Anda di halaman 1dari 43

AKUNTANSI PERBANKAN SYARIAH

Akuntansi Ijarah dan IMBT

DIPRESENTASIKAN OLEH :

AGUS SUPRIATNA
CAMELIA ASLAHA
ILHAM MAHMUD SALEH

UNIVERSITAS ISLAM SYEKH


YUSUF TANGERANG
Definisi Ijarah Dan Ijarah
Muntahiya Bit Tamlik (IMBT)

Ijarah dan Ijarah Muntahiya Bit Tamlik (IMBT) merupakan


transaksi sewa menyewa yang diperbolehkan oleh syariah.

Akad Ijarah Merupakan akad yang memfasilitasi transaksi


pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau
jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa/upah
tanpa diikuti pemindahan kepemilikan barang.

Adapun, Akad Ijarah Muntahiya Bit-Tamlik memfasilitasi


transaksi Ijarah, yang pada masa akhir sewa, penyewa
diberi hak pilih untuk memiliki barang yang disewa dengan
cara disepakati oleh kedua belah pihak.
Keunggulan Akad Ijarah dalam Bank Syariah :

1. Dibandingkan dengan akad murabahah, Akad


ijarah lebih fleksibel dalam hal objek transaksi.
Pada akad murabahah, objek transaksi haruslah
berupa barang. sedangkan pada akad ijarah ,
objek transaksi dapat berupa jasa, seperti jasa
pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan,
pariwisata dan hal lainnya yang tidak
bertentangan degan syariah.

2. Dibandingkan dengan akad investasi, akad ijarah


mengandung risiko usaha yang lebih rendah
yaitu adanya pendapatan sewa yang relatif tetap.
Ketentuan Syari Transaksi
Ijarah dan IMBT
Berdasarkan terminologi , ijarah adalah memindahkan
kepemilikan fasilitas dengan imbalan. Penyewaan dalam
sudut pandang Islam meliputi dua hal : pertama,
penyewaan terhadap potensi atas sumber daya manusia
dan kedua, penyewaan terhadap suatu fasilitas.

Ketentuan syari transaksi ijarah diatur dalam Fatwa DSN


Nomor 09 Tahun 2000. adapun ketentuan syari transaksi
ijarah untuk penggunaan jasa diatur dalam Fatwa DSN
Nomor 44 Tahun 2004. sedangkan ketentuan syari IMBT
diatur dalam Fatwa DSN Nomor 27 tahun 2000. secara
detail, Fatwa DSN tentang Transaksi Ijarah dan IMBT
dibahas dalam bagian rukun transaksi ijarah, multi jasa
dan IMBT.
Rukun Transaksi Ijarah
1. Transaktor
Terdiri dari Penyewa (Nasabah) dan Pemberi Sewa (Bank Syariah).
Perjanjian sewa menyewa antara bank syariah sebagai pemberi sewa
dengan nasabah sebagai penyewa memiliki implikasi kepada kedua
belah pihak.

Implikasi Perjanjian Sewa :


a. Bank Syariah Sebagai Pemberi Sewa
Menyediakan Aset Yang disewakan.

Menanggung Biaya Pemeliharaan Aset.

Menjamin bila terdapat cacat pada aset yang disewakan.

b. Kewajiban Nasabah Sebagai Penyewa


Membayar sewa dan bertanggung jawab atas keutuhan aset yang

disewakan.
Menanggung biaya pemeliharaan yang sifatnya ringan (non materiil).

Bertanggung jawab dan mengganti kerusakan Aset yang disewakan

jika kelalaian penyewa atau nasabah.


2. Objek Ijarah
Meliputi pembayaran sewa dan manfaat dari penggunaan aset.
Ketentuan objek Ijarah :
a. Objek ijarah adalah manfaat dari penggunaan barang atau
jasa.
b. Manfaat barang harus dapat dinilai dan dapat dilaksanakan
dalam kontrak.
c. Fasilitasnya Mubah.
d. Kesanggupan memenuhi manfaat harus nyata dan sesuai
dengan syariah.
e. Sewa adalah sesuatu yang dijanjikan dan dibayar kepada LKS
sebagai pembayaran manfaat.
f. Ketentuan dalam menentukan sewa dapat diwujudkan dalam
ukuran, waktu dan tempat.

3. Ijab Qabul
Pernyataan dari kedua belah pihak yang berkontrak dengan
carapenawaran dari pemilik aset (Bank Syariah) dan penerimaan
yang dinyatakan oleh penyewa (nasabah).
Rukun Transaksi Ijarah Untuk
Pembiayaan Multijasa

Pembiayaan multijasa dengan skema ijarah adalah


pembiayaan yang diberikan oleh lembaga keuangan
syariah kepada nasabah dalam memperoleh manfaat
atas suatu jasa dengan menggunakan akad ijarah.
Pembiayaan multijasa hukumnya boleh (jaaiz) dengan
menggunakan akad ijarah atau kafalah. Dalam hal
LKS menggunakan akad ijarah, maka harus mengikuti
semua ketentuan yang ada dalam fatwa Ijarah. Dalam
kedua pembiayaan multijasa tersebut, LKS dapat
memperoleh imbalan jasa (fee). Besar fee atau ujroh
harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam
bentuk nominal bukan dalam bentuk persentase.
Rukun Transaksi IMBT
Berdasarkan Fatwa DSn Nomor 27 tahun 2002 disebutkan
bahwa pihak yang melakukan transkasi IMBT harus
melaksanakan Akad Ijarah terlebih dahulu. Dengan demikian
pada akad IMBT juga berlaku semua Rukun dan Syarat
Transaksi Ijarah. Adapun akad perjanjian IMBT harus
disepakati ketika akad ijarah ditandatangani. Selanjutnya,
pelaksanaan akad pemindahan kepemilikan, baik dengan jual
beli atau pemberian hanya dapat dilakukan setelah masa
ijarah selesai.

Berdasarkan Fatwa DSN Nomor 27 tersebut, janji pemindahan


yang disepakati di awal akad ijarah hukumnya tidak mengikat.
Oleh karena itu, apabila janji tersebut ingin dilaksanakan,
maka harus ada akad pemindahan kepemilikan yang
dilakukan setelah masa ijarah selesai.
Pengawasan Syariah Transaksi
Ijarah dan IMBT
a. Memastikan penyaluran dana berdasarkan prinsip ijarah
tidak dipergunakan untuk kegiatan yang bertentangan
dengan prinsip syariah.
b. Memastikan bahwa akad pengalihan kepemilikan dalam
IMBT dilakukan setelah akad ijarah selesai. Dan dalam akad
ijarah, janji atau Waad untuk pengalihan kepemilikan harus
dilakukan pada saat berakhirnya akad.
c. Meneliti pembiayaan berdasarkan prinsip ijarah untuk
multijasa menggunakan perjanjian sebagaimana diatur
dalam fatwa yang berlaku tentang multi jasa dan ketentuan
lainnya antara lain ketentuan standar akad.
d. Memastikan besar ujrah atau fee multijasa dengan
menggunakan akad ijarah telah disepakati di awal dan
dinyatakan dalam bentuk nominal bukan dalam bentuk
persentase.
Skema Transaksi Ijarah dan IMBT

Bank
Bank 1.
1.Negoisasi
Negoisasi
Syariah
Syariah dan Nasabah
dan AkadIjarah
Akad Ijarah
Sebagai
Sebagai Sebagai
Pemberi
Pemberi Penyewa
Sewa
Sewa
4. Membayar
Sewa

3.
Menggunaka
n Objek
2. Membeli
Ijarah
Barang/Jasa
dari
Pemasok
Objek Ijarah
(Barang/Jasa)
5. Mengalihkan Hak
Milik Barang Ijarah
pada akhir masa sewa
( Khusus IMBT)
Kasus Transaksi Ijarah
PT Namira membutuhkan sebuah mesin untuk
keperluan produksi usahanya. Pada bulan Januari
20XA, PT Namira mengajukan permohonan Ijarah
kepada bank syariah. Adapun informasi tentang
penyewaan tersebut adalah sebagai berikut,

Biaya Perolehan Barang : Rp 120.000.000


Umur ekonomis barang : 5 Tahun (60 Bulan)
Masa sewa : 24 Bulan
Nilai Sisa Umur ekonomis: Rp 0,
Sewa Perbulan : Rp 2.400.000
Biaya Administrasi : Rp 480.000
1. Teknis Perhitungan Transaksi
Ijarah
a. Perhitungan Penyusutan dan Pendapatan
Ijarah
Misalkan Kebijakan bank syariah adalah memperoleh keuntungan 20%
dari modal penyewaan (Beban Penyusutan).

Penyusutan Per Bulan = Harga Perolehan Nilai Sisa


Jumlah Bulan Umur Ekonomis

Penyusutan Per Bulan = Rp 120.000.000 Rp 0


60 Bulan
= Rp 2.000.000

Pendapatan Ijarah Per Bulan = Modal Penyewaan + n% modal


penyewaan
= Rp 2.000.000 + ( 20% x 2.000.000)
= Rp 2.400.000
b. Perhitungan Biaya Administrasi
Ijarah

Biaya administrasi dapat diterapkan dengan menggunakan


presentase tertentu dari modal yang digunakan untuk
persewaan. Misalkan dalam kasus di atas, bank syariah
menggunakan kebijakan 1% dari modal persewaan. Maka
biaya administrasinya adalah SBB :

Biaya Administrasi Ijarah = n% x Modal Persewaan


Perbulan x Jumlah Bulan
= 1% x Rp 2.000.000 x 24
= 1% x Rp 48.000.000
= Rp 480.000
2. Penjurnalan Transaksi Ijarah
a. Transaksi Pengadaan Aset Ijarah
Sebelum akad ijarah dilakukan , bank syariah terlebih
dahulu melakukan pengadaan aset ijarah. Berdasarkan
PSAK No. 107 disebutkan bahwa objek ijarah diakui pada
saat objek ijarah diperoleh sebesar biaya perolehan.

Misalkan, untuk keperluan transaksi ijarah PT Namira di


atas, pada tanggal 5 Juni 20XA, bank syariah membeli aset
kepada perusahaan yang menyuplai barang yang
diperlukan. Pemebelian dilakukan via rekening pemasok
tersebut.
Tanggal Jurnal terhadap transaksi tersebut
Rekening adalah sbb
Debet :
Kredit
(Rp) (Rp)
05/06/20XA Db. Persediaan Ijarah 120.000.0
00
Kr. Kas/Rek Supplier 120.000.0
00
b. Transaksi pada saat Akad disepakati
Pada saat akad disepakati terdapat beberapa transaksi yang
harus diakui oleh bank syariah. Transaski tersebut adalah (1)
konversi persediaan ijarah menjadi aset, sebagai bentuk
pengakuan atas adanya pengalihan hak guna kepada
penyewa, dan (2) penerimaan biaya administrasi.

Misalkan pada tanggal 10 juni, PT Namira menandatangani


akad ijarah atas sebuah mobil, maka jurnal yang diperlukan
pada waktu itu adalah :
Tanggal Rekening Debet Kredit
(Rp) (Rp)
10/06/20X Db. Aset yang diperoleh untuk 120.000.0
A ijarah 00
Kr. Persediaan Ijarah 120.000.0
00
10/06/20X Db. Rek Nasabah PT Namira 480.000
A
Kr. Pendapatan administrasi 480.000
c. Transaksi Pengakuan Penerimaan Pendapatan Ijarah
Berdasarkan PSAK No. 7, Pendapatan sewa selama masa akad
diakui pada saat manfaat atas aset telah diserahkan kepada
penyewa. Piutang pendapatan sewa diukur sebesar nilai yang
yang dapat direalisasikan pada akhir periode pelaporan.
Misalkan rencana dan realisasi pembayaran sewa oleh PT
Namira aalah SBB :
No Tanggal Sewa Per Bulan Tanggal Jumlah yang
. Jatuh Tempo (Rp) Pembayara dibayar
n
1 10 Juli 20XA 2.400.000 10 Juli 20XA 2.400.000
2 10 Agt 20XA 2.400.000 10 Agt 20XA 2.400.000
3 10 Sept 20XA 2.400.000 10 Sept 2.400.000
20XA
4 10 Okt 20XA 2.400.000 10 Okt 20XA 2.400.000
5 10 Nov 20XA 2.400.000 5 Des 20XA 2.400.000
6 10 Des 20XA 2.400.000 10 Des 1.400.000
20XA 1.000.000
3 Jan 20XA
Pembayaran yang dilakukan oleh PT Namira di atas dapat
diklasifikasikan dalam tiga bentuk. Pertama, pembayaran
pada saat tanggal jatuh tempo. Kedua, pembayaran setelah
tanggal jatuh tempo. Ketiga, pembayaran dilakukan sebagian
pada saat jatuh tempo dan sisanya setelah tanggal jatuh
tempo.
Berikut Penjurnalannya :
(i) Pembayaran Sewa oleh Nasabah dilakukan saat
jatuh tempo.
Tanggal Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp)
10/07/20X Db. Kas/Rek. Nasabah 2.400.000
A
Kr. Pendapatan Sewa 2.400.000
10/08/20X Db. Kas/Rek. Nasabah 2.400.000
A
Kr. Pendapatan Sewa 2.400.000
10/09/20X Db. Kas/Rek. Nasabah 2.400.000
A
Kr. Pendapatan Sewa 2.400.000
(ii) Pembayaran sewa oleh Nasabah dilakukan setelah
jatuh tempo.

Misalkan, untuk pembayaran sewa bulan november pada


tanggal 10 November 20XA, nasabah belum membayar sewa
kepada bank. Pembayaran baru dilakukan pada tanggal 5
desenber 20XA. Maka jurnal atas transaksi tanggal 10
november dan
Tanggal 5 Desember tersebut adalah
Rekening Debet:(Rp) Kredit (Rp)
10/11/20XA Db. Piutang Pendapatan 2.400.000
Sewa
Kr. Pendapatan Sewa 2.400.000
Akrual
05/12/20XA Db. Kas/Rek. Nasabah 2.400.000
Kr. Piutang Pendapatan 2.400.000
Sewa
Db. Pendapatan Sewa 2.400.000
Akrual
Kr. Pendapatan Sewa 2.400.000
(iii) Pembayaran sewa oleh nasabah dilakukan
sebagian pada saat jatuh tempo dan sisanya dibayar
setelah jatuh tempo.

Misalkan, tanggal 10 desember 20XA, nasabah membayar


sebesar Rp 1.400.000. sisanya dibayar dikemudian pada
tanggal 3 januari 20XB. Maka Jurnal atas transaksi tanggal 10
desember 20XA dan 3 januari 20XB adalah SBB :

Tanggal Rekening Debet Kredit (Rp)


(Rp)
10/12/20X Db. Kas/Rek. Nasabah 1.400.000
A
Db. Piutang Pendapatan 1.000.000
Sewa
Kr. Pendapatan Sewa 1.400.000
Kr. Pendapatan Sewa 1.000.000
Akrual
Lanjutan. . . .

Tanggal Rekening Debet Kredit (Rp)


(Rp)
03/01/20 Db. Kas/Rek. Nasabah 1.000.000
XB
Kr. Piutang Pendapatan 1.000.000
Sewa
Db. Pendapatan sewa 1.000.000
Akrual
Kr. Pendapatan Sewa 1.000.000
d. Pengakuan Penyusutan aset yang diperoleh untuk
ijarah.

Berdasarkan PSAK 107, Objek Ijarah jika berupa aset yang


dapat disusutkan atau diamortisasi, sesuai dengan
kebijakan penyusutan atau penyusutan untuk aset sejenis
selama umur manfaatnya (umur ekonomis). Dalam hal ini,
penyusutan aset ijarah dapat diakui setiap bulan ketika
pendapatan diakui. Pengakuan penyusutan mengakibatkan
meningkatnya rekening beban penyusutan dan rekening
akumulasi penyusutan.

Dengan menggunakan teknik perhitungan penyusutan


yang telah dibahas pada sub-bab perhitungan penyusutan
dan pendapatan ijarah, jurnal untuk pengakuan
penyusutan aset yang diperoleh ijarah untuk enam bulan
pertama adalah SBB :
Tanggal Rekening Debet Kredit
(Rp) (Rp)
10/07/20X Db. Beban Penyusutan Aset 2.000.000
A Ijarah
Kr. Akumulasi Penyusutan 2.000.000
Aset Ijarah
10/08/20X Db. Beban Penyusutan Aset 2.000.000
A Ijarah
Kr. Akumulasi Penyusutan Aset 2.000.000
Ijarah
10/09/20X Db. Beban Penyusutan Aset 2.000.000
A Ijarah
Kr. Akumulasi Penyusutan Aset 2.000.000
Ijarah
10/10/20X Db. Beban Penyusutan Aset 2.000.000
A Ijarah
Kr. Akumulasi Penyusutan Aset 2.000.000
Ijarah
10/11/20X Db. Beban Penyusutan Aset 2.000.000
A Ijarah
e. Perlakuan Akuntansi Beban Perbaikan dan
pemeliharaan

Berdasarkan PSAK No. 107, Biaya Perbaikan Objek Ijarah


merupakan Tanggungjawab Pemilik. Perbaikan tersebut dapat
dilakukan pemilik secara langsung atau dilakukan oleh
penyewa atas persetujuan Pemilik.

Misalkan pada tanggal 23 desember 20XA dilakukan perbaikan


aset ijarah sebesar Rp 500.000. perbaikan tersebut dilakukan
atas tanggungan Bank syariah sebagai pemilik objek sewa
dengan sistem pembayaran langsung pada perusahaan jasa
ruko, maka jurnal atas
Tanggal transaksi tersebut
Rekening adalah
Debet :
(Rp) Kredit
(Rp)
23/12/20X Db. Beban Perbaikan Aset 500.000
A Ijarah
Kr. Kas/ Rek. Nasabah 500.000
f. Penyajian pada Laporan Laba rugi dan laporan
perhitungan bagi hasil

(i) Laporan Laba Rugi


Juli Agustus Septemb Oktober Novem Desemb Total
er ber er
Pendapatan 2.400.000 2.400.000 2.400.000 2.400.000 2.400.000 2.400.000 14.400.00
Sewa 0
(Saldo Kas +
Akrual)
(Beban (2.000.000 (2.000.00 (2.000.000) (2.000.000 (2.000.00 (2.000.00 (12.000.0
Penyusutan) ) 0) ) 0) 0) 00)

(Beban - - - - - (500.000) (500.000)


Perbaikan)
(Beban Lain) - - - - - - -

Pendapatan 400.000 400.000 400.000 400.000 400.000 (100.000) 1.900.000


sewa Bersih
(ii) Laporan Perhitungan Bagi Hasil

Juli Agustus Septemb Oktober Novemb Desemb Total


er er er
Pendapatan 2.400.00 2.400.00 2.400.000 2.400.000 - 3.800.000 13.400.00
Sewa Kas 0 0 0
(Beban (2.000.0 (2.000.0 (2.000.00 (2.000.00 (2.000.00 (2.000.00 (12.000.0
Penyusutan 00) 00) 0) 0) 0) 0) 00)
)
(Beban - - - - - (500.000) (500.000)
Perbaikan)
(Beban - - - - - - -
Lain)
Pendapatan 400.000 400.000 400.000 400.000 (2.000.00 1.300.000 900.000
Sewa 0)
Bersih
TEKNIS PERHITUNGAN DAN
PENJURNALAN TRANSAKSI
IMBT BAGI BANK SYARIAH
Kasus Transaksi IMBT
Dengan Mengacu pada Kasus transakasi Ijarah, PT Namira
yang telah dibahas pada bagian terdahulu, misalkan Akad
yang disepakati adalah IMBT dengan Informasi tentang
penyewaan sebagai berikut :

Biaya Perolehan Barang : Rp 120.000.000


Umur Barang : 5 Tahun (60 Bulan)
Masa Sewa (Umur Ekonomis) : 24 Bulan
Waktu Pembelian Barang : Setelah Bulan Ke 24
1. Teknis Perhitungan Transaksi
IMBT
a. Perhitungan Penyusutan aset IMBT

Berdasarkan PSAK No. 7 disebutkan bahwa kebijakan penyusutan atau


amortisasiyang dipilih harus mencerminkan pola konsumsi yang diharapkan
dari manfaat ekonomi di masa depan dari objek ijarah. Umur ekonomis
dapat berbeda dengan umur teknis. Misalnya, Mobil yang dapat dipakai
selama 5 tahun diijarahkan dengan akad ijarah muntahiya Bit tamlik selama
2 tahun. Dengan demikian umur ekonomisnya adalah 2 tahun.

Berdasarkan Kasus di atas, beban penyusutan per Bulan barang IMBT


adalah :

Penyusutan IMBT Per Bulan = Biaya Perolehan


Jumlah Bulan Masa Sewa
Penyusutan IMBT Per Bulan = Rp 120.000.000
24
Penyusutan IMBT Per Bulan = Rp 5.000.000
b. Penentuan Pendapatan IMBT

Selanjutnya, dengan kebijakan keuntungan sewa 20% dari


mdal barang yang disewakan, pendapatan IMBT perbulan
adalah SBB :

Pendapatan IMBT Per Bulan = Modal penyewaan + n% Modal


Penyewaan
= Rp 5.000.000 + (20% x Rp 5000.000)
= Rp 5.000.000 + Rp 1.000.000
= Rp 6.000.000

Total Pendapatan IMBT selama masa sewa = 24 x Rp


6.000.000
= Rp 144.000.000
2. Penjurnalan Transaksi IMBT
Penjurnalan transaksi IMBT pada dasarnya sama dengan
penjurnalan pada transaksi ijarah. Perbedaan mendasar
hanya terdapat pada konsep perhitungan penyusutan yang
tidak dikaitkan dengan umur ekonomis , melainkan dikaitkan
dengan masa sewa. Dengan demikian, pembahasan
penjurnalan IMBT Langsung ditujukan pada transaksi
Pemindahan Kepemilkan aset kepada penyewa.

Perpindahan hak milik IMBT dapat dilakukan dengan berbagai


alternatif :

i.Hadiah

ii. Pembayaran sisa Sewa sebelum berakhirnya masa sewa


iii. Pembayaran sekedarnya
a. Pelepasan Sebagai Hadiah

Berdasarkan PSAK No. 107, perpindahan kepemilikan objek


ijarah dari pemilik kepada penyewa dalam ijarah Muntahiya
Bit tamlik dengan cara :
i. Hibah
ii. Penjualan sebelum berakhirnya masa, sebesar sisa
cicilan sewa atau jumlah yang disepakati
iii. Penjualan setelah selesai masa akad
Dalam Kasus transaksi IMBT, PT Namira di atas sekiranya pada
akhir masa sewa (setelah bulan ke 24) dilakukan pelepasan
aset ijarah oleh bank syariah dengan menghadiahkan aset
tersebut kepada PT. Namira. Adapun nilai buku aset di neraca
pada bulan kePenyajian di Neraca
24 adalah : (bulan ke 24)

Aset Ijarah 120.000.000


Akumulasi Penyusutan (120.000.000)
Nilai Bersih 0
Maka Jurnal atas transaksi pelepasan dengan menghadiahkan
tersebut adalah SBB :

Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp)


Db. Akumulasi Penyusutan 120.000.000
Aset Ijarah
Kr. Aset Ijarah 120.000.000
b. Pelepasan melalui penjualan objek sewa
sebelumberakhirnya masa sewa

Berdasarkan PSAK No. 107 disebutkan bahwa pada penjualan


objek ijarah sebelum berakhirnya masa sewa, sebesar sisa
cicilan sewa atau jumlah yang disepakati , maka selisih antara
harga jual dan jumlah tercatat objek ijarah diakui sebagai
keuntungan atau kerugian. Dalam hal ini pemilik objek sewa
mengakui keuntungan atau kerugian atas penjualan tersebut
sebesar selisih antara harga jual dan nilai buku bersih objek
sewa.
(i) Jika Harga Jual di atas nilai buku aset ijarah

Misalkan setelah penerimaan pendapatan sewa bulan ke 20 ,


bank syariah menjual mesin yang menjadi aset ijarah tersebut
sebesar sisa cicilan sewa kepada nasabah penyewa yaitu Rp
24.000.000 (4 x Rp 6.000.000), adapun nilai buku aset di
neraca pada bulan ke 20 adalah :
Penyajian di Neraca (bulan ke 20)

Aset Ijarah 120.000.000


Akumulasi Penyusutan (100.000.000)
Nilai Bersih 20.000.000

Maka Jurnalnya adalah :


Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp)
Db. Kas 15.000.000
Db. Akumulasi Penyusutan Aset Ijarah 100.000.000
Kr. Aset Ijarah 120.000.000
Kr. Keuntungan Penjualan Aset 4.000.000
(ii) Jika harga jual di bawah Nilai Buku aset Ijarah

Mislakan setelah penerimaan pendapatan sewa bulan ke 20 ,


bank syariah menjual mesin yang menjadi aset ijarah tersebut
sebesar Rp 15.000.000. adapun nilai buku aset di neraca pada
bulan ke 20 adalah :

Penyajian di Neraca (bulan ke 20)

Aset Ijarah 120.000.000


Akumulasi Penyusutan (100.000.000)
Nilai Bersih 20.000.000

Maka Jurnal Untuk Transaksinya adalah :


Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp)
Db. Kas 15.000.000
Db. Akumulasi Penyusutan Aset Ijarah 100.000.000
Db. Kerugian Penjualan Aset Ijarah 5.000.000
Kr. Aset Ijarah 120.000.000
c. Pelepasan melalui penjualan objek sewa setelah
berakhirnya masa akad

Berdasarkan PSAK No. 107 disebutkan bahwa pada penjualan


setelah selesai masa akad, maka selisih antara harga jual dan
jumlah tercatat objek ijarah diakui sebagai keuntungan atau
kerugian. Dalam hal ini pemilik objek sewa mengakui
keuntungan atau kerugian atas penjualan tersebut sebesar
selisih antara harga jual dan nilai buku bersih objek sewa.

Misalkan setelah berakhirnya masa sewa, bank syariah


menjual mesin yang menjadi aset ijarah senilai Rp 2.000.000.
adapun nilai buku aset di neraca pada bulan ke 24 adalah :
Penyajian di Neraca (bulan ke 24)

Aset Ijarah 120.000.000


Akumulasi Penyusutan (120.000.000)
Nilai Bersih 0
Maka Jurnal atas transaksi tersebut adalah :
Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp)
Db. Kas 2.000.0000
Db. Akumulasi Penyusutan Aset Ijarah 120.000.000
Kr. Aset Ijarah 120.000.000
Kr. Keuntungan Penjualan Aset 2.000.000
Ijarah
TEKNIS PERHITUNGAN DAN
PENJURNALAN TRANSAKSI
IJARAH UNTUK MULTIJASA
Kasus Transaksi Ijarah Multijasa
Ibu Ulli melakukan transaksi ijarah dengan BPRS Anugerah
Sejahtera untuk keperluan biaya sekolah anaknya selama 1
semester di Universitas Gajah Mada. Adapun Informasi
tentang transaksi untuk penyediaan jasa tersebut adalah
SBB :

Harga Perolehan Jasa : Rp 9.000.000 (dibayar ke UGM tgl


1 Feb 20XA)
Masa Sewa : 6 Bulan (mulai 1 Feb s.d. 1 Agust 20XA)
Sewa Perbulan : Rp 1.750.000 (Setiap Tgl 1 mulai
bulan Maret)
Penyusutan Perbulan : Rp 1.500.000 (Setiap Tgl 1 mulai
bulan Maret)
Biaya Administrasi 0,5% : Rp 45.000 (diterima tgl 1 Februari
20XA)
a. Saat Pengadaan Aset

Tanggal Rekening Debet Kredit


(Rp) (Rp)
01/02/20XA Db. Aset Ijarah 9.000.000
Kr. Rekening UGM 9.000.000

b. Saat Akad Disepakati

Tanggal Rekening Debet Kredit


(Rp) (Rp)
01/02/20XA Db. Rekening 45.000
Nasabah/Kas
Kr. Pendapatan 45.000
Administrasi
c. Saat Pengakuan Penyusutan Aset Ijarah dan
Pembayaran Sewa Ijarah
Berikut
No tabel
Biaya penyusutan
Penyusutan aset ijarah
Pembayaran Sewa dan pembayaran sewa :
Keterangan Tanggal
. (Rp) (Rp) Penyusutan dan
Pembayaran
1 1.500.000 1.700.000 1 Maret 20XA
2 1.500.000 1.700.000 1 April 20XA
3 1.500.000 1.700.000 1 Mei 20XA
4 1.500.000 1.700.000 1 Juni 20XA
5 1.500.000 1.700.000 1 Juli 20XA
6 1.500.000 1.700.000 1 Agustus 20XA

Maka Jurnalnya :
Tanggal Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp)
01/03/20XA Db. Beban Penyusutan Aset Ijarah 1.500.000

Kr. Akumulasi Penyusutan Aset 1.500.000


Ijarah
01/03/20XA Db. Rekening Nasabah/Kas 1.700.000

Kr. Pendapatan Sewa 1.700.000


Tanggal Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp)

01/04/20XA Db. Beban Penyusutan Aset Ijarah 1.500.000

Kr. Akumulasi Penyusutan Aset Ijarah 1.500.000

01/04/20XA Db. Rekening Nasabah/Kas 1.700.000

Kr. Pendapatan Sewa 1.700.000

01/05/20XA Db. Beban Penyusutan Aset Ijarah 1.500.000

Kr. Akumulasi Penyusutan Aset Ijarah 1.500.000

01/05/20XA Db. Rekening Nasabah/Kas 1.700.000

Kr. Pendapatan Sewa 1.700.000

01/06/20XA Db. Beban Penyusutan Aset Ijarah 1.500.000

Kr. Akumulasi Penyusutan Aset Ijarah 1.500.000

01/06/20XA Db. Rekening Nasabah/Kas 1.700.000

Kr. Pendapatan Sewa 1.700.000


Tanggal Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp)

01/07/20XA Db. Beban Penyusutan Aset Ijarah 1.500.000

Kr. Akumulasi Penyusutan Aset Ijarah 1.500.000

01/07/20XA Db. Rekening Nasabah/Kas 1.700.000

Kr. Pendapatan Sewa 1.700.000

01/08/20XA Db. Beban Penyusutan Aset Ijarah 1.500.000

Kr. Akumulasi Penyusutan Aset Ijarah 1.500.000

01/08/20XA Db. Rekening Nasabah/Kas 1.700.000

Kr. Pendapatan Sewa 1.700.000


SEKIAN
WASSALAMUALAIKU
M WR. WB.

Anda mungkin juga menyukai