Anda di halaman 1dari 34

MALUNION FRAKTUR 1/3

DISTAL FEMUR DEXTRA

PENYUSUN
YURIKE NATALIE ( 030.08.266 )

PEMBIMBING
dr. Moch.Nagieb, Sp.OT
STATUS PASIEN
IDENTITAS PASIEN

Nama: Acep Rona


Usia : 16 tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Alamat : Jl Pegangsaan Dua No 55 Rt 03 Rw 01
Status : Belum Menikah
Pekerjaan : Pelajar
Suku : Jawa
Pendidikan : SMK
Tanggal Masuk RS : 29 Juli 2012
ANAMNESIS
Diambil dari autoanamnesis tanggal 29
Juli 2012

Keluhan
Keluhan
Utama: Sakit
Tambahan
di paha
(-)
kanan
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang pada tanggal 29 Juli 2012 dengan orangtua nya.
Pasien mengeluh nyeri di paha kanan sebelum masuk rumah sakit.
Nyeri dirasakan hanya pada satu tempat dan tidak menjalar ke
daerah lain.
Pasien mengaku bahwa 3 bulan yang lalu mengalami patah tulang,
dikarenakan saat Pasien mengendarai motor dengan kecepatan
40 km/jam menabrak motor yang ada didepannya lalu Pasien
terjatuh ke arah kanan. Pasien mengaku memakai helm, pada saat
kejadian kaki tidak bisa diangkat, pada daerah paha tampak
bengkak dan sakit, tidak pingsan, tidak pusing, tidak muntah, tidak
sesak, tidak nyeri pada perut, tidak ada perdarahan. Pasien juga
mengaku tidak BAK dan BAB secara spontan pada saat kejadian.
Setelah kejadian Pasien dibawa ke rumah sakit Intan Barokah,
Karawang lalu di rumah sakit menurut Pasien , dokter IGD
menjelaskan bahwa harus dilakukan operasi pemasangan pen
namun kakak Pasien menakut-nakuti Pasien dengan mengatakan
tidak akan memberi obat bius sehingga Pasien ketakutan dan
menolak untuk dilakukan operasi dan hanya dilakukan tindakan
bidai. Pasien akhirnya pulang hari itu juga ke rumah dan dengan
Awalnya ke dukun pijat di daerah Karawang, dikatakan
harus membayar Rp 25.000.000,- sampai sembuh
namun karena keluarga tidak mempunyai duit
sebanyak itu maka keluarga memutuskan untuk hanya
menginap 4-5 hari dengan biaya Rp 1.200.000,-. Lalu
Pasien pulang ke rumah dan memanggil tukang pijat 1
minggu 2x pijat dengan biaya Rp. 300.000,-. Setelah
itu Pasien dibawa ke kampung dan diurut kembali oleh
tukang urut dengan biaya Rp 50.000,- seminggu,
menurut tukang urut ini, Pasien diharuskan memakai
tongkat. Lalu ketika Pasien harus masuk sekolah,
Pasien pergi dari kampung dan balik ke Karawang,
sehingga Pasien pergi ke tukang urut di Karawang 3
hari sekali dengan biaya Rp 30.000,- per 3 hari, dan
menurut tukang urut ini Pasien dilarang untuk
memakai tongkat sehingga Pasien tidak memakai
tongkat lagi namun karena Pasien tidak merasa ada
perubahan pada kakinya sehingga setelah beberapa
kali ke tukang pijat ini, Pasien tidak datang lagi.
Suatu ketika saat di sekolah Pasien merasa
paha kanan nya sangat sakit dan akhirnya
Pasien dibawa ke dukun patah tulang Guru
Singa, ketika diperiksa dikatakan bahwa
mereka tidak menjamin 100% kesembuhan
Pasien lalu menyarankan untuk dirujuk ke
Rumah Sakit, dan karena keluarga lebih
gampang mengurus surat untuk ke RSUD
Koja, maka keluarga memasukkan Pasien
ke RSUD Koja. Pasien dipijat oleh dukun
pijat 20 kali.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Os mengaku selama 3 bulan, Os dipijat oleh dukun
pijat 20 kali, penyakit lain disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada keluarga yang menderita penyakit yang
sama. Riwayat penyakit hipertensi,kencing manis,
asma dan keganasan pada anggota keluarga
disangkal oleh OS

Riwayat Pengobatan :
Selama 3 bulan, Os dipijat oleh dukun pijat 20 kali.

Riwayat Kebiasaan :
Pasien tidak merokok dan tidak mengkonsumsi
alkohol. Os rajin berolahraga seperti karate.
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : tampak sakit ringan
Kesadaran: compos mentis
Tanda-tanda vital : Tekanan Darah : 120/70 mmHg
Nadi : 88x/menit
Pernapasan : 18x/menit
Suhu : 36C
Tinggi Badan : 155 cm
Berat Badan : 45 kg
Keadaan Gizi : Baik

Status Generalis :
Kepala
Normocephali, rambut hitam dengan distribusi merata, tidak mudah dicabut, tidak terdapat jejas maupus benjolan
Mata
Bentuk normal, simetris, pupil bulat dan isokor, conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks cahaya langsung (+/
+), refleks cahaya tidak lagsung (+/+).

Telinga
Normotia, liang telinga lapang, tidak hiperemis, sekret (-/-), serumen (+/+), membran timpani utuh, benda asing (-/-).

Hidung
Bentuk normal, tidak ada deformitas, septum deviasi (-), konka hipertrofi (-/-), tidak hiperemis, sekret (-/-).

Mulut
Bibir luka (-), hematom (-), trismus (-), gigi- geligi dalam batas normal, oral hygiene baik.

Leher
Inpeksi : jejas (-), oedem (-), hematom (-)
Palpasi :Bentuk normal , tidak teraba pembesaran KGB dan tiroid, nyeri tekan (-)

Thorax
Paru Paru
Inspeksi : gerak napas kanan dan kiri simetris, retraksi sela iga (-/-),
jejas (-),oedem (-), hematom (-), deformitas (-)
Palpasi : vocal fremitus simetris kiri dan kanan, nyeri tekan (-/-)
Perkusi : sonor di kedua lapang paru
Auskultasi: suara nafas vesikuler kanan dan kiri, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Jantung
Auskultasi : bunyi jantung I-II murni reguler, gallop (-), murmur (-)

Abdomen
Inspeksi : datar, jejas (-), hematom (-), oedem (-)
Auskultasi : bising usus (+)
Palpasi : supel, nyeri tekan dinding perut (-), defense muscular (-)
Perkusi : timpani, shifting dullness (-)
Genitalia
Tidak ada jejas, tidak terdapat nyeri

Ekstremitas
Lihat status lokalis
Status Lokalis
Status lokalis regio femur dekstra :
Look :
(+) pembengkakan di tungkai atas kanan; (-) angulasi; (-) rotasi

(+) deformitas

Feel :
(+) pembengkakan di tungkai atas kanan, 12 cm diatas lutut, suhu kulit normal, teraba keras, (-)
mobile, (-) nyeri tekan, pulsasi ke distal (+), CRT 2

Apperant Lenght Kanan 65 Kiri 68

True Lenght Kanan 84 Kiri 87

Anatomical Lenght Kanan 37 Kiri 40

Move :
(-) krepitasi

ROM aktif-pasif terbatas akibat nyeri


Diagnosis Sementara
Fraktur tertutup Femur dekstra
LABORATORIUM

Tanggal 29 Juli 2012, jam 11.11 WIB


Hematologi
Hb : 13,9 (13,7-17,5 g/dl)
Leukosit : 8.300 (4.200-9.100/ul)
Hematokrit : 44 (40-51 %)
Trombosit : 330.000 (163.000-
337.000/ul)
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Dilakukan foto rontgen regio Femur


dextra dan foto thoraks PA
DIAGNOSIS KERJA DAN DASAR
DIAGNOSIS
Diagnosis Kerja
Malunion 1/3 Femur Distal Dextra

Dasar diagnosis :
Malunion 1/3 Femur Distal Dextra karena pada anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang didapatkan
bahwa pasien saat kejadian tidak dapat mengangkat
kakinya dan dalam 3 bulan tidak dibawa ke RS hanya
dibawa ke dukun pijat. Pada foto rontgen juga dapat dilihat
adanya fraktur pada 1/3 femur distal dextra dan sudah
terdapat pemendekkan pada kaki kanannya.
PENATALAKSANAAN
Tindakan Operatif :
a. Refrakturisasi Kallus
b. Pasang Skeletal Traction

c. ORIEF
Medikamentosa
Infus RL : D5 NaCl = 1:3/24 jam
Sopirom 2x1 g
Hypobac 3x500 mg
Ketopain 3x1 g

Non Medikamentosa
Diet Bebas
Foto regio femur dekstra setelah
dilakukan refrakturisasi
PROGNOSIS
Ad Vitam : ad bonam
Ad Fungsionam : dubia ad bonam
Ad Sanationam : dubia ad bonam
Tinjauan Pustaka
A. Fraktur Femur
Definisi
Fraktur adalah suatu patahan pada kontinuitas struktur tulang. Patahan tadi mungkin tak lebih dari
suatu retakan, suatu pengisutan atau perimpilan korteks; biasanya patahan itu lengkap dan
fragmen tulang bergeser. Bilamana tidak ada luka yang menghubungkan fraktur dengan udara luar
atau permukaan kulit atau kulit diatasnya masih utuh ini disebut fraktur tertutup (atau sederhana),
sedangkan bila terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur dengan udara luar atau
permukaan kulit yang cenderung untuk mengalami kontaminasi dan infeksi ini disebut fraktur
terbuka.

Epidemiologi
Klasifikasi alfanumerik pada fraktur, yang dapat digunakan dalam pengolahan komputer, telah
dikembangkan oleh (Muller dkk., 1990). Angka pertama menunjukkan tulang yaitu :
1. Humerus
2. Radius/Ulna
3. Femur
4. Tibia/Fibula

Sedangkan angka kedua menunjukkan segmen, yaitu :


5. Proksimal
6. Diafiseal
7. Distal
8. Maleolar
Etiologi
Pada dasarnya tulang bersifat relatif rapuh, namun cukup mempunyai kekuatan dan daya pegas
untuk menahan tekanan. Fraktur dapat terjadi akibat :

Peristiwa trauma tunggal


Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba tiba dan berlebihan, yang dapat
berupa benturan, pemukulan, penghancuran, penekukan atau terjatuh dengan posisi miring,
pemuntiran, atau penarikan.
Bila terkena kekuatan langsung tulang dapat patah pada tempat yang terkena; jaringan lunak
juga pasti rusak. Pemukulan (pukulan sementara) biasanya menyebabkan fraktur melintang
dan kerusakan pada kulit diatasnya; penghancuran kemungkinan akan menyebabkan fraktur
komunitif disertai kerusakan jaringan lunak yang luas.
Bila terkena kekuatan tak langsung tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari
tempat yang terkena kekuatan itu; kerusakan jaringan lunak di tempat fraktur mungkin tidak
ada.

Kekuatan dapat berupa :


1. Pemuntiran (rotasi), yang menyebabkan fraktur spiral
2. Penekukan (trauma angulasi atau langsung) yang menyebabkan fraktur melintang
3. Penekukan dan Penekanan, yang mengakibatkan fraktur sebagian melintang tetapi disertai
fragmen kupu kupu berbentuk segitiga yang terpisah
4. Kombinasi dari pemuntiran, penekukan dan penekanan yang menyebabkan fraktur obliq
pendek
5. Penatikan dimana tendon atau ligamen benar benar menarik tulang sampai terpisah

Tekanan yang berulang ulang


Retak dapat terjadi pada tulang, seperti halnya pada logam dan benda lain, akibat tekanan
berulang ulang.

Kelemahan abnormal pada tulang (fraktur patologik)


Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang itu lemah (misalnya oleh tumor)
atau kalau tulang itu sangat rapuh (misalnya pada penyakit paget )
Klasifikasi
Klasifikasi fraktur femur dapat dibagi dalam :
a. FRAKTUR COLLUM FEMUR:
Fraktur collum femur dapat disebabkan oleh trauma langsung
yaitu misalnya penderita jatuh dengan posisi miring dimana
daerah trochanter mayor langsung terbentur dengan benda
keras (jalanan) ataupun disebabkan oleh trauma tidak langsung
yaitu karena gerakan exorotasi yang mendadak dari tungkai
bawah, dibagi dalam :
Fraktur intrakapsuler (Fraktur collum femur)
Fraktur extrakapsuler (Fraktur intertrochanter femur)

b. FRAKTUR SUBTROCHANTER FEMUR


Ialah fraktur dimana garis patahnya berada 5 cm distal dari
trochanter minor, dibagi dalam beberapa klasifikasi tetapi yang
lebih sederhana dan mudah dipahami adalah klasifikasi Fielding
& Magliato, yaitu :
tipe 1 : garis fraktur satu level dengan trochanter minor
tipe 2 : garis patah berada 1 -2 inch di bawah dari batas atas
trochanter minor
tipe 3 : garis patah berada 2 -3 inch di distal dari batas atas
trochanterminor
c. FRAKTUR BATANG FEMUR (dewasa)
Fraktur batang femur biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas dikota
kota besar atau jatuh dari ketinggian, patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang
cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam shock, salah satu klasifikasi fraktur batang
femur dibagi berdasarkan adanya luka yang berhubungan dengan daerah yang patah. Dibagi
menjadi :
- tertutup
- terbuka, ketentuan fraktur femur terbuka bila terdapat hubungan antara tulang patah dengan
dunia luar dibagi dalam tiga derajat, yaitu ;
Derajat I : Bila terdapat hubungan dengan dunia luar timbul luka kecil, biasanya diakibatkan
tusukan fragmen tulang dari dalam menembus keluar.
Derajat II : Lukanya lebih besar (>1cm) luka ini disebabkan karena benturan dari luar.
Derajat III : Lukanya lebih luas dari derajat II, lebih kotor, jaringan lunak banyak yang ikut rusak
(otot, saraf, pembuluh darah)

d. FRAKTUR BATANG FEMUR (anak anak)

e. FRAKTUR SUPRACONDYLER FEMUR


Fraktur supracondyler fragment bagian distal selalu terjadi dislokasi ke posterior, hal ini biasanya
disebabkan karena adanya tarikan dari otot otot gastrocnemius, biasanya fraktur supracondyler
ini disebabkan oleh trauma langsung karena kecepatan tinggi sehingga terjadi gaya axial dan
stress valgus atau varus dan disertai gaya rotasi.

f. FRAKTUR INTERCONDYLAIR
Biasanya fraktur intercondular diikuti oleh fraktur supracondular, sehingga umumnya terjadi bentuk
T fraktur atau Y fraktur.

g. FRAKTUR CONDYLER FEMUR


Mekanisme traumanya biasa kombinasi dari gaya hiperabduksi dan adduksi disertai dengan tekanan
pada sumbu femur keatas.
Gambaran Klinik
Riwayat
Biasanya terdapat riwayat cedera, diikuti dengan ketidakmampuan
menggunakan tungkai yang mengalami cedera, fraktur tidak selalu dari
tempat yang cedera suatu pukulan dapat menyebebkan fraktur pada
kondilus femur, batang femur, pattela, ataupun acetabulum. Umur pasien
dan mekanisme cedera itu penting, kalau fraktur terjadi akibat cedera yang
ringan curigailah lesi patologik nyeri, memar dan pembengkakan adalah
gejala yang sering ditemukan, tetapi gejala itu tidak membedakan fraktur
dari cedera jaringan lunak, deformitas jauh lebih mendukung.
Tanda tanda umum :
Tulang yang patah merupakan bagian dari pasien penting untuk mencari bukti
ada tidaknya
1. Syok atau perdarahan
2. Kerusakan yang berhubungan dengan otak, medula spinalis atau visera
3. Penyebab predisposisi (misalnya penyakit paget)
Tanda tanda lokal
a. Look : Pembengkakan, memar dan deformitas (penonjolan yang abnormal,
angulasi, rotasi, pemendekan) mungkin terlihat jelas, tetapi hal yang
penting adalah apakah kulit itu utuh; kalau kulit robek dan luka memiliki
hubungan dengan fraktur, cedera terbuka
b. Feel : Terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa bagian
distal dari fraktur untuk merasakan nadi dan untuk menguji sensasi. Cedera
pembuluh darah adalah keadaan darurat yang memerlukan pembedahan
c. Movement :Krepitus dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi lebih
penting untuk menanyakan apakah pasien dapat menggerakan sendi
sendi dibagian distal cedera.
Diagnosis
Anamnesis : pada penderita didapatkan riwayat trauma ataupun
cedera dengan keluhan bagian dari tungkai tidak dapat digerakkan
Pemeriksaan fisik :
- Look : Pembengkakan, memar dan deformitas (penonjolan yang
abnormal, angulasi, rotasi, pemendekan) mungkin terlihat jelas,
tetapi hal yang penting adalah apakah kulit itu utuh; kalau kulit
robek dan luka memiliki hubungan dengan fraktur, cedera terbuka
- Feel : Terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa
bagian distal dari fraktur untuk merasakan nadi dan untuk menguji
sensasi. Cedera pembuluh darah adalah keadaan darurat yang
memerlukan pembedahan
- Movement :Krepitus dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi
lebih penting untuk menanyakan apakah pasien dapat
menggerakan sendi sendi dibagian distal cedera.

Pemeriksaan penunjang :
Pemeriksaan dengan sinar x harus dilakukan dengan 2 proyeksi yaitu
anterior posterior dan lateral, kekuatan yang hebat sering
menyebabkan cedera pada lebih dari satu tingkat karena itu bila
ada fraktur pada kalkaneus atau femur perlu juga diambil foto sinar
x pada pelvis dan tulang belakang.
Komplikasi
a. Early :
Lokal :
- Vaskuler : compartement syndrome
Trauma vaskuler
- Neurologis : lesi medulla spinalis atau saraf perifer
sistemik : emboli lemak
- Crush syndrome
Emboli paru dan emboli lemak

b. Late :
- Malunion : Bila tulang sembuh dengan fungsi anatomis
abnormal (angulasi, perpendekan, atau rotasi) dalam waktu
yang normal
- Delayed union : Fraktur sembuh dalam jangka waktu yang
lebih dari normal
- Nonunion : Fraktur yang tidak menyambung dalam 20 minggu
- Kekakuan sendi/kontraktur
Penatalaksanaan
Terapi konservatif :
Proteksi
Immobilisasi saja tanpa reposisi
Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips
Traksi

Terapi operatif
ORIF

Indikasi ORIF :
- Fraktur yang tidak bisa sembuh atau bahaya avasculair necrosis tinggi
- Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup
- Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan
- Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik
dengan operasi
- Excisional Arthroplasty
Membuang fragmen yang patah yang membentuk sendi
- Excisi fragmen dan pemasangan endoprosthesis
Dilakukan excisi caput femur dan pemasangan endoprosthesis Moore
Tindakan debridement dan posisi terbuka
Penyembuhan fraktur :
Fase Peradangan :
Pada saat fraktur ada fase penjendalan dan nekrotik di ujung atau
sekitar fragmen fraktur, proses peradangan akut faktor eksudasi dan
cairan yang kaya protein ini merangsang lekosit PMN dan Makrofag
yang fungsinya fagositosis jendalan darah dan jaringan nekrotik

Fase Proliferasi :
Akibat jendalan darah 1 2 hari terbentuk fibrin yang menempel pada
ujung ujung fragmen fraktur, dimana fibrin ini berfungsi sebagai
anyaman untuk perlekatan sel sel yang baru tumbuh sehingga
terjadi neovaskularisasi dan terbentuk jaringan granulasi atau
procallus yang semakin lama semakin memadat sehingga terjadi
fibrocartilago callus yabg bertambah banyak dan terbentuklah
permanen callus yang tergantung banyak atau sedikitnya celah pada
fraktur.

Fase Remodelling
Permanen callus diserap dan diganti dengan jaringan tulang
sedangkan sisanya direabsorbsi sesuai dengan bentuk dan anatomis
semula.
Prinsip Penanganan Fraktur

Prinsip-prinsip tindakan/penanganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi, dan pengembalianfungsi dan kekuatan
normal dengan rehabilitasi

Reduksi, yaitu : restorasi fragmen fraktur sehingga didapati posisi yang dapat diterima.

Reduksi fraktur (setting tulang) berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan posisi anatomis
normal.

Metode reduksi :
Reduksi tertutup, pada kebanyakan kasus reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang
ke posisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan Manipulasi dan Traksi manual. Sebelum reduksi
dan imobilisasi, pasien harus dimintakan persetujuan tindakan, analgetik sesuai ketentuan dan bila
diperlukan diberi anestesia. Ektremitas dipertahankan dalam posisi yang diinginkan sementara gips,
bidaiatau alat lain dipasang oleh dokter. Alat imobilisasi akan menjaga reduksi danmenstabilkan ektremitas
untuk penyembuhan tulang. Rontgen harus dilakukan untukmengetahui apakah fragmen tulang telah dalam
kesejajaran yang benar.

Traksi
Traksi dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi. Beratnya traksidisesuaikan dengan
spasme otot yang terjadi. Secara umum traksi dilakukan dengan menempatkan beban dengan tali pada
ekstermitas pasien. Tempat tarikan disesuaikansedemikian rupa sehingga arah tarikan segaris dengan sumbu
panjang tulang yang patah

Metode pemasangan traksi antara lain :


a. Traksi manual
Tujuannya adalah perbaikan dislokasi, mengurangi fraktur, dan pada keadaan emergency
b. Traksi mekanik, ada 2 macam :
- Traksi kulit (skin traction)
Dipasang pada dasar sistem skeletal untuk sturktur yang lain misal otot. Digunakan dalam waktu 4 minggu dan
beban < 5 kg.
- Traksi skeletal
Merupakan traksi definitif pada orang dewasa yang merupakan balanced traction.Dilakukan untuk
menyempurnakan luka operasi dengan kawat metal / penjepitmelalui tulang / jaringan metal.

Kegunaan pemasangan traksi antara lain:


1. Mengurangi nyeri akibat spasme otot

2. Memperbaiki & mencegah deformitas

3. Immobilisasi

4. Difraksi penyakit (dengan penekanan untuk nyeri tulang sendi)

5. Mengencangkan pada perlekatannya

Prinsip pemasangan traksi :

Tali utama dipasang di pin rangka sehingga menimbulkan gaya tarik.

Berat ekstremitas dengan alat penyokong harus seimbang dengan pemberat agarreduksi dapat
dipertahankan

Pada tulang-tulang yang menonjol sebaiknya diberi lapisan khusus.

Traksi dapat bergerak bebas dengan katrol.

Pemberat harus cukup tinggi di atas permukaan lantai. Traksi yang dipasang harusbaik dan terasa
nyaman.

Reduksi terbuka, pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka. Denganpendekatan bedah,
fragmen tulang direduksi. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin,kawat, sekrup, palt, paku atau
batangan logam dapat digunakan untuk mempertahan kanfragmen tulang dalam posisinya sampai
penyembuhan tulang yang solid terjadi
NON UNION
Kegagalan penyatuan fragmen fraktur sepenuhnya. Setelah periode penyatuan yang jauh lebih lama
daripada periode normal

Ada 2 tipe :
1. Fibrous non union
Hanya terjadi penyatuan jaringan fibrosa. Masih dimungkinkan adanya potensi penyatuan tulang jika
diimobilisasi secara rigid dalam waktu yang cukup dan penghambat penyembuhan fraktur seperti
infeski diberantas. Jika pada pemeriksaan radiologis didapatkan ujung tulangyang sklerosis, ahli bedah
harus mengindkusi penyatuan dengan cangkok tulang autogen
2. Psedu arthrosis
Gerakan terus-menerus pada fragmen fraktur merangsang pembentukan sendi palsu (pseudo
arthrosis ) yang komplit dengan kapsul yang menyerupai kapsul synovial ( rongga lengkap dengan
cairannya ). Non union yang terjadi tidak dapat disatukan bahkan dengan imobilisasi yang lama
sehingga dibutuhkan cangkok tulang. Cangkok tulang konselus autogen lebih efektif daripada cangkok
kortex luas.

Penyebab :
Distraksi dan pemisahan fragmen
Interposisi jaringan lunak diantara fragmen-fragmen
Terlalu banyak gerakkan pada garis fraktur
Persendian darah lokal buruk

Gejala klinis :
Biasanya terdapat riwayat cedera, diikuti dengan ketidakmampuan menggunakan tungkai yang
mengalami cedera. Nyeri, memar dan pembengkakkan adalah gejala yang sering ditemukan, tetapi
gejala itu tidak membedakan fraktur dari cedera jaringan lunak. Deformitas jauh lebih mendukung.
DELAYED UNION
Jika interval waktu antara terjadinya trauma dan
waktu penyambungan tulang telah cukup tetapi
berdasarkan hasil rontgen dan gejala klinis tulang
masih belum menyatu.
Faktor-faktor yang menjadi penyebab antara lain:
Reduksi yang tidak adekuat
Gangguan jaringan lunak
Imobilisasi yang tidak adekuat
Gangguan pembentukan tulang
Manajemen pembedahan yang kurang baik
Fiksasi interna yang tidak adekuat
MALUNION
Fragmen tulang menyatu pada posisi yang tidak memuaskan (angulasi, rotasi
atau pemendekkan yang tidak dapat diterima)
Faktor penyebab :
Tidak tereduksinya fraktur secara cukup
Kegagalan mempertahankan reduksi ketika terjadi penyembuhan
Kolaps yang berangsur-angsur pada tulang yang osteoporotik atau kominutif
Terapi
Pada orang dewasa, fraktur harus direduksi sedekat mungkin dengan posisi
anatomis. Angulasi lebih dari 15 derajat pada tulang panjang atau deformitas
rotasional yang nyata mungkin membutuhkan koreksi dengan manipulasi
ulang atau membutuhkan osteoptomi dan fiksasi internal.
Pada anak-anak, deformitas sudut dekat ujung tulang biasanya akan berubah
bentuknya sejalan dengan waktu, sedang deformitas rotasional tidak
Pada tungkai bawah, pemendekkan lebih dari 2,5 cm jarang dapat diterima
oleh pasien dan prosedur pemanjangan tungkai dapat diindikasikan.
DAFTAR PUSTAKA
Rasjad, Chairuddin, 2003. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi.
Penerbit Bintang Lamumpatue Fakultas Kedokteran Universitas
Hasanuddin, Makassar, Hal: 149-153
Apley, A. G. Dan Louis Solomon, 1995. Buku Ajar Ortopedi dan
Fraktur Sistem Apley, Edisi Ketujuh. Penerbit Widya Medika, Jakarta
Anonim, fraktur femur. Dalam kumpulan Kuliah Ilmu bedah
Khusus, Aksara Medisina FK UI< Jakarta, 1987.
Anonim, Fraktur. Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah, Editor :
Sjamsihidajat, Wim de Jong, EGC, Jakarta, 1997.
Harrelson J.M, Ortopedi Umum. Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah
Sabiston. Editor : dr. Devi H, Alih bahasa : De Petrus A, EGC,
Jakarta, 1994.
Jergesen F. H., Ortopedi. Dalam Ilmu Bedah (Handbook of Surgery),
Editor : Theodore R. Schrock, Alih bahasa : Adji Dharma, Petrus,
Gunawan, EGC, Jakarta, 1995.
TERIMA KASIH