Anda di halaman 1dari 13

HUBUNGAN SISTEM

REPRODUKSI DENGAN SISTEM


LAINNYA

Di susun oleh:
1. Shabrina Agistriani
2. Silvie Sevtiyani
3. Siti Hastuti
4. Siti Husnul Chotimah
5. Stevani
6. Widiawati
7. Yuli Vitrianengsih
8. Yuli Puspita Sari
Hubungan sistem reproduksi dengan sistem
lainnya

Antara lain:
1. Sistem Reproduksi dengan Sistem Kardiovaskuler
2. Sistem Reproduksi dengan Sistem Saraf
3. Sistem Reproduksi dengan Sistem Urinaria
4. Sistem Reproduksi dengan Sistem Integumen
5. Sistem Reproduksi dengan Sistem
Muskuloskeletal
6. Sistem Reproduksi dengan Sistem Pencernaan
7. Sistem Reproduksi dengan Sistem Hematologi
8. Sistem Reproduksi dengan Sistem Imunologi
1. Sistem Reproduksi dengan Sistem Kardiovaskuler
dengan:

Sistem reproduksi wanita dan laki-laki menerima darah oleh


pembuluh darah yang merupakan cabang-cabang dari pembuluh
darah besar dalam tubuh, dengan sentral pada jantung, sehingga
jika terdapat kelainan pada jantung contohnya cardiomyopathy,
kelainan katub jantung, arritmia. Maka akan berakibat juga pada
organ-organ reproduksi.
misalnya
pada laki-laki sering terjadi disfungsi ereksi, ketidak mampuan
dalam melakukan hubungan seksual karena penambahan beban
jantung saat aktifitas coitus.
Dan jika seorang wanita hamil maka beban jantung bertambah
berat, akibatnya jika sudah ada penyakit jantung maka
penyakitnya jantungnya akan bertambah parah, dan penyakit
jatung tersebut akan mengakibatkan komplikasi pada
kehamilannya sehingga bisa terjasi abrtus, BBLR, kematian janin
dan ibu saat hamil dan bersalin. Saat seseorang berhubungan
seksual aliran darahnya akan meningkat. Jika aliran darah
meningkat, maka kebutuhan energi dan metabolismenya pun
2.Sistem Reproduksi
dengan Sistem Saraf
Sistem reproduksi dipersyarafi oleh saraf yang merupakan
cabang dari saraf yang keluar dari tulang belakang dengan
koordinasi pada otak. Jika terjadi kelainan ada saraf tersebut
maka akan mengakibatkan gangguan pada sistem reporduksi,
misalnya disfungsi ereksi, dan gangguan ejakulasi.

Sistem saraf merupakan salah satu bagian yang menyusun


sistem koordinasi yang bertugas menerima rangsangan,
menghantarkan rangsangan ke seluruh bagian tubuh, serta
memberikan respons terhadap rangsangan tersebut.
Pengaturan penerima rangsangan dilakukan oleh alat indera,
pengolah rangsangan dilakukan oleh saraf pusat yang
kemudian meneruskan untuk menanggapi rangsangan yang
datang dilakukan oleh sistem saraf dan alat indera.
3.Sistem Reproduksi dengan
Sistem Urinaria

Keduanya sangat berhubungan khususnya secara


anatomi, pada laki-laki uretra bergabung dengan
tempat penyaluran keluar sperma, pada wanita
uretra berdekatan dengan vagina dan terletak
pada vesti bulum di vulva, selain itu vesica
urinaria berada di depan uterus.
Jika terjadi infeksi pada saluran kencing maka
akan mudah pula terjadi infeksi pada sistem
reproduksi atau sebaliknya.
4.Sistem Reproduksi dengan
Sistem Integumen
Ujung saraf di kulit dan subkutan berespon terhadap stimulus erotik
dan berkontribusi terhadap kepuasan seksual. Gerakan
menghisap bayi pada puting susu ibu menstimulasi ujung saraf di
kulit dan menyebabkan keluarnya ASI.
Kelenjar susu (modifikasi dari kelenjar keringat) memproduksi ASI.
Kulit mengalami pelebaran (hiperplasia) selama kehamilan terkait
pertumbuhan fetus. Hormon-hormon seks mempengaruhi
distribusi rambut, sel adiposa dan perkembangan kelenjar
payudara. Jika seorang wanita tidak menghasilkan estrogen dan
progesteron antara lain kulit menjadi kering, menipis, keriput,
kuku rapuh, gatal-gatal, mata kering, selaput lendir pada mulut
kering dan mudah terjadi luka, mukosa vagina menjadi kering
sehingga sakit saat berhubungan.
Pada masa kehamilan, hormon melanotropik yang bersirkulasi
meningkat selama kehamilan akibat peningkatan produksi
molekul prekursor POM-C. MSH meningkatkan wana kulit menjadi
lebih gelap di daerah pipi (kloasma/topeng kehamilan) dan warna
yang lebih gelap pada darah linea alba, yaitu suatu garis yang
5. Sistem Reproduksi dengan
Sistem Muskuloskeleta
Hilangnya massa tulang pada wanita sebenarnya dimulai pada usia
30an. Keadaan ini terjadi lebih cepat pada menopause. Kehilangan
massa tulang yang paling cepat terjadi dalam 3-4 tahun pertama
setelah menopouse. Gejala ini terjadi lebih cepat
pada wanita yang merokok dan sangat kurus. Tempat yang paling
sering terjadi fraktur akibat osteoporosis adalah korpus vetebra,
suatu akibat yang secara klinis mungkin dikeluhkan sebagai nyeri
punggung. Femur bagian atas, humerus, iga, dan lengan bagian
distas juga sering terkena akibat kehilangan masa tulang pasca
menopouse. Fraktur femur bagian atas yang mengenai sendi
panggul dapat membahayakan nyawa karena adanya resiko
tromboemboli vena yang menyertai. Osteoporosis yang disebabkan
oleh difisiensi estrogen yang berkepanjangan meliputi penurunan
kuantitas tulang tanpa perubahan pada komposisi kimianya.
Pembentukan tulang oleh osteblas normal pada wanita yang
mengalami defisiensi estrogen namun kecepatan resorpsi tulang
oleh osteoklas meningkat. Tulang trabekular adalah yang pertama
terkena, diikuti oleh tulang kortikal. Estrogen tampaknya bekerja
berlawanan dengan efek hormon paratiroid pada mobilisasi
kalsium. Hal ini terjadi sebagai efek langsung dari estrogen pada
6.Sistem Reproduksi dengan
Sistem Pencernaan
Gusi hiperemi, berongga, dan membengkak. Gusi cenderung mudah berdarah
karena kadar estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan
vaskularitas selektif dan poliferasi jaringan ikat (gingivitis tidak spesifik). Nafsu
makan berubah selama ibu hamil. Pada trimester pertama sering terjadi
penurunan nafsu makan akibat mual (nausea) dan / atau muntah (vomitus).
Mual dan muntah adalah masalah umum selama awal kehamilan. Banyak
wanita yang merasa mual yang menyatakan keletihan. Wanita yang merasa
mual sering mengatakan keletihan dari pada mereka yang tidak mual, namun
wanita yang merasa mual berat mengatakan keletihan yang lebih berat. Gejala
ini muncul pada sekitar setengah jumlah kehamilan dan merupakan akibat
perubahan pada saluran cerna dan peningkatan kadar hCG dalam darah.
7. Sistem Reproduksi dengan Sistem Endokrin

FSH merangsang spermatogenesis, sedangkan LH


merangsang sekresi testosterone dan mempertahankan
spermatogenesis.Kerja FSH dan testosterone terlaksana
dengan jalan merangsang sel sertoliuntuk membentuk
senyawa yang diperlukan untuk maturasi sperma. Sekresi
FSH diatur melalui mekanisme umpan balik negative yaitu
peningkatan sekresi dari sel sertoli
Efek testosteron ;
1. Pada janin : merangsang diferensiasi dan perkembangan
alat genital kearah pria, pengatur pola jantan (pria), dan
pengontrolan hipotalamus terhadap sekresi gonadotropin
setelah pubertas.
2. Pada pubertas : mempengaruhi sifat kelamin sekunder
yaitu perkembangan bentuk tubuh, perkembangan alat
genital, distribusi rambut, pembesaran laring, dan sifat
agresif.
.

8.Sistem Reproduksi dengan


Sistem Respirasi
Peningkatan volume tidal, volume ventilasi satu menit dan ambilan O2 satu
menit terjadi pada wanita hamil. Perubahan ini memungkinkan terjadinya
peningkatan penyampaian oksigen ke janin dan perifer. Perubahan ini juga
menyebabkan alkalosis respiratorik ringan pada ibu yang dikompensasi oleh
peningkatan ekskresi bikarbonat ginjal. Progesteron mungkin bertanggung
jawab untuk berbagai perubahan ini. Hemoglobin janin mengikat O2 pada
tekanan parsial yang lebih rendah dibandingkan dengan hemoglobin dewasa
ibu. Hal ini menyebabkan terjadinya transfer O2 dari ibu ke janin di dalam
plasenta.
9.Hubungan Sistem Reproduksi
dengan Sistem Hematologi
Wanita hamil mengalami anemia ringan. Produksi hemoglobin dan massa
total sel darah merah pada ibu meningkat selama kehamilan akibat
meningkatnya produksi eritropoietin. Volume vaskular maternal meningkat
sangat banyak. Hal ini menyebabkan anemia dilusional ringan yang melindungi
ibu dari kehilangan hemoglobin yang berlebihan saat persalinan. Kebutuhan
zat besi pada kehamilan normal harus memenuhi kebutuhan produksi sel
darah merah ibu dan janin, jumlah totalnya sekital 1,0 gram. Sebagian besar
diperlukan selama paruh kedua massa kehamilan. Jumlah zat besi yang
diabsorpsi dari makanan saja, juga dimobilisasi dari penyimpanan ibu, mungkin
tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
10.Hubungan Sistem Reproduksi
dengan Sistem Imunologi
Pada endometriosis didapatkan adanya perubahan dari sistem imun berupa defisiensi
dari sistem imun. Dari studi penderita endometriosis didapatkan perubahan beberapa
komponen imunologi pada zalir peritoneal antara lain makrofag fagosit, monosit sel NK,
limsosit Tc, sel B, mediator inflamasi seperti komplemen dan sitokin, dan sel-sel perusak
sel endometriosis yang memungkinkan terjadinya perlekatan, migrasi dan angiogenesis.
Adapun bentuk rangsangan yang terjadi pada endometriosis peritoneal adalah
terjadinya reaksi inflamasi yang terus menerus terjadi akibat adanya regurgitasi darah
haid yang terjadi pada 80-90 % wanita normal dengan tuba paten. Darah haid tersebut
terdiri dari cairan ekstraselular, darah, jaringan endometrium yang lepas yang
mengandung sel-sel endometrium baik yang mati maupun yang masih hidup (viable).
Regurgitasi ini terjadi akibat kontraksi uterus yang ritmik atas pengaruh prostaglandin F2
pada saat haid dan terjadi pula hipotoni relatif dari sambungan uterotuba (uterotubal
junction). Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya sel-sel endometrium dalam cairan
peritoneal mencapai 90 % pada wanita normal.
TERIMAKASIH !!!
WASALAMUALAIKUM WR WB