Anda di halaman 1dari 65

SAJIAN KASUS

DEMAM TIFOID
STOMATITIS
KEP I
Iustitia Septuaginta Samben
07120120074

Pembimbing :
dr. Irene Akasia Oktariana, Sp. A

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT ANAK


RUMAH SAKIT ANGKATAN LAUT MARINIR CILANDAK JAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
PERIODE 27 FEBRUARI 2017 06 MEI 2017

ALLPPT.com
Free PowerPoint Templates, Diagrams and Charts
Pendahuluan Demam Tifoid

Demam tifoid infeksi bakteri Salmonella typhii demam >7 hari


akut dan sistemik.
Penyakit endemis di Indonesia prevalensi 91%
Kasus demam tifoid terjadi pada usia 3-19 tahun, kejadian meningk
at setelah usia 5 tahun.
Gejala klinis demam, gangguan pada saluran pencernaan, hepat
omegali, serta gangguan kesadaran.
Pendahuluan Stomatitis

Sebagian besar kasus lesi di mulut (stomatitis) dan tenggorokan disebabkan karena infeksi vir
us, umumya adalah infeksi enteroviral.
Infeksi dapat ditandai dengan atau tanpa tanda klinis seperti demam, ruam, nyeri abdomen, at
au diare .
Virus herpes dapat menyebabkan lesi orofaring yang sangat nyeri, rekuren, dan berhubungan
dengan demam yang sangat tinggi sepanjang infeksi primer.
Adenovirus dapat menyebabkan faringitis akut yang ditandai adanya demam dan eritema tons
ilar.
Faringitis eksudatif dengan gejala demam, lemas, dan malaise umum ditemukan pada infeksi
virus Epstein-Barr dan Cytomegalovirus.
Stomatitis dapat berupa herpangina, hand, foot, and mouth disease, serta herpes simpleks gi
nggivostomatitis.
Pendahuluan KEP I

Menurut Departemen Kesehatan RI dalam buku pedoman Tata Laksana KE


P, maka KEP dibagi berdasarkan gejala klinis ada 3 tipe yaitu :
KEP ringan,
KEP ringan-sedang
KEP berat (gizi buruk).

KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang ditemukan hanya anak tampak
kurus,

KEP berat/gizi buruk secara garis besar dibedakan sebagai marasmus, k


washiorkor, dan marasmus kwashiorkor.
Laporan Kasus
Identitas Pasien

Nama : An. J
Umur : 7 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Kebangsaan : Indonesia
Suku Bangsa : Sunda
Agama : Islam
Alamat : Komp. TNI AL Wijaya Kusuma
Identitas Orangtua Pasien

Keterangan Ayah Ibu

Nama Tn. D. I Ny. K. H

Usia 33 tahun 32 tahun

Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan

Kebangsaan Indonesia Indonesia

Suku Bangsa Sunda Sunda

Agama Islam Islam

Pekerjaan Militer Ibu Rumah Tangga

Alamat Cilandak Cilandak


Anamnesis

Riwayat Penyakit Sekarang

5 hari SMRS 3 hari SMRS


IGD
Nyeri Demam, terus
menelan/mengunyah menerus (38-39 00C)
Sariawan Lemas
Nafsu makan turun
Anamnesis

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien memiliki riwayat rawat inap dengan keluhan BAB


berdarah pada 1 bulan yang lalu.

Riwayat Kehamilan Ibu

Kontrol rutin ke dokter kandungan.


Rutin meminum suplemen yang diberikan oleh dokter.
Ibu tidak pernah mengalami sakit selama kehamilan.
Ibu pasien tidak pernah mengkonsumsi obat apapun termasuk jamu selama
masa kehamilan.
Anamnesis

Riwayat Kelahiran

Penolong persalinan Bidan

Cara persalinan Partus spontan

Masa gestasi 41 minggu

Ketuban pecah Saat persalinan

Warna air ketuban Jernih

Jumlah air ketuban Banyak

Bayi lahir pukul 15.00

Berat badan lahir 3400 gram

Panjang badan lahir 47 cm

Lingkar kepala 31,5 cm

APGAR score 8/9


Anamnesis

Riwayat Tumbuh kembang

Aktivitas normal ( bulan) umur ( bulan)

Tersenyum 2 bulan 2 bulan

tengkurap dan mengangkat kepala 4 bulan 4 bulan

duduk tanpa bantuan 6 bulan 6 bulan

Merangkak 12 bulan 12 bulan

berjalan sendiri 18 bulan 18 bulan

mengucapkan 4 - 6 kata 20 bulan 20 bulan

menyebutkan nama sendiri 22 bulan 22 bulan

bermain dengan anak lain 30 bulan 30 bulan

berpakaian tanpa dibantu 36 bulan 36 bulan


Riwayat Makanan

Umur ASI/PASI Susu Formula Bubur Makanan Padat

0-6 bulan ASI - - -

6-12 bulan ASI - + -

1 tahun - + + +

2 tahun - + + +

3 tahun - + + +

4 tahun - + + +

5 tahun - + + +
Riwayat Imunisasi

Umur Pemberian
Jenis
( bulan ) Tahun
vaksin
lahir 1 2 3 4 5 6 7 8 9 12 15 18 24 3

Hepatitis

B
Polio

BCG

DTP

Campak

HiB

PCV

Varisela

MMR
Riwayat Penyakit dalam Keluarga

Di keluarga ayah pasien lebih dulu mengalami keluhan tersebut sejak 1 min
ggu yang lalu.
PEMERIKSAAN FISIK

Status Generalisata
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Kompos mentis
Tanda-tanda Vital :
Tekanan Darah : 90 / 60 mmHg
Nadi : 118 kali/menit, kuat, penuh, reguler
Laju Pernapasan : 22 kali/menit , reguler
Suhu Tubuh : 38,50C (aksilla)

Data Antropometri
Berat badan : 17 kg
Tinggi badan : 135 cm
PEMERIKSAAN PENUNJANG
11-3-2017
Pemeriksaan Darah Lengkap
Hematologi
Hemoglobin : 11,7 gr / dl (N: L 13-18; P 12-16)
Hematokrit : 36.4 % (N: 37-54)
Eritrosit : 4.2 juta/ul (N: L 4.5-6.5 ; P 3.5-6)
Leukosit : 14.7 rb / ul (N: 4-10)
Trombosit : 539 rb / ul (N: 150-400)
Differential Count
Basofil : 0 (N: 0-1%)
Eosinofil : 2 (N: 1-3%)
Neut. Batang : 2 (N: 2-6%)
Neut. Segmen : 72 (N: 40-70%)
Limfosit : 21 (N: 20-40%)
Monosit : 3 (N: 2-8%)
Indeks Eritrosit
MCV : 87.5 (N: 82-93%)
MCH : 28.1 (N: 27-37%)
MCHC : 32.1 (N: 32-36%)
12-03-2017

Hematologi
Hemoglobin : 11,7 gr / dl (N: 11.5-13.5)
Hematokrit : 38 % (N: 34-40)
Eritrosit : 4.4 juta/ul (N: 3.9-5.3)
Leukosit : 21.2 rb / ul (N: 6-14.5)
Trombosit : 452 rb / ul (N: 229-448)
Indeks Eritrosit
MCV : 87 fl (N: 75-87)
MCH : 26 pg (N: 24-30)
MCHC : 30% (N: 31-37)
12-03-2017

Hemoglobin : 11,8 gr / dl (N: L 13-17 ; P 12-16)


Hematokrit : 34 % (N: 37-54)
Leukosit : 17.2 rb / ul (N: 5-10)
Trombosit : 389rb / ul (N: 150-400)

Serologi Widal
Typhii O :1/320
Para Typhii AO :+1/160
Para Typhii BO :+1/80
Para Typhii CO :+1/80
Para Typhii H :-/Negatif
Para Typhii AH :-/Negatif
Para Typhii BH :-/Negatif
Para Typhii CH :-/Negatif
RESUME

Os An. J usia 7 tahun datang dengan keluhan demam sejak 3 hari SMRS. Demam diras
akan terus-menerus, dan tidak pernah mencapai suhu normal (38-390C). Demam tidak m
embaik dengan pemberian paracetamol. Awalnya, pasien mengeluhkan nyeri tenggoroka
n sejak 5 hari yang lalu. Pasien merasakan nyeri saat mengunyah dan berbicara, dan dir
asakan semakin nyeri ketika menelan. Pasien juga mengeluhkan mulut penuh sariawan.
Pasien juga mengalami penurunan nafsu makan selama sakit. Ayah pasien pasien lebih
dulu mengalami keluhan serupa sejak 1 minggu yang lalu. Pasien memiliki riwayat rawat
inap dengan keluhan BAB berdarah pada 1 bulan yang lalu.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan keadaan umum tampak sakit sedang, TTV : TD : 9
0/60, nadi 118x/menit, kuat, penuh reguler, laju nafas 22x/menit, suhu 38.5. Status giz
i kesan KEP I. Pada langit-langit mulut terdapat bercak berwarna putih, multiple. Halit
osis (+). Bibir tampak kering. Lidah tampak kotor, basah, lesi berwarna putih (+). Tonsi
l hiperemis, dinding faring hiperemis.
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada pasien SMRS pada 11-3-2017 ditemuk
an hasil hemoglobin 11.7 gr / dl, hematokrit 36.4 %, hematokrit 36.4 %, Eritrosit 4.2 jut
a/ul, Leukosit 14.7 rb / ul, trombosit 539 rb / ul. Pemeriksaan Differential Count neutro
fil segmen 72%. Pemeriksaan penunjang SMRS pada 12-3-2017 ditemukan hasil he
moglobin 11,7 gr / dl, leukosit 21.2 rb / ul. Pemeriksaan penunjung di IGD ditemukan
hemoglobin 11,8 gr / dl, hematokrit 34 %, leukosit 17.2 rb / ul. Pemeriksaan widal dite
mukan Typhii O +1/320, Para Typhii AO +1/160, Para Typhii BO +1/80, Para Typhii C
O +1/80.
DIAGNOSIS KERJA

Observasi febris hari ke-3 ec. demam tifoid


Stomatitis multipel
KEP I
PROGNOSIS

Quo ad vitam : dubia ad bonam


Quo ad fungsionam : dubia ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam
PENATALAKSANAAN

Rawat inap
IVFD RL 15 tpm, dilanjutkan Kaen IB 12 tpm
Injeksi ceftriaxone 1 x 850 mg/dl dalam NaCl 100 cc
Paracetamol syrup 4x8 ml prn
Follow Up

14/3
Nyeri tenggorokan/mengunyah (+) Demam (+) hari ke 5. Bebas demam (-)
Nyeri
TTV : TD: 90/60 mmHg; N: 100x/mnt; tenggorokan/mengunyah
RR:24x/menit; S: 37.200C membaik
Stomatitis multipel. Halitosis. Bibir TTV : TD: 90/60 mmHg;
tampak kering. Lidah tampak kotor, Nyeri tenggorokan/mengunyah (+) N: 102x/mnt;
Tonsil hiperemis, dinding faring TTV : TD: 90/60 mmHg; N: 102x/mnt; RR:22x/menit; S: 37.00C
hiperemis. RR:22x/menit; S: 37.300C Stomatitis multipel.
Stomatitis multipel. Halitosis. Bibir tampak Halitosis-, lidah bersih.
kering. Lidah tampak kotor, Tonsil hiperemis,
dinding faring hiperemis.

13/3
Demam (+) hari ke 4. Bebas
demam (-) 15/3
Demam (+) hari ke 6. Bebas
demam (-)

KAEN 1B 12 tpm Kenalog salep 3x1 ue (oles di Hb : 11,7


Injeksi ceftriaxone 1 x 850 mg/dl dalam NaCl sariawan) Ht : 34 %
0.9% 50 cc (2) Enervon C 2 x 1 cth Leukosit : 8.7
Paracetamol syrup 4x8 ml prn Diit cair Trombosit : 341.000
Nymico drop 3x1.2 ml (drop di sariawan) Ulang darah rutin besok pagi
17/3 Nyeri
Demam (+) hari ke 8. Bebas demam (2) tenggorokan/mengunyah
Nyeri tenggorokan/mengunyah
membaik membaik
makan dan minum
TTV : TD: 90/60 mmHg; N:
mulai habis 1 porsi
102x/mnt; RR:22x/menit; S: Nyeri tenggorokan/mengunyah bubur
37.00C membaik TTV : TD: 90/60
Stomatitis multipel. Halitosis-, makan dan minum mulai habis 1 mmHg; N: 102x/mnt;
lidah bersih. porsi bubur RR:22x/menit; S:
TTV : TD: 90/60 mmHg; N: 37.00C
102x/mnt; RR:22x/menit; S: 37.00C Stomatitis multipel
Stomatitis multipel berkurang. berkurang. Halitosis-,
Halitosis-, lidah bersih. lidah bersih
16/3
Demam (+) hari ke 7. Bebas
demam (1)

18/3
Demam (+) hari ke 8. Bebas
demam (3)

KAEN 1B 12 tpm Kenalog salep 3x1 ue (oles di sariawan)


Injeksi ceftriaxone 1 x 850 mg/dl dalam NaCl 0.9% Enervon C 2 x 1 cth
50 cc (2) Mobilisasi
Paracetamol syrup 3x 1 ml prn Rencana rawat jalan
Nymico drop 3x1.2 ml (drop di sariawan) Obat oral pulang : Cefixime syrup 2x 1 cth
selama 5 hari
ANALISA KASUS
Demam Tifoid

Observasi demamdemam kontinyu demam dirasakan terus-menerus ata


u menetap dan tidak mengalami penurunan suhu hingga normal. demam tif
oid.
Gejala gastrointestinal konstipasi atau diare tidak ditemukan typhoid ton
gue atau lidah tampak kotor (coated tongue), bau nafas tidak sedap.
Manifestasi klinis lainnya pada pasien ini yaitu malaise dan letargi
Anemia normositik normokromsupresi pada sumsum tulang, defisiensi Fe, atau
perdarahan usus.
Leukositosis dan pada hitung jenis terdapat peningkatan neutrofil infeksi akut p
ada anak ini. Neutrofil juga cenderung meningkat pada infeksi bakteri, misalnya Sa
lmonella typhii.
Pemeriksaan penunjang serologi yaitu Widal menunjukkan adanya titer Typhii O +
1/320.
Baku emas pemeriksaan penunjang ditegakkan apabila ditemukan Salmonella typ
hii (+) pada biakan darah, urine, dan feses.
Tatalaksana pada pasien ini yaitu tirah baring/rawat inap untuk pemenuhan cairan,
elektrolit dan nutrisi. Pada pasien ini lebih diperhatikan pemenuhan nutrisinya.
Resistensi ganda di daerah endemis misalnya di India terhadap kloramfenikol, am
pisilin, dan kotrimoksasol.
Strain yang resisten umumnya masih rentan terhadap sefalosporin generasi ketig
a. Pemberian sefalosporin generasi ketiga seperti Seftriakson 100 mg/kgBB/hari di
bagi 1 atau 2 dosis (maksimal 4 gram/hari), selama 5-7 hari. Atau Sefotaksim 150-
200mg/kgBB/hari dibagi dalam 3-4 dosis efektif pada isolat yang rentan.
Pada pasien pengobatan antibiotik yaitu seftriakson 1x850mg IV dalam NaCl 50 c
c, selama 6 hari perawatan.
Stomatitis
Nyeri mengunyah dan nyeri menelanstomatitis multiple pada palatum mole, palatum durum
dan bibir bagian bawah.
Lesi pada mulut dan tenggorokan umum tanda klinis dapat ringan hingga berat.
Lesi di anterior :
Ulkus aftosa,
stomatitis kontak,
herpes simpleks gingivostomatitis,
trauma
Vincents angina.
Lesi di posterior
faringitis adenovirus,
virus coxsackie,
cytomegalovirus,
virus Epstein-Barr, dan
faringitis Streptococcal.
Lesi oral difusa yaitu penyakit autoimun : kandidiasis (thrush), mucositis-terkait kemoter
api, pengobatan (fenitoin-dilantin), sindroma Stevens-Johnson, dari Varicella-Zoster.
Stomatitis pada anak infeksi virus.
Infeksi enteroviral disertai atau tanpa disertai adanya gejala klinis l
ain misalnya demam, ruam, nyeri abdomen atau diare.
Virus herpes lesi orofaring yang sangat nyeri, dan dapat berul
ang, dan diawali dengan demam tinggi pada infeksi primer.
Adenovirus faringitis akut yang disertai demam dan eritema t
onsilar.
Faringitis yang eksudatif disertai demam, lemas, malaise, dan umum
ditermukan pada infeksi Epstein Barr dan Cytomegalovirus
Diagnosa banding
Herpangina
Stomatitis herpetik
Herpangina

Infeksi akut, dan biasanya diderita oleh bayi maupun anak-anak.


Coxsackievirus A.
Karakteristikdemam, radang tenggorokan, sakit kepala, anoreksia, mun
tah, sakit punggung, dan sakit saat penelanan.
Gejala beberapa jam sampai hari sebelum munculnya lesi vesikular pa
da posterior pharyng.
Demam biasa terjadi antara 2-4 hari.
Vesikula bewarna keabu-abuan dengan diameter 1-2 mm yang sering me
ningkat pada tonsil selama 2 hari setelah kejadian awal.
Lesi erithema juga terdapat pada palatum lunak, tonsil, uvula, dan lidah.
Dalam 24 jam ke depan, lesi terlihat seperti ulcer dangkal dengan diamet
er kurang dari 5 mm dan hilang dalam 1-5 hari.
Pengobatan medikamentosa berupa antiviral tidak terlalu diperlukan. Pen
gobatan simptomatik berupa penghilang rasa nyeri dapat diberikan.
Stomatitis herpetic

Herpes simplek
Lokasi di bagian belakang tenggorokan,
Langsung terjadi jika ada virus yang sedang mewabah dan pada saat itu
daya tahan tubuh sedang rendah
Pada pasien ini diketahui ayah pasien lebih dahulu mengalami keluhan st
omatitis.
Secara klinis, stomatitis herpetik ditandai dengan demam yang sangat tin
ggi, penurunan nafsu makan, dan lesi vesikuler pada rongga mulut, serta
limfadenopati.
Gejala umumnya berlangsung kurang dari 1 minggu.
Tatalaksana berupa suportif yaitu analgesik dan antipiretik.
KEP I

Menurut penghitungan CDC status gizi pasien termasuk dalam KEP I.


Pada pasien ini Penatalaksanaan berupa edukasi pemberian makan.
Makanan disesuaikan dengan penyakitnya agar tidak menyebabkan KEP
sedang/berat dan untuk meningkatkan status gizi.
Pada pasien KEP ringan yang dirawat inap untuk penyakit lain, diberikan
makanan sesuai dengan penyakitnya dengan tambahan energi sebanyak
20% agar tidak jatuh pada KEP sedang atau berat, serta untuk meningkat
kan status gizinya. Selain itu obati penyakit penyerta.
Tinjauan Pustaka
Demam Tifoid

Definisi
Demam tifoid penyakit infeksi akut saluran pencernaan (usus halus)
gejala demam 7 hari atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan
dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran.
Etiologi

Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi


Berbentuk batang, gram negatif, motil, berkapsul dan mempunyai flagella
Bakteri ini dapat hidup sampai beberapa minggu di alam bebas seperti di
dalam air, es, sampah dan debu.
Bakteri ini dapat mati dengan pemanasan (suhu 600 C) selama 15 20
menit, pasteurisasi, pendidihan dan klorinisasi.
Salmonella typhi mempunyai 3 macam antigen, yaitu Antigen O (Antigen
somatik), Antigen H (Antigen Flagella), dan Antigen Vi yang terletak pada
kapsul (envelope).
Penegakan diagnosis dilakukan apabila ditemukan salah satu atau kedua
antigen O dan H
Epidemiologi

Insiden rate demam tifoid adalah sebesar 263 per 100.000 penduduk.
Pada tahun 2000, insiden rate demam tifoid di Asia Tenggara 110 per 100
.000 penduduk.
Di Indonesia demam tifoid dapat ditemukan sepanjang tahun.
Di Jakarta Utara pada tahun 2001, insiden rate demam tifoid 680 per 100.
000 penduduk dan pada tahun 2002 meningkat menjadi 1.426 per 100.00
0 penduduk.
Patogenesis
Gejala klinis

Masa inkubasi rata-rata 10 20 hari.


Demam yang berlangsung 5-40 hari dengan rata-rata 10-14 hari.
Minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari, biasanya menurun pad
a pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari, setelah itu penderita terus berada d
alam keadaan demam pada minggu kedua dalam minggu ketiga suhu tubuh berangsur-angsu
r turun dan normal kembali (gambaran step ladder).
Gejala klinis

Ganguan pada saluran pencernaan


mulut terdapat nafas berbau tidak sedap. Bibir kering dan pecah-pecah
(ragaden). Lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue).
Hati dan limpa membesar disertai nyeri pada perabaan.
Gangguan kesadaran yaitu menurunnya kesadaran menjadi apatis sam
pai somnolen.
Komplikasi

Komplikasi Intestinal
Perdarahan Usus
Sekitar 25% penderita demam tifoid dapat mengalami perdarahan minor yang tida
k membutuhkan tranfusi darah.
Perdarahan hebat dapat terjadi hingga penderita mengalami syok.
Secara klinis perdarahan akut darurat bedah ditegakkan bila terdapat perdarahan
sebanyak 5 ml/kgBB/jam.
Perforasi Usus Terjadi pada sekitar 3% dari penderita yang dirawat.
Biasanya timbul pada minggu ketiga namun dapat pula terjadi pada minggu perta
ma.
Penderita demam tifoid dengan perforasi mengeluh nyeri perut yang hebat terutam
a di daerah kuadran kanan bawah yang kemudian meyebar ke seluruh perut.
Tanda perforasi lainnya adalah nadi cepat, tekanan darah turun dan bahkan samp
ai syok.
Komplikasi Ekstraintestinal

Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi perifer (syok, sepsis), mio


karditis, trombosis dan tromboflebitis.
Komplikasi darah : anemia hemolitik, trombositopenia, koagulasi
intravaskuler diseminata, dan sindrom uremia hemolitik.
Komplikasi paru : pneumoni, empiema, dan pleuritik
Komplikasi hepar dan kandung kemih : hepatitis dan kolelitiasis
Komplikasi ginjal : glomerulonefritis, pielonefritis, dan perinefritis
Komplikasi tulang : osteomielitis, periostitis, spondilitis, dan artritis
Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningismus, meningitis, polineuriti
s perifer, psikosis, dan sindrom katatonia.
Tatalaksana
Pasien demam tifoid yang memerlukan perawatan khusus berupa pemenuhan cair
an, elektrolit serta nutrisi selain itu dapat diobservasi dengan dirawat dirumah saki
t.
Pengobatan dengan kloramfenikol masih merupakan pilihan lini pertama dengan d
osis 100mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 kali pemberian selama 10-14 hari atau 5-7 d
emam turun. Pengobatan dapat diperpanjang menjadi 21 hari apabila ditemukan p
enyulit atau efek samping.
Selain itu pemberian ampisilin dengan dosis anjuran 200mg/kgBB/hari dalam 4 do
sis secara IV, amoksilin 100mg/kgBB/hari dalam 4 dosis oral,
TMP-SMZ 10mg/kgBB/hari dan 50mg/kgBB/hari dalam 2 dosis juga dapat diguna
kan untuk menggantikan kloramfenikol. Indikasi penggantian adalah apabila de
mam tidak turun dalam 5 hari, tifoid berat atau leukosit kurang dari 2.000/uL.
Strain yang resisten umumnya masih rentan terhadap sefalosporin generasi ketig
a. Pemberian sefalosporin generasi ketiga seperti Seftriakson 100 mg/kgBB/hari di
bagi 1 atau 2 dosis (maksimal 4 gram/hari), selama 5-7 hari. Atau Sefotaksim 150-
200mg/kgBB/hari dibagi dalam 3-4 dosis efektif pada isolat yang rentan.
Apabila terjadi ensefalitis, berikan deksametason intravena dengan dosis awal 3 m
g/kg dalam 30 menit lalu dilanjutkan dengan 1mg/kgBB tiap 6 jam dengan 4kali pe
mberian lalu dihentikan tanpa tapering off.
STOMATITIS
Stomatitis adalah radang yang terjadi di daerah mukosa mulut, biasany
a berupa bercak putih kekuningan dengan permukaan yang agak ceku
ng, bercak itu dapat berupa bercak tunggal maupun kelompok.

Etiologi
Stomatitis merupakan penyakit yang diakibatkan dengan adanya virus,
bakteri, jamur pada mulut dan saluran kerongkongan.
Gejala Klinis
Rasa panas atau terbakar
Luka (ulser) di rongga mulut.
Bercak luka agak kaku dan sangat peka terhadap gerakan lidah ata
u mulut sehingga rasa sakit atau rasa panas
susah makan, susah minum, ataupun susah berbicara.
Hipersalivasi
Mycotic stomatitis

Candida albicans
Bercak putih kekuningan pada lidah atau membran mukosa.
Penggunaan terapi antibiotik yang lama, atau pemberian immunosuppres
sion.
Pada mycotic stomatitis sering kali pada jaringan terjadi kemerahan dan ti
mbul ulsor di bagian rongga mulut.
Gingivostomatitis

Gingivostomatitis merupakan infeksi virus pada gusi dan bagian mulut lainny
a, yang menimbulkan nyeri.

Gusi tampak berwarna merah terang dan terdapat banyak luka terbuka yang
berwarna putih atau kuning di dalam mulut.
Aphthous stomatitis

Apthous stomatitis (sariawan) adalah stomatitis yang paling umum sering ter
jadi. Sariawan ini adalah jenis ulkus yang sangat nyeri pada jaringan lunak
mulut, bibir, lidah, pipi bagian dalam, pharing, dan langit-langit mulut halus. T
ipe sariawan ini tidak menular.
Stomatitis aphtosa minor (MiRAS)

Luka (ulser) bulat atau oval, dangkal, dengan diameter kurang dari 5mm,
dan dikelilingi oleh pinggiran yang eritematus.
Ulserasi pada MiRAS cenderung mengenai daerah-daerah non-keratin, s
eperti mukosa labial, mukosa bukal dan dasar mulut.
Ulserasi bisa tunggal atau merupakan kelompok yang terdiri atas empat a
tau lima dan akan sembuh dalam jangka waktu 10-14 hari tanpa meningg
al bekas.
Stomatitis aphtosa major (MaRAS)

Secara klasik, ulser ini berdiameter kira-kira 1-3 cm, dan berlangsung selama 4minggu atau le
bih
Terjadi pada bagian mana saja dari mukosa mulut, termasuk daerah-daerah berkeratin.
Meninggalkan bekas
Ulserasi herpetiformis (HU)

Istilah herpetiformis digunakan karena bentuk klinis dari HU (yang dapat terdiri atas 100 ulser kecil-
kecil pada satu waktu) mirip dengan gingivostomatitis herpetik primer, tetapi virus-virus herpes ini tid
ak mempunyai peran etiologi pada HU atau dalam setiap bentuk ulserasi aphtosa.
Tatalaksana
Bentuk Pengobatan
Bentuk-bentuk pengobatan stomatitis :
Anestetik lokal
Obat-obat antibakteri atau antijamur
Kortikosteroid
KEKURANGAN ENERGI PROTEIN (KEP)

Istilah kekurangan energy protein KEP berlaku untuk sekelompok ganggu


an terkait yang meliputi marasmur, kwashiorkor, marasmus dan kwashior
kor.
Berdasarkan etiologi, KEP dibedakan menjadi KEP primer dan KEP seku
nder. KEP primer disebabkan oleh kurangnya konsumsi dan tidak tersedi
anya bahan makanan, sedangkan KEP sekunder disebabkan oleh penya
kit seperti ginjal, hati, jantung, paru, dll.
KEP menurut WHO
Tatalaksana

KEP I (KEP ringan)


Penatalaksanaan terhadap Kekurangan Energi Protein tipe I (KEP ringan);
Penyuluhan gizi/nasehat pemberian makanan di rumah (bilamana penderita rawat jalan). Dianjurk
an memberikan ASI eksklusif (bayi < 4 bl) dan terus memberikan ASI sampai 2 tahun.
Bila dirawat inap untuk penyakit lain, maka makanan disesuaikan dengan penyakitnya agar tidak
menyebabkan KEP sedang/berat dan untuk meningkatkan status gizi.
KEP II (KEP ringan-sedang)
Penatalaksanaan terhadap Kekurangan Energi Protein tipe II (KEP ringan-sedang);
Rawat jalan : Nasehat pemberian makanan dan vitamin serta teruskan ASI, selalu dipantau kenai
kan BB.
Tidak rawat jalan : Dapat dirujuk ke puskesmas untuk penanganan masalah gizi
Rawat inap : Makanan tinggi energi dan protein dengan kebutuhan energi 20-50% di atas AKG. D
iet sesuai dengan penyakitnya dan dipantau berat badannya setiap hari, beri vitamin dan penyulu
han gizi.
Setelah penderita sembuh dari penyakitnya, tapi masih menderita KEP ringan atau sedang rujuk
ke puskesmas untuk penanganan masalah gizinya.
KEP III (KEP Berat)

Pada tata laksana rawat inap penderita KEP berat/Gizi buruk di rumah sakit terdapat 5 (lima) asp
ek penting, yang perlu diperhatikan : Prinsip dasar pengobatan rutin KEP berat/Gizi buruk (10 lan
gkah utama). Pengobatan rutin yang dilakukan di rumah sakit berupa 10 langkah penting yaitu :
Mengatasi/mencegah hipoglikemia
Mengatasi/mencegah hipotermia
Mengatasi/mencegah dehidrasi
Mengkoreksi gangguan keseimbangan elektrolit
Mengobati/mencegah infeksi
Mulai pemberian makanan
Fasilitasi tumbuh-kejar (catch up growth)
Mengkoreksi defisiensi nutrien mikro
Melakukan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/mental
Menyiapkan dan merencanakan tindak lanjut setelah sembuh.
Thank You

ALLPPT.com
Free PowerPoint Templates, Diagrams and Charts