Anda di halaman 1dari 18

Pemilihan

Sumber
Pendanaan
Pemilihan Sumber
Pendanaan
Keputusan apakah akan
membiayai usaha (khususnya
belanja barang modal) dari dana:
Modal sendiri seluruhnya
Bauran antara hutang dengan modal
sendiri
Pendanaan Hutang vs Modal
Sendiri
Pendanaan Modal Sendiri
Lebih aman
tidak harus bayar bunga (keharusan
membayar bunga akan sangat sulit jika
kondisi usaha tidak menguntungkan0
Pembagian keuntungan bagi pemilik
modal hanya perlu dilakukan jika
perusahaan mendapatkan laba
Lebih sulit didapatkan mengandung
biaya yang mahal
Pendanaan Hutang vs Modal
Sendiri
Pendanaan hutang
Beresiko
Risiko tidak likuid akan menghabiskan
waktu manajemen untuk mencari dana
operasional (kas)
Risiko gagal bayar/bangkrut (secara hukum)
Lebih mudah didapatkan
Dari bank atau lembaga pembiayaan non bank
Umumnya lebih mempertimbangkan nilai
jaminan daripada penilaian prospek usaha
Mengandung biaya lebih murah
Biaya hutang vs biaya modal
sendiri
Perusahaan harus menjanjikan
keuntungan yang lebih besar agar
pemilik modal bersedia
menginvestasikan dananya premi
atas kesediaan menganggung risiko
biaya modal sendiri lebih mahal
daripada biaya modal hutang
Premi atas risiko yang diminta tergantung
pada tinggi atau rendahnya risiko usaha
Analisis EBIT/EPS
Suatu analisis untuk melihat
apakah kegiatan usaha sebaiknya
didanai dengan cara :
*modal sendiri seluruhnya atau
* bauran antara modal sendiri
dengan hutang
Analisis EBIT/EPS
EBIT = laba usaha sebelum bunga
dan pajak (earning before interest
and tax, EBIT)
EPS = laba per lembar saham
(earning per share, EPS)

EPS = laba bersih / jumlah saham


beredar
Analisis EBIT/EPS

EPS = (EBIT - I)(1 - t)


S

I = bunga
t = pajak
S = jumlah saham beredar
Contoh
Suatu perusahaan saat ini mempunyai 8.000
lembar saham yang beredar, yang nilainya Rp
300.000 per lembar, tidak punya hutang, dan
kena pajak pada tingkat 30%. Perusahaan ini
membutuhkan dana sebesar Rp 600 juta untuk
mendanai pembelian peralatan baru yang akan
meningkatkan skala usaha perusahaan. Saat ini
perusahaan menghasilkan EBIT Rp 100 juta per
tahun. Untuk mendanai pembelian tersebut,
diusulkan dua cara:
Meminjam dari bank sebesar Rp 600 juta dengan
bunga 10% per tahun
Menjual tambahan 2,000 lembar saham senilai Rp
300.000 per lembar
Jika setelah pembelian peralatan baru,
EBIT diperkirakan sebesar Rp 200 juta /
tahun, maka :

Pendanaan saham hutang


EBIT 200 200
- Bunga 0 (60)
Laba sebelum pajak 200 140
- pajak (30%) 60 42
Laba setelah pajak 140 98
Jumlah saham beredar 10.000 8.000

EPS Rp 14.000 Rp 7.000


Jika setelah pembelian peralatan baru,
EBIT diperkirakan sebesar Rp 400 juta /
tahun, maka :

Pendanaan saham hutang


EBIT 400 400
- Bunga 0 (60)
Laba sebelum pajak 400 340
- pajak (30%) 120 102
Laba setelah pajak 280 238
Jumlah saham beredar 10.000 8.000

EPS Rp 28.000 Rp 29.750


Jika EBIT adalah Rp 200 juta
lebih baik pakai saham
Jika EBIT Rp 400 juta
lebih baik pakai hutang
Berapa titik impasnya EBIT
agar EPS yang dihasilkan
untuk kedua sumber dana
adalah sama ?
EPS pendanaan saham = EPS pendanaan
hutang

EPS = (EBIT - I)(1 - t)


S

EPS Pendanaan hutang


= [(EBIT 0) ( 1- 0,3)]/10.000
EPS pendanaan saham = EPS pendanaan
hutang

EPS = (EBIT - I)(1 - t)


S

EPS Pendanaan saham


= [(EBIT 60 juta) ( 1- 0,3)]/8.000
EPS pendanaan saham = EPS
pendanaan hutang
[(EBIT 0) ( 1- 0,3)]/10.000
= [(EBIT 60 juta) ( 1- 0,3)]/8.000

EBIT = Rp 300 juta


Jika setelah pembelian peralatan baru,
EBIT diperkirakan sebesar Rp 300 juta /
tahun, maka :

Pendanaan saham hutang


EBIT 300 300
- Bunga 0 (60)
Laba sebelum pajak 300 240
- pajak (30%) 90 72
Laba setelah pajak 210
168

Jumlah saham beredar 10.000 8.000

EPS Rp 21.000 Rp 21.000


EBIT titikimpas Hutang
EPS
3 Untuk EBIT sampai Rp 300 juta,
Lebih baik pakai saham
Modal

2
Untuk EBIT diatas Rp 300 juta,
Lebih baik pakai hutang

0 EBIT
200 jt $300 jt 400 jt
Risiko Keuangan
Penggunaan hutang sebagai sumber
pendanaan akan meningkatkan risiko
keuangan usaha meskipun dapat
memberi keuntungan yang lebih
besar (EPS) bagi pemegang saham,
tetapi juga meningkatkan risiko
usaha Ibarat pedang bermata
dua