Anda di halaman 1dari 65

PNEUMONIA

Disusun Oleh :
Winda Aisyah Panjaitan G99141107
Irsalina Nur Shabrina G99141108
Astari Rindu Astuti G99141109
Andreas Peter Patar BS G99141110
Atma Sanggani Tunikasari G99141111
Firza Fatchya G99141117
Kevin Wahyudy P G99141118
Surya Adhi P G99141119
Pembimbing : Engine Rabindra A G99141120
Dr. Reviono, dr., Sp.P (K) Ginanjar Tenri S G99141121
Chantika Bunga G99151013
Reyhana Mustafa G99151014
Pertiwi Rahmadhany G99151015
Rizka Abida G99151016
Medita Prasetyo G99151017

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENDIDIKAN PULMONOLOGI DAN ILMU


KEDOKTERAN RESPIRASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2015
PENDAHULUAN
. Pneumonia suatu peradangan akut parenkim
paru yang disebabkan oleh mikroorganisme
(bakteri, virus, parasit).

sering pada anak balita, juga ditemukan


pada orang dewasa, dan usia lanjut.

Bakteri : Streptococcus dan Mycoplasma


pneumonia
Virus : adenoviruses, rhinovirus, influenza virus,
respiratory syncytial virus (RSV) dan para
influenza virus
Riset Kesehatan Dasar th 2013: peningkatan prevalensi
pneumonia 11,2% tahun 2007 menjadi 18,5% pada tahun
2013.
Hasil SDKI; prevalensi pneumonia terus meningkat, yaitu
7,6% pada tahun 2002 menjadi 11,2% pada tahun 2007
(BPS,2007)

Insiden tertinggi pneumonia kelompok umur 12-23 bulan


(21,7%)

Pneumonia termasuk dalam 10 besar penyakit rawat inap


di RS ; kasus 53,95 % laki-laki dan 46,05 % perempuan,
dengan crude fatality rate (CFR) 7,6 %, paling tinggi
dibandingkan penyakit yang lainnya (Kemenkes RI, 2012).
TUJUAN MAKALAH
Mengetahui anatomi dan fisiologi paru
Mengetahui definisi pneumonia
Mengetahui etiologi pneumonia
Mengetahui patofisiologi pneumonia
Mengetahui penegakan diagnosis pada
kasus pneumonia
Mengetahui tatalaksana kasus pneumonia
STATUS PASIEN
ANAMNESIS
Identitas Pasien
Nama : Ny. TM
Umur: 63 tahun
Jenis Kelamin : Wanita
Status : Menikah
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Agama : Islam
Alamat : Banjarsari, Surakarta
Tgl Masuk : 11 Oktober 2015
Tgl Pemeriksaan: 11 Oktober 2015 16 Oktober 2015
No. RM : 01316554
Keluhan Utama : Sesak napas

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke IGD RS Dr. Moewardi dengan keluhan utama
sesak napas. Sesak napas dialami pasien sejak 1 minggu
sebelum masuk rumah sakit (SMRS) dan memberat 2 hari
SMRS. Sesak napas tidak dipengaruhi cuaca atau debu dan
tidak diperberat oleh aktivitas. Tidak ada keluhan terbangun
pada malam hari karena sesak.
Pasien juga mengeluhkan batuk sejak 3 minggu SMRS. Batuk
disertai dahak berwarna putih dan berubah menjadi kekuningan
sejak 1 minggu SMRS dengan peningkatan jumlah dahak.
Pasien mengeluh demam 1 minggu SMRS. Riwayat demam
sumer-sumer tidak ada. Tidak ada keluhan nyeri dada dan
keringat saat malam hari. Pasien mengalami penurunan nafsu
makan dan penurunan berat badan 5 kg dalam 1 tahun terakhir.
Pasien tidak mengeluhkan adanya gangguan BAB dan BAK.
Riwayat Penyakit Riwayat Penyakit
Dahulu Keluarga

Riwayat sakit serupa : Riwayat hipertensi :


disangkal disangkal
Riwayat alergi : Riwayat sakit jantung :
disangkal disangkal
Riwayat DM : Riwayat DM :
disangkal disangkal
Riwayat OAT : Riwayat asma :
disangkal disangkal
Riwayat hipertensi : Riwayat alergi :
disangkal disangkal
Riwayat sakit jantung : Riwayat TB :
disangkal disangkal
Riwayat asma :
Riwayat Sosial
Riwayat Kebiasaan
Ekonomi

Merokok : pasif (+) Pasien berobat


Minum alkohol : menggunakan
disangkal fasilitas BPJS. Pasien
adalah seorang ibu
rumah tangga dan
tinggal bersama
suami, anak, dan
cucunya.
PEMERIKSAAN FISIK

1. Keadaan Umum
Tampak sesak, GCS E4V5M6 (compos mentis)
2. Tanda Vital
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Pernapasan : 32 x/menit
Nadi : 108 x/menit
Suhu : 38oC
SpO2 : 98% dengan O2 3 lpm
3. Mata
Konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks cahaya
(+/+), pupil isokor (3mm/3mm), oedem palpebra (-/-)
4. Hidung
Nafas cuping hidung (-/-), deformitas (-), darah (-/-), sekret
(-/-)
5. Telinga
Deformitas (-/-), darah (-/-), sekret (-/-)
6. Mulut
Bibir kering (-), sianosis (-), lidah kotor (-), tonsil T1-T1,
faring hiperemis (-), stomatitis (-), mukosa pucat (-), gusi
berdarah (-), papil lidah atrofi (-)
7. Leher
JVP tidak meningkat, KGB tidak membesar, benjolan (-)
8. Paru
a. Paru (anterior)
Inspeksi statis : Permukaan dada kanan = kiri
Inspeksi dinamis : Pengembangan dada kanan = kiri
Palpasi : Fremitus taktil kanan = kiri
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : SDV (+/+), RBK (-/+), wheezing (-/-)
b. Paru (posterior)
Inspeksi statis : Permukaan dada kanan = kiri
Inspeksi dinamis : Pengembangan dada kanan = kiri
Palpasi : Fremitus taktil kanan = kiri
Perkusi : hipersonor/hipersonor
Auskultasi : SDV (+/+), RBK (-/+), wheezing (-/-)
9. Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis tidak kuat angkat
Perkusi : Batas jantung kesan tidak melebar
Auskultasi : Bunyi jantung I dan II intensitas normal,
reguler, bising (-)
10. Abdomen
Inspeksi : dinding perut sejajar dinding dada
Auskultasi : bising usus (+) normal
Perkusi : timpani
Palpasi : supel, nyeri tekan (-), hepar/lien tidak teraba
11. Ekstremitas
Oedem Akral dingin
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
Hasil Laboratorium 11 Oktober 2015
PEMERIKSAAN HASIL SATUAN RUJUKAN

HEMATOLOGI RUTIN

Hemoglobin 11,4 g/dl 12.1 17.6


Hematokrit 35 % 33 45
Leukosit 22,9 ribu/ul 4.5 11.0
Trombosit 304 ribu/ul 150 450
Eritrosit 3.60 juta/ul 4.50 5.90
INDEX ERITROSIT
MCV 95.7 /um 80.0 - 96.0
MCH 31.7 Pg 28.0 33.0
MCHC 33.0 g/dl 33.0 36.0
RDW 11.6 % 11.6 14.6
MPV 8.1 Fl 7.2 - 11.1
PDW 16 % 25-65
HITUNG JENIS
Eosinofil 0.20 % 0.00 4.00
Basofil 0.30 % 0.00 2.00
Netrofil 89.80 % 55.00 80.00
Limfosit 4.90 % 22.00 44.00
Monosit 4.80 % 0.00 7.00
KIMIA KLINIK

Glukosa Darah Sewaktu 196 mg/dl 60 140


SGOT 22 u/l < 35
SGPT 18 u/l <45
Albumin 3.2 g/dl 3.2 4.6
Creatinine 0.6 mg/dl 0.8 1.3
Ureum 29 mg/dl < 50
ELEKTROLIT

Natrium darah 132 mmol/L 136 146


Kalium darah 3.4 mmol/L 3.7 5.4
Chlorida darah 92 mmol/L 98 106
ANALISIS GAS DARAH
PH 7.430 7.310 7.420
BE 2.7 mmol/L -2 +3
PCO2 42.0 mmHg 27.0 41.0
PO2 91.0 mmHg 80.0 100,0
Hematokrit 34 % 37 50
HCO3 27.2 mmol/L 21.0 28.0
Total CO2 28.5 mmol/L 19.0 -24.0
O2 Saturasi 97.0 % 94.0 98.0
LAKTAT
Arteri 1.64 mmol/L 0.36 0.75
SEROLOGI HEPATITIS

HBsAg Nonreactive Nonreactive


ENZIM JANTUNG
Troponin <0.01 ug/L 0.0 0.50
CKMB 0.94 ng/mL <2.9
Foto Thorax 11 Oktober 2015
Cor: ukuran dan bentuk normal
Pulmo: tak tampak infiltrat di kedua lapang paru,
tampak hyperaerated paru kanan kiri
Sinus costophrenicus kanan kiri anterior posterior
tajam
Retrosternal dan retrocardiac space normal
Hemidiaphragma kanan kiri mendatar
Trakhea ditengah
SIC kanan kiri melebar

Kesimpulan :
Emfisema paru
RESUME
Pasien datang ke IGD RS Dr. Moewardi dengan keluhan sesak napas
sejak 2 hari SMRS. Sesak napas dirasakan hilang timbul, terutama
pada malam hari, serta dipengaruhi cuaca dan aktivitas. Pasien
mengeluhkan terdengar bunyi ngik-ngik saat sesak napas.
Pasien juga mengeluh batuk sejak 2 hari sebelum masuk rumah
sakit. Batuk disertai dahak berwarna kuning kental tanpa disertai
bercak darah. Terdapat riwayat demam pada 5 hari yang lalu.
Demam dirasakan sumer-sumer, disertai nyeri tenggorok. Pasien
tidak mengeluhkan adanya gangguan BAB dan BAK
Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 120/80 mmHg, RR
28 x/menit, nadi 108x/menit, suhu 36,5 oC per aksiler, saturasi O2
97% dengan O2 3 lpm. Pada pemeriksaan fisik, terdengar suara
wheezing di kedua lapang paru.
Pada pemeriksaan laboratorium darah didapatkan hasil
hiperglikemia, hiponatremia, hipokalemia, hipokloremia. Analisis gas
darah didapatkan kesan alkalosis metabolik terkompensasi
sempurna Sedangkan dari pemeriksaan radiologis foto thoraks
PA/Lat tampak gambaran emfisema paru.
DIAGNOSIS BANDING
Pneumonia community KR III
Presumptive TB

DIAGNOSIS KERJA
Pneumonia community KR III dengan sepsis
TERAPI

O2 2 lpm
Diet sepsis 500 kkal/hari
IVFD NaCl 0,9% 20 tpm
Aminofluid 1 flabot/ 24 jam
Inj. Lefofloxacin 750 mg/ 24 jam
Inj. Ranitidin 50 mg/ 24 jam
N-acetil sistein 3 x 200 mg
Paracetamol 3 x 500 mg
Vitamin B 3 x 1 tab
PLANNING

Cek sputum Mo/K/GR/R


Kultur darah
AGD ulang bila terjadi perburukan
Konsul Jantung
Konsul Gigi dan Mulut
Konsul Gizi
Monitoring KU/VS per 4 jam, balance cairan
per 12 jam
PROGNOSIS

Ad vitam : dubia ad bonam


Ad sanam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
FOLLOW UP
Tanggal Keluhan/KU/VS Pemeriksaan Diagnosis/Penatalaksanaan
13/10/15 S: batuk (+), sesak Pemeriksaan Fisik: Diagnosis
DPH I menurun Thoraks : retraksi (-) Pneumonia komuniti KR III
Jantung : DBN dengan sepsis
O: Paru anterior Presumptive TB
TD : 110/70 mmHg - Inspeksi statis : Simetris,
Nadi : 92 x/m dinding dada kiri = kanan Terapi
RR : 24 x/m - Inspeksi dinamis : 1. IVFD NaCl 0,9% 20 tpm
Suhu : 37,5C/aksiler Pengembangan dada ki = ka 2. Diet sepsis 500 kkal/ hari
SiO2 : 98% (O2 ruang) - Palpasi: Fremitus raba ki = ka 3. O2 2 lpm
- Perkusi : Sonor/sonor 4. Levofloxacyn 750 mg/ 24 jam
- Auskultasi : SDV (+/+), (II)
wheezing (-/-), RBK (-/+) 5. NAC 3 x 200
Paru posterior 6. PCT 3 x 500 mg
- Inspeksi statis : Simetris, 7. Ranitidin 50 mg / 12 jam
dinding dada kiri = kanan 8. Vit BC 3 x 1
- Inspeksi dinamis :
Pengembangan dada ki= ka Plan
- Palpasi: Fremitus raba ki = ka 1. Sputum BTA 3x
- Perkusi : Sonor/sonor
- Auskultasi : SDV (+/+),
wheezing (-/-), RBH (-/+)
Tanggal Keluhan/KU/VS Pemeriksaan Diagnosis/Penatalaksanaan
13/10/15 S: batuk (+), sesak (+) Pemeriksaan Fisik: Diagnosis
DPH II Thoraks : retraksi (-) Pneumonia komuniti KR III
O: Jantung : DBN dengan sepsis
TD : 110/80 mmHg Paru anterior Presumptive TB
Nadi : 90x/ m - Inspeksi statis : Simetris,
RR : 24x/m dinding dada kiri = kanan Terapi
Suhu : 36,5C/aksiler - Inspeksi dinamis : 1. IVFD NaCl 0,9% 20 tpm
SiO2 : 98% (O2 ruang) Pengembangan dada ki = ka 2. Diet sepsis 500 kkal/ hari
- Palpasi : Fremitus raba ki = ka 3. O2 2 lpm
- Perkusi : Sonor/sonor 4. Levofloxacyn 750 mg/ 24 jam
- Auskultasi : SDV (+/+), (V)
wheezing (-/-), Ronki (-/+) 5. NAC 3 x 200
Paru posterior 6. Ranitidin 50 mg / 12 jam
- Inspeksi statis : Simetris, 7. Vit BC 3 x 1
dinding dada kiri = kanan
- Inspeksi dinamis :
Pengembangan dada ki = ka
- Palpasi : Fremitus raba ki = ka
- Perkusi : Sonor/sonor
- Auskultasi : SDV (+/+),
wheezing (-/-), RBK (-/+)
Tanggal Keluhan/KU/VS Pemeriksaan Diagnosis/Penatalaksanaan
14/10/15 S: batuk (+), sesak (+) Pemeriksaan Fisik: Diagnosis
DPH III Thoraks : retraksi (-) Pneumonia komuniti KR III
O: Jantung : DBN dengan sepsis
TD : 110/70 mmHg Paru anterior: Presumptive TB
Nadi : 92 x/ m - Inspeksi statis : Simetris,
RR : 24x/m dinding dada kiri = kanan Terapi
Suhu : 36,5C/aksiler - Inspeksi dinamis : 1. IVFD NaCl 0,9% 20 tpm
SiO2 : 96% (O2 ruang) Pengembangan dada ki = ka 2. Diet sepsis 500 kkal/ hari
- Palpasi : Fremitus raba ki = ka 3. O2 2 lpm
- Perkusi : Sonor/sonor 4. Levofloxacyn 750 mg/ 24 jam
- Auskultasi : SDV (+/+), (IV)
wheezing (-/-), RBK (-/+) 5. NAC 3 x 200
Paru posterior 6. Ranitidin 50 mg / 12 jam
- Inspeksi statis : Simetris, 7. Vit BC 3 x 1
dinding dada kiri = kanan
- Inspeksi dinamis : Plan
Pengembangan dada ki = ka 1. DR3 besok
- Palpasi : Fremitus raba ki = ka
- Perkusi : Sonor/sonor
- Auskultasi : SDV (+/+),
wheezing (-/-), RBK (-/+)
Tanggal Keluhan/KU/VS Pemeriksaan Diagnosis/Penatalaksanaan
15/10/15 S: batuk (+), sesak (+) Pemeriksaan Fisik: Diagnosis
DPH IV Thoraks : retraksi (-) Pneumonia komuniti KR III
O: Jantung : DBN dengan sepsis
TD : 110/80 mmHg Paru anterior: Presumptive TB
Nadi : 90 x/ m - Inspeksi statis : Simetris,
RR : 24x/m dinding dada kiri = kanan Terapi
Suhu : 36,5C/aksiler - Inspeksi dinamis : 1. IVFD NaCl 0,9% 20 tpm
SiO2 : 98% (O2 ruang) Pengembangan dada ki = ka 2. Diet sepsis 500 kkal/ hari
- Palpasi : Fremitus raba ki = ka 3. O2 2 lpm
- Perkusi : Sonor/sonor 4. Levofloxacyn 750 mg/ 24 jam
- Auskultasi : SDV (+/+), (V)
wheezing (-/-), RBK (-/+) 5. NAC 3 x 200
Paru posterior 6. Ranitidin 50 mg / 12 jam
- Inspeksi statis : Simetris, 7. Vit BC 3 x 1
dinding dada kiri = kanan
- Inspeksi dinamis :
Pengembangan dada ki = ka
- Palpasi: Fremitus raba ki = ka
- Perkusi : Sonor/sonor
- Auskultasi : SDV (+/+),
wheezing (-/-), RBK (-/+)
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
Secara kinis pneumonia didefinisikan
sebagai suatu peradangan paru yang
disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri,
virus, jamur, parasit).
ANATOMI PULMO

Gambar kiri: anatomi pulmo; kanan: gambar


pneumonia
FISIOLOGI SISTEM
RESPIRASI

Sewaktu menarik
Udara masuk ke paru- Hembusan napas
napas (inspirasi)
paru melalui pipa keluar (ekspirasi)
dinding dada secara
yang menyempit disebabkan
aktif tertarik keluar
(bronchi dan mengkerutnya paru-
oleh pengerutan
bronkiolus) yang paru dan dinding
dinding dada, dan
bercabang di kedua yang mengikuti
sekat rongga dada
belah paru-paru pengembangan.
(diafragma) tertarik
utama (trachea). Pipa Tekanan udara yang
ke bawah.
tersebut berakhir di meningkat di dalam
Berkurangnya
gelembung- dada memaksa gas-
tekanan di dalam
gelembung paru-paru gas keluar dari paru-
menyebabkan udara
(alveoli) paru
mengalir ke paru-paru
Pengukuran fungsi pernafasan

Volume Volume
Volume
menit cadangan
tidal
respirasi inspiratori

Volume Volume
Kapasitas
cadangan udara
total paru
ekspiratori residu
Respirasi eksternal artinya udara dari
atmosfer masuk ke dalam aliran darah
untuk dibawa ke dalam sel jaringan
dan karbondioksida yang terkumpul di
dalam paru dikeluarkan dari tubuh.

Respirasi internal meliputi aktivitas


vital kimia yang memerlukan
kombinasi oksigen dan glikogen,
kemudian dilepaskan menjadi energi,
air dan karbondioksida
ETIOLOGI
Disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan
protozoa

Pneumonia komuniti disebabkan bakteri Gram


positif

Pneumonia RS disebabkan bakteri Gram negatif

Pneumonia aspirasi disebabkan bakteri anaerob

Di Indonesia, pneumonia komuniti disebabkan


bakteri Gram negatif
PATOFISIOLOGI
1. Inokulasi
langsung Infeksi
2. Penyebaran bakteri
melalui
pembuluh Merusak epitel
darah permukaan saluran
3. Inhalasi pernafasan 1. Zona luar
bahan aerosol 2. Zona permulaan
4. Kolonisasi Radan konsolidasi
dipermukaan g 3. Zona konsolidasi
mukosa yang luas
Edema seluruh 4. Zona resolusi
alveoli

Infiltrasi sel-sel PMN dan diapedesis eritrosit

Terbentuknya
antibodi

Terjadi peperangan antara host dan


bakteri
DIAGNOSIS
A. GAMBARAN KLINIS

ANAMNESIS PEMERIKSAAN FISIK

Demam, menggigil, Temuan pemeriksaan


suhu tubuh meningkat fisik dada tergantung
dapat melebihi 400C dari luas lesi di paru
Batuk dengan dahak Inspeksi dapat terlihat
mukoid atau purulen bagian yang sakit
kadang-kadang disertai tertinggal waktu
darah bernapas
Sesak napas Palpasi fremitus dapat
Nyeri dada mengeras
Perkusi redup
Auskultasi terdengar
suara napas
bronkovesikuler sampai
bronkial yang mungkin
disertai ronki basah
B. PEMERIKSAAN PENUNJANG
PEMERIKSAAN
GAMBARAN RADIOLOGIS
LABORATURIUM
Foto toraks (PA/lateral) Terdapat peningkatan
merupakan pemeriksaan jumlah leukosit, biasanya
penunjang utama untuk lebih dari 10.000/ul
menegakkan diagnosis. kadang-kadang
Gambaran radiologis mencapai 30.000/ul, dan
dapat berupa infiltrat pada hitungan jenis
sampai konsolidasi leukosit terdapat
dengan " air pergeseran ke kiri serta
broncogram, penyebab terjadi peningkatan LED
bronkogenik dan Diagnosis etiologi
interstisial serta diperlukan pemeriksaan
gambaran kavitas dahak, kultur darah dan
serologi. Kultur darah
dapat positif pada 20-
25% penderita yang
tidak diobati
PENATALAKSANAAN
Dalam hal mengobati penderita
pneumonia perlu diperhatikan
keadaan klinisnya. Bila keadaan klinis
baik dan tidak ada indikasi rawat
dapat diobati di rumah

Juga diperhatikan ada tidaknya faktor


modifikasi yaitu keadaan yang dapat
meningkatkan risiko infeksi dengan
mikroorganisme pathogen yang
spesifik misalnya S. pneumoniae yang
resisten penisilin
Penatalaksanaan Pneumionia
Komuniti

Penderita Rawat Jalan


Pengobatan suportif/simptomatik
- Istirahat di tempat tidur
- Minum secukupnya untuk mengatasi dehidrasi
- Bila panas tinggi perlu dikompres atau minum
obat penurun panas
- Bila perlu dapat diberikan mukolitik dan
ekspektoran

Pemberian antiblotik harus diberikan (sesuai


bagan) kurang dari 8 jam
Penderita rawat inap di ruang rawat biasa
Pengobatan suportif / simptomatik
- Pemberian terapi oksigen
- Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi kalori dan
elektrolit
- Pemberian obat simptomatik antara lain antipiretik, mukolitik
Pengobatan antibiotik harus diberikan (sesuai bagan) kurang
dari 8 jam

Penderita rawat inap di Ruang Rawat Intensif


Pengobatan suportif / simptomatik
- Pemberian terapi oksigen
- Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi kalori dan
elektrolit Pemberian obat simptomatik antara lain antipiretik,
mukolitik
Pengobatan antibiotik (sesuai bagan.) kurang dari 8 jam
Bila ada indikasi penderita dipasang ventilator mekanik
Pengobatan Pneumonia Atipik

Antibiotik masih tetap merupakan pengobatan


utama pada pneumonia termasuk atipik.
Antibiotik terpilih pada pneumonia atipik yang
disebabkan oleh M.pneumoniae,
C.pneumoniae dan Legionella adalah
golongan (PDPI, 2014):

Makrolid baru (azitromisin, klaritromisin,


roksitromisin)
Fluorokuinolon respiness
Doksisiklin
Terapi Sulih (switch
therapy)
Masa perawatan di rumah sakit sebaiknya dipersingkat
dengan perubahan obat suntik ke oral dilanjutkan dengan
berobat jalan, untuk mengurangi biaya perawatan dan
mencegah infeksi nosokomial. Obat suntik dapat diberikan 2-3
hari, paling aman 3 hari, kemudian pada hari ke 4 diganti obat
oral dan penderita dapat berobat jalan.

Kriteria untuk perubahan obat suntik ke oral pada pneumonia


komuniti (PDPI, 2014):
Tidak ada indikasi untuk pemberian suntikan lagi
Tidak ada kelainan pada penyerapan saluran cerna
Penderita sudah tidak panas 8 jam
Gejala klinik membaik (mis: frekuensi pernapasan, batuk)
Leukosit menuju normal/normal
EVALUASI PENGOBATAN
ANALISIS KASUS
ANALISIS KASUS

Mengigil, suhu
Pneumonia:
>40, batuk dahak
peradangan
mucoid/purulen,
parenkim paru krn
sesak napas & nyeri
mikroorganisme
dada
ANALISIS KASUS

Sesak tdk
Sesak krn
dipengaruhi
Keluhan utama: penumpukan
aktivitas &
sesak nafas cairan alveolus
PND
krn infeksi
gang. kardio

Sesak tdk
Ada demam
dipengaruhi
proses
cuaca/debu
inflamasi akut
Asma
ANALISIS KASUS
Batuk produktif
Sputum
& perubahan
kekuningan
karakteristik
(purulent)
sputum
infeksi bakteri
infeksi paru akut

Batuk 3 minggu,
keluhan lain yg
mendukung TB (-)
tp px sputum
tetap dilakukan
ANALISIS KASUS

RR
Ronki di
suhu paru kiri
inflamasi cairan
akut di saluran
nafas
Menduku
ng
pneumoni
a
ANALISIS KASUS

Analisa gas
Foto thorax
darah
infiltrate paru Sputum BTA (-)
alkalosis
kiri
metabolik

Urinalisa sel
penumpukan squamosal, leukosit
laktat di darah transisional, darah
mukus
ANALISIS KASUS

Sesak

suhu Ronki di
tubuh paru kiri

Pneumo
Karakteristi
nia leukosit
k sputum
komuniti
ANALISIS KASUS

Sputum
purulent
Tidak ada
Batuk gejala lain
produktif di luar
paru

Pneumo
Onset leukositosi
nia
akut s
atipikal
ANALISIS KASUS
PSI (Pneumonia Severity Index)

Karakteristik Nilai
Pasien
Umur 63-10= 53

Frekuensi napas 20
> 30x/mnt

Suhu tubuh > 15 PSI 88 rawat


35oC inap, kelas
resiko II, angka
JUMLAH 88 kematian 2,8%
ANALISIS KASUS
Terapi

Antibiotik awal,
secara empiris
(fluorokuinolon Pemberian
Infus rehidrasi
respirasi IV atau oksigen

lactam+makrolid)

Koreksi kalori &


Antipiretik Mukolitik
elektrolit
ANALISIS KASUS
Adapun kriteria untuk perubahan
obat suntik ke oral pada pneumonia
komuniti (PDPI, 2014):
Tidak ada Tidak ada
kelainan pada Penderita
indikasi untuk
penyerapan sudah tidak
pemberian
suntikan lagi saluran cerna panas 8 jam

Gejala klinik
membaik (mis Leukosit
: frekuensi menuju
pernapasan, normal/normal
batuk)
ANALISIS KASUS

Follow up Sesak & RR


pasien : batuk 24x/mnt

Gejala Ab blm
Pasien
klinis blm bisa
blm bs
semua diganti
rawat jalan
membaik oral
ANALISIS KASUS

Angka
kematian Keparahan Kelas resiko
pasien ini kelas III rendah
2,8%

Jika
penanganan
PSI 88
baik
prognosis baik
Derajat keparahan
PNEUMONIA SEVERITY INDEX
(PSI)
Kelas Angka Perawata
Total poin Risiko
risiko kematian n
Tidak
I 0,1% Rawat jalan
dipredeiksi
< 70 II 0,6% Rawat jalan
Rendah
Rawat
71 90 III 2,8% jalan/rawat
inap
91 130 Sedang IV 8,2% Rawat inap
> 130 Berat V 29,2% Rawat inap
PENUTUP
KESIMPULAN SARAN
Pneumonia adalah Penyakit pneumonia
penyakit saluran napas sebenarnya merupakan
bawah (lower respiratory manifestasi dari rendahnya
tract (LRT)) akut, biasanya daya tahan tubuh
disebabkan oleh infeksi. seseorang akibat adanya
Sebenarnya pneumonia peningkatan kuman
bukan penyakit tunggal. patogen seperti bakteri
Penyebabnya bisa yang menyerang saluran
bermacam-macam dan pernapasan.
diketahui ada sumber Oleh karena itu sangat
infeksi, dengan sumber diperlukan menjaga daya
utama bakteri, virus, tahan tubuh dengan
mikroplasma, jamur, memperhatikan nutrisi dan
berbagai senyawa kimia kesehatan tubuh.
maupun partikel.
Penyakit ini dapat terjadi
pada semua umur,
walaupun manifestasi
TERIMA KASIH