Anda di halaman 1dari 22

PEMBAHASAN PERTANYAAN DISKUSI

BAB 14 :
POLA PERILAKU AUDITOR
1. Apa saja hal yang dilibatkan
oleh Audit?

Audit adalah kegiatan


mengumpulkan dan mengevaluasi
dari bukti-bukti mengenai informasi
untuk menentukan dan melaporkan
tingkat kesesuaian antara informasi
dengan kriteria yang telah
ditetapkan. Proses audit harus
dilakukan oleh orang yang kompeten
dan independent.
Hal-hal yang dilibatkan oleh
Audit
1). Kelengkapan (Completeness). Untuk
meyakinkan bahwa seluruh transaksi telah dicatat
atau ada dalam jurnal secara aktual telah
dimasukkan.
2). Ketepatan (Accurancy). Untuk memastikan
transaksi dan saldo perkiraan yang ada telah
dicatat berdasarkan jumlah yang benar,
perhitungan yang benar, diklasifikasikan, dan
dicatat dengan tepat.
3). Eksistensi (Existence). Untuk memastikan
bahwa semua harta dan kewajiban yang tercatat
memiliki eksistensi atau keterjadian pada tanggal
tertentu, jadi transaksi tercatat tersebut harus
5). Klasifikasi (Classification). Untuk memastikan
bahwa transaksi yang dicantumkan dalam jurnal
diklasifikasikan dengan tepat. Jika terkait dengan
saldo maka angka-angka yang dimasukkan didaftar
klien telah diklasifikasikan dengan tepat.
6). Ketepatan (Accurancy). Untuk memastikan
bahwa semua transaksi dicatat pada tanggal yang
benar, rincian dalam saldo akun sesuai dengan
angka-angka buku besar. Serta penjumlahan saldo
sudah dilakukan dengan tepat.
7). Pisah Batas (Cut-Of). Untuk memastikan
bahwa transaksi-transaksi yang dekat tanggal neraca
dicatat dalam periode yang tepat. Transaksi yang
mungkin sekali salah saji adalah transaksi yang
dicatat mendekati akhir suatu peride akuntansi.
8). Pengungkapan (Disclosure). Untuk
meyakinkan bahwa saldo akun dan persyaratan
pengungkapan yang berkaitan telah disajikan dengan
wajar dalam laporan keuangan dan dijelaskan dengan
Jadi, audit itu adalah suatu rangkaian kegiatan yang
menyangkut:

Proses pengumpulan dan evaluasi bahan bukti


Informasi yang dapat diukur. Informasi yang dievaluasi adalah
informasi yang dapat diukur. Hal-hal yang bersifat kualitatif harus
dikelompokkan dalam kelompok yang terukur, sehingga dapat dinilai
menurut ukuran yang jelas, seumpamanya Baik Sekali, Baik, Cukup,
Kurang Baik, dan Tidak Baik dengan ukuran yang jelas kriterianya.
Entitas ekonomi. Untuk menegaskan bahwa yang diaudit itu adalah
kesatuan, baik berupa Perusahaan, Divisi, atau yang lain.
Dilakukan oleh seseorang (atau sejumlah orang) yang kompeten dan
independen yang disebut sebagai Auditor.
Menentukan kesesuaian informasi dengan kriteria penyimpangan
yang ditemukan. Penentuan itu harus berdasarkan ukuran yang jelas.
Artinya, dengan kriteria apa hal tersebut dikatakan menyimpang.
Melaporkan hasilnya. Laporan berisi informasi tentang kesesuaian
antara informasi yang diuji dan kriterianya, atau ketidaksesuaian
informasi yang diuji dengan kriterianya serta menunjukkan fakta
atas ketidaksesuaian tersebut
2. Apakah auditing memiliki dampak
pada perilaku Auditee?
Banyak studi telah dikhususkan untuk cara dan
untuk apa gelar audit mempengaruhi perilaku orang
lain, terutama mereka yang menjalani audit
(auditee). Sementara perhatian kita dalam bab ini
adalah dengan perilaku auditor, adalah tepat untuk
mengatasi masalah ini secara singkat.
Hal ini umumnya menyimpulkan bahwa audit
memiliki efek yang pasti terhadap perilaku auditee.
Ada beberapa varian yang terlibat dalam hal ini.
Namun, dapat dicatat bahwa audit umumnya
menghasilkan auditee konfirmasi yaitu, perilaku
auditee bergerak menuju kinerja yang dirasakan
sebagai keinginan-keinginan auditor.
Penilaian auditor tergantung pada persepsi dari sebuah situasi.
Penghakiman, yang landasan profesional adalah produk dari
beberapa faktor dari pendidikan , budaya dan sebagainya, tetapi
unsur yang paling signifikan dan mengendalikan tampaknya
pengalaman - rasa auditor dari ingatan setelah sebelumnya ditangani
berhasil dengan situasi yang sama .

Materialitas
Materialitas dalam audit mengacu pada apa yang penting, signifikan,
atau utama, namun konsep tidak memiliki aturan untuk
pengukurannya. Dua unsur yang cukup membantu dalam hal ini: (1)
komunikasi antara auditor mengenai pekerjaan yang harus dilakukan
dan (2) mengurangi, sebanyak mungkin, kecenderungan auditor
terhadap pekerjaan audit yang diperlukan pendek memotong melalui
rasionalisasi yang tidak pantas.

Sindrom Keyakinan
Salah satu kondisi persepsi yang dapat menyebabkan perubahan
perilaku adalah apa yang disebut efek halo, persepsi yang sangat
positif tapi kadang-kadang keliru dari orang lain. Dalam audit, efek
halo terjadi ketika persepsi auditor menyebabkan keyakinan bahwa
kondisi Audit tertentu ada, yang mungkin atau mungkin tidak terjadi.

3. Apakah 2 kelas situasi yang mempengaruhi perilaku auditor?

Dua Bagian Situasi yang Mempengaruhi Perilaku


Auditor
1. Auditor sangat terpengaruh-sering tidak sadar-oleh

persepsi mereka tentang lingkungan audit saat (itu


selalu berubah) dan dengan pendapat mereka
tentang orang-orang yang terlibat. karakter berada
dalam keadaan terus-menerus berubah.
2. 2. Auditor harus terus-menerus menyelesaikan untuk

diri mereka sendiri banyak set hubungan interpersonal,


seperti antara rekan-rekan, dengan bawahan atau
atasan, dan dengan personil klien. Beberapa di
antaranya tumpang tindih dan beberapa mungkin
benar-benar independen.
4. Telah disebutkan bahwa tidak mungkin
untuk memprediksi perilaku tertentu
seorang auditor. Mengapa? Apa
alasannya?
Tidak mungkin untuk memprediksi perilaku auditor
secara spesifik, dikarenakan perilaku dan sifat setiap
orang berbeda-beda. Auditor juga seorang manusia,
yang memiliki sifat, perilaku, pemikiran dan persepsi
yang berbeda-beda pula. Memang pada dasarnya
tidak mungkin untuk menentukan persepsi auditor
dan sering kali, pola-pola perilaku tersebut terbentuk
dari persepsi-persepsi mereka. Komunikasi di semua
tingkatan auditor dan partisipasi dalam perencanaan
audit dapat menjadi cara yang efektif untuk
mengatasi kecenderungan atas hal-hal yang tidak
diinginkan.
5. Sebutkan beberapa stereotip umum dari para auditor.

Stereotipe merupakan jalan pintas pemikiran yang


dilakukan secara intuitif oleh manusia untuk
menyederhanakan hal-hal yang kompleks dan
membantu dalam pengambilan keputusan secara
cepat.
Berbagai penelitian telah menyelidiki banyak
karakteristik umum negatif yang telah dihubungkan
dengan akuntan, khususnya sifat-sifat kaku, introvert,
berpikir kuantitatif, dan kurangnya minat dalam
hubungan interpersonal.
Citra stereotip akuntan itu dikukuhkan dalam contoh

berikut:
Akuntan dapat menunjukkan tingkat rendah

kompetensi verbal, suka bekerja dengan angka


Auditor adalah manusia dengan segala
kemampuan emosi dan karakter yang
dimiliki.Orang sering salah paham mengenai
auditor. Karakter auditor yang menusuk
digambarkan oleh Elbert Hubbard, filsuf
pada awal abad ke-20. Pendapat Elbert
Hubbard merupakan persepsi umum
mengenai auditor dan menganggap proses
auditing sebagai cerminan dari karakter
tersebut. Auditor akan dihubungkan dengan
persepsi kesempurnaan dan keadaan tak
dapat berbuat kesalahan.
Public sering menilai auditor dari audit yang
dilakukan. Jika auditing 100% akurat, maka
dapat disimpulkan bahwa secara personal
individu yang melakukan audit juga
sempurna.
6. Kerangka referensi seperti apa
yang digunakan untuk mempelajari
perilaku auditor?

Kerangka referensi yang digunakan ialah


akuntan publik bersertifikat (CPA) dan proses
audit, karena pembahasan mengenai pola
perilaku auditor ini lebih berfokus pada
perilaku auditor dibandingkan dengan proses
pekerjaannya. Terdapat perbedaan kecil
antara akuntan publik bersertifikat, dan
bukan akuntan public bersertifikat, karena
masyarakat biasanya mengidentifikasi
akuntan publik bersertifikat dalam hal
kecakapannya.
7. Faktor apa yang paling
berhubungan erat dengan
kegagalan auditor?

Menurut Hunt & Vitell [1986, dalam


Khomsiyah & Nur Indriantoro (1998)], bahwa
kemampuan seorang profesional untuk dapat
mengerti dan peka akan adanya masalah
etika dalam profesinya, sangat dipengaruhi
oleh lingkungan budaya atau masyarakat
dimana profesi itu berada, lingkungan
profesinya, lingkungan organisasi atau
tempat ia bekerja serta pengalaman
pribadinya. Sikap masyarakat yang pasif,
sistem pengawasan yang masih lemah dari
organisasi profesi auditor terhadap
Setiap auditor kompeten harus dapat
memenuhi jadwal anggaran ini.
Identifikasikan beberapa reaksi negative
Sara atas komentar ini. Gunakan RET untuk
menyelesaikan reaksi ini.
Kemungkin besar reaksi yang akan iberikan oleh Sara
adalah :
-Saya tidak respek terhadap Dummont
-Dummont tidak harus berbicara kepada saya seperti
itu-memalukan saya di depan staf saya dan orang-
orangnya juga

Masing-masing urutan reaksi mental yang mengarah ke


perasaan negatif. Set pertama pikiran mungkin
berujung pada perasaan marah dan yang kedua di
kecemasan, kekesalan, atau depresi. Emosi ini harus
dinetralkan. Sara sekarang menyaring setiap reaksi
mental dengan menantang itu-mental berdebat
8. Jelaskan tentang analisis transaksional

Analisis Transaksional (AT) adalah salah satu pendekatan


Psychotherapy yang menekankan pada hubungan
interaksional. Transaksional maksudnya ialah hubungan
komunikasi antara seseorang dengan orang lain. Adapun hal
yang dianalisis yaitu meliputi bagaimana bentuk cara dan isi
dari komunikasi mereka. Dari hasil analisis dapat ditarik
kesimpulan apakah transaksi yang terjadi berlangsung
secara tepat, benar dan wajar. Bentuk, cara dan isi
komunikasi dapat menggambarkan apakah seseorang
tersebut sedang mengalami masalah atau tidak.
Pendekatan analisis transaksional terdiri dari dua kata, yaitu
analisis berarti pngujian secara detail agar lebih memahami
atau agar dapat menarik kesimpulan dari bahasa pengujian
tersebut, sedangkan transaksional atau transaksi adalah
unit pokok dari sebuah hubungan sosial. Dengan demikian,
9. Jelaskan tentang halo effect dan
bagaimana hal itu dapat
mempengaruhi audit?

PENGERTIAN HALO EFFECT


Halo effect adalah kesan positif atau negatif yang kita dapat dari
orang yang baru kita temui berdasarkan karakteristik tertentu. Halo
effect ini pertama kali diteliti oleh Edward .L. Thorndike. Ia meminta
komandan perang untuk menilai para prajuritnya. Dari penelitian
tersebut, Thorndike menemukan adanya korelasi yang tinggi antar
semua kesan positif dan antar semua kesan negatif.Kesalahan
persepsi dari halo effect ini ditinjau lagi pada fakta bahwa kita
membentuk kesan menyeluruh mengenai seseorang. Kesan yang
menyeluruh ini cenderung menimbulkan efek yang kuat dan sulit
tergoyahkan akan penilaian kita atas sifat-sifat sesorang secara
spesifik.Kesan menyeluruh ini sendiri sering kita peroleh dari kesan
pertama.

Misalnya, ketika si A berada dalam suatu pesta, ia


diperkenalkan dengan seorang teman, bernama B. Saat si A
bersalaman dengan si B, si A melihat raut muka si B yang tampak
kurang senang padanya. Nah, hal tersebut membuat si A mempunyai
bukan masalah. Tetapi kalau halo effect yang kita dapat
dari seseorang salah, itu baru masalah. Seperti contoh di
atas, si A mempunyai persepsi bahwa si B yang
diperkenalkan padanya tadi adalah orang yang tidak
ramah, sombong, dan bersifat negatif lainnya. Namun,
siapa yang tahu bahwa di balik itu semua, si B sedang
punya masalah yang membuatnya marah? Karena sudah
memilik persepsi negatif tentang si B dari awal
perkenalan, si A tersebut pun sering melupakan sisi positif
yang dimiliki oleh si B tersebut. Dari pembahasan
tersebut, kita dapat melihat bahwa halo effect ini kurang
akurat, karena halo effect ini hanya melihat seseorang
dari kesan pertama saja. Padahal, untuk bisa menilai
seseorang, kita harus melihat orang tersebut dari
berbagai sisi.

Kalau hanya melihat contoh di atas, kesalahan


persepsi dalam halo effect mungkin dianggap tidak
memiliki pengaruh besar, namun coba kita tinjau untuk
hal-hal yang lebih rumit, misalnya dalam hal
mempercayakan seseorang menduduki jabatan penting
dalam suatu perusahaan, kesalahan persepsi dalam halo
effect jelas memiliki pengaruh yang besar, bukan? Intinya,
PENGARUH HALO EFFECT TERHADAP AUDIT

Satu persepsi kondisi yang dapat mengarah pada berubahnya


perilaku auditor yaitu halo effect, efek yang positif tapi terkadang
merupakan persepsi yang keliru tentang orang lain. Dalam auditing
halo effect terjadi saat auditor memiliki banyak persepsi dan
mengarah pada keyakinan bahwa kondisi audit tertentu, yang
mungkin jadi bukan kasus yang sesungguhnya terjadi.
Mari kita beramsumsi bahwa auditor menyimpulkan bahwa sistem
klien pengendalian internal yang kuat dan karena itu dapat
diandalkan. Dengan demikian, prosedur auditor dan pengujian tidak
perlu seluas akan diperlukan jika pengendalian internal yang lemah.
Namun auditor mungkin tidak memiliki pengalaman tangan pertama
yang sebenarnya dengan sistem pengendalian intern klien dan
dengan demikian tidak ada dasar untuk kesimpulan dari kekuatan
atau kelemahan; persepsi auditor sistem kelayakan mungkin
didasarkan pada audit sebelumnya kesimpulan audit mungkin
berdasarkan yang melakukan pekerjaan audit sebelumnya.
Jika auditor memiliki keyakinan pada
orang-orang, efek halo diterapkan kepada
mereka dan pekerjaan mereka. Status saat
ini menjadi sangat dipengaruhi oleh iman
auditor dalam satu atau lebih sesama
auditor. Tanggapan ini tampaknya
terutama berlaku audit yang dilakukan
dibawah kendala waktu yang ketat.
Persepsi kegiatan sebelumnya cenderung
mempengaruhi penilaian audit yang saat
ini, tetapi tingkat pengaruh tidak
diketahui.
10.Apakah keuntungan dari menggunakan
teknik RET dalam situasi audit? Apa tujuan
utama dari RET?

Keuntungan dari menggunakan teknik RET :


1. RET pada dasarnya dirancang untuk
menjadi diri diterapkan. Setelah pengenalan
yang relatif singkat ke sistem, tidak ada
terapis eksternal diperlukan. Hal ini tidak
hanya membuat RET jauh lebih murah
daripada teknik terapi lainnya, tetapi juga
memungkinkan untuk membentuk subyek
sesi pelatihan internal yang dapat, dari
waktu ke waktu, berpindah dari pendidikan
kelompok untuk aplikasi individual.
2. RET adalah orientasi pendekatan dan tidak
3. Metode RET adalah salah satu teknik terapi
beberapa yang, sampai batas tertentu, yang
dianut oleh psikolog dan psikiater.
4. Auditor bangga logika deduktif dan
rasionalitas, dan RET adalah teknik yang
benar-benar rasional.

Tujuan utama terapi rasional-emotifadalah


menunjukkan kepada klien bahwa verbalisasi
diri mereka merupakan sumber gangguan
emosionalnya. Kemudian membantu klien agar
memperbaiki cara berpikir, merasa, dan
berperilaku, sehingga ia tidak lagi mengalami
gangguan emosional di masa yang akan datang.
12. Pikirkan kembali ketika Anda
marah, cemas, depresi, atau perasaan
negative lainnya. Identifikasi yang
memicu kejadian tersebut
Masing-masing urutan reaksi mental yang

mengarah ke perasaan negatif. Set pertama


pikiran mungkin berujung pada perasaan
marah dan yang kedua di kecemasan,
kekesalan, atau depresi. Emosi ini harus
dinetralkan. Sara sekarang menyaring setiap
reaksi mental dengan menantang itu-mental
berdebat rasionalitas. Sebuah pikiran yang
tidak menghasilkan dua atau lebih positif
jawaban bukan reaksi yang rasional.