Anda di halaman 1dari 15

Buku Sumber :

1. Dwi Martani, et al. Akuntansi Keuangan


Menengah Berbasis PSAK. Salemba Empat.
Jakarta. 2015.
2. Standar Akuntansi Keuangan. IAI. 2015
Materi :
1. BAB 11 LIABILITAS JANGKA PENDEK, PROVISI, DAN
KONTRIBUSI
2. BAB 12 LIABILITAS JANGKA PANJANG
3. BAB 13 EKUITAS: MODAL DISETOR
4. BAB 14 EKUITAS: SALDO LABA, DIVIDEN, SAHAM
TREASURI, DAN PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN
5. BAB 15 SEKURITAS DILUSIAN DAN LABA PER SAHAM
6. BAB 16 INVESTASI: INSTRUMEN EKUITAS DAN UTANG
7. BAB 17 PENDAPATAN
8. BAB 18 AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN
9. BAB 19 IMBALAN KERJA
10. BAB 20 AKUNTANSI SEWA
11. BAB 21 KEBIJAKAN AKUNTANSI, PERUBAHAN ESTIMASI
AKUNTANSI DAN KOREKSI KESALAHAN
12. BAB 22 LAPORAN ARUS KAS
13. BAB 23 ISU LAIN SEPUTAR AKUNTANSI KEUANGAN
BAB XI
LIABILITAS JANGKA PENDEK,
PROVISI, DAN KONTINJENSI
Definisi Liabilitas
Liabilitas menurut kerangka dasar pengukuran dan
pengungkapan laporan keuangan (KDP2LK) adalah utang
entitas masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu,
penyelesaiannnya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari
sumber daya entitas yang mengandung manfaat ekonomi.
Klasifikasi liabilitas jangka pendek menurut PSAK 1 (Revisi
2009, jika memenuhi kriteria:
Entitas mengharapkan akan menyelesaikan liabilitas
tersebut dalam siklus operasi normalnya;
Entitas memiliki liabilitas tersebut untuk tujuan
diperdagangkan;
Liabilitas tersebut jatuh tempo untuk diselesaikan dalam
jangka waktu 12 bulan setelah periode pelaporan; atau
Entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda
penyelesaian liabilitas selama sekurang-kurangnya 12
bulan setelah periode pelaporan.
Item minimum yang diharuskan menurut PSAK 1
(Revisi 2009) untuk liabilitas jangka pendek adalah:

1. Utang dagang dan terutang lainnya;


2. Provisi;
3. Liabilitas keuangan jangka pendek (tidak termasuk jumlah
yang disajikan dalam provisi);
4. Liabilitas dan aset pajak kini; sebagaimana didefinisikan
dalam PSAK 46 (Revisi 2013)- Akuntansi pajak
penghasilan.
5. Liabilitas dan aset pajak tangguhan; sebagaimana
didefinisikan dalam PSAK 46 (Revisi 2013)
6. Liabilitas yang termasuk dalam kelompok yang dilepaskan
yang diklasifikasikan sebagai yang dimiliki untuk dijual
sesuai PSAK 58 (Revisi 2010)- Aset lancar yang tersedia
untuk dijual dan operasi yang dihentikan.
Jenis dan klasifikasi Liabilitas jangka pendek

Jenis liabilitas Penjelasan

Utang dagang (account Utang yang timbul ketika entitas melakukan


payable/trade payable) pembelian secara kredit
Utang bank jangka pendek Utang yang diperoleh dari Bank dengan jangka
waktu satu tahun atau kurang
Wesel bayar Kontrak yang menyatakan bahwa satu pihak akan
melakukan pembayaran sejumlah tertentu kepada
pihak lain di masa mendatang.
Utang pajak Pajak yang belum dibayarkan ke kas negara.

Utang dividen Dividen yang telah diumumkan namun belum


dibayarkan.
Jenis dan klasifikasi Liabilitas jangka pendek

Pendapatan diterima di muka Pendapatan yang telah diterima secara tunai namun
pendapatannya belum diperoleh.
Beban yang masih harus dibayar Beban yang telah terjadi namun sampai tanggal
pelaporan belum dibayarkan.

Utang terkait gaji karyawan Utang gaji adalah beban gaji yang telah terjadi
namun belum dibayarkan.
Iuran pensiun dan asuransi untuk karyawan serta
pajak atas gaji yang telah dipotong dari gaji namun
belum dibayarkan.
Uang muka pelanggan (deposit) Uang yang dibayarkan pelanggan sebagai deposit
yang akan diberikan kembali kepada pelanggan
sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.
Provisi dan Kontinjensi
Dalam PSAK 57 (Revisi 2004), provisi disebut sebagai kewajiban
diestimasi. Dalam PSAK 57 (Revisi 2009) mendefinisikan provisi
sebagai liabilitas kini yang waktu dan jumlahnya belum pasti. Provisi
diakui dalam laporan keuangan, pengukurannya dengan melakukan
estimasi.

Liabilitas kontinjensi menurut PSAK 57 (Revisi 2009) adalah:


1. Liabilitas potensial yang timbul dari peristiwa masa lalu dan
keberadaannya menjadi pasti dengan terjadi atau tidak
terjadinya satu peristiwa atau lebih pada masa datang yang
tidak sepenuhnya berada dalam kendali entitas; atau
2. Liabilitas kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu,
tetapi tidak diakui karena:
a. Tidak terdapat kemungkinan besar (probable) entitas
mengeluarkan sumberdaya untuk menyelesaikan
liabilitasnya; atau
b. Jumlah liabilitas tersebut tidak dapat diukur secara andal
Liabilitas kontinjensi tidak diakui dalam
laporan keuangan, liabilitas ini hanya perlu
diungkapkan dalam catatan atas laporan
keuangan. Liabilitas kontinjensi terdiri dari dua
kelompok, kewajiban potensial dan kewajiban
kini yang tidak diakui karena tidak terdapat
kemungkinan pengeluaran sumber daya atau
tidak dapat diukur dengan andal.
Pengakuan dan pengukuran
Provisi diakui jika memenuhi tiga syarat, yaitu:
1. Entitas memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum,
konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa lalu;
2. Kemungkinan besar (probable) penyelesaian
liabilitas tersebut mengakibatkan arus keluar
sumber daya; dan
3. Estimasi yang andal mengenai jumlah liabilitas
nilainya dapat diukur dengan andal dapat dibuat.
Jika tidak memenuhi ketiga syarat tersebut provisi
tidak dapat diakui. Pengukuran provisi didasarkan
pada hasil estimasi terbaik dari pengeluaran yang
diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban kini
pada akhir periode pelaporan.
Contoh liabilitas jangka pendek, provisi,
dan kontinjensi

Contoh 11.1:
PT. Lawu pada tanggal 2 oktober 2015 menarik utang
jangka waktu 6 bulan dari bank Mega sebesar Rp
400.000.000 dengan bunga 15% per tahun dari pokok
yang dipotong pada awal. Pada saat jatuh tempo
PT.Lawu membayar sebesar Rp 400.000.000. jumlah
kas yang diterima sebesar Rp 400.000.000 (400 x 15%
x 6/12) = Rp 370.000.000.
Jurnal dibuat pada saat menerima utang 2 oktober
2015.
Kas 370.000.000
Diskon utang Bank 30.000.000
Utang Bank 400.000.000
Bunga dibayarkan sekali di akhir sehingga perhitungan bunga
efektif dengan membagi bunga dengan pokok utang. Bunga =
Rp30.000.000/Rp370.000.000= 8,11% untuk 6 bulan atau
16,22% setahun. Jurnal penyesuaian pada 31 Desember 2015
untuk pengakuan bunga:
Beban bunga 15.000.000
Diskon utang Bank 15.000.000
(Bunga dihitung 16,22% x 3/12 x Rp370.000.000 =
Rp15.000.000)

Jurnal saat utang jatuh tempo 30 Maret 2016:


Beban bunga 15.000.000
Utang Bank 400.000.000
Diskon utang bunga 15.000.000
Kas 400.000.000
(Asumsi tidak dibuat jurnal balik atas jurnal penyesuaian 31
Desember 2015.)
Contoh 11.2:
Pembayaran gaji sebesar Rp 240.000.000
dilakukan tiap tanggal 5 tiap bulan, untuk masa
kerja tanggal 1 sampai dengan akhir bulan. Pada
31 Desember 2015 dibuat jurnal penyesuian atas
gaji untuk masa kerja Desember 2015 yang baru
dibayarkan 5 januari 2016.
Beban gaji 240.000.000
Utang gaji 240.000.000
Contoh 11.3:
Entitas menjual produk dengan memberikan garansi selama 1
tahun dari tanggal penjualan. Jika kerusakan terdeteksi cacat
ringan biaya perbaikan atas seluruh produk yang dijual
Rp100.000.000, jika cacat berat biaya yang dikeluarkan
Rp500.000.000. pengalaman entitas di masa lalu memberikan
indikasi bahwa dalam tahun mendatang kemungkinan 80%
produk terjual tanpa cacat, 15% cacat ringan dan 5% cacat
berat.
Berdasarkan pengalaman masa lalu, estimasi biaya perbaikan
didasarkan pada nilai yang diharapkan (expected value)
= (80% x 0) + (15% x Rp100.000.000) + (5% x Rp500.000.000) =
Rp 40.000.000
Beban garansi 40.000.000
Utang garansi 40.000.000
Soal 1:
Mutiara adalah pegawai PT. Salak, pada bulan Desember
2015 menerima gaji Rp6.000.000 perbulan ditambah
tunjangan rumah Rp500.000 dan tunjangan transport
Rp1.000.000.
PT. Salak membayarkan asuransi kecelakaan kerja
Rp150.000, asuransi kematian Rp50.000 dan iuran
tunjangan hari tua Rp 250.000. mutiara melakukan iuran
pensiun ke pengelola dana pensiun Rp 300.000 yang
dipotongkan dari gajinya.
Mutiara membayar pemotongan oleh PT Salak, zakat ke LAZ
Rp 187.500 dan angsuran rumah ke Bank CMN Rp
1.500.000, PPh 21 dipotong PT.salak Rp425.000. gaji
dibayarkan tiap akhir bulan dan semua pemotongan
dibayar tanggal 10 bulan berikutnya.
Buatlah jurnal 31 Desember 2015.