Anda di halaman 1dari 76

MANAGEMENT RHEUMATOID

ARTRITIS & OSTEOARTRITIS


Anda pernah mengalami nyeri pada
sendi? Bisa sudah dan mungkin juga
belum. Hampir bisa dipastikan, mayoritas
orang pernah mengalaminya. Masyarakat
awam biasanya langsung beranggapan,
hal itu disebabkan rematik atau asam urat.
Sebagian lagi berpikir itu akibat
osteoporosis. Lantas apa sebetulnya dan
bagaimana dengan solusinya?
Osteoartritis (OA) dan artritis reumatoid (RA)
merupakan jenis penyakit reumatik yang sering
dijumpai. Hingga kini dikenal lebih dari 100 jenis
penyakit reumatik, tetapi hanya beberapa di
antaranya yang sering dijumpai, termasuk kedua
penyakit yang tersebut di atas.
Dulu dua jenis penyakit yang berbeda ini sering
dianggap sebagai satu penyakit dan sering
terjadi salah diagnosis sehingga merugikan si
pasien.
Di samping itu kedua penyakit ini dapat
ditemukan bersama-sama/sekaligus pada
seorang pasien, sehingga makin
membingungkan dokter pemeriksa.
PATOGENESIS
OA yang dikenal sebagai penyakit sendi degenerative
mempunyai kelainan primer pada rawan sendi
(cartilage), sedangkan RA mempunyai kelainan primer
pada sinovial.
Secara mudah dapat dijelaskan bahwa pada OA, proses
degeneratif pada awalnya menyebabkan perubahan
biokimiawi pada rawan sendi yang akhirnya
menyebabkan integritas rawan sendi terganggu,
sehingga akan terjadi penipisan rawan sendi sampai
akhirnya rawan sendi habis.
Perubahan dan awal sampai akhir berlangsung sangat
lambat, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk
tercapainya stadium akhir yang ditandai dengan
deformitas sendi.
Gejala inflamasi sendi tidak mendominasi
perjalanan penyakit, inflamasi baru tampak bila
terjadi pelepasan serpihan rawan sendi ke
dalam rongga sendi. Pada RA perubahan
patologik
yang menonjol adalah inflamasi sinovia
(sinovitis). Penyebab sinovitis ini belum
diketahui
dengan pasti, tetapi faktor imunologik sangat
berperan.
Rheumatoid Arthritis
( RA )

Rheumatoid arthritis (RA) merupakan


sebuah peradangan di sendi yang terjadi
secara progresif dan kronik.
Bagian yang sering diserang ialah
sinovium.
RA diduga terjadi karena ada respon imun
atau inflamasi karena infeksi. Bisa juga
karena autoimunitas. Autoantibodi
patogen atau sel T yang mengalami auto
reaksi bisa menyerang sinovium dan
rawan sendi.
Selain itu, kelainan pada pengaturan
produksi sitokin proinflamasi atau
transformasi komponen seluler sinovium
juga dapat memicu autoimunitas ini.
RA diduga terjadi karena ada respon imun
atau inflamasi karena infeksi. Bisa juga
karena autoimunitas. Autoantibodi
patogen atau sel T yang mengalami auto
reaksi bisa menyerang sinovium dan
rawan sendi.
Selain itu, kelainan pada pengaturan
produksi sitokin proinflamasi atau
transformasi komponen seluler sinovium
juga dapat memicu autoimunitas ini.
Penderita umumnya akan mengalami kekakuan
sendi di pagi hari sedikitnya selama 1jam serta
berlangsung lebih dari 6 minggu. Bengkak pada
3 sendi yang terjadi setidaknya 6 minggu, lebih
sering pada pergelangan tangan, di ujung
bawah jari, maupun di sendi ruas jari.
Pembengkakan sendi pada RA biasanya
simetris. Jika dilihat dengan sinar X akan
tampak erosi dan dekalsifikasi tulang yang jelas.
Kemudian, dapat ditemukan nodul rheumatoid
serta faktor rheumatoid . Namun, faktor
rheumatoid, sebenarnya tidak bisa menjadi
acuan utama karena tidak semua penderita
memiliki FR, sebaliknya, ada beberapa orang
sehat yang justru memilikinya.
Gejala-gejala dari rheumatoid arthritis
meliputi:
Nyeri sendi dan bengkak
Kekakuan, terutama di pagi hari atau
setelah duduk untuk waktu yang lama
Kelelahan
Rheumatoid arthritis ini berbeda-beda
pengaruhnya pada masing-masing orang. Pada
beberapa orang, gejala sendi berkembang
secara bertahap selama beberapa tahun.
Sedangkan pada beberapa yang lain,
rheumatoid arthritis dapat berkembang dengan
cepat. serta ada juga yang mungkin memiliki
rheumatoid arthritis untuk jangka waktu tertentu
dan kemudian memasuki masa remisi
Siapa yang Dapat Terkena Rheumatoid
Arthritis?
Rheumatoid arthritis adalah penyakit autoimun
yang mempengaruhi sekitar 1% populasi di
Amerika Serikat. Penyakit ini dua sampai tiga
kali lebih sering terjadi pada wanita
dibandingkan pria. Namun pada pria yang
terkena penyakit ini, cenderung pengaruhnya
lebih parah. Rheumatoid arthritis biasanya
terjadi pada usia pertengahan, namun anak-
anak dan orang tua juga dapat terkena
rheumatoid arthritis
Mengapa Istirahat dan Latihan Olahraga Sangat
Penting untuk Rheumatoid Arthritis?

Keseimbangan antara istirahat dan olahraga sangat


penting dalam mengobati rheumatoid arthritis. Sewaktu
flare-up, yaitu memburuknya radang sendi, tindakan
yang terbaik adalah untuk mengistirahatkan sendi yang
meradang. Hal ini dapat dicapai dengan penggunaan
sementara tongkat atau joint splints, yaitu perangkat
yang digunakan agar sendi tidak dapat digerakkan.
Ketika peradangan sendi berkurang, program panduan
olahraga diperlukan untuk mempertahankan fleksibilitas
sendi dan memperkuat otot-otot yang mengelilingi sendi.
Rentang gerakan olahraga harus dilakukan secara
teratur untuk menjaga mobilitas sendi.
Obat yang diberikan untuk penderita RA adalah
DMRAD yang tujuannya adalah mencegah
kerusakan sendi.
Yang paling sering digunakan adalah klorokuin,
sulfasalazin, metotreksat, garam emas,
minoksilin, azatioprin, siklosporin, leflunomid
dan D-penisilamin.
DMRAD biasanya diberikan secara kombinasi
karena menunjukan perlambatan kerusakan
sendi dibanding dosis tunggal. Kombinasi yang
paling sering adalah metotreksat, sulfasalazin,
dan hidroksiklorokuin.
Kombinasi lain ialah metotreksat ditambah
dengan siklosporin A.
Kapan Tindakan Bedah Diperlukan untuk
Rheumatoid Arthritis?
Ketika kerusakan sendi dari rheumatoid
arthritis telah parah atau nyeri yang tidak
bisa dikendalikan dengan obat-obatan,
maka operasi mungkin menjadi pilihan
untuk membantu memulihkan fungsi sendi
yang rusak.
Dapatkah Rheumatoid
Arthritis Disembuhkan?

Walaupun tidak ada obat untuk


menyembuhkan rheumatoid arthritis,
namun pengobatan dini dan agresif telah
terbukti membantu mencegah kecacatan.
Pengapuran Sendi / Osteoarthritis (OA)

Berbeda dengan RA, OA bukan


merupakan peradangan yang disebabkan
oleh autoimun, tapi merupakan penyakit
yang disebabkan proses degenerasi
sehingga terjadi kerusakan rawan sendi.
Osteoartritis adalah suatu penyakit kronis
yang mengenai sendi dan tulang di sekitar
sendi tersebut.
Dulu OA dianggap penyakit degeneratif /
penyakit orang tua karena sendi menjadi
aus / usang, namun dewasa ini diketahui
melalui penelitian-penelitian ternyata
selain akibat aus terdapat proses
peradangan yang mempengaruhi
kerusakan pada sendi tersebut, walaupun
peradangan yang terjadi tidak sehebat
penyakit radang sendi yang lain seperti
artritis reumatoid.
Sendi yang sering terkena adalah :
* sendi lutut
* sendi panggul
* sendi lumbal (punggung)
* leher yang merupakan sendi-sendi
penopang berat tubuh.

Namun, bukan tidak mungkin jika


menyerang sendi-sendi di tangan,
terutama sendi antara ruas-ruas jari.
Gejala Klinis OA
Nyeri pada sendi, terutama sendi penyangga berat tubuh
(seperti sendi lutut / pinggang). Nyeri terutama dirasakan
sesudah aktivitas menggunakan sendi itu & berkurang
jika istirahat.
Kadang-kadang timbul rasa kaku di sendi tersebut pada
pagi hari sesudah bangun tidur, berlangsung < 30 menit.
Kaku ini akan membaik setelah digerak-gerakkan
beberapa saat. Bila digerakkan bisa terdengar bunyi
krek krepitus. Setelah beberapa waktu kemudian
penyakit ini dapat memberat sehingga terasa nyeri juga
pada saat sedang istirahat.
Penekanan pada beberapa bagian tertentu di sekitar
sendi yang nyeri akan terasa sakit. Gerak sendi juga
menjadi terbatas karena nyeri.
Nyeri yang timbul saat istirahat / malam
hari, bisa menunjukan adanya OA yang
berat / adanya peradangan lokal.
Kekakuan sendi juga bisa terjadi, hanya
saja < 30 menit.
Krepitus kadangkala bisa menjadi gejala
klinik yang muncul pada kasus OA saat
sendi yang terserang digerakan secara
pasif. Otot-otot di sekitar sendi juga bisa
terasa kaku. Selain itu, sendi mungkin
akan mengalami penurunan kestabilan.
Selaindiakibatkan oleh aus, osteoartritis
juga dapat disebabkan oleh karena
trauma atau akibat dari penyakit sendi
yang lain (sekunder). Tulang rawan yang
terdapat di antara sendi berfungsi sebagai
bantalan pada saat sendi dipakai, namun
karena bagian ini rusak maka permukaan
tulang pada sendi tersebut saling beradu
sehingga timbul rasa nyeri, bengkak dan
kaku.
Faktor Resiko OA
1. Usia tua
merupakan salah satu faktor risiko terjadi OA. Hampir
semua orang di atas usia 70 tahun mengalami gejala
OA ini, dengan tingkat nyeri yang berbeda-beda.
Sebelum usia 55 tahun perbandingan OA pada dan
sebanding, namun pada usia di atas 55 tahun lebih
banyak pada .
2. Riwayat keluarga dengan OA
3. Berat badan berlebih
4. Pekerjaan yang membutuhkan jongkok / berlutut lebih
dari 1 jam/ hari. Pekerjaan mengangkat barang, naik
tangga / berjalan jauh juga merupakan risiko.
5. Olah raga yang mengalami trauma pada sendi seperti
sepak bola, basket / voli juga meningkatkan risiko OA.
6. Beberapa penyakit lain yang bisa menimbulkan OA
sekunder antara lain artritis reumatoid, gout, hemofilia.
Pemeriksaan OA
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang dapat
menegakkan diagnosis OA, namun pemeriksaan
radiologi (rontgen) dapat membantu, walaupun
hasilnya seringkali tidak sesuai dengan gejala
yang dirasakan pasien.
Pada rontgen dapat terlihat gambaran celah
sendi yang menyempit, tumbuh tulang kecil
(pembentukan osteofit) dan terjadi sklerosis
subkondral (pengapuran) disekitar sendi yang
terkena tersebut dan pada keadaan berat akan
nampak kista subkondral.
Pemeriksaan cairan sendi akan menunjukan
keadaan yang normal.
Penatalaksanaan OA bertujuan untuk
menghilangkan gejala, utamanya rasa
sakit. Selain itu, perbaikan fungsi sendi
dan menghindari kecacatan fisik juga
sangat utama untuk dilakukan. Juga, perlu
dipikirkan adanya toksisitas obat pad
terapi farmakologis.
Penyakit ini tidak dapat disembuhkan, tapi
kualitas hidup pasien tetap bisa
ditingkatkan. Terapi fisik sebaiknya
dilakukan dengan latihan untuk
memperkuat otot serta memperluas
lingkup gerak sendi. Latihan aerobik juga
bisa dilakukan. Latihan yang dilakukan
sebelum pembedahan bisa mengurangi
resiko komplikasi akibat pembedahan.
Pasien juga harus dilatih untuk melakukan kegiatan
keseharian, utamanya yang berhubungan dengan
pekerjaannya sehingga tidak bergantung pada orang
lain. Jika perlu, alat bantu bisa digunakan. Pada pasien
obesitas, penurunan berat badan sangat penting untuk
dilakukan mengingat pembebanan terhadap sendi akan
semakin besar seiring dengan besarnya berat badan.
Kelincahan pasien untuk bergerak juga bisa turun akibat
obesitas tersebut. Penurunan berat badan dilakukan
dengan diet, fitness, jogging maupun berenang.
TERAPI OA

Terapi non-farmakologis
Terapi farmakologis
Bedah
Terapi Non Farmakologis

Edukasi
Kompres
Menjaga berat badan ideal
Diet yang seimbang
Perubahan gaya hidup
Latihan
Olahraga
Alat bantu
Pertama-tama penderita OA harus mengerti dulu apa
yang terjadi pada sendinya, mengapa timbul rasa sakit
dan apa yang perlu dilakukan, sehingga pengobatan OA
dapat berhasil.
Pada saat beraktivitas terasa nyeri dan jika istirahat nyeri
hilang, sehingga banyak penderita memilih diam,
seminimal mungkin melakukan aktivitas agar tidak nyeri,
hal ini kurang tepat karena otot-ototnya akan menjadi
lemah kalau jarang digunakan, selanjutnya beban ke
sendi akan menjadi lebih berat dan pada saat berjalan/
bangun dari duduk nyeri semakin hebat.
Pasien OA harus berusaha agar tetap dapat melakukan
aktivitas sehari-hari, latihan dan tidak menjadi beban
bagi orang di sekitarnya, karena itu edukasi sangatlah
penting dalam penanganan penyakit OA ini.
Selainitu penderita harus hati-hati
menggunakan obat-obat stelanatau beberapa
macam jamu yang dijual bebas dengan
promosi dapat menghilangkan rematik atau
asam urat Campuran yang terdapat dalam
obat-obat ini kadang dapat berbahaya bagi
pasien yang mengkonsumsikannya.

Efek samping yang terjadi adalah mata rabun,


tulang keropos, tensi darah meningkat, lambung
luka bahkan ada yang sampai muntah darah,
ginjal terganggu dan bahkan sampai fatal dan
menyebabkan kematian. Hindari penggunaan
obat-obat seperti ini.
Jika sendi sedang bengkak maka
pilihannya adalah kompres dingin, dan jika
sudah teratasi atau rasa kaku maka
pilihannya adalah kompres hangat
Penting memperhatikan berat badan. Jika
BB berlebih harus diturunkan sampai BB
ideal.
Berat badan yang berlebih akan menjadi
beban bagi sendi-sendi yang menopang
tubuh, sehingga semakin nyeri.
* Selama ini banyak mitos yang beredar di
masyarakan mengatakan bahwa makan sayur-
sayuran hijau / kacang-kacangan dapat
menyebabkan nyeri sendi, hal ini tidaklah tepat.
* Sayur-sayuran dan kacang-kacangan tidak
menyebabkan nyeri sendi.
* Tidak ada makanan tertentu yang menyebabkan
nyeri pada OA, namun makan yang berlebihan
sehingga berat badan akan menambah nyeri,
karena menambah beban pada sendi untuk
menopang berat badan.
Hindari posisi atau keadaan yang menimbulkan trauma
pada sendi seperti jongkok, lompat, lari, terlalu sering
naik-turun tangga / berdiri terlalu lama. Tetap menjalani
aktivitas sehari-hari.
Jika timbul nyeri istirahatlah sejenak, atasi nyerinya dan
kembali beraktivitas. Jika pekerjaan Anda menimbulkan
nyeri maka harus melakukan penyesuaian terhadap
pekerjaan tersebut, contohnya jika memasak di dapur
dan saat berdiri lama timbul nyeri maka usahakan pada
saat menyiapkan masakan dapat dikerjakan dalam
posisi duduk, sehingga tidak berdiri terlalu lama di dapur.
Contoh lain, jika biasanya mencuci baju dalam posisi
jongkok, maka gunakan kursi pendek untuk duduk saat
mencuci sehingga dapat mengurangi trauma pada
lutut.
Latihan menggunakan otot-otot, terutama otot
paha bagi mereka yang mengalami OA pada
lututnya merupakan terapi yang baik.
Cara latihan adalah dalam posisi berbaring
terlentang lalu angkat kaki lurus/lutut tidak ditekuk
setinggi 30 derajat lalu pertahankan sampai 8
hitungan (10 detik) kemudian turunkan & ganti ke
kaki sebelahnya.
Lakukan secara bergantian selama beberapa kali.
Latihan ini dapat menguatkan otot paha jika
dilakukan berulang-ulang beberapa kali dalam
sehari dengan jumlah yang meningkat secara
bertahap dari hari ke hari.
Latihan yang lain adalah menaruh handuk
di bawah lutut, lalu dalam posisi berbaring
terlentang atau duduk, menekan handuk
tersebut dengan cara mengencangkan
otot-otot paha kemudian ditahan dalam 8
hitungan (10 detik) kemudian direlaks kan
lagi, bergantian paha kiri dan kanan.
Latihan ini dilakukan bertahap dan
semakin hari semakin meningkat
frekuensinya
Pilihan olah raga yang dianjurkan pada
pasien OA adalah berenang dan
bersepeda, kedua olah raga ini tidak
menggunakan beban berat tubuh sehingga
mengurangi nyeri sendi.
Jika tidak memungkinkan untuk kedua olah
raga tersebut maka jalan kaki di tempat
yang datar dan rata dapat dilakukan dan
disesuaikan dengan kemampuan masing-
masing penderita
Menggunakan alat bantu untuk sendi
seperti tongkat, walker, dan dekeratau
suatu alat pelindung untuk sendi dapat
membantu dalam melakukan aktivitas.

Konsultasikan dengan dokter mengenai


pilihan alat bantu yang tepat dengan
keadaan OA yang diderita.
Terapi Farmakologis

Parasetamol
Obat antiinflamasi non steroid
Obat-obat suplemen
Suntikan hyaluronat
Suntikan kortikosteroid
1. Paracetamol
Merupakan pilihan obat yang cukup aman untuk
mengobati OA, kecuali pada mereka yang alergi
terhadap obat ini.
Obat yang dikenal sebagai tablet penurun panas
ini mempunyai efek mengurangi rasa nyeri
sehingga dapat digunakan pada OA.
Pasien OA perlu mendapat anti nyeri selama
waktu tertentu sehingga bisa kembali
beraktivitas, melakukan latihan terhadap otot-
ototnya supaya otot-ototnya menjadi kuat dan
mengurangi beban terhadap sendinya.
2. Obat Anti Inflamasi Non-Steroid:

Penggunaan obat-obat ini harus melalui


konsultasi dengan dokter.
Efek samping obat-obat golongan ini
terutama mengenai lambung, ginjal dan
jantung, karena itu sebelum digunakan
harus berkonsultasi dengan dokter.
Obat golongan ini dapat mengurangi
radang yang terjadi di sendi dan
sekitarnya, sehingga rasa nyeri akan jauh
berkurang.
3. Obat-obat Suplemen
Glukosamin, kondrotin, diacerin dan
kapsaisin dll, merupakan suplemen untuk
OA yang banyak ditemukan dalam
masyarakat.
Meskipun relatif aman namun sebaiknya
konsultasikan juga dengan dokter,
bagaimana manfaatnya, sampai kapan
boleh digunakan dan efek apa yang harus
diperhatikan.
4. Suntikan Hyaluronat
Obat ini diberikan dalam bentuk suntikan
langsung ke dalam rongga sendi, berfungsi
sebagai pelumas dan menambah cairan sendi.
Penggunaannya harus hati-hati dan hanya boleh
dilakukan oleh dokter yang ahli dalam
menyuntikannya, karena jika tidak tepat / kurang
steril maka akan berbahaya bagi pasiennya.
Ada beberapa macam obat dengan kekentalan
yang berbeda-beda sehingga penyuntikannya
ada yang 1x atau 2-5x suntik dengan jarak 1x
seminggu.
5. Suntikan Kortikosteroid
Obat ini dapat digunakan pada keadaan
sendi yang meradang dan bengkak.
Dokter akan menyuntikan obat ini setelah
mengeluarkan terlebih dahulu cairan
berlebihan dari sendi yang bengkak,
fungsinya sebagai anti radang.
Penggunaan obat ini juga harus hati-hati
maksimal 3x dalam setahun karena kalau
terlalu sering malah berakibat kerusakan
pada sendi itu sendiri (steroid artropati).
Injeksi steroid
tidak boleh lebih dari 3x
dalam setahun
karena
justru bisa merusak rawan
sendi
Terapi bedah
Operasi / tindakan bedah merupakan alternatif
terapi bagi penderita OA yang sudah tidak
respon dengan terapi farmakologi maupun non
farmakologi di atas.

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan antara


lain adalah:
a. Artroskopi
b. Sinovektomi
c. Osteotomi
d. Penggantian sendi
a. Artroskopi

Menggunakan alat kecil


yang dimasukan ke dalam rongga sendi
untuk
membersihkan tulang rawan yang rusak
b. Sinovektomi

Operasi
untuk mengatasi jaringan sendi yang
mengalami peradangan
c. Osteotomi

Operasi
yang dilakukan terhadap salah satu bagian tulang
sehingga posisi
&
letaknya menjadi lebih baik
&
mengurangi rasa nyeri pasien
d. Penggantian Sendi

operasi menggantikan sendi yang rusak


dengan sendi baru yang terbuat dari
bahan metal
THANK YOU