Anda di halaman 1dari 27

Referat

thalassemia dalam
kehamilan

Disusun oleh:
FIKI SETIAWAN
110.2012.086

Pembimbing:
dr. Dhanny Prima J Santoso Sp.OG M.kes
.
HEMOGLOBIN

Terdiri dari 4 rantai Dewasa mayor: HbA Dewasa minor :Hb


polipeptida (a2b2) A2 (22)

hemoglobin embrional :
Pada neonatus : Hb Hb Gowers 1 (zeta2
epsilon2), Hb Gowers 2
F (alfa2 gamma2) (alfa2 epsilon2), dan Hb
Portland (zeta2
gamma2).

Hb normal dewasa yaitu:


Hb A : 96-98 %
Hb A2 : 1,5 3,2 %
Hb F : 0,5 0,8 % (A.V. Hoffbrand, et al., 2005)
Molekul Hemoglobin

Benjamin cunning Pearson Education,


2004.
Ekspresi Gen Globin Selama Perkembangan Normal
THALASSEMIA

Talasemia merupakan defek genetik yang mengakibatkan berkurang atau tidak


adanya sama sekali sintesis satu atau lebih rantai globin yang merupakan
polipeptida penting molekul hemoglobin

Talasemia disebabkan oleh penurunan kecepatan sintesis atau kemampuan


produksi satu atau lebih rantai globin , ataupun rantai globin lainnya sehingga
terjadi delesi total atau parsial gen globin dan substitusi, delesi atau insersi
nukleotida
*DEFINISI
Delesi total/
20-52% wanita Anemia
partial gen
hamil anemia Mikrositik
Globin dan
(who) hipokrom
substitusi

Homozigot Indonesia- 3-5%


Kematian pada Autosmal pembawa sifat
janin Thalassemia

PENDAHULUAN
EPIDEMIOLOGI

Di Indonesia kasus talasemia disebabkan oleh adanya migrasi penduduk


dan percampuran penduduk.Keseluruhan populasi ini tersebar di
Kalimantan, Sulawesi, pulau Jawa, Sumatera, Nias, Sumba dan Flores. Di
Indonesia, diperkirakan jumlah pembawa sifat thalasemia sekitar 3-5%
dari jumlah populasi. Di beberapa daerah di Indonesia mencapai 10%
sedangkan angka pembawa sifat HbE berkisar antara 1,5-36%.2
* Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 menunjukkan prevalensi
nasional talasemia adalah 0,1%, dengan 8 propinsi yang
menunjukkan prevalensi di atas prevalensi nasional:

* Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (1,34%)


* DKI Jakara (1,23%)
* Sumatera Selatan (0,54%)
* Gorontalo (0,31%)
* Kep. Riau (0,3%)
* Nusa Tenggara Barat (0,26%)
* Papua Barat (0,22%)
* Maluku (0,19%).

EPIDEMIOLOGI
ETIOLOGI

delesi 619 bp pada ujung akhir 3 gen globin

Delesi Bentuk homozigot delesi ini menyebabkan talasemia


sedangkan heterozigotnya menimbulkan peningkatan
HbA2 dan HbF.

Terjadi mutasi titik


Mutasi transkripsional pada lokasi CAP

Non Delesi
Mutasi prosesing RNA :intron-exon boundaries, polyadenilation signal, splice
site consesnsus sequences, cryptic sites in exons, cryptic sites in introns.
Mutasi yangmenyebabkan translasi abnormal RNA messenger: inisiasi,
nonsense dan mutasi frameshift.

Mutasi talasemia yang diwariskan dominan


varian globin tidak stabil

bentuk lain talasemia tersembunyi


DEFEK

Kuantitatif Mutasi
ETIOLOGI
Talasemia merupakan penyakit genetik yang diturunkan secara
autosomal resesif diturunkan dari ibu maupun ayah.
KLASIFIKASI

Thalassemia A Thalassemia
Thalassemia A minor A1 trait
2 trait a-/aa
A-/a- / aa/--

Hb barts --/--
HbH deasese
Hidrops
-a/--
fetalis
KLASIFIKASI

Thalassemia A B Mayor
Thalassemia
kedua orang tua B minor treit / carrier
mewarisi

BO
B+
Tidak ada mRNA yang
Masih dihasilkan rantai
mengkode rantai B
B normal tapi produksi
yang berfungsi sebagai
nya sedikit
pembentuk HbA
PATOFISIOLOGI

Terdapat 2
gen globin pada kromosom 16 Terdiri dari satu gen globin (zeta) ( aktif pada
fetus) dan 2 gen globin

globin pada kromosom 11 terdiri atas gen globin (epsilon), (gamma), (delta)
dan (beta) pada masing-masing kromosom 11. Gen globin epsilon aktif selama
kehidupan embrional, dan gen globin sisanya aktif sejak kehidupan fetal dan
seterusnya

* janin, anak dan dewasa sel darah merah mempunyai 6 hemoglobin antara lain:
* Hemoglobin embrional : Gower 1 (22), Gower 2 (22), Portland (22)
* Hemoglobin fetal : HbF (22)
* Hemoglobin dewasa : HbA(22) dan HbA2(22)

Gambar 2.4. Ekspresi Gen Globin Selama Perkembangan Normal


Anemia Hepato/
Hemolitik spleenomegali

Fascies Cooley

Manifestasi klinis
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
a. Pemeriksaan hematologi rutin
1. Morfologi eritrosit (gambaran darah tepi) eritrosit hipokromik mikrositik, sel
target, normoblas (eritrosit berinti), polikromasia, bashopilic stipling, Heinz bodies
pada -thalassemia.
2. Kadar Hb pada thalasemia mayor 3-9 g/dl, thalasemia intermedia 7-10 g/dl

b. Elektroforesis Hb
3. HbF meningkat : 10-98%
4. HbA bisa ada pada +, bisa tidak ada pada o
5. HbA2 sangat bervariasi, bisa rendah, normal, atau meningkat

c. Pemeriksaan sumsum tulang


6. Eritropoesis inefektif menyebabkan hiperplasia eritroid yang ditandai dengan
peningkatan cadangan Fe.
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
d. Uji fragilitas osmotik (darah + larutan salin terbuffer)
7. Pada darah normal 96% eritrosit akan terlisis, sedangkan pada thalasemia eritrosit
tidak terlisis

e. Pengukuran beban besi


8. Pengukuran feritin serum dan feritin plasma sebelum dilakukan transfusi

f. Pemeriksaan pedigree untuk mengetahui apakah orang tua atau saudara pasien
merupakan trait

g. Pemeriksaan molekuler
9. Analisis DNA (Southern blot)
10. Deteksi direct gen mutan
11. Deteksi mutasi dengan probe oligonukleotida sintetik
12. ARMS (mengamplifikasi segmen target mutan)
13. Analisis globin chain synthesis dalam retikulosit akan dijumpai sintesis rantai
beta menurun dengan rasio / meningkat.
ALGORITMA DIAGNOSIS

Riwayat penyakit
Ras, riwayat keluarga, usia awal terkena penyakit dan
pertumbuhan

Pemeriksaan Fisik
Pucat, ikterus, splenomegali, deformitas skeletal dan
pigmentasi

Laboratorium dan apusan darah


Hb, MCV, MCH, retikulosit, jumlah eritrosit, gambaran darah
tepi atau sumsum tulang dan presipitasi HbH

Elektroforesis Hemoglobin
adanya Hb abnormal, analisis pada pH 6-7 untuk
HbH dan Hb Barts

Penentuan HbA2 dan Hb F

Sintesis Struktur Hb
Distribusi HbF
intraseluler rantai globin variant
DIAGNOSIS BANDING
Kebutuhan transfusi akan meningkat selama kehamilan.
Pasien yang tidak tergantung dengan transfusi seperti
pada talasemia intermedia atau Hemoglobin H menjadi
perlu transfusi saat hamil hingga setelah melahirkan.
Hemoglobin harus tetap terjaga 10 g/dl pada
talasemia mayor. Observasi pasien dilakukan
terhadap fungsi jantung dan USG serial untuk
mengetahui kesejahteraan janin4,13. Pemberian kelasi
besi di luar kehamilan biasanya menggunakan
desferrioxamin mesilat (Desferal) yang diberikan
perinfus subkutan selama 12 jam 5-7 hari seminggu

PENANGANAN THALASEMIA
DALAM KEHAMILAN
SKRINING

Teknik dan Metode Skrining Laboratoriun Talasemia Di


Indonesia
Algoritma Skrining Talasemia di Indonesia dengan
Sistem Rujukan2
DAFTAR PUSTAKA

* Christopoulos, G. Ezzat, G.M., Kleanthous, M. 2012. Use of denaturing gradient


gel electrophoresis in screening unknown -thalassemia mutations in Egyptian
patients. The Egyptian Journal of Medical Human Genetics, 13:343349.
* Pignatti, C. B., Galanello, R. 2014. Thalassemia and Related Disorders:
Quantitative Disorders of Hemoglobin Synthesis. In : Greer, J.P., Arber, D. A.,
Glader, B., List, A.F., Means, R.T., Paraskevas, F, Rodgers, G.M. Wintrobes
Clinical Hematology. 13th edition. Lippincott Williams& Wilkins. 2.
* Atmakusumah, T.D., Wahidiyat, P.A., Sofro, A.S., Wirawan, R., Tjitrasari, T.,
Setyaningsih, I., Wibawa, A. 2010. Pencegahan Thalassemia. Hasil Kajian
Konvensi HTA. Jakarta: 16 Juni. 3
* Rund, D., Rachmileweitz, E. 2005. -Thalassemia. N Engl J Med, 353: 11351146.
* Ryan, K., Bain, B.J., Worthington, D., James, J., Plews, D., Mason, A., Roper,
D., Rees, D.C., Salle, B., Streetly, A. 2010. Significant haemoglobinopathies:
guidelines for screening and diagnosis. British Journal of Haematology, 149: 35-
49.
TERIMAKASIH