Anda di halaman 1dari 75

Laporan Kasus Dan Referat

Fraktur Collum Femur Dextra

PEMBIMBING:
LETKOL CKM DR. BASUKI WIDODO, SP.OT

PRESENTATOR:
SITI ARAH
161 0221 016

FK UPN VETERAN JAKARTA


Identitas Pasien

No. RM: 005570


Nama: ny. M
Usia : 86 tahun
Jenis kelamin: perempuan
Agama: Islam
Alamat: Tuguran
Tanggal masuk RS: 24/10/2016
Tanggal operasi : 25/10/2016
Tanggal pulang: 01/11/2016
ANAMNESIS
Keluhan utama: nyeri panggul kanan

Riwayat penyakit sekarang:


Senin tanggal 24-oktober-2016 pasien datang ke poli bedah
ortopedi
Sabtu tanggal 22-oktober-2o16 pasien terpeleset dan kemudian
jatuh diteras samping rumah, pasien menggunakan tongkat kaki
3. tongkat tersebut meleset kebatu-batu sehingga tidak ada
keseimbangan antara tubuh dengan tongkat yang menopang
tubuh sehingga tongkat meleset, kaki kanan tertekuk, badan
tidak seimbang kemudian pasien jatuh dengan posisi duduk.
Kaki kanan tidak bisa digerakkan dan nyeri sehingga pasien
tidak bisa berjalan
Lebam pada lutut kanan.
RPD RPK

HT (+) HT (+)
DM (-) DM (+)
Stroke (-)
Alergi (-)
Asma (-)
OBJECTIVE
STATUS GENERALIS

Kesadaran: Compos mentis


GCS: E4 V5 M6
Vital Sign:
Tekanan darah : 170/90 mmHg
Nadi : 81 kali/menit
Suhu : 36 C
Pernafasan : 18 kali/menit
Kepala : normocephal
Mata: CA -/-, SI -/-
Refleks cahaya: pupil isokor 2 mm
Thorax : DBN
Abdomen : DBN
Ekstremitas :
superior inferior
Akral dingin (-/-) (-/-)
Akral sianosis (-/-) (-/-)
Capilarry Refill <2 <2

Status Lokalis
Look : deformitas, lebam pada lutut kanan
Feel : nyeri (+), oedem (+), pulsasi (+)
Movement : pergerakan terbatas
ASSESSMENT
Suspek Fraktur Collum Femur Dextra

DD: Suspek Dislokasi Fraktur Collum Femur Dextra


PLANNING
Planning Diagnostik:
Darah lengkap
Foto rongten femur AP/Lateral
Hasil Laboratorium

Parameter Hasil Normal range


WBC 6,9 K/L 4.0-10.0
Lym 1.3 K/L 1.0-5.0
Mid 0.6 K/L 0.1-1.0
Gra 4,9 K/L 2.0-8.0
RBC 3,55 M/L 3.00-6.00
HGB 11,2 g/dL 12.0-16.0
HCT 32,7 % 35.0-45.0
MCV 92,1 fl 81.0-101.0
MCH 31, 5 pg 27.0-33.0
MCHC 34.3 g/dL 31.0-35.0
RDW 11.6% 10.0-16.0
PLT 226 K/L 150-400
Parameter Hasil Normal range

Glukosa 105 mg/dl 70-115 mg/dl


Urea 55 mg/dl 17-43 mg/dl
Kreatinin 1.0 mg/dl 0.9-1.3mg/dl
SGOT 44 U/L 0-37 U/L
SGPT 18 U/L 0-41 U/L
Hasil Rontgen
Rontgen femur
AP/Lateral
Fraktur collum femur
dextra
Posisi kurang baik
Tidak tampak dislokasi
caput femur
Diagnosis klinis:
Fraktur Collum Femur Dextra

Planning terapi:
Infus RL Premed Fosmicin 1 gr
Konsul penyakit dalam + jantung + anestesi
25-10-2016 rencana operasi
RIWAYAT RAWAT
INAP
Selasa, 25-oktober-2016. pre op
S: A:
Nyeri panggul kanan Fraktur Collum Femur
Tidak bisa jalan
Dextra
O:
P:
Ku: sedang, puasa
TD: 140/ 90 mmHg Monitor KU
N: 80x/menit Siapkan operasi (Pasang
RR: 18 x/ menit infus RL, premed fosmicin
S: 36 C 1 gr)
Status Lokalis
Look : Luka terbuka (-), Bengkak
(+), lebab pada lutut ,Sianosis (-)
Feel: Nyeri tekan (+), Sensasi
raba (+),
Move: Gerakan terbatas (+)
Laporan operasi

Pasien miring kanan dilakukan spinal anestesi


Disinfeksi
Insisi posterior dilakukan sampai tampak fraktur collum femur +
trokanter mayor
Dilakukan ganti sendi HIP dengan HIP implant dengan diameter: 44
mm
Coba ROM DBN
Dilanjutkan orif trokanter mayor dengan senar wire dengan diameter
1,2 mm. p= 25 cm
Jahit fascia
Jahit subkutis
Jahit kulit satu-satu
Operasi selesai
25-oktober-2016. post op

Planning Post op (ganti sendi HIP)


Infus RL : futrolit 2:1 20-30 tpm
Inj. Antrain 3x500 mg IV
Inj. Fosmicin 3x1 gr IV
Inj. Plasminex 3x500 mg IV
Inj. Ranitidin 3x1 amp IV

Oral
Vip albumin 2x1 caps
Imun vit plus 2x1 caps
Boleh makan dan minum post op
Foto ulang pelvis AP
Follow up Post Operasi
Rabu, 26-oktober-2016
S : Status lokalis:
Nyeri bekas operasi o Look: Perban elastis pada
bekas operasi, rembesan
Mual (+), muntah (-)
darah (-), lebam pada lutut
Sesak napas(-) o Feel: Nyeri tekan (+),
Gatal (-) sensasi raba (+)
Kesemutan pada kaki kanan (-) Move: Gerak masih terbatas

O: A: post op fraktur collum


Ku: baik femur dextra hari 1
Kesadaran: CM P:
TD: 120/80mmHg terapi lanjut
Nadi: 74x/menit Tambahan oral:
S: 36 C Goflex 500 g 2x1
Latihan duduk bisa Sucralfat 5 g 3x1 caps
Kamis, 27-oktober-2016
S: Status lokalis:
o Look: Perban elastis pada
Nyeri bekas operasi bekas operasi, rembesan darah
Mual (-), muntah (-) (-), lebam pada lutut
o Feel: Nyeri tekan (+), sensasi
Sesak napas(-)
raba (+)
Gatal (-) Move: Gerak masih terbatas
Kesemutan pada kaki kanan A: post op fraktur collum
(-) femur dextra hari ke 2
Mobilisasi duduk bisa P:
dgn bantuan Terapi lanjut
O: Injeksi s/d besok pagi stop
Cek lab:
Ku: baik DL
TD:120/80 mmHg BUN/Kreatinin
Luka post op terawat baik GSD
Hasil Laboratorium

Parameter Hasil Normal range


WBC 6,9 K/L 4.0-10.0
Lym 1.3 K/L 1.0-5.0
Mid 0.6 K/L 0.1-1.0
Gra 4,9 K/L 2.0-8.0
RBC 3,55 M/L 3.00-6.00
HGB 9,4 g/dL 12.0-16.0
HCT 27,8 % 35.0-45.0
MCV 92,1 fl 81.0-101.0
MCH 31, 5 pg 27.0-33.0
MCHC 34.3 g/dL 31.0-35.0
RDW 11.6% 10.0-16.0
PLT 226 K/L 150-400
Parameter Hasil Normal range

Glukosa 105 mg/dl 70-115 mg/dl


Urea 55 mg/dl 17-43 mg/dl
Kreatinin 1.0 mg/dl 0.9-1.3mg/dl
SGOT 44 U/L 0-37 U/L
SGPT 18 U/L 0-41 U/L
Hasil foto Rongten
Kesan:
Terpasang HIP dextra
Aposisi baik
Tidak tampak dislok
jumat 28 oktober 2016

S: Status lokalis:
o Look: Perban elastis pada bekas operasi,
Nyeri bekas operasi rembesan darah (-), lebam pada lutut
Mual (-), muntah (-) o Feel: Nyeri tekan (+), sensasi raba (+)

Move: Gerak masih terbatas


Sesak napas(-)
A: post op fraktur collum dextra post op
Gatal (-) hari ke 3
Kesemutan pada kaki kanan (-) P:
BAB (-) Terapi injeksi habis stop
O: Lanjut terapi oral:
Ku: baik Goflex 2x500 mg
Kesadaran: CM Simlev 1x500 mg
TD: 110/70 mmHg Sucralfat syr 3x1
Nadi: 78x/menit Imun vitamin plus 2x1
S: 36 C Allovel 1x1
Luka post op terawat baik Mobilisasi siapkan walker
Sabtu, 29 0ktober 2016
S: Status lokalis:
Nyeri bekas operasi o Look: Perban elastis pada
Mual (-), muntah (-) bekas operasi, rembesan
darah (-), lebam pada lutut
Sesak napas(-) o Feel: Nyeri tekan (+),
Gatal (-) sensasi raba (+)
Kesemutan pada kaki kanan (-) Move: Gerak masih terbatas
BAB (-) A: post op fraktur collum
O:
femur dextra post op hari ke
Ku: Baik 4
Kesadaran : CM
P:
TD : 140/80 mmHg
Terapi oral lanjut
Nadi: 80x/menit
S: 36 c
Mobilisasi duduk supaya
bisa BAB
Luka terawat baik
Minggu, 30 oktober 2016
S: Status lokalis:
Nyeri bekas operasi o Look: Perban elastis pada
Mual (-), muntah (-) bekas operasi, rembesan
Sesak napas(-) darah (-), lebam pada lutut
Gatal (-) o Feel: Nyeri tekan (+),
Kesemutan pada kaki kanan (-) sensasi raba (+)
Mules (+) Move: Gerak masih
BAB 3X terbatas
O: A: A: post op fraktur collum
Ku : baik
femur dextra post op hari
Kesadaran: CM
TD: 140/80 mmHg
ke 5
Nadi: 90x/menit P:
S: 36 c Terapi lanjut
Luka terawat baik
Senin , 31 oktober 2016
S: Status lokalis:
Nyeri bekas operasi o Look: Perban elastis pada
Mual (-), muntah (-) bekas operasi, rembesan
darah (-), lebam pada lutut
Sesak napas(-) o Feel: Nyeri tekan (+),
Gatal (-) sensasi raba (+)
Kesemutan pada kaki kanan (-) Move: Gerak masih terbatas
Mules (-) A: A: post op fraktur collum
BAB (+)
femur dextra post op hari ke
O:
6
Ku: baik
P:
TD: 140/90 mmHg
Terapi lanjut
Nadi: 88x/menit
S: 36 c
Hari ini latihan fisioterapi
pakai walker
Luka terawat baik
Selasa, 01 november 2016
S: Status lokalis:
Nyeri bekas operasi
o Look: Perban elastis pada
bekas operasi, rembesan
Mual (-), muntah (-) darah (-), lebam pada lutut
Sesak napas(-) o Feel: Nyeri tekan (+),
Gatal (-) sensasi raba (+)
Move: Gerak masih terbatas
Kesemutan pada kaki kanan
(-) A: A: post op fraktur collum
Mules (-) femur dextra post op hari ke
BAB (+) 7
O: P:
Ku: baik Terapi lanjut
TD: 140/90 Hari ini boleh pulang
Luka post op terawat baik
Kontrol 4-november-2016
Kontrol post rawat inap
Jumat,4-november-2016

S:
Nyeri bekas operasi (-)
O:
Bekas luka telah kering
A: post op fraktur collum femur dextra
P:
Lepas jahitan
Terapi oral:
Sucralvat
Levofloxacin 500 mg
Goflex 500 mg 2x1
After Care
Identifikasi Fungsi-Fungsi Keluarga
Fungsi Biologis dan Semua anggota keluarga dalam
Reproduksi keadaan sehat, kecuali pasien
Pasien adalah ibu (mempunyai
anak 9 orang) berumur 86 tahun.
Tinggal bersama anaknya yang ke
7
Fungsi Psikologis Hubungan pasien dengan
keluarga baik
Hubungan pasien dengan teman-
temannya baik, terutama dengan
tetangga.

Fungsi Sosial Pasien tinggal di kawasan tidak


terlalu padat penduduk
Pasien jarang mengikuti kegiatan
di lingkungan rumah
Fungsi Religius Pasien beragama Islam
Pasien sering ikut pengajian di
Masjid dekat rumah
Fungsi Ekonomi Pasien istri pensiunan Lettu,
kesatuan kodim 0705
Kesan ekonomi Cukup.
Pasien termasuk pasien BPJS dan
di rawat dibangsal Nusa Indah
Diagnosis Fungsi Keluarga

Fungsi Biologis Pasien berusia 86 tahun fraktur


collum femur dextra
Fungsi Psikologis Hubungan pasien dengan keluarga
dan tetangga baik
Fungsi Sosial dan Budaya Pasien dapat bersosialisasi dengan
warga sekitar
Faktor Perilaku Apabila ada anggota keluarga yang
sakit, pasien berobat ke sarana
kesehatan terdekat
Faktor non-Perilaku Sarana kesehatan tidak terlalu
jauh dari tempat tinggal
Risiko, Permasalahan, dan Perencanaan Kesehatan Keluarga
Risiko/ Masalah Rencana Pembinaan Sasaran
Kesehatan

Edukasi mengenai penyakit


pasien
Edukasi untuk
menggerakkan perlahan kaki
kanannya agar tidak kaku
Edukasi kepada anak
pasien yang tinggal 1 rumah
Fraktur Collum Femur untuk mengontrol pasien Pasien dan Keluarga
Dextra minum obat dan membantu
pergerakan pasien
Edukasi penggunaan WC
duduk
Edukasi mengenai
prognosis penyakit dan
waktu penyembuhan
penyakit.
Alamat rumah pasien: tuguran barat no. 136 a
Obat
Tinjauan Pustaka
Anatomi
Fraktur

Definisi:
Hilangnya kontinuitas tulang, tulang
rawan sendi, tulang rawan epifisis, baik
total atau parsial
Mekanisme fraktur kegagalan tulang dalam
menahan tekanan
Jenis-jenis tekanan

Berputar membengkok Kompresi Sepanjang


vertikal aksis tulang

Fraktur
Fraktur Fraktur Fraktur
impaksi
spiral/ oblik transversal komunitif
dislokasi
Proses terjadinya fraktur:

Sifat

Langsung Tidak
langsung
klasifikasi

Berdasarkan Fr. Komplit dan Berdasarkan Berdasarkan


etiologi inkomplit bentuk klinis

Fraktur
Fraktur
patologis
tertutup
Fraktur
Fkartur
traumatik
tebuka
Fraktur stress
Proses penyembuhan fraktur
fraktur

Fase hematom
PD kanalikuli
( 1-3 hari) robek

hematoma
dikelilingi o/
periosteum

Periosteum
terdorong

Periosteum
robek

Eksetravasasi
darah ke dlm
jar. lunak
Robekan yang hebat pd
Fase proliferasi periosteum
( 3 hari-2 minggu)
Proses penyembuhan berasal
dari diffrensiasi sel2
mesenkimal yang tidak
berdeferensiasi ke dln
jaringan lunak

Sel2 osteogenik berproliferasi

Proliferasi sel Proliferasi sel


subperiosteal endosteal

Fase pembentukan kalus


Pembentukan Kalus
(2-6 minggu)

(+) Matriks kolagen


TULANG
interseluler;
Osteoblas IMATUR= WOVEN
polisakarida;
BONE
Garam-garam Ca2+
Fase konsolidasi
(6-8 bulan)

Tulang yg
Woven bone
lebih matang

Osteoblas
Struktur
Konsolidasi (dalam woven
lamelar
bone)

Kalus yang Di resorpsi


berlebihan bertahap
Fase Remodelling (6-12 bulan)

Proses resorpsi
osteoklas +
pembentukan
osteoblas tetap terjadi

Menghilang perlahan-
Kalus eksterna
perlahan

Kalus intermediat Tulang kompak

Rongga untuk
Kalus interna
membentuk sumsum
Fraktur Collum Femur
Fraktur Collum Femur adalah jenis fraktur yang
sering terjadi ditemukan pada orang tua, terutama
umur 60 tahun keatas yang disebabkan oleh
kerapuhan tulang akibat kombinasi proses penuaan
dan osteoporosis pacsamenopause.

Insidensi:
Wanita lebih banyak dibandingkan laki-laki.
Mekanisme Fraktur

1. Trauma langsung
Biasanya penderita jatuh dengan posisi miring dimana daerah
trokanter mayor langsung terbentur dengan benda keras
2. Trauma tidak langsung
Pada dewasa muda apabila terjadi fraktur intrakapsuler
(collum femoris) berarti traumanya cukup hebat.
pada wanita tua dimana tulangnya sudah mengalami
osteoporotik. Trauma yang dialami wanita tua ini biasanya
ringan (misalnya jatuh terpeleset di kamar mandi).
Patologi
Kaput Femur
mendapat
aliran darah
dari 3 sumber

Pembuluh darah Pembuluh darah Pembuluh darah


intrameduler servikal asendens dari
didalam leher dalam retikulum lingamentum
femur kapsul sendi teres

NEKROSIS AVASKULAR
Fraktur Transervikal (fraktur intrakapsular)
Proses penyembuhannya buruk karena:
a. Pembuluh kapsul robek, sehingga cedera ini
menyebabkan hilangnya persendian suplai darah
utama ke kaput
b. Tulang intra-artikular hanya mempunyai periosteum
yang tipis dan tidak ada kontak dengan jaringan
lunak yang dapat membantu pembentukan kalus.
c. Cairan sinovial mencegah pembentukan hematoma
akibat fraktur.
Faktor Resiko

selain faktor usia, jenis kelamin dan osteoporosis:


Rheumatoid arthritis yang berat
Riwayat fraktur panggul sebelumnya
Penggunaan obat-obatan yang menurunkan massa tulang
seperti furosemid, hormon tiroid, fenobarbital dan fenitoin
Merokok
Gangguan neurologis
Menopause yang lebih cepat
Riwayat fraktur panggul pada ibu
Klasifikasi
1. Kapsul 2. Berdasarkan Lokasi
a. Ekstrakapsuler a. Sub-kapita
b. Intrakapsuler b. Trans servikal
c. Basalis
3. Berdasarkan Radiologi
1) Klasifikasi menurut
Garden
a. Derajat I: fraktur
tidak lengkap atau tipe
impaksi
b. Derajat II: fraktur
total tanpa adanya
pergeseran
c. Derajat III: fraktur
total disertai adanya
sedikit pergerseran,
tetapi masih ada
perlekatan
d. Derajat IV: fraktur
total disertai dengan
pergeseran total.
2) Klasifikasi menurut Pauwel
Klasifikasi ini berdasarkan
atas sudut inklinasi leher
fenmur:
a. Tipe I: fraktur dengan
garis fraktur
membentuk sudut <
30
b. Tipe II: fraktur
dengan garis fraktur
membentuk sudut
antara 30-50
c. Tipe III: fraktur
dengan garis fraktur
membentuk sudut <
70
Gejala Klinis

Riwayat jatuh disertai nyeri pada daerah panggul,


terutama pada ingunal depan
Tungkai pasien terletak pada rotasi lateral, dan
kaki tampak pendek
Tidak bisa berjalan setelah nyeri
Pada fraktur yang terimpaksi masih bisa berjalan,
tapi keadaan pasien sangat lemah.
Diagnosis
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi (Look)

Bandingkan dengan bagian yang


Palpasi/Raba (Feel)

sehat Temperatur
Perhatikan posisi anggota gerak Nyeri tekan
Keadaan umum penderita secara
Krepitasi; dapat diketahui
keseluruhan
Ekspresi wajah karena nyeri
dengan perabaan dan harus
Adanya tanda-tanda anemia karena
dilakukan secara hati-hati
Pemeriksaan vaskuler
pendarahan, Lakukan survei pada
seluruh tubuh apakah ada trauma palpasi arteri femoralis.
pada organ-organ lain Pengukuran panjang
Apakah terdapat luka
tungkai untuk mengetahui
Perhatikan adanya deformitas
adanya perbedaan panjang
berupa angulasi, rotasi dan
tungkai
kependekan
Pergerakan (Move)
Pergerakan dengan mengajak penderita untuk
menggerakkan secara aktif dan pasif daerah yang
mengalami trauma.
Pada penderita dengan fraktur, setiap gerakan akan
menyebabkan nyeri hebat sehingga uji pergerakan tidak
boleh dilakukan secara kasar, disamping itu juga dapat
menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak seperti
pembuluh darah dan saraf.
Diagnosis
Pemeriksaan Radiologi

untuk menentukan teknik


pengobatan atau terapi yang
tepat.
Pemeriksaan radiologis
dilakukan dengan prinsip
rule of two, yaitu: dua posisi
proyeksi, dilakukan
sekurang-kurangnya yaitu
pada antero-posterior dan
lateral
dua kali dilakukan foto,
sebelum dan sesudah
reposisi.
Terapi
Prinsip terapi reduksi yang tepat, fiksasi secara
erat dan aktivitas dini.
Bila pasein di bawah anestesipinggul dan lutut
difleksikan dan paha yang mengalami fraktur
ditarik keatas, kemudian dirotasikan secara
internal, lalu diekstensikan dan di abduksi
kemudian kaki diikatkan pada footpiece, serta
dilakukan pengawasan dengan foto rongten
untuk memastikan reduksi pada foto
anteroposterior dan lateral.
Bila tidak dilakukan operasi immobilisasi dengan pemberian
anastesi dalam sendi dan bantuan tongkat. Mobilisasi dilakukan
agar terbentuk pseudoartrosis yang tidak nyeri sehingga
penderita diharapkan bisa berjalan dengan sedikit rasa sakit yang
dapat ditahan, serta sedikit pemendekan.
Jenis-jenis operasi :
1. Pemasangan pin
2. Pemasangan plate and screw
Artroplasti; dilakukan pada penderita umur diatas 55 tahun,
berupa :
1. Eksisi artroplasti
2. Hemiartroplasti
3. Artroplasti total
Pencegahan

Pencegahan terbaik adalah menghindari faktor


resiko dan mencegah terjadinya jatuh.
Pemberian suplemen calcium, biophosphonates,
hormon paratiroid dan terapi pengganti estrogen
dapat mengurangi resiko fraktur pada pasien
dengan osteoporosis.
Komplikasi
1. Komplikasi umum pada pasien operasi manula cenderung, terjadi:
Trombosis vena betis

Embolisme paru

Pneumonia

Ulkus dekubitus

2. Nekrosis Avaskular
30% pasien dengan pergeseran fraktur

10% pasien tanpa pergeseran

3. Non-Union
Lebih dari 1/3 fraktur collum femur tidak menyatu, terutama pada pasien
dengan fraktur pergeseran berat, karena:
Buruknya pasokan darah
Tidak sempurnanya reduksi
Fikasasi yang tidak mencukupi
Lambatnya penyembuhan

4. Osteoartritis
Osetoartritis sekunder terjadi karena adanya kolaps kaput femur atau
nekrosis avaskular
5. Anggota gerak yang memendek
Prognosis

Fraktur collum femur juga dilaporkan sebagai salah


satu jenis fraktur dengan prognosis yang tidak
terlalu baik, disebabkan oleh anatomi collum femur
itu sendiri, vaskularisasinya yang cenderung ikut
mengalami cedera pada cedera collum femur
menyebabkan gangguan pada proses penyembuhan