Anda di halaman 1dari 10

Pertusis

1. Dwi Damayanti 131000503


2. Hanny Shabrina 131000565
3. Faizah R. Amri 131000547
4. Yuniar Simanjuntak131000528
5. Tika Lubis 131000751
1. Identifikasi (Whooping Cough, Di Indonesia disebut juga
dengan batuk rejan, batuk bangkong, batuk seratus hari, kinghus)

Adalah penyakit bakterial akut yang menyerang saluran


pernapasan. Stadium kataral ditandai dengan serangan berupa
batuk iritatif yang pada awalnya insidius kemudian menjadi
paroxysmal, biasanya berlangsung selama 1-2 minggu dan berakhir
dalam 1-2 bulan atau lebih.
Serangan paroxysmal ini ditandai dengan batuk keras beruntun,
setiap seri batuk seperti burung gagak yang khas atau dengan
tarikan napas yang keras dan melengking. Serangan paroxysmal ini
biasanya diakhiri dengan keluarnya lendir jernih dan liat, sering
diikuti dengan muntah. Pada penderita bayi berumur kurang dari 6
bulan, remaja dan pada penderita dewasa sering tidak ditemukan
batuk dengan suara yang khas atau batuk paroxysmal.
Diagnosa didasarkan pada penemuan organisme penyebab dari
spesimen nasofaring yang diambil selama stadium catarrhal dan
stadium paroxysmal awal, ditanam pada media biakan yang tepat.
Pemeriksaan dengan pewarnaan DFA (Direct Fluorescent Antibody
Test) dari sekret nasofaring dapat memberikan diagnosa Perkiraan
yang cepat namun membutuhkan teknisi laboratorium yang
berpengalaman karena dapat terjadi positif palsu dan negatif palsu.
Pemeriksaan dengan PCR dan tes serologis untuk diagnosa pertusis
belum distandarisasi. Teknik ini sebaiknya digunakan sebagai upaya
untuk menegakkan diagnosa presumtif bersamaan dengan kultur.
2.Etiologi dan Sifat Agent
Penyebab Pertusis adalah Bordetella pertusis
atau Hemopilus pertusis.
Bordetella pertusis adalah suatu kuman yang
kecil ukuran 0,5-1 um dengan diameter 0,2-0,3 um,
ovoid kokobasil, tidak bergerak, gram negative, tidak
berspora, berkapsul dapat dimatikan pada
pemanasan 50C tetapi bertahan pada suhu tendah
0- 10C dan bisa didapatkan dengan melakukan swab
pada daerah nasofaring penderita pertusis yang
kemudian ditanam pada media agar Bordet-Gengou.
3.Masa Inkubasi dan Penularan
Masa inkubasi:
Umumnya 7-20 hari.

Masa penularan
Sangat menular pada stadium kataral awal sebelum stadium
paroxysmal. Selanjutnya tingkat penularannya secara bertahap
menurun dan dapat diabaikan dalam waktu 3 minggu untuk kontak
bukan serumah, walaupun batuk spasmodic yang disertai whoop
masih tetap ada. Untuk kepentingan penanggulangan, stadium menular
diperluas dari awal stadium kataral sampai dengan 3 minggu setelah
munculnya batuk paroxysmal yang khas pada penderita yang tidak
mendapatkan terapi antibiotika. Bila diobati dengan erythromycin,
masa menularnya biasanya 5 hari atau kurang setelah pemberian
terapi.
4.Distribusi Penyakit
Distribusi Penyakit Menurut Variabel Epidemiologi
Penyakit endemis yang sering menyerang anak-anak (khususnya usia
dini) tersebar di seluruh dunia, tidak tergantung etnis, cuaca ataupun lokasi
geografis.
KLB terjadi secara periodik.
Terjadi penurunan yang nyata dari angka kesakitan pertusis selama empat
decade terakhir, terutama pada masyarakat dimana program imunisasi
berjalan dengan baik serta tersedia pelayanan kesehatan yang cukup dan
gizi yang baik.
Sejak tahun 1980 sampai dengan tahun 1989 rata-rata kasus yang
dilaporkan pertahun di Amerika Serikat adalah 2.800, namun jumlah kasus
ini meningkat pada tahun 1995-1998 menjadi rata-rata 6.500. Dengan
peningkatan cakupan imunisasi di Amerika Latin, kasus pertusis yang
dilaporkan menurun dari 120.000 pada tahun 1980 menjadi 40.000 pada
tahun 1990. Angka insidensi meningkat di negara-negara dimana cakupan
imunisasi pertusis yang menurun (antara lain di Inggris, Jepang pada awal
tahun 1980-an dan di Swedia).
5.Reservoir

Saat ini manusia dianggap sebagai


satu-satunya hospes.
6.Cara Penularan
Pertusis ditularkan kepada orang lain melalui
tetesan dari batuk atau bersin.
Tanpa perawatan, penderita pertusis dapat
menularkannya kepada orang lain sampai tiga
minggu setelah batuk mulai terjadi.

Waktu antara eksposur dan jatuh sakit


biasanya tujuh sampai sepuluh hari, tetapi
mungkin sampai tiga minggu.
7.Kerentanan dan Kekebalan
Anak-anak yang tidak diimunisasi umumnya rentan terhadap
infeksi. Imunitas transplacental pada bayi tidak ada. Penyakit ini
umumnya menyerang anak-anak. Angka insidensi penyakit yang
dilaporkan tertinggi pada anak umur dibawah 5 tahun. Kasus yang
ringan atau kasus atypic yang tidak terdeteksi terjadi pada semua
kelompok umur. Sekali serangan biasanya menimbulkan kekebalan
dalam waktu yang lama, walaupun dapat terjadi serangan kedua
(diantaranya disebabkan oleh B. parapertussis). Di Amerika Serikat
kasus yang terjadi pada remaja atau orang dewasa yang sebelumnya
sudah pernah diimunisasi disebabkan oleh penurunan imunitas
dan berperan sebagi sumber infeksi bagi anak-anak yang belum
diimunisasi.
8.Cara Pencegahan dan Pengawasan
Pencegahan Pengawasan
1. Imunisasi anak Anda secara 1. Laporan kepada instansi
tepat waktu kesehatan setempat
2. Jauhkan bayi Anda dari 2. Isolasi
orang yang batuk 3. Disinfeksi serentak
3. Dapatkan imunisasi jika 4. Karantina
Anda seorang dewasa yang
berada dalamkontak dekat
5. Perlindungan terhadap
dengan anak kecil kontak
4. Jika Anda berada dalam 6. Penyelidikan terhadap
kontak dekat dengan kontak dan sumber infeksi
penderita pertusis 7. Pengobatan spesifik
5. Jika Anda menderita
pertusis: