Anda di halaman 1dari 23

VERTIGO

DEFINISI
Vertigo berasal dari bahasa latin
vertere yaitu memutar. Vertigo
termasuk ke dalam gangguan
keseimbangan yang dinyatakan
sebagai pusing, pening,
sempoyongan, rasa seperti
melayang atau dunia seperti
berjungkir balik.
EPIDEMIOLOGI
Insiden vertigo secara umum
beragam yaitu 5 sampai 30%
dari populasi dan mencapai 40%
pada orang yang berumur di
atas 40 tahun. Vertigo
meningkatkan resiko cedera
akibat trauma sampai 25% pada
penderita yang berumur diatas
65 tahun. Di Amerika, dari data
pada tahun 1999 sampai 2005
ETIOLOGI
1. Keadaan lingkungan
o. Motion sickness (mabuk darat, mabuk
laut)

2. Obat-obatan
. Alkohol

. Gentamisin

3. Kelainan sirkulasi
. Transient ischemic attack
CONT
4. Kelainan ditelinga
.Endapan kalsium pada salah satu kanalis semisirkularis
di dalam telinga bagian dalam
.(menyebabkan benign paroxysmal positional vertigo)
.Infeksi telinga bagian dalam karena bakteri
.Herpes zoster
.Labirintitis (infeksi labirin di dalam telinga)Peradangan
saraf vestibuler
.Penyakit Meniere
CONT
5. Kelainan neurologis
.Sklerosis multipel
.Patah tulang tengkorak yang disertai
cedera pada labirin, persarafannya atau
keduanya
.Tumor otak
.Tumor yang menekan saraf vestibularis
SISTEM
KESEIMBANGAN
Informasi internal
Vestibuler
Informasi eksternal Visual
Propioseptik
KLASIFIKASI VERTIGO
PERBEDAAN VERTIGO
VESTIBULAR PERIFER DAN
SENTRAL
TATALAKSANA
1. Anamnesis
2. Pemeriksaan Fisik
3. Pemeriksaan Fisik Umum
4. Pemeriksaan Neurologis
ROMBERG TEST

oFungsi vestibuler/serebeler
TANDEM GAIT
UJI UNTERBERGER
PAST PONTING TEST (UJI
TUNJUK BARANY)
PEMERIKSAAN KHUSUS
OTO-NEUROLOGI
PEMERIKSAAN FUNGSI PENDENGARAN

Tes garpu tala

Tes ini digunakan untuk membedakan tuli


konduktif dan tuli perseptif, dengan tes-tes
Rinne, Weber dan Schwabach.

Pada tuli konduktif tes Rinne negatif, Weber


lateralisasi ke sisi yang tuli, dan Schwabach
memendek.
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium rutin atas
darah dan urin, dan pemeriksaan lain
sesuai indikasi.
FotoRontgentengkorak,leher,Stenvers(p
adaneurinomaakustik).
Neurofisiologi Elektroensefalografi
(EEG), Elektromiografi (EMG), Brainstem
Auditory Evoked Potential (BAEP).
Pencitraan CT-scan, arteriografi,
magnetic resonance imaging (MRI).
TERAPI
1. Kausal
. Sebagian besar kasus vertigo tidak
diketahui kausanya sehingga terapi
lebih banyak bersifat simptomatik
dan rehabilitatif.

2. Simptomatik
CONT
3. Rehabilitatif

a. Metode brand-darof
b. Latihan visual vestibuler
. Cara 1 :Pada pasien yang masih berbaring (Melirik ke
atas, kebawah, kesamping kiri, kanan, selanjutnya
gerakan serupa sambil menatap jari yang digerakkan
pada jarak 30 cm, mula-mula lambat, makin lama makin
cepat).
. Cara 2 :Untuk pasien yang sudah bisa duduk (Gerakan
kepala dengan cepat ke atas dan ke bawah sebanyak 5
kali, lalu tunggu 10 detik sampai vertigo hilang, ulangi
latihan sebanyak 3 kali).
DAFTAR PUSTAKA
1. Wreksoatmojo BR. Vertigo-Aspek Neurologi. [online] 2009 [cited 2009 May 30th]. Available from :
URL:http://www.google.com/ vertigo/ cermin dunia kedokteran .html
2. Joesoef AA. Vertigo. In : Harsono, editor. Kapita Selekta Neurologi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press; 2000. p.341-59
3. Bashiruddin J. Vertigo Posisi Paroksismal Jinak. Dalam : Arsyad E, Iskandar N, Editor. Telinga,
Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi Keenam. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2008. Hal. 104-9
4. Li JC & Epley J. Benign Paroxysmal Positional Vertigo. [online] 2009 [cited 2009 May 20th]. Available
from: http://emedicine.medscape.com/ article/884261-overview
5. Johnson J & Lalwani AK. Vestibular Disorders. In : Lalwani AK, editor. Current Diagnosis & treatment
in Otolaryngology- Head & Neck Surgery. New York : Mc Graw Hill Companies. 2004. p 761-5
6. Bashiruddin J., Hadjar E., Alviandi W. Gangguan Keseimbangan. Dalam : Arsyad E, Iskandar N,
Editor : Telinga, Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi Keenam. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
2008. Hal. 94-101
7. Anderson JH dan Levine SC. Sistem Vestibularis. Dalam : Efendi H, Santoso R, Editor : Buku Ajar
Penyakit THT Boies. Edisi Keenam. Jakarta : EGC. 1997. h 39-45
8. Sherwood L. Telinga, Pendengaran, dan Keseimbangan. Dalam: Fisiologi Manusia dari Sel ke
Sistem. Edisi 2. Jakarta: EGC. 1996. p 176-189
9. Hain TC. Benign Paroxysmal Positional Vertigo. [online] 2009 [cited 2009 May 20th]. Available
from : http://www .dizziness-and-balance.com/bppv.htm
10. Mansjoer a, Triyanti K, Savitri R, Wardhani WI, Setowulan W. Penyakit Menierre. Dalam : KApita
Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga. Jakarta : FKUI. 2001. Hal 93-94