Anda di halaman 1dari 98

TORCH DAN HEPATITIS

kelompok 12
Askeb IV 2B

Nama Kelompok :
Arini Trianawati
Ema Rachmalia
4/26/17
Sawitri 1
Tujuan
Mahasiswa mampu menjelaskan definisi infeksi
TORCH dan Hepatitis.
Mahasiswa mampu menjelaskan bahaya dari
infeksi TORCH dan Hepatitis dalam kehamilan.
Mahasiswa mampu menentukan diagnosa dari
penyakit TORCH dan Hepatitis.
Mahasiswa mampu menjelaskan gejala gejala,
etiologi, bentuk dan manifestasi klinis, serta
penanganan dari infeksi TORCH dan Hepatitis.
Melakukan aplikasi kasus untuk infeksi TORCH
dan Hepatitis.
4/26/17 2
TORCH
Infeksi TORCH (toksoplasma, rubela,
cytomegalovirus/CMV dan herpes simplex) adalah
sekelompok infeksi yang dapat ditularkan dari
wanita hamil kepada bayinya. Infeksi TORCH juga
dapat menyerang semua jaringan organ tubuh,
termasuk sistem saraf pusat dan perifeir yang
mengendalikan fungsi gerak, penglihatan,
pendengaran, sistem kadiovaskuler serta
metabolisma tubuh. Infeksi TORCH ini sering
menimbulkan berbagai masalah kesuburan
(fertilitas) baik pada wanita maupun pria sehingga
menyebabkan sulit terjadinya kehamilan

4/26/17 3
Bahaya TORCH pada
kesuburan dan Kehamilan
Menurut penelitian medis, TORCH dapat
mempengaruhi kesuburan karena
menimbulkan turunnya kesuburan dan
rusaknya fertilitas pada wanita. Sel telur
maupun inti sel dirusak oleh virus TORCH
sehingga sel terlurnya mengecil dan tidak
bisa dibuahi. Dengan adanya infeksi TORCH
ini, pada wanita bisa menyebabkan
terbentuknya mioma, penyumbatan atau
perlengketan, sehingga sel telur tidak bisa
dibuahi atau mengakibatkan sulit hamil.
4/26/17 4

Toxo tidak menular pada pasangan,
sedangkan Rubella, CMV, dan Herpes
bisa menular. Penularan bisa terjadi
melalui hubungan seksual, air liur,
keringat, darah, dan Air Susu Ibu
(ASI).

4/26/17 5
Diagnosis TORCH

Penderita TORCH kadang tidak menunjukkan gejala klinis


yang spesifik, bahkan bisa jadi sama sekali tidak merasakan
sakit. Secara umum keluhan yang dirasakan adalah mudah
pingsan, pusing, vertigo, migran, penglihatan kabur,
pendengaran terganggu, radang tenggorokan, radang sendi,
nyeri lambung, lemah lesu, kesemutan, sulit tidur, epilepsi,
dan keluhan lainnya.

Untuk kasus kehamilan: sulit hamil, keguguran, organ tubuh


bayi tidak lengkap, cacat fisik maupun mental, autis,
keterlambatan tumbuh kembang anak, dan
ketidaksempurnaan lainnya. Namun begitu, gejala diatas
tentu belum membuktikan adanya penyakit TORCH sebelum
dibuktikan dengan uji laboratorik.

4/26/17 6

Diagnosis dilakukan dengan tes
ELISA. Ditemukan bahwa antibodi
IgM menunjukkan hasil positif 40
(10.52%) untuk toksoplasma, 102
(26.8%) untuk Rubella, 32 (8.42%)
untuk CMV dan 14 (3.6%) untuk HSV-
II. Antibodi IgG menunjukkan hasil
positif 160 (42.10%) untuk
Toxoplasma, 233 (61.3%) untuk
Rubella, 346 (91.05%) untuk CMV
4/26/17 7
Klasifikasi TORCH
1. Toksoplasmosis
2. Rubella
3. Cytomegalovirus (CMV)
4. Herpes Simplex

4/26/17 8
1.Toksoplasmosis
Etiologi

kontaminasi (misalkan pada petugas laboratorium,


perkebunan, peternakan, dan lain lain); kontak yang
tidak sengaja dengan tinja kucing Infeksi toksoplasmosis
dapat menyerang pada manusia akibat termakannya
spora toksoplasma gondii. Penyebab dari infeksi
tersebut adalah makan daging yang mentah yang
mengandung telur (ookista) toksoplasma; sayuran yang
terkontaminasi telur (ookista) toksoplasma; melalui
tangan yang terng; tikus; bermain main dengan kucing
selama hamil, dan hewan peliharaan lain.

4/26/17 9
Patofisiologi
Parasit toksoplasma cenderung untuk
masuk ke dalam sel organ ( intrasel )
tubuh manusia dan terdapat dalam tiga
bentuk, yaitu bentuk trofozoit yang
beredar dalam darah, bentuk ookista yang
dikeluarkan dalam tinja kucing, dan
bentuk kista yang menetap dalam
jaringan tubuh seperti paru, jantung, otot,
dan otak Bentuk kista berupa sebuah
kantung yang di dalamnya berisi beribu-
ribu trofozoit T gondii.
4/26/17 10

Bentuk parasit T gondii seperti batang
melengkung dengan ukuran lebih kecil dari sel
darah merah (3-6 mm) bergerak dengan
gerakan aktinomisin di bawah membran
plasma, dapat menembus sel secara aktif
masuk ke berbagai jaringan seperti otot, otak,
mata, dan usus. Kucing yang menderita
toksoplasmosis akan mengeluarkan beribu-
ribu ookista yang tetap infektif selama
berbulan-bulan di tanah yang tidak terkena
sinar matahari.
4/26/17 11
Tanda dan Gejala Klinik
Kira-kira hanya 10-20% kasus infeksi Toxoplasma
yang disertai gejala ringan, mirip gejala influenza,
bisa timbul rasa lelah, malas, demam, sakit
tenggorokan, kelenjar limfe membengkak, terjadi
abses, gangguan pada kulit dan umumnya tidak
menimbulkan masalah.

Infeksi Toxoplasma berbahaya bila terjadi saat ibu


sedang hamil atau pada orang dengan sistem
kekebalan tubuh terganggu. Toxoplasmosis bawaan,
gejala dapat muncul setelah dewasa, misalnya
keterlambatan perkembangan psikomotor dalam
bentuk retardasi mental dan gangguan bicara dan
kelainan kongenital.

4/26/17 12
Diagnosis Toksoplasmosis

Diagnosis Toxoplasmosis secara klinis sukar ditentukan


karena gejala-gejalanya tidak spesifik atau bahkan
tidak menunjukkan gejala (sub klinik). Oleh karena itu,
pemeriksaan laboratorium mutlak diperlukan untuk
mendapatkan diagnosis yang tepat. Pemeriksaan yang
lazim dilakukan adalah Anti-Toxoplasma IgG, IgM dan
IgA, serta Aviditas Anti-Toxoplasma IgG. Pemeriksaan
tersebut perlu dilakukan pada orang yang diduga
terinfeksi Toxoplasma, ibu-ibu sebelum atau selama
masa hamil (bila hasilnya negatif perlu diulang sebulan
sekali khususnya pada trimester pertama, selanjutnya
tiap trimester), serta bayi baru lahir dari ibu yang
terinfeksi Toxoplasma.

4/26/17 13

Para ahli memperkenalkan metode baru yang merupakan
koreksiatas dasar pengobatan toksoplasmosis congenital
yang lampau. Saat ini pemanfaatan tindakan
kordosentesis dan amniosintesis dengan panduan
ultrasonografi guna memperoleh darah janin ataupun
cairan ketuban sebagai pendekatan diagnostic merupakan
cirri para obstetrikus pada decade 90-an. Selanjutnya
segera dilakukan pemeriksaan spesifik dan rumit yang
sifatnya biomolekular atas komponen janin tersebut
(darah atau cairan ketuban) dalam waktu relative singkat
dengan ketepatan yang tinggi. Upaya ini dikenal dengan
diagnostik prenatal. dilakukan pada usia kehamilan 14-27
minggu (trimester II).

4/26/17 14

Aktivitas diagnostic prenatal meliputi sebagai berikut :

Kordosentesis ( pengambilan sampel darah janin melalui


tali pusat) ataupun amniosintesis (aspirasi cairan ketuban)
dengan tuntunan ultrasonografi.

Pembiakan darah janin ataupun cairan ketuban dalam


kultur sel fibroblast, ataupun diinokulasi ke dalam ruang
peritoneum tikus diikuti isolasi parasit, ditunjukkan untuk
mendekteksi adanya parasit. Pemeriksaan dengan teknik
P.C.R guna mendeteksi DNA T. gondii pada darah janin atau
cairan ketuban. Pemeriksaan dengan teknik ELISA pada
darah janin guna mendekteksi antibody IgM janin spesifik
(antitoksoplasma)

4/26/17 15
Dampak infeksi toxoplasmosis dalam kehamilan

Toksoplasmosis sering disebut sebagai


salah satu penyebab terjadinya
kegagalankehamilan, dengan berbagai
jenis manifestasi klinis seperti abortus,
lahir prematur, IUGR, lahir mati dan lahir
dengan cacat bawaan seperti kebutaan
(retinokoroiditis), hidrosefalus,
meningoencephalitis (radang otak), tuli,
pengapuran otak,retardasi mental, kejang-
kejang, dan gangguan neurologis lainnya

4/26/17 16

Risiko seorang ibu hamil yang
terinfeksi akut dengan toksoplasma
menurunkan infeksi pada bayi bila
tidak segera mendapat pengobatan.
Pada kehamilan trimester pertama
risiko penurunan 25 %, trimester
kedua 54 % dan 65 % pada trimester
ketiga.

4/26/17 17
Penatalaksanaan Toxoplasma

Hindari makan makanan yang dimasak


setengah matang dan mentah.
Bersihkan sayuran dan buah buahan sebelum
dimakan dengan benar.
Bila membersihkan sampah atau tempat sampah
jangn lupa menggunakan sarung tangan.
Menyingkirkan hewan peliharaan.
Pakailah sarung tangan bila anda ingin
mengerjakan pekerjaan kebun atau pekarangan
anda untuk menghindari kontak langsung dari
kotoran terinfeksi

4/26/17 18

Konseling yang berkaitan dengan infeksi
toksoplasmosis risiko terhadap fungsi reproduksi dan
hasil konsepsi, dapat dilakukan dengan rawat jalan.
Selama kehamilan ibu dapat diterapi dengan
spiramisin, atau setelah kehamilan 14 minggu ibu
diterapi dengan pirimethamin dan sulfonamida.
Evaluasi kondisi antigen dan titer immunoglobulin
anti toksoplasma.
Upayakan persalinan pervaginam dan apabila terjadi
disproporsi kepala panggul yang disebabkan oleh
hidrosefalus, lakukan kajian ultrasonografi ketebalan
korteks untuk pilihan penyelesaian masalah.

4/26/17 19
Rubella
Rubella atau dikenal juga dengan campak Jerman
adalah penyakit menular yang disebabkan oleh
virus Rubella dan sering diderita anak-anak.
Rubela yang dialami pada trimester pertama
kehamilan 90 persennya menyebabkan
kebutaan, tuli, kelainan jantung, keterbelakangan
mental, bahkan keguguran karena virus ini dapat
menembus dinding plasenta dan langsung
menyerang janin.Virus biasanya menginfeksi
tubuh melalui pernafasan seperti hidung dan
tenggorokan bisa juga melalui udara

4/26/17 20
patofisiologi
Sumber infeksi rubela janin adalah dari plasenta wanita
hamil yang menderita viremia. Viremia maternal bisa
dimulai 1 minggu sebelum serangan ruam dan dapat
menimbulkan infeksi plasenta. Di awal kehamilan infeksi ini
tidak menetap di jaringan plasenta ibu (desisua), tapi
menetap di vili korion. Viremia janin kemudian bisa
menimbulkan infeksi janin diseminata. Pembentukan organ
terjadi dalam minggu kedua sampai keenam setelah
konsepsi, sehingga infeksi sangat berbahaya untuk jantung
dan mata pada saat itu. Dalam trimester kedua, janin
mengalami peningkatan kemampuan imunologi dan tidak
lagi peka terhadap infeksi kronis yang merupakan khas
rubella intrauterin dalam minggu-minggu awal

4/26/17 21
Tanda dan Gejala Klinik
Gejala gejala rubella pada dasarnya hampir sama
dengan campak biasa yang telah dikenal dengan ciri
ciri panas tinggi, pusing kepala, sakit yang
berkesinambungan, dan tenggorokan kering. Selain itu
biasanya juga disertai dengan timbulnya bercak
bercak merah layaknya gejala DBD (Demam Berdarah
Dengue).

Gejala gejala Infeksi Rubella : pembengkakan pada


kelenjar getah bening, demam diatas 38C, mata
terasa nyeri, muncul bintik bintik merah diseluruh
tubuh, kulit kering, sakit pada persendian, sakit kepala,
hilang nafsu makan.

4/26/17 22
Diagnosis Rubella
Diagnosis infeksi Rubella yang tepat perlu
ditegakkan dengan bantuan pemeriksaan
laboratorium. Pemeriksaan Laboratorium yang
dilakukan meliputi pemeriksaan Anti-Rubella IgG
dan IgM. Pemeriksaan Anti-rubella IgG dapat
digunakan untuk mendeteksi adanya kekebalan
pada saat sebelum hamil. Jika ternyata belum
memiliki kekebalan, dianjurkan untuk divaksinasi.

4/26/17 23

Untuk memastikan apakah janin terinfeksi
atau tidak, maka dilakukan pendeteksian virus
Rubella dengan teknik PCR (Polymerase Chain
Reaction). Bahan pemeriksaan diambil dari air
ketuban (cairan amnion) atau darah janin.
Pengambilan sample air ketuban ataupun
darah janin harus dilakukan oleh dokter ahli
kandungan dan kebidanan, dan hanya dapat
dilakukan setelah usia diatas 22 minggu.
Infeksi terjadi melalui kontak langsung
dengan penderita.
4/26/17 24
Dampak Infeksi Rubella pada
Kehamilan
Infeksi pada kehamilan dapat menimbulkan kelainan
bawaan sehingga perlu dilakukan gugur kandung untuk
dapat meningkatkan sumber daya manusia. Cacat bawaan
yang ditimbulkan berdampak berat bila infeksi sudah
terjadi pada trimester pertama sekitar 35% - 50% bayi
yang dilahirkan. Bentuk kelainan bawaan di antaranya
mata (katarak. Glaucoma, dan mikroftalmia), telinga
(ketulian), jantung (duktus arteriosus persisten, septum
jantung tetap terbuka, stenosis arteria pulmonalis),
susunan saraf pusat (meningoensefalitis, mikrosefali,
gangguan intelegensia), dapat dijumpai kelainan berupa
keterlambatan pertumbuhan janin, hepatosplenomegali,
ikterus, kelainan kromosom, trombositopenia dan anemia.

4/26/17 25

Pada trimester I (minggu pertama 13), jika ibu


hamil mendapatkan Rubella pada masa ini maka
kemungkinan akan berakibat fatal ( 90 %) pada
janin.
Pada trimester kedua (minggu ke-14 sampai
minggu ke-15) pada umumnya risiko penularan
ke janin juga semakin kecil
Pada trimester ketiga setelah minggu ke-16 risiko
cacat pada janin boleh dibilang sudah hampir
tidak ada

4/26/17 26
Penatalaksanaan Rubella
Penyuluhan oleh petugas kesehatan sebaiknya
menganjurkan pemberian imunisasi Rubella untuk
semua orang yang rentan. Memberikan dosis
tunggal vaksin hidup, yaitu virus Rubella yang
dilemahkan, dosis tunggal ini memberikan
antibody yang signifikan, yaitu kira kira 98 99
% dari orang yang rentan. Vaksin dikemas dalam
bentuk kering dan sesudah dilarutkan harus
disimpan dalam suhu 2-8C

4/26/17 27
Cytomegalovirus (CMV)
Infeksi CMV umumnya berjalan simtomatik
pada penderita dengan kompetensi system
imun tubuh yang baik, namun apabila
individu berada dalam kondisi imun belum
matang (misalnya janin, bayi baru lahir),
tertekan (memakai obat immunosupressan),
atau lemah (misalnya menderita kanker,
human immunodeficiency virus, dan lain-
lain), dapat menimbulkan gejala klinik yang
nyata dan berat

4/26/17 28
patofisiologi
CMV adalah salah satu anggota kelompok virus herpes, yang
meliputi virus herpes simpleks tipe 1 dan 2, virus varicella
zoster (penyebab cacar air), dan virus Epstein-Barr
(penyebab mononucleosis yang menular)
Seperti halnya keluarga herpes lainnya, virus CMV dapat
tinggal secara laten dalam tubuh dan CMV merupakan salah
satu penyebab infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi
yang berbahaya bagi janin bila infeksi terjadi saat ibu sedang
hamil karena virus Cytomegalo dapat melewati plasenta dan
merusak hati janin.
Jika ibu hamil terinfeksi, maka janin yang dikandung
mempunyai risiko tertular sehingga mengalami gangguan
misalnya pembesaran hati, kuning, pekapuran otak, ketulian,
retardasi mental, dan lain-lain.

4/26/17 29
Tanda dan Gejala Klinik
Pada manusia sehat dengan
kehamilan atau imunokompeten
penyakit infeksi CMV seringkali
asymptomatik. Gejala yang kadang
timbul berupa gejala mirip
mononukleus tanpa disertai
faringitis, tonsilitis, atau
limfadenopati

4/26/17 30
Diagnosa CMV
Pemeriksaan laboratorium sangat bermanfaat
untuk mengetahui infeksi akut atau infeski
berulang, dimana infeksi akut mempunyai
risiko yang lebih tinggi. Pemeriksaan
laboratorium yang dilakukan meliputi Anti
CMV IgG dan IgM, serta Aviditas Anti-CMV IgG.
Infeksi CMV pada ibu hamil dapat memberikan
gejala asimptomatis atau gejala tidak khas
dan mempunyai spectrum yang luas sehingga
memerlukan pemeriksaan penunjang untuk
memastikan diagnosis
4/26/17 31

Pada skrinning ibu hamil dengan pemeriksaan
serologis digunakan kombinasi anti-CMV IgG dan
IgM pada ibu hamil kurang dari 12 minggu. Pada
ibu seronegatif dilakukan pemeriksaan ulangan
pada kehamilan 6-18 minggu.
Pada ibu dengan serokonversi atau anti-CMV positif
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Penentuan
infeksi CMV aktif dapat juga ditentukan oleh
pemeriksaan antigenemiam, deteksi pengukuran
dengan pp65 pada leukosit darah tepi hasil
pemeriksaan antigenemiam mempunyai
sensitivitas 60-70%.

4/26/17 32
Dampak infeksi CMV pada Kehamilan

Resiko transmisi dari ibu ke janin konstan sepanjang


masa kehamilan dengan angka sebesar 40 50%.
10 20% neonatus yang terinfeksi memperlihatkan
gejala-gejala :
Hidrop non imune
PJT simetrik
Korioretinitis
Mikrosepali
Kalsifikasi serebral
Hepatosplenomegali
Hidrosepalus

4/26/17 33

80 90% tidak menunjukkan gejala
namun kelak dikemudian hari dapat
menunjukkan gejala :

Retardasi mental
Gangguan visual
Gangguan perkembangan
psikomotor

4/26/17 34
Penatalaksanaan CMV
Pencegahan meliputi penjagaan kebersihan pribadi, mencegah tranfusi darah
Ibu atau pengasuh hendaknya memelihara kebersihan perorangan.
Laporan dari satu penelitian menyebutkan bahwa 70% bayi yang tertular virus
sewaktu di dalam kandungan masih mengeluarkan virus melalui air seni
mereka sampai berusia 1-3 tahun.
Demikian juga pada perawat ibu hamil yang mungkin terinfeksi virus tetap
memelihara kesehatan perorangan dengan baik.
Pemberian vaksi sitomegalo dapat memberikan perlindungan bagi yang
beresiko tertular virus
Perawat bayi perlu diberi penyuluhan mengenai infeksi virus sitomegalo.
Perawat yang tidak sedang hamil, tidak selalu bisa menularkan virus pada bayi
yang diasuhnya.
Selama hamil, cuci tangan yang bersih dengan sabun dan air mengalir setelah
melakukan kontak dengan popok dan cairan sekresi mulut.
Ibu hamil yang mencurigakan tertular virus sitomegalo, sebaiknya diperiksa
dan perlu perhatian pada bayinya apakah juga sudah tertular virus.
Periksaan dengan tes anti body terhadap virus sitomegalo.

4/26/17 35
Herpes Simplex
Berdasarkan struktur antigeniknya dikenal 2 tipe virus
herpes simpleks yaitu herpes simplex 1 (HSV-1) dan herpes
simplex virus 2 (HSV 2)
VirusHerpes SimpleksTipeI (HSV I)
Penyakit kulit/selaput lendir yangditimbulkan biasanya
disebutherpes simplekssaja, atau dengan nama
lainherpes labialis, herpesfebrilis. Biasanya penderita
terinfeksi virus ini pada usiakanak-kanak melalui udara dan
sebagian kecil melalui kontak langsung seperti ciuman,
sentuhan atau memakai baju/handuk mandi bersama. Lesi
umumnya dijumpai pada tubuh bagian atas termasuk mata
dengan rongga mulut, hidung dan pipi; selain itu, dapat
juga dijumpai di daerah genitalia, yang penularannyalewat
koitusorogenital (oral sex)

4/26/17 36
Virus Herpes Simpleks Tipe II (HSV II)

Penyakit ditularkanmelalui hubungan


seksual, tetapi dapat juga terjadi tanpa
koitus, misalnya dapat terjadi pada
dokter gigi dan tenaga medik. Lokalisasi
lesi umumnya adalah bagian tubuh di
bawah pusar, terutama daerah genitalia
lesi ekstra-genital dapat pula terjadi
akibat hubungan seksualorogenital

4/26/17 37
patofisiologi
Virus herpes simpleks disebarkan melalui kontak langsung
antara virus dengan mukosa atau setiap kerusakan di kulit.
Virus herpes simpleks tidak dapat hidup di luar lingkungan
yang lembab dan penyebaran infeksi melalui cara selain
kontak langsung kecil kemungkinannya terjadi. Virus
herpes simpleks memiliki kemampuan untuk menginvasi
beragam sel melalui fusi langsung dengan membran sel.
Pada infeksi aktif primer, virus menginvasi sel pejamu dan
cepat berkembang dengan biak, menghancurkan sel
pejamu dan melepaskan lebih banyakvirion untuk
menginfeksi sel-sel disekitarnya. Pada infeksi aktif primer,
virus menyebarmelalui saluran limfe ke kelenjar limfe
regional dan menyebabkan limfadenopati.

4/26/17 38
Tanda dan Gejala Klinik

Suhu tubuh panas timbul gelembung atau bintil bintil kecil berisi
cairan kemerahan dan sakit pada alat kelamin karena kondisi
sedang lemah, kuman lain dapat menumpang sehingga dapat
menyebabkan infeksi sekunder pada paru paru, dermatitis dan
lainnya. Timbul erupsi bintik kemerahan disertai rasa panas dan
gantal pada kulit region genitalis. Kadang-kadang disertai demam
seperti influenza dan setelah 2-3 hari, bintik kemerahan tersebut
berubah menjadi vesikel disertai rasa nyeri. 5-7 hari kemudian,
vesikel pecah dan keluar cairan jernih dan pada lokasi vesikel
yang pecah, timbul keropeng (atau ditutupi lapisan kekuningan
bila terkena infeksi sekunder).Bila mengenai regio genetalia yang
cukup luas, dapat menyebabkan gangguan mobilitas, vaginitis,
urethritis, sistitis dan fisura ani herpetika. Dapat menyebabkan
abortus, anomaly congenital dan infeksi pada neonatus
(kongjungtivitis/keratitis, ensefalitis kutis, ikterus dan konvulsi).

4/26/17 39
Dampak Infeksi Herpes Simplex pada Kehamilan

Untuk wanita hamil yang terjangkit HSV2 harus


ditangani secara serius karena virus ini dapat
menembus plasenta dan dapat menimbulkan
kerusakan pada organ janin hingga menyebabkan
kematian. Bilaibu hamil dan terinfeksi herpes
simpleks, mungkin takut akan risiko
menularkannya pada bayi. Sebetulnya risiko itu
sangat amat rendah terutama bila kita sudah
agak lama terinfeksi herpes. Kurang dari 0,1%
bayi terlahir setiap tahun mendapatkan herpes
saat lahir. Sebaliknya, kurang lebih 25-30% ibu
hamil terinfeksi herpes simpleks.
4/26/17 40

Risiko tertinggi herpes neonatus
terjadi pada bayi bila ibunya tertular
herpes simpleks pada akhir
kehamilan. Walau jarang, hal ini
memang terjadi, dan dapat
menyebabkan penyakit yang berat,
bahkan gawat, pada bayi. Bayi paling
berisiko tertular herpes neonatus bila
ibunya sendiri tertular herpes
simpleks pada akhir masa kehamilan
4/26/17 41
Penanganan Khusus

Atasi nyeri dan demam dengan parasetamol 3 x 500


mg.
Bersihkan lesi dengan larutan antiseptic dan kompres
dengan air hangat. Setelah nyeri berkurang, keringkan
dan oleskan asiklovir 5% topical.
Berikan asiklovir oral 200 mg tiap 4 jam.
Rawat inap bila terjadi demam tinggi, nyeri hebat,
retensi urin, konvulsi, neurosis, reaksi neurologic local,
ketuban pecah dini, partus premature.
Obati pasangnya dengan asiklovir oral selama 7 hari.
Bila diputuskan untuk partus pervaginam, hindarkan
transmisi ke bayi atau penolong.

4/26/17 42
Pencegahan
Apabila ibu hamil terinfeksi virus ini,
agar bayi tidak terinfeksi sebaiknya
dilakukan operasi sesar, pencegahan
lainnya dengan cara menjaga
kebersihan perseorangan dan
pendidikan kesehatan terutama
kontak dengan bahan infeksius,
menggunakan kondom dalam
aktivitas seksual, dan penggunaan
sarung tangan dalam menangani lesi
4/26/17 43

Untuk mencegah transmisi ibu kejanin :
Pengobatan supresi pada serangan satu dalam
kehamilan.
Rutin pemberian antivirus pada kehamilan
dengan riwayatinfeksi HSV.
Pemeriksaan serologi (darah) pada yang berisiko
terkena infeksi HSV.
Pakaian bekas pakai ibu yang terinfeksi virus
harus harus dicuci secara desinfeksi tingkat
tinggi (DTT) dengan direndam klorin kemudian
direndam air mendidih agar virus mati.

4/26/17 44
Pemeriksaan TORCH Saat Hamil

Pemeriksaan TORCH adalah pemeriksaan yang bertujuan


untuk mendeteksi infeksi TORCH, yang disebabkan oleh
parasit Toxoplasma, virus Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan
virus Herpes. Cara mengetahui infeksi TORCH adalah dengan
mendeteksi adanya antibodi dalam darah pasien, yaitu
dengan pemeriksaan :
Anti-Toxoplasma IgM dan Anti-Toxoplasma IgG (untuk
mendeteksi infeksi Toxoplasma)
Anti-Rubella IgM dan Anti-Rubella IgG (Untuk mendeteksi
infeksi Rubella)
Anti-CMV IgM dan Anti-CMV IgG (untuk mendeteksi infeksi
Cytomegalovirus)
Anti-HSV2 IgM dan Anti-HSV2 IgG (untuk mendeteksi infeksi
virus Herpes)

4/26/17 45

Infeksi toksoplasma dan CMV dapat dapat bersifat laten
tetapi yang berbahaya adalah infeksi primer (infeksi yang
baru pertama terjadi di saat kehamilan, terutama pada
trimester pertama).

Jadi, bila hasil pemeriksaan (yang dilakukan saat hamil)


positif maka perlu dilihat lebih lanjut apakah infeksi baru
terjadi atau telah lama berlangsung. Untuk itu perlu
dilakukan pemeriksaan :

Aviditas Anti-Toxoplasma IgG


Aviditas Anti-CMV IgG
Dampak Infeksi TORCH pada Janin dan bayi

4/26/17 46
Infeksi TORCH yang terjadi pada ibu hamil dapat
menyebabkan keguguran, bayi lahir prematur,
dan dapat juga menyebabkan kelainan pada janin
yang dikandungnya. Kelainan yang muncul dapat
bersifat ringan atau berat, kadang-kadang baru
timbul gejala setelah remaja. Kelainan yang
muncul dapat berupa :
kerusakan mata (radang mata)
kerusakan telinga (tuli)
kerusakan jantung
gangguan pertumbuhan
gangguan saraf pusat
kerusakan otak (radang otak)
keterbelakangan mental
pembesaran hati dan limpa
4/26/17 47
Indikasi Pemeriksaan Torch
Wanita yang akan hamil atau
merencanakan segera hamil
Wanita yang baru/sedang hamil bila
hasil sebelumnya negatif atau belum
diperiksa, idealnya dipantau setiap 3
bulan sekali
Bayi baru lahir yang ibunya terinfeksi
pada saat hamil

4/26/17 48
Pencegahan Torch
1. makan-makanan bergizi
2. Lakukan pemeriksaan sebelum
kehamilan
3. Melakukan vaksinasi
4. Makan-makanan yang matang
5. Periksa kandungan secara teratur
6. Jaga kebersihan tubuh
7. Hindari kontak dengan penderita
penyakit
4/26/17 49
TINJAUAN KASUS
Kasus Kehamilan dengan Infeksi TORCH : Toxoplasmosis

Ny.A datang ke BPS Bidan Sari pada tanggal 26 Maret 2013. Ibu
mengatakan mengeluh merasa lemah, mudah capek, dan merasa
agak pusing seperti akan flu, serta ibu mengatakan memelihara 3
ekor kucing dan sudah keguguran dua kali, sehingga cemas
dengan kehamilannya yang sekarang.. Ibu mengatakan ini
merupakan kehamilan ketiganya dan umur kehamilannya sudah
sekitar 7 bulan dengan Hari Pertama Haid Terakhirnya yaitu 18
September 2012. Ibu mengatakan selama hamil makan 2 kali
sehari dengan nasi, sayur dan kadang mengkonsumsi
daging/ikan. Ibu mengatakan sehari-hari mengerjakan pekerjaan
rumah tangga seperti membersihkan rumah. Pada pemeriksaan
tanda tanda vital : tekanan darah 120/70 mmHg, nadi
83x/menit, pernapasan 20x/menit, suhu 37,6C.

4/26/17 50
SOAP Kasus Kehamilan dengan
Infeksi TORCH : Cytomegalovirus
Hari/Tanggal Pengkajian : Selasa, 26 Maret 2013
Tempat Pengkajian : BPS Bidan Sari
Waktu Pengkajian: 16.00 WIB
Pengkaji : Bidan Sari

DATA SUBJEKTIF
Biodata
Istri Suami

Nama : Ny.A Tn.M


Umur : 23 tahun 24 tahun
Agama : Islam Islam
Suku/bangsa : Sunda Jawa
Pendidikan : SMA SMA
Pekerjaan : Ibu rumah tangga Pegawai Swasta
Alamat : Jalan Merdeka no 12 Jalan Merdeka no 12

4/26/17 51
2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan merasa lemah, mudah
capek, dan merasa agak pusing seperti
mau flu dan cemas dengan kehamilan
sekarang karena sudah abortus dua kali

3. Riwayat Kehamilan
Ibu mengatakan ini merupakan kehamilan
ketiga dan umur kehamilannya sudah
sekitar 7 bulan dengan Hari Pertama Haid
Terakhirnya yaitu 18 September 2012 dan
Taksiran Persalinannya 25 Juni 2013.
4/26/17 52
4. Riwayat Kesehatan
Ibu mengatakan tidak sedang menderita
penyakit seperti diabetes, jantung, malaria,
hepatitis, asma, ginjal, dan lain-lain

5. Riwayat Kesehatan Lalu


Ibu mengatakan tidak memiliki riwayat
penyakit diabetes, jantung, malaria, asma,
hepatitis, ginjal, dan lain-lain.

6. Riwayat Kesehatan Keluarga


. Ibu mengatakan keluarganya tidak memiliki
penyakit seperti diabetes, jantung, malaria,
hepatitis, asma, ginjal dan lain-lain.
4/26/17 53
7. Riwayat KB
Ibu mengatakan belum pernah menggunakan alat
kontrasepsi (KB).

8. Status Perkawinan
Ibu mengatakan ini merupakan pernikahannya yang
pertama, lamanya 6 tahun, usia ibu saat menikah 20
tahun dan suami 22 tahun

9. Pola Kebiasaan Sehari - hari


a. Nutrisi
. Makan: Ibu mengatakan selama hamil makan 2 kali sehari
dengan nasi, sayur, tahu/tempe dan kadang
mengkonsumsi daging/ikan.
. Minum : Ibu mengatakan minum air putih 5-6 gelas
sehari
4/26/17 54
b. Eliminasi
BAK : Ibu mengatakan buang air kecil 5 kali sehari.
BAB : Ibu mengatakan buang air besar 1 kali sehari.

c. Istirahat/tidur : Ibu mengatakan jarang tidur siang dan


tidur malam sekitar 6-7 jam.

d. Aktifitas sehari-hari :
Ibu mengatakan sehari-hari mengerjakan
pekerjaanrumah tangga seperti membersihkan rumah
seperti memasak, mencuci, menyetrika, dan lainnya.

e. Personal hygiene: Ibu mengatakan mandi 2 kali sehari


dan mengganti pakaian dalam setiap kali mandi.

f. Kegiatan Seksual : Ibu mengatakan tidak ada masalah


dalam kegiatan seksual.
4/26/17 55
B. Data Objektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis

2. TTV
Tekanan Darah : 120/70 mmHg
Nadi : 83 x/menit
Respirasi : 20 x/menit
Suhu : 37,6C

3. Antropometri
Berat badan sebelum hamil : 55 kg
Berat badan sekarang (saat hamil) : 57 kg
Tinggi badan : 155 cm
Lila : 24 cm
4/26/17 56
Pemeriksaan Fisik

Wajah : Tidak terdapat cloasma gravidarum, tidak ada oedema


Mata : Sklera putih, konjungtiva pucat
Mulut: Terlihat bersih, tidak ada karies
Leher: Tidak pembesaran kelenjar tiroid dan limfe, tidak ada
kenaikan vena jugularis
Dada : Inspeksi : Puting susu menonjol , aerola menghitam, tidak
ada retraksi dinding dada, terdapat pengeluaran colostrum
Palpasi : Tidak ada benjolan dan tidak ada nyeri tekan
Abdomen : tidak ada striae gravidarum, tidak ada luka bekas
operasi, terdapat linea gravidarum.
L1 : teraba bulat, lunak tidak melenting
L2 : teraba bagian keras memanjang di bagian kiri dan bagian-
bagian kecil janin di sebelah kanan
L3 : teraba bulat keras melenting
TFU : 2 jari dibawah px
DJJ : 130 x/menit

4/26/17 57

Ekstremitas : Atas dan bawah : Kuku tidak
pucat, tidak ada oedema dan tidak ada
varises. Refleks Patela (+)

Genetalia
Inspeksi : Terlihat bersih, tidak ada
pengeluaran yang abnormal
Palpasi : Tidak ada oedema, tidak ada
benjolan, tidak ada varises tidak ada nyeri
tekan

Anus : Tidak ada varises


4/26/17 58
Assasment

Ny. A usia 23 tahun G3POA2 hamil


27 minggu dengan susp.infeksi
toxoplasma

4/26/17 59
Planning
1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa ibu dalam
keadaan baik namum ibu di dicurigai terinfeksi virus
toxoplasmosis. Ibu tampak cemas.
2. Memberi dukungan psikologis untuk mengurangi
kecemasan ibu
3. Memberikan KIE mengenai infeksi virus toxoplasmosis
4. Memberitahu ibu untuk memeriksakan kandungannya
ke dokter spesialis kandungan. Ibu mengerti
5. Melakukan rujukan terhadap ibu ke dokter ahli untuk
melakukan pemeriksaan laboratorium mengenai hasil
test infeksi toxoplasmosis. ibu mengerti

4/26/17 60
HEPATITIS

4/26/17 61
Definisi
Hepatitis adalah peradangan hati karena
berbagai sebab. Hepatitis adalah penyakit yang
disebabkan oleh beberapa jenis virus yang
menyerang dan menyebabkan peradangan
serta merusak sel-sel organ hati manusia.
Etiologi
Hepatitis disebabkan oleh beberapa jenis
virus yang diketegorikan dalam beberapa
golongan, diantaranya hepatitis A, hepatitis B,
hepatitis C, hepatitis D, dan hepatitis E.
Penyebab hepatitis non - virus yang utama
adalah alkohol dan obat-obatan.

4/26/17 62
Macam-macam Hepatitis

a.Hepatitis A
b.Hepatitis B
c.Hepatitis C
d.Hepatitis D
e.Hepatitis E

4/26/17 63
Hepatitis A
Hepatitis disebabkan oleh virus yang disebarkan
oleh kotoran/tinja penderita biasanya melalui
makanan (fecal - oral), bukan melalui aktivitas
seksual atau melalui darah. Hepatitis A paling
ringan dibanding hepatitis jenis lain (B dan C).
Hepatitis A, merupakan enterovirus RNA,
mempunyai masa inkubasi antara 15-50 hari.
Secara kasar, penyakit ini terjadi 1 : 1000 ibu
hamil diseluruh dunia.
Biasanya perjalanan penyakit berlangsung 2-3
minggu. Tidak terdapat bentuk kronis dari
hepatitis A dan penyembuhan tergantung pada
imunitas untuk mencegah terjadinya reinfeksi.
Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa
hepatitis A merupakan agen teratogenik dan
4/26/17 64
Gejala
Hepatitis A biasanya muncul antara 2 sampai 6
minggu, seperti gejala flu, mual, diare, demam yang
tinggi, kepucatan, lemah, lesu, pusing, air seni,
kemerahan bagian pola mata dan kulit menjadi
kekuningan, tinja pucat dan perut sebelah kanan atas
terasa sakit atau bebal.
Hepatitis A dapat dibagi menjadi 3 stadium: (1)
pendahuluan (prodromal) dengan gejala letih, lesu,
demam, kehilangan selera makan dan mual; (2)
stadium dengan gejala kuning (stadium ikterik); dan (3)
stadium kesembuhan (konvalesensi). Gejala kuning
tidak selalu ditemukan. Untuk memastikan diagnosis
dilakukan pemeriksaan enzim hati, SGPT, SGOT

4/26/17 65
Pengaruh pada Kehamilan
Kehamilan dengan hepatitis A tidak
menyebabkan peningkatan angka kematian ibu
karena tidak ada bukti yang menyatakan bahwa
hepatitis A merupakan agen
teratogenik/keganasan dan risiko dari transmisi
vertikal (dari ibu ke janin) sangat rendah.
Jikabayi baru lahirterpapar, infeksi biasanya
ringan dan mereka akan mempunyai kekebalan
seumur hidup. Hal yang perlu diperhatikan adalah
sangat penting untuk mengisolasi wanita hamil
yang terinfeksi untuk menghindari penularan ke
orang lain

4/26/17 66
Pencegahan
Menjaga kebersihan perorangan seperti mencuci
tangan dengan teliti
orang yang dekat dengan penderita mungkin
memerlukan terapi imunoglobulin.
Imunisasi hepatitis A bisa dilakukan dalam bentuk
sendiri (Havrix)
Imunisasi hepatitis A dilakukan dua kali, yaitu
vaksinasi dasar dan booster yang dilakukan 6-12
bulan
dianjurkan bagi orang yang potensial terinfeksi
seperti penghuni asrama dan mereka yang sering
jajan di luar rumah.

4/26/17 67
Hepatits B
Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan
oleh "Virus Hepatitis B" (VHB), suatu anggota famili
hepadnavirus yang dapat menyebabkan peradangan hati
akut atau menahun yang pada sebagian kecil kasus dapat
berlanjut menjadi sirosi hati atau kanker hati.
Virus hepatitis B (HBV) adalah virus DNA rantai ganda
yang merupakan penyebab hepatitis akut pada kehamilan
yang paling sering. Masa inkubasi dari waktu terpapar
sampai muncul gejala adalah 6 minggu sampai 6 bulan
HBV ditemukan pada darah, cairan semen, air liur, air
susu ibu, dan cairan amnion. Penyakit ini menular melalui
hubungan seksual, penggunaan obat jarum suntik yang
terkontaminasi, akupuntur, tato dan transfuse darah.

4/26/17 68
Pengaruh terhadap
janin/Neonatus
Sebagian besar infeksi pada bayi baru lahir kemungkinan
terjadi saat persalinan dan kelahiran atau melalui kontak ibu
bayi, daripada secara transplasental. Walaupun sebagian
besar bayi-bayi menunjukkan tanda infeksi ikterus ringan,
mereka cenderung menjadi carrier. Status carrier ini
dipertimbangkan akan menjadi sirosis hepatis dan karsinoma
hepatoseluler.
Pada satu penelitian hepatitis akut maternal (tipe B atau non-
B) tidak mempengaruhi insidens dari malformasi kongenital,
lahir mati, abortus, atau malnutrisi intrauterin. Tetapi,
hepatitis akut menyebabkan peningkatan insidens
prematuritas.

4/26/17 69
Penanganan pada
kehamilan
Mendapat kombinasi antibodi pasif (immunoglobulin) dan imunisasi
aktif vaksin hepatitis.
Tidak minum alcohol.
Menghindari obat-obatan yang hepatotoksis seperti asetaminofen
yang dapat memperburuk kerusakan hati.
Tidak mendonor darah, bagian tubuh dan jaringan.
Tidak menggunakan alat pribadi yang dapat berdarah dengan orang
lain misalnya sikat gigi dan pisau cukur.
Menginformasikan pada Dokter Anak, Kandungan Kebidanan dan
perawat bahwa mereka carrier hepatitis B.
Memastikan bahwa bayi mereka mendapat vaksin hepatitis B waktu
lahir, umur 1 bulan, dan 6 bulan.
Kontrol sedikitnya setahun sekali ke dokter pribadi.
Mendiskusikan resiko penularan dengan pasangan mereka dan
mendiskusikan pentingnyakonseling dan pemeriksaan

4/26/17 70
Persalinan dan Menyusui

Seksio sesarea sangat disarankan oleh Centers


for Disease Control (CDC) dan American College
of Obstetricians and Ginyecologists (ACOG) untuk
menurunkan transmisi HBV dari ibu ke anak. Bayi
yang lahir dari ibu yang terinfeksi (termasuk
carrier) harus di terapi dengan kombinasi dari
antibodi pasif (immunoglobulin) dan aktif
imunisasi dengan vaksin hepatitis B. Dengan
imunoprofilaksis hepatitis yang sesuai, menyusui
tidak memperlihatkan resiko tambahan untuk
penularan dari carrier virus hepatitis B.

4/26/17 71
Hepatitis C
Hepatitis C adalah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis
C Infeksi virus ini dapat menyebabkan peradangan hati atau
hepatitis yang biasanya asimtomatik, tetapi hepatitis kronik yang
berlanjut dapat menyebabkan sirosis dan kanker hati. Virus
hepatitis C adalah virus RNA rantai tunggal dalam rumpun
Flaviviridae. Masa inkubasi terjadi setelah terpapar HCV 8-9
minggu.

Transmisi penularan
Penularan hepatitis C melalui darah paling sering di Amerika
Serikat. Lebih dari 220.000 infeksi terjadi diseluruh dunia setiap
tahun. Banyak pasien dengan infeksi kronik yaitu sekitar 70-90%
kasus. Dari kasus tersebut 15-20% akhirnya berkembang menjadi
sirosis hepatis, dimana memperbesar 40% kematian akibat
penyakit hati kronik.

4/26/17 72
efek infeksi pada kehamilan
Meskipun hanya terdapat sedikit data terbaru tentang
infeksi HCV pada kehamilan, data yang ada tidak
menunjukkan peningkatan resiko malformasi kongenital,
distress fetal, lahir mati atau prematur. Wanita dengan
HCV dan janinnya tidak mempunyai resiko yang lebih
besar terhadap komplikasi obstetrik atau perinatal
dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil. Tidak
terdapat kontraindikasi untuk hamil hanya berdasar pada
HCVsaja.

efek kehamilan pada HCV


Sangat kecil yang dilaporkan pada efek kehamilan pada
perjalanan infeksi HCV. Kurang dari 10 % memperlihatkan
peningkatan transaminase, dan pada kebanyakan kasus
penurunan ALT sewaktu hamil dilaporkan dengan
postpartum rebound
4/26/17 73
Penanganan saat kehamilan
Wanita yang positif HCV harus berkonsultasi dengan
dokter segera selama masa kehamilan untuk
penanganan prenatal yang luas.
Penting pemeriksaan lanjut untuk mencari faktor
Pemeriksaan umum resiko seperti pada kunjungan awal
dan berkala.
Pemeriksaan fungsi hati, aminotransferase, Pemeriksaan
laboratorium albumin, bilirubin, Anti HBs, Anti HA total
atau IgG, HCV RNA kualitatif
Monitor kehamilan Fungsi hati termasuk transaminasi
harus diperiksa setiap trimester.
Diagnosis USG Indikasi pemeriksaan USG diagnosis tidak
berbeda dengan pemeriksaan wanita hamil umumnya.

4/26/17 74
Penanganan Khusus
Evaluasi system pembekuan Rawat inap dan tirah
baring.
Isolasi pasien, lakukan pemeriksan serologic.
Diet rendah lemak, tinggi karbohidrat dan protein.

Rehidrasi apa bila terjadi defisit cairan akibat


muntah yang berlebihan dan demam.
Berikan vitamin K, glukosa dan kurkuma rhizome.
Evaluasi profil biofisik atau kondisi janin.
Penatalaksanaan neonatal.

4/26/17 75
Persalinan dan Menyusui
Berdasarkan penelitian retrospektif didapatkan
bahwa angka penularan yang rendah dengan seksio
sesarea, tapi wanita dengan HCV diperkenankan
untuk melahirkan spontan, kecuali terdapat masalah
obstektrik dan tidak perlu mengisolasiibu dan anak.
Infeksi HCV bukan merupakan indikasi untuk induksi
persalinan. Menjaga kebersihan dari bahan yang
berpotensi menginfeksi HCV RNA dan antibodi anti
HCV memang terdapat pada kolostrum dan susu
ibu. Namun tidak terdapat kasus penularan melalui
menyusui, jadi menyusui bukan kontraindikasi,
sehingga menyusui bisa dilakukan

4/26/17 76
Hepatitis D
VHD memerlukan HBsAg untuk replikasi. Jadi baru bisa
menyebabkan infeksi jika terdapat infeksi VHB. Ada 2 tipe
infeksi VHD berikut ini :

Super infeksi
Ko-infeksi

Virus ini ditularkan secara seksual atau jarum suntik. Pasien


yang terinfeksi secara ko-infeksi akan berakhir dengan
kesembuhan,tetapi yang terinfeksi secara super infeksi
akan berakhir seperti halnya pada infeksi VHB, dimana 90%
akan pengidap kronik dan jika terjadi hepatitis fulina akan
menyebabkan kematian sebesar 5-20%.

4/26/17 77
Hepatitis E
Virus hepatitis E (VHE) mirip dengan VHA
(RNA virus) dimana keduanya ditularkan
melalui fekal oral,kebanyakan manifes
secara akut dan merupakan wabah pada
daerah dengan sanitasi buruk. HEV
mempunyai suatu kekhususan dalam
terjadinya proporsi infeksi akut yang
tinggipada kehamilan jika terjadi wabah,dan
besar kemungkinanakan terjadi hepatitis
fulminan denga resiko kematian yang tinggi.

4/26/17 78
Penyakit hati karena obat
Obat-obat tertentu dapat menimbulkan gangguan
faal hati, bahkan dapat menyebabkan kerusakan
fatal seperti fenotiazin, tetrasikin, klorpromazin,
koloform, arsenamin, fosfor, karbon tetraklorida,
isoniazid, asetaminofen. Tetrasiklin yang
merupakan obat yang dilarang digunakan dalam
kehamilan karena dapat menyebabkan kelainan
kongenital (teratogenik) pada janin, juga dapat
menimbulkan kerusakan pada hati. Begitu pula
obat-obat isoniasid, yang selalu diikutkan sebagai
obat untuk penyakit TBC.

4/26/17 79
Infeksi hepatitis pada
kehamilan
Bila hepatitis virus terjadi pada trimester I atau
permulaan trimeseter II maka gejala-gejala nya
akan sama dengan gejala hepatitis virus pada
wanita tidak hamil.
Hepatitis virus yang terjadi pada trimester III,
akan menimbulkan gejala-gejala yang lebih
berat dan penderita umumnya menunjukkan
gejala-gejala fulminant. Pada fase inilah acute
hepatic necrosis sering terjadi, dengan
menimbulkan mortalitas. Ibu yang sangat tinggi,
dibandingkan dengan penderita tidak hamil

4/26/17 80

Pengaruh kehamilan terhadap berat ringannya


hepatitis virus,telah diselidiki oleh ADAM, yaitu
dengan cara mencari hubungan antara perubahan-
perubahan koagulasi pada kehamilan dengan
beratnya gejala-gejala hepatitis virus. Diketahui
bahwa pada wanita hamil, secara fisiologik terjadi
perubahan-perubahan dalam proses pembekuan
darah, yaitu dengan kenaikan faktor-faktor
pembekuan dan penurunan aktivitas fibrinolitik,
sehingga pada kehamilan mudah terjadi
DIC(Disseminated Intra Vascular Coagulation).
Hepatitis virus pada kehamilan dapat ditularkan
kepada janin, baik in utero maupun segera setelah
lahir. Penularan virus ini pada janin, dapat terjadi
dengan beberapa cara, yaitu :
Melewati placenta
4/26/17 81
Kontaminasi dengan darah dan tinja ibu pada waktu
Penanganan dan
pengobatan
Terhadap bayi baru lahir dari ibu penderita
hepatitis virus B, imunisasi pasif
denganmenggunakan Immunoglobulin Hepatiti B
(HBIG) diberikan untuk mendapatkan antibody
secepatnya guna memerangi virus hepatitis B
yang masuk, selanjutnya disusul dengan
imunisasi aktif dengan memakai vaksin. HBIG
diberikan selambat-lambatnya 24 jam
pascapersalinan, kemudian vaksin Hepatitis B
diberikan selambat-lambatnya 7 hari
pascapersalinan.
Dianjurkan HBIG dan'vaksin Hepatitis B diberikan
segera setelah persalinan(masing-masing pada
4/26/17 82
sisi yang berlawanan) untuk mencapai efektivitas
Penatalaksanaan
Istirahat, diberi nutrisi dan cairan yang cukup, bila
perlu IV
Isolasi cairan lambung dalam atau cairan badan
lainnya dan ingatkan tentang pentingnya janin
dipisahkan dengan ibunya
Periksa HbsAg
Kontrol kadar bilirubun, serum glutamic oksaloasetik
transaminase (SGOT), serum glutamic piruvic
transaminase (SGPT), factor pembekuan darah,
karena kemungkinan telah ada disseminated
intravaskular coagulapathy (DIC)
Cegah penggunaan obat-obat yang bersifat
hepatotoksik
Pada ibu yang HbsAg positif perlu diperiksa HbsAg
4/26/17 83
anak karena kemungkinan terjadi penularan melalui
Kasus Kehamilan dengan Hepatitis

Ny. A umur 25 tahun datang ke BPS Bidan Ani tanggal 9


Mei 2013 pukul 09.00 WIB. Ibu mengaku hamil 4 bulan.
Hari Pertama Haid Terakhir ibu tanggal 17 Januari 2013 dan
Taksiran Persalinannya 24 Oktober 2013. Ibu mengatakan
ini merupakan kehamilan pertamanya dan belum pernah
keguguran. Ibu mengatakan sering mual muntah, dan saat
ibu kencing urinnya berwarna kuning tua, selain itu ibu
mengeluh sakit pada perut kanan atas (ulu hati). Seluruh
badan pegal-pegal, cepat lelah, pusing, mual,dan sudah 2
hari demam. Ibu mengatakan selama hamil makan 2 kali
sehari dengan nasi, lauk-pauk, dan jarang memakan sayur.
Ibu mengatakan sehari-hari mengerjakan pekerjaan rumah
tangga seperti membersihkan rumah.

4/26/17 84
Soap kasus
Hari/Tanggal Pengkajian : Kamis, 9
Mei 2013
Tempat Pengkajian : BPS Bidan Ani
Waktu Pengkajian : 09.00 WIB
Pengkaji : Bidan Ani

4/26/17 85
Data Subjektif
1. Identitas Klien

Istri Suami

Nama : Ny. A Tn.Z


Umur : 25 tahun 25 tahun
Agama : IslamIslam
Suku/bangsa : Sunda Sunda
Pendidikan : SD SMP
Pekerjaan : Ibu rumah tangga Buruh
Alamat : Ciomas Bogor Ciomas Bogor
4/26/17 86
2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan sering mual muntah, dan saat ibu
kencing urinnya berwarna kuning tua, selain itu
ibu mengeluh sakit pada perut kanan atas (ulu
hati). Seluruh badan pegal-pegal, cepat lelah,
pusing, mual dan sudah 2 hari demam.

3. Riwayat Kehamilan
Ibu mengatakan ini merupakan kehamilan
pertamanya, belum pernah mengalami keguguran
dan umur kehamilannya sudah sekitar 4 bulan
dengan Hari Pertama Haid Terakhirnya yaitu 20
Februari 2013 dan Taksiran Persalinannya 27
November 2013. Ibu mengatakan sering minum
jamu selama kehamilannya.
4/26/17 87
4. Riwayat Kesehatan
Ibu mengatakan tidak memiliki penyakit seperti
diabetes, jantung, malaria, asma, ginjal, hepatitis dan
lain-lain.

5. Riwayat Kesehatan Keluarga


Ibu mengatakan keluarganya tidak memiliki penyakit
seperti diabetes, jantung, malaria, asma, ginjal,
hepatitis dan lain-lainnya.

6. Riwayat KB
Ibu mengatakan belum pernah menggunakan alat
kontrasepsi (KB).

7. Riwayat Sosial Ekonomi


Ibu mengatakan ini merupakan pernikahannya yang
pertama, lamanya 6 bulan, usia ibu saat menikah 25
4/26/17 88
8. Pola Kebiasaan Sehari - hari

. Nutrisi
Makan : Ibu mengatakan selama hamil makan 2 kali sehari dengan nasi, lauk-
pauk, dan jarang memakan sayur
Minum : Ibu mengatakan minum air putih 6 gelas sehari.

. Eliminasi
BAK : Ibu mengatakan buang air kecil 5 kali sehari berwarna kuning tua.
BAB : Ibu mengatakan buang air besar 1 kali sehari.

. Istirahat/tidur : Ibu mengatakan tidur siang sekitar 1-2 jam dan tidur malam
sekitar 7 jam.

. Aktifitas sehari-hari : Ibu mengatakan sehari-hari mengerjakan pekerjaan


rumah tangga seperti membersihkan rumah, mencuci piring dan memasak.
Namun beberapa hari ini ia tidak dapat melakukan pekerjaan rumah.

. Personal hygiene : Ibu mengatakan mandi 2 kali sehari.


. Kegiatan Seksual : Ibu mengatakan tidak ada masalah dalam kegiatan
seksual.

4/26/17 89
Data Objektif
1. Pemeriksaan Umum

. Keadaan umum : Tampak sakit


. Kesadaran : Compos mentis
. TTV : Tekanan darah : 120/70 mmHg
Nadi : 82 kali/menit
Pernapasan : 20 kali/menit
Suhu : 38C
. Berat Badan sebelum hamil : 53 kg
. Berat Badan setelah hamil : 54 kg
. TB : 160 cm

4/26/17 90
2. pemeriksaan fisik

Wajah : Wajah tampak kuning pucat, tidak


terdapat oedema
Mata : Sklera ikterik, konjungtiva anemis
Mulut : Terlihat bersih, tidak ada karies pada
gigi
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
dan limfe, tidak ada kenaikan vena jugularis
Dada : Inspeksi: Puting susu menonjol , aerola
menghitam, tidak ada retraksi dinding dada
Palpasi : Tidak ada benjolan, tidak ada nyeri
tekan

4/26/17 91
Abdomen : tidak ada luka bekas operasi,
teraba nyeri tekan pada kuadran kanan dan
kram pada abdomen.
TFU: Teraba 2 jari di atas simpisis,teraba
ballotement
Ekstremitas : Atas dan bawah : Kulit berwarna
kuning, kuku telihat kuning, tidak ada oedema
dan tidak ada varises. Refleks Patela (+)
Genetalia : Inspeksi : Terlihat bersih, tidak
ada pengeluaran yang abnormal. Palpasi :
Tidak ada oedema, tidak ada benjolan, tidak
ada varises, tidak ada nyeri tekan
Anus : Tidak ada varises

4/26/17 92
Assesment
Ny. A usia 25 tahun G1POAO hamil 16
minggu dengan hepatitis A. Janin
hidup tunggal intera uterin.

4/26/17 93
Planning
1. Memberitahukan hasil pemeriksaan bahwa secara umum ibu dalam
keadaan baik namun pada pemeriksaan penunjang ibu dicurigai
terinfeksi virus Hepatitis. Ibu tampak cemas.
2. Menganjurkan ibu untuk menjaga asupan cairan supaya tidak terjadi
dehidrasi dan makan makanan bergizi dan banyak mengkonsumsi
sayur agar dapat menambah darah sehingga ibu tidak terkena anemia
dan banyak mengkonsumsi makanan tang tinggi protein seperti ikan,
tahu, tempe, dan lainnya. Ibu mengerti dan akan melakukannya.
3. Menganjurkan ibu untuk tidak minum kopi, mengurangi meminum teh
karena itu memerlukan proses detoksifikasi dalam hati dan akan
memperberat kerja hati. Ibu mengerti dan akan melakukannya.
4. Memberitahu ibu untuk meminum tablet FE 1 kali sehari dengan air
putih agar tidak terkena anemia yang dapat membahayakan kondisi
ibu dan janin. Ibu mengerti dan akan melakukannya.
5. Memberikan obat anti emetik kepada ibu untuk mengatasi mual,
analgetik untuk mengatasi demam.

4/26/17 94
6. Memberi tahu ibu untuk melakukan istirahat yang cukup
agar kondisi ibu tidak bertambah buruk. Ibu mengerti dan
akan melakukannya.
7. Menganjurkan ibu untuk mencegah penularan kepada
anggota keluarga yang lain dengan mengkhususkan
peralatan makan dan minum, sikat gigi dan lain-lain. Ibu
mengerti dan akan melakukannya.
8. Memberikan ibu motivasi berupa dukungan dan semangat
bahwa ibu akan baik-baik saja selama ibu sering
memeriksakan diri dengan rutin sehingga perkembangan
penyakit ibu dapat diminimalkan. Ibu telah mendapat
dukungan dan motivasi.
9. Berkolaborasi dengan dr. spesialis penyakit dalam dan dr.
kandungan untuk dapat memberikan dalam pemberian
terapi, tindakan dan pemeriksaan laboratorim ulang,
penanganan dan pencegahan komplikasi selama
kehamilan ibu.
10. Menganjurkan kepada keluarga ibu untuk melakukan
4/26/17 95
vaksinasi di pelayanan kesehatan.
Kesimpulan
Torch istilah untuk menggambarkan gabungan dari empat
penyakit infeksi yaitu toxoplasma, rubella, cytomegalovirus
dan herpes. Keempat jenis infeksi ini sama-sama berbahaya
bagi janin bila infeksi diderita oleh ibu hamil. Penderita TORCH
kadang tidak menunjukkan gejala klinis yang spesifik, bahkan
bisa jadi sama sekali tidak merasakan sakit. Secara umum
keluhan yang dirasakan adalah mudah pingsan, pusing,
vertigo, migran, penglihatan kabur, pendengaran terganggu,
radang tenggorokan, radang sendi, nyeri lambung, lemah lesu,
kesemutan, sulit tidur, epilepsi, dan keluhan lainnya. Untuk
kasus kehamilan: sulit hamil, keguguran, organ tubuh bayi
tidak lengkap, cacat fisik maupun mental, autis, keterlambatan
tumbuh kembang anak, dan ketidaksempurnaan lainnya.
Namun begitu, gejala diatas tentu belum membuktikan adanya
penyakit TORCH sebelum dibuktikan dengan uji laboratorik.

4/26/17 96
Sedangkan Hepatitis adalah peradangan hati karena
berbagai sebab. Hepatitis yang berlangsung kurang dari 6
bulan disebut hepatitis akut, hepatitis yang berlangsung
lebih dari 6 bulan disebut hepatitis kronis. Penyebabnya
dapat berbagai macam,mulai dari virus sampai dengan
obat-obatan, termasuk obat tradisional. Virus hepatitis juga
ada beberapa jenis, hepatitis A, hepatitis B, hepatitis C.
Manifestasi penyakit hepatitis akibat virus bisa akut
(hepatitis A) dapat pula hepatitis kronik (hepatitis B,C) dan
ada pula yang kemudian menjadi kanker hati (hepatitis B
dan C).
Hepatitis merupakan penyebab ikterus yang paling sering
dalam kehamilan. Kehamilan tidak mempengaruhi
perjalanan penyakit hepatitis dan kehamilan itu sendiri
tidak akan mempercepat proses penyakit ataupun
menyebabkan penyakit menjadi lebih parah.

4/26/17 97
Terimakasih

4/26/17 98