Anda di halaman 1dari 40

KLIMATOLOGI REGIONAL INDONESIA

04/17/17 1
Kesepakatan Umum Perkuliahan
Kuliah diadakan setiap hari Kamis
Absensi penting (80%)
Komposisi penilaian menyesuaikan kondisi:
UTS
UAS
Tugas
Absensi
Pemberitahuan ketidakhadiran dalam bentuk surat.

04/17/17 2
MATERI KULIAH
1. Iklim Wilayah Indonesia Secara Genetika
2. Letak Wilayah Indonesia kaitannya dengan gerak semu matahari
3. Iklim Indonesia akibat letak diantara benua Asia dan Australia
4. Iklim Indonesia akibat letak lintang antara 10 oLU dan 10oLS
5. Iklim Wilayah Indonesia Secara Empirik
6. Iklim wilayah (region) Sumatera
7. Iklim wilayah (region) Jawa
8. Iklim wilayah (region) Kalimantan dan Sulawesi
9. Iklim wilayah (region) Bali dan Nusatengara
10.Iklim wilayah (region) Maluku dan Irian/Papua
11. Klasifikasi iklim Indonesia menurut sistem Koppen
12.Klasifikasi iklim Indonesia menurut sistem Oldeman
13.Klasifikasi iklim Indonesia menurut sistem Schmidt - Ferguson
14.Klasifikasi iklim Indonesia menurut sistem Mohr dan Junghuhn
04/17/17 3
A. Pendahuluan
Pengamatan Iklim memerlukan proses yang lama. Dibutuhkan
waktu untuk mengumpulkan data yang cukup bisa menyimpulkan
ciri dan sifat iklim suatu daerah, minimal 30 tahun (ketentuan
World Meteorologycal Organization [WMO]).
Pada waktu proses pengamatan iklim itu, banyak yang dapat
terjadi sifatnya mengganggu kualitas data yang dikumpulkan
tidak baik (cacad).
Kejadian yang mengganggu bisa karena pengamat patah
semangat, pengamat sakit sehingga data yang terkumpul tidak
lengkap atau karena alat yang dipakai rusak, dan tidak segera
diperbaiki/diganti.

04/17/17 4
Masyarakat yang berusaha dibidang pertanian sangat erat
hubungannya dengan iklim, sebenarnya masyarakat Indonesia
sudah sejak lama mengamati unsur-unsur iklim. Hanya sifat
pengamatan mereka adalah korelatif. Artinya, gejala iklim
senantiasa mereka kaitkan dengan gejala lain, misalnya permulaan
musim hujan dikaitkan dengan terbitnya bintang Waluku
/Kalajengking (Scorpius). Bunyi dari insektisida tertentu (misalnya
tenggoret/garengpung) di pohon menandakan musim hujan akan
berakhir.
Pengamatan iklim secara sistematis dan modern di Indonesia
diketahui dari J. Braak.
Perkembangan pengamatan iklim secara modern di Indonesia
berkaitan erat dengan perkembangan pertanian besar berawal
sekitar tahun 1870, yaitu tahun diundangkannya Hukum
Pertanahan Kolonial (Agrarische Wet).
04/17/17 5
Rasi Scorpius memiliki nama Hindu, Mri Chika. Masyarakat di Nusantara percaya bila rasi
ini terbenam bersama dengan terbenamnya Matahari, merupakan tanda masuknya
musim penghujan

04/17/17 6
Rasi Bintang

04/17/17 7
B. Ciri-ciri umum iklim di Indonesia
Adapun ciri-ciri umum iklim Indonesia sebagai berikut :
1. Indonesia beriklim panas (suhu rata-rata tahunan tinggi), karena
terletak di dekat katulistiwa ( terletak antara 0 o s/d 23,5o LU dan 0o
s/d 23,5o LS) tepatnya Indonesia terletak di 6 o 08' LU s/d 11o 15' LS
(6o LU s/d 11oLS)
2. Indonesia dipengaruhi angin musim (monsun/muson), karena
letaknya diantara dua benua (Asia dan Australia) yang musimnya
berlawanan.
3. Indonesia beriklim lembab, karena luasnya permukaan perairan
diantara pulau-pulau ( 2/3 Indonesia berupa laut dan 1/3 daratan).
4. Indonesia terletak di luar iklim hembusan angin topan, karena
letaknya diantara 10o LU dan 10o LS.
04/17/17 8
04/17/17 9
IKLIM WILAYAH INDONESIA SECARA GENETIKA
Sistem pengelompokan iklim dengan pendekatan yang berbeda.
Terdapat dua pendekatan mendasarkan yang berbeda pada
pengelompokan iklim, yaitu pendekatan genetik dan pendekatan
generik atau empirik.
Pendekatan genetik pengelompokan didasarkan pada penentu
iklim, yaitu faktor yang menentukan dan menyebabkan iklim
berbeda misalnya pola sirkulasi udara, radiasi bersih dan
kelembaban.
Pendekatan empirik pengelompokan didasarkan pada unsur iklim
sendiri yang diamati atau efeknya terhadap gejala lain, biasanya
tumbuhan atau manusia.
Pengukuran unsur penentu iklim jauh lebih sulit daripada
pengukuran unsur iklim maka data mengenai penentu iklim untuk
kebanyakan bagian bumi sangat kurang.
04/17/17 10
Kebanyakan sistem pengelompokan iklim menggunakan
pendekatan empirik yang datanya lebih banyak tersedia.
Pengelompokan iklim seluruhnya ada 170 sistem sekitar 20
(11,76%) diantaranya menggunakan pendekatan genetik dan
sisanya memakai pendekatan empirik (88,24%).
Sebagian besar dari pengelompokan genetik menggunakan pola
sirkulasi udara yang luas dan hanya dua pengelompokan yang
berdasarkan pada neraca energi dari permukaan bumi.
Contoh sistem pengelompokan iklim yang menggunakan
pendekatan genetik adalah: pengelompokan iklim Flohn (1950)
didasarkan pada angin global dan ciri curahan/hujan,
pengelompokan iklim Strahler (1969) yang didasarkan pada
massa udara yang dominan dan ciri curahan/hujan, serta
pengelompokan iklim Budyko (1956) yang didasarkan pada
neraca energi.
04/17/17 11
Pengelompokan iklim Flohn (1950)
Klas Jenis Iklim Ciri Curahan
I Mintakat baratan katulistiwa Basah selalu
II Mintakat tropis, pusat musim Hujan musim panas
dingin
III Mintakat kering subtropis Kondisi kering sepanjang tahun
(tekanan tinggi subtropis)
IV Mintakat hujan musim dingin Hujan musim dingin
V Mintakat baratan ekstra Curahan sepanjang tahun
tropis
VI Mintakat subpolar Curahan terbatas sepanjang tahun
VIa Subjenis benua Boreal Curah hujan musim panas terbatas;
curah musim dingin
VII Mintakat polar tinggi Curahan kurang sekali; curah hujan
musim panas, curah salju awal
musim dingin
04/17/17 12
Pengelompokan iklim Strahler (1969)
Kelompok Jenis Iklim Faktor penentu
I Iklim lintang rendah Massa udara khatulistiwa dan tropis
a.Khatulistiwa basah
b.Pantai angin pasat
c. Gurun dan stepa tropis
d.Gurun pantai barat
e.Kering-basah tropis
II Iklim lintang menengah Massa udara polar dan tropis
a.Subtropis lembab
b.Pantai barat bahari
c. Mediteran
d.Gurun dan stepa lintang menengah
e.Benua lembab
III Iklim lintang tinggi Massa udara polar dan arktik
a.Subarktik benua
b.Subarktik bahari
c. Tundra
d.Tudung es
IV Iklim dataran tinggi Ketinggian tempat
04/17/17 13
Pengelompokan iklim Budyko (1956)
Kelompok Jenis Iklim Indeks Radiasi Kekeringan (Id)
I Gurun >3
II Separuh gurun 2,0 - 3,0
III Stepa 1,0 - 2,0
IV Hutan 0,33 -1,0
V Tundra < 0,33

Rn = banyaknya radiasi yang tersedia untuk penguapan permukaan basah


yang dianggap mempunyai albedo sebesar 0,18
L = panas laten penguapan
r = curahan tahunan rata-rata
Id kurang dari 1 (satu) untuk daerah lembab dan lebih besar dari 1 (satu)
untuk daerah kering.
04/17/17 14
1. Gerak semu matahari
Gerak semu matahari dibatasi oleh garis lintang 23,5 oLU disebut
garis balik utara (tropic of Cancer) dan lintang 23,5oLS disebut
garis balik selatan (tropic of Capricon).
Posisi matahari di ekuator disebut ekinoks, terjadi dua kali selama
revolusi bumi terhadap matahari yaitu pada tanggal 21 Maret
disebut ekinoks musim semi dan 23 September disebut ekinoks
musim gugur untuk belahan bumi utara (gambar 1).
Pada tengah hari jam 12.00 sinar matahari tegak lurus ekuator,
sinar matahari menyinggung kutub utara (KU) dan kutub selatan
(KS). Lingkaran terang melalui KU dan KS membagi garis lintang
tempat sama besar, sehingga lamanya siang dan malam sama 12
jam diseluruh tempat di bumi. Energi matahari di daerah ekuator
maksimum kemudian berkurang ke arah kutub, dan di kutub energi
matahari mendekati nol.
04/17/17 15
Gambar 1. Pergerakan Semu tahunan matahari

Tropic of Cancer

Tropic of Capriconus

04/17/17 16
04/17/17 17
Pontianak (di ekuator, lintang 0o01'LS) pada waktu ekinoks 21
Maret dan 23 September, banyak dikunjungi wisatawan domestik
dan mancanegara untuk membuktikan bahwa pada tengah hari
(jam 12.00) tidak terdapat bayangan karena matahari tepat di atas
kepala kita.
Pergeseran posisi matahari ke arah belahan bumi utara (22
Desember - 21 Juni) dan pergeseran posisi matahari dari belahan
bumi utara ke belahan bumi selatan (21 Juni - 21 Desember)
disebut gerak semu harian matahari. Disebut demikian karena
sebenarnya matahari tidak bergerak. Gerak itu akibat revolusi bumi
dengan sumbu rotasi yang miring.
Kedudukan matahari pada lintang 23,5oLU terjadi pada tanggal 21
Juni, disebut solstis musim panas atau pada lintang 23,5oLS
terjadi pada 22 Desember, disebut solstis musim dingin untuk
belahan bumi utara (BBU).
04/17/17 18
Solstis musim panas pada tanggal 21 Juni mempunyai ciri-ciri
sebagai berikut:
Kutub utara condong 23,5o ke matahari, sinar matahari pada jam
12.00 siang tegak lurus pada lintang 23,5oLU.
Di belahan bumi utara, sinar matahari menyinggung lintang
66,5oLU setelah melewati kutub utara, dibelahan bumi selatan
matahari hanya sampai pada lintang 66,5oLS.
Lingkaran terang tidak membagi garis lintang sama besar kecuali
pada ekuator, sehingga lamanya siang tidak sama dengan malam
kecuali di ekuator.
Belahan bumi utara lebih luas ke arah matahari daripada belahan
bumi selatan, sehingga siang harinya lebih lama di belahan bumi
utara, daerah lintang 66,5oLU - 90oLU (Kutub Utara) siangnya
mencapai 6 bulan.
04/17/17 19
Lamanya siang ditambah dengan sudut matahari yang lebih besar,
mengahsilkan insolasi maksimum di belahan bumi utara pada
tanggal 21 Juni, sehingga temperatur tinggi dan terjadi solstis
musim panas.
Solstis musim dingin pada tanggal 22 Desember mempunyai ciri-
ciri sebagai berikut:
Kutub selatan condong 23,5o ke matahari, sinar matahari pada jam
12.00 siang tegak lurus pada lintang 23,5oLS.
Di belahan bumi selatan, sinar matahari menyinggung lintang
66,5oLS sehingga ada cahaya sedangkan pada lintang 66,5 oLU
tidak ada cahaya, daerah pada lintang 66,5 oLS - 90oLS (Kutub
Selatan) siangnya mencapai 6 bulan.
Lingkaran terang tidak membagi garis lintang sama besar kecuali
pada ekuator, sehingga lamanya siang tidak sama dengan malam
kecuali di ekuator.
04/17/17 20
Luas belahan bumi utara lebih besar kearah matahari
dibandingkan belahan bumi selatan, sehingga malam hari lebih
lama di belahan bumi utara
Pada tanggal 22 Desember, di belahan bumi utara temperatur
menjadi rendah sehingga terjadi solstis musim dingin.
Pada tanggal 21 Juni (solstis musim panas BBU), lamanya siang
pada lingkaran Artika (66,5oLU) 24 jam, sebaliknya di BBS pada
lingkaran Antartika (66,5oLS) lamanya malam 24 jam.
Pada tanggal 22 Desember (solstis musim panas BBU)
kejadiannya terbalik, yaitu pada lingkaran Artika lamanya malam
sama dengan lamanya siang pada lingkaran Antartika yaitu 24 jam.

04/17/17 21
Pada waktu ekinoks yaitu tanggal 21 Maret dan 23 September,
siang dan malam hari lamanya sama 12 jam untuk semua garis
lintang.
Sebenarnya lamanya siang lebih dari 12 jam, karena sinar
matahari mengalami refraksi oleh atmosfer, sehingga matahari
tampak seperti pada horizon pada waktu matahari berada sedikit di
bawah horizon. Siang hari diperpanjang oleh senja akibat
hamburan sinar matahari pada bagian atas atmosfer yang bagi
pengamat di bumi tetap mendapat sinar setelah matahari
terbenam.
Di ekuator, lamanya siang serpanjang tahun adalah 12 jam 7
menit. Secara astronomis, durasi siang adalah 12 jam tepat, tetapi
memerlukan waktu 3,5 menit untuk setengah matahari bagian atas
menghilang di bawah horizon pada waktu matahari terbenam
(sunset).
04/17/17 22
Pada waktu matahari terbit (sunrise) memerlukan 3,5 menit
sebelum pusat piringan matahari berada pada horizon, sementara
setengah piringan bagian atas telah siap memberikan insolasi.
Pada lintang-lintang rendah beda antara hari terpendek dan
terpanjang setiap tahun meningkat sekitar 7 menit per derajat
lintang tempat, sekitar 71 menit pada lintang 10o dan 146 menit
pada lintang 20o.
Pada lintang rendah perubahan musim yang disebabkan oleh
panjangnya hari sangat kecil tetapi pada lintang menengah,
temperatur yang tinggi dikaitkan dengan lamanya hari dalam
musim panas.

04/17/17 23
Pada lintang rendah perubahan musim yang disebabkan oleh
panjangnya hari sangat kecil tetapi pada lintang menengah,
temperatur yang tinggi dikaitkan dengan lamanya hari dalam
musim panas.
Selanjutnya keragaman panjang hari menurut musim dan lintang
tempat. Pada lintang 60o panjang siang berkisar dari 5 jam 33
menit pada musim dingin sampai 18 jam 27 menit pada musim
panas. Sedangkan di ekuator (lintang 0o) lamanya siang dan
malam 12 jam sepanjang musim, baik pada musim dingin, ekinoks
musim semi, solstis musim panas maupun ekinoks musim gugur
(tabel di bawah).

04/17/17 24
Durasi matahari terbit sampai terbenam(siang hari)
Lintang Solstis musim dingin Ekinoks musim semi Solstis musim
(derajat) atau gugur panas
0o 12 jam 0 menit 12 jam 0 menit 12 jam 0 menit
10o 11 jam 25 menit 12 jam 0 menit 12 jam 38 menit
20o 10 jam 48 menit 12 jam 0 menit 13 jam 12 menit
30o 10 jam 04 menit 12 jam 0 menit 13 jam 56 menit
40o 9 jam 08 menit 12 jam 0 menit 14 jam 52 menit
50o 7 jam 42 menit 12 jam 0 menit 16 jam 18 menit
60o 5 jam 33 menit 12 jam 0 menit 18 jam 27 menit
70o 0 12 jam 0 menit 0
80o 0 12 jam 0 menit 0
90o 0 12 jam 0 menit 0

04/17/17 25
Kombinasi antara revolusi bumi serta kemiringan sumbu bumi terhadap
bidang ekliptika menimbulkan beberapa gejala alam yang diamati
berulang setiap tahunnya. Peristiwa ini nampak jelas diamati di sekitar
kutub utara dan kutub selatan.
a. Antara tanggal 21 Maret s.d 23 September
Kutub utara mendekati matahari, sedangkan kutub selatan menjauhi
matahari
Belahan bumi utara menerima sinar matahari lebih banyak daripada
belahan bumi selatan.
Panjang siang dibelahan bumi utara lebih lama daripada dibelahan bumi
selatan
Ada daerah disekitar kutub utara yang mengalami siang 24 jam dan ada
daerah disekitar kutub selatan yang mengalami malam 24 jam.
Diamati dari khatulistiwa, matahari tampak bergeser ke utara.
Kutub utara paling dekat ke matahari pada tanggal 21 Juni. Pada saat ini
pengamat di khatulistiwa melihat matahari bergeser 23,5 o ke utara.
04/17/17 26
b. Antara tanggal 23 September s.d 21 Maret
Kutub selatan lebih dekat mendekati matahari, sedangkan kutub
utara lebih menjauhi matahari.
Belahan bumi selatan menerima sinar matahari lebih banyak
daripada belahan bumi utara.
Panjang siang dibelahan bumi selatan lebih lama daripada belahan
bumi utara
Ada daerah di sekitar kutub utara yang mengalami malam 24 jam
dan ada daerah di sekitar kutub selatan mengalami siang 24 jam.
Diamati dari khatulistiwa, matahari tampak bergeser ke selatan.
Kutub selatan berada pada posisi paling dekat dengan matahari
pada tanggal 22 Desember. Pada saat ini pengamat di khatulistiwa
melihat matahari bergeser 23,5o ke selatan.

04/17/17 27
c. Pada tanggal 21 Maret dan 23 September
Kutub utara dan kutub selatan berjarak sama ke matahari
Belahan bumi utara dan belahan bumi selatan menerima sinar
matahari sama banyaknya.
Panjang siang dan malam sama diseluruh belahan bumi.
Di daerah khatulistiwa matahahari tampak melintas tepat di atas
kepala.

04/17/17 28
Di bumi ada 4 jenis musim, yaitu:
a. Musim dingin (winter), di belahan bumi utara terjadi pada bulan
Desember, Januari dan Februari. Di belahan bumi selatan terjadi
pada bulan Juni, Juli dan Agustus.
b. Musim semi (spring), di belahan bumi utara terjadi pada bulan
Maret, April dan Mei. Di belahan bumi selatan terjadi pada bulan
September, Oktober dan Nopember.
c. Musim panas (summer), di belahan bumi utara terjadi pada bulan
Juni, Juli dan Agustus. Di belahan bumi selatan terjadi pada bulan
Desember, Januari dan Februari.
d. Musim gugur (autumn), di belahan bumi utara terjadi pada bulan
September, Oktober dan Nopember. Di belahan bumi selatan
terjadi pada bulan Maret, April dan Mei.

04/17/17 29
Karena variasi temperatur sepanjang tahun sangat kecil, Indonesia
tidak lazim disebut musim panas dan musim dingin, lebih sering
disebut musim kemarau atau musim kering dan musim hujan atau
musim basah, karena variasi curah hujan yang besar.
Musim dibelah bumi utara Musim dibelah bumi selatan
Musim semi 21 Maret - 21 Juni Musim semi 23 September-22 Desember
Musim panas 21 Juni - 23 September Musim panas 22 Desember - 21 Maret
Musim gugur 23September-22 Desember Musim gugur 21 Maret - 21 Juni
Musim Dingin 22 Desember - 21 Maret Musim Dingin 21 Juni - 23 September

04/17/17 30
2. Efek gerak semu matahari terhadap wilayah Indonesia
Matahari merupakan sumber energi bagi bumi, memancarkan
energinya melalui radiasi gelombang pendek, dan sebagian energi
tersebut akan dipancarkan kembali dengan radiasi gelombang
panjang. Radiasi balik sinar matahari yang terjadi dari pancaran
awan di atmosfer dan kembali ke ruang angkasa dikenal sebagai
Outgoing Longwave Radiation (OLR).
OLR adalah energi radiasi gelombang panjang yang dipancarkan
oleh bumi ke angkasa luar. OLR sangat berkaitan dengan tingkat
penutupan awan atau curah hujan. Hal ini karena di atmosfer OLR
mengalami penyerapan terbesar oleh uap air (terutama awan). Oleh
sebab itu makin besar persentase liputan awan, makin rendah nilai
OLR dan sebaliknya.
Gelombang pendek panjang gelombang antara 0,15 m sampai 4,0
m (m baca mikrometer ) 1m = 10-6m
04/17/17 31
OLR adalah energi radiasi gelombang panjang yang dipancarkan
oleh bumi ke angkasa luar. OLR sangat berkaitan dengan tingkat
penutupan awan atau curah hujan. Hal ini karena di atmosfer OLR
mengalami penyerapan terbesar oleh uap air (terutama awan).
Oleh sebab itu makin besar persentase liputan awan, makin
rendah nilai OLR dan sebaliknya.
Matahari sebagai sumber energi bagi bumi suhu permukaannya
6000o K serta memancarkan energi radiasi sebesar 74,4 juta watt
tiap m2 permukaannya. Radiasi yang dipancarkan ini dikenal
sebagai radiasi surya, yang merupakan gelombang
elektromagnetik dengan kisaran panjang gelombang 0,3 - 4,0 m
(Geiger et al.,1995).

04/17/17 32
Energi tersebut dipancarkan ke segala penjuru, besarnya energi yang
sampai puncak atmosfer berkisar 1360 W/m 2, sebelum mengalami
pemancaran dan penyerapan oleh atmosfer. Energi radiasi surya
tersebut akan diserap oleh bumi (termasuk atmosfer) dan akan
digunakan untuk proses fisika atmosfer, seperti pemanasan udara dan
penguapan.
Radiasi surya disebut juga dengan radiasi gelombang pendek,
sedangkan radiasi bumi atau benda-benda alam di bumi yang disebut
sebagai radiasi gelombang panjang. Perbedaan panjang gelombang ini
dapat dijelaskan dengan Hukum Wien berikut, yang menyatakan
gelombang pada energi maksimum berbanding terbalik dengan suhu
permukaan benda yang memancarkan radiasi tersebut.
Rumus hukum Wien
maks dinyatakan dalam 1m = 10-6m
T dinyatakan dengan K (K = Kelvin)
Matahari suhu permukaannya 6.000 K, panjang gelombang dari pemancar
intensitas maksimumnya 0,5 m
04/17/17 33
Energi radiasi yang datang pada suatu permukaan dapat berbentuk
gelombang pendek (Qs) dan gelombang panjang (Ql). Suatu permukaan
dapat diasumsikan sebagai suatu bidang yang luas dan tebalnya sama
dengan nol. Radiasi gelombang panjang khususnya berasal dari
pancaran radiasi benda-benda atmosfer seperti udara, uap air, butir-butir
air dan debu. Radiasi gelombang panjang ini disebut sebagai Outgoing
Longwave Radiation (OLR). Sebagian radiasi datang juga akan
dipancarkan oleh permukaan, sedangkan permukaan tersebut juga akan
memancarkan energi berupa gelombang panjang.
Beda antara radiasi yang datang dan yang keluar disebut sebagai radiasi
netto (Qn), yang besarnya adalah:
Qn = Qsi + Qli Qso Qlo
Qn = radiasi netto
Qsi = radiasi datang dengan gelombang pendek
Qli = radiasi datang dengan gelombang panjang
Qso = radiasi keluar dengan gelombang pendek
Qlo = radiasi keluar dengan gelombang panjang
04/17/17 34
Penelitian tentang hubungan Outgoing Longwave Radiation (OLR)
dengan curah hujan dilakukan oleh Motell dan Weare (1987) yang
menyatakan hubungan curah hujan dengan Outgoing Longwave
Radiation (OLR) berkorelasi negatif. Hal ini sejalan dengan
pendapat Murakami dan Matsumoto (1994) yang menjelaskan
bahwa OLR berkorelasi negatif dengan Inter Tropical Convergence
Zone. Penelitian OLR di Indonesia dilakukan pula oleh Visa et al.,
(2002) yang khusus meneliti hubungannya dengan Total
Precipitable Water (TPW) yang memperlihatkan korelasi negatif
antara OLR dengan TPW.
Hubungan pola OLR dan karakteristik curah hujan di Indonesia
diteliti Sofiati (1998) yang menjelaskan bahwa awal dan akhir
musim hujan di 3 tipe hujan yaitu A (satu puncak), B (dua puncak),
dan C (kebalikan tipe A) di Indonesia dapat dideteksi dengan
penjalaran OLR, kecuali pada tipe B pengaruh kuatnya adalah Inter
Tropical Convergence Zone (ITCZ).
04/17/17 35
Karakteristik curah hujan di Indonesia

04/17/17 36
Karakteristik curah hujan di Indonesia

04/17/17 37
Pergerakan semu matahari dapat membalikkan arah gaya gradient
tekanan dari daratan ke lautan menghasilkan perubahan arah
angin musiman atau monsun sehingga beda panas Utara-Selatan
yang sangat penting diperkirakan antara benua Asia dan samudra
Hindia. Jika angin berhembus dari arah Barat Laut (Northwest)
atau menuju pantai (daratan) maka Indonesia terjadi periode
musim hujan, sebaliknya jika angin berhembus dari arah Tenggara
(Southeast) atau menuju lepas pantai (lautan) maka Indonesia
terjadi periode musim kemarau.

04/17/17 39
BACAAN
1. Motell EC dan Weare CB. 1987. Estimating tropical Pasific rainfall using
satellite data Journal Applied.Meteorology., 26, 1436-1446.
2. Murakami T dan Matsumoto J. 1994. Summer monsoon over the Asian
continent and western North Pacific.Journal Meteorology Society.
Japan,72, 719-745.
3. Prawirowardoyo, Susilo. 1996. Meteorologi, Bandung ITB.
4. Sandy, I. M., 1987, Iklim Regional Indonesia, Jurusan Geografi FMIPA,
Universitas Indonesia, Jakarta.
5. Sofiati I. 1998. Characteristics of Rainfall and OLR Patterns in Indonesia
and Surrounding Regions, Tesis, Institute for Hydrosperic-Atmospheric
Sceinces Graduate Scholl of Sceinces Nagoya University, JAPAN.
6. Visa J, Sofiati I, Harjana T. 2002. Korelasi antara outgoing longwave
radiation (OLR) dan Total Precipitable Water (TPW) di wilayah Indonesia
periode 1996 - 1999. Indonesian Journal of Physics, Vol 13 No 3.

04/17/17 40