Anda di halaman 1dari 11

BAGAIMANA

MANUSIA
BERTUHAN?
Kelompok 2:
Inayatulloh (5115164341)
Pipit Fitriani (5115163095)
Mamay (5115161501)
Raden Panzi W (5115163480)
Dede Ramdhani (5115164927)
Konsep Spiritual Sebagai
Landasan Kebertuhanan
Spiritual adalah kepercayaan akan adanya kekuatan non fisik yang
merupakan suatu kesadaran penghubung manusia kepada tuhan.
Roh bisa disebut sebagai bentuk spiritual. Roh menurut manusia adalah
suci karena karunia ilahi yang dipancarkan oleh zat tuhan. Roh
bersemayang dalam hati (qaib) sehingga dari hati terpancar
kecerdasan, keinginan, kemampuan, dan perasaan. Namun pengaruh
roh, hati manusia terkadang tidak selamanya maksimal, terkadang hati
manusia menjadi gelap sehingga manusia melakukan maksiat.
Jadi kesadaran manusia terletak pada hati, jika ingin mendekatkan diri
kepada Allah harus memiliki hati yang suci sehingga jiwa akan
mendapatkan pancaran rahmat dari-Nya.
Mengapa Manusia Memerlukan
Spiritualitas?
Menurut Carl Gustav Jung, manusia modern mengalami keterasingan diri dari
diri sendiri dan lingkungan sosial, bahkan jauh dari tuhan. Dan kegagalan
memaknai hidup mengakibatkan jauh dari rasa aman damai dan tentram.
Agar manusia kembali memiliki etika moral dan sentuhan manusiawi dalam
kehidupannya, maka penguatan spiritualitas perlu dilakukan. Secara filosofi
spiritualis sebagai penguatan visi ilahi, potensi bertuhan, atau kebertuhanan.
Bentuk spiritualis yaitu pelatihan jiwa secara sistematis, dramatis, dan
berkesinambungan dengan memadukan antara pola fikir (tafakkur wa taammul),
olah rasa (tadzawwuq), olah jiwa (riyadhah) dan olahraga (rihlah wa jihad).
Menurut Syahrin Harahao jika manusi amemiliki kesadaran dan kecerdasan
spiritualis, maka rohanya akan kuat karena bimbingan maksimal dari hati nurani
tersebut yang menjadikannya lebih dinamis, kreatif, etos kerja tinggi dan lain-
lain.
Konsep Ketuhan dari
Berbagai Sumber Perspektif
1. Psikologis:
Psikologis yaitu mempelajari mengenai perilaku dan fungsi mental manusia
secara ilmiah. Ada dua perspektif yang berbeda tentang potensi bertuhan yaitu
perspektif spiritual dan neurosains.
Spiritual menyangkut roh yang merupakan karunia langsung dari Allah SWT
sejak lahir. Sedangkan neurosains adalah bakat bertuhan dapat dicari jejaknya
dalam bagian-bagian otak yang diangap terkait dengan kecerdasan spiritual.
Menurut Andrew Newberg dan Mark Waldman sistem kepercayaan kita
dibangun oleh gagasan-gagasan yang diajarkan secara intens sehingga tertanam
secara neurologis di dalam memori, dan akhirnya dapat mempengaruhi perilaku
dan pemikiran kita.
2. Sosiologis
Dalam sosiologi, agama disebut sebagai sebuah sistem budaya karena
merupakan hasil dari sistem gagasan manusia terdahulu. Mereka
mempelajari fenomena-fenomena yang muncul dari masyarakat yang
beragama.
Menurut Max Weber menjalankan praktik-praktik keagamaan merupakan
upaya manusia untuk mengubah Tuhan yang irrasional menjadi rasional.
Manusia senantiasa hidup bergerumul dengan ketidakpastian akan hari
esok, keberuntungan, kesehatan dll. Hal ini menyebabkan manusia memiliki
keinginan dan harapan karna keterbatasannya, makadari itu manusia
memerlukan kekuatan dari luar dunia yang tidak terlihat/supranatural.
3. Filosofi
Banyak filsuf islam yang menjelaskan hakikat tuhan sehingga kita
diharuskan bertuhan, dan terdapat tiga argumen filsafat untuk
menjelaskan hal tersebut, yaitu: 1) dalil al-udts, 2) dalil al-mkn, dan
3) dalil al-inyah. Argumen pertama diperkenalkan oleh al-Kindi (w.
866), yang kedua oleh Ibn Sina (w.1037), dan yang ketiga oleh Ibn Rusyd
(w.1198).
Argumen-argumen diatas semuanya mengaitkan keadaan alam semesta
yang diciptakan tidak tanpa Pencipta. Dan Pencipta sesuatu yang amat
besar alam semesta ini pastilah hanya Allah, Tuhan yang maha esa.
Tuhan menjadi sebab pertama dari segala akibat yang kita lihat saat ini.
4. Teologis
Teologis adalah wacana yang berdasarkan nalar mengenai agama,
spiritualitas dan Tuhan.
Tuhan memperkenalkan diriNya, konsep baik-buruk, dan cara
beragama kepada manusia melalui berbagai pernyataan, baik yang
dikenal sebagai pernyataan umum, seperti penciptaan alam semesta,
pemeliharaan alam, penciptaan semua makhluk, maupun pernyataan
khusus, seperti yang kita kenal melalui firman-Nya dalam kitab suci,
dll.
Pengetahuan tentang Tuhan tersebut dalam perspektif teologis tidak
terjadi atas prakarsa manusia, tetapi terjadi atas dasar wahyu Allah
SWT. Tanpa inisiatif Tuhan melalui wahyu-Nya, manusia tidak
Membangun Argumen tentang Cara
Manusia Meyakini dan Mengimani Tuhan
Meyakini atau mempercayai tuhan artinya pengikat dan pembatasan terhadap wujud
mutlah tuhan. Ada dua aspek tentang keimanan yaitu keyakinan dan indikator praktis.
Keyakinan dimaknai sebagai pembenaran terhadap suatu konsep (tentang tuhan)
sehingga ia menjadi aturan dalam hati yang menunjukkan hukum sebab akibat,
identitas diri, dan memengaruhi penilaian terhadap segala sesuatu, serta dijalankan
dengan penuh komitmen. Sedangkan indikator praktis yaitu keimanan dapat
ditengarai dari sikap dan perilaku yang dilakukan manusia.
Keimanan manusia memiliki pasang surut. Iman terbentuk karena peran tuhan dan
manusia. Peran tuhan seperti karunia berupa akal dan roh, sedangkan manusia berupa
proses pembelajaran, pembiasaan, dan pengalaman dari diri sendiri maupun orang
lain.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pembentukan iman identik dengan pembentukkan
karakter. Orang yang beriman adalah orang yang berkarakter.
Mendeskripsikan Esensi dan Urgensi Visi Ilahi
untuk Membangun Dunia yang Damai

Dalam perspektif islam, manusia diciptakan sebagai makhluk yang


sempurna. Manusia adalah makhluk spiritual yang cenderung kepada
kebajikan dan kebenaran yang keberadaan unsur materi dan ragawi
dalam dirinya memaksanya untuk tunduk pada tuntutan kesenangan
jasmaniah.
Konflik internal dalam diri manusia, antara dorongan spiritual dan
material sering terjadi sehingga dalam khazanah Islam dikenal ada tiga
tipologi jiwa manusia, yaitu: an-nafs al-ammrah bis s` (jiwa yang
selalu tergerak melakukan keburukan), an-nafs al-lawwmah (jiwa yang
selalu mencela diri), dan an-nafs al-muthma`innah (jiwa yang tenang).
Agar manusia dapat tetap konsisten dalam kebaikan dan kebenaran Tuhan,
maka manusia dituntut membangun relasi yang baik dengan-Nya. Manusia
tidak akan mampu membangun relasi yang harmonis dengan tuhan apabila
hidupnya lebih didominasi oleh kepentingan ragawi dan bendawi.
Oleh karena itu, sisi spiritualitas harus memainkan peran utama dalam
kehidupan manusia sehingga ia mampu merasakan kehadiran Tuhan dalam
setiap gerak dan sikapnya.
Apabila manusia telah mampu mengasah spiritualitasnya sehingga ia dapat
merasakan kehadiran Tuhan, maka ia akan meilhat segala sesuatu dengan
visi Ilahi.
Terimakasih

-Pendidikan Agama Islam-


Prodi Pendidikan Teknik Elektro
Universitas Negeri Jakarta

Anda mungkin juga menyukai