Anda di halaman 1dari 17

ASSALAMUALAIKUM

.WR.WB
ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI DAN
AKSIOLOGI ILMU PENGETAHUAN
Dosen Pengampu:
Bahran Taib, S.Psi., M.Si.

Oleh:
Kelompok 10
1. Nurmagfirah A. Rahman
2. Nani Mariani Minarto
3. M. Ulfa Mahifa

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KHAIRUN
2016
A. Ontologi
1. Pengertian Ontologi Ilmu (Hakikat Ilmu)
Ontologi terdiri dari dua suku kata, yakni
ontos dan logos. Ontos berarti sesuatu yang
berwujud (being) dan logos berarti ilmu. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia ontologi artinya
cabang ilmu filsafat yg berhubungan dengan
hakikat hidup. Jadi ontologi adalah bidang pokok
filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan
segala sesuatu yang ada menurut tata hubungan
sistematis berdasarkan hukum sebab akibat
yaitu ada manusia, ada alam, dan ada kausa
2. Pandangan Pokok Pemikir dalam Pemahaman
Ontologi

Term ontologi pertama kali diperkenalkan oleh


Rudolf Goclenius pada tahun 1636 M. Untuk
menamai teori tentang hakikat yang ada yang
bersifat metafisis. Dalam perkembangannya
Christian Wolf (1679-1754) membagi metafisika
menjadi dua, yaitu:
Metafisika umum

Metafisika umum atau ontologi adalah cabang


filsafat yang membicarakan prinsip yang paling
dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang
ada.
Metafisika khusus

1) Kosmologi
2) Psikologi
3) Teologi
Sambungan . .
Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat
ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles.
Ontologi dapat diartikan sebagai ilmu atau teori tentang
wujud hakikat yang ada. Objek ilmu atau keilmuan itu
adalah dunia empirik, dunia yang dapat dijangkau
pancaindera. Dengan demikian, objek ilmu adalah
pengalaman inderawi. Dengan kata lain, ontologi adalah
ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu yang
berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada logika
semata. Pengertian ini didukung pula oleh pernyataan
Runes bahwa ontology is the theory of being qua being,
artinya ontologi adalah teori tentang wujud.
Sambungan . .

Sedangkan arti metafisika itu sendiri menurut Reza A.A


Wattimena, dalam bukunya yang berjudul Filsafat dan
Sains; Sebuah Pengantar adalah cabang filsafat yang
merefleksikan hakekat dari realitas pada levelnya yang
paling abstrak. Ada beberapa pandangan pemahaman
tentang ontologi, diantaranya yaitu:
a. Monoisme
b. Dualisme
c. Pluralisme
d. Nihilisme
e. Agnostisisme
3. Pendekatan Ontologis
Secara ontologis ilmu membatasi lingkup penelaahan
keilmuannya hanya pada daerah-daerah yang berada
dalam jangkauan pengalaman manusia. Objek penelaahan
yang berada dalam batas pra-pengalaman dan pasca-
pengalaman diserahkan ilmu kepada pengetahuan ilmu.
Ilmu hanya merupakan salah satu pengetahuan dari
sekian banyak pengetahuan yang mencoba menelaah
kehidupan dalam batas ontologis tertentu. Penetapan
lingkup batas penelaahan keilmuan yang bersifat empiris
ini adalah konsisten dengan asas epistemologi keilmuan
yang mensyaratkan adanya verifikasi secara empiris
dalam proses penemuan dan penyusunan pernyataan
yang bersifat benar secara ilmiah.
B. Epistemologi
1. Pengertian Epistemologi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,


epistemologi dimaknai dengan cabang ilmu
filsafat tertentu, dasar-dasar dan batas-batas
pengetahuan. Istilah epistemologi sendiri berasal
dari bahasa Yunani episteme = pengetahuan dan
logos = perkataan, pikiran, ilmu. Kata
episteme dalam bahasa Yunani berasal dari
kata kerja epistamai, artinya mendudukkan,
menempatkan, atau meletakkan. Maka, harfiah
episteme berarti pengetahuan sebagai upaya
intelektual untuk menempatkan sesuatu dalam
kedudukan setepatnya. Epistemology kadang
juga disebut teori pengetahuan (theory of
knowledge; Erkentnistheorie).
2. Objek dan Tujuan Epistemologi

Objek epistemologi menurut Jujun S. Suriasumantri


berupa segenap proses yang terlibat dalam
usaha kita untuk memperoleh pengetahuan.
Proses untuk memperoleh pengetahuan inilah
yang menjadi sasaran teori pengetahuan dan
sekaligus berfungsi mengantarkan tercapainya
tujuan, sebab sasaran itu merupakan suatu tahap
pengantara yang harus dilalui dalam mewujudkan
tujuan. Tanpa suatu sasaran, mustahil tujuan bisa
terealisir, sebaliknya tanpa suatu tujuan, maka
sasaran menjadi tidak terarah sama sekali.

Sedangkan tujuan epistemologi yaitu ingin


memiliki potensi untuk memperoleh
pengetahuan.
3. Landasan Epistemologi

Landasan epistemologi ilmu tercermin secara


operasional dalam metode ilmiah. Pada
dasarnya metode ilmiah merupakan cara
ilmu memperoleh dan menyusun tubuh
pengetahuannya berdasarkan:
(a) kerangka pemikiran yang bersifat logis
dengan argumentasi yang bersifat konsisten
dengan pengetahuan sebelumnya yang telah
berhasil disusun
(b) menjabarkan hipotesis yang merupakan
deduksi dari kerangka pemikiran tersebut
(c) melakukan verifikasi terhadap hipotesis
termaksud untuk menguji kebenaran
pernyataannya secara faktual.
4. Metode dan Metodologi

Perlu ditelusuri di mana posisi metode dan


metodologi dalam konteks epistemologi untuk
mengetahui kaitan-kaitannya, antara metode,
metodologi dan epistemologi. Dalam dunia
keilmuan, ada upaya ilmiah yang disebut metode
yaitu cara kerja untuk dapat memahami objek yang
menjadi sasaran ilmu yang sedang dikaji. Sedangkan
metodologi adalah ilmu yang mempelajari prosedur
atau cara-cara mengetahui sesuatu.
Makna epistemologi itu sendiri merupakan hal yang
mengkaji perihal urutan langkah-langkah yang
ditempuh supaya pengetahuan yang diperoleh
memenuhi ciri-ciri ilmiah. Filsafat mencakup
bahasan epistemologi, epistemologi mencakup
bahasan metodologi, dan dari metodologi itulah
akhirnya diperoleh metode.
5. Hubungan Epistemologi dengan Ilmu-Ilmu
Lain

a. Hubungan Epistemologi dengan Ilmu


Logika
b. Hubungan epistemologi dengan Filsafat
c. Hubungan epistemologi dengan Teologi
dan ilmu tafsir
B. Aksiologi
1.Pengertian Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat yang
membicarakan tentang orientasi atau nilai
suatu kehidupan. Disebut juga teori nilai,
karena ia dapat menjadi sarana orientasi
manusia dalam usaha menjawab suatu
pertanyaan yang amat fundamental, yakni
bagaimana manusia harus hidup dan
bertindak? Teori nilai atau aksiologi ini
kemudian melahirkan etika dan estetika.
Dengan kata lain, aksiologi adalah ilmu
yang menyoroti masalah nilai dan
kegunaan ilmu pengetahuan itu. Secara
moral dapat dilihat apakah nilai dan
2. Landasan Aksiologi Ilmu
Landasan aksiologi ilmu menyangkut
permasalahan pertama, apakah ilmu
mendekatkan manusia pada kebenaran
Tuhan itu sendiri. Kedua, apakah ilmu
bermanfaat bagi kehidupan manusia itu
sendiri. Ketiga, apakah ilmu itu bebas
nilai atau tidak bebas nilai, sebab nilai
nilai menyatu dengan ilmu itu sendiri.
3. Hakikat dan Makna Nilai
a. Nilai sepenuhnya berhakikat subjektif
b. Nilai merupakan kenyataan ditinjau dari
segi ontologi, namun tidak terdapat
dalam ruang dan waktu
c. Nilai merupakan unsur-unsur obyektif
yang menyusun kenyataan Pendirian ini
disebut obyektivitas metafisik.
4. Kegunaan dan Nilai Ilmu
Kegunaan ilmu secara moral harus ditujukan
untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan
martabat atau mengubah hakikat
kemanusiaan. Tiap ilmu terutama dalam
implementasinya selalu terkait dengan
aksiologinya. Dalam hal ini akan dijelaskan
seberapa jauh ilmu mempunyai peranan dalam
membatu mencapai kehidupan manusia yang
sejahtera di dunia ini atau apakah manfaat
ilmu bagi kehidupan manusia di dunia ini.
Terima Kasih . .

Wassalamualaikum Wr.
Wb.