Anda di halaman 1dari 16

SEJARAH DAN

EPIDEMOLOGI HIV/AIDS
HIV/AIDS DUNIA
Kejadian ini berawal pada musim panas di Amerika
Serikat tahun 1981, ketika itu untuk pertama
kalinya oleh Centers for Disease Control and
Prevention dilaporkan bahwa ditemukannya suatu
peristiwa yang tidak dapat dijelaskan sebelumnya
dimana ditemukan penyakit Pneumocystis Carinii
Pneumonia (infeksi paru-paru yang mematikan)
yang mengenai 5 orang homosexual di Los Angeles,
kemudian berlanjut ditemukannnya penyakit
Sarkoma Kaposi yang menyerang sejumlah 26 orang
homosexsual di New York dan Los Angeles. Beberapa
bulan kemudian penyakit tersebut ditemukan pada
pengguna narkoba suntik, segera hal itu juga
menimpa para penerima transfusi darah
Pada 1983, Dr.Luc Montagnier asal Perancis telah
menemukan virus yang menyebabkan AIDS, virus
tersebut diberi nama LAV (lymphadenopathy-
associated virus) yang kemudian setahun kemudian,
yaitu tahun 1984,
Dr.Robert Gallo asal Amerika Serikat juga
menyampaikan virus yang menjadi penyebab AIDS
yang dinamakan HTLV-III. Sampai akhirnya pada
tahun 1986, kedua pemimpin Perancis dan Amerika
Serikat bersepakat atas nama virus ini, yaitu HIV.
HIV adalah bagian dari keluarga atau kelompok
lentivirus. Lentivirus seperti HIV dapat
ditemukan dalam lingkup luas primata non-
manusia. Lentivirus yang lain, diketahui secara
kolektif sebagai virus monyet yang dikenal
dengan SIV (Simian Immunodeficiency Virus).
Dan sekarang secara umum diterima bahwa HIV
merupakan keturunan SIV
HIV/AIDS DI INDONESIA

HIV sendiri masuk ke Indonesia didapati pada


seorang turis asal Belanda, Edward Hop, 44,
yang meninggal di Bali. Hingga akhir 1987 ada 6
orang yang teridentifikasi HIV+ dan dua
diantaranya adalah penderita AIDS. Dan sampai
akhir 2001 di Indonesia, dari 671 pengidap
AIDS, 280 diantaranya meninggal dunia.
Sedangkan catatan UNAIDS memperkirakan jumlah
ODHA telah mencapai 40 juta jiwa di seluruh dunia
dan 70% nya berada di Afrika. Dan pada tahun 2002
sudah 3,1 juta orang meninggal karena AIDS.
Pada Juli 2003, Salah satu kasus baru yang belum
banyak diketahui orang lain adalah merebaknya
HIV/AIDS dikalangan para petugas kesehatan akibat
secara tidak sengaja tersuntik jarum suntik yang
biasa digunakan oleh para penderita penyakit yang
diidentikkan dengan penyakit seksual ini.
Kebanyakan yang terkena adalah para suster yang
bertugas untuk menyuntikkan zat anti viral (anti
virus) kepada para pasien penderita AIDS.
Salah satu cara yang telah dilakukan untuk
mengatasi hal ini adalah dengan pemberian obat
jenis post exposure prophylaxis atau pencegahan
pasca pajanan. Tujuannya, agar dapat dideteksi
apakah mereka positif terkena HIV/AIDS atau
tidak.
Melihat resiko kehancuran yang disebabkan oleh
wabah AIDS, badan kesehatan PBB untuk dunia,
WHO, pada 1988 menetapkan 1 Desember sebagai
World AIDS Day (Hari AIDS Sedunia) sebagai bentuk
kepedulian masyarakat dunia dalam memerangi dan
meningkatkan kewaspadaan atas HIV/AIDS.
Pada April 1991, kelompok Visual AIDS mencetuskan
REDRIBBON (PITA MERAH) sebagai simbol
internasional atas AIDS Awareness. Dan Pita Merah
dipakai pertama kali secara besar-besaran pada tahun
1992, saat konser musik mengenang Freddy Mercury,
personil Queen, yang meninggal juga akibat menderita
AIDS.
Selain menetapkan World AIDS Day, PBB juga
mendirikan suatu badan khusus yang menangani
masalah HIV/AIDS di seluruh dunia yang bernama
UNAIDS.
November 2001: Organisasi Perdagangan Dunia
(WTO) menyatakan obat untuk AIDS dan penyakit
lainnya dalam kasus tertentu boleh tidak dipatenkan.
Selain bulan Desember, yang diperingati sebagai
bulan peduli AIDS, disetiap pertengahan bulaun Mei,
masyarakat internasional memiliki kegiatan yang
disebut International AIDS Candle Light Memorial
(Malam Renungan AIDS). Kegiatan ini selain sebagai
media untuk menyampaikan pengetahuan tentang
HIV / AIDS, juga sebagai bentuk kepedulian
masyarakat terhadap HIV / AIDS.
EPIDEMOLOGI
Penyebaran HIV di Indonesia meningkat setelah
tahun 1995. Hal ini dapat dilihat pada tes
penapisan (screening) darah donor yang positif
HIV meningkat dari 3 per 100.000 kantong pada
1994 menjadi 16 per 100.000 kantong pada tahun
2000. Peningkatan 5 kali lebih tinggi dalam
waktu 6 tahun.
Pada tahun 2000 terjadi peningkatan penyebaran
epidemi HIV secara nyata melalui pekerja seks. Data
dari Tanjung Balai Karimui Merauke, Propinsi Irian
Jaya prevalensi HIV pada pekerja seks amat tinggi
yaitu 26,5% sedangkan di Propinsi Jawa Barat 5,5%
dan di DKI Jakarta 3,36%.
Sejak tahun 1999 terjadi fenomena baru penyebaran
HIV/AIDS yaitu infeksi HIV mulai terlihat pada para
pengguna Narkoba suntik. Penularan pada kelompok
ini terjadi secara cepat karena penggunaan jarum
suntik bersama. Sebagai contoh, pada

tahun 1999 hanya 18% pengguna narkoba suntik yang


dirawat di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO)
Jakarta yang terinfeksi HIV. Akan tetapi pada tahun
2000 angka tersebut meningkat dengan cepat menjadi
40% dan pada tahun 2001 menjadi 48%
Fakta baru pada 2002 menunjukkan bahwa penularan
infeksi HIV juga telah meluas ke rumah tangga. Di
beberapa wilayah di Jakarta dilaporkan bahwa sekitar
3% dari 500 ibu hamil yang dites secara sukarela
dalam kegiatan VCT (Voluntary Counseling and
Testing) sudah terinfeksi HIV.

Jadi, semua jenis penularan HIV ada di negara kita


dan sudah mengenai siapa saja bahkan hingga ke ibu
rumah tangga dan bayi yang dikandungnya.