerita, saat akan pulang pada Rabu
(20/3) sore sekitar pukul 15.00 WIB, datang seorang perawat
menemui Fitri. Perawat itu meminta Fitri untuk keluar sebentar,
sedangkan Hendri sibuk mengurus administrasi.

Setelah semua urusan selesai, Hendri, Fitri dan bidan kampung


yang mereka ajak hendak membawa Evan pulang. Saat itu
perawat mengatakan baru saja memberikan Evan suntikan
imunisasi. Mendengar ucapan perawat itu, Fitri, Hendri dan
bidan kaget.

"Si bidan sampai marah, kok anak prematur disuntik, ini kan
juga bayi baru lahir. Saya sendiri dan istri juga nggak dimintai
persetujuan akan disuntik. Setelah debat itu kami langsung
pulang," jelas pria yang bekerja sebagai pedagang musiman ini.
Sampai di rumah, Evan masih baik-baik saja. Masih minum susu dan tak ada
hal yang aneh. Kamis dini hari tadi, bayi itu tiba-tiba saja terus merengek dan
badannya panas. Di bagian pahanya hingga ke bokong tiba-tiba merah. Hendri
menduga merah itu berasal dari bekas suntikan.

"Akhirnya pagi tadi kami bawa ke RS Sari Asih Ciledug. Saat diperiksa dokter
jantungnya masih gerak, setelah beberapa saat diperiksa tak lama anak kami
dinyatakan meninggal," kisahnya lirih.

Atas kejadian itu, Hendri merasa kecewa. Dia akan kembali mendatangi RS
Fatmawati untuk memastikan soal suntikan yang diberikan seorang perawat ke
anaknya.

"Saya sedih, istri protes, tapi saya masih bingung," katanya.

Saat dikonfirmasi soal meninggalnya Evan, Humas RS Fatmawati, Wini


mengaku belum mendengar soal meninggalnya bayi Evan.

"Saya belum tahu, biasanya di report morning pada saat selesai jaga malam.
Kalau nggak ada masalah tidak dilaporkan dalam morning report. Tapi jangan
bilang kasus itu tidak ada, karena belum dilacak karena saya nggak tahu," kata
Wini saat ditemui di RS Fatmawati.

Dia meminta hal itu dikonfirmasi pada kepala rumah sakit. Dia merasa tak
punya wewenang menjelaskan soal kasus ini.
Perawat RSUD Sekayu yang tukar
bayi hanya disanksi teguran
Merdeka.com - Perawat RSUD Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin
(Muba) yang salah memberikan bayi sudah meninggal dunia pada
pasangan Ledi dan Rini, hanya diberi sanksi teguran. Meski
keteledorannya sudah membuat heboh, pihak rumah sakit beralasan
insiden tersebut murni human error.

Kepala Bidang Keperawatan RSUD Sekayu, Yulisa Rabiati


mengungkapkan, pihaknya sudah menginterogasi perawat yang
bersangkutan untuk mencari penyebab kejadian tersebut. Hasilnya,
tidak ada unsur kesengajaan dan hanya miskomunikasi antarperawat.

"Perawat itu sudah kami berikan hukuman berupa sanksi teguran. Tidak
ada niat sengaja atau hal lain," ungkapnya, Senin (13/1).

Menurut dia, kesalahan itu terjadi sejak awal kedatangan bayi ke RS


tersebut pada 6 Januari yang lalu. Karena keteledoran, perawat salah
menaruh gelang pada lengan bayi sehingga tertukar antara bayi milik
Ledi dan pasangan lain.

Pada hari kejadian, di RSUD Sekayu ada dua orang ibu yang melahirkan
bayi secara tidak normal (prematur), satu di antaranya bayi perempuan
milik pasangan Ledi dan Rini. Kedua bayi tersebut mendapat perawatan
intensif karena mengalami kritis.
Namun, setelah dirawat, salah satu bayi itu meninggal dunia dengan jenis
kelamin laki-laki. Akhirnya, pihak RS langsung memanggil orang tua bayi tersebut
untuk mengambil jasadnya.

Setelah ditunggu-tunggu, keluarga bayi laki-laki tersebut tidak kunjung datang.


Secara bersamaan, Ledi dan Rini datang untuk mengurus administrasi bayi
perempuan mereka.

"Nah, karena perawat merasa keluarga itulah orang tua bayi yang meninggal
dunia, jadi langsung saja dikabarkan bahwa bayi mereka tidak bisa diselamatkan
dan untuk dibawa pulang," ungkapnya.

Hal senada diungkapkan Kepala Bagian Humas Pemkab Muba, Dicky Meiriando.
Menurut dia, pihak rumah sakit telah mengambil tindakan tegas dengan
memberikan sanksi kepada oknum perawat yang melakukan kesalahan. Perawat
dan pihak RSUD Sekayu juga sudah meminta maaf kepada keluarga pasien.

"Kami sudah tanyakan soal kasus ini dan perawatnya sudah diberikan sanksi,"
tukasnya.

Kasus ini bikin heboh lantaran perawat di RSUD itu salah memberikan bayi. Anak
Ledi yang masih hidup dan sedang dirawat malah dikatakan sudah meninggal.
Perawat itu kemudian memberikan bayi laki-laki yang sudah meninggal kepada
Ledi. Padahal anak Ledi adalah perempuan. Setelah dicek sebelum dimakamkan,
ternyata sang perawat itu teledor karena salah memberikan bayi.
TERIMA KASIH