Anda di halaman 1dari 10

Analisis

Jurnal

GAMBARAN PELAKSANAAN LAYANAN


VOLUNTARY COUNSELING AND
TESTING (VCT) DAN SARANA
PRASARANA KLINIK VCT DI KOTA
BANDUNG TAHUN 2013
(Mujiati, Sugiharti, Mario Bryan)
Nama
Anggota

1. Deva Prayunika
2. Zerlinda Ghassani
3. Nur Aulia Rahma
4. Fikri Habibah
5. Nur Saadah
6. Dyah Ayu Amborowati
7. Tiffani Aprilia
LATAR BELAKANG

Data Kemenkes hingga Maret 2012,


menempatkan
Kasus HIV/AIDS Provinsi
di Indonesia
Jawa Barat
terusdi
Jumlah kasus HIV-AIDS di Kota Bandung diperkirakan
urutan ke-4 dengan
meningkatjumlah penderita
akan terus meningkat jika tidak dilakukan upaya
HIV/AIDS terbesar.
pencegahan dan penanggulangan secara komprehensif
LATAR BELAKANG
Tujuan
VCT

1. Melakukan pencegahan penularan HIV


Voluntary Counseling and Testing (VCT)
2. Pintu masuk ke semua layanan HIV/AIDS
salah satu strategi kesehatan masyarakat yang efektif untuk melakukan
3. Mengurangi stigma masyarakat dan mendukung hak
pencegahan sekaligus pintu masuk untuk mendapatkan layanan
asasi manusia
manajemen kasus serta perawatan, dukungan, dan pengobatan
bagi orang dengan HIV-AIDS (ODHA).
Waktu pelaksanaan
Desain penelitian

TidakMetode explanatory
jelas kapan research
dilakukan penelitian
Pendekatan cross sectional

Tempat pelaksanaan
Tujuan penelitian

Klinik VCT RSUD Kota Bandung, RS Al Islam Bandung,


Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan VCT dan
Puskesmas Kopo, Puskesmas Ujungberung Indah,
sarana prasarana klinik VCT di Bandung
Klinik Mawar PKBI dan LSM Abiasa.
Proses Penelitian

Sampel Penelitian ini sampel


Pengambilan
126 respondentidak mencantumkan
dengan
berisiko kriteria
teknikHIV/AIDS
terkena
inklusi dan eksklusi
purposive
sampling

Pengumpulan data dilakukan dengan


Instrumen wawancara menggunakan kuesioner dan
wawancara mendalam dengan pedoman
kuesioner.

Data kuantitatif dianalisis secara


deskriptif dan data kualitatif
Analisa data menggunakan metode analisis isi.
Hasil Penelitian
Layanan Klinik VCT dinilai baik oleh 69,0 % responden

Yang masih belum baik:

1. Bahasa konselor tidak bisa dipahami,


2. Klien membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk dapat bertemu dengan
nselor,
3. Stigma dan diskriminasi dari petugas juga masih menjadi kendala
dalam pelaksanaan layanan VCT,
4. Konselor pretest dan post-test bukan orang yang sama

Sarana dan prasarana dinilai baik oleh 58,7 % responden ;


41,3 % responden menilai belum baik.

Yang masih belum baik:

1. Pintu masuk ruang konseling sama dengan pintu keluar,


2. Tidak ada tempat cuci tangan di tempat pengambilan darah,
3. Tidak terdapat papan informasi tentang alur layanan VCT,
4. Fasilitas belum lengkap dan tidak ada kotak saran di ruang tunggu
Implikasi Keperawatan
Kurangnya kemampuan komunikasi konselor terhadap klien.

Ketidakkonsistennya dalam memberikan pelayanan seperti


ketidaksamaan konselor dalam memberikan pre dan post
konseling.

Ketidakprofessionalan konselor terhadap klien sehingga


secara tidak langsung menimbulkan stigma.

Sulitnya manajemen waktu antara konselor dan klien


sehingga klien yang akan melakukan konseling menunggu
lama.

Kurangnya sarana dan prasarana yang memadai.


KESIMPULAN
Layanan VCT secara umum sudah berjalan lancar, namun ada
beberapa kendala konselor yaitu jumlah konselor, waktu
tunggu konselor, bahasa dan sikap konselor/petugas.

Sarana dan prasarana klinik VCT secara umum sudah baik.


Sarana dan prasarana yang masih kurang seperti materi KIE
masih kurang dan stok obat yang pernah kosong.