Anda di halaman 1dari 32

Inkontinensia Urine

Usman G Rangkuti SpS


SMF Saraf RS Dr.Soebandi
JEMBER
Definisi
Inkontinensia urine adalah
keadaan keluarnya urine yang tidak
terkendali pada waktu yang tidak
dikehendaki tanpa memperhatikan
frekuensi dan jumlahnya
Hal ini menimbulkan masalah : medis,
sosial, dan ekonomi
Faktor Resiko
Usia ( pada usia tua)
Jenis kelamin ( wanita > pria )
Obesitas
Riwayat operasi daerah abdomen dan
pelvis
Infeksi sekitar pelvis
Trauma perineal
Anatomi dan Fisiologi
Pada dasarnya proses berkemih dibagi
menjadi 2 fase, yaitu :
1. Fase penyimpanan (storage) dan
2. Fase pengosongan (voiding).

Saat fase penyimpanan, terjadi stimulasi


simpatis yang mengakibatkan kontraksi
sfingter uretra eksterna dan interna,serta
relaksasi detrusor
Saat fase pengosongan terjadi stimulasi
parasimpatis dan inhibisi simpatis, dimana
sfingter-sfingter akan relaksasi, dan
muskulus Detrusor akan berkontraksi dan
mendorong urine keluar dari vesika
urinaria untuk mengalir ke urethra.
Fase pengisian : SS simp > SS Para
Simpatis Ok ggl para diblock R
Fase pengosongan : SS simp < SS Para

Ok ggl simp diblock RM2


Jalur Saraf Miksi

Loop I (suprapontine)

1.Korteks
2.Ganglia basalis

Loop II (supra spinal)

1.Pont. Mict. Cent.


2.Aferent sensorik
3.Eferent motorik:
4.Simp T1-L2
5.Para S2-S4
Anatomi dan Fisiologi
Aferen :
Serabut aferen dari urethra dan sfingter
eksterna menghantarkan rangsang
sensorik berupa impuls dari stretch
reseptor (reseptor regangan) pada dinding
vesika yang akhirnya disampaikan melalui
traktus spinothalamikus dan funikulus
dorsal ke korteks reseptif sensorik primer
Anatomi dan Fisiologi
Eferen :
Serabut eferen parasimpatis kolinergik berasal
dari S2 S4 memberikan inervasi pada otot
Detrusor.
Serabut eferen simpatis (Th10 L2)
adrenergik memberikan inervasi pada
sfingter interna (untuk kontraksi) dan
adrenergik memberikan inervasi pada fundus
buli buli (untuk relaksasi)
Serabut eferen somatis (nukleus Onuf)
memberikan inervasi pada sfingter eksterna
dan otot otot dasar panggul
Anatomi dan Fisiologi
Etiologi dan Patofisiologi
Inkontinensia Akut DIAPPERS
D : Delirium or Acute Confusional State
I : Infection, Inflammation
A : Atrophic Vaginitis or Urethritis
P : Pharmaceuticals
(Sedative Hypnotic, Loop Diuretics, Anti-cholinergic
Agents, Alpha-adrenergic Agonist & Antagonist,
Calcium Channel Blocker)
P : Psychologic Disorders (depression)
E : Endocrine, Electrolyte, and Circulation Disorders
R : Restricted Mobility
S : Stool Impaction
Etiologi dan Patofisiologi
Inkontinensia Kronik persisten, meliputi
Inkontinensia urine urgensi atau Urgent Urine
Incontinensia (UUI)
Inkontinensia Stress atau Stress Urine
Incontinensia (SUI)
Inkontinensia Paradoksal atau Overflow Urine
Incontinensia (OUI)
Inkontinensia Fungsional atau Functional
Urine Incontinentia (FUI)
Inkontinensia Kontinua atau Continuous Urine
Incontinentia (CUI)
Tipe Inkontinensia Uri Kronik
Persisten
Urgent Urine Incontinensia (UUI)
Penderita mengeluh tidak dapat menahan miksi segera setelah
timbul sensasi ingin miksi.

Keadaan ini disebabkan oleh :


1.Hiperefleksia muskulus Detrusor
disebabkan oleh adanya kelainan neurologis, diantaranya
adalah GPDO / Stroke, trauma korda spinalis, sklerosis
multipel, spina bifida atau mielitis transversal.

2.Instabilitas muskulus Detrusor


sering disebabkan oleh adanya kelainan non neurologis,
diantaranya adalah : obstruksi infravesika, post operasi
infravesika, batu buli -buli, tumor buli buli, dan sistitis.
3.Penurunan bladder compliance
dapat disebabkan oleh
1.kandungan kolagen pada matriks detrusor bertambah
misalnya pada sistitis tuberkulosa, sistitis post radiasi,
pemakaian kateter menetap dalam jangka waktu lama
2.obstruksi infravesika oleh karena hiperplasi prostat),
3.adanya kelainan neurologis, misalnya trauma spinal pada
regio thorako lumbal, paska histerektomi radikal, reseksi
abdomino perineal, dan mielodisplasia yang mencederai
persarafan vesika
Stress Urine Incontinensia (SUI)
SUI adalah keluarnya urine dari urethra pada saat terjadi
peningkatan tekanan intraabdominal (dipacu oleh batuk,
bersin, tertawa, berjalan, berdiri, atau mengangkat
benda berat), terjadi karena faktor sfingter yang tidak
mampu menahan tekanan intraurethra pada saat
tekanan intravesika meningkat (buli - buli terisi).

Pada pria biasanya terjadi oleh karena kerusakan


sfingter urethra eksterna paska prostatektomi radikal,
sedangkan pada wanita disebabkan oleh 2 keadaan
yaitu :
1. Hipermobilitas urethra
kelemahan otot otot dasar panggul menyebabkan terjadinya
penurunan (herniasi) dan angulasi diafragma urogenital pada
saat terjadinya peningkatan tekanan intraabdominal sehingga
menyebabkan bocornya urine dari vesika meskipun tidak ada
peningkatan tekanan intravesika.
Selain itu kelemahan otot ini dapat menyebabkan prolapsus uteri,
sistokel, atau enterokel.
Penyebab kelemahan ini adalah trauma persalinan, histerektomi,
perubahan hormonal (misalnya defisiensi estrogen pada masa
menopause menyebabkan terjadinya atrofi jaringan
genitourinaria), atau kelainan neurologi.

2. Defisiensi intrinsik sfingter urethra


dapat disebabkan karena suatu trauma, penyulit dari
operasi, radiasi, atau kelainan neurologi, dimana ciri cirinya
adalah sfingter urethra interna dan eksterna tetap terbuka pada
keadaan istirahat meskipun tidak ada kontraksi dari muskulus
Detrusor.
Pembagian SUI (Blaivas dan Olsson (1988)

atas dasar penurunan letak diafragma urogenital dan


urethra setelah penderita diminta melakukan manuver
Valsava adalah :

tipe 0: penderita mengeluh SUI tetap pada


pemeriksaan tidak ditemukan adanya
kebocoran urine, akan tetapi pada video
urodinamika paska manuver Valsava terlihat
diafragma urogenital terbuka.

tipe I : jika terdapat penurunan < 2 cm dan kadang


kadang disertai dengan sistokel yang kecil.
tipe II : jika penurunan > 2 cm dan seringkali
disertai dengan adanya sistokel; dalam hal
ini mungkin sistokel terdapat di dalam vagina
(tipe IIa) atau di luar vagina (tipe IIb).
tipe III: diafragma urogenital tetap terbuka meskipun
tanpa adanya kontraksi detrusor maupun
manuver Valsava, sehingga urine selalu
keluar karena faktor gravitasi atau
peningkatan minimal tekanan intravesika
(oleh karena defisiensi intrinsik sfingter
urethra).
Overflow Urine Incontinensia (OUI)
OUI adalah keluarnya urine tanpa dapat dikontrol pada
keadaan volume urine dalam buli buli yang melebihi
kapasitasnya.

Disini muskulus detrusor atoni atau arefleksia. dimana


ditandai dengan overdistensi vesika urinaria, sehingga
urine selalu menetes keluar dengan sendirinya.

Kelemahan muskulus Detrusor ini dapat disebabkan


karena obstruksi urethra, neuropati diabetikum, trauma
spinal, defisiensi vitamin B12, efek samping pemakaian
obat, post operasi daerah pelvis.
Functional Urine Incontinentia (FUI)
Sebenarnya penderita ini kontinen, tetapi oleh karena
adanya hambatan tertentu, penderita tidak mampu untuk
menjangkau toilet pada saat keinginan miksi timbul,
sehingga urine keluar tanpa dapat ditahan.

Hambatan itu dapat berupa gangguan fisik (misanya


gangguan mobilitas akibat arthritis paraplegi inferior,
stroke), kognitif (misanya akibat delirium atau
demensia), ataupun oleh karena obat obat tertentu
(misalnya : diuretik, antikolinergik, sedatif hipnotik,
narkotik, antagonis adrenergik , Ca2+ Chanel Blocker).
Continuous Urine Incontinentia (CUI)
CUI adalah urine yang selalu keluar setiap saat dan
dalam berbagai posisi.
Keadaan ini paling sering disebabkan oleh fistula sistem
urinaria yang menyebabkan urine tidak melewati sfingter
urethra. Misalnya fistula vesikovaginal yang sering
disebabkan oleh operasi ginekologi, trauma obstetri,
atau paska radiasi di daerah pelvis.
Selain itu terdapat fistula uretherovaginal, yaitu adanya
lubang yang menghubungkan urethra dan vagina yang
bisa disebabkan oleh cedera ureter paska operasi
daerah pelvis.
Selainan fistula, CUI dapat disebabkan oleh adanya
kelainan kongenital berupa adanya muara urether
ektopik.
Diagnosis
Diagnosis inkontinensia uri bertujuan untuk :
Menentukan kemungkinan inkontinensia
uri tersebut reversibel atau tidak
Menentukan kondisi kondisi yang
memerlukan pemeriksaan khusus
Menentukan jenis penanganan (operatif,
medikamentosa, atau perilaku)
Evaluasi awal :
- Riwayat penyakit
- Pemeriksaan fisik terarah
- Urinalisis
- Residu post miksi

Identifikasi faktor reversibel ya

Tidak membaik Terapi

Identifikasi pemeriksaan khusus ya

tidak
Evaluasi :
-Urologi
-Ginekologi
Terapi Empiris : -Urodinamik
-medikamentosa dan atau perilaku
-suportif dan perilaku

Tidak membaik ya
Anamnesis
Seberapa jauh inkontinensia ini mengganggu kehidupannya
Berapa banyak urine yang dikeluarkan pada saat inkontinensia.
Apakah penderita memakai pampers dan berapa banyak harus
diganti
Pada malam hari berapa kali terbagun untuk miksi atau mengganti
pampers.
Apakah ada faktor pencetus seperti batuk, bersin, atau aktivitas lain
yang mendahului terjadinya inkontinensia
Apakah terdapat keluhan keluhan penyerta lain seperti diare,
konstipasi, dan inkontinensia alvi.
Apakah terdapat riwayat Diabetes Mellitus (terutama jika ada
neuropati), kelainan neurologi lain, infeksi saluran kemih berulang,
penyakit penyakit pada rongga pelvis, dan atrofi genitourinaria
pada menopause.
Apakah pernah dioperasi atau diradiasi di daerah pelvis dan
abdomen.
riwayat persalinan bagaimana (apakah multipara, partus kasep,
atau makrosomia).
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik spesifik tergantung dari anamnesis, meskipun
secara umum harus dilakukan pemeriksaan fisik menyeluruh.

Pemeriksaan abdomen (untuk kemungkinan adanya distensi vesika


urinaria pada OUI, massa di pinggang, atau sisa jaringan parut
bekas operasi di daerah pinggang dan pelvis)

Pemeriksaan urogenitalia :
inspeksi orifisium urethra dan vagina dengan spekulum untuk
mencari adanya kelainan dinding vagina, posisi orifisium adanya
kemungkinan sistokel, enterokel, prolapsus uteri, atau rektokel
palpasi bimanual untuk mencari adanya massa pada uterus dan
adneksa;
manuver Valsava untuk melihat penurunan diafragma urogenital
pada SUI),
Pemeriksaan neurologis :

status mental,
tanda tanda gangguan kognitif,
kelainan sensoris sesuai dengan dermatomnya,
kelainan motoris berupa adanya gangguan sfingter dan muskulus detrusor
dapat dilakukan oleh karena inervasi parasimpatis pada muskulus
detrusor berasal dari S2 S4 (penderita disuruh jinjit, dan dorsofleksi,
pemeriksaan refleks Achilles, refleks sfingter ani, atau refleks
bulbokavernosus)
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium :
urinalisis, kultur urine, dan kalau perlu sitologi urine
Pemeriksaan urodinamik :
uroflowmetri, pengukuran tekanan urethra, sistometri,
valsava leak point pressure, video urodinamika,
pengukuran tekanan intravesika.
Pemeriksaan radiologi :
IVP (Intra Venous Pyelography), sistografi miksi
Pemeriksaan volume residu urine (dengan
kateterisasi atau USG post miksi)
Tatalaksana
Tipe Inkontinensia Non medikamentosa Medikamentosa Operatif

UUI Bladder drill - Antikolinergik (oksibutinin, - augmentasi vesika


Biofeedback propantheline bromide, - neuromodulasi
Behavioural tolterodine tartrate) - rhizolisis
- Smooth muscle relaxant
(dicyclomine, flavoxate)
- Antidepresan trisiklik
(imipramine)
- Anti prostaglandin
- Ca2+ channel blocker

SUI Pelvic Floor Exercise - Agonis adrenergik - Kolposuspensi


(latihan Kegel) (oksibutinin, propantheline - TVT (Tension
bromide, tolterodine Free Vaginal Tape)
tartrate) - Injeksi kolagen
- Antidepresan trisiklik periurethral
(imipramine)
- Hormonal (estrogen)
OUI Bladder retraining - Desobstruksi
- Kateterisasi
intermitten atau
menetap

FUI Behavioural
Manipulasi
Lingkungan

Total - - Pemasangan sfingter


artifisial